Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[78] Egosentrisme (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


 


Kota Pesisir, Mansion Keluarga Mylta.


 


 


Bagaikan sebuah alur yang telah tersusun rapi untuknya, pemuda bernama lengkap Odo Luke tersebut melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam kamar sang Baron. Aroma tak sedang langsung masuk ke hidung, membuat pemuda rambut hitam itu menghentikan kaki dan menatap datar seseorang yang terbaring di atas ranjang tertutup kelambu.


 


 


“Ayahanda terbaring di sini, Tuan Odo ….” Mengatakan itu dengan mimik wajah miris dan sedikit pucat, Lisia perlahan membuka kelambu yang menutupi tempat ayahnya terbaring.


 


 


“Hmm ….” Odo tidak menyampaikan apa-apa saat melihat itu, hanya membisu dan sekilas melirik kedua pelayan kediaman Mylta yang juga ikut ke dalam ruangan untuk mendampingi. Sembari kembali menatap ke arah Lisia, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Kalau boleh tahu, cara kalian merawat Tuan Argo bagaimana?”


 


 


Pertanyaan tersebut membuat Lisia sedikit bingung, pindah menatap ke arah Argo Mylta dan duduk di dekat tempat ayahnya tersebut terbaring. Tatapan perempuan rambut merah itu perlahan kembali dipenuhi rasa cemas, bercampur kesedihan dan sedikit rasa pasrah terhadap kondisi ayahnya.


 


 


Pada leher bagian kanan Argo Mylta terdapat bisul yang lebih besar dari dua kepalan tangan perempuan. Hitam, lembap, dan mengeluarkan aroma tak sedap. Itu membuat sang Baron harus selalu berbaring menghadap ke kanan, menahan rasa sakit luar biasa saat penyakit tersebut kambuh.


 


 


Nanah yang mengalir membuat bantal tempatnya sedikit berwarna kekuningan, menyebarkan aroma tak sedap yang menyengat dan harus selalu diganti beberapa jam sekali. Benar-benar tampak busuk, hitam bengkak, dan membuat kamar diisi aroma tak sedap. Jelas-jelas bisul itu sudah sangat parah karena dibiarkan terlalu lama.


 


 


“Kami hanya bisa membersihkan nanahnya, mengusapnya dengan air hangat dan membersihkan tempat tidur Ayahanda.” Lisia kembali menatap ke arah Odo, lalu dengan rasa cemas balik bertanya, “Apa … penangan kami sudah tepat?”


 


 


“Sayang sekali itu salah.” Odo kembali melangkah mendekat, berhenti di sebelah ranjang tempat Argo Mylta tertidur dan berkata, “Luka bernanah sebenarnya tidak boleh terkena air. Itu malah akan memperparah luka dan membuat keringnya lama ….”


 


 


“Eh? Itu⸻?!”


 


 


“Kau tak perlu panik, kalau sudah terjadi ya sudah ….” Odo menatap datar, mengamati bisul dan luka menjijikkan yang ada pada leher kanan Argo Mylta. Sejenak memejamkan mata dan berpikir, pemuda rambut hitam itu kembali menatap ke arah Lisia dan bertanya, “Apa kau juga memandikan Ayahmu?”


 


 


“Tidak …. Kami hanya mengusap tubuhnya dengan air hangat. Dengan kondisi seperti itu, kami tidak bisa membawanya untuk mandi. Kata Ayahanda juga itu terlalu menyakitkan.” Lisia sedikit gemetar cemas, menjalin jemari kedua tangannya seperti sedang berdoa dan dengan takut bertanya, “Apa … penangan seperti itu juga salah?”


 


 


“Sudah aku bilang tadi, lukanya tidak boleh terkena air. Kalau kau tidak memandikannya aku rasa itu penangan yang tepat.” Odo sejenak membungkuk dan menatap bisul besar pada leher Argo dari dekat, merasa kalau Kista di leher Kepala Keluarga Mylta tersebut belum berkembang ke fase yang lebih buruk. Dengan rasa ingin bertaruh dalam benak, Odo mulai melirik ke arah Lisia dan bertanya, “Kalau Ayahmu dioperasi sekarang, apa kau tidak keberatan? Jujur saja, kalau dibiarkan lama-lama ada kemungkinan itu bertambah besar ….”


 


 


“Dioperasi?” Lisia tampak bingung, sedikit tidak mengerti perkataan Odo.


 


 


Menghela napas kecil dan berhenti membungkuk, pemuda rambut hitam tersebut sejenak menggaruk bagian belakang kepala dan menjelaskan, “Aku ingin membedah ayahmu dan mengeluarkan tumornya. Dalam fase ini, itu belum berubah menjadi kanker. Kau harus bersyukur karena itu hanya bertambah besar dan tidak merusak lebih dalam ke jaringan sarafnya.”


 


 


“Be-Begitu, ya ….” Lisia sedikit memiringkan kepala dan tampak bingung, banyak hal yang tidak dirinya mengerti dari istilah yang Odo gunakan. Namun, rasa gelisah dan takut masih tampak pada raut wajahnya. Sembari mengambil satu langkah mendekat, perempuan rambut marah tersebut bertanya, “Apa … Tuan Odo bisa menyembuhkan Ayahanda?”


 


 


“Kurang lebih begitu ….” Odo memalingkan pandangan, memasang mimik wajah sedikit muram dan berkata, “Sekarang aku membutuhkan beberapa alat tambahan. Bisa kau menyediakannya?”


 


 


Odo berbalik dan berjalan menuju meja di dekat ranjang, lalu mulai mengakses dimensi penyimpanan pada sarung tangannya dan mengeluarkan tas kecil berisi satu set alat bedah. Itu merupakan tas kecil yang berisi pisau bedah, gunting perban, gunting bedah, gunting tali pusar, beberapa jenis pinset, klem, beberapa jenis tang bedah, lalu ada juga perban dan kapas.


 


 


Melihat apa yang Odo siapkan, Lisia mengintip dari belakang punggungnya dan dengan penasaran bertanya, “Itu … alat-alat apa, Tuan Odo?”


 


 

__ADS_1


“Alat bedah ….” Odo mengambil pisau bedah, lalu melirik ke arah kedua pelayan yang berada di ruangan dan meminta, “Bisa kalian bawakan baskom? Kalau bisa, yang terbuat dari perak ….”


 


 


Untuk sesaat, kedua pelayan tersebut tampak bingung dan tidak bergerak dari tempat. Namun setelah Lisa berkata, “Kalian berdua, cepat ambilkan yang Tuan Odo minta,” kedua pelayan tersebut segera bergegas ke dapur untuk mengambilnya.


 


 


Sembari menunggu alat tambahan yang dirinya minta datang, Odo kembali mengambil alat lain dari dimensi penyimpanan. Itu merupakan suntikan kaca dan botol kaca tipis berisi cairan bening, lalu ada juga sarung tangan berbahan usus sapi.


 


 


Meletakkan pisau bedah ke meja, Odo mengambil suntikan dan menusuknya ke dalam penutup gabus botol kaca untuk mengambil sekitar 4 miligram anestesi. Setelah selesai mengecek tekanan udara dalam suntikan, ia meletakkannya kembali ke dalam meja.


 


 


Melepas sarung tangan hitam yang dikenakan, pemuda rambut hitam tersebut ganti memakai sarung tangan putih yang terbuat dari usus sapi. Ia selanjutnya kembali mengambil suntikan dan pisau bedah, lalu berjalan ke dekat Argo Mylta.


 


 


“Hmm, kita tunggu dulu sampai mereka datang ….”


 


 


Hanya bisa melihat Odo bersiap tanpa bisa membantu, Lisia sedikit bengong karena sama sekali tidak tahu tentang alat-alat yang akan digunakan pemuda rambut hitam tersebut. Entah itu pisau dan gunting dengan bentuk unik atau bahkan alat-alat lainnya, Lisia belum pernah melihat semua itu.


 


 


“Apa … Tuan Odo yang membuat semua?”


 


 


Pertanyaan Lisia membuat Odo menoleh, merasa sedikit heran karena mendapat pertanyaan itu di saat Argo Mylta akan dioperasi. Menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut dengan singkat menjawab, “Pak Harka yang membuatkannya untukku.”


 


 


“Hmm, jadi Anda memintanya untuk membuat semua alat itu, ya? Tak saya sangka Bos para pengrajin itu juga bisa membuat alat unik tersebut.”


 


 


Sebelum basa-basi berlanjut, kedua pelayan yang sebelumnya disuruh akhirnya datang. Mereka membawa baskom perak yang Odo minta, meski bisa dikatakan ukurannya lebih kecil dari apa yang dirinya perkirakan karena itu pada dasarnya wadah untuk sup.


 


 


 


 


“Eh? Kenap⸻?”


 


 


“Kau mengganggu. Kalau bertanya lagi, lebih baik kau di tunggu di luar saja.”


 


 


“Ti-Tidak bisa begitu, Tuan akan memeriksa Ayahanda! Mana mungkin saya pergi dan meninggalkannya!”


 


 


“Kalau begitu, diamlah ….”


 


 


Perkataan dingin tersebut membuat Lisia tersentak, menundukkan kepala dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia melangkah mundur, lalu membiarkan kedua pelayan mendekat membawakan baskom yang sebelumnya Odo minta.


 


 


“Ini baskom yang Tuan minta. Apa … kami juga harus menjauh?” tanya salah satu pelayan.


 


 


“Kalian di sini membantuku. Nanti saat pembedahan, tolong satu orang memegangi Tuan Argo supaya terbaring terlentang. Untuk satu orang lain tolong ambilkan alat yang aku perlukan di meja …. Selain hal itu, tolong ikuti instruksi dariku.”


 


 


“Ba-Baik!”


“Baik!”


 


 


Odo merentangkan kedua tangan yang memegang anestesi dan pisau bedah, lalu dengan suara tegas berkata, “Lingkis lengan pakaianku ….” Kedua pelayan tersebut lekas mematuhi perintahnya, tanpa bertanya atau mempertanyakannya.

__ADS_1


 


 


Melihat reaksi mereka, Odo sejenak memejamkan mata dan menurunkan kedua tangan. Dalam benak, dirinya merasa cukup pantas dan merasa mereka berdua layak untuk membantu pembedahan meski tidak memiliki pengetahuan tentang medis.


 


 


“Baiklah, kita mulai pembedahannya ….. Pukul 01.39 waktu setempat, pembedahan kista leher siap dilakukan …..”


 


 


Pertama, apa yang Odo lalukan dalam suasana senyap adalah menyerahkan pisau bedah kepada salah satu pelayan, Lalu dirinya segera menyuntikkan bius antara 1,5 sampai 2,5 miligram ke sekitar bisul Argo Mylta secara berkala. Itu berfungsi mengurangi rasa sakit selama operasi, berfungi sebagai anestesi.


 


 


Menyerahkan suntikan kosong kepada salah satu pelayan, Odo meminta pisau bedah sebagai gantinya. Memegang tubuh Argo Mylta, dibantu salah satu pelayan lain Odo mulai mengubah posisi pria tua tersebut menjadi terlentang. Ia juga memasang baskom perak di dekat bisul.


 


 


Dengan perlahan dan hati-hati, Odo mulai membelah bisul secara vertikal dan membuat nanahnya keluar dalam jumlah banyak. Semua nanah tersebut ditampung ke baskom, terus mengalir sampai bisul mengempis setengah dari ukurannya.


 


 


Saat nanah kental sudah berhenti keluar, Odo memperlebar luka bedah pada bisul sampai bisa dimasuki dua jari. Selesai dengan tahap awal, pemuda itu menyerahkan pisau bedah kepada salah satu pelayan dan meminta gunting tali pusar.


 


 


Seperti namanya, gunting tersebut sebenarnya digunakan untuk menggunting tali pusar bayi saat baru lahir. Namun tergantung penggunaan, gunting dengan bentuk sedikit melengkung pada bagian ujungnya tersebut dapat digunakan untuk memotong beberapa saraf atau bagian tubuh yang tidak bisa dijangkau gunting biasa.


 


 


Odo memasukkan ujungnya ke dalam bisul, lalu memotong bagian daging serta kulit yang masih menempel pada tumor. Itu merupakan daging padat (tumor) di dalam bisul, menempel pada kulit bagian dalam dan beberapa saraf. Odo melakukannya dengan sangat hati-hati supaya tidak memotong bagian yang salah, ia juga membersihkan tumor dari jaringan-jaringan saraf yang mati sampai sepenuhnya terlepas.


 


 


Setelah memotong sekeliling tumor, Odo menyerahkan gunting tali pusar dan meminta kogel tang. Dengan bentuk kecilnya, Odo memasukkan kogel tang ke dalam bisul yang menganga dan menjepit tumor.


 


 


Lalu, dengan perlahan dan sangat hati-hati dirinya menarik daging tumor dari dalam bisul. Perlahan, tidak buru-buru dan menjaga supaya saraf-saraf penting lain tidak ikut tertarik sampai putus.


 


 


Suara desit dan ketup terdengar saat tumor berhasil diangkat, pada saat bersamaan nanah yang tertinggal pun sempat muncrat ke bantal dan tempat tidur. Gumpalan daging tersebut sebesar biji oak dan berwarna merah keputihan, dengan garis-garis jaringan tumor yang tampak jelas.


 


 


Diangkatnya tumor meninggalkan lubang menganga pada leher Argo, bahkan sampai jaringan saraf di dalamnya terlihat. Odo meletakkan daging tumor yang telah diangkat ke atas tempat tidur karena wajah sudah penuh nanah. Setelah menghela napas dirinya menyerahkan kogel tang kepada salah satu pelayan, lalu meminta kapas dan kain kasa pada meja.


 


 


Odo tidak menggunakan kapas untuk menutup bagian luar, melainkan memasukkannya ke dalam luka bedah yang menganga tempat tumor diangkat. Itu merupakan kapas khusus, bisa diserap dengan mudah oleh tubuh dan memilki campuran obat.


 


 


Untuk sesaat, Odo terdiam karena lupa meminta alat jahit untuk menutup luka yang menganga. Pada saat yang bersamaan juga ia mulai merasa kalau operasi benar-benar kekurangan persiapan dan alat.


 


 


Memikirkan alternatif lain, pemuda rambut hitam tersebut memanggil Lisia mendekat dan memintanya untuk menggunakan sihir atribut api untuk menaikkan suhu pisau bedah sampai mata pisaunya memerah.


 


 


Tanpa ragu sama sekali, pemuda rambut hitam tersebut langsung menempelkan bagian tumpul pisau yang panas dan menutup luka menganga pada leher Argo. Meski telah diberi anestesi, rasa sakit itu luar biasa dan sempat membuat pria tua tersebut kejang-kejang. Tetapi, itu tidak sampai membangunkannya.


 


 


Lisia dan kedua pelayan yang melihat itu sempat panik, ingin melarang Odo namun tidak tahu apa yang harus dilakukan setelahnya. Karena itulah mereka hanya diam, berusaha percaya dengan apa yang pemuda itu lakukan kepada Argo.


 


 


Setelah luka tertutup meski tidak rapi, barulah Odo melingkarkan kain kasa pada leher Argo dan memberikannya sedikit antiseptik untuk luka luar. Ia juga memberi pengarahan kedua pelayan dan Lisia, tentang bagaimana cara menangani Argo Mylta sampai sembuh sepenuhnya dalam kurung waktu dua minggu.


.


.


.


.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2