
Sebuah cerita yang seakan terputus di tengah jalan, layaknya aliran sungai yang tidak bisa sampai ke laut. Terhenti oleh bebatuan, batang pohon, dan orang-orang dengan kepentingan mereka masing-masing.
Layaknya diinjak oleh raksasa dengan kehendak mutlak, sebuah ketetapan diberikan oleh entitas menyebut diri mereka dewa-dewi. Sosok yang dikenal sebagai 101 Entitas, mereka yang berasal dari potensi lain dunia dan berkelana untuk menyeleksi berbagai macam peradaban.
Diakhiri dengan cara yang terburuk ⸻ Dalam bentuk perpisahan, mereka berdua tidak bisa bertukar kalimat pengantar. Hanya pergi dengan penuh rasa bersalah, saling memendam rasa sakit atas hasil di akhir.
Awal yang ada di antara mereka berdua adalah sebuah konflik, berkesan sangat buruk sampai-sampai beberapa kali berusaha untuk membunuh satu sama lain.
Namun, seiring berjalannya waktu itu berubah. Dengan jelas sebuah hubungan terbentuk di antara mereka. Dekat layaknya kakak dan adik, lebih erat dari sahabat sampai-sampai mereka bisa membuka diri satu sama lain. Menceritakan kisah hidup dan penderitaan masing-masing.
Di Dunia Sebelumnya, seperti itulah hubungan pemuda rambut hitam tersebut dengan Richard Boderman.
Pada waktu yang disebut fase pertama dari tentamen (ujian), itulah momen dimana kedua individu tersebut bertemu. Di atas bumi yang sudah tidak layak dihuni oleh umat manusia, mereka bertemu dalam sebuah kejadian yang bisa disebut takdir.
Karena ledakan besar di asia tenggara beberapa tahun lalu, temperatur bumi tiba-tiba naik drastis secara tidak merata. Itu disebabkan oleh perubahan kondisi atmosfer, inti bumi, dan medan gravitasi yang ada. Selain itu, radiasi yang memenuhi penjuru tempat di belahan bumi juga membuat kemungkinan untuk umat manusia bertahan hidup semakin menurun.
Karena itulah, mereka yang berhasil bertahan meninggalkan negara masing-masing. Pergi ke kutub utama yang masih tidak terkontaminasi radiasi, lalu membentuk koloni dan bertahan hidup dalam iklim ekstrem.
Fase Pertama, itulah yang disebutkan oleh 101 Entitas yang membuat bumi menuju ambang kehancuran. Layaknya sosok yang maha kuasa, mereka memberikan kabar dan pergi seakan tanpa meninggalkan jejak di dunia.
Mereka hanya meninggalkan satu fakta, yaitu bumi yang tidak bisa lagi dihuni seperti dahulu. Membuat manusia merasa terusir dari tempat mereka sendiri, lalu hidup dalam pengasingan di sudut planet biru raksasa itu.
Dalam kondisi di ambang keputusasaan umat manusia dan kehancuran, mereka berdua saling bertemu. Saling menodongkan pistol dalam kesalahpahaman, dipenuhi amarah karena masih belum bisa mengerti.
Tidak memberikan toleransi, lalu menarik pelatuk dan suara tembakkan pun melenting di dalam lorong besi pada sebuah pabrik. Tempat tersebut adalah fasilitas sumber daya tenaga untuk menyokong salah satu koloni, dipenuhi oleh pipa-pipa gas dan diisi oleh pencahayaan lampu neon merah.
Sang pemuda datang dengan niat mengambil data terlarang milik pemerintah, untuk digunakan dalam eksperimen yang sedang dilakukannya. Menyusup ke fasilitas tersebut, lalu berhasil menyalin beberapa informasi yang ada di sana.
Memang tidak ada niat buruk dalam tindakan pemuda itu. Ia hanya ingin menggunakan hal tersebut demi keberlangsungan umat manusia, tentu dengan caranya sendiri dan beberapa orang ada yang tidak setuju dengan cara tersebut.
Di sisi lain, Richard Boderman hanya menjalankan tugasnya untuk menjaga fasilitas tersebut. Layaknya seorang petinggi militer pada umumnya, pria itu hanya menodongkan senjata ke arah penyusup.
Pada saat itu, pria rambut pirang tersebut hanya memiliki pangkat Kepala Kopral angkatan udara. Tidak memiliki akses terhadap informasi terkait fungsi sesungguhnya dari pabrik yang sedang dilindungi, lalu hanya menembakkan senjata ke arah penyusup untuk ditangkap.
Di balik pipa-pipa besi yang melintang di lorong, sang pemuda yang terkena tembakan pada bagian perut berlindung. Ia mengeluarkan proyektil dengan pisau bedah kecil, lalu membiarkannya begitu saja tanpa ditutup perban. Layaknya bukan seorang manusia, luka pun sembuh dan hanya meninggalkan bekas darah merah pada jas laboratorium.
Mengambil sebuah flashdisk berisi data yang berhasil dicuri, sang pemuda rambut hitam segera membungkusnya dengan sobekan kain pakaian dan menelannya bulat-bulat. Segera keluar dari balik pipa besar untuk sirkulasi gas pabrik, ia pun mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah. “Tunggu sebentar! Jangan tembak lagi! Aku menyerah!” ujarnya dengan tanpa rasa cemas.
Melihat ekspresi tenang pemuda itu, Richard merasa kesal saat tahu bahwa sang penyusup sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah ataupun takut. Didorong oleh beberapa alasan pribadi, sebagai bentuk pelampiasan pria itu membidik ke arah kepala dengan pistol Glock. Lalu tanpa ragu, ia langsung menarik pelatuk dan menembak penyusup tepat pada bagian kening.
Darah menciprat ke pipa dan dinding besi, lalu sang pemuda pun jatuh terkapar ke atas pipa yang melintang. Benar-benar dihabisi dalam sekali tembak.
Tetapi seakan waktu diputar kembali, pemuda tersebut segera bangun dengan lubang di kepala. Ia mengambil pisau bedah dari saku jas, lalu mencongkel peluru yang bersarang dan membuangnya.
“Sialan, kau benar-benar menembak ku di kepala⸻!!”
Suara tembakan kembali melenting di ruangan tertutup, kali ini bersarang di dada sang pemuda dan tepat mengenai paru-paru. Meski begitu, itu masih tidak cukup untuk membunuhnya. Hal tersebut membuat Richard panik, lalu melangkah ke belakang dengan gemetar. Untuk pertama kalinya dalam hidup, pria itu merasakan hal aneh dalam benak.
__ADS_1
Bukan karena rasa takut atau jijik saat melihat pemuda di hadapannya, namun kagum setelah melihat hal yang tampak seperti kejadian supernatural tersebut. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat dan hal ilmiah, hal-hal seperti itu seakan membuat pandangan sang pria seketika terbuka.
“Apa … kamu punya hubungan dengan para berengsek itu?” tanya Richard penuh rasa berharap.
“Huh?” Odo kembali menusukkan pisau ke tubuh, lalu mencongkel proyektil yang bersarang dan tampak menahan rasa sakit yang luar biasa. Sebelum luka kembali tertutup secara penuh, ia menatap tajam dan balik bertanya, “Apa yang kau katakan?”
Dengan sorot mata penuh rasa berharap, Richard kembali menodongkan pistol ke arah kepala sang penyusup dan bertanya, “Apa … kamu ada kaitannya dengan sosok dewa-dewi yang muncul saat itu? Atau malah kamulah yang memanggil raksasa yang meledakkan hampir seluruh asia tenggara?”
Sang pemuda hanya bisa terdiam. Pada saat itu, ia masih memilki sifat naif yang kuat. Berpikir bisa menyelesaikan pembalasannya kepada 101 entitas, lalu memandang remeh orang lain. Memberikan pandangan merendahkan, merasa berbeda dengan yang lain dan tanpa pikir panjang memutuskan.
“Kau tak perlu tahu ….”
Sang pemuda langsung menusukkan pisau bedah ke pipa, tepat bada bagian yang rapuh dan berhasil membuat lubang. Gas seketika keluar dengan tekanan tinggi, memenuhi lorong tertutup tersebut.
Dengan ruang yang dipenuhi gas, Richard tentu tidak bisa sembarang menembakkan pistol. Sebab percikan kecil bisa berpotensi membuat ledakan besar, lalu membuat seisi pabrik hancur lebur.
Tetapi, tembakan bukanlah satu-satunya hal yang diandalkan oleh pria tersebut. Menggunakan pistol sebagai senjata jarak dekat, ia langsung menghantam sang pemuda tepat di arah kepala. Membuat darah mengalir dari kepala pelipis, Richard langsung menjatuhkannya ke lantai dan mengunci pemuda itu
“Cepat beritahu! Siapa kamu sebenarnya?! Sebelum aku serahkan ke pemerintah untuk diadili!!”
“Ah, kau berisik. Teriak-teriak seperti itu di tempat penuh gas seperti ini ….”
“Jangan banyak bicara dan jawab saja⸻!”
Saat kuncian Richard mulai melemah, sang pemuda langsung meronta dan melepaskan diri dengan mudah. Ia menyikut wajah Richard yang hendak menangkapnya lagi, lalu menusukkan pisau bedah ke paha pria tersebut untuk membuatnya tidak bisa lagi berlari mengejar.
Tanpa bisa melawan, Richard seketika kehilangan kesadaran karena terlalu banyak menghirup gas. Rasa sakit menjadi pemicu, membuat tubuhnya seakan terangkat ke udara dan pingsan.
“Menyusahkan saja, kenapa orang-orang militer selalu seperti ini. Membuatku merasakan hal yang tidak menyenangkan.”
Sang pemuda untuk sesaat terhenti sebelum pergi, sekilas mengingat kembali perkataan sang adik dalam pertemuan terakhir yang terjadi beberapa tahun lalu. “Kalau tidak salah, suami adikku itu orang militer juga, ‘kan? Dia waktu itu berkata dapat informasi tentang nomor ku dari pria bernama Richard, lalu pada hari mengerikan itu datang untuk menemui ku,” ujarnya sembari memeriksa pria yang telah kehilangan kesadaran.
Baru melihat tanda nama pada bagian dalam dada seragam, sang pemuda seketika tersentak. Perlahan melebarkan senyum dalam rasa putus asa, lalu merasa konyol dengan semua hal yang ada. Takdir ⸻ Itu semua seakan sebuah takdir yang telah ditentukan sejak awal, membuat sang pemuda seketika berkaca-kaca seakan ingin menangis lepas.
Orang yang mengirim sang adik pada hari itu adalah dia, pria yang sekarang ini tidak sadarkan diri di hadapan sang pemuda. Richard Boderman, orang militer dengan pangkat Kepala Kopral yang terlihat pada bagian bahu seragam.
“Yang benar saja …, apa-apaan ini? Apa mereka sedang mempermainkan ku?! Tidak! Mereka dari awal memang sedang mempermainkan semua orang! Sejak hari itu, dunia ini seakan rusak di mataku …. Kenapa …. Kenapa hal seperti ini terjadi padaku? Tidak hanya keabadian sialan ini, bahkan semua tindakan ku sejak hari itu ….”
Sang pemuda bersandar pada pipa-pipa besi, meringkuk kesal dan merasa muak dengan semua hal yang menimpanya. Merasa tidak bisa menang, sebab apa yang dirinya rasakan adalah sebuah kepastian yang tidak bisa diubah. Seakan-akan memang 101 Entitas telah mengatur takdir semua makhluk hidup.
“Orang yang bahkan tidak pernah aku temui, kenapa bisa dia mengaku bahwa kenal denganku? Dia pasti sengaja memberitahu kontak ku, bukan? Supaya adikku bisa menemuiku saat itu …. Kenapa dia mengirimnya ke tempat ku? Tepat setelahnya, kejadian mengerikan terjadi dan semuanya menjadi kacau balau. Semuanya … seakan saling berhubungan. Terus apa lagi sekarang? Kenapa bisa malah orang ini ….”
Bergumam sendiri, berusaha memahami namun pada saat yang sama tidak ingin menerima kesimpulan yang ada. Sang pemuda melihat ke arah pria bernama lengkap Richard Boderman tersebut, lalu samar-samar merasa bahwa orang tersebut tidak mengenali dirinya. Dilihat dari gelagat yang ada sejak pertama kali bertemu.
Merasakan semua kejanggalan, firasat sang pemuda berkata bahwa pria tersebut memang ada kaitannya dengan sosok yang mengaku sebagai Dewi Helena. Merasa bahwa pertemuannya kali ini adalah sebuah permainan lain dari sang Dewi.
“Ini menyebalkan, sampai kapan aku harus seperti ini ….”
__ADS_1
Dengan berat hati, pemuda itu mengangkat tubuh Richard dan memapah. Membawanya keluar, tidak ingin membiarkan pria tersebut mati sebelum mengetahui rahasia yang ada.
Dalam benak perasaan aneh bercampur aduk, terutama saat berpikir harus menolong orang yang beberapa saat lalu beberapa kali menembakkan pistol ke arahnya. Tetapi, penasaran lebih dominan.
Tanpa disadari, pemuda itu pun dalam benak merasa ingin mendapatkan seorang rekan.
Untuk berbagi rasa sakit, penderitaan, dan berjuang bersama untuk mempertahankan umat manusia. Lalu, pada saat yang sama pemuda itu juga ingin meringankan hatinya sendiri yang terasa mati rasa karena semua beban yang ada.
Setelah kejadian tersebut, mereka berdua pun menjadi sering bertemu. Entah sebagai musuh dan saling menodongkan senjata satu sama lain, atau bahkan bekerja sama dalam menghadapi perselisihan internal yang ada di antara sesama manusia.
Menangani terorisme, kelompok radikal, dan bahkan konspirasi pemerintah dunia yang saat itu menjadi pemimpin koloni-koloni di Antartika. Tanpa disadari, baik sang pemuda ataupun Richard, mereka memendam rasa percaya satu sama lain.
Saling mengenal semakin dekat, memahami cara pandangan masing-masing, dan hubungan terus berkembang. Memang hal tersebut bisa terjadi karena situasi dan kondisi yang meliputi kedua individu tersebut. Namun, memang benar apa adanya bahwa mereka berdua memiliki sifat yang sesuai. Meski cara pandang yang ada berbeda.
Sang pemuda hanya ingin mempertahankan keberlangsungan umat manusia, karena itulah ia melakukan penelitian secara terus menerus untuk mendapatkan jawaban. Mencapai keselamatan yang dirinya mimpikan.
Mulai mengumpulkan para ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, lalu membentuk sebuah organisasi berkedok farmasi untuk melakukan berbagai penelitian terlarang.
Eksperimen manusia, rekayasa genetika, pencarian sumber daya alternatif, dan pemrograman A.I untuk penyokong kehidupan umat manusia. Mereka terus berkembang secara pesat dengan menjual hasil penelitian, lalu digunakan untuk penelitian.
Pada sebuah titik, organisasi yang dibuat sang pemuda bahkan sampai bisa meluncurkan satelit ke luar angkasa. Berisi sistem kalkulasi super dan A.I untuk mencari planet hunian lain di luar sana, dengan tujuan utama menggantikan bumi yang sudah tidak layak.
Di sisi lain, Richard mengambil jalan yang berbeda. Berkat kontribusi yang diberikan kepada pemerintah dan masyarakat kelas atas, pria tersebut terus mendapatkan promosi dalam kariernya.
Sejak hari pertemuan pertama dengan sang pemuda, Richard berhasil naik sampai pangkat Marsekal di usia 49 tahun. Itu sangat muda untuknya meraih pangkat tersebut, dan sempat membuat banyak orang kagum serta iri dengannya.
Namun, pangkat itu dirinya dapatkan bukan untuk bersenang-senang atau berbangga diri. Melainkan untuk meraih ambisinya, yaitu melakukan serangan balik kepada 101 Entitas yang dulu pernah melenyapkan asia tenggara. Ia ingin membalaskan dendam kepada mereka yang telah memporak-porandakan banyak negara dalam satu bulan.
Dari informasi yang diberikan oleh sang pemuda, Richard tahu bahwa 101 Entitas tidaklah lenyap bersama ledakan dan masih ada pada suatu tempat di bumi. Meski selama beberapa tahun mereka tidak menampakkan diri karena alasan yang belum diketahui.
Dari sang pemuda, Richard juga menjadi tahu bahwa mereka sedang mengamati umat manusia layaknya subjek. Sedikit demi sedikit memberikan musibah dengan memanipulasi iklim, menyebar radiasi, lalu membuat umat manusia berpikir bahwa semua itu adalah sebuah cobaan dari yang maha kuasa.
Dalam sebuah keputusan, Richard pun menjalin kerja sama dengan organisasi yang dibuat oleh sang pemuda. Sebagai ganti memberikan bantuan finansial dan sumber daya, pria yang mendaki sampai pangkat Marsekal tersebut terus menerus meminta informasi terkait 101 entitas.
Pada saat persatuan itulah sang pemuda bercerita ….
Tentang kondisi tubuhnya ….
Masa lalu ….
Adik ….
Dan bahkan tujuan yang sedang ingin dirinya capai selama ini.
\===========
Catatan Kecil:
Fakta 047: Jika tidak ada unsur waktu, maka tidak akan ada unsur ruang. Jika tidak ada unsur ruang, maka tidak ada unsur jarak. Jika tidak ada unsur jarak, maka kecepatan juga tidak akan ada. Lalu, jika tidak ada waktu atau waktu menyentuh nol multak, maka foton (sederhananya adalah cahaya) tidak bisa begerak.
Dengan kata lain, mustahil untuk manusia bisa melihat. Karena itu, hal seperti menghentikan waktu sama saja seperti membuat dunia berakhir.
__ADS_1