
Di antara gandum keemasan, suara lantunan penyair terdengar merdu bagaikan pentas musik berjalan. Diiringi petikan Tamburica yang khas, menyampaikan sejarah dan kisah heroik dengan lirik-lirik mereka.
Senja semakin jelas, cahaya jingga kemerahan mulai menyelimuti perbukitan, ladang, dan pedesaan. Dalam senyum puas beberapa petani membawa hasil panen mereka, diangkut menggunakan gerobak menuju kincir air di dekat sungai. Ditarik oleh kerbau-kerbau gembul, terus mengunyah sisa rumput dalam mulut.
Sebagian hasil panen akan ditumbuk halus menggunakan penggiling pada kincir air, lalu diolah menjadi tepung sebagai cadangan makanan musim dingin. Sedangkan sisanya disimpan pada lumbung, atau dijual untuk membaiki alat-alat tani dan tempat tinggal. Memperkokoh diri demi menghadapi salju yang akan segera turun beberapa minggu lagi.
Angin bertiup dingin dari arah utara, bergerak halus dan kering menyusuri barisan gandum keemasan. Menciptakan ombak keemasan yang terlihat seperti lautan timah, sedikit mengkilap saat terpapar mentari yang sudah mulai redup.
Pada penghujung hari tersebut, orang-orang kembali dari landang dan tempat kerja mereka. Saling menyapa, melempar senyum dengan ramah dan rukun. Tidak memedulikan perbedaan yang ada, hanya hidup dalam kesederhanaan yang terbatas.
Mereka terdiri dari manusia dan makhluk primal. Memiliki perbedaan yang jelas, meski sama-sama berjalan dengan dua kaki dan menggunakan satu bahasa.
Kebanyakan makhluk primal mempunyai hawa kehadiran unik, kadang diselimuti oleh Ether ketika tertidur atau melamun. Bentuk tubuh dan karakteristik mereka pun cenderung mirip reptil, hanya beberapa saja yang memiliki wujud seperti manusia.
Pada umumnya, makhluk primal sendiri memiliki jangka hidup yang tidak jauh berbeda dengan manusia. Kisaran 60-100 tahun, lalu paling lama ada yang mencapai 120 tahun. Itu merupakan basis awal dari jangka hidup mereka, sebelum akhirnya berubah secara mendasar dan menyimpang dari rantai kehidupan.
Seiring waktu, konsep kehidupan makhluk primal perlahan-lahan mengalami berubah. Karena karakteristik tubuh mereka yang cenderung menarik Ether saat kesadaran menipis, mutasi pun terjadi secara bertahap dan mulai mengubah bentuk kehidupan makhluk primal.
Ketika tidur, melamun, ataupun pingsan, secara otomatis Ether akan tertarik oleh tubuh mereka. Dikonsumsi sebagai udara bersama oksigen, lalu dikeluarkan kembali bersama karbondioksida.
Mutasi ⸻ Kata tersebut sangat tidak cocok untuk menggambarkan perubahan mereka. Proses itu terlalu lambat, berlangsung selama beberapa generasi sebelum akhirnya makhluk primal mengalami perubahan bentuk kehidupan. Namun, untuk disebut evolusi itu terlalu cepat dan tidak memiliki faktor desakan lingkungan sebagai pemicu.
Entah bagaimanapun proses itu disebut, secara fundamental bentuk kehidupan mereka benar-benar berubah. Penyimpangan tersebut melahirkan makhluk primal dengan kemampuan manipulasi Ether, belum bisa disebut sihir karena hanya berguna untuk meningkatkan ketahanan fisik dan memulihkan luka ringan.
Tetapi, penyimpangan tersebut bukan berarti mengubah sesuatu atau bahkan membawa zaman baru. Layaknya kehidupan kecil yang lahir ke dunia, itu hanya menjadi pelengkap dalam kesederhanaan mereka.
Makhluk primal lebih unggul dari manusia, baik itu dalam kekuatan fisik maupun kecerdasan. Mereka memiliki kesadaran diri atas hal tersebut, dan juga kemampuan untuk memimpin serta rasa penasaran yang tinggi.
Namun, bangsa mereka tidak memilih jalan penguasa ataupun penindas. Hanya hidup berdampingan dalam kesederhanaan, menikmati momen singkat itu dan menjaganya baik-baik.
Seakan ingin menghapus semua keunggulan yang ada, makhluk primal tetap memilih untuk hidup setara dan berdampingan dengan manusia. Meski pikiran, tubuh, dan persepsi perlahan-lahan berubah menuju arah yang lebih mulia, mereka tidak menciptakan kasta dan terus hidup sederhana.
Bertani, mengurus kebun dan ternak, lalu sesekali berburu dan memancing. Hidup dalam kefanaan bersama manusia, lalu saling membatu dalam tatanan sosial sederhana. Memilih untuk tidak mengembankan peradaban ataupun pengetahuan, sebab mereka tahu kalau itu akan membawa kehancuran pada masa mendatang.
Pada salah satu sudut landang, seorang wanita rambut perak abu-abu berdiri dengan wajah suram. Rambut halusnya berkibar mengikut hembusan angin kering, bergelombang layaknya aliran sungai jernih. Mengkilap saat terpapar sinar senja, berubah sedikit kekuningan saat warna bercampur.
Berbeda dengan para petani ataupun penduduk sekitar, penampilannya sangat menawan layaknya Tuan Putri. Mengenakan gaun putih polos, dihiasi pita merah pada sekitar pergelangan tangan dan dada. Tidak mengenakan alas kaki ataupun perhiasan, anggun dalam kesederhanaan.
“Ilusi?” Mimik wajahnya dipenuhi kegelisahan. Coba membelai gandum di sekitar dan memetiknya, wanita rambut perak keabu-abuan tersebut sedikit mengerutkan kening setelah mencium aroma yang khas. “Odo menyusun ulang ini? Rekonstruksi Momen?” gumamnya seraya menjatuhkan tangkai gandum.
“Bukan aku yang membuatnya, Leviathan ….”
Mendengar suara sang pemuda belakang, Putri Naga langsung cemas dan berbalik. Menatap pucat dengan mulut tertutup rapat, lalu melangkah mundur dan jatuh tersandung. Tenggelam ditelan hamparan gandum keemasan dan cahaya senja yang perlahan sirna.
Rasa sakit saat terjatuh, gatal pada kulit karena tergores hamparan gandum. Leviathan dengan jelas merasakan semua itu, membuatnya terdiam sesaat dan membuka mata lebar-lebar.
Putri Naga tidak bisa langsung mempercayainya, atau bahkan memahami kenyataan yang ada sekarang. Untuk disebut ilusi, sensasi itu terlalu nyata dan jelas. Layaknya memiliki wujud fisik dan eksistensi tersendiri.
“Sebenarnya apa yang ingin engkau lakukan?” Leviathan segera bangun, membersihkan pakaiannya dan mulai menatap sinis dengan kening sedikit mengerut. “Diriku akan memaafkanmu jika memang semua ini hanya ilusi semu,” tambahnya dengan gelisah.
__ADS_1
“Ini bukan ilusi, namun kilas balik milikmu.” Odo mendekati landang gandum. Mengulurkan tangan seakan ingin mengajaknya keluar, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Sesuatu yang mengikatmu dengan masa lalu. Kau bisa menyebutnya kenangan.”
“Masa lalu? Kenangan?” Leviathan tanpa ragu meraih uluran tangannya. Melangkah keluar dari ladang gandum, wanita rambut perak keabu-abuan tersebut kembali bertanya, “Apa itu semacam penyesalan? Setelah diriku berhasil menghadapinya, apakah kita bisa pergi dari sini?”
“Entahlah ….” Setelah menariknya keluar dari ladang, Odo sekilas memalingkan pandangan dan menghela napas ringan. Dengan nada risau pemuda itu menjawab, “Ada banyak hal yang bisa mengikat seseorang dengan masa lalu, salah satunya adalah penyesalan. Tergantung pada masing-masing individu.”
“Hmm ….” Melepaskan tangan pemuda itu dan menjaga jarak, Leviathan kembali memperlihatkan mimik wajah tidak percaya. “Jadi, mengapa dirimu bisa tahu hal semacam itu? Pelaku, ya? Engkau pelaku yang membuat hal semacam ini, ya?” tanyanya dengan penuh curiga.
“Bukan! Kita sekarang berada di dalam Core Realm!” Odo langsung mendongak. Perlahan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan menunjuk langit, pemuda rambut hitam itu dengan tegas menyampaikan, “Kemungkinan besar, tumbal yang menjadi jantungnya ingin menilai kita.”
“Tumbal?” Leviathan sedikit memiringkan kepala. Sembari memegang dagu, Putri Naga mulai mengangguk-angguk dan bergumam, “Ingin menilai kita? Untuk apa?”
Odo tidak lekas menjawabnya, hanya termenung dengan mimik wajah datar. Melihat gerak-gerik Leviathan yang seakan tidak mengingat kejadian sebelumnya, pemuda itu perlahan menajamkan sorot mata dengan penuh kecurigaan.
Sejenak melihat tangan kanannya sendiri, pemuda itu pun lanjut membisu. Tidak paham dengan kejanggalan tersebut, merasa ada yang janggal sekaligus merusak. Seolah-olah Realm semu itu tercipta secara tidak sempurna, menyimpang dari perannya sebagai Rekonstruksi Momen.
“Entahlah, kita mungkin akan tahu setelah menyelesaikan ini.” Odo pura-pura tidak tahu. Berhenti menunjuk langit, pemuda itu menurunkan tangan dan kembali menghadap Leviathan. Sembari menajamkan sorot mata, dengan nada tegas dirinya lekas memastikan, “Memangnya penyesalan apa yang kau miliki?”
“Penyesalan ….” Leviathan berhenti mengangguk santai, Wajahnya perlahan berubah muram, sedikit sayu seakan-akan ingin menangis. Putri Naga segera berbalik, menyembunyikan raut wajahnya dari sang pemuda dan mulai menarik napas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diri, lalu menekan perasaan dengan mengalihkan pikiran. “Desa ini adalah bagian dari kerajaan kami. Tempat yang dulu sering diriku kunjungi saat bosan belajar, atau bertengkar dengan guruku,” ujarnya dengan suara pelan.
“Bertengkar dengan guru?” Odo berjalan mendekat, berdiri di sebelah Leviathan dan kembali bertanya, “Berarti kau tergolong bandel, ya?”
“Asal engkau tahu, kami bertengkar bukan karena diriku tidak mau belajar.” Leviathan langsung menoleh. Menunjuk pemuda itu dan menatap sinis, Putri naga dengan tegas menyampaikan, “Terkadang persepsi kami tidak selaras dan bahkan saling berlawanan! Meski diriku belajar banyak darinya, beliau cenderung pasif terhadap perubahan! Diriku tidak suka itu!”
“Ya, aku rasa itu wajar.” Odo tidak terlalu peduli dengan hal tersebut. Memalingkan pandangan ke arah ladang gandum, perlahan pemuda itu menyipitkan matanya dan tersenyum muram. “Ada kaitan?” tanyanya dengan singkat.
“Diriku rasa tidak ada. Lagi pula, beliau sudah berpulang sebelum tragedi itu terjadi. Seharusnya, penyesalan dalam dada ini bukan berasal darinya ....” Leviathan membantahnya dengan jelas, berhenti menunjuk dan mulai menyatukan kedua telapak tangannya di depan perut. Ikut melihat hamparan gandum keemasan, wanita rambut perak keabu-abuan tersebut dengan sayu menyampaikan, “Mungkin diriku menyesali tempat ini.”
“Terserah mulutmu, Odo.” Leviathan mengubah nada bicaranya, terasa lebih akrab dan sedikit menurunkan kesan berwibawa. Seakan menyadari sesuatu, perlahan Putri Naga melebarkan senyum tipis dan berkata, “Saya rasa … ini bukanlah tempat ujian.”
“Sepertinya memang bukan.” Odo tidak terkejut. Kembali menunjuk langit, pemuda rambut hitam tersebut langsung menyampaikan, “Jika memang ingin menguji kita, tidak mungkin ada benda seperti itu di atas sana.”
“Hmm?” Leviathan mendongak, menatap lurus ke arah objek yang ditunjuk Odo. Tidak terkejut dan hanya memasang wajah heran, Putri Naga dengan bingung bertanya, “Memangnya ada yang aneh dengan kastel langit itu?”
“Kastel? Itu kastel?” Odo tidak bisa menerima definisi tersebut.
Dilihat dari mana pun, bentuk objek itu benar-benar mirip seperti satelit buatan. Terbang melayang dengan kecepatan yang sangat pelan dan tampak berhenti di tempat. Masih berada dalam pengaruh gravitasi, mengorbit dengan ketinggian hampir mencapai mesosfer. Tampak sangat kecil saat dilihat dari tempat mereka.
“Benar, itu kastel langit. Ciptaan makhluk kayangan, sekaligus batasan duniawi yang mereka tetapkan kepada seluruh mortal.” Leviathan menegaskan seakan itu bukanlah hal aneh. Lekas menoleh, Putri Naga perlahan memperlihatkan mimik wajah heran dan menahan napas sejenak. “Memangnya kenapa? Baru pertama kali lihat, ‘kan?” tanyanya memastikan.
“Uwah, jelas saja peradabannya hancur.” Odo mengerutkan kening dengan kencang. Berhenti menunjuk dan menghela napas panjang, pemuda itu menggelengkan kepala dan bergumam, “Padahal di sini masih abad pertengahan, kenapa hasil peradaban tingkat tinggi sudah muncul?”
“Kami sama sekali tidak tahu kapan itu diciptakan, loh. Tau-tau sudah ada dalam satu malam.” Leviathan sedikit meluruskan. Kembali melihat kastel langit, Putri Naga perlahan melebarkan senyum kesal dan mengendus kasar. “Namun, diriku yakin itu pasti ciptakan Dewi Helena!” tambahnya dengan ketus.
“Aku tahu, itu pasti ulahnya.” Odo lekas berjongkok. Sembari menggaruk bagian belakang kepala, pemuda itu dengan nada resah menyampaikan, “Kemungkinan besar itu satelit Pengindraan Jauh atau Riset Ilmiah.”
“Satelit?” Leviathan cukup asing dengan istilah tersebut.
“Sebelum musnah, bukankah peradaban kalian sudah cukup maju sampai mampu melakukan rekayasa genetik?” Odo melirik tajam, berhenti menggaruk kepala dan menahan napas sejenak. Segera memalingkan pandangan, pemuda itu dengan heran lanjut bertanya, “Masa tidak tahu, sih?”
__ADS_1
“Sayang sekali kami tidak bisa mengembangkan peradaban sampai keluar langit. Itu dibatasi makhluk kayangan, paling maju peradaban kami hanya sampai pulau melayang dan metode terbang saja.” Leviathan ikut berjongkok. Sembari menyangga kepala, Putri Naga dengan risau menyampaikan, “Karena perjanjian yang kami buat dengan mereka, langit menjadi zona tabu.”
“Ah, dia sangat mempertimbangkannya. Rapi sekali ….” Odo menahan napas sejenak. Mengangguk sekali dan menundukkan wajah, pemuda itu dengan kesal berkata, “Dunia ini masih cacat, sih. Kalau kalian mulai menjelajah angkasa, bisa dipastikan rahasianya terbongkar.”
“Rahasia?” Leviathan lekas mendekat, sedikit menyenggol Odo dengan penuh antusias. “Rahasia apa memangnya?” tanyanya dengan penasaran.
“Seluruh dunia ini hanyalah kecambah.” Odo kembali berdiri. Sejenak memejamkan mata dan berpikir, pemuda rambut hitam tersebut lekas menjelaskan, “Semesta ini bersumber dari benih yang ditumbuhkan secara paksa. Diambil dari buah yang belum matang, penuh cacat dan kerusakan. Meski bisa tumbuh, itu akan layu dengan cepat. Lenyap dalam kehampaan.”
“Maksudnya?” Leviathan ikut berdiri. Berjalan maju dan segera berbalik menghadap lawan bicara, Putri Naga langsung menunjuk lurus dan meminta, “Tolong jelaskan supaya saya paham! Tidak usah berkelit seperti itu, deh!”
“Dunia ini terbatas.” Odo menegaskan. Menatap balik dengan wajah suram, pemuda itu mulai mengepalkan tangan kanan dan lekas menyampaikan, “Berbeda dengan Dunia Sebelumnya yang terus mekar, pertumbuhan dunia ini sangatlah terbatas. Sangat rapuh dan singkat.”
“Terbatas, ya?” Leviathan tetap tidak bisa menangkap maksudnya. Sedikit memalingkan wajahnya dengan angkuh, Putri Naga lekas melirik sembari lanjut bertanya, “Lantas apa hubungannya dengan larangan langit tabu? Bukankah kamu tadi bilang mereka sedang menyembunyikan sesuatu?”
“Apa kau pernah bertanya-tanya tentang sesuatu di balik langit?” Odo mendongak. Senja perlahan-lahan berubah malam, mentari terbenam dan bintang-bintang bermunculan dalam tabir hitam. Sebelum malam benar-benar tiba, pemuda itu menunjuk ke atas sembari berkata, “Sesuatu yang tersembunyi di balik mereka, gugusan cahaya dalam kegelapan.”
“Di balik langit?” Saat Leviathan mendongak, malam telah benar-benar tiba dan gugusan bintang pun terlihat semakin jelas. Sedikit menyipitkan tatapan, Putri Naga menghela napas ringan dan menjawab, “Tidak pernah. Sejauh yang diriku tahu, langit adalah tempat tabu milik makhluk kayangan. Hanya itu ….”
“Ah, berarti dia berhasil mengelabui kalian.” Odo berhenti menunjuk. Tersenyum kecut seakan menertawakan, pemuda itu sekilas menggelengkan kepala dan berkata, “Dia berhasil mengendalikan persepsi kalian. Menciptakan dunia kelabu, menetapkan batasan mutlak untuk menjaga dunia rapuh ini.”
“Apa maksudmu? Kenapa senyum-senyum begitu?” Leviathan tidak tersinggung, sebagai gantinya rasa penasaran semakin menguat. Menghadapnya dan menatap dari dekat, Putri Naga lekas menuntut, “Jelaskan sekarang juga! Jangan mempermainkan saya!”
“Selama belasan ribu tahun, kalian semua sudah ditipu olehnya.” Sejenak memejamkan mata dan menyusun kalimat, pemuda itu dengan nada sedih menyampaikan, “Penetapan langit sebagai tempat tabu, persepsi terhadap batasan dunia, lalu perkembangan teknologi yang dibatasi. Sadarlah! Itu semua adalah bentuk penipuan!”
“Ditipu? Kami?” Meski memahaminya, Leviathan sama sekali tidak merasa tertipu. Karena itulah, kesal dan marah tidak berkobar. Hanya ada hampa dan bimbang yang menyelimuti.
“Kau tahu, Leviathan ….” Berhenti tersenyum kecut, tatapan Odo langsung berubah tajam. Seakan marah menggantikan lawan bicaranya, sang pemuda dengan lantang menegaskan, “Itu merupakan bentuk penjajahan!”
“Dijajah?” Leviathan tetap tidak bisa memahaminya. Meski kebencian terhadap Dewi Helena mengakar pada hatinya, Putri Naga tetap tidak bisa memahami persepsi tersebut. “Kenapa itu jadi bentuk penjajahan? Sampai akhir kami memiliki kebebasan, tidak ditundukkan bangsa langit atau siapa pun,” ujarnya dengan wajah bingung.
Odo tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pembodohan secara persepsi memang sulit untuk diluruskan. Meski kebenaran dipaparkan dengan jelas dan tegas, tidak mudah untuk menyadarkan mereka yang telah terkena dokrin atau dogma.
“Sudahlah! Kalau kau tidak merasa dijajah, berarti memang tidak.” Odo menutup topik secara paksa. Lekas mengganti haluan, pemuda itu tanpa ragu bertanya, “Kita bahas penyesalanmu saja! Lagi pula, ini juga sudah petang. Mau ke desa dulu dan lihat-lihat? Itu adalah sumber penyesalanmu, bukan?”
“Ke desa?” Leviathan segera menoleh, melihat titik-titik cahaya kemerahan di antara kegelapan malam. “Benar juga, ini sudah gelap. Mari coba pergi ke sana dan pastikan,” ujarnya dengan nada lemas. Untuk beberapa alasan, perhatiannya berubah dengan cepat.
“Ya, sudah! Kau duluan yang jalan. Aku akan mengikut di belakang.” Menyadari kejanggalan tersebut, Odo tidak membahasnya dan hanya menghela napas ringan sebagai tanda lelah. “Kau lebih tahu daerah sini, ‘kan?” tambahnya dengan resah.
“Hmm ….”
Leviathan mengangguk, lalu mulai melangkah pergi dengan tatapan kosong. Seakan tenggelam oleh sesuatu, kesadaran Putri Naga perlahan pudar dan tubuhnya pun bergerak sendiri. Mengikuti aliran suasana, dikuasai oleh hasrat untuk menyingkirkan penyesalan dalam hati.
Odo tidak mencegahnya, hanya mengamati dan memilih untuk berjalan mengikuti Leviathan. Memasukan kedua tangan dalam saku celana, lalu sedikit melebarkan senyum tipis dengan kesan gelap.
.
.
.
__ADS_1
.