Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[111] Serpent XI – Remorse (Part 01)


__ADS_3

Tenggelam dalam mimpi, larut dan hanyut bersama harapan yang takkan terwujud. Menggenggam tangan sedingin mayat, perlahan memejamkan mata dan berdoa supaya tidak membukanya lagi.


Tersenyum kaku di tengah badai putih, dalam senyap membuka telapak yang telah membengkak hitam karena dingin. Melambai pelan, lalu berpaling dan berhenti menanti. Melangkahkan kaki tanpa alas, menghadapi kenyataan yang tidak bisa dihindari.


Kenyataan memang pahit, selalu membangunkan kita di tengah malam dengan tamparan menyakitkan. Menyeret orang-orang menuju kehampaan, lalu menenggelamkan mereka dalam kewajiban dengan mulut tersumbat.


Karena itulah, orang-orang menyebut ilusi sebagai bentuk pelarian terakhir. Apapun hasilnya, itu menyelamatkan mereka meski hanya sementara. Memberi secercah harapan, menjadi cahaya dan tempat bernaung. Berlindung dari badai malam yang ganas.


Namun, masyarakat memandang tabu hal tersebut.


Melarang, mencegah dan menciptakan hukum untuk menekan peredaran ilusi. Supaya keluarga mereka tidak jatuh, tenggelam, dan terbenam dalam racun kenikmatan tersebut.


Obat-obatan terlarang, opium⸻ Itu merupakan bentuk ilusi yang secara tegas dilarang oleh masyarakat. Dibatasi oleh hukum, lalu telah mendapatkan label sebagai sumber keburukan.


Tetapi⸻


Esensi utama dari ilusi tidaklah konstan. Tidak ada aturan khusus itu harus berasal dari obat-obatan terlarang.


Hal tersebut bisa bersumber dari apapun, lalu dapat menjelma sebagai siapa pun. Entah itu gambar bergerak yang disembah pemuda-pemudi, sekelompok orang yang dipuja-puja sebagai idola, orang dungu yang dianggap tokoh agamis, ataupun pemimpin rakus dan bebal yang mengutarakan omong kosong dari balik layar.


Semuanya adalah ilusi dunia, memberikan harapan dan kenyamanan semu. Menjadi tempat pelarian, menenangkan mereka layaknya opium yang meredam rasa sakit.


Kanker dalam tatanan masyarakat, tidak bisa dilarang karena telah melebur sebagai budaya dan karakteristik. Itulah ketergantungan, penyakit yang mendorong orang-orang untuk memenuhi kebutuhan tersier daripada primer.


Hampir setiap orang di masyarakat membutuhkan ilusi⸻


Menjadi tempat bersandar dan warna kehidupan. Mencari kehangatan meski tahu itu bisa membakar mereka, mendekap kobaran api dalam kegelapan dunia sampai hangus menjadi arang. Tidak ada yang tersisa selain abu dan nama.


Cinta.


Kepercayaan.


Pencapaian.


Penghargaan.


Perang.


Harta.


Wanita.


Kenangan.


Dunia penuh dengan ilusi. Sebuah kefanaan yang rapuh, namun sangat menggoda dan menawan. Kelak semuanya akan pergi dari genggaman, melebur dalam aliran waktu dan hilang tertutup debu.


Meski begitu, setiap orang selalu mendambakannya. Entah itu hidup dengan bergelimang harta, disayangi oleh banyak orang, cinta sejati, ataupun pencapaian setelah melakukan sesuatu yang membanggakan.


Karena itulah, mereka yang tidak dapat mencapainya akan melarikan diri menuju ilusi lainnya. Sesuatu yang dianggap rusak, tempat singgah hati para pecundang.


Berhenti mencoba.


Menyerah untuk dibutuhkan dan berguna.


Meninggalkan mimpi.


Atau, bahkan menyerah untuk tidak merepotkan orang lain.


Berakhir meringkuk sendirian di kamar, lalu perlahan menutup mata dan telinga layaknya pecundang. Kabur dari kenyataan, melarikan diri menuju ilusi menyedihkan.


Tentu, tidak ada yang ingin menjadi seperti itu⸻


Daripada tenggelam dalam kegelapan dan membusuk, mereka ingin terpapar mentari dan berlari mengejar mimpi bersama yang lain. Meraih ilusi hangat, meninggalkan dekapan dingin dunia malam yang penuh kesepian.


Musim semi penuh bekas luka, panas terik di pertengahan kemarau, dedaunan yang gugur dalam kesunyian pedih, lalu dingin mematikan pada akhir tahun. Pada akhirnya, kesalahan akan selalu menjadi penghias kehidupan. Bersama penyesalan yang terus tumbuh dalam batin.


Bersama rasa sakit yang belum pernah dirasakan, kepedihan dan penyesalan itu pun perlahan menjadi selimut kehidupan. Saat meringkuk kesepian dalam tempat gelap, jati diri akan memudar bersama waktu yang membeku.


Menjadi kehampaan dalam batin yang takkan pernah bisa terisi lagi ….


ↈↈↈ


Peradaban Kuno, sebuah zaman jauh sebelum kalender pendulum diterapkan. Masa ketika daratan masih dihuni oleh khalifah asli, bentuk kehidupan yang telah diakui oleh Kehendak Awal Mula sebagai widyaiswara semesta.


Makhluk Primal⸻ Pada masa kejayaan, mereka dikenal sebagai makhluk berumur panjang paling bijak dan mulia. Ras pendiri peradaban pertama, merupakan leluhur dunia yang sangat berjasa dalam ilmu pengetahuan dan kemakmuran.


Sosok perkasa dan mulia, ras yang lebih memilih untuk menggunakan pengetahuan mereka daripada kekuatan. Baik itu untuk bertahan hidup, atau bahkan merangkul bentuk kehidupan lain dalam bimbingan.


Paling tidak, itulah yang diriku ketahui dari ras kami. Tercantum dalam catatan-catatan yang telah musnah, hilang dan hancur menjadi abu bersama kebenaran peradaban kami.


Leviathan⸻ salah satu bentuk kehidupan yang lahir dari rahim dan benih pemimpin Makhluk Primal. Entitas yang telah ditetapkan oleh Kehendak Awal Mula sebagai salah satu perwakilan samudra, bahkan sebelum lahir ke dunia.


Itulah diriku ….


Pada malam yang petang dan dingin, diriku lahir bersama dua bentuk kehidupan lain. Tepat setelah Ayah dan Ibu kami mendapatkan sebutan ‘Yang Mulia’ dan menduduki singgasana.


Dikenal sebagai Dewa dan Dewi Naga Agung, sosok penguasa Istana Langit di atas kerajaan bangsa mortal. Diakui oleh penduduk langit sebagai pembimbing daratan beserta isinya.


Kami bertiga lahir tidak dalam bentuk anak-anak, namun berupa embrio telur yang sengaja dibekukan untuk masa depan Makhluk Primal. Menunggu momen yang tepat untuk ditetaskan ke dunia, didiamkan dalam tempat gelap selama beberapa dekade.


Berbeda dengan bentuk kehidupan lain, Makhluk Primal memiliki banyak cara dalam berkembangbiak. Mereka bisa hamil dan melahirkan layaknya mamalia, lalu juga bisa dengan bertelur untuk nanti akan dibuahi oleh pejantan pada waktu yang tepat.


Pada beberapa kasus, mereka bahkan bisa memiliki keturunan tanpa proses pembuahan.


Dengan kata lain, mereka sebenarnya tidak terlalu membutuhkan pejantan untuk melanjutkan keturunan. Meski tingkat keberhasilannya rendah, hal tersebut tidak mustahil untuk dilakukan.


Oleh karena itu, dalam hierarki kekuasaan, betina lebih dominan daripada pejantan.


Namun, tentu saja kami tidak lahir secara prematur tanpa proses pembuahan. Tepat setelah Makhluk Primal memiliki kedudukan yang jelas dan diakui oleh penghuni langit, kami pun ditetaskan. Secara berurutan dari Ayunda, diriku, lalu Adinda.


Saat itulah, kesadaran yang terkekang cangkang telur akhirnya menemukan dunia luar. Pertama kali melihat dua bentuk kehidupan yang selalu menemani diriku di tempat gelap, Ayunda dan Adinda.

__ADS_1


Disentuh juga oleh Ayahanda dan Ibunda, dua sosok siluet yang selalu berbicara kepada kami dari luar dunia dalam cangkang.


Mendengar suara mereka secara langsung tanpa dihalau cangkang, dihantarkan udara dan masuk ke telinga dengan hangat. Nama kami pun disebut satu persatu.


Putri Sulung disebut dengan nama Seliari, sedangkan diriku dipanggil Leviathan, dan bungsu mendapatkan nama Mariana. Diimbuhi tambahan marga depan berupa Zialina, lalu kelak masing-masing dari kami akan mendapatkan nama belakang setelah beranjak dewasa.


Kami dibesarkan sebagai Tuan Putri. Mendapatkan pendidikan sejak dini, terus belajar dan dilatih selama hampir dua ratus tahun.


Dikenal oleh penduduk istana sebagai Tiga Putri Naga, dihormati dan disanjung oleh mereka sebagai keturunan penguasa Makhluk Primal.


Hal pertama yang diajarkan kepada kami bertiga adalah pendidikan karakter. Mencangkup aspek-aspek dasar seperti norma, nilai, adab, dan tata krama.


Dilanjutkan dengan belajar cara mengolah Ether, lalu ilmu bela diri dasar, serta teknik menggunakan Mana yang kelak akan dikenal sebagai sihir.


Tidak hanya itu saja⸻


Kami juga dikenalkan dengan sejarah dunia, silsilah keluarga dan kedudukan, serta berbagai macam pengetahuan umum sebagai bekal kelak saat kami dewasa.


Saat menginjak usia 200 tahun, kami pun memasuki masa remaja dan mengakhiri pendidikan dasar. Berhenti membaca tumpukan buku tua, lalu berpisah untuk mendapatkan pembelajaran dari guru masing-masing.


Mengungkap kebenaran dunia, mengasah kemampuan, dan mencari jati diri. Daripada pergi berguru, hal itu lebih mirip seperti mendapatkan teman debat untuk mencurahkan isi pikiran dan hati.


Sebab, pada dasarnya kami tidak memerlukan guru untuk mempelajari sesuatu. Kami hanya butuh contoh untuk dipelajari. Karena itulah, diriku lebih merasa seperti dibimbing daripada diajari.


Apapun yang diriku pikirkan tentang hal tersebut, pada akhirnya belajar menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu setelah makan malam bersama keluarga.


Entah itu membicarakan hal sepele seperti roti yang dimakan saat sarapan, atau topik penting seperti Sup Purba tempat kehidupan pertama muncul. Itu sangat menyenangkan.


Apapun yang dibicarakan, momen tersebut terasa sangat memuaskan. Terutama saat rahasia terkuak dan masalah terselesaikan.


Guru ku sendiri merupakan pakar dalam bidang rekayasa genetika, berpusat pada evolusi buatan dan rantai evolusi alami. Tentu saja, diriku pun tertarik dengan hal tersebut karena sering membicarakannya.


Membahas awal mula kehidupan, rantai evolusi, lalu rekayasa genetika untuk menciptakan obat-obatan dan antibodi buatan. Lebih cenderung mengarah ke farmasi daripada aspek genetika.


Meski dirinya adalah seorang pakar yang berkutat dalam bidang rekayasa genetika, beliau tidak suka membahas manipulasi evolusi. Selalu menghindar, lalu marah saat diriku menanyakan hal tersebut.


“Keingintahuan adalah berkah, namun itu juga kutukan. Sebagai makhluk bijak, kita harus menetapkan batasan yang jelas dalam hal ini.”


Saat diriku menanyakan alasannya, beliau hanya menjawab seperti itu. Enggan menjelaskan, lalu memilih untuk diam membisu.


Itu adalah sebuah peringatan. Namun, diriku tidak menyadarinya.


Bukan⸻


Diriku tidak memedulikannya. Jangankan berhenti, anak nakal ini malah semakin penasaran. Bertanya ke pakar yang lain, membaca ratusan buku tua, dan bahkan sampai bertanya kepada beberapa pejabat penting di istana.


Tentu saja saya tidak berani melakukannya seorang diri. Mencari rekan, diriku memutuskan untuk membicarakan rasa penasaran ini dengan Ayunda dan Adinda. Berdiskusi bersama, lalu membujuk mereka untuk membantuku.


Pada akhirnya, kebenaran itu terungkap dari mulut Dewi Naga Agung, Ibunda saya sendiri. Fakta bahwa kami adalah ras yang terlalu dicintai oleh Kehendak Awal Mula, sampai-sampai itu menjadi sebuah kutukan mengerikan.


Kami memiliki kecepatan evolusi yang sangat tinggi dan terarah⸻


Seakan-akan Makhluk Primal sedang didesak dunia untuk mencapai sesuai, tingkat perkembangan Bentuk Kehidupan (Aeons) kami sangatlah cepat.


Pada akhirnya, hal tersebut memicu akselerasi evolusi Makhluk Primal menuju bentuk tertentu. Seolah ada kehendak yang mengaturnya.


Evolusi pada dasarnya terjadi karena desakan lingkungan atau ekosistem, berlangsung dalam kurung waktu lama selama beberapa generasi, dan barulah terjadi perubahan yang jelas. Melalui banyak proses seperti munculnya varian, lalu berkembang menjadi bentuk kehidupan yang berbeda saat karakteristik baru diwariskan.


Namun, evolusi Makhluk Primal seakan meloncati semua proses yang ada. Sejak daratan stabil dan menjadi kondusif, arah evolusi mereka sudah tidak lagi dipicu oleh ekosistem.


Menurut apa yang disampaikan Ibunda, dulunya kami adalah makhluk mirip kecebong yang hidup di Laut Purba.


Mulai naik ke daratan saat badai petir berhenti, berbuah menjadi penduduk darat dengan empat kaki, badan besar bersisik, dan gigi taring untuk memakan daging.


Saat daratan kembali berubah dan kehidupan lain bermunculan, evolusi Makhluk Primal pun mulai bercabang mengikuti ekosistem masing-masing.


Beberapa ada yang menumbuhkan sayap, tetap di daratan dan merayap, membuang kaki dan menjadi makhluk melata, lalu sebagian lagi ada yang kembali ke lautan dan memilih untuk bernapas dengan insang.


Seluruh proses evolusi itu memiliki kesamaan khusus, yaitu tidak membuang karakteristik reptil seperti kulit sisik, ekor, dan tanduk. Hanya meniru karakteristik makhluk hidup lain yang dianggap cocok untuk beradaptasi.


Memiliki kesadaran diri yang kuat, emosi yang jelas, dan tujuan yang kukuh⸻


Karena sifat tersebut, mereka selalu lebih unggul dari makhluk lain dan dapat berdiri di puncak rantai makanan. Meskipun akal masih primitif dan barbar, mereka memiliki tingkat adaptasi yang tinggi.


Namun, sejak manusia muncul semuanya berubah. Kehidupan yang diciptakan Dewi Helena itu membawa perubahan besar untuk daratan beserta isinya.


Makhluk Primal pun terkena imbasnya. Arah evolusi mereka menjadi terpusat, terarah dan menjadi semakin cepat. Layaknya belasan sungai yang mengalir dan bermuara di laut, seluruh cabang evolusi mengarah pada satu bentuk paten.


Hanya dalam beberapa generasi, Makhluk Primal mulai bisa berjalan menggunakan kedua kaki mereka. Memiliki dua tangan dengan lima jari, lalu bentuk kerangka tulang mereka juga berubah menjadi seperti manusia.


Ukuran Makhluk Primal pun dengan cepat mengecil. Mereka kehilangan sistem pernapasan trakea, insang, sayap, dan seluruh organ yang diperoleh dari proses evolusi. Hanya menyisakan karakteristik dasar seperti sisik, ekor, dan tanduk.


Proses itu berlangsung sangat cepat. Seakan-akan mereka sedang didorong untuk meniru umat manusia, ciptaan Dewi Penata Ulang.


Pada saat itu juga, Makhluk Primal masuk dalam pengawasan penduduk langit. Tanpa ada kontak langsung selama ratus tahun, karena mereka hanya dianggap sebagai hewan yang berjalan dengan dua kaki.


Tetapi, kecepatan Evolusi yang tidak masuk akal itu tidak berhenti.


Hanya dalam beberapa generasi, karakteristik Makhluk Primal perlahan lenyap dan berubah menjadi tiruan manusia yang sempurna. Lebih kompleks dan sempurna, sebab memiliki aksesibilitas Ether yang sangat kuat.


Itulah bangsa kami, garis keturunan Makhluk Primal yang dikenal sebagai Naga Agung.


Menjadi makhluk yang lebih unggul dari manusia dalam banyak aspek, menjelma sebagai khalifah dunia dan mendirikan peradaban yang maju.


Pada puncak kejayaan, Makhluk Primal mendirikan kerajaan dengan peradaban yang sangat maju. Memiliki belasan pulau melayang, teknologi mutakhir, jutaan pengikut, dan dihormati oleh seluruh mortal yang tinggal di daratan.


Itulah asal-usul Makhluk Primal yang tidak tertulis dalam buku ataupun catatan berdebu. Sebuah fakta bahwa dahulu kami hanyalah mikroba dalam Laut Purba, berubah menjadi reptil, dan berakhir menjadi entitas paling berpengaruh di daratan.


Diriku puas dengan penjelasan Ibunda, itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab rasa penasaran dalam benak ini. Batasan yang dimaksud guru pun menjadi semakin jelas.


Beliau ingin menyampaikan bahwa Makhluk Primal hanyalah bentuk kehidupan kecil dan rapuh, berasal dari mikroba yang merangkak ke daratan. Beliau tidak bisa mengatakannya secara langsung karena batasan status sosial.

__ADS_1


Karena diriku adalah seorang Tuan Putri, sosok yang kelak akan memimpin bangsa ini.


Pernyataan itu bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap bangsa dan leluhur. Sama saja mengatakan bahwa Makhluk Primal tidak ada bedanya dengan mikroba seperti kuman, bakteri, virus, ataupun archaea.


Saat diriku dan Adinda merasa puas dengan penjelasan yang Ibunda sampaikan, Ayunda malah memperlihatkan ekspresi penuh rasa penasaran. Melebihi kata antusias, seolah-olah dirinya telah menerima panggilan hidup.


Sebenarnya Ayunda tidak tertarik dengan topik tersebut, dia ikut hanya untuk menemani kami. Namun, entah mengapa tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan aneh.


“Apakah kami berbeda? Berbeda dari kalian semua?”


Pertanyaan itu membuat Ibunda terdiam sesaat. Seakan tidak ingin membahasnya, beliau menjawab pertanyaan itu dengan wajah enggan. Kebenaran yang disembunyikan oleh Keluarga Naga Agung, fakta bahwa kecepatan evolusi tidak masuk akal itu masih ada sampai sekarang.


Selama pergantian generasi, itu akan bertambah semakin kuat dan kental. Melekat erat layaknya sebuah kutukan.


Pada saat itu, kami hanya mendengarkan penjelasan Ibunda.


Fakta bahwa kami adalah anak hasil rekayasa untuk memperlambat perubahan genetika tersebut, mendekati abadi karena pengaruh evolusi.


Merupakan bentuk kehidupan yang lebih sempurna dari Makhluk Primal, bahkan tidak bisa disebut sebagai Naga Agung karena memiliki Daath dan Aeons yang sangat berbeda.


Entitas Ilahi, mampu melebihi Dewa-Dewi dan menjatuhkan kayangan⸻ Itulah kami.


Jujur saja, saat itu diriku tidak paham dengan apa yang dikatakan Ibunda. Diriku hanya tahu tentang penduduk langit dari buku, bertemu langsung pun tidak pernah.


Saat diriku dan Adinda bingung mendengar penjelasan itu, anehnya Ayunda malah tertawa ringan. Lalu, dengan senyum tipis di wajah dirinya bergumam, “Berarti Kehendak Awal Mula memang benar-benar ada. Kita diciptakan berbeda dari yang lain ….”


Saat suasana berubah senyap dan tidak ada pertanyaan lagi, Ibunda segera mengakhiri pembicaraan. Beliau beranjak dari tempat duduk, lalu pergi menghadiri rapat rutin di aula istana.


“Ayunda baik-baik saja?” Melihat senyum menakutkan itu, diriku lekas meraih tangannya dan bertanya, “Apa ada yang menarik?”


“Tidak ada ….”


Kepribadian Ayunda memang cukup tertutup, dikenal pendiam, dan sedikit misterius. Daripada memberikan penjelasan, dia lebih memilih untuk diam dengan ekspresi datar. Segera beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan.


Namun, sebelum keluar dirinya sempat berbalik dan menyampaikan, “Sebaiknya kamu coba turun ke bawah, Adinda. Buku dan istana ini tidak cukup untuk menjelaskan kebenaran dunia.”


“Kakak pernah pergi ke sana?! Bukannya kita tidak boleh turun dari istana sebelum upacara kedewasaan?”


“Kamu memang rajin dan patuh. Ayunda jadi cemas …. Kamu tahu, kenyataan itu sangat menyakitkan. Terkadang ketidaktahuan adalah berkah dalam kehidupan.”


Itulah yang Ayunda katakan sebelum meninggalkan ruangan.


Sejenak menghela napas ringan, diriku lekas melihat ke arah Adinda untuk menanyakan sesuatu. Namun, anak itu malah pura-pura tidur. Berbaring meringkuk di atas sofa, lalu mulai bergumam menyebut nama-nama makanan.


“Setelah ini kamu ada kelas, ‘kan?”


“Saya sudah mengantuk …! Besok saja, lah ….”


“Ini masih siang, lho.”


“Tepat sekali, ini waktunya tidur siang.”


“Kamu ini ….”


Diriku hanya bisa mengelus dada, menyerahkan Mariana kepada yang berwenang. Dengan kata lain, mengadukan anak itu kepada gurunya.


.


.


.


.


.


Beberapa minggu telah berlalu.


Namun, rasa penasaran ini tidak kunjung hilang dari benak. Apa yang Ayunda sampaikan waktu itu, kalimatnya membekas dalam pikiran dan terus menghantui.


Diriku pun menyerah, berhenti memikirkannya dan memutuskan untuk bertanya langsung kepada Ayunda. Mendatangi kamar Putri Sulung itu saat malam tiba, lalu mengajaknya bicara supaya rasa penasaran ini hilang.


“Tidak perlu terburu-buru ….” Ayunda tidak lekas menjawab pertanyaan ku. Dia hanya tersenyum tipis dengan wajah kalem, lalu mengulurkan tangan dan berkata, “Belakangan ini kita jarang bertemu, bukan? Sebelum menjawab pertanyaan Adinda, bagaimana kalau kita mengobrol dulu sebentar?”


“Mengobrol? Bicara santai?”


“Hmm, bicara santai. Kalau tidak salah, engkau mengambil bidang rekayasa genetika dan evolusi buatan, bukan? Bagaimana kalau kita mulai dari topik itu? Di sana kamu juga belajar tentang alur, sifat, dan proses evolusi makhluk hidup?”


Jujur saja, pembicaraan itu tidak terasa seperti basa-basi.


Jangankan santai, dalam beberapa detik kita langsung memasuki pembahasan serius. Bicara tentang Kehendak Awal Mula, konsep bentuk kehidupan, dan bahkan bentuk pengetahuan yang dapat dicapai oleh Makhluk Primal.


Pembahasan yang Ayunda sampaikan tidak jauh berbeda dari materi umum dalam rekayasa genetika. Namun, itu terkesan lebih radikal dan kasar.


Tanpa ragu mendeskripsikan Makhluk Primal sebagai mikroba, lalu menegaskan bahwa umat manusia adalah bentuk dasar kehidupan paling sempurna. Melebihi Naga Agung, bangsa kami sendiri.


Tentu saja itu terdengar konyol ….


Meski diriku tidak pernah bertemu mereka secara langsung, dalam buku dengan jelas disebutkan bahwa umat manusia adalah makhluk mortal. Kehidupan fana berumur pendek.


Saat diriku hendak menyanggah pernyataan Ayunda, dia tiba-tiba menyampaikan gagasan mengejutkan. Sebuah pemikiran yang tidak bisa diriku bayangkan, pandangan gila terkait arah evolusi seluruh makhluk di dunia ini.


“Umat manusia adalah purwarupa kehidupan sempurna. Kita semua hanyalah imitasi yang diciptakan untuk menyaingi mereka, bahkan penduduk kayangan pun merupakan tiruan gagal.”


Ucapan Ayunda membuat ku semakin tidak percaya, itu terdengar seperti puncak kegilaan yang dapat dicapai oleh Naga Agung. Sebab semua pernyataannya sama sekali tidak memiliki bukti nyata, hanya sebatas teori belaka.


Diriku pun dengan terus terang meragukan, memberikan peringatan dan mengingatkan Ayunda supaya tidak menyampaikan gagasan itu kepada siapa pun. Diriku tidak ingin Ayunda dianggap gila oleh penghuni istana lainnya.


“Jangan menjadi bebal, wahai Adikku.” Saat diperingati, Ayunda malah tersenyum lebar. Menggelengkan kepala, lalu dengan lembut menyampaikan, “Temui mereka, maka engkau akan memahaminya.”


Saat mendengar itu, diriku hanya bisa tersenyum kecut. Rasa penasaran ini sepertinya takkan pernah padam. Saat satu terjawab, pertanyaan lainnya akan muncul dan terus begitu.

__ADS_1


ↈↈↈ


__ADS_2