
Saat dirinya melihat tujuan ada di depan mata, Ri’aima langsung mengambil langkah tegas. Ia dengan cepat berjalan menuju sang Owner, lalu sembari menggenggam gagang pedang di pinggang dirinya hendak menebas pria botak tersebut.
Melihat gelagat Putri Sulung Keluarga Stein tersebut, Rosaria dengan segera menahan tangan perempuan rambut biru tersebut sebelum menarik pedangnya dari sarung. “Tolong tenanglah, Nona Ri’aima. Kita di sini bukan untuk hal seperti itu …. Tidak ada yang senang jika kita membuat kekacauan di sini.”
Dengan sorot mata datar, Ri’aima perlahan menoleh ke arah perempuan yang menahan pedang supaya tidak keluar untuk menumpahkan darah. “Tujuan kita berada di depan mata, lantas apa yang membuat Nona Rosa menahan diri?” ujarnya dengan nada kesal.
“Tolong tenanglah, Tuan Odo tidak berharap Anda mengacau di sini.”
Sekali lagi Rosaria membuat kesalahan dalam pemilihan kalimat. Itu membuat Owner dari Galeri Daun Merah tersenak, memperlihatkan wajah bingung dan dalam benak bertanya-tanya mengapa tiba-tiba nama tersebut diucapkan oleh sang Pendeta Wanita.
Pada saat yang sama, Ri’aima pun terkejut dan segera mengurungkan niatnya untuk mencabut pedang. Nama itu benar-benar diucapkan pada waktu yang salah, menghilangkan semua kesempatan yang ada dan membuat Putri Sulung Keluarga Stein tersebut mengerutkan kening.
“Nona Rosa, Anda ini ….”
Sebelum Ri’aima mengungkapkan rasa kesal dengan kekerasan, pria botak yang merupakan Owner dari tempat tersebut segera memastikan, “Odo yang kalian maksud … adalah sang Pembunuh Naga? Putra Tunggal Keluarga Luke itu?”
Ri’aima segera menoleh ke arah pria botak tersebut. Tidak menjawab pertanyaan, ia segera memasang mimik wajah kesal yang begitu kental dan berkata, “Kami berubah pikiran! Lupakan tentang kedatangan kami ke sini, itu juga demi kebaikan kalian semua!”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Putri Sulung Keluarga Stein tersebut menggandeng Rosaria dan mengajaknya keluar. Pendeta Wanita itu pun tidak melawan dan mengikutinya, merasa bersalah karena telah mengatakan nama yang seharusnya mereka sembunyikan.
Melihat mereka berdua pergi setelah menyebutkan nama yang membuatnya gemetar, Badir sang Owner untuk sesaat terdiam membisu. Ia hanya bisa bengong tanpa bisa mencegah, menatap bingung ke arah dua perempuan yang berjalan keluar dari galeri.
“Owner, apa tidak masalah membiarkan mereka pergi?” tanya gadis Resepsionis yang juga mendengar percakapan.
“Memangnya diriku harus melakukan apa?” Pria botak tersebut mengerutkan kening. Memiliki alasan tersendiri untuk tidak terlibat dengan kalangan bangsawan, ia dengan nada kesal menggerutu, “Kau tahu, aku muak dengan orang-orang seperti mereka. Dari dulu sampai sekarang para bangsawan selalu seenaknya saja! Kamu juga lihat tahu, bukan? Perempuan dari Keluarga Stein itu berniat menarik pedangnya dan menebas ….”
“Anda … benar. Maaf jika saya membuat Anda kesal.”
“Jangan minta maaf, ini bukan salah kamu. Ini salah mereka.” Owner menghela napas dan berusaha untuk tenang. Memikirkan kembali kombinasi dua orang yang tampak sangat aneh tersebut, pria botak itu merasakan firasat buruk. Sembari menoleh ke arah tempat Mitranda Quidra datang sebelumnya, ia dengan penuh rasa curiga bergumam, “Apa itu ada kaitannya dengan konflik pemerintahan yang sedang terjadi di Kota. Jika iya, apa keputusanku memasukkan dua orang dari Keluarga Quidra itu kesalahan?”
Meski benak diisi oleh rasa penasaran dan kecemasan, Badir sang Owner Galeri Daun Merah tidak bisa berbuat apa-apa. Pagi pemilik tempat prostitusi di pojok distrik, alur dari perubahan politik di Kota Pegunungan merupakan hal yang tidak bisa dirinya ubah.
Karena itulah, pria botak tersebut hanya bisa diam dan memalingkan pandangan. Tanpa bisa mencari tahu ataupun membuat pencegahan untuk mengantisipasi hal tidak diinginkan.
ↈↈↈ
Pada selang waktu yang tidak jauh berbeda, di salah satu sudut Distrik Perekonomian dan Pertambangan. Sembari bersenandung kecil dan melangkahkan kaki di antara ramainya lalu-lalang, pemuda rambut hitam tersebut sesekali melihat ke arah deretan bangunan megah yang ada di sepanjang jalan.
Tiap langkah tampak berirama. Meski tidak melihat ke depan dan fokus dengan keindahan bangunan yang dilihat, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut tidak sekalipun menabrak orang lain di sekitarnya.
Benar-benar mengagumi arsitektur, tersenyum kecil dan sekali lagi dalam hati merasa akan sangat disayangkan jika semua peninggalan seni tersebut rusak karena perselisihan internal Kota Pegunungan.
“Kata Rosaria, beberapa dekade lalu tempat ini bahkan berkali lipat lebih indah dari sekarang. Rasanya aku ingin melihatnya, Kota Seni dan Pertambangan pada masa kejayaannya. Yah, aku rasa keputusanku sudah benar dengan memilih Agathe. Daripada membiarkan orang yang tidak bisa menghargai seni memimpin Kota, lebih baik aku membunuhnya saja.”
__ADS_1
Perkataan Odo terhenti, bersamaan dengan langkah kakinya di tengah keramian. Ia mulai tersenyum sendiri layaknya orang sinting, lalu menepuk jidat dan terbahak lantang di tengah lalu-lalang keramaian. Orang-orang yang berada di sekitarnya menatap penuh rasa heran, menganggap pemuda rambut hitam itu adalah orang gila dan mulai tidak memedulikan.
Tanpa memikirkan tatapan beberapa orang yang sempat terarah kepadanya, pemuda rambut hitam itu kembali melangkahkan kaki. Ia menyeringai dan sesekali tertawa kecil, lalu dengan suara pelan mulai bergumam, “Huh! Sejak kapan aku peduli dengan seni. Di sini aku hanya mengisi waktu luang sebelum rencana selanjutnya dimulai. Karena itu, walaupun wanita itu gagal aku tidak peduli. Entah pihak siapa yang terakhir berdiri, itu tidak penting. Asalkan Lisia berhasil membuat mereka setuju dengan proposalnya, itu sudah cukup.”
Odo memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu seraya berjalan kembali mengingat-ingat pembicaraan dengan Agathe sebelumnya. Waktu berada di Kamar Pribadi Oma di Kediaman Stein, dalam pembahasan koalisi yang telah terbentuk ia juga sempat menyinggung beberapa hal lain.
Salah satunya adalah kompleks seni yang dewasa ini berubah menjadi sudut prostitusi di Kota Rockfield. Bagi Odo yang samar-samar sudah menduga adanya ruang seperti itu di dalam Kota Pegunungan, informasi yang didapat dalam pembahasan tidaklah terlalu mengejutkan. Namun, dari semua fakta yang disampaikan ada satu membuatnya penasaran.
“Bunga malam yang berkualitas, ya …. Terdidik, bermartabat, dan indah layaknya sebuah mawar berduri.”
Odo melebarkan senyum. Bukan karena ingin mencoba para bunga malam yang sempat disinggung Agathe sebelumnya, namun lebih cenderung ingin memanfaatkan mereka dan menyewa para bunga malam tersebut untuk dibawa ke Mylta.
Saat Putra Tunggal Keluarga Luke sedang asyik menyusun rencana untuk mempekerjakan para bunga malam dan memikirkan cara untuk membujuk mereka, langkah kakinya tiba-tiba terhenti setelah sampai di sudut prostitusi. Di mata Odo, tempat tersebut benar-benar berbeda dengan Distrik Rumah Bordir yang ada Kota Mylta.
Dari segi keindahan, kebersihan, kerapian, arsitektur, dan bahkan perawatan dan keamanan tempat tersebut jelas sangat jauh lebih unggul dari Mylta. Lantai marmer sebagai jalan utama di kompleks, lampu-lampu jalan yang menyala di dalam tempat berkabut, dan lalu-lalang ramai orang yang berkunjung.
Meski aroma wewangian menjadi hal yang sama di setiap tempat pelacuran, namun perbedaan dari segi kualitas tempat memang sangatlah jelas. Memikirkan Rosaria dan Ri’aima yang juga datang ke tempat tersebut, Odo mulai cemas karena tidak sempat memberikan uang kepada mereka berdua.
“Kesampingkan tentang Rosaria, apa Ri’aima membawa uang yang cukup? Rasanya aku bisa membanyakkan mereka berdua ditendang keluar karena tidak bisa membayar sewa bunga malam.”
Di tengah lanturan, perkiraan buruk tersebut seakan menjadi kenyataan setelah melihat Ri’aima dan Rosaria berjalan keluar dari salah satu bangunan. Mereka tidak pergi dengan orang yang dicari, lalu malah memasang mimik wajah murung seakan telah melakukan kesalahan di dalam.
Saling memberikan lirikan tajam, sesekali terlihat membentak satu sama lain dan tidak akur. Memproses informasi yang diterima secara visual, Spekulasi Persepsi milik Odo aktif dan melakukan kalkulasi atas apa yang mungkin telah terjadi kepada mereka berdua.
Setelah menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut berjalan mendekat dan berdiri di ujung bawah anak tangga. Menatap ke arah mereka, melempar senyum ramah dan sedikit memiringkan kepala untuk sesaat.
Melihat Odo Luke, kedua perempuan itu terhenti sebelum menuruni semua anak tangga dari galeri tempat mereka keluar. Berhenti saling menyalahkan, tampak enggan untuk menatap pemuda itu dan hanya terdiam.
Merasa bertanggung jawab atas rencana yang telah dipercayakan kepadanya, Rosaria kembali melangkahkan kaki dan meninggalkan Ri’aima yang hanya terdiam. Pendeta Wanita tersebut berdiri di hadapan Odo, lalu menatap dengan cemas.
“Maafkan saya, Tuan Nigrum. Saya⸻!”
“Panggil saja sama seperti sebelumnya, dasar pengacau!” potong Ri’aima sembari menghampiri mereka. Wajah kesal tampak jelas padanya, lalu mulai melipat kedua tangan ke depan dan memperlihatkan gestur sedikit angkuh. Menunjukkan sikap yang sangat berbeda dari biasanya, perempuan rambut biru pudar tersebut mulai menyalahkan, “Seharusnya Nona Rosa paham kalau nama itu tidak boleh disebut di depan umum, lantas kenapa malah seenaknya menyebutkannya!?”
Odo sedikit melirik kecil setelah mendengar ucapan Ri’aima. Menghela napas ringan dan memahami sifat bangsawan secara umum jika berurusan dengan orang dari kasta sosial yang lebih rendah, Putra Tunggal Keluarga Luke hanya memasang mimik wajah datar.
“Apa Nona Rosaria menyebut namaku?” tanya Odo memastikan.
“Iya, itu benar. Saya menyebut nama Tuan. Bukan Nigrum seperti yang telah Tuan sampaikan sebelumnya, namun nama asli Tuan.”
Rosaria tampak begitu menyesal, menundukkan kepala dan gemetar. Mengingat kembali betapa percaya dirinya Pendeta Wanita itu ketika menerima permintaan darinya, Odo bisa memaklumi rasa bersalah tersebut.
“Tidak masalah, dalam rencana selalu ada hal yang tidak terduga.” Odo meletakkan tangan ke atas kepala perempuan yang menunduk tersebut. Seraya memasang mimik wajah ramah dan mengelus, Putra Tunggal Keluarga Luke menyampaikan, “Aku punya rencana cadangan, karena itulah saya berada di sini.”
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, Ri’aima sedikit bingung dengan cepat merasakan kejanggalan yang ada. Menatap heran pemuda rambut hitam tersebut, sang Putri Sulung Keluarga Stein memastikan, “Rencana cadangan? Kalau dipikir-pikir, mengapa Tuan berada di sini? Bukan seharusnya kita berkumpul di balai kota? Terlebih lagi, pergi ke mana orang-orang Anda yang katanya ingin diajak?”
“Ada sedikit perubahan rencana.” Odo mengangkat tangannya dari Rosaria dan membiarkan perempuan itu kembali mengangkat wajah. Pindah menatap ke arah Ri’aima, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan jelas berkata, “Aku pikir kalian pasti gagal, makannya ada perubahan.”
“A⸻!” Ri’aima terkejut sekaligus tersinggung. Kening mulai mengerut, kedua alis turun dan pipi sedikit mengembung. Dengan nada jengkel ia berkata, “Kenapa bisa Anda berkata seperti itu setelah mempercayakan tugas kepada kami? Rasanya agak menyebalkan ….”
“Yah, habisnya ….” Odo perlahan memasang mimik wajah serius. Sembari mengangkat telunjuk ke depan, pemuda dengan warna mata biru terang tersebut berkata, “Nona tidak bisa sopan dan menghormati kalangan bawah, bukan? Nona hanya sopan saat berhadapan dengan orang yang memiliki status lebih tinggi atau sedang menguntungkan Anda. Jika tidak, sifat Nona yang sedikit kasar akan keluar.”
“Tentu saja, saya diajarkan untuk bersikap seperti itu sejak dulu.” Ri’aima menatap tanpa merasa ada yang salah dengan hal tersebut. Dengan nada penuh rasa bangga, perempuan rambut biru pudar tersebut menambahkan, “Jika kita sopan kepada kalangan bawah, mereka akan besar kepala dan berpikir bahwa kita setara. Apakah Tuan tidak diajari hal seperti itu di Kediaman Anda?”
Odo memahami pemikiran kalangan atas tersebut. Namun, pada saat yang sama ia tidak bisa menerapkan hal itu dalam hidupnya. Tidak menjawab pertanyaan Ri’aima dan memalingkan pandangan ke arah gedung Galeri Daun Merah, Putra Tunggal Keluarga Luke segera menyeringai lebar seakan telah memahami sesuatu.
“Kita kesampingkan dulu pembicaraan itu, Nona Ri’aima ….” Odo lekas pindah menatap ke arah Rosaria, lalu dengan penuh rasa semangat bertanya, “Apa di dalam kalian melihat Racine Quidra?”
“Ka-Kami belum bisa mengonfirmasi hal tersebut, namun ….” Rosaria sedikit memasang mimik wajah ragu, lalu sembari menatap lawan bicaranya menambahkan, “Di dalam kami melihat Nyonya Mitranda Quidra, Ibu dari Nona Racine.”
“Hmm, yang ada Ibunya. Sebenarnya aku ingin mengajak orang-orang dari generasi yang sama denganku saja.” Odo meletakan tangan ke dagu, sedikit memalingkan pandangan dan mempertimbangkan beberapa hal. Setelah menghela napas kecil dan menunjuk lurus ke arah Rosaria, Pemuda rambut hitam tersebut memerintah, “Kalian tunggu di sini! Aku akan masuk ke dalam dan berbicara! Sepertinya dalam hal ini juga akan ada beberapa perubahan kecil.”
“Eng?” Ri’aima tampak terkejut mendengar hal itu. Dengan sedikit cemas, Putri Sulung Keluarga Stein memastikan, “Apa Tuan ingin membongkar identitas dan berbicara langsung⸻?”
“Mana mungkin aku melakukan itu,” ujar Odo dengan nada datar. Menatap ke arah perempuan rambut biru itu, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berkata, “Sudahlah, kalian berdua tunggu saja di sini! Jangan buat keributan, ini tidak akan lama.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke itu menaiki anak tangga tanpa menjelaskan rencananya lebih rinci.
Ri’aima dan Rosaria hanya bisa saling menatap dengan bingung, ingin membantu namun tidak tahu harus melakukan apa.
Masih merasa bersalah atas kegagalan yang telah terjadi, kedua perempuan itu pun pada akhirnya hanya bisa mematuhi perintah Odo untuk menunggu di luar. Hanya diam dengan sabar, menahan rasa tidak nyaman karena tatapan mesum pria hidung belang yang lalu-lalang di tempat prostitusi tersebut.
Namun ketika waktu berlalu sebentar dan bahkan belum sampai lima belas menit, Odo keluar dari bangunan Galeri Daun Merah bersama dengan pria botak yang merupakan Owner tempat tersebut. Pemuda rambut hitam itu melambaikan tangan dari atas, lalu dengan suara lantang memanggil, “Ayo masuk! Katanya kita boleh menemui Nyonya Mitranda!”
Itu tentu saja membuat Rosaria dan Ri’aima terkejut. Hal yang gagal mereka lakukan dengan mudah dan cepat Odo bisa mencapainya. Bahkan, pemuda itu pun memberikan kesempatan untuk mereka kembali masuk ke dalam gedung galeri.
“Sebenarnya apa-apaan kemampuan negosiasi miliknya itu?” gumam Ri’aima dengan penuh rasa heran.
Berbeda dengan perempuan dari kalangan bangsawan tersebut, Rosaria mulai menyatukan kedua tangan seperti sedang berdoa dan berkata, “Utusan memang luar biasa, beliau berada di tingkat yang berbeda dengan kita.”
\==============
Catatan :
See You Next Time!
Jan lupa tinggalkan komentar, supaya aku bisa mengingat kalian para pembaca! Yah, hanya vote di tiap chapter soalnya gak muncul nama id kalian sih.
Catatan Kecil:
Fakta 013 : Nama adik dari Odo Luke di Dunia Sebelumnya juga menjadi salah satu indikator kebangkitannya.
__ADS_1