
Pertanyaan itu membuat Putri Ulla tersentak, kedua matanya terbuka lebar dan hanya terdiam tanpa bisa menjawab. Memalingkan pandangan, ia tampak semakin bingung harus memberikan jawaban seperti apa. Meski seharusnya itu bisa dengan mudah dirinya jawab.
Dari reaksi tersebut, Richard paham kalau Dewi Helena telah ikut campur dengan kondisi struktur jiwa wanita di hadapannya. Bentuk yang tumpang tindih antara susunan jiwa Putri Ulla dan Or’iama, melakukan interpretasi dan mengubah beberapa hal di dalamnya bukanlah hal yang sulit untuk Dewi Penata Ulang.
“Maaf, biarkan aku mengganti pertanyaannya.” Richard menatap lurus, mengangkat jari telunjuknya ke depan dan kembali bertanya, “Boleh aku tanya soal pasukan Prajurit Peri Generasi Pertama yang berada di bawah wewenang kau? Terutama … soal pengawal pribadimu, Laura Sam’kloi …. Mereka semua sekarang berada di mana?”
“Huh!” Mimik wajah bingung perempuan itu seketika sirna, berubah penuh rasa bangga dan dengan lantang menjawab, “Tentu saja mereka semua mati! Aku ledakan mereka bersama kapan dengan Reaktor Nuklir dari Sistem Mahia di lautan! Tepat saat kami hendak kembali ke Kerajaan!”
Jawaban tersebut sepenuhnya mengisi kekosongan informasi yang Richard terima dari Dewi Helena. Sejenak memejamkan mata, pria rambut pirang itu paham kalau ikut campur sang Dewi terjadi pada kisaran waktu tersebut. Mengubah sendiri takdir yang telah dirinya buat.
Kejanggalan dari cara menjawab Putri Ulla benar-benar menjadi fakta nyata. Menyadari dan paham akan hal tersebut, Richard sejenak menarik napas resah dan berhenti menunjuk. Menggelengkan kepala, merasa semua yang telah dilakukan sang Dewi hanyalah sebuah komedi konyol di atas tragedi orang lain.
“Kira-kira, siapa yang melakukannya? Dewi Asmali? Atau Witch? Siapa pun yang dia gunakan, aku rasa sifatnya untuk mendapatkan bidak baru memang mengerikan,” gumam Richard sembari perlahan kembali menatap lawan bicaranya.
“Hmm, apa Anda bicara sesuatu, wahai Utusan Dewi?”
Putri Ulla menatap dengan bingung, seakan-akan sikap anehnya beberapa saat lalu tidak pernah dirinya lakukan. Benar-benar penuh kelabilan, tertahan oleh sesuatu dan hanya bisa mematuhi perintah mutlak untuk melayani. Tanpa sadar bahwa dirinya telah diubah kehendaknya secara paksa oleh pihak lain.
“Tidak apa ….” Richard menggelengkan kepala, menyerah untuk membuat wanita itu sadar dengan identitasnya sejatinya sendiri. Sembari menunjuk lurus lawan bicaranya, pria rambut pirang tersebut bertanya, “Apa kau berniat terus memanggil aku seperti itu? Jika orang-orang di kerajaanmu mendengarnya, bukannya nanti menyusahkan?”
“Kalau begitu, bagaimana diri saya memanggil diri Anda?”
“Cukup Richard. Dari dulu sampai sekarang, aku adalah Richard.”
“Baiklah, jika itu kehendak Anda ….” Perempuan itu berbalik, pada saat bersamaan para Prajurit Peri Generasi Kedua mengikutinya dan bersiap untuk pergi. Sembari menoleh dan tersenyum kecil, ia dengan nada riang berkata, Sekarang, mari kita pergi ke istana. Persiapan yang Dewi Helena perintahkan telah selesai ….”
“Persiapan apa?”
Pertanyaan itu membuat langkah Putri Ulla terhenti, kembali berbalik dan mulai tertawa kecil. Seakan menganggap pertanyaan Richard hanyalah gurauan, ia dengan penuh kebahagiaan berkata, “Anda ternyata bisa bergurau juga …. Tentu saja! Persiapan perang untuk membumihanguskan Daratan Michigan! Mari kita akhiri zaman ini, oh wahai Utusan sang Dewi.”
ↈↈↈ
Jika kita melihat lebih jauh lagi, semua tragedi yang telah terjadi hanyalah sebuah komedi di sisi lain waktu yang begitu panjang.
Sangat konyol dan pantas untuk ditertawakan, sampai kejang-kejang dan menggila tidak karuan.
Layaknya menonton pertunjukan di atas panggung teater, setelah tragedi berlalu semua itu hanya akan menjadi sebatas hiburan untuk orang-orang di masa depan.
Kehidupan memang penuh dengan masalah, tragedi hanyalah salah satu jenis di dalamnya. Setelah melewati masalah tersebut, setiap orang akan berkembang dan memahami sesuatu.
Entah itu sebuah penyesalan ataupun pemahaman, hanya orang yang pernah melaluinya saja yang tahu makna di balik tragedi mereka.
__ADS_1
Namun ⸻
Entah seperti apapun arti di dalam tragedi yang telah terjadi di Kota Mylta, pemuda itu sama sekali tidak peduli. Ia tidak ingin belajar dari hal tersebut, hanya menganggapnya sebagai proses dan tidak ingin mencari makna yang didapat oleh semua orang yang terlibat.
“Semua ini hanyalah sebatas proses, sebuah cara untuk mencapai apa yang aku perlukan nantinya.”
Layaknya orang ketiga yang tidak terlihat di dalamnya, Odo Luke meyakinkan diri sendiri dengan kalimat tersebut dan tetap teguh pada prinsipnya. Mengorbankan apa yang perlu dikorbankan.
Waktu berlalu beberapa jam setelah insiden penyerangan para monster. Di dalam ruang kerja Kepala Prajurit Kota Mylta, beberapa petinggi kota berkumpul. Lisia, Argo, Wiskel, Iitla, dan Odo Luke sendiri sebagai satunya orang dari luar pemerintah di tempat tersebut.
Ada yang berdiri di dekat pintu, bersandar pada dinding atau pun meja kerja⸻ Dalam suasana yang sedikit tegang, tidak ada satu pun dari mereka yang duduk di sofa yang tersedia di tengah ruangan.
“Apa Anda setuju dengan perjanjian yang telah aku buat dengan Putrimu, Tuan Argo?” tanya Odo untuk memulai pembicaraan. Menatap ke arah pria tua di dekat sofa tersebut, ia dengan nada sedikit malas kembali bertanya, “Karena sekarang wewenang itu bisa saja kembali kepada Anda, aku perlu memastikannya apakah perjanjian itu masih berlaku atau tidak?”
Pertanyaan yang Odo ajukan untuk membuka pembicaraan membuat Argo berdiri tegak dan sedikit menghela napas ringan, lalu balik menatap pemuda rambut hitam tersebut. Meninjau dan mempertimbangkan kembali kemampuan sihir yang ditunjukkan Odo untuk mengusir para Hatuibwari sebelumnya, Argo sejenak meletakan telunjuknya ke lehernya sendiri.
Darah sedikit mengalir pada bekas operasi pada lehernya, meski hanya sedikit namun itu cukup untuk mewarnai kain kasa dengan merah. Sejenak menarik napas dalam-dalam dan paham bahwa dirinya yang sekarang tidak memiliki kemampuan seperti saat masih dalam masa kejayaan, pria tua rambut merah tersebut dalam benak memutuskan.
“Sekarang diriku ini tidak memengang wewenang sebagai Walikota. Jika memang Putriku masih ingin mempertahankan perjanjiannya sampai selesai, diriku tidak keberatan.”
“Begitu, ya ….” Odo perlahan mengangkat tangan kanannya, meletakkan ke wajahnya sendiri dan memejamkan mata. Sembari menyembunyikan kornea matanya yang berubah warna, dirinya menggunakan Spekulasi Persepsi secara terpusat. Menganalisa arah pembicaraan dan mempertimbangkan keputusan yang diambil Argo Mylta. “Baiklah, terima kasih atas jawabannya. Itu memperjelas situasi ini,” ucap pemuda itu sembari menurunkan tangan dari wajah.
Dengan jelas Lisia ingin mengungkap kebohongan dan drama yang Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut jalankan sekarang. Namun pada saat yang sama, Lisia juga mengerti bahwa sekarang dirinya juga sudah termasuk komplotan pemuda itu sebab pernah setuju dengan rencananya.
“Saya … tidak keberatan ….” Lisia memberikan jawaban dengan tidak tulus, mulai menggertakkan gigi dan mengelapkan kedua tangan dengan rasa kesal. Setelah menarik napas dan berusaha untuk tidak menunjukkan emosinya, perempuan rambut merah tersebut menambahkan, “Asalkan para monster di sepanjang rute perdagangan dibasmi, saya tidak akan membatalkan perjanjiannya.”
“Hmm ….” Setelah mengangguk satu kali, Odo membuka pintu sembari berkata, “Kalau begitu, kalian siapkan saja pasukan dan buat sebuah ekspedisi untuk pembasmian para monster sekarang juga. Supaya masyarakat yakin bahwa kalian masih memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Aku akan pergi lebih dulu dan membasmi para monster di sepanjang rute perdagangan. Kalian semua bisa membasmi sisanya atau mengumpulkan kristal-kristal sihir dari mayat monster ….”
Melihat Odo benar-benar berniat pergi membasmi para monster sendirian, Argo segera menghentikan, “Tunggu sebentar, Tuan Muda ….”
Cara Argo Mylta memanggilnya membuat Odo sedikit heran dan menoleh, memasang mimik wajah bingung dan sejenak memikirkannya. Teringat dengan hierarki kebangsawanan yang ada di Wilayah Luke, dirinya sedikit merasa kalau cara Argo memanggil bisa dikatakan tidak terlalu aneh. Sebab Keluarga Mylta sendiri memiliki peranan untuk melayani dan membantu tugas Keluarga Luke.
“Ada apa, Tuan Argo? Bukannya Anda sudah bilang akan menyerahkan semuanya kepada Nona Lisia?” tanya Odo dengan sedikit ketus.
“Itu memang benar, tapi ….” Argo berjalan mendekat dengan mimik wajah cemas, lalu berdiri di hadapan Odo dan memastikan, “Apa Saintess sudah tahu bahwa Anda akan melakukan pembasmian itu? Kalau Anda ⸻!”
“Ibuku sudah tahu,” potong Odo tegas. Menatap balik pria yang jauh lebih tinggi darinya tersebut, pemuda rambut hitam itu dengan penuh keyakinan menambahkan, “Asal Anda tahu, aku melakukan ini bukan untuk Keluarga Mylta atau bahkan kota ini …. Anda tak perlu merasa bertanggungjawab jika terjadi apa-apa pada diriku. Tidak ada yang akan menuntut Tuan Argo.”
Meski perkataan tersebut terdengar seperti anak keras kepala yang tidak ingin diingatkan oleh orang tua, Argo tidak bisa membentak atau memerahi. Kemampuan dan status sosial Odo benar-benar setara dengan ucapan angkuh yang dilontarkan.
Setelah menghela napas berat, Odo beranjak pergi dari ruangan. Namun saat satu langkah keluar, ia kembali terhenti dan berbalik ke arah mereka yang masih berada di dalam ruangan. Mengangkat jari telunjuk dan meletakkannya ke depan mulut, pemuda itu dengan suara jelas berkata, “Tolong berikan aku waktu dua atau tiga hari …. Setelahnya, kau bebas mau melakukan apa tentang hal tersebut. Aku tidak akan mengelak tentang dosa yang telah kulakukan.”
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut, pintu perlahan tertutup dan meninggalkan orang-orang di ruangan dalam rasa bingung. Argo yang penasaran dengan perkataan Odo segera kembali membuka pintu untuk memastikan.
Namun, pemuda rambut hitam itu sudah tidak ada di sana. Ia seakan lenyap tanpa jejak, bahkan suara langkah kaki pun tidak terdengar.
“Apa maksud perkataannya? Orang-orang dengan pemahaman sihir tinggi memang selalu membingungkan,” ujar Argo seraya menghela napas ringan. Berbalik dan menatap ke arah Putrinya, pria tua tersebut bertanya, “Apa artinya dia ingin membasmi semua monster di rute perdagangan dalam waktu dua sampai tiga hari? Huh, bahkan untuk perjalanan saja bisa sampai seminggu lebih loh ….”
“Ya, mungkin ….” Lisia hanya memberikan jawaban setengah hati, ia pun sejenak memalingkan pandangan karena sebenarnya dirinya paham apa maksud dari perkataan Odo sebelumnya.
Argo paham bahwa Lisia sedang menyembunyikan sesuatu. Namun mengerti bukan waktunya untuk mengusik momen pubertas dan labil putrinya, Kepala Keluarga Mylta tersebut segera menatap ke arah Iilta dan Wiskel yang berdiri di dekat meja kerja.
“Sebelumnya diriku memang bilang masih menyerahkan wewenang Walikota kepada Putriku. Namun ….” Argo berjalan mendekati mereka berdua, memasang mimik wajah kelam dan dengan tegas bertanya, “Wahai rekanku, Wiskel dan Iilta, diriku ini masih memiliki wewenang sebagai pemimpin keluarga kalian, bukan?”
“Tentu saja, Tuanku.”
“Tentu saja, Tuanku.”
Mereka berdua menjawab dengan serempak, menundukkan kepala dengan hormat tanpa bisa berkomentar. Kedua pria tersebut paham atas keteledoran yang telah diperbuat sehingga mengundang insiden-insiden yang memalukan selama pemimpin asli mereka sakit.
“Diriku masih ingin mempercayai kemampuan kalian. Sebab itu, apa kalian berdua mau mematuhi perintahku kali ini dan memberikan hasil yang memuaskan?”
Mendapat pertanyaan tersebut, mereka berdua berjalan ke hadapan Argo dan langsung berlutu layaknya pengikut yang begitu loyal. Mengangkat wajah dengan penuh semangat karena pemimpin mereka benar-benar telah kembali, kedua pria yang sebelumnya memiliki pandangan berbeda tersebut secara selaras menjawab.
“Dengan jiwa ini kami bersumpah akan memberikan hasil yang memuaskan!”
“Dengan jiwa ini kami bersumpah akan memberikan hasil yang memuaskan!”
Melihat kesetiaan mereka berdua, hal tersebut membuat Lisia benar-benar merasa telah gagal sebagai seorang pemimpin. Berbeda dengan saat dirinya memimpin Iitla dan Wiskel, Argo dengan tegas bisa menyatukan perbedaan pendapat kedua orang tersebut.
Melihat perbedaan yang ada di hadapan mata, Lisia seketika paham faktor vital yang membuat dirinya berbeda dengan Ayahnya ataupun Odo. Karisma dan Wibawa, kedua hal yang harus dimiliki seorang pemimpin sangat kurang dalam dirinya. Sebagai perempuan yang kelak menjadi pemimpin para bangsawan di Kota Mylta, dirinya masih dipandang sebatas remaja labil oleh orang-orang di sekitarnya.
Paham dengan kekurangannya sendiri dan merasa tidak bisa menutupi hal tersebut dalam waktu dekat, Lisia berjalan mendekati ayahnya dan berkata, “Ayahanda, boleh saya bicara sebentar?”
“Hmm? Ada apa, wahai Putriku?”
Argo berbalik, memasang mimik wajah semangat dan itu tampak kurang cocok untuk pria yang usianya sudah tidak muda lagi. Pada saat yang bersamaan, kedua rekan sejawat sekaligus bawahannya pun ikut berdiri. Memperlihatkan ekspresi yang tak jauh berbeda dengan Tuan mereka.
“Ayahanda, saya ….” Sesaat Lisia ragu untuk menyampaikan keinginannya, merasa tak ingin merusak suasana hati mereka yang tampak sinkron satu sama lain. Mengerti tidak bisa terus ragu dan harus menyampaikan, ia mengambil satu langkah mendekat dan berkata, “Saya ingin mengembalikan wewenang Walikota kepada Ayahanda!!” Perempuan rambut merah itu meletakan telapak tangan kanan ke depan dada, lalu dengan nada menekan berkata, “Sekarang ini Putrimu masih belum pantas untuk kewajiban tersebut! Melihat semua kekacauan yang ada sekarang, saya rasa … belum tepat waktunya untuk Putrimu ini mengemban tanggungjawab Keluarga Mylta untuk memimpin kota ini!”
“Kamu sudah sedikit bertambah bijak, Lisia. Sadar dengan kemampuanmu sendiri dan mengakui kelemahan bukanlah hal yang buruk, itu salah satu pemikiran bijak. Kamu tumbuh semakin dewasa.” Argo mengangkat tangan kanan dan mulai mengusap kepala Putrinya. Sedikit memasang raut wajah muram dan paham tidak bisa memanjakan Lisia lagi, pria tua tersebut dengan tegas menjawab, “Namun kali ini Ayah akan menolak permintaanmu. Jabatan itu tidak akan Ayah ambil lagi …. Putriku, mulai sekarang kamu bukanlah pengganti! Kamu secara resmi akan menjadi Walikota Mylta.”
“A⸻!” Lisia benar-benar tersentak dan tidak mengerti kenapa ayahnya malah mengambil keputusan seperti itu, apalagi setelah semua kejadian yang menerpa Kota Mylta. Dengan gemetar dan ingin menolak tugas tersebut, perempuan rambut merah itu menyingkirkan tangan ayahnya dari kepala dan berkata, “Ta-Tapi! Kemampuan saya masih kurang! Kalau diteruskan, mungkin akan ada masalah yang lebih buruk lagi di kota ini!”
“Kalau begitu, kau harus berpikir keras untuk menanganinya!” ujar Argo dengan lantang. Memasang senyum lebar dan penuh semangat yang membara, ia mengacungkan telunjuknya setinggi dada dan kembali berpesan, “Berpikirlah! Menganalisa, mengantisipasi, belajar dari pengalaman, lalu mengeksekusi! Itulah yang perlu dilakukan seorang pemimpin! Kamu harus bisa membimbing orang-orang di Kota ini, itulah tugas yang diemban mereka yang lahir di Keluarga Mylta!”
__ADS_1