
Segera menoleh dan melihat ekspresi cemas Tuannya, Huang sedikit tersentak dan pada saat itu juga berusaha untuk tetap terlihat tenang. Ia meraih tangan kecil perempuan itu, lalu berlutut dan dengan suara lembut berkata, “Tenang saja, saya tidak takut dengan orang tersebut. Nona An tidak perlu cemas ….”
“Bukan ….” An menggelengkan kepala, memasang mimik wajah sedih dan kembali berkata, “Jangan … memaksakan diri. Saya selalu merepotkan, jadi tolong … jangan berkata seakan engkau memikul semuanya.”
“Bicara apa Nona ini ….” Huang memasang senyum tipis, kembali berdiri dan mengusap kepala perempuan rambut hitam tersebut. “Saya adalah pengawal Anda. Sejak dulu sampai sekarang, tubuh dan jiwa ini hanya untuk Nona An,” ujarnya dengan penuh loyalitas. Tanpa keraguan sedikitpun pada tiap kalimatnya.
Opium dan Canna yang melihat itu tidak bisa berkomentar. Namun, dalam benak mereka merasa bahwa seperti itulah bentuk keyakinan seseorang yang telah mencurahkan hidup pada sesuatu. Kedua penyihir tersebut saling menatap, memasang wajah muram dan merasa belum bisa mencapai tingkat pengabdian seperti itu.
Opium merasa rendah karena belum bisa melepaskan semua hasrat duniawi dan fokus terhadap penelitian, sedangkan Canna merasa hina karena tidak bisa mengorbankan segala hal yang ada di genggaman seperti para saudarinya yang telah tiada.
Mereka memang menjadi penyihir dengan motivasi yang berbeda-beda, namun secara garis besar tekad mereka sama Mencurahkan hidup pada sesuatu yang mereka anggap paling bernilai, itulah yang memberikan mereka semangat dalam menjalani hidup.
“Apa yang kalian Tunggu!” ujar Odo kepada mereka semua. Sembari melambaikan tangan kanan ke arah mereka, pemuda rambut hitam tersebut dengan lantang memanggil, “Ayo masuk! Izinnya sudah didapat! Katanya kita harus ke balai kota dulu untuk disucikan dulu, setelah itu baru kita bisa mencari penginapan!”
Canna yang pertama melangkahkan kaki, lalu diikuti oleh Opium, dan baru An beserta Huang mengikuti di belakang. Berjalan mengikuti Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut, mereka semua melewati gerbang utama dan masuk ke dalam Rockfield.
Seperti yang telah disampaikan, mereka akan diantarkan terlebih dahulu menuju balai kota untuk disucikan dan pendataan. Secara spesifik, tempat yang dituju adalah Gereja Utama Kota Rockfield untuk memastikan mereka tidak membawa hal-hal buruk dari luar.
Mengingat kemunculan Raja Iblis Kuno pada musim dingin tahun lalu, hal tersebut secara insentif dilakukan oleh pihak pemerintah Rockfield untuk mencegah para pendatang membawa masuk wabah atau penyakit aneh. Memang itu terkesan sedikit berlebihan mengingat tidak ada korban nyawa karena partikel hitam yang disebarkan Raja Iblis Kuno, namun dampak dari hal tersebut sudah terlihat jelas pada hewan dan monster.
Hewan yang terkena partikel hitam akan mudah mati, lalu untuk monster yang terpengaruh akan mengalami tingkat mutasi yang tinggi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya hewan di hutan yang tiba-tiba mati setelah kemunculan Raja Iblis Kuno, lalu kabar meningkatnya monster mutasi yang diceritakan oleh para pedagang yang menjadi korban penyerangan.
Melangkahkan kaki bersama dan diantar oleh salah satu penjaga gerbang, mereka semua tampak tidak menikmati suasana sejuk yang ada di Kota pegunungan. Tempat tersebut memang dipenuhi kabut dan sangat lembap, namun bukan berarti itu menjadikan Rockfield sepi oleh kegiatan masyarakat. Layaknya Kota pada umumnya, lalu-lalang warga tampak ramai.
Para penduduk lokal tanpa lelah melangkahkan kaki di atas jalan yang terbuat dari susunan batu, menaiki anak tangga yang jumlahnya lebih banyak daripada jalan setapak, lalu berbincang-bincang satu sama lain membicarakan hal-hal kurang penting untuk mengisi waktu selama berjalan.
Kebanyakan orang yang lalu-lalang di Kota adalah perempuan dan anak-anak, sedangkan untuk para pria bekerja di di pertambangan dari siang sampai sore. Selain mereka para perempuan dan anak-anak, ada juga beberapa prajurit yang berpatroli menjaga ketertiban tempat tersebut.
Keranjang gendong yang terbuat dari anyaman tanaman menjalar, berisi bahan makanan seperti daging dan ubi jalar. Itulah yang kebanyakan para perempuan bawa.
Daripada menjadikan roti sebagai makanan pokok, mereka mengonsumsi ubi yang mudah tumbuh di tanah berbatu. Menggantikan gandum yang sukar tumbuh di tanah mereka. Meskipun ada toko roti di pinggir jalan, itu kurang ramai dan termasuk makanan kelas menengah bawah mengingat langkanya gandum di dataran tinggi.
Dalam suasana berkabut, hanya Odo yang tampak antusias dengan pemandangan Kota yang ada. Kabut tebal sama sekali tidak menghalangi pandangan pemuda itu, ia menoleh ke kanan dan kiri sembari mencari informasi yang bisa digunakan selama berkeliling di Rockfield nanti.
Bangunan-bangunan yang ada mengadaptasi gaya arsitektur barok, kubah-kubah yang digunakan sebagai atap menjadi salah satu ciri dari arsitektur tersebut. Selain itu, lampu jalan terpasang pun tampak sedikit berbeda dari apa yang dirinya lihat di Mylta. Kristal sihir memancarkan cahaya yang lebih pudar, lalu diletakkan pada lentera yang digantung pada bagian depan bangunan dan bukan tiang jalan.
__ADS_1
“Kota ini memiliki daya tarik tersendiri. Entah itu arsitektur bangunan ataupun topologi yang ada, semuanya dibangun dengan perhitungan. Dewi Kota itu memang memiliki selera yang bagus soal ini,” benak Odo sembari tersenyum kecil.
Melihat mimik wajah pemuda itu, sang penjaga gerbang yang mengantar menoleh dan bertanya, “Kenapa Anda tersenyum? Apa ada yang aneh?”
“Tidak ada ….” Odo hanya mengangkat kedua sisi pundak, lalu sembari memalingkan pandangan kembali berkata, “Aku hanya mulai paham kondisi politik kota ini.”
“Hmm, sudah paham? Apa itu kemampuan Anda sebagai seorang pedagang? Atau dari pengalaman? Jujur saja, kalian para pedagang tampak aneh bagi kami semua. Saya sendiri tidak paham mengapa Anda bisa tersenyum dan tetap tenang setelah musibah menimpa kalian.”
“Jangan pikirkan, diriku ini memang aneh. Aku akui itu.”
Mendengar itu, penjaga memasang mimik wajah kecut dan berhenti menoleh. Ia tidak lagi mengajak berbicara selama perjalanan, hanya mengantar Odo dan yang lain menuju ke Gereja Utama yang terletak di balai kota.
Meski Teritorial Rockfield tidak lebih luas jika dibandingkan dengan Mylta, bagi orang yang belum terbiasa berjalan di tempat tersebut cukuplah berat. Mereka terus menaiki anak tangga berjumlah banyak, udara akan menipis seiring naiknya ketinggian dan pada akhirnya akan membuat tubuh lelah lebih cepat.
Dalam perjalanan menuju balai kota yang berjarak tidak lebih dari dua kilometer dari gerbang utama, mereka sempat beristirahat sampai dua kali karena An Lian dan Opium tidak kuat untuk terus berjalan. Perjalanan yang penduduk lokal hanya perlu waktu lima menit untuk sampai, mereka malah menghabiskan waktu sampai hampir setengah jam.
.
.
.
.
Sesampainya di balai kota, sekali lagi Odo dibuat kagum dan dalam benak mulai membandingkan. Berbeda dengan Mylta yang memiliki balai kota dengan kesan arsitektur klasikal, Rockfield memang sangat memperlihatkan gaya Baroque yang kental.
Layaknya gaya Barok pada umumnya, ornamen serta struktur bangunan ditekankan pada bentuk pilar, kubah, serta pahatan-pahatan dengan efek tiga dimensional yang beraksen ortodoks. Dalam hal warna, kontras warna yang digunakan mencerminkan kemegahan seperti kuning dan putih.
Dilihat secara langsung balai kota Rockfield merupakan lahan lapang kosong tanpa taman ataupun kolam, hanya ada permukaan lantai keramik luas dengan pola simbol Kerajaan Felixia di bagian tengah. Pada pinggiran terdapat berbagai pola senjata seperti pedang, panah, tombak, perisai, dan bahkan sampai tongkat sihir.
Balai kota tersebut sendiri memiliki diameter sekitar 175 meter, lalu di sekitarnya dikelilingi oleh bangunan bertingkat dengan atap kubah. Dari semua bangunan yang mengelilingi balai, sebagian besar adalah milik pemerintah dan selebihnya merupakan bangunan swasta serta milik Pihak Religi.
Jalan utama yang memusat ke balai kota hanya ada tiga, terdiri dari satu yang berasal dari gerbang utama, lalu jalan yang mengarah ke bagian distrik-distrik kota, dan terakhir adalah jalan menanjak menuju kediaman Walikota, Keluarga Baron Stein.
Menginjakkan kaki di atas permukaan marmer dengan pola indah, Odo hanya bisa kagum dan merasa seperti sedang menjelajah negeri asing. Dirinya memang belum pernah bepergian ke kota lain di Kerajaan Felixia. Namun setelah melihat perbedaan infrastruktur dan arsitektur, ia paham bahwa Rockfield adalah kota yang terasa unik.
Berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi wajah layaknya orang udik, ia bersama Canna dan yang lain berjalan mengikuti penjaga gerbang sampai ke Gereja Utama. Sesampainya di depan bangunan milik Pihak Religi tersebut, Odo merasa itu adalah satu-satunya bangunan yang tidak dipengaruhi gaya Barok dan cenderung lebih memiliki arsitektur bergaya Gotik.
“Tunggu sebentar di sini, saya akan bilang dulu ke biarawan.”
Meninggalkan Odo dan yang lain untuk sesaat dan masuk ke lingkungan gereja, penjaga gerbang menghampiri salah satu biarawan dan berbincang sesaat untuk menyampaikan beberapa informasi dan menjelaskan kondisi. Setelah selesai berbincang, mereka menghampiri Odo untuk memastikan.
“Permisi, wahai hamba sang Dewi Kota. Apakah benar kalian sudah melewati jalan yang dulu telah diinjak oleh Raja Iblis Kuno sebelum sampai ke kota?”
__ADS_1
Mendengar cara bicara biarawan tersebut, Odo memperlihatkan mimik wajah tidak nyaman dan dalam benak merasa kalau dirinya memang tidak cocok dengan orang puritan yang terlalu taat. Melihat penampilan biarawan tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit mengerutkan kening sampai matanya sedikit sipit.
Kopiah bulat kecil di kepala dengan aksen warna biru tua, pakaian jubah liturgi biru muda yang memiliki tali singel merah, lalu sandal selop yang terbuat dari rotan. Meski terkesan sederhana dan mematuhi adat Pihak Religi, namun untuk beberapa alasan di mata Odo penampilan biarawan tersebut tidak nyaman untuk dipandang.
Berusaha mengesampingkan ketidaknyamanan yang dirasa, Odo memasang senyum palsu dan menjawab, “Itu benar, Tuan Biarawan. Menurut Tuan Penjaga, kami harus diberikan air suci terlebih dulu. Demi memastikan bahwa tidak ada di antara kami yang membawa wabah atau hal buruk lain.”
“Itu benar, wahai hamba Dewi Kota.” Biarawan tersebut melebarkan kedua tangannya, lalu dengan penuh kenyakinan yang kuat menyampaikan, “Untuk menghindari semua hal buruk di dunia ini, bagaimana jika Tuan dan Nona sekalian juga melakukan pembatisan? Kami selalu menyambut dengan lapang dada orang-orang yang mau bertobat dan masuk⸻”
“Aku tidak tertarik,” jawab Odo dengan cepat. Sejak pertama kali melihat biarawan tersebut, ia sudah mengira kalau tawaran seperti itu pasti akan dilemparkan kepadanya. Sembari memalingkan pandangan dengan wajah kesal, pemuda rambut hitam tersebut melirik tajam dan menambahkan, “Anda tahu, saya sudah memiliki keyakinan sendiri. Maaf jika sikap saya tidak sopan, namun saya sudah memiliki kemantapan dalam keyakinan yang saya anut.”
“Ti-Tidak masalah, Tuan. Maafkan saya jika telah menyinggung Anda ….”
Biarawan tersebut sedikit kehilangan rasa tenang, merasa bersalah karena telah sembarang mengajak orang yang baru ditemuinya masuk ke dalam kepercayaan orang-orang Felixia. Dalam ajaran yang ada di Pihak Religi Felixia, memaksa atau menekankan kepercayaan adalah hal yang salah. Karena itulah, reaksi yang diberikan Odo seakan dirinya benar-benar tersinggung membuat sang biarawan sedikit cemas.
“Tidak apa-apa, saya juga minta maaf.” Odo menghela napas, berusaha memasang ekspresi ramah dan kembali berkata, “Maaf saja jika kami terkesan buru-buru, namun bisakah Anda mengecek kami secepatnya?” Odo sedikit melangkah ke samping, berbalik ke arah An dan sembari menunjukkan berkata, “Seperti yang Anda lihat, Nona saya sudah lelah karena perjalanan panjang. Saya tidak tega membiarkan beliau kelelahan, saya ingin segera mencari penginapan dan membiarkannya istirahat.”
“Be-Benar juga, maaf terlalu bertele-tele.” Biarawan itu semakin merasa bersalah. Ia segera berbalik ke arah bangunan Gereja Utama, lalu sembari berjalan pergi orang puritan tersebut berkata, “Tunggu sebentar, saya akan segera memanggil Pendeta dan membawa air sucinya.”
Setelah biarawan tersebut pergi, sang penjaga gerbang mendekati Odo dan dari dekat berbisik, “Anda memang pandai bercakap. Tak saya sangka orang cerewet itu sampai gugup saat berbicara dengan Anda.”
“Yah ….” Odo melanjutkan akting, lalu sembari memasang wajah kesal membalas, “Dia bicara soal kepercayaan. Memang ada beberapa tipe orang yang tidak peduli dengan hal seperti itu, tapi topik tersebut adalah hal sensitif. Bagi yang mendalami kepercayaan pasti tahu hal tersebut.”
“Hmm, ternyata Anda orang religius, ya?” Penjaga gerbang memasang mimik wajah heran, lalu mengambil satu langkah ke belakang dan meragukan, “Saya tidak menyangka ada tipe pedagang seperti itu.”
“Tentu saja ada!” Odo mengacungkan telunjuk dengan penuh percaya diri, lalu dengan nada menggurui kembali berkata, “Jika kau pergi keluar, bandit yang berhati lembut pun bisa kau temui! Dunia ini luas!”
“Hmm, kalau memiliki kesempatan untuk itu pasti saya akan mencobanya.” Penjaga gerbang sedikit meregangkan tubuh, lalu memasang senyum kecil dan tampak puas berbincang dengan Odo. Sembari beranjak pergi dari tempat tersebut, ia dengan senyum tipis berkata, “Saya pamit dulu, Tuan dan Nona. Kalau terlalu lama, bisa-bisa para junior kebingungan jika adapedagang seperti Anda datang.”
“Terima kasih, ya! Kalau ada waktu aku nanti mampir ke gerbang!” ujar Odo sembari melambaikan tangan.
“Tentu!” Penjaga gerbang tersebut balik melambaikan tangan, lalu tanpa menoleh ataupun menghentikan langah kaki menambahkan, “Tapi kalau ingin datang jangan malam, jam jaga saya hanya siang sampai sore!”
Odo berhenti melampaikan tangan saat penjaga gerbang tersebut sudah pergi. Berbalik dan menatap ke arah Canna dan Opium, sorot wajah ramah seketika berubah menjadi datar layaknya orang dingin tak berperasaan.
“Kalau tidak salah, aku belum menanyakan hal ini pada kalian. Apa kalian berdua sudah merencanakan langkah selanjutnya setelah ini? Atau …, kalian berpikir akan menumpang pedagang lain lagi untuk menyeberangi perbatasan?”
Pertanyaan yang diajukan Odo dengan nada dingin terasa menusuk dada Canna dan Opium. Mereka memalingkan pandangan, tidak menjawab karena bingung harus melakukan apa setelah ini. Memang cara yang Odo sebutkan juga merupakan opsi untuk kedua perempuan itu. Namun setelah apa yang terjadi, rasa trauma untuk menumpang sedikit tertanam dalam benak kedua penyihir tersebut. Mereka takut jika kejadian serupa terjadi lagi.
__ADS_1