Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[81] When they don't want to pass a path full of puddles (Part 05)


__ADS_3

 


 


Barak Kota Mylta. Pada lapangan markas militer kota pesisir tersebut, persiapan ekspedisi telah dimulai. Persediaan sudah dikumpulkan dan dikemas pada kotak-kotak kayu di atas wagon dan kereta kuda, senjata-senjata seperti pedang, tombak, panah, zirah, dan perisai pun telah disiapkan oleh masing-masing prajurit yang akan mengikuti ekspedisi pembasmian monster di sekitar rute perdagangan.


 


 


Meski itu merupakan sebuah ekspedisi penting yang menyangkut masa depan Keluarga Mylta sebagai pengelola kota pesisir, namun bukan berarti mereka membawa seluruh pasukan yang ada di tempat tersebut. Peserta ekspedisi hanya terdiri dari tiga puluh prajurit, empat perwira militer bagian administrasi, dan beberapa petinggi dari barak tersebut. Selebihnya, seluruh pasukan kota pesisir disiagakan untuk menjaga keamanan kota selama pemimpin mereka pergi melakukan ekspedisi.


 


 


Dalam perkiraan yang telah dapat dalam rapat perencanaan awal, ekspedisi tersebut akan berlangsung antara satu sampai dua minggu. Dengan kata lain, itu merupakan ekspedisi dalam waktu jangka menengah dimana mereka memerlukan kebutuhan logistik yang cukup banyak mengingat yang ikut serta tidaklah sedikit.


 


 


Jumlah yang ada memang lebih banyak jika dibandingkan dengan ekspedisi yang Lisia adakan untuk membasmi para bandit, namun dalam aspek personel ekspedisi kali ini tidak mengikutsertakan penyihir. Hanya terdiri murni dari anggota militer kota pesisir, bahkan untuk tenaga medis juga.


 


 


Pada lapangan barak, kendaraan-kendaraan yang akan digunakan selama ekspedisi terparkir. Kondisinya dicek oleh regu masing-masing, begitu pula untuk persediaan dan kualitas senjata dari pihak swasta yang akan mereka gunakan.


 


 


Di antara orang-orang yang sibuk mempersiapkan, Lisia berjalan sembari membawa papan berisi perkamen pengecekan logistik. Memastikan barang-barang yang dikirimkan oleh pihak swasta lengkap sesuai perjanjian yang telah disepakati.


 


 


Salah satu dari prajurit menghampiri perempuan rambut merah tersebut, lalu memberikan hormat dan berkata, “Lapor, Nona Mylta! Regu dua telah selesai memeriksa perbekalan!” Ia menurunkan hormat dan menyodorkan papan berisi perkamen, lalu dengan tegas berkata, “Ini laporannya! Semua persediaan sudah lengkap!”


 


 


Lisia menerima laporan tersebut, lalu sembari memeriksa bertanya, “Untuk kualitasnya bagaimana? Apa senjatanya memenuhi kriteria kalian?”


 


 


“Kalau itu ….” Prajurit tersebut sesaat terdiam, lalu sedikit memalingkan pandangan dan berkata, “Kalau dibilang baik, itu memang baik. Namun …, jika dibandingkan dengan senjata yang biasa kita dapat dari Rockfield, saya rasa kualitasnya masih tertinggal.”


 


 


“Hmm, hal itu memang wajar. Rockfield adalah salah satu tempat penghasil bijih logam terbaik di kerajaan kita, kualitasnya tidak diragukan ….”


 


 


Sembari memalingkan pandangan, Lisia mulai paham mengapa Aliansi Samudera Majal tertarik untuk menguasai perdagangan bijih logam di kota pesisir. Meski secara keseluruhan Mylta tidak memiliki pertambangan yang berkualitas, namun jika rute perdagangan terbuka mereka bisa dengan bebas mengimpor bijih besi dari Rockfield.


 


 


Secara tidak langsung, melalui perjanjian yang ada pihak Aliansi Samudera Majal pun bisa memantau logam yang diimpor dan mengawasi harganya untuk kepentingan mereka. Dengan adanya monopoli logam tersebut, tidak kecil kemungkinan kalau mereka malah akan menjualnya ke Ungea, kerajaan tempat asal mereka.


 


 


“Yah, memang itu konsekuensi dari perjanjiannya,” gumam Lisia. Setelah menghela napas kecil, ia kembali menatap prajurit yang melapor dan berkata, “Kerjamu bagus, terima kasih. Kamu boleh istirahat sampai sore. Setelah rapat akhir nanti sore, kemungkinan besar kita akan berangkat malamnya ….”


 


 


“Apa … tidak masalah kalau kita berangkat malam hari? Lawan kita kali ini para monster, bukan?” tanya prajurit itu dengan sedikit cemas.


 


 


Lisia memahami kecemasan tersebut. Bagi yang pernah belajar tentang militer ataupun mengetahui karakteristik monster yang menghuni hutan di Teritorial Mylta, malam merupakan waktu bagi para makhluk seperti mereka. Dengan penglihatan yang lebih baik dari manusia biasa di malam hari, para monster akan lebih diuntungkan.


 

__ADS_1


 


Namun, dalam hal itu bukan berarti para monster memiliki pencahayaan memadai ataupun kecerdasan untuk pertarungan di malam hari. Selama mereka menekan dalam hal jumlah dan tidak sembrono masuk ke dalam sarang monster, bisa dijamin tingkat keselamatan dalam pembasmian sangat tinggi.


 


 


“Ini cocok untuk latihan kalian semua,” ucap Lisia sembari memasang senyum tipis. Sembari mengacungkan telunjuk ke depan ia pun menambahkan, “Sebagian besar prajurit aktif di barak ini adalah kadet yang baru lulus, karena itulah ini waktu yang tepat untuk membuat mereka merasakan pertarungan nyata dan menambah pengalaman. Selama mereka mematuhi rencana yang telah dibagikan kepada setiap pemimpin regu, saya rasa ekspedisi ini tidak akan memakan korban.”


 


 


“Be-Benar juga ….” Prajurit tersebut memasang mimik wajah sedikit gentar. Memalingkan pandangan dan menggaruk pipi dengan jari, ia pun melontarkan pendapat, “Para yunior di barak ini jujur banyak yang bermulut besar karena berasal dari anak pedagang dan bangsawan kecil. Saya rasa … ini kesempatan mereka belajar tentang dunia yang mereka pilih.”


 


 


Lisia sempat tidak menyangka mendengar hal tersebut dari seorang prajurit. Berhenti tersenyum dan menurunkan telunjuk, perempuan rambut merah itu berkata, “Ternyata kamu cukup keras, ya?”


 


 


“A⸻!” Prajurit tersebut tersentak, baru sadar telah mengatakan hal yang mungkin menyinggung bangsawan di hadapannya. “Ma-Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung Nona,” ujarnya seraya menundukkan kepala.


 


 


“Tidak apa, saya juga merasakan hal yang sama sepertimu. Barak ini entah mengapa menjadi sarang untuk orang kaya melempar anak mereka, membangga-banggakan tanpa tahu anak mereka dimasukkan ke dalam dunia seperti apa.”


 


 


Lisia memalingkan pandangan, melihat ke arah beberapa prajurit yang baru lulus dari sekolah kadet. Berbeda dengan mereka yang masuk ke militer dari keluarga kecil dan dengan jerih payah mereka sendiri, mereka yang bergabung ke dalam militer menggunakan koneksi keluarga cenderung bermalas-malasan. Hanya duduk-duduk di dekat kereta kuda dan mengobrol tidak penting.


 


 


Melihat mimik wajah Lisia yang tampak marah, prajurit yang melapor seketika gemetar dan berkata, “Ma-Maaf berbincang lama dengan Anda di waktu sibuk ini, saya izin pamit dulu.”


 


 


 


 


“Eh?”


 


 


“Mungkin … ada satu atau dua korban dalam ekspedisi ini.”


.


.


.


.


.


Pada waktu yang sama, di gerbang utama kota pesisir. Tidak seperti hari-hari biasanya, tempat tersebut tampak sepi dari pelancong dan hanya ada para prajurit yang berjaga setelah serangan para monster kemarin. Di tempat tersebut juga terlihat tukang-tukang yang sedang memperbaiki fasilitas umum dan juga bangunan-bangunan yang rusak.


 


 


Meski mendapatkan bantuan dari beberapa pihak swasta, perbaikan dan penanganan pasca insiden tidaklah berlangsung mulus. Selain karena bahan material seperti kayu yang kurang sebab pembatasan akses ke hutan mengingat potensi bahaya yang masih ada, korban-korban serangan para monster pun kebanyakan menuntut ganti rugi.


 


 


Terutama, mereka yang salah satu anggota keluarganya menjadi korban salah sasaran senjata sihir selama insiden. Mereka benar-benar mendesak prajurit yang menjadi pelaku dibawa ke persidangan untuk diadili.


 


 


Namun, di antara keramaian dan pembatasan akses yang ada, sebuah rombongan memacu wagon mereka menuju gerbang utama untuk pergi keluar kota. Mereka adalah rombongan dari salah satu kelompok pedagang dari Kekaisaran yang memutuskan untuk pergi meski paham dengan risiko bahaya yang ada. Pada rombongan tersebutlah Opium dan Canna menumpang, lebih tepatnya lagi disewa sebagai pengawal selama perjalanan menuju perbatasan Kerajaan Felixia.

__ADS_1


 


 


Saat rombongan berhenti dan salah satu perwakilan turun untuk mendapatkan izin pergi dari kota, Canna yang duduk paling belakang perlahan menoleh ke arah kota yang tampak kacau dengan puing-puing yang berserakan dan aroma amis darah yang masih tercium.


 


 


Dalam hatinya, sang penyihir rambut putih uban tersebut masih ingin bertemu dengan Odo sebelum berangkat. Mimik wajahnya tampak sedih karena mungkin dirinya tidak akan pernah bisa melihatnya lagi setelah sampai di Miquator.


 


 


Perbedaan kasta dan takdir yang ada, tujuan hidup dan arah langkah kakinya menuju masa depan sangatlah berbeda dengan pemuda itu. Sebab itulah, Canna sangat paham bahwa ini adalah perpisahan untuk selamnya. Baik dengan Odo ataupun semua orang di kota pesisir Wilayah Luke.


 


 


“Selamat tinggal, Ayahanda …. Saya harap putri kecilmu ini bisa merasakan kehangatan itu lagi.” Air mata Canna kembali keluar dan mulai menangis tersedu. Meski dirinya paham bahwa tugasnya sebagai salah satu Korwa telah selesai, namun tetap saja rasa ingin terus bersama dengannya tumbuh dalam hati. Sembari mengusap air mata sang penyihir pun berkata, “Selamat tinggal. Terima kasih banyak, semua saudariku …. Tanpa kalian, diriku ini tidak akan pernah bisa merasakan semua ini.”


 


 


\===============================


 


 


Catatan :


 


 


Yo, seperti yang aku duga …. Karena hiatus setahun, dari november sampai januari ini, entah mengapa banyak alur yang aku sudah bayangkan tidak jadi dimasukkan. Bukan karena kejar waktu, tapi jujur lupa alurnya gimana ….


 


 


Yeah, aku rasa gak bakal jadi plot hole makanya gak masalah sih.


 


 


Hanya saja, hasilnya alur yang sudah dibayangkan banyak banget yang berubah. Seharusnya ini sudah memasuki fase melawan Leviathan, tapi malah masih bahas ekspedisi pembasmian monster di rute perdagangan.


 


 


 


 


Oh, iya …. Aku lupa ini.


Bagi yang ngotot minta up, silahkan coba kontribusi secara nyata kepada seri ini untuk membuat Author merasa ingin ngebut seri ini!


Dan!


Terima kasih untuk kelian yang terus mendukung cerita ini!


 


 


See you Next Time!


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2