
Odo memalingkan pandangan, merasa kalau itu ada benarnya karena di dunia sama sekali tidak ada yang kepercayaan yang menyembah Helena. Sebab sang Dewi Penata Ulang itu sendiri disembah oleh Dewa-Dewi, bukan makhluk fana seperti manusia atau Mortal lainnya.
“Terlebih lagi, untuk apa engkau ingin membunuh sang Dewi?” tanya Nia’an dengan gemetar.
Odo tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia malah menggaruk bagian belakang kepala dan berkata, “Tak masalah kau tidak membantuku sampai akhir. Paling tidak, tolong aku melindungi Mylta. Jika dikombinasikan dengan kemampuan meramal bawaan milikmu, seharusnya itu bisa meramal sampai satu bulan ke depan. Dengan begitu, seharusnya orang-orang di Mylta bisa menyusun rencana kalau terjadi sesuatu.”
Itu membuat Nia’an bingung. Jika memang hanya itu tujuan Odo datang menemuinya dan memberikan kemampuan tersebut, seharusnya ia bisa memilih orang yang lebih terpercaya. Kalaupun tidak ada, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut bisa memilih alternatif lain dengan kemampuan miliknya yang bisa memberikan kekuatan kepada orang lain.
“Kenapa … engkau susah-susah memberikan hal ini kepada saya?” tanya Nia’an dengan penuh rasa curiga, ia mengambil satu langkah ke belakang dan kembali bertanya, “Bukannya engkau bisa saja menyalin kemampuan saya dan menggunakannya sendiri? Dengan kemampuan yang engkau miliki itu, seharusnya⸻!”
“Kau sudah tahu alasannya,” ujar Odo dengan singkat. Ia tidak menjelaskan lebih jauh dari itu karena semua informasi yang ingin Nia’an telah terkirim ketika telapak tangan mereka bersentuhan.
Nia’an menundukkan kepala, merasakan tanggung jawab yang dibebankan dan mulai menangkap maksud Odo mendatanginya. “Karena engkau akan pergi ke Pien’ta? Karena akan menjadi Walikota di sana, engkau mempercayakan Mylta kepada saya?” tanya perempuan rambut perak tersebut dengan penuh rasa gelisah.
“Tepat, kau sudah tahu itu ….” Odo memasang senyum tulus, merasa puas telah melepas salah satu beban yang memberatkan pundaknya. Sembari sedikit memiringkan kepala ia pun kembali bertanya, “Apa ada hal lain yang masih belum kau pahami, wahai Orakel?”
“Mengapa?!” Mulut Nia’an terbuka dan terhenti sesaat tanpa mengeluarkan suara. Ia memalingkan pandangan, lalu dengan suara lirih kembali bertanya, “Mengapa harus saya?”
“Ada beberapa alasan, namun yang paling penting ….” Odo menghadap ke arah jendela, mulai melangkahkan kakinya dan dengan nada muram menjawab, “Engkau sudah terbiasa dengan beban berat ini. Melihat engkau bisa memimpin semua orang suku dan masih mempertahankan sikapmu itu adalah buktinya.”
“Apa … yang engkau maksud?”
Saat Odo berhenti di depan jendela dan sesaat menatap keluar, pemuda itu perlahan menoleh dan menjawab, “Mungkin ini kasar, namun kau … sudah sering kehilangan orang di sekitarmu. Karena itulah, aku yakin kau bisa membuat keputusan yang tepat di situasi genting.”
“Kenapa engkau yakin kalau diriku ini akan mengambil keputusan yang tepat tersebut?”
“Karena aku tahu kau adalah orang baik.”
“Huh?” Nia’an terkejut mendengar itu, dengan cepat wajahnya tampak kesal dan dengan lantang berkata, “Omong kosong! Bukannya engkau sudah melihatnya sendiri! Diriku ini tanpa ragu rela mengorbankan seluruh suku waktu itu! Jika engkau tidak datang, semua orang ini sudah mati karena diriku! Meski engkau tahu itu! Engkau tetap berkata demikian?!”
“Ya, aku akan tetap berkata seperti itu kepadamu ….”
Odo hanya menatap datar, begitu lurus dan dipenuhi rasa percaya. Bagi Nia’an sendiri tatapan itu tampak menakutkan, terlihat seperti sorot mata yang sudah menyerah terhadap banyak hal dan hanya menginginkan satu hal. Sorot mata dari orang yang rela mengorbankan segalanya demi mencapai tujuan, bahkan nyawanya sendiri.
Mempertimbangkan beban yang diberikan Odo kepadanya, Nia’an sendiri merasa tidak terlalu keberatan dengan hal itu. Awalnya dirinya setuju membangun pemukiman karena ingin memulai kehidupan baru di luar Takdir yang selalu mengikatnya, hidup bersama semua anggota suku yang telah dirinya anggap sebagai anak.
Namun, setelah menjalani itu dalam waktu sekitar setengah tahun, Nia’an paham bahwa hidup hanya untuk menjalani kehidupan adalah sesuatu yang hampa. Ia juga mulai memahami mengapa beberapa anggota sukunya memilih untuk keluar dan pergi berkelana meski paham di luar sana adalah tempat yang berbahaya.
__ADS_1
Beban tanggung jawab yang diberikan Odo memang bisa menjadi rantai bagi Nia’an, namun pada saat yang sama membuat dirinya merasa sedikit nyaman karena memiliki sesuatu yang bisa dipegang dalam ketidakpastian yang ada.
“Baiklah, diriku akan berusaha memenuhi kewajiban yang engkau berikan, wahai Un⸻” Perkataan Nia’an terhenti, ia mulai menegakkan kepalanya dan perlahan tersenyum. Sembari menatap lurus lawan bicaranya, ia dengan penuh rasa yakin berkata, “Diriku akan memenuhi kewajiban tersebut ….”
“Terima kasih, wahai Orakel.” Odo kembali berbalik dan menghadap keluar jendela. Sembari menyembunyikan senyumannya dari Nia’an, pemuda rambut hitam tersebut kembali bertanya, “Adakah hal yang ingin engkau ketahui lagi?”
“Satu hal ….”
“Apa itu?”
“Siapa … engkau sebenarnya? Mengapa bisa … engkau dengan mudah menyalin dan memindahkan kemampuan seperti itu? Seharusnya kemampuan milik diriku ini satu jenis dengan para Native dan mustahil untuk diubah, lalu mengapa Engkau ….”
Odo sesaat terdiam mendapat pertanyaan seperti itu. Ia tidak lekas menoleh ataupun memberikan jawaban, hanya menatap pepohonan di luar jendela yang masih sedikit tertutup kabut. Setelah menghela napas, pemuda itu dalam benak memutuskan dan perlahan menoleh.
“Aku adalah Odo Luke, bicara apa kau ini? Meskipun bisa melakukan semua itu, aku masih manusia dan orang yang sama.”
ↈↈↈ
Pada siang hari cerah, matahari bersinar terang tanpa terhalang sedikitpun awan. Ia membawakan kehangatan untuk penduduk Kota Mylta, begitu terang sampai seakan-akan tersenyum kepada mereka.
Hembusan angin yang membawa aroma laut. Keramaian masyarakat yang ada di tempat tersebut melambangkan kegiatan perekonomian berlangsung dengan baik, dan ketatnya penjagaan yang bisa dilihat pada beberapa sudut kota pun menjadi tanda bahwa kota pesisir telah mempertimbangkan kembali semua aspek yang bisa mengancam integritas mereka.
Berkat beberapa perintah dan tugas wajib yang telah ditinggalkan oleh Argo kepada para Baronet dan Knight di barak, struktur penjagaan kota dirombak secara menyeluruh dan memasuki fase siaga. Sebuah tahapan pertahanan dimana mereka harus bersiap menghadapi peperangan yang akan terjadi kapan saja. Sebab itulah, pembatasan terhadap pendatang ditingkatkan secara signifikan. Dalam pengawasan yang ada, para pedagang yang sudah masuk pun tidak terkecuali dalam hal tersebut.
Pada kurun waktu beberapa hari terakhir setelah ekspedisi dimulai, banyak hal terjadi di Teritorial Mylta yang mengubah situasi di kota pesisir tersebut. Perjanjian yang telah dibuat oleh pihak pemerintah dengan Aliansi Samudera Majal membuat kelompok pedagang dari Kerajaan Ungea tersebut menjadi lebih dominan di kota, bahkan sampai memiliki kekuasaan untuk memegang pasar sampai 50% lebih, dengan pengecualian Distrik Rumah Bordil dan Pelabuhan.
Selain efek dari perjanjian tersebut, perubahan yang terlihat secara fisik adalah selesainya perbaikan infrastruktur yang rusak selama penyerangan monster beberapa hari lalu. Bangunan sepenuhnya telah diperbaiki, lalu untuk infrastruktur beberapa ada yang diganti dan ada penambahan seperti menara pengawas untuk meningkatkan pengamanan.
Dalam aspek tersebut, potensi perang yang sebelumnya disampaikan oleh Arca Rein kepada pemerintah Kota Mylta benar-benar memberikan dampak dan membuat situasi menjadi sedikit tegang. Meski pada awalnya kabar tersebut hanya bertujuan untuk mengalihkan rumor, namun respons yang ada benar-benar melebihi perkiraan dan pihak pemerintah kota memberikan penanganan dengan sangat baik.
Dengan fokusnya pemerintah untuk peningkatan keamanan, eksekusi Elf yang telah mereka tangkap pun ditunda sampai ekspedisi pembasmian selesai. Meski secara aktif pihak pemerintah bergerak menginterogasinya, mereka sama sekali tidak berniat untuk segera mengambil keputusan karena terlalu sibuk memenuhi perintah dari mantan pemimpin mereka.
Tetapi, meski semuanya berjalan lancar dan kondisi dengan cepat dipulihkan kembali, dampak tidak kasat mata dari insiden yang telah berlalu hampir satu minggu masih tampak di antara masyarakat. Baik itu orang asli Mylta maupun para pendatang dari luar kota, beberapa dari mereka masih ada yang menuntut untuk mengadili prajurit yang menjadi pelaku salah tembak senjata sihir selama insiden berlangsung.
Dalam kasus tersebut, pihak pemerintah sendiri telah mengetahui siapa pelakunya. Namun, untuk beberapa alasan mereka tidak membawanya ke pengadilan karena bersikeras menyatakan bahwa kejadian salah tembak tersebut adalah sebuah kecelakaan. Sesuatu yang tentunya juga tidak diharapkan oleh prajurit yang menembak, pihak pemerintah, atau bahkan keluarga korban.
__ADS_1
Namun, tentu saja logika tersebut tidak berlaku untuk mereka yang menjadi korban. Entah siapa yang mulai atau memang disengaja, rumor yang beredar di antara masyarakat pun perlahan mulai berubah dari kenyataan dan terus menyudutkan pemerintah dengan ungkapan-ungkapan negatif yang tidak terbukti kebenarannya.
“Meski di tengah pemukiman dan evakuasi belum selesai, para prajurit tetap menggunakan senjata sihir peledak! Mereka tidak memedulikan penduduk sipil dan hanya mementingkan nyawa mereka!”
Kurang lebih itulah kabar yang beredar di antara masyarakat pertama kali. Namun, seiring berjalannya waktu, hal tersebut berubah menjadi semakin negatif dan bahkan ada kabar bahwa prajurit yang menjadi pelaku salah tembak sengaja menembak warga sipil di dalam bangunan.
Tidak ada satu pun yang tahu siapa membesar-besarkan kejadian tersebut dan membuatnya seakan pemerintah bersalah, namun dengan jelas hampir seluruh masyarakat mempercayai hal tersebut dan berpendapat bahwa pelakunya harus diadili secara layak.
Pada kasus tersebut, alasan terbesar pihak pemerintah tidak segera mengadakan persidangan terhadap kasus yang ada adalah untuk menjaga martabat mereka sendiri. Meskipun pihak pemerintahan memenangkan persidangan dan menyatakan secara syah bahwa kejadian salah tembak tersebut hanyalah kecelakaan, kompetensi dan kualitas para prajurit akan dipertanyakan karena menggunakan senjata sihir peledak sebelum evakuasi selesai.
Lalu, setelah itu orang-orang kemungkinan besar akan menyalahkan pemerintah secara langsung dan berkata mereka tidak becus. Sebab itulah untuk sekarang Pihak Pemerintah hanya diam dan menunda kasus sampai pemimpin mereka kembali.
Selain masalah-masalah tersebut, tidak ada kejadian negatif di kota pesisir dan malah anehnya proses progresif dalam aspek perekonomian berlangsung kembali. Seakan tidak memedulikan insiden penyerangan monster dan potensi peperangan yang ada, pihak Perusahaan Ordoxi Nigrum dan Serikat Dagang Lorian terus menumbuhkan diri mereka melalui proyek-proyek besar yang ada.
Dalam pergerakan kali ini, perusahaan Ordoxi Nigrum menjadi pelopor dan bergerak secara independen tanpa menggandeng secara penuh Serikat Dagang Lorian.
Pada hari pertama setelah orang-orang di barak pergi melakukan ekspedisi, pihak Ordoxi Nigrum memulai pembangunan rumah susun yang akan disewakan kepada para pegawai mereka. Selain itu, mereka juga dengan cepat membuat perjanjian perdagangan dengan Sekte Dagang Teratai Danau.
Selain kedua pergerakan besar tersebut, Ordoxi Nigrum juga telah membentuk pasar bersama dengan Aliansi Samudera Majal dalam rangka jual beli di pelabuhan untuk mempercepat sirkulasi uang. Untuk membuat progresif kembali berlangsung, pihak perusahaan milik Odo Luke tersebut dengan beberapa syarat melepaskan monopoli pelabuhan dan membaginya dengan Aliansi Samudera Majal.
Selain hal-hal yang mengutamakan profit perusahaan, pihak perusahaan swasta milik Odo tersebut pun telah memulai perencanaan pembangunan tempat belajar-mengajar sebagai Corporate Social Responsibility (CSR), atau dalam pengertian sederhana berupa sebuah bentuk tanggungjawab sosial yang dilakukan dengan maksud lain untuk meningkatkan citra.
Tentu saja, meski CSR yang dilakukan oleh Ordoxi Nigrum atas dasar filantropi dan nirlaba, semua itu hanya tampak di permukaan dan pada kenyataannya mereka juga tentunya mempertimbangkan laba dalam semua proyeknya.
Contoh dari hal tersebut adalah pembangunan rumah susun, yang pada permukaan tampak seperti niat baik untuk membangunkan tempat tinggai bagi para imigran gelap dan memberikan kesempatan mereka untuk mendapat tanda kependudukan. Namun, pada sisi lain itu hanya bisa ditempati oleh para pegawai perusahaan. Terlebih lagi, biaya penyewaan rumah susun akan diambil dari upah pokok pegawai dalam jangka waktu tertentu sampai nilainya setara untuk membeli ruangan di rumah susun tersebut.
Dengan kata lain, mereka harus bekerja kepada Ordoxi Nigrum sampai cicilan lunas dan hal tersebut bisa mencegah tenaga kerja keluar mendadak. Selain itu, para imigran gelap yang ingin tinggal dan bekerja juga dijanjikan akan mendapat tanda kependudukan jika mereka bekerja dengan giat dalam kurung waktu tentu.
Hal itu jelas menjadi daya tarik tersendiri untuk mereka bekerja di tempat tersebut, namun pada kenyataannya Ordoxi Nigrum malah membatasi daya serap tenaga kerja tetap dan mulai membuat kategori SDM di dalam perusahaan. Dalam garis besar, pembagian tersebut hanya ada dua, antara Tenaga Kerja Tetap yang secara penuh telah diakui perusahaan dan Tenaga Kerja Lepas yang baru akan diukur dalam tingkat kontribusi.
Meski para pedagang di kota pesisir mengakui bahwa Aliansi Samudera Majal telah menguasai lebih dari 50% pasar Mylta, namun mereka sadar kenyataannya hampir seluruh aspek perekonomian tempat tersebut telah dipegang kuat oleh Ordoxi Nigrum dan Serikat Pedagang Lorian sebagai pemenang pasar.
Karena itulah, beberapa toko, perusahaan, dan kelompok lain pun mulai berlomba menawarkan kerja sama untuk mendapatkan keuntungan dari alur perekonomian yang telah dibuat oleh kubu tersebut.
.
.
.
.
.
__ADS_1