Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[100] Angelus V – Green Slumber (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


Rentet pepohonan dengan warna daun biru terang, memiliki batang kehijauan dan tampak sangat tua layaknya oak. Dihinggapi oleh para makhluk astral berbentuk burung, lalu dikelilingi oleh Roh Tingkat Rendah yang terbang ke sana kemari.


 


 


Di antara jajaran pohon tersebut, tumbuh juga tanaman yang tampak seperti cedar. Menjulang tinggi dengan diameter batang yang tebal, lalu memiliki warna daun kuning keemasan meski udara di tempat itu cukup lembap.


 


 


Semua pohon tersebut berjajar secara tidak beraturan di dalam hutan. Tidak memberikan jalan untuk orang lewat, lalu akar-akar mereka tumbuh keluar dari tanah dan dilapisi lumut biru mengkilap.


 


 


Rerumputan yang tumbuh di sekitar berbentuk runcing layaknya jarum, memiliki tinggi lebih dari belasan sentimeter dan warnanya pun biru pucat. Dihinggapi makhluk seperti kunang-kunang yang bisa ditemukan di mana-mata, meski cahaya masih memenuhi penjuru tempat.


 


 


Hutan tersebut memiliki warna yang aneh, layaknya efek hue saturation sebuah kamera digital. Bentuk kehidupan yang tinggal di dalamnya pun tidak umum, seakan-akan semua makhluk di sana adalah hasil rekayasa genetik.


 


 


Dunia Astral, kampung halaman para Roh. Memiliki konsep waktu yang menyimpang pada setiap sudut tempat, konsep pencahayaan yang aneh, lalu aspek spasial yang tidak ramah bagi makhluk Dunia Nyata.


 


 


Layaknya sebuah tempat dengan sekat-sekat ruang raksasa yang tidak terlihat, setiap meter di Dunia Astral memiliki batasan spasial. Mempunyai mekanisme perpindahan yang tampak sangat acak, tidak terbatas jarak karena sekat-sekat tak terlihat berfungsi layaknya sebuah labirin yang terus bergerak.


 


 


Karena itulah, alam yang disebut kampung halaman para Roh tersebut sukar untuk didatangi oleh makhluk Dunia Nyata. Dalam beberapa cerita, ada kasus di mana jalan menuju alam para Roh terbuka di Dunia Nyata dan dimasuki oleh manusia.


 


 


Namun, setiap manusia yang tersesat ke alam tersebut sebagai besar tidak akan bisa kembali. Meskipun berhasil pulang berkata bimbingan Roh yang baik hati, kebanyakan dari mereka sudah menua karena laju waktu yang sangat berbeda dengan Dunia Nyata.


 


 


Apapun cerita dan dampak yang diberikan Dunia Astral, kampung halaman para Roh bukanlah tempat yang boleh didatangi oleh makhluk Dunia Nyata. Apalagi dihuni oleh mereka.


 


 


Penyimpangan spasial berlaku sangat kuat dan bahkan bisa mempengaruhi para Roh, lalu membuat konsep waktu yang ada menjadi tidak teratur. Dari kedua hal tersebut, kondisi lingkungan yang tidak ramah untuk makhluk Dunia Nyata pun terbentuk.


 


 


Semua itu merupakan bentuk pengusiran dari alam tidak sempurna, menolak kedatangan keberadaan yang memiliki tingkat informasi berbeda layaknya ingin menjaga teritorial. Sebuah bentuk pertahanan diri untuk melindungi makhluk-makhluk yang ada di dalamnya.


 


 


Namun, semua bentuk penolakan Dunia Astral tersebut tidak berlaku untuk mereka. Meski berasal dari Dunia Nyata, keempat orang tersebut menyusuri hutan tanpa takut terlempar oleh konsep spasial yang tidak stabil.


 


 


Setelah berpindah menggunakan Altar Gerbang Dunia Astral, mereka berempat segera berjalan menuju Pohon Suci yang tampak sangat mencolok di antara hamparan hutan yang ada. Sembari mengobrol kecil, membahas beberapa pembicaraan sebelumnya yang belum selesai, lalu berbincang tentang rencana untuk penaklukan Leviathan.


 


 


Meski secara fisik Odo adalah seorang manusia, ia tidak terdistorsi oleh penyimpangan spasial Dunia Astral. Tanpa menggunakan sihir khusus atau sejenisnya, pemuda itu hanya berjalan santai di antara pepohonan dan akar yang tumbuh keluar dari tanah.


 


 


Berkat benih Pohon Suci yang sudah tumbuh di dalam Alam Jiwa miliknya, Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit memiliki substansi layaknya seorang Roh. Tepat ketika dirinya masuk ke Dunia Astral, secara otomatis tubuh beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan menyesuaikan diri dengan penyimpangan spasial.


 


 

__ADS_1


Berbeda dengan pemuda itu, Vil yang memiliki hakikat seorang Roh Agung sama sekali tidak mengalami penolakan atau perubahan. Layaknya ikan yang kembali ke dalam air, Roh Agung tersebut bahkan tampak lebih segar jika dibandingkan saat di Dunia Nyata.


 


 


Berbeda dengan mereka berdua, Laura dan Magda cukup kesulitan untuk beradaptasi dengan Dunia Astral. Baik itu tentang penyimpangan spasial, aliran Ether di udara yang sangat berbeda, atau bahkan warna dalam pemandangan yang sedikit membuat pusing, semua itu membuat mereka tidak bisa tenang.


 


 


Terlebih lagi, kondisi Manifestasi Peri milik mereka tiba-tiba aktif secara terus menerus masuk ke Dunia Astral. Layaknya ditarik oleh sifat tempat itut, bentuk keberadaan kedua Elf tersebut menjadi lebih condong ke arah Roh daripada makhluk Dunia Nyata.


 


 


Sayap tujuh warna keluar dari punggung Laura dan Magda, membuat gaun pelayan yang dikenakan sedikit terbakar dan berlubang pada bagian belakang.


 


 


Karena efek partikel yang berkumpul di sekitar tubuh kedua Elf tersebut, mereka berdua kesulitan untuk menapak di permukaan tanah. Sihir gravitasi terus-menerus ikut aktif bersama Manifestasi Peri mereka.


 


 


“A-Apa tidak masalah kita mengaktifkan manifestasi dalam jangka waktu seperti ini?”


 


 


Magda memasang ekspresi cemas dan tampak gelisah. Elf tersebut sempoyongan, tidak bisa mengatur keseimbangan karena kedua sayap tujuh warna yang terbuka lebar. Membuat tubuhnya sedikit terangkat dari permukaan tanah, seakan-akan ditolak oleh tanah yang ingin dipijak.


 


 


Berbeda dengan rekannya, Laura sudah mulai terbiasa dengan kondisi Ether yang berbeda. Ia dengan baik mengontrol partikel tujuh warna yang terus menerus keluar, lalu menyelimuti tubuh secara teratur untuk menjaga keseimbangan.


 


 


Meniru sihir yang selalu digunakan oleh Vil, sang Letda menggunakan sihir gravitasi yang aktif bersama Manifestasi Peri untuk melayang. Tidak menapak pada permukaan tanah, lalu menjaga keseimbangan dengan mengepakkan sayap secara teratur.


 


 


 


 


“Su-Sudah saya coba! Udara di sini sangat aneh, rasanya sayap seperti didorong ke atas.”


 


 


Magda memang tahu dan sangat menguasai cara terbang dalam mode Manifestasi Peri. Namun, tetap saja penyimpangan spasial dan kondisi Ether yang berbeda membuatnya tidak bisa melayang dengan baik.


 


 


Ikut berhenti dan menoleh ke arah kedua Elf tersebut, Odo sedikit menyipitkan mata dan tertegun. “Kenapa kalian tidak berjalan saja? Enggak usah mengepakkan sayap begitu dan menapak saja,” ujarnya dengan nada sedikit tidak peduli.


 


 


“Sihir gravitasi kami secara otomatis aktif bersama Manifestasi Peri ….” Laura balik menatap pemuda rambut hitam itu. Memasang mimik wajah cemberut, Elf yang mengenakan seragam pelayan tersebut lanjut menjelaskan, “Asal kamu tahu, kalau bisa kami sudah berjalan dari tadi. Entah mengapa Ether di sekitar sini mudah sekali terserap oleh sayap kami, lalu membuat sihir gravitasi aktif terus ….”


 


 


“Mau aku bantu?”


 


 


“Eh?”


 


 


Tanpa menunggu persetujuan, Putra Tunggal Keluarga Luke bertepuk tangan satu kali. Saat suara yang dibuat masuk ke telinga kedua Elf tersebut, perubahan informasi bersyarat pun aktif dalam hitungan detik.


 


 


Layaknya sebuah enkripsi suara, frekuensi getaran yang terkirim menjadi sebuah perintah untuk sel-sel milik Odo di dalam tubuh Laura dan Magda. Susunan sirkuit sihir mereka berdua berubah dengan cepat, lalu Manifestasi Peri pun dalam sekejam disesuaikan dengan kondisi Ether di Dunia Astral.


 

__ADS_1


 


Magda seketika bisa menyeimbangkan tubuh dengan mudah, melayang layaknya sepasang sayap tujuh warna di punggung adalah bagian tubuh sendiri. Ia mengepakkan sayap dengan sangat baik, lalu mengatur intensitas partikel yang tersebar.


 


 


Mendapatkan efek yang hampir serupa, Laura semakin mudah mengendalikan Manifestasi Peri miliknya. Bisa melayang semakin cepat, lalu tidak lagi harus mengatur persebaran partikel karena penyerapan Ether menjadi stabil.


 


 


“Kenapa tiba-tiba⸻!”


 


 


“Stabil!” Magda menyela. Ia melayang mendekati rekannya, lalu dengan nada sedikit senang berkata, “Rasanya sangat berbeda dari sebelumnya! Ini seperti diriku terbang di Dunia Nyata. Tidak! Bahkan lebih baik!”


 


 


Berbeda dengan Magda yang hanya menikmati perubahan yang tiba-tiba terjadi, Laura menatap ke arah Odo dengan cemas. Merasakan firasat buruk dalam ekspresi ramah pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


“Kau tak perlu menatap sampai seperti itu.” Odo tersenyum ringan. Berbalik dan kembali berjalan, Putra Tunggal Keluarga Luke mengajak, “Ayo! Meski di sini lajur waktunya lebih lambat, tetap saja kita tidak bisa santai-santai. Kalau ketahuan sebelum sampai di dekat Pohon Suci, tidak kecil kemungkinan Dryad itu menyerang kita.”


 


 


“Baiklah ….”


 


 


Meski diisi rasa cemas, Laura paham sudah tidak bisa membantah perintah Odo saat dirinya masuk ke Dunia Astral. Melihat pemuda itu sama sekali tidak terdistorsi, dirinya paham bahwa ada banyak hal yang Putra Tunggal Keluarga Luke itu sembunyikan dari orang-orang.


 


 


“Kenapa kita bisa diserang? Apa Odo membuat masalah dengan Dryad itu?” tanya Vil penasaran. Ia melayang ke dekat Putra Tunggal Keluarga Luke, lalu dengan nada sedikit menekan kembali bertanya, “Kalau tidak salah, kalian sempat bertemu waktu melawan Naga Hitam, ‘kan? Dia membantu Odo membuat obat untuk Mavis. Apa … Odo mencuri sesuatu darinya?”


 


 


“Mencuri?” Sembari melewati jalan terjal penuh akar-akar licin, Odo menyipitkan kedua mata dan melirik tajam. Dengan nada tidak nyaman ia pun menjawab, “Aku tidak mencuri apapun darinya. Hanya saja, mungkin keberadaanku sekarang diidentifikasikan sebagai musuh oleh ekosistem Pohon Suci.”


 


 


“Kenapa?”


 


 


“Karena aku sudah mirip seperti Dewa, meski sekarang hanya secara jiwa saja.”


 


 


“Eh?”


 


 


Vil hanya bisa tertegun mendengarnya. Odo memang pernah beberapa kali berbicara seperti itu. Namun, dirinya mengira hal tersebut hanyalah perumpamaan atau sekadar candaan semata.


 


 


Mendengarnya kembali berbicara seperti itu sekarang, sang Roh Agung hanya bisa terdiam tanpa berani bertanya lebih dalam tentang hal tersebut.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2