Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[81] When they don't want to pass a path full of puddles (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


Rerumputan yang penuh ceceran darah, mayat-mayat monster tergeletak di atas akar-akar besar dari pepohonan oak. Di bawah pencahayaan mentari yang terpotong oleh dedaunan rimbun, pemandangan mengenaskan tersebut terlihat di dalam salah satu hutan Teritorial Mylta.


 


 


Goblin, Orc, dan beberapa Ogre. Meski jenis mereka berbeda-beda, mayat-mayat monster tersebut berada dalam satu lingkup sarang yang sama. Hidup dalam ekosistem yang tidak jauh dari sungai kecil di dalam pedalaman hutan.


 


 


Seakan memang para monster tersebut memiliki kemampuan untuk membuat hierarki sendiri dan memiliki nilai serta moral, mereka telah menyusun bentuk rantai kekuasaan layaknya makhluk berakal cerdas.


 


 


Memang itu terdengar mustahil. Meski mereka memiliki sedikit akal dan kecerdasan, sifat mereka lebih mirip binatang dan bahkan kejam kepada sesama mereka. Namun, apa yang terlihat pada sarang para monster tersebut memang seperti itu.


 


 


Lebih masuk ke dalam hutan, dapat terlihat jelas bangunan-bangunan dari kayu kering tua yang tersusun rapi layaknya sebuah pemukiman manusia. Mereka memiliki jalan utama di antara bangunan yang ada, lalu di ujung terlihat satu yang paling besar sebagai tempat pemimpin para monster tinggal. Pada pintu masuk lingkungan sarang tersebut pun terpasang tiang dengan ornamen tengkorak hewan sebagai token, tanda bahwa tempat tersebut merupakan wilayah kekuasaan mereka.


 


 


Tetapi, semua peradaban primitif tersebut adalah hal yang percuma. Begitu sia-sia karena tidak akan bisa mencapai tingkat dimana mereka bisa membentuk sistem pemerintahan yang terorganisasi. Sejarah singkat mereka, peradaban sederhana para monster telah berakhir di hari yang cerah ini.


 


 


Semuanya telah menjadi mayat, entah itu Goblin yang lick, Orc yang tangguh, ataupun Ogre yang perkasa. Semuanya telah binasa, entah mereka yang dewasa ataupun masih bayi, tanpa pengecualian.


 


 


Berdiri di antara mayat-mayat yang bergelimpangan, Odo Luke tetap menggenggam erat pedangnya meski tidak ada satu pun monster yang tersisa di tempat tersebut. Hampir semua monster yang ada di sarang itu ia habisi dengan pedang Gladius tersebut, lalu sebagian dengan sihirnya.


 


 


Ia bermandikan darah. Kemeja putihnya hampir sepenuhnya berubah merah, rambutnya pun turun sampai menutupi mata karena basah dengan darah para monster yang mengeluarkan aroma amis. Meski dirinya sadar dan paham yang telah dibantai adalah para monster, namun dalam benak rasa bersalah sedikit tumbuh.


 


 


“Mungkin saja mereka memiliki akal dan bisa membuat peradaban. Apa boleh aku menghentikan perkembangan itu? Bisa jadi …, para monster ini … adalah penduduk asli Dunia Selanjutnya dan para manusia sekarang adalah refleksi semata dari Dunia Sebelumnya.”


 


 


Dalam benak, ia menyusun spekulasi-spekulasi untuk meyakinkan dirinya sendiri. Berusaha untuk meneguhkan bahwa tindakannya adalah benar. Melihat sekitarnya untuk memastikan hal tersebut, Odo malah jatuh kembali dalam keraguan.


 


 


Seekor Orc yang mati memeluk bayinya, Ogre remaja yang terkapar dengan wajah ketakutan, dan beberapa pemandangan mayat-mayat yang menghembuskan napas terakhir dalam keputusasaan. Seakan-akan mereka memiliki perasaan layaknya manusia.


 


 


“Padahal biasanya mereka tidak seperti ini. Apa karena cara pandangku yang berubah, atau memang kecerdasan mereka mulai berkembang sampai-sampai bisa memperlihatkan ekspresi seperti itu?”


 


 


Odo membuka telapak tangan kirinya, menatap kosong dan terdiam sesaat dalam gumam panjang. Ini bukanlah pertama kalinya ia membantai para monster, beberapa jam, hari, minggu, bahkan bulan lalu pun Odo sering membantai para monster untuk melakukan beberapa eksperimen kecil.


 


 


Namun, pada detik ini Odo malah merasakan hal yang berbeda. Bukan hanya di sarang monster tempatnya berdiri sekarang, namun dua sarang lain yang dirinya musnahkan sejak keluar dari kota pun memberinya perasaan yang tidak nyaman.


 


 


Ia seperti sedang tidak membantai para monster, namun para makhluk yang memiliki kedekatan jenis dengan manusia. Odo bahkan sekarang mulai merasa kalau para monster tersebut pantas disetarakan dengan Elf dan Demi-human


 


 


Berhenti menatap telapak tangannya sendiri, Odo mengayunkan pedangnya untuk membersihkan bilah dari darah. Setelah memasukkan senjata ke dalam dimensi penyimpanan pada sarung tangan, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sejenak melihat sekitar dan mengamati peradaban para monster yang telah dibantai habis olehnya.


 


 


Itu sangat primitif dan bahkan setara dengan purba, begitu sederhana dan sama sekali tidak memiliki keindahan. Sejenak memejamkan mata, Odo pun bergumam, “Apa kau yang mengembalikan perasaanku, Mahia? Seliari juga, kenapa kau membiarkan dia mengambil alih Alam Jiwa? Bukannya aku sudah mempercayakan itu kepadamu untuk sementara?” Keduanya tidak ada yang menjawab pertanyaan Odo, bahkan dari awal dirinya pergi dari Kota Mylta pun sang Putri Naga ataupun  Mahia tidak memberikan tanggapan atas tindakannya.


 


 


Merasa ada yang janggal dengan tubuhnya sendiri, Odo sejenak meletakkan telapak tangan kanan ke dada dan merasakan. Apakah benar tindakan yang diambil sekarang adalah keputusannya sendiri atau hanya arahan dari pihak lain.


 


 


“Kurasa bukan kau yang berubah, tetapi para monster di sekitar sini. Kami sama sekali tidak mengembalikan perasaanmu, setengahnya masih tersimpan dengan rapi,” suara Seliari bergema di kepala Odo.


 


 

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Odo membuka mata dengan mimik wajah muram. Ia merasa kalau salah satu spekulasi tentang para monster mendekati kebenaran, menganggap bahwa mereka adalah penduduk asli dunia yang telat berevolusi karena ulah Helena yang menata ulang dunia untuk dirinya sendiri.


 


 


“Kami? Berarti kalian berdua sudah sedikit akrab?” tanya Odo sembari mulai melangkahkan kaki.


 


 


Paham bahwa memikirkan hal tersebut sekarang adalah hal yang sia-sia, pemuda rambut hitam tersebut langsung membuang kegelisahan hatinya dan melanjutkan rencana untuk menghancurkan semua sarang monster di sekitar rute perdagangan.


 


 


“Akrab dari mana coba?! Dia sama sekali tidak mau membentuk wujud Astral dan hanya berbicara lewat pohon! Asal engkau tahu, diriku ini serasa orang gila yang berbicara dengan pohon!”


 


 


Mendengar suara Seliari yang mengoceh seperti itu di dalam kepalanya, Odo mulai sedikit merasa seperti orang gila yang berbicara sendirian di tengah hutan. Menghela napas sejenak, pemuda itu pun kembali bergumam, “Aku tidak meminta kalian saling akrab, tetapi tolong jangan sampai bentrok di dalam Alam Jiwa milikku. Bisa-bisa tubuhku nanti meledak ….”


 


 


“Ya, tentu! Diriku ini juga tak ingin engkau mati sebelum menyelamatkan Adinda.”


 


 


Odo berhenti saat keluar dari pemukiman para monster. Lekas berbalik dan membuka telapak tangan kanan ke arah sarang para monster, ia sejenak menghela napas dan berkata, “Seliari, tolong sihirmu. Sama seperti sebelumnya ….”


 


 


“Baiklah ….”


 


 


Lima lapis lingkaran sihir terbentuk di depan tangan Odo, lalu ukurannya pun mulai mengecil sampai selebar telapak tangan dan mulai mengumpulkan udara ke satu titik. Pada titik pemadatan gas tersebut, percikan api mulai tercipta dan hembusan api besar langsung melahap semua yang ada di hadapan Odo. Sihir tersebut mirip dengan Flamethrower, namun dalam segi kekuatan dan jangkauan semburan lebih kuat.


 


 


Karena terbuat dari kayu, sarang para monster itu pun dengan mudah terbakar bersama mayat-mayat yang ada. Benar-benar ditelan api, seakan dilahap oleh iblis yang membara raksasa. Merasa cukup dengan hal tersebut, Odo menutup telapak tangan dan menghentikan sihirnya.


 


 


“Seliari, mungkin kau akan bertanya-tanya kenapa aku perlu membakar pemukiman mereka …. Aku hanya ingin membuat kesan bahwa tempat ini tidak diserang oleh satu orang. Kalau orang-orang Mylta tahu aku yang membantai mereka, harga diri keluarga Mylta bisa tercoreng. Lalu, kemungkinan besar Pria Tua itu pasti akan mengundurkan diri dengan sendirinya dari posisi Keluarga Pengelola Kota. Martabat dan Kebanggaan memang menyusahkan. Itu juga alasanku tidak membakar bagian dalam gua atau menghancurkan sarang-sarang kecil.”


 


 


“Diriku tidak tanya hal tersebut,” suara Seliari menggema di kepala Odo dengan nada sedikit menertawakan. Meski dirinya tertawa, sang Putri Naga yang melihat pemandangan yang sama dengan Odo sedikit merasakan hal lain dari perkataan tersebut.


 


 


 


 


Dari kedua hal yang hampir sama tersebut, dirinya dengan jelas tahu persamaan serta perbedaan yang ada. Tentu juga pada sebuah fakta bahwa para monster tidak akan pernah mencapai tingkat peradaban yang dimiliki manusia sekarang ini.


 


 


Itu bukanlah karena masalah jumlah, variasi ras, iklim, atau bahkan tingkat kecerdasan. Tetapi, lebih cenderung kepada sifat dasar dari kedua jenis makhluk hidup tersebut. Ada kalanya manusia memiliki sifat sangat buruk, di sisi lain ada juga momen ketika para monster bisa memiliki sifat baik. Kedua hal tersebut dalam stigma yang ada dimasukkan menjadi sifat monster yang jahat dan kemanusiaan yang baik, padahal kedua pun memiliki sifat baik dan jahat.


 


 


Selama Stigma itu masih tumbuh kuat di dunia, para monster tidak akan bisa mencapai tingkat yang sama dengan manusia meski mereka berevolusi dan mendapatkan kecerdasan layaknya para manusia. Sebab para manusia pun terus berkembang dan berevolusi seperti mereka.


 


 


Oleh karena itulah, dengan penuh yakin Seliari menyampaikan, “Monster tetaplah monster, manusia tetaplah manusia, Naga Agung tetaplah Naga Agung, dan Dewa tetaplah Dewa. Tidak ada yang berbeda. Kalaupun ada, itu adalah kondisi dari Kehendak Dunia. Karena kita hanyalah sebutir dari luasnya dunia.”


 


 


Sangat jarang mendengar Seliari bergumam seperti itu sampai terdengar. Merasakan hal yang memang berbeda dari biasanya, Odo pun menghela napas setelah menyadari sesuatu yang membuatnya gelisah. Sembari menunggu api padam dan mengawasi supaya tidak menyebar ke seluruh hutan, Odo sejenak berjongkok tidak jauh dari kobaran api yang sama sekali tidak menyambar ke arahnya berkat kekuatan Seliari.


 


 


“Meskipun benar mereka bisa menjadi manusia, aku akan tetap membantai mereka. Dengar ini baik-baik, Seliari. Di Dunia Sebelumnya pun banyak monster, ada yang Humanoid, hewan, dan bahkan tidak karuan wujudnya …. Mereka semua dulunya adalah benih kehidupan, sesuatu potensi dunia yang terbuang. Namun, beberapa di antara mereka adalah manusia yang membuang bentuk mereka. Seiring berjalannya waktu, ‘beberapa’ tersebut malah menjadi mayoritas dan manusia malah memanggil manusia lain yang memiliki bentuk berbeda sebagai monster.”


 


 


Seliari sejenak terdiam seakan dirinya bingung dengan ungkapan tersebut. Meski dirinya tahu tenang Dunia Sebelumnya, namun itu pertama kalinya Putri Naga tersebut mendengar fakta bahwa monster-monster yang dilihatnya pada ingatan Odo adalah manusia.


 


 


“Apa …. maksud engkau?” tanya Seliari dengan sedikit cemas.


 


 


“Bentuk kehidupan yang melenceng terlalu jauh dari manusia adalah sebuah kesalahan, itu akan dianggap produk gagal oleh dunia dan diseleksi dengan sendirinya oleh alam.” Odo kembali berdiri, mengulurkan tangannya ke depan dan mulai melakukan manipulasi oksigen untuk memperkecil kobaran api. Setelah sejenak menghela napas, pemuda itu kembali berkata, “Manusia pada dasarnya adalah cetak biru dari kesempurnaan bentuk kehidupan, karena itulah para makhluk berakal dan bijak memiliki bentuk Humanoid. Entah itu manifestasi ataupun bentuk cadangan, bahkan sebuah pohon tua pun memilikinya untuk berkomunikasi.”


 

__ADS_1


 


“Inti yang ingin engkau sampaikan apa? Kenapa engkau selalu berkelit saat berbicara?”


 


 


“Aku tidak bisa menganggap mereka setara dengan makhluk berakal lainnya. Elf masih memiliki bentuk manusia yang jelas, begitu pula para Roh Agung. Namun untuk monster, meski mereka memiliki dua kaki dan dua tangan tetap saja bentuknya terlalu berbeda.”


 


 


“Tak diriku ini sangka engkau berkata seperti itu. Mungkin ini yang disebut rasis, bukan?”


 


 


Odo menutup telapak tangan setelah selesai mengatur ukuran kobaran api yang melahap sarang monster. Sejenak menghela napas, ia hanya memasang senyum kecut dan berkata, “Bukan. Ini lebih seperti menilai, apakah kita berhak untuk merebut nyawa hewan dan mengonsumsi itu atau tidak.”


 


 


“Hewan?” suara Seliari di dalam kepala Odo terdengar heran.


 


 


“Benar ….” Odo melepaskan kemejanya, lalu meletakkannya ke pundak dan lekas berjalan ke arah sungai yang tidak jauh dari tempat tersebut. Sembari tersenyum kecil dirinya kembali menjelaskan, “Sebagai makhluk hidup kita berhak memangsa yang lainnya untuk bisa bertahan hidup, namun di sisi lain kita juga harus mempertimbangkan nilai dari yang dimangsa. Jika itu langka atau menarik perhatian, manusia akan memasukkannya ke dalam penangkaran dan melindunginya. Jika itu bisa dihasilkan secara massal, maka itu akan dikonsumsi dan dijadikan ternak. Meski keduanya sama-sama hewan, perlakuan yang diberikan berbeda-beda. Itulah hak yang dimiliki oleh makhluk dengan kecerdasan tinggi seperti manusia. Paling tidak, seperti itulah manusia di Dunia Sebelumnya.”


 


 


“Berarti …. Manusia di Dunia Sebelumnya adalah Dewa.”


 


 


“Huh?” Langkah kaki Odo terhenti saat mendengar pendapat tersebut.


 


 


“Mereka bebas menentukan nilai kehidupan yang ada di dunia. Kalau bukan Dewa, siapa lagi yang memiliki keangkuhan seperti itu?”


 


 


Untuk sesaat, Odo malah memasang senyum kecil saat mendengarnya. Itu bukan karena rasa senang, melainkan merasa miris karena memang perkataan Seliari itu ada benarnya. Sosok yang menyebut diri mereka Dewa dan Dewi pun dulunya adalah manusia, hanya saja memiliki tingkat pengetahuan dan telah mencapai struktur wujud yang berbeda. Bahkan, Dewi Penata Ulang yang sekarang ini duduk di puncak Hierarki dunia pun sama.


 


 


“Aku rasa kau ada benarnya ….”


 


 


Odo bertepuk tangan satu kali, langsung memadamkan api yang membakar sarang monster dengan manipulasi gas dalam jangkauan luas. Menghilangkan oksigen dalam lingkup lebih dari satu kilometer, api pun pada secara menyeluruh dan meninggalkan bangunan-bangunan kayu yang menghitam serta mayat-mayat hangus. Saat dirinya bertepuk tangan lagi, Oksigen yang dihilangkan pun kembali.


 


 


“Sekarang engkau akan pergi ke mana? Apa mau mendatangi seluruh tempat yang sebelumnya sudah ditandai?” suara Seliari kembali menggema di dalam kepala Odo.


 


 


“Aku rasa tidak. Karena Argo Mylta juga ikut ekspedisi, ada sedikit perubahan rencana. Aku hanya akan membasmi yang jauh dari rute, lalu menyisakan yang dekat dengan rute supaya mereka basmi. Berharap saja Lisia bisa menyembunyikan rencana ini dengan baik ….”


 


 


Saat mengobrol kecil dengan Seliari, pemuda rambut hitam itu sampai pada sungai dangkal dan turun ke dalam. Ia duduk di bebatuan di tengah sungai, lalu mulai membasuh tubuh dan pakaiannya yang penuh dengan darah.


 


 


“Lalu, kenapa engkau malah mau mandi?” tanya Seliari dengan nada heran.


 


 


Sembari mencuci kemejanya dengan aliran sungai, Odo sejenak menghela napas dan menjawab, “Sebelum lanjut membantai para monster, aku mau mampir ke Pemukiman Suku Klista. Desa mereka yang baru dibangun cukup dekat dari sini ….”


 


 


“Memangnya untuk apa? Bukannya waktu yang engkau miliki terbatas?”


 


 


“Aku butuh Orakel untuk mendapat informasi tambahan. Meski dengan Spekulasi Persepsi, aku sampai kecolongan seperti kemarin malam. Karena itu aku perlu meminjam kekuatan meramal miliknya dan memantau kejadian yang mungkin bisa terjadi di Mylta.”


 


 


“Ah, yang engkau maksud keturunan Einhorn dari Suku Klista itu, ya?”


 


 


“Hmm ….”


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2