
Serpihan kesadaran hancur bersama dengan munculnya kenangan dingin. Layaknya menjamah sebuah buku terlarang, halaman rahasia kembali dibuka dalam kilauan putih. Menelan segala warna yang tersisa, lalu menenggelamkan kesadaran dalam perasaan hampa.
Cahaya putih terang ⸻ Seakan-akan pilar cahaya itu menarik keluar ingatan yang terpendam dalam jiwanya, Odo terdiam dengan kedua mata terbuka lebar. Tatapan berubah kosong seakan sinar telah dicuri, lalu perlahan membuka mulut dan mengucapkan sesuatu tanpa suara.
Tangan tidak diturunkan, tetap menunjuk ke arah Leviathan dan terus bergumam tidak jelas tanpa mengeluarkan suara. Layaknya sebuah pemantik yang menyalakan kobaran ingatan dalam jiwanya, cahaya putih terang itu mengingatkan sang pemuda dengan salah satu kenangan terlarang.
Napas nova menyembur dari mulut Leviathan, melesat ke langit dan menembus batas Realm yang dimiliki Dunia Astral. Hal tersebut sangat mirip dengan salah satu momen di mana sebuah bintang akan binasa, detik-detik paling terang sebelum semuanya berubah menghitam.
Warna merah yang tersisa dalam semburan perlahan lenyap dalam kilauan terang. Segalanya berubah putih murni, lalu pada akhirnya melahirkan semburan nova yang sempurna dan merusak segala konsep dalam ledakan terarah.
Napas tersebut bagaikan akhir dari sebuah bintang tunggal. Memancarkan kekuatan yang sanggup menelan planet dan satelit alam dalam kilauan cahaya putih, lalu mengakhiri sejarah panjang suatu tata surya dalam ledakan besar.
Sebuah akhir indah dan menyedihkan jika dilihat dari kejauhan, namun sangat mengerikan saat dilihat dari dekat. Itulah peristiwa yang dikenal sebagai Ledakan Nova.
Tetapi, bukan hal seperti itu yang membuat sang pemuda membisu. Dirinya sudah terlalu sering melihat sebuah bintang meledak, menciptakan nova atau supernova, lalu mengakhiri hidup beberapa tata surya.
Peristiwa semacam itu bukanlah sesuatu yang langka di Dunia Sebelumnya. Sangat sering terjadi, bahkan bisa diamati dari jarak miliaran tahun cahaya dan dijadikan bahan penelitian.
Daripada terpaku takut pada hal mengerikan seperti sinar nova yang disemburkan Leviathan, Odo Luke malah meneteskan air mata kesedihan karena ingatan masa lalu. Seakan dirinya telah memahami sesuatu dan menyadari sebuah penyesalan, sang pemuda perlahan memaksakan senyum dan berhenti menunjuk Pemusnah Peradaban.
“Dunia selalu penuh dengan hal menyedihkan. Awal dan akhir diletakkan pada tempat yang sama, saling bersimpangan dan memberikan makna satu sama lain ….”
Pemuda rambut hitam tersebut menundukkan wajah. Ingatan dari masa terus merambat ke dalam pikiran, merayap masuk layaknya semut yang mengejar gula. Membuatnya meneteskan air mata dan termenung dalam kesedihan.
Sebuah ingatan busuk berisi penyesalan dan kesalahan yang pernah dirinya lakukan di Dunia Sebelumnya. Itu begitu banyak dan penuh dengan titik-titik hitam, begitu menyengat sampai-sampai kesadarannya serasa hancur.
Seraya mengangkat pedang kobaran api setinggi dada, Odo menarik napas dalam-dalam dan kembali berkata, “Entah itu dulu atau sekarang, kebohongan selalu saja menyedihkan. Mempermainkan kehidupan banyak makhluk, lalu menginjak-injak perasaan dan harga diri mereka layaknya sebuah permainan. Kau selalu saja seperti itu ….”
Suara yang sebelumnya terhalang dinding udara perlahan terdengar, semakin jelas dan membuat sang pemuda kembali mengangkat wajahnya. Menatap ke arah Leviathan, lalu melebarkan senyum kecut seakan ingin menertawakan sesuatu.
Hembusan angin kembali menjamah tubuhnya, membuat rambut sedikit bergelombang dan membawa debu pasir dalam pandangan. Lengket dan asin layaknya angin laut, namun bercampur dengan radiasi yang serasa membakar kulit.
Pada saat sensasi panas menjamah kulitnya, Odo baru sadar bahwa gelombang kejut dari napas nova juga memberikan dampak kerusakan di sekitar. Pemuda rambut hitam tersebut segera melihat sekeliling, seketika tampak cemas dengan kondisi Vil dan Reyah.
Namun, debu pasir yang terangkat ke udara karena daya hentak menciptakan tabir tebal. Bersama hembusan angin kencang menghalangi jarak pandang, lalu membuat Odo tidak bisa menemukan kedua Roh Agung tersebut.
Di tengah rasa panik dan cemas yang mengisi benaknya, erangan Leviathan terdengar semakin jelas dan menciptakan gelombang suara yang sangat bising. Membuat telinga Odo berdenging, lalu mengganggu indra pendengarannya selama beberapa detik.
Saat itulah Odo kembali menoleh ke arah Pemusnah Peradaban, lalu langsung sadar dengan situasi yang sedang berlangsung. Wajahnya seketika memucat, lalu tubuh pun tiba-tiba gemetar layaknya seorang pengecut.
“Tadi … tubuhku diambil alih Mahia?” Odo menggertakkan gigi, memperlihatkan ekspresi kesal yang mulai bercampur dengan rasa bingung dan panik.
Setelah mengusap air mata dengan tangan kiri, pemuda rambut hitam tersebut lekas meningkatkan tekanan sihir untuk bertahan dari paparan radiasi. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri, berusaha mencari Reyah dan Vil dengan rasa panik.
Namun, tetap saja debu pasir yang sangat tebal membuat jarak pandang sangat terbatas. Saat pendengarannya kembali normal, Odo kembali menatap lurus ke arah Leviathan yang masih menyemburkan sinar nova ke langit.
“Tidak, kurasa ini bukan diambil alih ….” Odo membuka telapak tangan kiri dan menatapnya, lalu termenung sesaat dan paham bahwa tadi kesadarannya telah menyatu dengan Mahia. “Apa dia menyelaraskan kehendak dan meningkatkan resonansinya? Padahal aku belum menggunakan tubuh cadangan dari Dunia Kabut, bagaimana dia bisa melakukan hal itu⸻?!”
Sebelum Odo menyelesaikan perkataan, pedang api yang digenggam dengan tangan kanan tiba-tiba padam dengan sendirinya. Plasma padat langsung terurai hancur menjadi butiran-butiran cahaya, lalu gas sebagai sumber energi pun lenyap begitu saja.
__ADS_1
“Apa yang⸻?!”
Seakan tidak ingin menunggu Odo memahami situasi yang sedang terjadi, Mahia kembali mengambil alih tubuhnya. Dengan paksa menggerakkan kedua lengan sang pemuda ke atas, lalu membuka telapak tangan ke arah Leviathan.
“Mahia!! Apa yang kau lakukan?! Berhenti!!”
Meski telah memberikan larangan dan penolakan kuat, keberadaan yang sebelumnya disebut Auto Senses tersebut tidak berhenti. Dark Matter aktif dengan sendirinya, menyelimuti kedua tangan Odo, lalu menstimulasi Unsur Aktivasi dan mengaktifkan struktur sihir secara paksa.
Di tengah momen tersebut, perlahan-lahan semburan nova Leviathan mulai menyusut. Intensitas cahaya yang keluar dari mulut sang Sea Serpent berkurang, lalu pada akhirnya padam dalam hitungan detik.
Meski pilar cahaya raksasa telah hilang, langit Dunia Astral masih tampak sangat terang. Seakan-akan malam telah berubah siang dalam hitungan menit, lalu hamparan biru abu-abu memenuhi langit dengan awan mendung sebagai penghias.
Pada yang sama setelah semburan nova padam, tepat lurus di atas Leviathan terbentuk lubang hitam layaknya sebuah bulan purnama gelap. Bekas dari semburan nova yang menghancurkan batas Realm, terhubung langsung ke celah dimensi dan lapisan-lapisan di luar Kluster Utama.
Saat tekanan udara tiba-tiba berubah dan kadar radiasi turun drastis, perubahan arah angin langsung menyingkirkan debu pasir yang menutupi pandangan. Membuat Odo bisa melihat sekelilingnya dengan jelas, lalu tercengang saat mengetahui kondisi Reyah dan Vil.
Vil tengkurap dengan luka bakar di punggung, kedua kaki patah, dan pada beberapa bagian dagingnya melepuh. Kulit terkelupas kering, tampak kemerahan dan menghitam karena pasir masuk ke dalam lukanya.
Di sisi lain, Reyah menderita luka yang lebih parah. Sang Dryad terpapar radiasi dengan posisi terkapar, bagian tubuh depannya terbakar dan sebagian besar dagingnya melepuh. Pada beberapa titik seperti tangan dan kaki bahkan tulangnya sampai terlihat, jemari-jemari ada putus karena terlalu banyak terpapar radiasi, lalu rambutnya terbakar habis sampai tengkorak sedikit tampak.
“Vil? Reyah …?”
Mulut Odo seketika menganga dan wajahnya semakin memucat. Tidak lagi memedulikan Leviathan ataupun rencana penaklukan, pemuda rambut hitam itu ingin segera berlari dan menolong mereka berdua.
Tetapi, tubuhnya tidak bisa bergerak dari tempat karena masih diambil alih oleh Mahia.
“Mahia!! Berhenti⸻!”
Dalam hitungan detik, Dark Matter langsung menyelimuti seluruh tubuh Odo dan hanya menyisakan mata sebelah kanan. Entah itu struktur sihir, kekuatan Rajah Khanda, akses tubuh terhadap cadangan, dan bahkan Aitisal Almaelumat, semuanya diambil alih oleh Mahia untuk digunakan dalam sebuah ritual.
Sebagaimana fungsi dari Sihir Pertahanan Terakhir, entitas tersebut benar-benar bergerak untuk menghabisi Leviathan dengan segala yang dimiliki oleh inangnya. Menetapkan Leviathan sebagai sosok yang bisa menghancurkan jiwa Odo, lalu sepenuhnya dianggap sebagai ancaman yang harus dimusnahkan dalam prioritas utama.
Langit yang sebelumnya tampak sedikit cerah mulai tertutup. Angin bertiup seakan tidak memedulikan iklim, air laut menguap dengan cepat dan membuat awan-awan gelap nan tebal. Dalam hitungan kurang dari satu menit, persiapan untuk Manifestasi Dewa sepenuhnya selesai.
Awan badai berkumpul di sekitar lubang yang terhubung dengan celah dimensi. Berbeda dengan metode untuk membangun singgasana ilahi yang digunakan di Kota Mylta, akses terhadap Dunia Kabut sepenuhnya dilakukan melalui lubang hitam di langit Dunia Astral.
Seakan-akan pusat badai hidup dan memiliki kehendak, hampir seluruh Ether di Dunia Astral terserap pada satu titik tersebut. Ribuan partikel cahaya mulai melayang-layang layaknya kunang-kunang pada musim panas. Hampir semua Roh Tingkat Rendah yang tidak memiliki kehendak ikut terserap, terbang menuju satu tempat pada lubang hitam di langit.
Mata merah mengintip dari kegelapan, menyala terang dan terus mendekat untuk memenuhi panggilan penciptanya. Dari dalam lubang hitam di langit, tangan raksasa berupa padatan energi terulur ke bawah seakan ingin menjamah sesuatu.
Perlahan tangan raksasa tersebut berubah menjadi petir saat menembus awan, lalu menyerap susunan sihir yang tertanam dalam lapisan badai.
Pada detik itu, ukuran tangan raksasa semakin membesar sampai-sampai panjang lengannya hampir menyentuh permukaan. Sepenuhnya menjelma sebagai singgasana ilahi, terbentuk dari padatan energi dan petir berwarna kebiruan.
Hujan deras seketika turun, membasuh seluruh garis pantai Laut Utara dan menjadi tanda kelahiran singgasana ilahi yang sempurna. Petir sesekali menyambar dengan terang, terserap masuk ke dalam tangan raksasa dan membuatnya kembali membesar.
Pada puncak ukuran yang bisa dicapai oleh manifestasi singgasana ilahi, tebal lengan raksasa tersebut hampir menyamai diameter Leviathan. Sepenuhnya terbentuk dari padatan energi dalam jumlah sangat banyak, lalu bentuknya sangat berbeda dengan manifestasi yang pernah Odo gunakan di Kota Mylta.
Padatan energi dan petir itu tidak berbentuk tulang belulang dengan secuil daging. Ia sepenuhnya berbentuk tangan sempurna, memiliki daging tebal dan kulit yang terbuat dari lapisan petir serta plasma.
__ADS_1
Saat tangan raksasa tersebut terus terukur dan hendak menyentuh permukaan, Leviathan tiba-tiba mengeram seakan-akan menunjukkan rasa benci. Sang Pemusnah Peradaban berusaha melepaskan diri dari pengaruh Aitisal Almaelumat, lalu terus mengeluarkan suara penderitaan layaknya menangis tidak berdaya.
“Diamlah, ular rendahan ….”
Di tengah erangan Leviathan yang menggema, Odo dengan jelas mendengar suara Mahia bercampur dengan suara badai. Menggelegar dalam frekuensi yang sangat luas.
Pada saat yang sama, mata merah dari dalam lubang hitam di langit mulai memandang rendah makhluk primal tersebut. Seakan-akan dirinya setara dengan entitas ilahi yang menundukkan banyak kehidupan.
Dari manifestasi tangan raksasa yang terulur ke bawah, tanpa peringatan petir putih terang langsung menyambar ke arah Odo. Membakar Dark Matter bersama seluruh tubuh pemuda rambut hitam tersebut, lalu menghancurkannya sampai menjadi butiran abu dalam hitungan detik.
Pada saat yang hampir bersamaan, Reyah dan Vil mulai sadarkan diri dan melihat momen dimana Odo dibinasakan. Proses di mana tubuh pemuda yang menjalin kontrak dengan mereka hancur, lalu berubah menjadi abu dalam kilatan cahaya terang.
Tubuh sang pemuda hancur sampai tingkat partikel, lalu seketika terserap oleh sambaran petir dan diangkut menuju tangan raksasa sebagai singgasana ilahi untuknya.
Tepat Manifestasi Dewa menggunakan kekuatannya secara maksimal. Menyatu dengan padatan energi berbentuk petir dan menjadi salah satu komponennya.
Hal tersebut menjadi tahap terakhir dari pembentukan singgasana ilahi. Membuat raksasa petir tersebut memperoleh bentuknya secara utuh, lalu bisa menampakkan diri di Dunia Astral layaknya seorang penguasa.
Sosok ilahi dari padatan energi petir itu memiliki bentuk dan ukuran yang tidak masuk akal. Begitu masif, sangat tinggi, dan memancarkan petir ke penjuru arah.
Lubang di langit seketika melebar saat dilewati, pecah karena tidak bisa menahan luberan energi dari celah dimensi. Layaknya kaca yang hancur ditimpa benda berat, lubang hitam tersebut terus membesar sampai diameternya mencapai satu kilometer.
Dari dalam lubang raksasa tersebut, sang singgasana ilahi turun ke Dunia Astral. Tidak dalam bentuk setengah tubuh, namun sepenuhnya memiliki kaki dan menapak di permukaan. Menginjak pesisir laut yang hanya setinggi mata kaki, lalu berdiri tegak layaknya sosok Dewa yang menguasai badai dan petir.
Postur tubuh, wajah, dan rambut raksasa petir tersebut sangat mirip dengan Odo Luke. Tingginya hampir mencapai dua kilometer, sepenuhnya terbentuk dari padatan energi dan petir yang sesekali menyambar dari tubuh.
Manifestasi tersebut tampak seperti mengenakan Ihram, sebuah pakaian yang dipakai untuk penyucian. Terdiri dari dua lembar kain tanpa jahitan.
Entitas tersebut tidak mengenakan alas kaki atau ornamen tambahan lain. Layaknya penghakim suci yang datang untuk memusnahkan sang makhluk primal, jelmaan badai tersebut langsung mencengkeram kepala Leviathan dengan kedua tangannya. Menyalurkan petir dalam tekanan yang sangat tinggi, lalu berusaha meremukkan kepala sang Pemusnah Peradaban.
Kulit keras Leviathan perlahan meleleh bersama sisa-sisa lapisan Mana, lalu petir yang merambat ke sekujur tubuh dengan cepat membakar daging serta organ dalamnya. Meski bentuk transformasi Naga Agung tersebut lebih mirip seperti mengenakan zirah hidup, namun tetap saja seluruh indra terhubung dengan tubuh inti sang Pemusnah Peradaban.
Membuatnya bisa merasakan sakit yang jelas, lalu mengerang sangat keras sembari berusaha melepaskan diri dari pengaruh Aitisal Almaelumat. Tetapi, darah Raja Iblis Kuno yang telah menyatu dengannya tetap tidak bisa ditentang.
Tekad, kehendak, atau bahkan dendam tidak bisa melawan ketentuan yang diberikan melalui Kode Khusus tersebut. Meski tubuh terbakar sampai dalam dan sakit menjalar ke sekujur raga, Leviathan sama sekali tidak bisa bergerak atau bahkan melawan balik. Hanya bisa menerima serangan raksasa petir, seakan-akan sedang dihakimi karena telah berani mengancam nyawa sang pemuda. Menjadi tumbal untuk kebangkitan singgasana ilahi tersebut.
Pada momen di mana Leviathan hampir binasa, tekanan sihir yang tiba-tiba muncul dari tempat berbeda membuat raksasa petir terhenti. Ia melonggarkan cengkeraman, lalu dengan mata merah menyala mulai menatap ke arah perbukitan di sekitar Laut Utara.
Ether mulai berkumpul ke arah tersebut, membuat sebuah distorsi ruang dengan gravitasi terpusat yang cukup kuat. Tekanan sihir terus bertambah bersama dengan cahaya yang mulai bersinar dari atas perbukitan, lalu pada detik selanjutnya sebuah matahari mini pun tercipta.
Saat tahu bahwa itu adalah sihir Parva Nuclear yang sedang disiapkan, raksasa petir seketika tampak tersentak dan panik. Entitas berukuran masif tersebut segera melepaskan Leviathan dan berlari menuju sumber cahaya, berusaha untuk menghentikan perapalan Sihir Peledak Radiasi itu.
Menyadari kesempatan yang muncul dalam momen tersebut, Leviathan yang terkapar di pesisir segera mengaktifkan Sihir Khusus. Meski tidak bisa menggerakan tubuh, Naga Agung tersebut masih memiliki sedikit kebebasan untuk menggunakan salah satu kemampuannya sebagai makhluk primal.
Azure El Mar ⸻ Kemampuan tersebut sangat mirip dengan Sihir Khusus milik Naga Hitam, mengendalikan atribut alam dengan sesuka hati menggunakan manipulasi Ether dan Mana.
Dalam hitungan detik, Leviathan langsung mengontrol air laut dan menciptakan belasan pusaran raksasa. Menjulang tinggi seperti ular-ular laut yang menari, lalu langsung mengikat kaki raksasa petir dan membuatnya jatuh tersungkur.
Ambruk menimpa pantai dan hutan, lalu petirnya menyulut pepohonan dan membuat kebakaran yang langsung padam oleh hujan. Dengan kesal raksasa petir menoleh ke arah Leviathan, langsung mengangkat kakinya dan menendang sang kepala sang Naga Agung.
Pada kesempatan yang diberikan oleh Leviathan, sihir Parva Nuclear selesai disusun. Siap ditembakkan ke arah raksasa petir, lalu langsung melesat kencang layaknya peluru tajam yang terbuat dari padatan radiasi.
__ADS_1