
“Tapi ….” Lisia benar-benar merasa ingin kabur dari tanggungjawab tersebut, merasa terlalu berat baginya untuk mengemban semua kewajiban yang ada. Sembari memalingkan pandangan dari ayahnya, perempuan itu melempar alasan, “Saya masih belum siap …. Saya terlalu naif, memimpin orang-orang tidaklah semudah yang terlihat. Ayahanda, saya tidak ingin ada korban karena masalah yang tidak siap saya tangani.”
“Masalah tidak akan menunggu sampai kamu siap!” Argo menepuk ubun-ubun Lisia dengan telapak tangan lebarnya, sampai-sampai membuat sekujur tubuh perempuan itu gemetar dan hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan. Memegang pundak Putrinya, sebagai seorang ayah Argo Mytla berpesan, “Masalah selalu saja datang tanpa henti dan di waktu yang sangat tidak tepat. Karena itulah mereka adalah masalah …. Apa yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha untuk mengantisipasi dan memperbaikinya! Jadi, Lisia …. Merenung hanya akan membuang waktumu, jangan habiskan waktumu untuk itu.”
Dalam rasa yang bercampur aduk, Lisia kembali menundukkan kepala dan menyingkirkan kedua tangan ayahnya dari pundak. Dalam muram ia pun berkata, “Kalau terus berdiri di posisi ini, mungkin akan jatuh lebih banyak korban karena masalah yang tidak bisa saya tangani. Selama berada di posisi ini, saya … tidak pernah bisa mengambil keputusan yang tepat. Bahkan ….”
Bahkan kali ini pun keputusan yang diambil salah ⸻ Mulut Lisia terhenti sebelum mengatakan hal tersebut, merasa dirinya hanya akan berakhir menyalahkan orang lain atas keputusannya sendiri. Sebagai seorang pemimpin, itu hanyalah aib dan karena itulah perempuan tersebut hanya terdiam.
Labil, penuh keraguan, penyesalan, dan rasa bersalah. Melihat semua itu dialami oleh Putrinya, Argo malah menyeringai kecil dan merasa pasti semua itu akan membuat putrinya semakin dewasa.
Tidak ada orang yang lahir sebagai pemimpi, mereka tumbuh sebagai pemimpin ⸻ Itulah yang Argo yakini. Dirinya saat muda pun pernah mengalami masa-masa seperti dilanda kebimbangan, penyesalan, dan rasa bersalah. Namun karena semua itulah, dirinya bisa berdiri sampai sekarang dan memimpin banyak bangsawan.
Semua itu tidak dirinya lalui dengan kekuatannya sendiri, Argo juga butuh orang lain sebagai panutan dan gambaran idealisme. Salah satu yang menjadi sosok ideal yang dirinya hormati adalah Mavis Luke. Sebab itulah, dalam benak Argo merasa sedikit lega saat tahu putrinya memendam rasa terhadap Putra Tunggal Keluarga Luke.
Sebagai seorang ayah dirinya tidak bisa memberitahu jawaban sederhana itu. Sebagai gantinya, ia mulai berbalik dan berjalan ke arah jendela. Sembari menatap keluar pria tua tersebut menyampaikan, “Daripada menghitung korban dari keputusanmu, lebih baik kamu melihat orang-orang yang selamat dan berhasil kamu bimbing. Bagi Ayah pemimpin adalah ia yang bisa berdiri paling tegak dari yang lain, menunjukkan arah yang lebih baik dan mengantar semua orang ke arah kejayaan …. Putriku, bagimu arti pemimpin itu apa?”
“Arti pemimpin ….” Lisia tidak berani berjalan mendekati ayahnya, hanya menundakan kepala dan dengan penuh keraguan menjawab, “Pemimpin adalah orang yang bisa menyelamatkan semua rakyatnya, memberikan kedamaian dan kemakmuran.”
“Menyelamatkan semua rakyat, ya? Sungguh berat ….” Argo sekilas tersenyum saat mendengar ungkapan naif tersebut. Kembali berbalik dan menatap tajam, dengan tegas pria tua tersebut berkata, “Tapi tak masalah! Selama kamu bisa terus berpegang teguh dengan itu dan paham siapa rakyatmu, itu tidak masalah!”
“Siapa … saja rakyatku?” Mendengar hal tersebut, Lisia perlahan mengangkat wajahnya dan menatap bingung.
“Tentu saja!” Argo menunjuk lurus putrinya, lalu dalam suasana hati penuh semangat berkata, “Kita adalah pemimpin dari rakyat kita! Bukan pemimpin dunia ini! Kamu harus paham mana yang harus diselamatkan!
“Begitu, ya ….” Mendengar hal tersebut, Lisia menyadari sesuatu dan perlahan mulutnya sedikit menganga. Sebuah alasan mengapa Odo Luke dengan tanpa ragu mengorbankan pedagang dari luar kota dalam rencana kali ini, hal tersebut seketika singgah dalam benaknya. Termenung sesaat, tapa sengaja dan dengan suara lirih Lisia pun bergumam, “Apa mungkin itu maksud Tuan Odo? Dia melakukan itu karena memahami hal tersebut dari awal?”
“Hmm, Odo?” ujar Argo sembari berhenti menunjuk.
Tidak memedulikan gumam yang bocor dari mulutnya sendiri, Lisia dengan penuh rasa penasaran menatap lurus Ayahnya dan bertanya, “Ayahanda, kira-kira apa arti pemimpin bagi Tuan Odo? Apa dia … juga sama seperti kita, mementingkan rakyatnya? Menurut Ayahanda apakah beliau tipe orang yang mencintai rakyatnya sendiri?”
“Entahlah ….” Pertanyaan tersebut sulit untuk Argo jawab. Bagi dirinya yang sudah berpengalaman dan menemui banyak pemimpin dengan berbagai macam watak, dirinya tetap tidak bisa menebak pola pikir pemuda bernama Odo Luke. Dengan mimik wajah ragu bercampur bingung Argo pun menjawab, “Jika ia mewarisi watak orang-orang Keluarga Luke, mungkin saja arti pemimpin baginya adalah melindungi Ratu, membimbing kerajaan, dan menjadi pedang yang lebih tajam dari siapa pun. Namun ….”
“Namun ….”
“Odo Luke, Putra Tunggal Keluarga Pedang Kerajaan itu lebih mirip dengan sang Saintess. Kesan pedang tajam hampir tidak ada padanya, malah ia lebih seperti … orang puritan.”
“Eh, puritan?” Lisia sedikit bingung dengan pendapat Ayahnya, sembari memalingkan pandangan dan mengingat-ingat ia berkata, “Bukannya Tuan Odo punya banyak teknik mematikan? Bahkan kemampuan pedangnya sangat tinggi ….”
“Hmm, itu benar ….” Argo meletakkan telapak tangan kenan ke kening, memasang raut wajah heran dan berkata, “Meski seharusnya teknik dan sihirnya mematikan, entah mengapa kesan seperti petarung berdarah dingin khas Keluarga Luke tidak ada padanya. Aura yang ada padanya terkesan kosong ….”
Pembicaraan sesaat terhenti, suasana di dalam ruangan pun menjadi sedikit senyap. Namun dalam kesenyapan tersebut, mereka samar-samar paham kalau kesan mengerikan memang ada pada Odo Luke. Bukan hanya Agro dan Mylta, namun Iitla dan Wiskel pun merasakan hal yang sama.
Bukan manusia, sesuatu yang berbeda dari hukum dan akal sehat dunia⸻ Kurang lebih seperti itulah kesan yang mereka rasakan terhadap Odo Luke.
__ADS_1
ↈↈↈ
Mentari perlahan terbenam, cahaya kemerahan membuat bayang-bayang gelap di antara bangunan. Layaknya cuaca dan memberikan dampak yang meluas dengan cepat di dalam masyarakat, insiden yang sebelumnya terjadi di sekitar gerbang utama membuat citra buruk terhadap pemerintah semakin menguat.
Meski sebagian besar masyarakat tahu dan paham bahwa pihak pemerintahan tidak sepenuhnya bersalah atas insiden kali ini, namun orang-orang perlu pihak untuk disalahkan. Aliansi Samudera Majal dan Sekte Dagang Teratai Danau, kedua kelompok pedagang dari luar negeri tersebut pun ikut menyulut rasa kegelisahan masyarakat. Mewujudkan ketidakpastian dan rasa cemas yang ada menjadi sebuah protes yang terarah kepada pihak pemerintahan.
Kepada relasi dan pelanggan mereka, kedua kelompok pedagang tersebut mengumbar persepsi dan berpendapat bahwa memang pemerintah Mylta tidak bisa lagi melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai pemimpin kota pelabuhan. Insiden kali ini menjadi fakta pendukung yang kuat, membuat sebagai masyarakat ikut dalam cara pandang tersebut dan memulai sebuah petisi.
Terutama untuk Sekte Dagang Teratai Danau, mereka memiliki alasan kuat untuk menuntut pihak pemerintahan Mylta terkait insiden kali ini sebab ada pedagang mereka yang menjadi korban. Dengan alasan tersebut, mereka juga memiliki hak untuk meminta ganti rugi sebab kerusakan dari insiden kali ini berdampak besar kepada kepercayaan para pedagang yang tergabung dalam serikat dagang mereka.
Dalam beberapa jam setelah kedua pihak serikat pedagang mengadakan rapat dan mendiskusikan hal tersebut, kabar tentang insiden tersebut tersebar ke penjuru Mylta. Dari gerbang tempat terjadinya insiden sampai ke dermaga dan kompleks gereja utama.
Meski karena insiden tersebut citra pemerintah di mata masyarakat benar-benar ambruk dan terancam kehilangan otoritasnya, namun bagi orang-orang puritan di gereja hal tersebut tidaklah terlalu berpengaruh. Bagi mereka, insiden kali ini hanyalah sebuah bencana yang tidak bisa semua orang duga dan tak pantas bagi mereka untuk saling menyalahkan satu sama lain.
Andreass ⸻ Sebagai Imam yang memimpin di Kota Mylta menyatakan kepada para pengikutnya bahwa tidak akan menyalahkan siapa pun. Ia juga menyatakan bahwa tidak akan ambil suara terkait tuntutan para pengusaha yang sedang mengumpulkan suara untuk petisi, sebuah tuntutan terkait perombakan kebijakan yang akan mereka ajukan kepada pemerintah kota.
Di sisi lain, para bunga malam di distrik rumah bordil pun berpendapat sama. Jika petisi yang ingin diajukan oleh para pengusaha terealisasi, kemungkinan besar perubahan struktur pemerintah akan terjadi dan otoritas kekuasaan Keluarga Mylta bisa dicabut oleh pemerintah pusat. Hal tersebut tentu sangat merugikan para bunga malam, terutama Theodora Mascal yang sekarang ini sedang menjalankan beberapa proyek dari Odo Luke.
Dalam perbedaan pendapat dan persepsi masing-masing pihak, mereka dari kalangan puritan yang pertama kali memberikan langkah nyata terhadap insiden tersebut. Tanpa dipanggil ataupun dimintai oleh pihak mana pun, setelah mendengar kabar tentang insiden para puritan gereja segera datang ke tempat kejadian untuk membantu.
Menggunakan sihir pemulihan, merawat yang terluka dan menenangkan mereka yang trauma. Dengan kemampuan dan alat yang terbatas, mereka berkontribusi secara langsung untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Di antara mereka, Siska dan Andreass pun turun langsung untuk membantu orang-orang dan menyembuhkan yang terluka.
Jauh dengan semua hal terkait dampak setelah insiden penyerangan monster, Odo Luke seakan tanpa rasa bersalah sama sekali melangkahkan kakinya menuju distrik perniagaan. Senyum dan seringai tampak tipis pada wajahnya, seakan memang pemuda rambut hitam itu menikmati kekacauan yang telah dibuatnya.
Pada detik itu juga, Spekulasi Persepsi miliknya dengan sendiri aktif dan menggila. Itu memberikannya sebuah gambaran jelas tentang beberapa kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan, hasil dari susunan kausalitas yang ditangkap oleh berbagai persepsi miliknya.
Kota Mylta yang terbakar, mayat-mayat yang hangus menjadi arang dan pelabuhan yang dihancurkan oleh ledakan dahsyat. Di bawah gugusan bintang dan langit petang, kilauan cahaya raksasa menelan semunya dan membuat kota pelabuhan rata dengan tanah.
Dalam hasil persepsi sekilas tersebut, kedua mata Odo seketika terbuka lebar. “Ledakan nuklir? Kenapa bisa⸻?” Sebelum perkataannya selesai, Spekulasi Persepsi kembali aktif dan memberikannya beberapa gambaran kemungkinan lain tentang masa depan masa depan.
Darah segar yang mengalir di lantai kayu, kepala Nanra dan Kirsi yang menggelinding jatuh dari meja. Ruangan penuh dengan darah dan mayat-mayat dari para pegawai Ordoxi Nigrum bergelimpangan di ruangan tersebut. Dengan gambaran sekilas itu, Odo seketika paham bahwa kejadian tersebut akan terjadi dalam waktu dekat di toko miliknya.
“Sebenarnya … apa yang sedang terjadi⸻?”
Sebelum Odo kembali berpikir lebih dalam dan mengambil tindakan untuk menangani hal tersebut, ia melihat setitik cahaya di langit. Di antara terangnya kota pelabuhan, itu bersinar terang di antara langit malam. Tentu saja Odo langsung tahu bahwa itu bukanlah bintang, kilauan tersebut terlalu janggal dan membuatnya terperangah.
Berada di udara, memancarkan kilauan cahaya yang terang dan gambaran masa depan yang dirinya dapat dari Spekulasi Persepsi. Menghubungkan semua informasi yang dimilikinya sekarang, Odo seketika menyimpulkan, “Jangan bilang ... itu Parva Nuclear? Apa yang dilakukan Prajurit Peri di Kota Mylta? Bukannya mereka seharusnya pergi ke Kerajaan Moloia bersama Putri Ulla⸻?” Odo kembali menyadari sesuatu, dengan pucat langsung menoleh ke arah jalan menuju distrik perniagaan.
Mengingat salah satu gambaran masa depan, Pemuda rambut hitam tersebut seketika paham bahwa Prajurit Peri yang datang ke Mylta bukan hanya yang berada di langit dan bersiap melepaskan sihir Parva Nuclear saja.
Menelan ludah dengan berat, pada saat itu Odo paham sedang berada dalam situasi dimana harus memilih. Antara menghentikan Parva Nuclear atau menolong mereka yang berada di toko Ordoxi Nigrum.
“Dua gambaran masa depan, kedatangan para Prajurit Peri, dan Parva Nuclear yang siap dilepaskan ke Kota Mylta ….” Odo menggertakkan giginya dengan kesal, wajah penuh senyum kemenangan yang sebelumnya tampak padanya sepenuhnya sirna. Berganti dengan murka yang menyala merah, ia dengan kesal bergumam, “Apa ada sesuatu yang terjadi saat mereka kembali ke Moloia? Atau dari awal Or’iama …, jiwa yang bersemayam di dalam tubuh Putri Ulla itu memang berniat berkhianat?”
Di tengah situasi dimana dirinya harus memilih dan masih dalam kebingungan, tubuh Odo paham dengan langkah yang harus diambil lebih dulu. Meski paham hampir mustahil untuk memilih keduanya, namun tubuhnya sangat paham dan bergerak lebih dulu daripada pikirannya.
__ADS_1
Secepat yang dirinya bisa Odo berlari ke distrik perniagaan, melewati kerumunan dan bergegas menuju Ordoxi Nigrum untuk mencegah skenario terburuk yang bisa dirinya bayangkan.
.
.
.
.
Persimpangan menuju malam telah datang bersama dengan hembusan angin dingin. Tak seperti hari-hari biasanya dalam masa progresif Kota, distrik perniagaan tampak sepi dan kesan senyap sedikit terasa di sepanjang jalan utama.
Karena kabar yang beredar tentang insiden yang terjadi di gerang utama, kebanyakan dari pedagang lebih memilih untuk cepat menutup toko dan kios.
Mengikuti apa yang dilakukan oleh toko-toko lain di distrik, perusahaan Ordoxi Nigrum pun melakukan hal yang sama dan menutup pintu mereka lebih awal. Namun, itu bukan berarti semua pegawainya pulang lebih awal. Baik yang tinggal di bangunan toko ataupun mereka yang tidak, semua pegawai tetap Ordoxi Nigrum masih berada di lingkungan toko untuk mengurus pekerjaan setelah operasional dan perencanaan hari berikutnya.
Mereka yang bekerja pada bagian pencatatan bertugas di lantai satu bangunan untuk penghitungan akhir berupa pencatatan pendapatan, logistik, perhitungan upah, dan membuat anggaran belanja serta menghitung pendapatan bersih yang didapat hari itu juga. Kirsi, Isla dan para perempuan dari keluarga Demi-human pun berada di lantai satu, ada yang ikut membantu menghitung pemasukan dan ada yang masih membersihkan dapur.
Untuk mereka yang bekerja pada bagian lain seperti Matius, Totto dan yang lainnya masih tampak lalu-lalang di luar untuk mengarahkan beberapa pekerja lepas.
Waktu berlalu dan orang-orang di depan toko pun bubar setelah selesai diarahkan untuk pekerjaan yang perlu mereka lakukan di hari esok. Namun pada penghujung kegiatan toko, dua orang perempuan yang tampak seperti bukan pelanggan mendatangi tempat tersebut.
Kedatangan mereka lantas membuat Totto dan Matius yang masih berada di luar heran. Bukan hanya karena mereka datang saat hari sudah malam, namun juga kedua perempuan itu tampak berbeda dengan para pelancong di Kota Mylta.
“Mereka berdua … Elf?”
Tanpa sadar Matius mengatakan hal tersebut dari mulutnya. Sedikit menyipitkan mata dan melirik ke arah rekan kerjanya di sebelah, ia memperhatikan mimik wajah Totto yang seakan ingin mengatakan sesuatu. Tetapi saat tahu wajah rekannya tersebut dengan cepat memucat, pria dengan mata Heterochromia tersebut terdiam.
Tikus adalah hewan yang mudah curiga dan memiliki insting kaut untuk mendeteksi bahaya, layaknya kalangan hewan yang menjadi mangsa dalam hierarki rantai makanan. Mewarisi hal tersebut dalam gen miliknya sebagai Demi-human tipe tikus gerbil, seketika insting membuat Totto melangkah mundur dengan gemetar dan dengan kuat memerintahkan tubuhnya untuk lari.
Namun saat paham bahwa kedua Elf tersebut berjalan mendekat dan benar-benar berniat datang ke toko, pada saat yang sama Tottomemaksa dirinya sendiri untuk tidak bergerak dari tempat. Ia tidak ingin meninggalkan adik-adiknya dalam bahaya, lalu langsung bergegas menuju pintu toko masuk dan berniat menghalau kedua Elf tersebut.
“Jangan bergerak dari tempat atau tubuhmu akan terbelah menjadi dua,” ujar salah satu Elf yang berjalan ke arah mereka.
Perkataan itu seketika membuat Totto terhenti sebelum sampai di depan pintu, benar-benar mematung dalam intimidasi kuat dari hawa membunuh yang kedua Elf tersebut berikan. Karena lingkungan sekitar yang sepi, kedua Elf tersebut sama sekali tidak menahan diri atau bertindak hati-hati.
Elf yang memberi peringatan itu memiliki rambut pirang sepunggung yang diikat kepang tunggal. Kulitnya putih pucat dan tampak halus meski sedikit berotot, lalu kornea matanya berwarna merah darah dan tampak seakan menyala dalam kegelapan. Meski ia mengenakan gaun sederhana berwarna cokelat dan tampak seperti gadis desa, aura sihir yang terpancar darinya benar-benar berbanding terbalik dengan kesederhanaan tersebut.
Elf itu memang bukanlah seorang pelancong, melainkan salah satu Prajurit Peri yang tergabung dalam fraksi Sistem Pengadilan dan Politik (SP2) Kerajaan Moloia. Seorang Kopral dalam karier militernya, Ul’ma Lilitra.
Di sebelah Ul’ma pun adalah Prajurit Peri, rekannya dengan pangkat Sersan dari fraksi yang sama, Magda Klitea. Ia memiliki rambut pirang panjang sebahu, kulit putih cerah, dan mata biru azure. Sama seperti rekannya yang menyembunyikan identitasnya saat masuk ke Kota Mylta, Magda juga mengenakan gaun sederhana dan berpenampilan layaknya gadis biasa.
Namun ketika kedua perempuan itu sampai di tempat target, seakan tidak peduli lagi dengan penyamaran mereka langsung memancarkan aura sihir dan mengintimidasi. Ul’ma membuka telapak tangannya ke arah Totto, lalu dengan sorot mata tajam menegaskan, “Jika kau berani masuk ke dalam toko atau melakukan tindakan yang mencurigakan, tanganmu akan diriku potong saat itu juga.”
Itu bukanlah sekadar intimidasi, insting Totto benar-benar memerintahkan tubuhnya untuk melangkah mundur dan berlari. Tetapi rasa tanggungjawab dan cemas kepada adik-adiknya lebih kuat, membuat pria Demi-human tersebut tidak beranjak dari tempat dan hanya berdiri dengan keringat dingin bercucuran.
Ul’ma dan Magda sampai di depan pintu toko sembari tetap mengancam kedua pegawai toko tersebut. Tidak langsung masuk, kedua Elf itu hanya menatap kosong dan sesaat terdiam. Benar-benar diam dalam tatapan gelap ke arah Matius dan Totto.
“Apa … Odo Luke ada di dalam bangunan ini?” tanya Magda. Prajurit Peri dengan julukan The Night tersebut berjalan ke arah Totto, lalu sembari menatap dari dekat kembali bertanya, “Apa Odo Luke ada di sini?”
Saking takutnya Totto bahkan tidak bisa bersuara, hanya membuka mulut dan tanpa bisa menjawab pertanyaan tersebut. Berbeda dengan rekannya yang benar-benar jatuh dalam ketakutan karena intimidasi pada Elf itu, Matius menarik napas dalam-dalam dan berusaha tenang.
__ADS_1