
“Kau hanyalah seorang peneliti, dirimu takkan bisa memahaminya. Rasa bersalah saat menarik pelatuk dan menghabisi nyawa yang tidak berdosa. Berjuang untuk negeri yang selalu mengkhianati rasa keadilan dan nurani, melindungi orang-orang tamak dan bodoh di sana ….”
Richard Boderman berdiri muram di tengah lorong, menatap tajam seorang pemuda yang menghalangi jalannya. Berada pada sebuah bungker yang terkubur beberapa kilometer di bawah tanah, fasilitas persembunyian yang disiapkan oleh orang-orang kaya untuk berlindung.
Lampu seketika padam saat terjadi guncangan kencang, berasal dari ledakan dahsyat yang terjadi di permukaan. Beberapa detik kemudian, suplai listrik cadangan aktif secara otomatis dan pencahayaan pun kembali. Sedikit lebih redup dari sebelumnya.
“Benarkah?” Pemuda rambut hitam itu sedikit memiringkan kepala, melempar senyum sinis tanpa ada niat untuk menyingkir. Sembari menunjuk kunci berbentuk silinder yang dibawa lawan bicaranya, ia dengan tatapan muram berkata, “Kau seperti anjing, Richard. Selalu mematuhi perintah babi-babi itu …. Kali ini, apakah kau juga akan melakukan hal serupa? Menarik pelatuk dan membunuh orang-orang tak bersalah?”
“Itu benar! Aku akan membunuh mereka!” Richard menyodorkan kunci silinder tersebut. Ia tidak ingin berdebat, berdecak kesal dan langsung menawarkan, “Bagaimana kalau kau saja yang melakukannya?! Aktifkan nuklir ini! Hancurkan monster di atas sana⸻!”
“Bagaimana dengan penduduk yang belum dieksekusi?” Pemuda berjas laboratorium itu berhenti tersenyum, sedikit memalingkan pandangan sembari membalas, “Apa engkau ingin membunuh mereka juga? Jika itu perintah, aku akan mematuhinya ….”
“Ya, ini perintah! Cepat lakukan, dasar bedebah! Munafik!”
“Baiklah ….” Sang pemuda tanpa ragu mengambil kunci tabung tersebut, segera berbalik dan masuk ke dalam ruang komando. Berjalan menuju panel berbentuk prisma di tengah ruangan, lalu langsung memasukkannya ke lubang kunci. “Semoga kalian beristirahat dengan tenang. Tolong maafkan kelemahan kami karena hanya bisa mengambil keputusan seperti ini,” ujarnya sembari menekan tombol pada permukaan prisma untuk menonaktifkan pengaman, lalu perlahan memutar kunci tersebut.
“Tch! Tunggu! Biar aku saja yang melakukannya!!” Richard langsung menghentikan pemuda itu, segera mendorongnya menjauh dan memutar kunci itu sendiri. Mengaktifkan nuklir, membunyikan alarm peringatan peluncuran. “Kau tak perlu mengotori tanganmu lagi! Biar aku saja yang melakukan hal keji semacam ini!” ujarnya seraya melirik, memperlihatkan ekspresi sedih seolah ingin menangis.
“Richard, kau ….” Sang pemuda hanya bisa tertegun. Ia sempat membuka mulut seakan ingin mengatakan sesuatu, namun kembali tertutup dan lekas memalingkan wajah. “Maaf, aku hanya tidak ingin⸻!”
“Tidak apa! Jangan minta maaf! Aku … sudah terbiasa melakukan ini.”
.
.
.
.
Tidak ada yang terlahir sebagai pahlawan, tidak ada pula yang dilahirkan untuk menjadi Pemimpin. Orang-orang itu tumbuh menjadi pahlawan dan pemimpin atas kemauan mereka sendiri. Didukung oleh lingkungan, mendapatkan inspirasi dari orang lain.
Hasil dari keputusan.
Karena itulah, seorang kriminal pun tidak dilahirkan sebagai penjahat. Mereka tumbuh sebagai penjahat. Dibesarkan dalam lingkungan yang salah, tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang layak, lalu pada akhirnya memicu terbentuknya perilaku menyimpang.
Mereka mengungkapkan ketidakpuasan dengan merusak diri sendiri. Melanggar moral dan nilai, melakukan kekerasan, bertindak anarkis, lalu mulai menantang hukum. Dipandang rendah oleh masyarakat, bahkan sampai disebut sampah masyarakat.
Namun, kebaikan masih ada pada diri mereka. Melahirkan identitas kelompok yang bebas, memiliki solidaritas kuat dan mampu bertahan di tengah gerusan perubahan zaman.
Wujud nyata dari ketidakpuasan generasi muda terhadap tatanan yang diciptakan oleh pemangku tua. Sebuah pemberontakan moral dan nilai.
Mereka bukanlah sumber kejahatan, nurani dan kemanusiaan masih ada pada diri para pemuda yang disebut sampah masyarakat tersebut. Berkobar kuat dalam hati dan menjadi identitas. Simbol kebebasan yang hakiki.
Jika ada yang bisa disebut jahat, maka itu adalah orang-orang egois yang berbaur dalam masyarakat. Mementingkan diri sendiri dan golongan, menginjak-injak kalangan bawah, dan membuat kebijakan yang hanya menguntungkan pihak tertentu saja.
Kemiskinan terstruktur, menciptakan hierarki piramida kukuh dengan golongan tertentu duduk di puncaknya. Mewariskan kekayaan dan kekuasaan kepada keturunan, menjadikan kalangan bawah sebagai pijakan untuk kejayaan mereka.
Sayangnya, orang-orang seperti itu selalu berhasil bertahan di akhir cerita. Kunci kelangsungan hidup bukanlah pengetahuan, namun mampu melakukan sesuatu di waktu yang tepat. Meskipun itu berarti merebut hak atau bahkan menghancurkan kehidupan orang lain. Menginjak-injak kemanusiaan untuk tetap menjadi manusia.
Anehnya, konsep tersebut tidak berlaku untuk sang pemuda. Ia tidak pernah mampu merebut sesuatu dari orang lain, selalu dipercayakan dan menjadi yang ditinggalkan. Entah itu kehidupan, tujuan, mimpi, atau bahkan harapan.
Pemuda itu bukanlah simbol kebaikan. Baik itu sedang menolong orang-orang maupun membuat seseorang menderita, ia selalu memperlihatkan senyum ramah yang sama. Menenggelamkan perasaannya ke dalam lumpur kebohongan, dusta untuk kebaikan.
Rasa bersalah, bangga, sedih, amarah, dan penyesalan. Sang pemuda merasakan semua itu saat melakukan dua hal yang sangat bertolak belakang tersebut.
Ia selalu menjadi dirinya sendiri, tanpa menutup hati ataupun pikiran. Hanya menyembunyikannya, menenggelamkan perasaan dan keinginan ke dalam lumpur kebohongan. Dibalut dengan senyum ramah yang tampak busuk dari luar, namun harum saat terbongkar. Manis layaknya sirup maple murni.
ↈↈↈ
“Kalian sedang membicarakannya, bukan? Hal seperti berpindah pihak atau semacamnya ….” Odo berjalan menuju Jonatan Quilta, melewati Jenderal Yue dan Fu yang berdiri bingung di dekat pintu utama. “Tidak perlu risau, ini sudah tepat! Sesuai!” tambahnya sambil melirik Vil dan Leviathan di tengah lobi.
Selain pemuda rambut hitam itu, tidak ada yang mengambil gerakan gegabah. Mereka semua membisu kebingungan, memperlihatkan gelagat cemas dan mulai menjaga jarak. Membuat atmosfer ruangan terasa sangat berat dan sesak.
Jenderal Yue segera mengeluarkan talisman dari lengan pakaian, menyiapkan mantra dan merentangkan tangannya kirinya ke samping. Mencegah rekannya melakukan tindakan nekad seperti menyerang pemuda itu karena dorongan dendam.
“Nona Muda ….” Fu segera mengatur ulang senjata pelontar pisau pada lengan kanan. Ia mulai memutar mekanisme pegas, memasukkan belati beracun, lalu membidik pemuda itu dari belakang. “Biarkan saya menghabisinya,” ujar penyamar itu sembari menurunkan telunjuk, lalu mengaktifkan mekanisme senjata dan bersiap menyerang.
“Turunkan senjatamu!” Jonatan langsung melangkah maju, mengangkat pedangnya dan mengaktifkan Inti Sihir. Menyelimuti permukaan kulit dengan aura tempur, memancarkan intimidasi dan niat membunuh yang kuat. “Jangan paksa aku mengotori kediaman ini dengan darah kalian!” bentaknya dengan lantang.
“Tunggu, Odo! Kamu ingin melakukan apa lagi?” Leviathan segera menghadang pemuda itu, berdiri di hadapannya dan lanjut bertanya, “Apa yang telah dirimu lakukan di luar? Membantai orang-orang? Atau menyiksa anak-anak dan⸻?”
“Aku baru saja menyelamatkan mereka.” Odo terhenti, sekilas menoleh ke arah Fu dan melempar senyum kecut. Sembari kembali melihat lawan bicara, ia dengan nada menyindir menambahkan, “Baik itu penduduk Rockfield ataupun pasukan Kekaisaran, aku menyelamatkan mereka. Meski tidak semuanya, sih ….”
__ADS_1
“Menyelamatkan mereka?” Leviathan mengerutkan kening, sedikit melipat bibir ke dalam mulut dan mengendus. “Sungguh kebohongan yang sangat jelas dan menjijikkan! Memangnya engkau tidak bisa membuat alasan yang lebih baik? Ah, menjijikkan sekali! Bikin merinding!” sindirnya seraya memalingkan pandangan, kemudian lekas menjauh dan gemetar.
“Maaf, aku tidak punya waktu untuk berdebat⸻!”
“Tunggu! Saya bilang …, tunggu!” Putri Naga langsung mencengkeram kedua lengan pemuda itu, lalu mendekatkan wajah dan menegaskan, “Diriku paham apa yang telah engkau lakukan, diriku juga memaklumi hal tersebut! Namun, ada satu hal yang sangat janggal ….”
“Hmm, apa itu? Katakan saja, aku mendengarkan ….” Odo segera melepaskan kedua tangannya. Tanpa membuang waktu, ia merentangkan tangan kirinya ke samping. Menghentikan Jonatan sebelum pria itu menyerang Jenderal Yue dan Fu. “Apa yang ingin kau lakukan? Hentikan! Tidak perlu ada pertumpahan darah lagi!” pintanya dengan ekspresi datar.
“Turunkan senjatamu, manusia …. Diriku sedang bicara dengan Odo, jangan ganggu!” Leviathan melirik, sekilas memberikan intimidasi dan membentak, “Mundur!”
“A⸻!” Jonatan seketika membisu, tubuhnya gemetar dan langsung menjatuhkan pedang ke lantai. “E-Engkau sebenarnya siapa? Tekanan sihir ini ….” Pria rambut merah kecoklatan itu segera mundur, perlahan memalingkan pandangan dengan wajah memucat.
“Hentikan itu, Leviathan …. Dia manusia, jangan berlebihan!” Odo menegur, lalu segera berbalik menghadap Jenderal Yue dan lanjut berkata, “Kau ingin tahu mengapa aku memihak mereka, ‘kan? Buka telingamu dan dengar baik-baik ….”
“Hmm, itu yang ingin diriku ingin tanyakan ….” Leviathan berhenti mengintimidasi. Putri Naga berjalan memutar dan berdiri di hadapan pemuda itu, lalu memberikan tatapan tajam dan menegaskan, “Setelah apa yang engkau dapatkan di Dunia Astral, mengapa harus berpindah pihak? Bukankah Felixia sudah cukup untukmu? Negeri ini didirikan oleh leluhur makhluk astral, engkau tak perlu⸻!”
“Apakah kau tahu mengapa diriku dilahirkan di Felixia?” Odo menyela, sekilas menggertakkan gigi dan mulai memperlihatkan ekspresi muak. Setelah menghela napas panjang, ia dengan nada kesal lanjut mempertanyakan, “Kenapa tidak dilahirkan di Kekaisaran Urzia, Kerajaan Ungea, atau bahkan Moloia saja?”
“Kenapa? Sungguh pertanyaan yang aneh ….” Leviathan seketika tertegun, sedikit mengernyit kesal dan berdecak. Melangkah mundur sembari memalingkan pandangan, ia dengan ragu lekas menjawab, “Itu karena Ayah kamu adalah bangsawan Felixia, ‘kan? Keluarga Luke! Lalu …, Ibu kamu kalau tidak salah adalah penyihir dari Miquator, namun tinggal di sini karena mengikuti Ayahmu. Dia juga mendapat gelar bangsawan dari Raja ….”
“Ya, kau benar. Aku lahir di Felixia karena mereka tinggal di negeri ini. Namun ….” Odo kembali menghela napas, segera berbalik dan berjalan menuju Jenderal Yue. Sembari menoleh dan berdiri di sebelahnya, pemuda rambut hitam itu dengan tegas kembali mempertanyakan, “Kenapa harus Felixia?!”
“Hah? Apa yang kamu bicarakan⸻?” Leviathan tersentak saat menyadari sesuatu, ia segera menoleh ke arah Vil dengan tatapan cemas. “Apa dia juga menanamkan matanya di mana-mana?! Felixia adalah negeri yang terikat kuat dengan Dunia Astral! Kemungkinan besar Dewi sialan itu juga mengatur sesuatu di sana?” gumamnya cemas.
“Tepat sekali!” Odo bersedekap, berdiri lesu dan lekas berbalik. Sembari menatap Leviathan dan Vil, pemuda rambut hitam itu lanjut menjelaskan, “Moloia adalah sarang Helena, sedangkan Kekaisaran merupakan tumbal untuk memanggil diriku. Jika spekulasi ini benar, maka Felixia adalah altar untuk melakukan semacam ritual. Maka⸻!”
“Lebih aman untuk pergi ke tempat yang sudah digunakan ….” Leviathan segera menjauh dari Vil, memperlihatkan gelagat cemas dan berdecak. “Bukankah masih ada Ungea? Engkau bisa pergi ke sana, daripada Kekaisaran yang sedang bermusuhan dengan Felixia!”
“Banyak hal yang masih belum aku ketahui tentang Negeri Padang Pasir tersebut. Daripada mengambil risiko, diriku lebih memilih tempat yang sudah jelas.” Odo mengangguk ringan, sekilas melirik ke arah Jenderal Yue dan lanjut berkata, “Diriku rasa ini sepadan daripada berdiri di tengah altar ritual.”
“Bicara resiko, bukankah Kekaisaran juga memilikinya?” Leviathan mendekat, sekilas mengangkat alis dan lanjut meragukan, “Contohnya seperti bekas pemanggilan Iblis, atau bahkan Kaisar Abadi itu sendiri. Dia sangat mencurigakan, loh!”
“Kau tahu banyak, ya? Padahal terjebak di Dunia Astral selama ribuan tahun ….” Odo mengendus ringan, kemudian menatap sinis dan menyindir, “Kau kuper, ‘kan? Memangnya di dalam laut ada internet?”
“Ku-Kuper? Internet?” Leviathan terhenti, sedikit memiringkan kepala dan lanjut bertanya, “Apa itu? Semacam mata-mata?”
“Ternyata punya mata-mata, ya?” Odo tersenyum kecut, segera menaik kail layaknya seorang pemancing profesional. “Hmm, kau punya semacam penelik rupanya? Siapa?”
“Tidak, saya tidak punya. Lagi pula, dalam kondisi setengah gila seperti itu mana mungkin diriku bisa mengirim Familiar⸻!”
“Odo Luke, engkau ini ….” Leviathan menggertakkan gigi dengan kesal, merasa seperti orang bodoh yang sedang dipermainkan. “Sudahlah! Cepat atau lambat ini juga akan terbongkar! Akh! Sialan! Bisa-bisanya diriku terjebak trik murahan ini!”
“Jadi, mata-mata apa yang kau maksud?” Odo berjalan mendekat, sekilas mengangkat dagu dan menatap rendah. “Familiar macam apa yang kau miliki, wahai Putri Naga?”
“Azure el Mar ….” Leviathan tidak berpaling, ia malah berlagak tegar dan memberikan tatapan tajam. Namun, rasa bersalah membuatnya tidak tahan. Putri Naga langsung menyerah dan berbalik, lalu mengentakkan kaki dan menghela napas dengan kesal. “Itu bukan makhluk hidup,” tambahnya seraya menjaga jarak.
“Sebentar, bukankah itu ….” Odo tertegun, langsung memahami hal tersebut dan menahan napas sejenak. Berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi terkejut, ia segera mendekat sembari memastikan, “Sihir Khusus?”
“Benar, mata-mata yang diriku maksud adalah Sihir Khusus. Tidak seperti milik Ayunda yang memiliki batasan jarak, Azure el Mar bersifat otonom ….” Leviathan kembali berbalik, menghadap lawan bicaranya dan memperlihatkan gelagat cemas. Setelah menghela napas, Putri Naga melempar senyum kecut sembari lanjut menjawab, “Meski tidak memiliki kepribadian, sihir itu dapat ditanami perintah sederhana dan dibagi menjadi beberapa kluster.”
“Sebentar! Berarti ….” Odo terkejut, merasa telah melewatkan kemungkinan itu dan tidak memasukkannya ke dalam kalkulasi rencana. Sembari mendekat, pemuda rambut hitam tersebut lanjut memastikan, “Saat kamu masih dipengaruhi Kutukan Kegilaan⸻?”
“Benar sekali, diriku membagi kekuatan itu ….” Leviathan menyela. Sejenak menghela napas, Putri Naga menatap sedih sembari menambahkan, “Tepatnya, saat diriku dipaksa untuk mendatangkan banjir besar ke Dunia Nyata. Memadamkan daratan yang terbakar.”
“Berarti itu masih ada di sini, ya?” Odo sekilas menggertakkan gigi, merasa tertipu dan melakukan hal yang sia-sia. Sembari menggaruk bagian belakang kepala, ia lekas memalingkan pandangan dan bergumam, “Seharusnya aku tidak mengambil risiko semacam itu.”
“Tertipu?” Leviathan mendengar itu, sedikit penasaran dan segera mendekat. “Apa Ayunda menipu kamu? Atau … kita ditipu oleh orang lain?” tanyanya untuk memastikan.
“Ah, tidak apa!” Odo sejenak menarik napas. Sembari meletakkan tangan kanan ke dagu, ia sekilas melirik ke arah Vil sembari berkata, “Sihir itu masih ada di sini, ‘kan? Apa ada ketentuan khusus? Semacam mobilitas atau cara mendeteksinya ….”
“Anak itu masih berkeliaran di sekitar sini ….” Leviathan sekilas memberikan tatapan curiga. Tidak ingin membahas hal tersebut lebih dalam, ia dengan niat mengalihkan topik pembicaraan lanjut menjawab, “Azure el Mar dapat bergerak melalui tempat berair. Selama tidak dihancurkan oleh pihak ketiga, saya dapat melihat apa yang anak itu saksikan.”
“Tunggu sebentar! Dihancurkan pihak ketiga? Berarti ….” Odo sedikit menurunkan alis, kembali menatap lawan bicaranya dan memastikan, “Sihir itu lepas kendali?!”
“Diriku tidak bisa menonaktifkannya.” Leviathan tidak mengelak. Menyatukan kedua tangan dan memalingkan pandangan, perempuan rambut perak keabu-abuan itu dengan cemas menjelaskan, “Meski terhubung dan informasi darinya terus mengalir masuk ke dalam kepala saya, dia benar-benar telah menjadi sihir yang independen.”
“Luar biasa, aku merasa tidak asing dengan kasus semacam ini!” Odo berdecak kesal. Setelah menggaruk bagian belakang kepala, ia dengan ekspresi resah lanjut berkata, “Nanti tau-tau dia punya kepribadian dan menyerang kita⸻!”
“Tidak akan ….” Leviathan menyela, menatap tajam dan lanjut menegaskan, “Anak itu takkan melakukan hal tersebut!”
“Kenapa kau sangat yakin?” Odo meragukan, sekilas menyipitkan mata dan kembali bertanya, “Bukankah sihir itu lepas kendali?”
“Anak itu adalah Azure el Mar, Sihir Khusus milikku seorang!” Leviathan kembali menegaskan. Tidak ingin membahas hal itu lebih dalam, ia dengan kesal berkata, “Dengar ini baik-baik! Tidak mungkin dia menyerang diriku⸻!”
__ADS_1
“Ah, aku paham! Cukup!” Odo tidak ingin berdebat. Ia sekilas memalingkan pandangan, lalu dengan santai lekas menawarkan, “Jadi, mari kembali ke pembicaraan awal! Apakah kau ingin ikut denganku, Leviathan?
“Ikut?” Putri Naga sedikit menurunkan alis.
“Pergi menuju Kekaisaran!” Odo kembali menatapnya, lalu melempar senyum kecut sembari lanjut berkata, “Tadi kita membahas itu, bukan? Kita akan pindah pihak ….”
“Hmm, sebentar! Jujur, secara pribadi diriku tidak keberatan ….” Leviathan menundukkan kepala. Ia sejenak mempertimbangkan sesuatu, kemudian kembali meragukan keputusan tersebut dan bertanya, “Namun, kenapa harus Kekaisaran?”
“Sebentar! Tenang dulu!” Vil menyela, ia segera berjalan menghampiri Odo dan menatapnya dengan cemas. “Ka-Kalian sedang membicarakan apa?!”
Roh Agung tersebut sebenarnya memahami pembicaraan mereka, namun tidak ingin menerima keputusan itu karena takut. Memperlihatkan ekspresi gelisah, tatapannya mulai berkaca-kaca, dan pikiran pun menjadi kacau.
“Kita akan pindah pihak ….” Odo menjawab dengan santai, tanpa rasa cemas seakan hal itu sepele. “Memangnya apa lagi?”
“Ke-Kenapa Odo ingin pindah pihak?!” Vil seketika memucat, meraih tangan kiri pemuda itu dan lekas membujuk, “Bagaimana dengan Mavis dan Dart?! Mereka⸻!”
“Mereka lebih aman di sini ….” Odo tidak ingin mendengar bujukan murahan semacam itu, keputusannya sudah bulat. Sembari melepaskan tangan Vil, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas lanjut menyampaikan, “Ini sudah tepat, tolong jangan gunakan mereka untuk menahan ku di sini!”
“Kenapa?! Tepat seperti yang dikatakan Putri Leviathan tadi, kenapa harus Kekaisaran?” Vil bersikeras. Sembari memikirkan hal lain untuk menahannya, perempuan rambut biru laut tersebut lanjut membujuk, “Apakah Felixia tidak cukup untukmu? Bagaimana dengan Dunia Astral?! Bukankah dirimu baru saja mengklaim tahta itu dan mendirikan negeri untuk bangsa kami?! Kenapa⸻?”
“Alasannya adalah negeri ini sendiri ….” Odo menyela, memperlihatkan ekspresi malas dan tampak enggan untuk menjelaskan. Setelah berdecak kesal, pemuda rambut hitam itu dengan suara lantang menegaskan, “Negeri ini bermasalah!”
“Ne-Negeri ini?” Vil kebingungan, lekas menggeleng-gelengkan kepala dan kembali bertanya, “Maksudmu?! Kerajaan Felixia ini masalahnya? Apanya?!”
“Negeri ini! Kerajaan ini! Semuanya yang ada di tempat ini adalah altar ritual!” Odo menahan napas sejenak. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, ia tanpa pikir panjang lanjut menjelaskan, “Felixia adalah altar berukuran sangat masif dan rumit. Aku tidak mau lama-lama berdiri di sini, bahkan sekarang pun diriku sangat cemas! Itu bisa aktif kapan saja ….”
“Altar apa?” Vil tidak ingin menerima fakta tersebut, tatapannya seketika terlihat kosong seolah-olah berhenti berpikir. “Memangnya ritual apa yang Odo maksud?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Namun, intinya tempat ini secara keseluruhan adalah sebuah altar ….” Odo sekilas mengangkat bahu, menggelengkan kepala tanpa memberikan jawaban yang jelas. Tidak ingin memperpanjang pembicaraan, pemuda rambut hitam itu mulai berspekulasi, “Dari tata letak kota, topologi wilayah, rute perdagangan, dan bahkan tiap batas antara teritorial. Semuanya adalah komponen ritual.”
“Tidak mungkin! Itu tidak mungkin!” Vil membantah dengan tegas. Ia mengentakkan tongkat ke lantai, lalu dengan suara lantang membentak, “Apanya yang komponen ritual?! Jangan mengada-ada! Odo pikir diriku akan percaya hal semacam itu?!”
“Dewi Kota ….” Odo mengatakan itu dengan nada berat, menatap tajam dan lanjut menegaskan, “Kerajaan ini didirikan oleh Dewi Kota, Asmali Oraș Mondial⸻ Entitas ilahi dengan kemampuan khusus topografi, spesialis penataan tempat.”
“Tetap saja ini tidak masuk akal! Kenapa dirinya ….” Vil tertegun, mengingat sesuatu dan langsung terbelalak. “Se-Sebentar! Semua kota di Felixia memiliki topologi unik! Setiap bangunan disusun membentuk struktur sihir, berfungsi untuk meningkatkan keamanan dan kemampuan militer kota. Berarti⸻!”
“Tepat sekali, seluruh kota di Felixia dibangun dengan tujuan khusus ….” Odo bertepuk tangan sekali untuk mengurangi ketegangan, lalu sejenak menahan napas dan lanjut menyampaikan, “Tata letak kota yang unik diterapkan bukan hanya sebagai pelindung, namun juga komponen dari struktur raksasa. Sejak awal Kerajaan Felixia didirikan untuk hal tersebut. Lagi pula, asal usul negeri ini pun sangat mencurigakan, bukan?”
“Ta-Tapi! Tidak mungkin orang-orang di negeri ini mau mengaktifkannya!” Vil tetap bersikukuh. Tidak ingin menerima fakta tersebut, menghiraukan risiko yang ada dan tetap membujuk, “Pasti ada jalan lain! Sa-Saat nanti naik tahta dan menjadi Raja Felixia, Odo bisa mengubah tata letak kota supaya altar dan struktur sihir itu⸻!”
“Pihak Religi!” Odo menyela dengan tegas. Ia perlahan memperlihatkan ekspresi pasrah, lalu dengan nada lemas lanjut menyampaikan, “Orang-orang puritan, Imam Kota, dan Pontiff. Mereka merupakan komponen aktivasi ritual yang sangat jelas ….”
“Ti-Tidak mungkin …! Ini tidak mungkin!” Vil enggan menerima fakta tersebut. Ia lekas menunjuk Odo dengan kesal, lalu memalingkan pandangan dan bergumam, “I-Ini terlalu gila! Jika benar, memangnya beliau ingin melakukan apa dengan struktur sihir sebesar itu?”
“Apa yang aku katakan hanyalah spekulasi ….” Odo menghela napas panjang, sedikit menundukkan kepala dan lanjut berkata, “Ada juga kemungkinan altar itu lebih luas dari wilayah Felixia, bisa saja sampai ke Kekaisaran, atau bahkan seluruh Daratan Michigan. Karena itulah, aku harus pergi dan memastikannya.”
“Bagaimana dengan Mavis?!” Vil lanjut membujuk, ia tidak ingin pemuda itu pergi. Air mata mulai berlinang, membasahi pipi dan jatuh ke lantai. “Jika engkau pergi, dirinya⸻!!”
“Ayah akan menjaganya ….” Odo segera berbalik, lalu berjalan menuju pintu keluar sembari menambahkan, “Kau tak perlu cemas, ini sudah tepat.”
“Dart?” Vil sedikit memiringkan kepala, segera menyeka air mata dan kembali meragukan, “Bukankah dia berada di Ibukota? Mengurus persiapan perang serta kewajibannya sebagai bangsawan ….”
“Aku sudah bicara dengannya ….” Odo Luke terhenti, lekas berbalik dan menatap datar. Sekilas melempar senyum kaku, pemuda rambut hitam itu dengan suara lemas lanjut berkata, “Mereka pasti mengerti. Bahkan jika yang tersisa hanyalah kepedihan, Ayah dan Bunda pasti akan menerimanya.”
“Tidak boleh!! Bagaimana dengan Julia?! Fiola?! Mereka pasti akan sangat cemas!” Vil langsung mendekat, lalu meraih tangan kanan pemuda itu dan lanjut membujuk, “Odo tidak bisa pergi dan meninggalkan mereka begitu saja!”
“Haruskah diriku melakukannya, Vil?” Odo memiringkan kepala, lalu menatap tajam dengan ekspresi kesal. “Buang-buang waktu saja!” ujarnya seraya melepaskan tangan perempuan itu dengan kasar.
“Paling tidak!!” Vil kembali meraih tangan pemuda itu, menggenggamnya dengan erat dan meletakkannya ke depan dada. Sembari menatap dengan mata yang berkaca-kaca, Roh Agung tersebut dengan gemetar berkata, “Tolong … Odo! Tolong … bicarakan ini dengan orang-orang yang peduli denganmu! Jangan … menanggung semuanya sendiri.”
“Maaf, Vil …. Ini sudah tepat, diriku harus terus melangkah.” Odo melepaskan tangan perempuan itu dengan lembut. Ia sekilas memalingkan pandangan, enggan menatap dan mulai berubah pikiran. “Jika kau ingin ikut, aku tidak keberatan. Namun, pahamilah, ini adalah perjalanan satu arah. Tolong pertimbangkan baik-baik,” ujarnya dengan lirih.
“Kenapa?” Vil melepaskan tangan pemuda itu, melangkah mundur dan menundukkan kepala. Tubuhnya gemetar, segera menghapus air mata, dan berusaha mempertimbangkan tawaran tersebut dengan kepala dingin. Ia tidak bisa langsung mengangguk, paham dengan risiko dan konsekuensi yang ada. “Kenapa harus seperti ini?!” tanyanya seraya mengernyit.
Vil mengangkat wajah berlinang air mata, menatap pasrah sembari menggertakkan gigi. Perlahan mulutnya terbuka seakan ingin membujuk, namun kembali tertutup karena paham itu hanya akan berakhir sia-sia.
“Baiklah ….” Odo memaklumi keputusan tersebut. Segera memalingkan pandangan dan menatap Leviathan, ia dengan senyum ramah lanjut menawarkan, “Bagaimana denganmu? Mau ikut? Atau kau ingin pergi mencari⸻?”
“Saya ikut! Lagi pula, diriku tidak punya tempat untuk pergi ….” Leviathan mengendus kesal, sekilas menggelengkan kepala dan lanjut berkata, “Kamu juga harus diawasi, sih!”
“Wow! Perhatian sekali!” Odo mengangkat alis, sedikit memalingkan pandangan dan menggoda, “Sejak kapan kau peduli denganku, Putri Leviathan?”
“Siapa yang peduli denganmu, Iblis!” Leviathan mengerutkan kening, mengepalkan tangan kanannya dan mengancam pemuda itu. “Hanya Ayunda yang diriku cemaskan!”
__ADS_1
“Dasar Siscon ….” Odo mengendus ringan. Ia segera memalingkan wajah, lalu menatap Vil dan kembali menawarkan, “Bagaimana denganmu?”
ↈↈↈ