
“Engkau tidak perlu mencibirnya sampai seperti itu, Odo.” Leviathan menepuk pundaknya dari belakang, membuat pemuda itu menoleh dan kembali menyampaikan, “Meski hanya untuk mengetes, apa yang kami lakukan ini memang terlalu berlebihan. Maaf, ya ….”
Mimik wajah Odo sedikit terkejut saat mendengarnya, melangkah menjauh dan berbalik menghadap Putri Naga tersebut. Samar-samar merasa janggal dengan reaksi Leviathan selama Diana menyerang, tatapannya seketika berubah tajam setelah menyadari sesuatu.
“Mengetes?” Mimik wajah angkuh seketika berubah menjadi kesal. Merasa muak dan lelah dengan hal semacam itu, Odo Luke langsung mengaktifkan Hariq Iliah pada tangan kanannya. Mengobarkan api merah gelap dengan ganas, pemuda rambut hitam tersebut dengan suara serak bertanya, “Untuk apa? Lelucon apa yang ingin kau tunjukkan, makhluk primal?”
“Lelucon?” Leviathan tersenyum tipis. Sekilas mengangkat kedua pundaknya dan tertawa ringan, wanita rambut perak abu-abu tersebut menjawab, “Ini bukan lelucon. Apakah engkau masih ingat pembicaraan kita sebelumnya? Ya, sebelum kita sampai di tempat ini ….”
“Mendirikan sebuah negeri ….” Sejenak menarik napas dalam-dalam, Odo lekas menyipitkan tatapan dan memadamkan apinya. Menonaktifkan sihir khusus Hariq Iliah, pemuda rambut hitam tersebut menekan tanda hitam sampai pada telapak tangan. “Dari awal kau memang ingin menawarkan hal tersebut? Menyiapkan banyak hal bahkan sebelum aku bangun, lalu melakukan lelucon seperti ini untut mengetes kelayakan ku?” tanyanya memastikan.
“Hmm, tepat. Jujur diriku sempat terkejut, siapa sangka engkau akan mengungkit topik seperti membangun negeri dan semacamnya waktu perjalanan kemari.” Leviathan tersenyum lebar, bertepuk tangan ringan dan kembali menyampaikan, “Diriku memang tidak salah menilai engkau! Meski punya sifat busuk dan sangat buruk, Odo Luke, engkau sangat kompeten dan punya kapabilitas yang memadai untuk menjadi seorang Maharaja.”
Odo tidak terlalu peduli dengan ambisi Leviathan. Sedikit janggal dengan pembicaraan yang tiba-tiba mengarah ke topik tersebut, ia lekas menoleh ke arah Vil dan Alyssum seakan ingin memastikan sesuatu. Menuntut penjelasan dengan tatapan datar.
Vil lekas memalingkan pandangan, memperlihatkan gelagat bahwa dirinya tahu dengan tawaran yang dibicarakan Leviathan. Berbeda dengan Siren tersebut, Alyssum benar-benar terlihat bingung seakan dirinya tidak pernah mendengar hal itu.
“Soal kau yang ingin memperbaiki Dunia Astral, apa semua itu hanya kebohongan?” Odo kembali menatap makhluk primal itu. Sembari menunjuk lurus dan menajamkan tatapan, pemuda rambut hitam tersebut melebar senyum kecut dan memastikan, “Lagi pula, bukankah kau ingin menyelamatkan adikmu? Apa itu juga bohong?”
“Tentu saja tidak!” Leviathan langsung tersinggung. Sedikit memperlihatkan mimik wajah kesal, wanita muda rambut perak abu-abu tersebut menegaskan, “Diriku sama sekali tidak berbohong! Baik itu tentang memperbaiki Dunia Astral maupun menyelamatkan Mariana, diriku benar-benar ingin melakukannya! Untuk itulah kita harus menciptakan negeri di Dunia Astral!”
“Kenapa bisa ujung-ujungnya begitu? Apa hubungannya …?” Kening Odo berkedut kencang, kedua alisnya turun dan bibirnya sedikit masuk ke dalam mulut. Menghela napas dan berusaha untuk tetap tenang, pemuda rambut hitam tersebut lekas menunjuk ke arah Diana dan berkata, “Terlebih lagi, aku baru saja diserang olehnya! Kau ingin aku mengangguk dan setelah omong kosong itu?!”
“Ini memang terdengar tidak masuk akal, jika berada di posisi engkau pasti diriku juga takkan percaya. Namun ….” Leviathan melebarkan senyum penuh rasa percaya diri. Berdiri menghadap pemuda rambut hitam tersebut, dirinya lekas berlutut dengan hormat dan kembali menyampaikan, “Engkau membutuhkan sumber daya! Entah itu pasukan, para ahli, orang-orang berkompetensi, maupun kaki tangan yang dapat diandalkan! Engkau membutuhkan semua itu untuk mengalahkan sang Dewi! Selagi menundukkan Putri Naga ini, tidak ada salahnya engkau menggandeng seluruh Roh Agung sebagai bonus, bukan?”
“Omong kosong ….” Tawaran itu memang sangat menggoda, namun terlalu mulus untuk menjadi sebuah kenyataan. Berhenti menunjuk dan lekas menatap Vil, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas bertanya, “Kau juga sudah tahu omong kosong ini? Kau juga setuju dengannya, Vil?!”
“Itu⸻!” Perkataan Vil terhenti, ia tidak bisa langsung menjawab dan malah memalingkan pandangan. Kembali menatap lawan bicaranya dengan keraguan, Roh rambut biru laut tersebut menjelaskan, “Maaf Odo, ini memang terlalu tiba-tiba. Engkau juga baru saja siuman, namun ….”
“Apa …?” Odo berhenti bersifat ramah. Berjalan menghampiri Roh Agung tersebut, ia mendekatkan wajah dan menatap kesal. “Asal kau tahu, Vil! Yang aku butuhkan itu hanyalah kau! Reyah! Dan ular laut itu!” tegasnya seraya menunjuk ke arah Leviathan.
Sedikit tersinggung, Leviathan segera bangun dan berkata, “Paling tidak tolong sebut diriku Sea Serpent⸻!”
“Diam kau!” bentak Odo lantang. Kembali menatap Vil dan memegang erat kedua sisi pundaknya, pemuda rambut hitam tersebut kembali menegaskan, “Mungkin kau merasa tidak berguna karena tidak banyak membantu saat Penaklukan. Namun, bukan karena itu aku membutuhkan kalian! Tolong mengertilah!”
Untuk sesaat, suasana berubah menjadi sunyi. Suara hembusan angin yang menerpa dedaunan kelapa terdengar jelas, hentakan gelombang yang tidak terlalu kencang pun sampai terasa getarannya.
Pada momen tersebut, Diana yang seharusnya mendapatkan luka yang sangat parah kembali bangkit. Luka pada seluruh tubuhnya dengan cepat tertutup kembali, pulih seakan-akan Roh Agung tersebut memiliki unsur keabadian dan kemampuan regenerasi yang sangat cepat.
Diana bangkit dengan gestur tubuh yang sangat lentur, kembali berdiri tegak dan melempar senyum sinis kepada Vil yang telah menyerangnya dengan telak. Setelah meregangkan leher dan pinggan, Roh Agung berkulit gelap eksotis tersebut pindah menatap Odo Luke.
Melihat seluruh luka Diana pulih dengan sangat cepat, Odo sedikit terkejut karena paham itu bukanlah sihir regenerasi maupun teknik pemulihan. Menggunakan kemampuan Penglihatan Jiwa, pemuda rambut hitam tersebut samar-samar menyadari perubahan warna aura pada Roh Agung itu.
“Komposisi jiwanya berubah?” gumam Odo seraya mengangkat tangannya dari Vil. Melangkah menjauh dan menatap sedikit pucat, pemuda rambut hitam tersebut dengan cemas kembali berkata, “Berarti dia bisa melakukan Shift menggunakan jiwa mangsanya? Stock cadangan nyawa?”
__ADS_1
“Oh, engkau paham dengan konsep tersebut?” Diana berhenti melebarkan senyum. Meski penampilannya sama sekali tidak berubah, suara Roh Agung berkulit gelap tersebut terdengar sedikit lebih halus dari sebelumnya. Sembari berjalan mendekat, wanita rambut putih uban tersebut mengulurkan tangannya dan berkata, “Tolong maafkan saya karena telah berbuat kasar kepada engkau, wahai calon penguasa kami.”
Odo semakin menjaga jarak, karena rasa cemas wajah perlahan berubah pucat dan berakhir tidak fokus dengan pembicaraan. Melihat komposisi jiwa Diana yang perahan berubah mengikuti pola frekuensi tertentu, pemuda itu langsung terkejut setelah menyadari sesuatu.
Koloni Aeons ⸻ Komposisi yang membentuk kehidupan Roh Agung tersebut tidaklah tunggal. Dirinya terdiri dari beberapa kelompok Daath, dengan kata lain memiliki banyak kepribadian yang saling beresonansi dalam satu raga.
Masing-masing jiwa terpisah dan merupakan kepribadian yang independen, namun saling terhubung dalam satu kehendak tunggal. Layaknya sarang semut berjalan, bentuk kehidupan Roh Agung tersebut terdiri dari ratusan jiwa yang selaras.
“Sebentar, kau perwujudan populasi kehidupan?!” Odo memperlihatkan ekspresi sedikit jijik. Kembali teringat dengan sebuah momen mengerikan di Dunia Sebelumnya, pemuda rambut hitam tersebut dengan ketus menyampaikan, “Serius? Ini bahkan lebih buruk dari Alter maupun kepribadian ganda! Apa-apaan itu? Multi-Kepribadian dengan satu kehendak? Basis informasi dari Monophobia?”
“Anda bisa melihatnya dengan mata itu, ya? Apakah itu kemampuan Spektator Jiwa?” Diana sedikit penasaran, baik itu perkataan Odo maupun kemampuan Mata Batin milik Putri Arteria yang ada padanya. Berhenti mendekat dan mengamati dengan saksama, Roh Agung tersebut melipat kedua tangan ke belakang dan memastikan, “Tuan Odo mendapatkan Mata Semesta itu dari Ratu kami?”
Cara bicara, gestur, dan sikap Diana sepenuhnya berubah. Dalam sekali lihat, Odo tahu bahwa hal tersebut bukanlah akting ataupun kepura-puraan. Layaknya kepribadian yang telah dikonversi secara penuh, wanita itu benar-benar terlihat seperti individu yang berbeda dari sebelumnya.
“Jika yang kau maksud Penatap Jiwa, itu benar. Aku menyalinnya dari Arteria.” Odo berhenti menjaga jarak. Sembari menutup sebelah mata dengan telapak tangan, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Sekarang giliranku mendapatkan jawaban, kau itu … individu populasi? Simbiosis Kepribadian? Atau ….”
“Kesatuan jiwa dengan satu kehendak,” jawab Diana dengan senyum ringan. Sedikit membuka mulut seakan ingin menunjukkan tarinya, Empusa berumur panjang tersebut lanjut menjelaskan, “Darah adalah katalis jiwa. Lalu, menghisapnya merupakan bentuk penyatuan dan penyelarasan bentuk kehidupan. Berbeda dengan siklus hidup Roh Agung lainnya, diriku hanya memiliki satu raga dengan beragam kepribadian yang dapat berganti-ganti.”
“Ugh! Benar-benar entitas Multi-Kepribadian ….” Odo langsung menghela napas panjang. Seakan muak dengan hal semacam itu, pemuda rambut hitam tersebut kembali mengeluh, “Serius? Dia juga menyalin konsep sialan ini? Padahal aku sudah menghancurkannya bersama Bahtera.”
“Multi-Kepribadian? Bahtera?” Diana tampak bingung saat mendengar hal tersebut.
“Ya!” Odo menghentakkan kakinya ke atas pasir. Setelah menghela napas resah, ia lekas menunjuk Roh Agung tersebut seraya berkata, “Kau merupakan manifestasi dari bentuk kesatuan jiwa, ‘kan?”
“Benar. Kurang lebih, siklus hidupku memang begitu,” jawab Diana dengan wajah heran.
“Tidak ….” Mimik wajah Diana tampak semakin heran karena kesalahpahaman yang ada.
“Kalian juga punya sistem demokrasi sendiri, punya rantai kepemimpinan untuk mengendalikan satu tubuh dan menggerakkannya secara bersama⸻!” Perkataan Odo seketika terhenti karena jawaban tersebut. Menatap dengan kedua alis turun, pemuda rambut hitam itu lekas memastikan, “Sebentar! Berarti kepribadian tadi mati?”
“Hmm, perempuan yang dihabisi Vil hanyalah serpihan jiwa,” jelas Diana seakan itu hanyalah hal sepele. Kembali memperlihatkan wajah kalem, sosok Empusa tersebut membuka telapak tangannya dan lanjut menjelaskan, “Tepatnya, dia adalah seorang jenderal Kekaisaran yang pernah diriku mangsa saat Perang Besar berlangsung. Bukanlah dia luar biasa? Ganas dan anggun layaknya singa, namun sangat naif serta keras kepala.”
“Sebentar!” Rasa bersalah langsung menyerang Vil saat mendengar itu. Wajahnya seketika berubah pucat, lalu tubuh pun gemetar dengan mulut sedikit terbuka. Sembari mengambil langkah menjauh, dengan tatapan buncah sang Siren segera bertanya, “Engkau mati hanya karena satu pukulan? Ti-Tidak mungkin, lah! Meski paling lemah, engkau masih seorang Roh Agung ….”
“Vil, tentu saja dia mati karena kau tidak kira-kira dan memukulnya sekuat tenaga. Lagi pula, dia juga sudah pendarahan parah dan sirkuit sihirnya rusak. Malah aneh kalau masih hidup setelah terhempas begitu ….” Odo melirik dengan tatapan datar, memperlihatkan mimik wajah cemas dan kembali berkata, “Kau baik-baik saja, ‘kan? Apa akal sehatmu jadi aneh karena terlalu lama mengurung diri di Perpustakaan? Pulang kampung malah jadi gila, ya?”
“Tentu saja tidak!” Vil langsung kesal sampai kedua alisnya turun. Memperlihatkan wajah cemberut di balik cadar, Roh Agung rambut biru laut tersebut lekas mengelak, “Hanya saja⸻!”
“Ah, aku tidak terlalu peduli.” Odo balik menatap Diana untuk melanjutkan pembicaraan.
“A⸻! Odo! Kau ini!!”
Melihat candaan pemuda itu seakan sedang menggoda kekasihnya, semua Roh Agung di tempat itu seketika memperlihatkan ekspresi wajah datar dengan kompak. Berbeda dengan mereka, Leviathan malah tertawa ringan seakan sedang ikut mempermainkan Vil.
__ADS_1
“Jadi, Odo Luke ….” Putri Naga berjalan mendekat sembari berusaha menahan tawa. Berdiri di sebelahnya dan menatap dari dekat, wanita rambut perak abu-abu tersebut sekali lagi menawarkan, “Maukah engkau menjadi Raja kami?”
“Ini salah,” jawab Odo singkat. Perlahan menoleh dan menatap serius, di bawah paparan sinar mentari pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Prosedur, proses, dan tahapannya sangat tidak sesuai. Kalau ini terus dilanjutkan, kemungkinan besar negeri yang kau inginkan takkan tercipta. Itu hanya akan berakhir menjadi komunitas semu dengan tatanan kemunafikan.”
“Maksud engkau, diriku hanya bicara omong kosong?” Leviathan melipat kedua tangan ke belakang punggung. Sembari berjalan memutar dan berdiri di hadapan Odo, wanita muda rambut perak abu-abu tersebut menyampaikan, “Jika memang seperti itu, seharusnya apa yang perlu diriku lakukan untuk mewujudkannya? Apa yang harus kami lakukan untuk menciptakan negeri impian tersebut?”
“Kau baru saja bebas, ‘kan?” Odo memperlihatkan mimik wajah terusik. Memalingkan tatapan dan terlihat sangat enggan, pemuda itu dengan nada cemas kembali bertanya, “Untuk apa Putri Naga sepertimu melakukan semua ini? Bukankah kau baru saja mendapatkan kebebasan? Seharusnya kau tidak punya alasan untuk terikat dengan hal semacam itu, bukan?”
“Tentu saja ada, bahkan diriku sampai punya tiga alasan untuk melakukannya.” Leviathan mengangkat tangan kanan setinggi dada. Sembari mengacungkan tiga jarinya, wanita muda rambut perak abu-abu tersebut dengan penuh rasa percaya diri menyampaikan, “Yang pertama seharusnya engkau sudah tahu, diriku ingin menyelamatkan Mariana. Untuk alasan yang kedua, diriku juga ingin menghabisi Dewi Helena. Sebab itulah, sumber daya sangat diperlukan supaya dapat mewujudkannya. Lalu, mendirikan sebuah negeri adalah cara tercepat untuk mendapatkannya.”
Meski tidak bisa menerima alasan tersebut secara penuh, Odo paham bahwa mendirikan negeri adalah metode paling cepat untuk mengumpulkan kekuatan. Apalagi jika negeri tersebut berdiri di Dunia Astral yang diisi oleh bangsa Roh, tentu saja hal itu bisa menjadi fondasi kekuatan yang sangat menguntungkan.
“Tetap saja ini salah ….” Putra Tunggal Keluarga Luke tidak bisa langsung mengangguk setuju. Berdecak dengan mimik wajah kesal, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Tak perlu berkelit lagi, sebutkan saja alasan yang terakhir? Itu maksudmu yang sesungguhnya, ‘kan?”
“Tepat sekali, engkau memang punya insting yang tajam.” Leviathan berhenti memasang senyum palsu. Memperlihatkan kebencian yang jelas, Putri Naga tersebut dengan nada menekan langsung menjawab, “Alasan mengapa diriku ingin menjadikan engkau Raja sangatlah sederhana. Diriku hanya … ingin meminta pertanggungjawaban.”
“Huh?” Odo seketika tercengang.
“Ayunda memang sudah menegaskan bahwa tragedi itu bukan kesalahanmu! Ayunda juga meminta diriku untuk berada di pihak engkau! Namun! Tetap saja diriku tidak bisa menghapus kebencian ini! Mungkin … sampai akhir diriku tetap akan membencimu.” Leviathan meletakkan kedua telapak tangan ke depan dada. Sembari merasakan detak jantungnya sendiri, wanita muda rambut perak abu-abu tersebut kembali menegaskan, “Sampai kini diriku masih membenci engkau. Kalau saja makhluk sepertimu tidak ada, mungkin saja Dewi sialan itu takkan pernah melirik makhluk primal dan menghancurkan peradaban kami.”
Odo tertegun tanpa bisa membalas. Mendengar alasan Leviathan, pemuda itu tidak bisa menghindar dengan silat lidah. Itu adalah tanggung jawabnya, tidak boleh dilempar ataupun ditelantarkan. Sebuah kesalahan dan tragedi yang muncul karena eksistensinya di dunia.
Mimik wajah enggan berubah menjadi pasrah. Layaknya orang tua yang sudah tidak bisa melepas tanggungjawab pekerjaanya, pemuda rambut hitam tersebut dalam benak memutuskan untuk setuju meski sebenarnya tidak mau.
“Kau sudah punya rencana untuk membangun negeri impian itu?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut Odo membuat Vil dan Alyssum terkejut, begitu pula Diana yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka. Merasa bahwa pemuda itu terlalu mudah menyerah setelah mendengar alasan Leviathan, seakan-akan didorong oleh sebuah rasa bersalah yang kuat.
“Tentu saja sudah, namun ….” Leviathan menurunkan kedua tangan dari dada. Sembari berjalan mendekat dan meraih tangan kanan Odo, wanita muda rambut perak abu-abu tersebut dengan lembut berkata, “Engkau pasti punya rencana yang lebih matang, bukan?”
“Ya, akan aku pikirkan.” Odo tidak menolak atau menjaga jarak, sepenuhnya pasah dengan beban lain yang dirinya harus pikul.
“Engkau tahu, Odo Luke ….” Leviathan tahu dirinya hanya sedang memaksakan tanggungjawab. Namun, wanita muda itu tidak berhenti dan kembali berkata, “Saat bertemu setelah sekian lama berpisah, Ayunda malah lebih suka membicarakan engkau daripada bertanya tentang diriku. Ini menyebalkan, namun rasanya lega karena bisa melihatnya tersenyum seperti itu saat bercerita tentang dirimu.”
“Kalian kakak-beradik memang menyusahkan,” ujar Odo seraya memalingkan pandangan. Menghela napas dan sejenak memejamkan mata, pemuda itu lanjut berguam, “Ujung-ujungnya berakhir seperti ini ....”
Layaknya bunga yang perlahan layu, tatapan Odo tampak semakin suram saat memikirkan langkah berikutnya. Menundukkan wajah dan kembali menghela napas, pemuda itu merasa bahwa hal tersebut merupakan alur yang telah direncanakan Helena.
Sejenak membuka telapak tangan kanan dan menatapnya, Odo Luke merasa seperti sedang terjerat tali boneka dalam sebuah pertunjukan. Dikendalikan oleh kehendak yang terkesan samar dan buram, tetapi pada saat bersamaan terasa kuat dan sangat terarah. Seakan-akan memiliki tekad tak terbantahkan di dalamnya.
.
.
__ADS_1
.
.