Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[89] Dekadensi Kota Rockfield VI – Paradigm (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


 


Matahari terbenam, gugusan bintang mulai mengisi langit, dan angin malam pun berhembus pelan melewati sela-sela bangunan. Tidak seperti saat sore, ketika malam datang balai kota dengan cepat diselimuti kesunyian.


 


 


Di pusat kota tidak lagi banyak yang lalu-lalang, hanya ada beberapa dari mereka yang berjaja dan segelintir orang yang baru saja pulang.


 


 


Seakan ada peraturan tidak tertulis, penduduk yang mengisi Kota Pegunungan pun berganti ketika malam menguasai. Dari orang-orang yang mengenakan pakaian dengan pantas dan tampak bermartabat, mereka digantikan oleh para gelandangan dekil yang mulai memenuhi beberapa sudut kota.


 


 


Para gelandangan keluar, dari dalam gang-gang tempat mereka bersemayam saat siang dan disembunyikan oleh kabut. Ketika malam datang, waktu seakan menjadi milik mereka dan secara serempak bergerak untuk menjadi penikmat hak malam orang-orang terpinggirkan.


 


 


Mereka mengais sisa-sisa makanan yang dibuang oleh restoran ataupun toko, berjalan tanpa tujuan pasti, atau bahkan mencari mangsa untuk dirampok. Sampah masyarakat, itulah bagaimana mereka dipandang oleh kebanyakan orang di kota.


 


 


Seakan-akan pasrah dengan keadaan yang terjadi sudah lama, para penjaga yang ada di sekitar balai kota hanya membiarkan. Tidak melakukan sesuatu untuk mencegah kejahatan yang mungkin akan terjadi, lalu hanya berdiri di depan bangunan-bangunan pemerintah dan menjalankan tugas utama mereka saja.


 


 


Itu adalah rahasia umum di dalam militer Rockfield, memahami bahwa para gelandangan bukanlah masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah dengan kekerasan. Orang-orang terpinggirkan dari lingkup masyarakat itu tidak sepenuhnya berasal dari penduduk asli Kota Pegunungan, sebagian merupakan budak yang ditelantarkan Tuan mereka ataupun orang-orang yang gagal mencari peruntungan.


 


 


Dalam penanganan pihak pemerintah tidak bisa bertindak ceroboh, karena secara hukum sebagian besar dari gelandangan adalah orang tanpa tanda kependudukan Kerajaan Felixia. Namun, itu juga tidak bisa membuat pemerintah kota langsung mengusir mereka mengingat adanya pengaruh Pihak Religi.


 


 


Pembiaran tersebut juga bukan tanpa alasan. Pihak pemerintah kota telah membuat sebuah perencanaan seperti mengusir ataupun memberdayakan para gelandangan tersebut, demi untuk memperbaiki kualitas keamanan kota. Namun karena insiden yang terjadi pada musim dingin tahun lalu, semua wacana tersebut seakan hilang ditelan lumpur dan tidak lagi naik untuk dibahas dalam rapat pemerintah.


 


 


Hasilnya, para gelandangan masih merajalela. Bahkan jumlah mereka terus bertambah karena kondisi perekonomian Kota Rockfield semakin memburuk, sebab para pedagang yang seharusnya memajukan roda perekonomian malah diserang oleh para monster. Itu mengakibatkan lajur keuangan terhenti dan dana pengembangan kota harus dipotong untuk hal lain.


 


 


Keluar dari bangunan Kantor Pusat Administrasi, Odo sejenak menghentikan langkah kaki setelah menuruni anak tangga. Beberapa pejabat yang kerja lembur ada yang menatapnya dari pintu utama, lalu ada juga yang melihat dari dalam bangunan melalui jendela. Seakan tidak memedulikan mereka, pemuda rambut hitam itu malah merentangkan kedua tangan ke atas dan meregangkan tubuh.


 


 


“Nona Rosaria, agenda hari ini selesai. Pulanglah dan istirahat, kita akan bicarakan agenda selanjutnya besok saja,” ujar Odo seraya berbalik ke arah perempuan yang mengikutinya. Sedikit memberikan tatapan datar dan menurunkan kedua tangan, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berkata, “Untuk besok, saya harap Nona tidak mengenakan pakaian biarawati. Coba gunakan pakaian yang mudah bergerak. Apa Nona tidak risih mengenakan pakaian seperti itu?”


 


 


“Sama sekali tidak, Tuan Odo.” Rosaria sekilas menundukkan kepala dengan hormat. Menatap lawan bicara dengan lembut, Pendeta Wanita itu meletakkan tangan kanan ke depan dada dan menyampaikan, “Saya terbiasa mengenakan pakaian ini. Namun, jika Anda berkata demikian, saya tidak keberatan memakai pakaian lain.”


 


 


“Itu tidak melanggar larangan kepercayaanmu, ‘kan?” tanya Odo memastikan.


 


 


“Jika itu tidak terlalu terbuka, saya rasa tidak masalah. Lagi pula, ini bukan berarti saya hanya memiliki pakaian biarawati untuk pergi keluar.”


 


 


Jawaban tersebut membuat Odo tertegun. Setelah menarik napas dalam-dalam, pemuda rambut hitam itu menatap ke arah balai kota dan kembali bertanya, “Apa Nona kenal dengan Siska? Seorang Pendeta dari Kota Pesisir yang mengurus panti asuhan di sana.”


 


 


“Eng, maksud Anda Nona Inkara?”


 


 


“Hmm, Siska Inkara.”


 


 


Rosaria terdiam sesaat, kembali mengingat-ingat perempuan yang disebutkan Odo. Sejenak menarik napas dalam-dalam dan memasang wajah sedih, Pendeta Wanita itu berkata, “Ia adalah perempuan yang tangguh. Saya cukup kenal dengan Nona Inkara. Kami berdua pernah dipanggil ke Ibukota untuk menerima berkah, kami juga saling kenal di sana.”


 


 


Odo hanya menoleh ringan karena tidak mengharapkan jawaban selengkap itu. Memasang senyum tipis dan merasa sayang disayangkan jika pembicaraan ditutup begitu saja, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan nada bangga berkata, “Saya juga kenal dengan Mbak Siska, begitu pula anak-anak yatim piatu di sana. Dia perempuan yang sangat baik dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Ngomong-omong, di sini juga ada panti asuhan, ‘kan?”


 


 


Rosaria memasang senyum ringan karena senang dengan pembahasan tersebut. Sembari menyatukan kedua tangannya seperti sedang berdoa, ia dengan penuh rasa lega menjawab, “Itu benar, Tuan Odo. Anak-anak yatim piatu di sana tinggal di Gereja Utama dengan sehat. Saya harap mereka bisa tumbuh menjadi anak yang berbakti bagi kelak.”


 


 


“Di Gereja Utama?” Odo berbalik, pura-pura tidak tahu dan kembali bertanya, “Bukan di bangunan panti asuhan?”


 


 


“Itu benar, mereka tinggal di Gereja Utama.” Rosaria berhenti menyatukan kedua tangan. Sembari menundukkan wajah dengan muram, Pendeta Wanita menyampaikan, “Jujur saya turut prihatin dengan Nona Inkara. Kalau tidak salah, beliau harus merelakan banyak anak dikirim ke kota lain karena fungsi panti asuhan di Gereja Utama Kota Mylta dihilangkan, bukan? Karena tidak terima dengan hal itu, saya dengar beliau bahkan rela menggunakan bangunan gereja tua dan membangun sendiri panti asuhan untuk mengurus anak-anak yatim piatu yang tersisa.”


 


 


Dikirim ke luar Kota, kata tersebut memang terdengar lembut. Namun, pada kenyataannya mengirim anak keluar kota sama saja dengan menjual mereka untuk dipekerjakan sebagai buruh kasar. Bagi kaum strata bawa atau bahkan para puritan, menanggung biaya hidup anak-anak bukanlah hal mudah.


 


 


Meski itu tidak mencangkup biaya pendidikan atau semacamnya, namun biaya makan saja sudah sangat sulit mengingat kondisi Kota Pesisir tahun kemarin. Memahami hal tersebut dengan sangat baik, Odo tidak berkomentar.


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke kembali menatap ke arah balai kota, melihat para gelandangan dan sekilas merasakan kemiripan mereka dengan para imigran gelap di Kota Pesisir. Tersingkirkan dari masyarakat, tidak memiliki pegangan dalam hidup, lalu jika terus dibiarkan pasti akan menimbulkan tindak kriminal.


 


 


Meski Odo tidak ingin ikut campur lebih dalam terhadap masalah di Rockfield, namun ia paham bahwa gelandangan merupakan masalah yang akan dirinya sentuh. Karena itulah, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Apa perlu aku urus juga masalah itu? Para yatim, gelandangan, dan masalah perekonomian di kota ini. Itu … berat untuk kalian, bukan?”


 


 


Pertanyaan itu membuat Rosaria terkesima. Meski itu hanyalah ucapan ringan tanpa perasaan kuat di dalamnya, Pendeta Wanita tersebut yakin bahwa Odo Luke mampu untuk melakukannya.


 


 


Meletakkan kedua telapak tangan ke depan dada, Rosaria memasang senyum hangat dan menjawab, “Jika hal tersebut merupakan harapan Tuan Odo, saya akan berterima kasih dan sekuat tenaga membantu Anda.”


 

__ADS_1


 


“Hmm, terima kasih ….”


 


 


Odo sejenak memejamkan mata, membuat sebuah file rencana di dalam kepala dan kembali menyusun ulang tujuan yang harus dicapai selama berada di Rockfield. Dalam batas waktu yang ditentukan sebelum duel, ia masih punya waktu tiga hari lagi termasuk hari sekarang. Dengan kata lain sekitar kurang dari 72 jam lagi.


 


 


Setelah batas waktu tersebut, Odo juga memiliki tenggang waktu beberapa hari lagi untuk menyelesaikan masalah Keluarga Stein sebelum rombongan Lisia sampai ke Rockfield. Memikirkan semua batas waktu yang ada, ia pada saat itu sadar bahwa banyak hal yang perlu dilakukan.


 


 


Pada saat yang sama, Odo sendiri sama sekali tidak merasakan sebuah tanggung jawab atas semua kondisi yang ada. Semua tindakan yang ia lakukan di Kota Pegunungan hanyalah untuk mengisi waktu, itulah yang dirinya yakini selama bertindak.


 


 


Namun setelah mengingat kembali pembicaraan dengan Jonatan, pemikiran itu perlahan luntur. Rasa keharusan mulai muncul menggantikan. Meski itu hanyalah sebuah insting yang samar-samar, Odo merasa kalau kondisi di Kota Pegunungan akan memiliki pengaruh besar jika tidak ditangani dengan serius.


 


 


Selain itu, ia juga sempat melihat sesuatu yang cukup mengejutkan di ruangan Jonatan Quilta. Sebuah lembar perkamen berisi rencana militer, memiliki stempel resmi dari Ibukota dan ditandatangani oleh Raja Gaile. Meski sekilas dan tidak melihat isinya secara penuh, Odo paham bahwa itu bukanlah sebuah surat kuasa biasa melihat siapa yang telah membuatnya.


.


.


.


.


 


 


“Peperangan di wilayah sendiri, ya.”


 


 


Setelah mengantar Rosaria kembali ke Gereja Utama, Odo berjalan di balai kota dan hendak pulang ke Kediaman Keluarga Stein. Meski seharusnya ia fokus dengan masalah Keluarga Stein, namun apa yang dipikirkannya adalah masalah lain.


 


 


Bukan tentang menyusun kalimat untuk menjelaskan rencana kepada Kepala Keluarga Stein yang sudah siuman, Putra Tunggal Keluarga Luke malah fokus terhadap kalkulasi yang didapat setelah melakukan pembicaraan dengan Jonatan.


 


 


Sembari melangkah di balai kota tanpa memedulikan semua orang yang ada di tempat tersebut, ia meletakkan tangan ke dagu dan kembali bergumam, “Raja Gaiel bukan orang yang mau mengorbankan wilayah sendiri, terutama Luke yang menjadi kekuatan utama Kerajaan Felixia. Jadi, apa mungkin ada kondisi khusus di Kekaisaran yang membuatnya harus menarik pasukan masuk ke wilayahnya sendiri? Tapi, alasan apa yang membuatnya sampai harus berperang di wilayah sendiri?”


 


 


Saat baru menaiki satu anak tangga pada jalan menuju Kediaman Stein, langkah kaki Odo terhenti. Menyadari sesuatu dari laporan yang sekilas ia lihat di kantor Jonatan, ia dengan segera mengambil beberapa kesimpulan.


 


 


“Perang gerilya ⸻ Satu-satunya pintu masuk pasukan Kekaisaran hanyalah di Lembah Gersang, jadi apa Raja Gaiel ingin membiarkan mereka masuk pada satu titik dan mengurangi jumlah mereka secara bertahap? Kalau tidak salah, aku pernah dengar kalau Miquator juga membatasi pergerakan militer di wilayah tersebut dan kondisi itu mendukung rencana perang gerilya. Namun, bagaimana kalau Kekaisaran menyadarinya? Jika mereka menggunakan langkah tidak biasa dan menyerang memalui jalur laut?”


 


 


Odo seketika menganga. Menurunkan tangan dari dagu, pemuda itu seketika menyadari fakta dari perkataannya sendiri. Jika memang Kekaisaran menggunakan jalur laut untuk menyerang, maka Teritorial yang bisa memberikan perlawanan paling cepat adalah Rockfield karena dekat dengan jalur laut yang ada.


 


 


Meski Rockfield memang memiliki laut dalam Teritorialnya. Tetapi, tidak ada satu pun pesisir karena hampir seluruhnya adalah tebing curam dengan bagian bawah adalah laut yang memiliki ombak-ombak ganas. Tebing-tebing itu sendiri memiliki tingkat kecuraman yang ekstrem sehingga tidak aman untuk dipanjat. Namun, jika hanya melewati jalur laut saja dan memutar hal tersebut sangat mungkin untuk dilakukan oleh Kekaisaran.


 


 


 


 


Jika Rockfield gagal mencegahnya dan itu benar-benar terjadi, dalam kemungkinan terburuk Kerajaan Felixia akan dipaksa melakukan perang besar-besaran di wilayah sendiri dan menderita kerugian infrastruktur dan perekonomian.


 


 


“Alasan Raja Gaiel mengirim Prajurit Elite adalah membuat penanganan untuk itu, ya? Jadi sebelum pasukan Kekaisaran datang, ia ingin menyiapkan kota untuk menghancurkan armada yang mungkin saja akan lewat. Meski tidak bisa mengusir sepenuhnya, itu bisa mencegah pembuatan markas musuh di wilayah sendiri. Tapi, kalau Kekaisaran juga mengambil langkah yang sama bagaimana? Kalau mereka membagi pasukan antara darat dan laut, apa yang akan Raja Gaiel lakukan? Apa persiapan mereka sudah matang? Mereka baru mulai persiapan perang pada awal musim semi, bukan? Sedangkan Kekaisaran sudah melakukan perang sipil sejak lama dan serangan kali ini adalah imbas dari perang mereka.”


 


 


Memikirkan berbagai macam kemungkinan yang ada, Odo tidak bisa mendapatkan kesimpulan yang pasti dari peperangan yang akan segera terjadi. Selain karena ia belum tahu gerakan yang diambil Kekaisaran sebagai langkah awal, faktor irregular seperti Kaisar Kedua juga merupakan hal yang membuat dirinya tidak bisa menyimpulkan dengan gegabah.


 


 


“Uwah~ ini sungguh menyebalkan. Jangan bilang kalau mereka menyerang Felixia hanya untuk menangkap dan membawa diriku ke Kekaisaran. Waktu itu aku langsung kabur dari Kaisar dan terjun bebas kayak orang sinting, sih. Aku harap dia menyerah dulu untuk sekarang.”


 


 


Menggelengkan kepala beberapa kali dan kembali melangkah, Odo memutuskan untuk meletakkan rasa cemas tersebut ke sudut kepala. Meski dalam benak diisi rasa gelisah, ia sadar tidak bisa melakukan apa-apa sebelum menyelesaikan masalah Keluarga Stein.


 


 


“Lebih baik aku selesaikan ini dulu dan kembali ke Mansion. Kalau aku membiarkan orang tua itu tidur terlalu malam, aku takut dia mati lebih cepat dari perhitungan ku.”


 


 


Setelah melepaskan kancing rompi merah yang dikenakan, Odo memasukkan kedua tangan ke saku celana. Memasang wajah sangar layaknya seorang preman dan mulai berakting sangar, ia sesekali melihat ke kanan dan kiri untuk menakuti para gelandangan yang ada di sekitar jalan.


 


 


Sembari menakuti mereka untuk menghindari masalah, Odo juga mencari seseorang di antara mereka. Pria tua yang kemarin malam dengan bodoh mencoba merampoknya, dialah yang Putra Tunggal Keluarga Luke cari di antara para gelandangan.


 


 


Memperlambat langkah kaki, kedua mata Odo sekilas terbuka lebar setelah melihat pria tua tersebut dalam gang gelap di antara bangunan penginapan dan toko. Pria tua itu duduk di atas permukaan susunan batu, bersandar dengan kedua kaki selonjor ke depan dan tampak sangat lusuh.


 


 


Awalnya Odo segera mendekat ke arahnya dan ingin melakukan pembicaraan penting dengan pria tua tersebut. Tetapi saat melihat anak perempuan yang bersembunyi di balik gelandangan itu, langkah kaki Odo seketika terhenti dengan wajah terkejut.


 


 


“Dia … punya anak?”


 


 


Odo benar-benar cemas dan tidak bisa memperkirakan hal tersebut. Seakan tidak menginginkan anak kecil di sebelah pria tua tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke mengerutkan kening dan berpikir untuk membunuhnya saja.


 


 


Membuka telapak tangan ke arah mereka. Lalu tanpa disadari oleh pria tua tersebut, ia mulai mengaktifkan Hariq Iliah dan hendak membunuh sang anak perempuan dengan manipulasi udara.


 


 


Tetapi saat melihat anak kecil tersebut bergerak dan memeluk sang pria tua karena kedinginan, Odo seketika berhenti. Kedua matanya terbuka dan segera menurunkan tangannya. Pada saat yang sama, ia langsung merasa hina karena ingin melakukan hal keji hanya karena kepentingan pribadi semata.


 


 

__ADS_1


“Setiap anak tidak bisa memilih tempat di mana mereka lahir. Itu benar, sejak dulu sampai sekarang memang seperti itu,” gumam Odo seraya memasang mimik wajah muram.


 


 


Mendengar apa yang dikatakan oleh Odo, sang pria tua terbangun dan perlahan membuka matanya. Dalam hitungan detik, ia seketika terkejut dan segera memeluk anak kecil di dekatnya. Menjauh, menatap penuh rasa waspada dan tercermin ketakutan dari wajahnya.


 


 


“Ka-Kau pemuda waktu itu? Apa yang kau inginkan?”


 


 


Pria itu segera berdiri sembari membopong sang anak perempuan yang masih tertidur. Menatap penuh rasa cemas, mengambil langkah ke belakang dan sampai membangunkan para gelandangan lain yang ada di gang tersebut.


 


 


Odo hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan itu. Menunjuk lurus sang pria tua, ia dengan senyum tipis hanya berkata, “Imarit … Swirea.”


 


 


Nama yang dilontarkan tersebut membuat sang pria tersentak, lalu gemetar dan tambah erat memeluk anak kecil dalam dekapan. Seakan apa yang dikatakan oleh pemuda itu membuat dirinya mengingat kembali masa lalu yang mengerikan, wajah pria tua itu seketika memucat.


 


 


“Kenapa bisa … kau tahu nama itu.”


 


 


Odo sekali lagi tidak menjawab pertanyaan pria tua tersebut. Bertepuk tangan satu kali, ia membuat suara menggema di gang dan membangunkan sang anak perempuan.


 


 


Anak perempuan berambut merah pendek tersebut perlahan membuka mata. Sembari menggaruk rambut urakan dan penuh kutu, ia mengusap pipi yang kusam dan melihat ke arah Odo dengan bingung.


 


 


“Kakak … siapa?” tanya anak perempuan itu dengan bingung. Ia perlahan melihat ke arah pria tua yang membopongnya. Saat tahu sang pria tua sedang gemetar ketakutan, anak perempuan itu segera memberikan tatapan permusuhan kepada Odo dan membentak, “Pergi! Jangan ganggu Paman Ferytan!!”


 


 


Odo tidak memedulikan ucapan anak kecil tersebut, hanya fokus menatap lurus ke arah sang pria tua. Sembari memasang senyum tipis Putra Tunggal Keluarga Luke pun berkata, “Jadi kau menggunakan nama seperti itu …. Biarlah, lagi pula aku datang menemui kau bukan untuk mengusik masa lalu.”


 


 


Peka dengan perkataan Odo, pria tua yang dipanggil Ferytan tersebut memberikan tatapan gelap dan dengan tegas bertanya, “Apa … yang kau inginkan? Kemarin kau datang dari Kediaman Stein, berarti kau tamu di sana, ‘kan? Apa akhirnya mereka ingin mengeksekusi ku?”


 


 


“Kau terlalu tinggi menilai dirimu.” Odo meletakan telunjuk ke depan mulut. Sembari perlahan menyeringai gelap di bawah paparan lampu kristal, Putra Tunggal Keluarga Luke menawarkan, “Daripada kau terus hidup seperti pecundang, bagaimana jika ikut denganku dan perbaiki nasibmu?”


 


 


“Diriku memang pecundang, namun aku tidak pernah menganggap cara hidup ini menyedihkan!”


 


 


Mendengar bagaimana pria itu membalas, Odo sempat terkejut dan menurunkan telunjuk dari depan mulut. Ia memasang senyum ramah dan menyerah dengan pendekatan secara dominasi. Sembari mengulurkan tangan ke depan, pemuda itu kembali menawarkan, “Aku hanya ingin bicara. Bisa ikut denganku sebentar? Akan aku traktir kalian makan. Kalian belum makan, bukan?”


 


 


Mendengar apa yang dikatakan Odo, perut anak perempuan yang bersama Ferytan berbunyi keras. Wajah kusamnya sekilas terlihat memerah, lalu anak itu pun menyembunyikan wajahnya ke tubuh pria yang membopongnya.


 


 


“Lihat, sepertinya dia juga lapar.” Odo menatap ke arah anak perempuan itu, lalu dengan nada ramah bertanya, “Nama kamu siapa, Adik Kecil?”


 


 


Anak perempuan itu perlahan menoleh, lalu sembari menatap malu-malu menjawab, “Lily’ami. Nama saya … Lily’ami.”


 


 


Odo sekilas menyipitkan tatapan saat mendengar cara anak perempuan itu berbicara. Seakan telah menyadari sesuatu, ia kembali bertepuk tangan satu kali dan berkata, “Sebenarnya Kakak hanya ingin mengajak kalian makan. Tapi, sepertinya Paman tidak mau. Apa Adik mau membujuk Paman?”


 


 


“Tapi …, Paman gemetar. Kakak … tadi seperti orang jahat,” ujar Lily’ami.


 


 


Mendengar alasan polos tersebut, Odo memasang senyum ramah dan berkata, “Kakak janji tidak akan melakukan apa-apa kepada kalian. Kalau mau, Kakak akan ajak kalian ke restoran yang ingin Adik Kecil datangi. Tidak perlu jauh-jauh, kok.”


 


 


Termakan bujukan tersebut, Lily’ami perlahan menatap ke arah Ferytan dan ingin membujuk. Namun, pria tua itu sama sekali tidak menatap balik dan hanya memperlihatkan mimik wajah waspada kepada Odo.


 


 


“Kau tidak perlu berkata manis, katakan saja tujuanmu!”


 


 


“Huh ….” Odo menghela napas, lalu sembari menatap datar dengan resah berkata, “Kalau aku jawab ingin mempekerjakan kalian, apa kau akan percaya?”


 


 


“Kalian?” Kedua alis Ferytan turun, Dengan rasa tidak nyaman dalam benak pria tua itu memastikan, “Lily’ami juga?”


 


 


“Kau tidak ingin dipisahkan dengan anak itu, ‘kan? Tenang saja, pekerjaan yang aku tawarkan tidak terlalu sulit.”


 


 


\===========================


Catatan:


 


 


Masih lanjut Dekadensi!


 


 


Yeah, terus-terus!


 


Catatan Kecil :


Fakta 021: Ri’aima selalu menganggap bangsawan lebih tinggi dari rakyat jelata, baik secara drajat kehidupan sampai aspek perlakuan. Namun, karena itu dia juga memiliki jiwa keadilan yang cukup tinggi.


 


 

__ADS_1


__ADS_2