
Pada lantai dua toko yang menjadi pusat manajemen Ordoxi Nigrum, sebuah rapat kecil dilakukan untuk meninjau progresif cepat yang bisa dikatakan mulai bergerak di luar kontrol mereka. Lampu kristal dinyalakan dengan terang meski masih siang, lalu orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut pun berdiri dengan wajah cemas dalam rapat yang ada.
“Ini benar-benar di luar dugaan, siapa yang menyangka dia telah membuat banyak langkah seperti ini sebelum pergi. Jujur saja aku bahkan tidak menyadarinya sama sekali sampai ini berlangsung,” ujar Arca Rein sembari meletakan dokumen yang telah diperiksa ke atas meja. Ia menarik kursi dari kolong, lalu duduk sembari memijat keningnya sendiri dengan lemas.
Di hadapan Putra Sulung Keluarga Rein tersebut hanya berdiri Elulu, Totto, dan Nanra. Selain mereka bertiga, semua pegawai utama lain masih bekerja sesuai tugas dan peran mereka dalam operasional perusahaan Ordoxi Nigrum seperti hari-hari biasanya.
Bahkan, sekitar setengah jam yang lalu pun mereka masih bekerja. Mereka bertiga berada di tempat tersebut karena memenuhi panggilan Arca untuk membahas progresif yang perlahan keluar dari perencanaan dan otoritas perusahaan.
“Tuan Arca ….” Elulu memberanikan diri untuk memulai pembicaraan, lalu sembari memasang senyum kecut mulai mengacungkan jarinya. “Kita benar-benar kekurangan tenaga dalam masalah yang ada, ini di luar kemampuan kita. Sebaiknya kita memang harus meminta bantuan orang dari Serikat Pedagang Lorian. Kita masih bekerja sama dengan mereka, seharusnya itu mudah untuk meminta bantuan,” saran perempuan rambut pirang kepang tunggal tersebut sembari menurunkan telunjuk.
“Elulu, kalau soal itu aku juga sudah beberapa kali memikirkannya ….” Arca memalingkan pandangan dan menghela napas, lalu dengan nada enggan menjelaskan, “Jika kita meminta bantuan mereka, kemungkinan besar keuntungan yang ada pun akan mengalir ke kantong mereka. Lagi pula ….”
“Lagi pula?”
“Odo melarang kita untuk meminta bantuan Serikat Lorian. Lebih tepatnya kepada Aprilo.”
Elulu dan orang-orang lain di tempat tersebut sempat terkejut. Memang jika dipikir kembali alasan Arca cukup masuk akal untuk tidak meminta bantuan Serikat Pedagang Lorian, namun mereka tidak menyangka kalau itu merupakan larangan langsung dari Odo.
Nanra mengambi kursi dari kolong meja dan mulai duduk di dekat Arca, lalu dengan mimik wajah serius ikut bertanya, “Apakah Tuan Arca tahu alasannya? Kenapa … Tuan Odo sampai memberikan larangan seperti itu?”
“Serikat Pedagang Lorian di kota ini hanyalah cabang,” ujar Arca sembari mengambil selembar perkamen dari tumpukan dokumen. Ia sejenak memeriksa isi perkamen tersebut dan menghela napas kecil, lalu kembali meletakkannya ke meja dan lanjut menjelaskan, “Karena itulah, kita tidak bisa terus bergantung kepada mereka. Ada kemungkinan kalau Kepala dari dari Serikat Pedagang Lorian mulai ikut campur dan berpikir untuk mengambil alih perusahaan swasta ini, lalu ada juga kemungkinan lain seperti mereka yang berada di cabang Mylta berpikir untuk mandiri.”
“Mandiri?” Mendengar hal tersebut, Elulu meletakkan tangan kanan ke depan mulut dan sedikit menundukkan kepala untuk berpikir. Merasa tidak nyaman dengan kemungkinan yang ada dan terdengar tidak menyenangkan itu, ia menurunkan tangannya dan sembari menatap Arca bertanya, “Maksudnya …, mereka ingin keluar dari Serikat Pedagang Lorian dan membentuk kelompok sendiri? Tuan Aprilo itu?”
“Itu benar ….” Arca berhenti memijat kening dan menghela napas sejenak. Sembari mendongak dan melihat langit-langit, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut menjelaskan, “Mereka sudah memiliki kekuatan untuk itu, mandiri bukanlah hal yang mustahil. Kalau mereka berhasil lepas dan membuat kelompok sendiri, kita juga bisa diuntungkan.”
“Kalau begitu, kenapa Tuan Arca tidak mau meminta bantuan kepada mereka?” tanya Nanra dengan heran. Ia sekilas memalingkan pandangan, lalu dengan penasaran kembali berpendapat, “Kalau kita meminta bantuan mereka, bukankah kita juga bisa mendapat alasan untuk ikut campur ke dalam proses pelepasan cabang yang dipegang Tuan Aprilo dari pusat Serikat Pedagang Lorian?”
“Risikonya terlalu tinggi,” jawab Arca dengan cepat.
Itu membuat Nanra terkejut mendengar Arca mencemaskan sebuah risiko. Mempertimbangkan kepribadian Putra Sulung Keluarga Rein tersebut, Nanra pikir pemuda itu pasti akan mengambil kesempatan meski telah tahu risiko yang ada.
“Apa itu alasan Tuan Odo melarangnya?” tanya Nanra memastikan.
“Itu benar!” Arca menggebrak keras meja di sebelahnya, lalu dengan nada kesal menjelaskan, “Sebelumnya aku juga tidak memperhitungkannya, tapi ada kemungkinan Serikat Pedagang Lorian Cabang Mylta menjadikan kita kambing hitam dalam konflik internal. Dengan alasan bahwa Ordoxi Nigrum telah menguasai pasar atau semacamnya, kemungkinan besar Tuan Aprilo akan mengalihkan perhatian Pusat Serikat Pedagang Lorian kepada kita selama kelompoknya mempersiapkan pelepasan! Tidak …, orang-orang itu bahkan mungkin sudah mempersiapkannya dan tanpa kita sadari sudah perusahaan ini sudah dijadikan kambing hitam!”
“Tuan Aprilo, ya?” Elulu sedikit mengingat-ingat sesuatu tentang sang Eksekutif tersebut. Selama dirinya menjadi mata-mata Arca di Penginapan Porzan dulu, ia sempat mendengar beberapa rumor kalau Aprilo Nimpio telah membuat fraksi dagangnya sendiri dan berencana keluar dari Serikat Pedagang Lorian. Alasannya ingin keluar masih belum diketahui dengan jelas, namun ada beberapa rumor lain yang mengatakan kalau di masa lalu Serikat Pedagang Lorian pernah berselisih dengannya sebelum bergabung. Mengingat beberapa informasi tersebut, Elulu menatap lurus Arca dan menyampaikan, “Saya rasa itu keputusan yang tepat. Kemungkinan besar Tuan Aprilo ingin memanfaatkan momen ini untuk pergi dari Serikat Pedagang Lorian dan mandiri.”
__ADS_1
“Apa dasarnya?” tanya Arca memastikan.
“Ini … hanya spekulasi. Saya rasa itu adalah alasan pribadi. Saya pernah mendengar kabar kalau Tuan Aprilo pernah berseteru dengan Serikat Pedagang Lorian di masa lalu. Kasusnya ….” Elulu sekilas memalingkan pandangan dari Arca, lalu dengan nada sedikit muram kembali menjelaskan, “Kurang lebih, mirip seperti tindakan yang Tuan Arca lakukan kepada keluarga saya dulu.”
“Kau⸻!” Arca tersentak mendengar itu, merasa Elulu masih dendam kepadanya terhadap apa yang telah terjadi di masa lalu. Merasa tidak enak dengan hal tersebut dan ingin segera memajukan pembicaraan, ia menatap ke arah Totto dan bertanya, “Kalau kau, apa ada saran lain untuk menutupi kekurangan tenaga kerja kita? Apa … di antara imigran gelap ada lagi yang bisa baca dan tulis?”
Bagi Totto yang merupakan imigran gelap dan bekerja untuk bagian kasar tentu tidak memiliki ide cemerlang, ia hanya memalingkan pandangan dan berkata, “Itu …, saya …. Maafkan saya, Tuan Arca. Saya tidak memiliki ide untuk masalah ini.”
Melihat Arca mengalihkan pembicaraan, Nanra dengan segera paham kalau hubungan Putra Sulung Keluarga Rein tersebut dengan Elulu sangatlah buruk. Meskipun kedua orang tersebut bekerja di tempat yang sama sekarang, jelas-jelas rasa saling benci ada di antara mereka.
Nanra menarik lengan kemeja Arca dan membuatnya menoleh, lalu dengan tatapan serius memberikan saran, “Bagaimana kalau kita mempekerjakan beberapa bunga malam dari Distrik Rumah Bordil?”
Itu sedikit membuat Elulu dan Arca terkejut mendengar saran seperti itu dari Nanra. Namun setelah mempertimbangkan situasi yang ada, sekarang ini memang tenaga kerja yang mereka butuhkan tidaklah harus terlalu berkualitas. Asalkan bisa melakukan perhitungan dasar dan menulis itu sudah cukup.
“Alasannya? Mengapa kamu berpikir seperti itu, Nanra?” tanya Arca memastikan. Mimik wajah pemuda rambut pirang tersebut seketika berubah seakan telah menemukan jalan keluar untuk masalah yang ada.
“Kemarin sore … saya mendapat pesan yang dititipkan kepada Firkaf, ia anak satu panti asuhan dengan saya yang bekerja di Pandai Besi Osel.” Nanra mulai tampak ragu dengan perkataannya sendiri, kembali mempertimbangkan apakah mempekerjakan bunga malam adalah pilihan yang tepat. Namun paham bahwa ia harus menyampaikan pesan tersebut, ia menarik napas dalam-dalam dan mulai kembali berkata, “Katanya itu pesan dari Pemilik Lokakarya Hulla, berisi tentang permintaan yang pernah Tuan Odo minta kepadanya. Isinya menyampaikan bahwa pekerja malam yang dulu ingin direkrut Tuan Odo sudah berhasil dibujuk dan ia mau bekerja di sini.”
Arca seketika tersenyum, langsung bangun dari tempat duduk dan memegang kedua pundak Nanra. “Kenapa dari tadi tidak bilang? Kalau itu orang yang ingin direkrut Odo, pasti dia memiliki kapabilitas yang memadai! Meskipun hanya satu, itu sangat berarti di situasi ini!” ujarnya dengan penuh semangat.
“Te-Tetapi ….” Nanra tampak begitu enggan, memalingkan wajahnya dan tidak mau menatap Arca.
“Dia …, pekerja malam itu adalah seorang pecandu.”
“Peca-?!”
Seketika rasa senang Arca runtuh, berganti dengan mimik wajah penuh rasa kecewa. Pada saat yang sama, ia pun sedikit memperlihatkan ekspresi bingung karena tidak paham mengapa Odo ingin memasukkan orang seperti itu ke dalam perusahaan. Arca memang bisa memberikan toleransi kepada bunga malam selama mau angkat kaki dari dunia prostitusi, namun tidak dengan pecandu obat-obatan.
Nanra semakin memalingkan pandangannya dan tampak muram, lalu dengan penuh rasa tidak senang berkata, “Meski di surat itu Nona Luna memberikan keterangan bahwa wanita malam tersebut sudah mulai berhenti mengonsumsi obat-obatan, namun …” Gadis rambut keperakan itu terdiam sesaat, perlahan kembali menatap lawan bicaranya dengan enggan dan tetap terdiam. Ia mengingat-ingat kembali isi surat dari Penyihir Lokakarya Hulla yang telah dirinya terima, membayangkan kepribadian wanita malam dalam surat dan semakin yakin kalau wanita malam itu pasti bisa membawa masalah jika bergabung dengan perusahaan. Setelah memutuskan sesuatu dalam benaknya, sorot mata Nanra berubah tajam dan penuh rasa yakin berkata, “Wanita malam itu kecanduan obat kontrasepsi. Meski saya awalnya tidak tahu obat semacam apa itu, setelah membaca seluruh isinya saya paham. Wanita malam itu … pasti akan membawa masalah jika dimasukkan ke perusahaan. Sebab itu, saya sempat ragu menyampaikan pesan tersebut kepada Anda.”
Sesaat Arca terdiam, mulutnya sedikit menganga saking tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar. Dalam hitungan detik, wajahnya pun terlihat kesal dan langsung mengerti bahwa kali ini memang seharusnya tidak mengikuti rencana yang telah Odo buat. Meski dirinya bukanlah orang puritan dan hanya mengikuti ajaran Kerajaan Felixia secara umum, Arca sangat paham alasan dan dosa dibalik kecanduan obat kontrasepsi.
“Kamu tak perlu melanjutkannya, Nanra. Maaf membuatmu mengetahui hal-hal seperti itu,” ujar Arca sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dalam suasana hati kacau dan merasa ingin membentak, pemuda rambut pirang tersebut menggertakkan giginya dan bergumam, “Sialan, setelah dia kembali akan aku hajar wajahnya!”
“Tu-Tuan Arca,” ujar Nanra dengan gentar.
“Maaf ….” Arca berhenti menutup wajahnya dan berusaha untuk tenang. Sembari memalingkan pandangan ia kembali bergumam, “Kenapa dia malah menyerahkannya kepada Nanra dan bukan aku? Apa karena dia tahu kalau aku akan langsung menolaknya? Meski begitu, ini terlalu aneh untuknya memasukkan orang yang jelas-jelas membawa masalah.”
“Saya rasa …, mungkin itu karena permintaan Tuan Odo,” ujar Nanra.
__ADS_1
Arca menghela napas, lalu dengan nada sarkasme berkata, “Ya, aku tahu itu jelas-jelas rencana sialan itu. Bicara apa kamu ini?”
“Bukan itu yang saya maksud ….” Nanra meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan, mulai menundukkan kepala dan kembali menyampaikan, “Di dalam surat tersebut …. Penyihir itu, Nona Luna juga menyampaikan beberapa hal tentang wanita malam yang diminta bergabung atas permintaan Tuan Odo. Nama wanita malam tersebut adalah Yor’an Botan, di dalam surat menjelaskan bahwa wanita malam tersebut harus dimasukkan dan bekerja pada Gudang dan Pabrik di dermaga sebagai pengawas, itulah juga merupakan pesan Odo yang dititipkan kepada penyihir tersebut.”
“Dititipkan, berarti dia sudah jauh-jauh hari meminta bantuan Nona Luna.” Arca kembali memikirkan maksud di balik permintaan tersebut, merasa ada sebuah tujuan tertentu di baliknya yang mungkin bisa menyelesaikan masalah yang ada. Sembari menggaruk bagian samping kepalanya dengan jari, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut bergumam, “Pengawas, ya? Terlebih lagi, pengawas dermaga yang berarti bukan pegawai tetap. Kalau itu, aku rasa itu tidak terlalu bermasalah jika memasukkannya. Namun, kalau hanya sebatas itu bukannya hal ini tidak menutupi kekurangan tenaga kerja⸻?”
Seketika Arca berhenti berbicara, kedua matanya terbuka lebar dan berhenti menggaruk kepala. Pada momen tersebut, Putra Sulung Keluarga Rein itu langsung paham alasan Odo memasukkan Yor’an ke dalam perusahaan meski memiliki latar belakang yang sangat buruk.
“Ada apa, Tuan Arca? Apa … sebaiknya saya sampaikan saja kalau tidak bisa?” tanya Nanra.
Tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan gadis tersebut, Arca kembali memalingkan pandangan dan bergumam, “Begitu rupanya, Odo ingin menjadikannya sebagai contoh. Kalau ada orang sepertinya bekerja di Ordoxi Nigrum, itu bisa memberikan sedikit gambaran kepada orang-orang yang ada di Distrik Rumah Bordil dan perlahan menanamkan gambaran gaya hidup yang berbeda. Selain itu, hal tersebut juga membuat salah satu proses menuju tujuannya yang lain berjalan. Langkah ini bisa menarik tenaga kerja lebih dan kita bisa fleksibel untuk menyeleksi mereka. Tetapi, kalau gagal bukannya malah akan jadi bumerang dan kita akan mendapatkan kesan buruk? Apa Odo benar-benar harus bertaruh kepada bunga malam?”
Mendengar apa yang pemuda itu bicara sendiri, ketiga orang lain di tempat tersebut menatap penuh rasa heran. Nanra sedikit mengerti dengan apa yang Arca ucapkan, begitu pula Elulu. Sedangkan Totto sama sekali tidak memahaminya.
“Bagaimana, Tuan Arca?” tanya Elulu dengan nada ingin segera memastikan.
Arca sesaat menghela napas panjang, mulai menyeringai tipis dan dengan sedikit ragu memutuskan, “Kita masukkan saja orang itu. Setelah sejauh ini, aku rasa lebih baik kita tidak keluar dari rute yang telah dibuat Odo untuk kita. Lagi pula, aku juga tidak mau disalahkan karena tidak mengikuti rencananya.”
Mendengar hal tersebut, Nanra yang dari awal tampak tidak setuju meragukan, “Apakah Anda yakin dengan itu? Bagaimana kalau ternyata kepribadiannya sangat buruk dan malah membuat perusahaan ini mendapat kesan negatif”
“Tidak masalah. Kalau itu terjadi, berarti semua ini adalah kesalahan Odo yang terlalu baik sampai memasukkan orang seperti itu ke dalam perusahaan.” Arca mengucapkan hal tersebut dengan penuh rasa ragu, masih tidak terlalu yakin dengan keputusan yang diambil. Menggelengkan kepala dan berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal kurang penting, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut berkata, “Paling tidak untuk sekarang aku yakin dengan keputusan ini. Lalu, kemungkinan besar setelah wanita malam itu masuk akan ada beberapa pekerja malam lain yang ingin bergabung. Nanra, kamu coba buat struktur organisasi yang tepat untuk itu, kira-kira kita bisa mempekerjakan empat sampai enam orang untuk bagian administrasi di sana.”
“Baiklah ….” Nanra sedikit memalingkan pandangan ke kanan, merasa tidak yakin bahwa keputusan tersebut adalah hal yang tepat. Menghela napas dan berusaha menekankan bahwa dirinya hanyalah pekerja yang harus mematuhi perintah atasan, gadis tersebut mengesampingkan niat pribadi dan segera bertanya, “Kalau untuk produksi, apa kita perlu membuka lowongan?”
“Untuk sekarang tidak usah.” Arca kembali mengambil perkamen lain, lanjut mengecek dokumen yang harus diperiksa segera. Sembari melirik gadis di hadapannya, pemuda rambut pirang tersebut menyampaikan alasannya, “Alat yang ada di Pabrik sudah penuh. Selain itu, untuk sekarang kita sedang tidak perlu meningkatkan jumlah produk dagang kita. Tujuan kita sekarang adalah untuk menstabilkan pasar.”
“Baiklah.” Nanra mengangguk, segera bangun dan sejenak menarik napas.
“Hmm, untuk sekarang sampai di sini dulu. Kalian bisa kembali bekerja, lalu kemungkinan besar kita nanti sore akan rapat lagi setelah perhitungan pendapatan hari ini selesai. Jadi aku harap kalian bisa menjaga stamina selama bekerja.”
Mendengar apa yang dikatakan Putra Sulung Keluarga Rein tersebut, ketiga orang lainnya segera menangguk dan beranjak pergi dari tempat tersebut untuk lanjut ke bagian tempat kerja mereka. Untuk Arca sendiri, ia tetap berada di ruangan dan melanjutkan pemeriksaan dokumen.
“Jujur saja ini bukanlah masalah besar. Jika dibandingkan dengan taruhan yang Odo lakukan sekarang, ini hanya masalah sepele,” gumam Arca sendirian di ruangan.
Ia berhenti memeriksa dokumen, terdiam sesaat dan perlahan mimik wajahnya berubah sangat suram. Di dalam ruangan redup dengan pencahayaan lampu kristal, Putra Sulung Keluarga Rein itu menggertakkan giginya. Bukan karena kesal atau muak dengan permasalahan yang ada, namun karena sedikit kecewa dengan peran yang Odo limpahkan kepadanya.
“Lagi-lagi dia melakukannya sendiri. Padahal dia yang bilang kalau Luke adalah Pedang dan Rein adalah timbangan, tapi sekarang malah ….”
ↈↈↈ
__ADS_1