
“Hmm ….” Odo berhenti memberikan tatapan tajam, menjauhkan wajah dan bersandar pada tempat duduk. Setelah menghembuskan napas ringan dari mulut, pemuda rambut hitam tersebut bergumam, “Kau lebih keras kepala daripada Lisia, ya. Ini merepotkan ….”
Mendengar Odo membanding-bandingkan, Ri’aima sedikit tersinggung sampai alisnya turun. Ia meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan, lalu duduk dengan tegak dan dengan nada sedikit merajuk berkata, “Lagi pula, memangnya apa yang ingin Anda lakukan sampai-sampai harus menyelesaikan masalah kami terlebih dulu?”
“Sederhana ….” Odo mengacungkan jarinya, lalu sembari melemparkan senyum kecil menjawab, “Aku ingin pemerintah Rockfield menyetujui proposal kerja sama yang akan diajukan oleh Lisia nanti.”
“Proposal …?”
Ri’aima meletakkan tangan kanan ke dagu, sedikit memalingkan pandangan dan terdiam sembari memperkirakan proposal apa yang akan diajukan. Kembali melihat ke arah Odo di sebelahnya, perempuan rambut biru pucat tersebut merasa tidak bisa secara langsung menanyakan isi proposal itu kepadanya.
“Bagaimana? Itu sudah cukup untuk membuatmu tenang, Nona?”
“Eng ….” Ri’aima tidak senang dengan cara bicara Odo, ia mengerutkan kening dan merasa kalau Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut memandang rendah dirinya. Tetapi, situasi yang ada memang terlihat seperti itu. Rasa Cemas, gelisah, dan takut, semuanya ada pada Ri’aima. Sebab itulah, perempuan rambut biru itu tidak memiliki hak untuk marah kepada Odo dan hanya bisa berkata, “Apa boleh saya memastikan sesuatu dulu? Sebelum saya bisa sepenuhnya menerima bantuan Anda ….”
“Apa itu?”
Ri’aima menarik napas dalam-dalam, lalu sedikit menggeser posisi duduk menghadap ke arah Odo dan meletakkan ke dua tangan ke atas pangkuannya sendiri. Sembari menatap penuh rasa curiga dan penasaran, perempuan rambut biru tersebut bertanya, “Mengapa Anda bisa bersama orang-orang Kekaisaran itu? Terlebih lagi, dua orang lainnya juga sepertinya seorang penyihir dari Miquator, bukan? Anda ….”
“Haaaaah ….” Odo menghela napas panjang mendengar itu, seketika memperlihatkan mimik wajah yang menunjukkan dirinya tak ingin membahas hal tersebut. Sembari menggaruk bagian belakang kepala, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut bergumam, “Aku sudah mengetahui rahasia Keluarga Stein, jadi rasanya cukup adik kalau kau juga tahu ini ….”
“Anda ini ….” Ri’aima menangkap perkataan Odo sebagai ancaman, ia mulai mengerutkan kening dan menggerung ringan dengan tatapan sedikit jengkel.
“Apa kau lihat perempuan rambut putih yang datang bersamaku?” Odo menyatukan kedua tangannya, lalu menyangga dagu dengan itu dan sedikit menundukkan kepala. Setelah menghela napas ringan, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut menjelaskan, “Aku ingin menjadikannya gundik. Alasan ku berada di sini juga karena dirinya, aku sedang perjalanan mengantar Canna kembali ke Miquator.”
“Gun … dik?” Ri’aima tidak bisa berkata apa-apa soal Gundik yang dibicarakan Odo, ia seketika paham bahwa informasi yang dikatakan itu sudah pasti bisa menjadi skandal besar sebab keluar sendiri dari mulut tunangan Putri Arteria. Paham bahwa fakta tersebut juga setara dengan rahasia yang Odo ketahui tentang Keluarga Stein, Ri’aima memilih untuk tidak membahasnya dan malah bertanya, “Lantas mengapa Anda berada di sini? Kalau memang dalam perjalanan, bukannya Anda bisa langsung⸻?”
Perkataan Ri’aima terhenti, sebelum menyelesaikan kalimat ia segera paham alasan Odo berada di kota Rockfield dan tidak langsung melakukan perjalanan ke Ibukota. Pada saat yang sama, perempuan rambut biru pudar tersebut juga mengerti bahwa Putra Tunggal Keluarga Luke itu menawarkan bantuan hanya untuk selingan waktu.
“Begitu, ya. Sembari menunggu rombongan pedagang yang menjemput orang-orang dari Kekaisaran datang, Anda berniat mengisi waktu dengan ikut campur urusan kota ini.”
“Tepat ….” Odo berhenti menyangga dagu, segera menegakkan posisi duduk dan kembali bertanya, “Bagaimana? Apa kau mau menerima tawaran ku, Nona Ri’aima?”
“Setelah semua pembicaraan ini, bagaimana bisa saya menolak hal tersebut?” Ri’aima menarik napas lega, merasa kalau Odo tidak memiliki dendam ataupun tersinggung atas perlakukan Oma Stein sewaktu Pesta Pertunangan. Ingin segera membahas secara detail tawaran bantuan yang Odo ajukan, perempuan rambut biru pudar tersebut berkata, “Mari kita masuk ke pembicaraan selanjutnya. Memang saya tidak keberatan Anda ikut campur dengan urusan kota. Tetapi, secara rinci Anda ingin melakukan apa untuk mengatasi masalah di Rockfield ini?”
__ADS_1
“Sebelum menjawab itu, bagaimana kalau Nona dulu yang menjelaskan? Saat bertemu saya di kota, kau sudah memikirkan rencana untuk memanfaatkan ku, bukan?”
Mendapat jawaban berupa pertanyaan balik, Ri’aima sedikit memoncongkan bibirnya dan merasa kalau pemuda di hadapannya pandai sekali dalam berbicara. Menghela napas ringan, Putri Sulung Keluarga Stein tersebut pun mengeluh, “Tuan Odo dari Keluarga Pedang Kerajaan, ‘kan? Mengapa Anda pandai sekali bicara seperti itu? Huh, rasanya saya seperti sedang berhadapan dengan orang-orang dari Wilayah Rein.”
“Sifat ku warisan Mavis,” ujar Odo dengan nada bangga.
“Setahu saya, Penyihir Cahaya tidak banyak berbicara dan memiliki kesan misterius, loh.”
“Itu sikapnya kalau di hadapan publik, berbeda lagi saat Bunda berada di rumah.”
Ri’aima terdiam, menghela napas sekali dan sedikit memalingkan pandangan karena merasa itu hanyalah omong kosong belaka. Berhenti memikirkan hal yang tidak penting, Putri Sulung Keluarga Stein kembali fokus dan berpikir keras sampai keningnya sedikit mengerut. Ia memilah dan menyusun kalimat yang sesuai untuk menjelaskan rencana miliknya kepada Odo.
“Sebenarnya, apa yang ingin saya lakukan sebenarnya sederhana.” Ri’aima menatap ke arah Odo lagi, lalu sembari mengacungkan telunjuk menyampaikan, “Kondisi pemerintahan yang sedang tidak stabil disebabkan oleh tragedi Raja Iblis Kuno. Namun, itu hanyalah alasan di permukaan. Penyebab utama keseimbangan terganggu adalah karena meninggalnya Kepala Prajurit Kota Rockfield, itu mengakibatkan para pejabat baru memiliki alasan kuat untuk mengambil alih pemerintahan dari orang-orang lama.”
“Hmm, kurang lebih aku paham hal tersebut ….” Odo mengangguk, memperkirakan kembali informasi baru yang dirinya dapat terkait penyebab utama yang ada. Sembari melirik ke arah Agathe yang hanya terdiam selama pembicaraan, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut memastikan, “Ditambah kondisi Tuan Oma dan Nyonya Agathe, pengaruh para pejabat baru itu semakin melesat ke puncak pemerintahan kota ini. Lalu, Alasan kalian tidak bisa memberikan respons terhadap penyerangan monster kepada para pedagang yang lewat di Teritorial Rockfield juga karena itu, bukan?”
“Be-Benar ….” Ri’aima sempat terkejut mendengar itu, ia tidak mengira kalau Putra Tunggal dari Keluarga Pedang Kerajaan itu memiliki tingkat analisis yang bahkan menyaingi orang-orang Rein. Dengan kepercayaan diri menurun pesat, perempuan rambut biru pucat tersebut kembali menyampaikan, “Karena itulah, saya ingin mengembalikan keseimbangan pemerintah yang ada. Atas keputusan yang dibuat oleh pemerintah pusat, Rockfield memang seharusnya diisi oleh kedua kubu yang ada. Antara pejabat lama yang mendukung Keluarga Rein, lalu pejabat baru yang mendukung Keluarga Luke.”
Ri’aima kembali mengerutkan kening mendengar perkataan yang terasa seperti sindiran tersebut. Sembari memalingkan pandangan dengan rasa malu pada dirinya sendiri, perempuan rambut biru pudar itu menjelaskan, “Yang stagnan rendah bukan hanya mereka, namun secara keseluruhan Teritorial Rockfield. Bernasib hampir sama seperti kota pesisir, di sini juga mengalami kemerosotan ekonomi selama beberapa tahun terakhir.”
“Eng?” Odo merasa heran. Sembari meletakan tangan ke pelipis kiri, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut menanyakan, “Bukannya kalian masih bisa menjalin kerja sama dengan Kota Lignum? Di sana pusat perdagangan juga, ‘kan?”
“Memang kami pernah menjalin kerja sama perdagangan yang matang dengan Kota Lignum ….” Ri’aima menghela napas dengan resah, lalu setelah mengangkat kedua sisi pundaknya kembali menjelaskan, “Namun, itu mulai terhambat sejak beberapa tahun terakhir. Penyebabnya karena bandit yang mulai merajalela. Saat kami ingin mengurus bandit itu dengan serius, insiden itu malah terjadi. Yah, satu-satunya nilai positif dari kemunculan Raja Iblis Kuno bagi kota ini adalah kemusnahan kelompok bandit. Meski pun ada yang tersisa, melihat populasi monster yang ada saya rasa sisa-sisa mereka pun pasti akan segera binasa.”
“Uwah ….” Mimik wajah Odo seketika berubah datar, ia segera memalingkan pandangan dan menyindir, “Mengapa pemerintah Wilayah Luke tidak ada yang becus, ya.”
“Anda juga orang dari pemerintah Wilayah Luke, loh! Anda Putra Tunggal dari Keluarga Luke dan kelak akan menjadi penerus Tuan Dart!”
“Bicara apa Nona ini ….” Odo tersenyum ringan, lalu dengan niat menggoda kembali berkata, “Gelar bangsawan yang saya dapatkan berwenang di bawah Keluarga Rein. Masalah Wilayah Luke adalah urusan Ayahku, bukan urusanku.”
“Secara hierarki kekuasaan memang seperti itu, sih.” Ri’aima memalingkan wajah dengan rasa heran di benak. Meski dirinya tahu bahwa Odo mengatakan itu dengan niat bercanda, namun dirinya tetap tidak mengira kalau sang Putra Tunggal Keluarga Luke akan sangat santai mengatakan hal sensitif seperti itu. Menghela napas sekali dan menatap ke arah lawan bicaranya tersebut, Ri’aima pun menyampaikan, “Mari kita kembali ke pembahasan, Tuan Odo.”
“Hmm, tentu.” Odo mengangguk, lalu sembari menyodorkan telapak tangan kanan berkata, “Silahkan katakan rencanamu.”
__ADS_1
“Secara garis besar, di awal saya ingin mengambil langkah tegas dengan membuat masyarakat sipil membuat petisi terkait keseimbangan politik yang ada. Petisi tersebut bertujuan untuk membuat beberapa pejabat baru dipulangkan, lalu mengembalikan keseimbangan pemerintahan kota.”
Odo terdiam sesaat, berusaha memahami maksud dari rencana yang ingin dilaksanakan Ri’aima. Merasa ada beberapa informasi yang kurang, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut memastikan, “Kalau ingin membuat petisi melalui masyarakat, berarti Nona sudah memiliki suara yang cukup untuk itu? Bukannya kubu pejabat lama sekarang ini kekurangan orang dan pengaruh?”
“Itu benar.” Ri’aima sedikit memiringkan kepala, lalu sembari merapikan rambut di sekitar telinga kembali berkata, “Awalnya saya ingin mengajak Pihak Religi dalam rencana ini. Melihat mereka lebih menyukai kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat lama, saya ingin menggandeng mereka dan ikut membujuk masyarakat adalah pilihan yang tepat.”
“Hmm, pemikiran yang bagus. Dengan memasukkan Pihak Religi, mengajak orang-orang pasti akan lebih mudah ….” Meski telah memahami hal tersebut, Odo tetap merasa kalau masih ada banyak hal yang kurang. Ingin memastikan hal tersebut, ia dengan tegas bertanya, “Nona Ri’aima, bukannya itu tetap saja masih kurang? Kalian tetap kalah dalam hal suara di ranah pemerintahan. Negeri kita adalah monarki. Meski suara rakyat banyak, kalau kalah dengan pengaruh politik itu akan percuma.”
“Itu benar, kendalanya ada pada hal tersebut ….” Ri’aima tersenyum kecil, lalu sembari mengulurkan tangan ke arah Odo ia pun berkata, “Dengan iming-iming perubahan kebijakan dan menjamin keluarga mereka, awalnya saya ingin juga mengajak beberapa pejabat baru untuk membelot dan masuk ke kubu saya. Namun setelah melihat Anda, saya berubah pikiran. Seperti yang Anda katakan, kita adalah Monarki. Bangsawan dengan status tinggi yang lebih berkuasa.”
“Begitu, ya ….” Odo mengangguk paham, ia menyatukan kedua tangan dan mulai menyangga kepala. Secara penuh Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut paham alasan Ri’aima mau mengundang dirinya ke Kediaman Stein, lalu mengajak panjang lebar berbicara seperti sekarang. Dengan senyum tipis di wajah, pemuda rambut hitam tersebut memastikan, “Dengan gelar yang saya miliki, Anda ingin memberikan tekanan langsung kepada para pejabat baru itu, ya? Dengan ditambahkannya saya ke kubu yang membela pejabat lama yang mendukung Keluarga Rein, secara otomatis kalian bisa memulihkan pengaruh. Ditambah saya adalah Putra dari Keluarga Luke, mereka yang mengatasnamakan Luke saat bertindak tidak bisa sembarang melawan.”
“Tepat, itulah yang ingin saya lakukan.”
Pembicaraan sesaat terhenti, Odo tidak segera memberikan respons tentang rencana tersebut dan terdiam. Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sepenuhnya memahami alur yang mungkin akan dilakukan Ri’aima, karena itulah ia juga tahu bahwa perannya akan sangat penting dalam rencana.
Merasakan ketergantungan dalam rencana yang ingin Ri’aima jalankan, Odo sekilas tersenyum gelap sampai-sampai membuat Putri Sulung Keluarga Stein di sampingnya terkejut. Berhenti berpura-pura sebagai orang yang baik dan ramah, Odo secara frontal menekan, “Berarti tanpa saya rencana itu tidak akan berhasil, ya?”
“Itu⸻!” Ri’aima merasa benar-benar telah lengah selama pembicaraan, ia tidak sempat mempertimbangkan kalau Odo akan mengambil keuntungan lebih setelah tahu betapa tinggi nilai kehadirannya dalam rencana tersebut. Dengan penuh rasa cemas, perempuan rambut biru pudar tersebut pun berkata, “Itu benar, Tuan Odo. Karena itulah, Anda saya undang ke kediaman ini.”
“Baiklah, tidak masalah. Aku ikut rencana Nona Ri’aima. Kita lihat apakah itu akan berjalan dengan lancar atau tidak.”
Jawaban tersebut tidak Ri’aima duga. Setelah melihat seringai gelap layaknya orang licik yang telah mendapatkan kelemahan orang lain, ia mengira kalau Odo akan menuntut lebih dan memberikan beberapa syarat yang memberatkan.
“Saya akan berusaha menjalankan rencana tersebut, Tuan Odo. Saya harap Anda mau mengikutinya sampai selesai.”
Setelah itu, pembicaraan pun berlangsung selama satu jam lamanya. Ri’aima menjelaskan secara rinci rencana yang ingin dilakukan, lalu Odo pun memberikan beberapa koreksi dan memperingati perempuan itu terkait risiko-risiko yang ada.
Selama pembicaraan, Baldwin hanya terdiam dan mendengarkan. Tanpa bisa bergabung dalam diskusi tersebut, Anak Kedua Keluarga Stein itu hanya menatap terkesima dengan pembicaraan kedua orang tersebut yang terdengar sangar rumit.
Dalam pembicaraan yang cukup lama berlangsung tersebut, Agathe sembari memperlihatkan reaksi dengan menatap ke arah Odo. Namun tanpa mengatakan sepatah kata pun, di tengah pembicaraan yang sedang berlangsung wanita tersebut beranjak dari tempat dan kembali ke kamar ditemani oleh Putranya.
ↈↈↈ
__ADS_1