
Jika kejahatan bisa dimaafkan hanya dengan sebuah permintaan maaf, lantas apa yang seharusnya para korban lakukan? Untuk mengutarakan kebencian dan menuntut hak mereka, apa yang seharusnya orang-orang tersebut lakukan?
Berbalut kebencian, menimbun dosa dalam hati dan pada akhirnya menenggelamkan semua itu ke dalam lautan pasir waktu. Tanpa bisa mengeluarkan kebencian karena permintaan maaf setengah hati.
Jika memang sebuah kesalahan bisa dihapus dengan sebuah ungkapan tidak sengaja, apa yang harus orang-orang itu lakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Di dunia mana pun, kesalahan dan kejahatan akan selalu ada. Karena ketika hak seseorang bertemu dengan hak orang lain, sebuah konflik selalu muncul. Tidak ada yang lebih benar dan salah di dalamnya, hanya masalah persepsi saja yang ada.
Meski hukum telah diterapkan untuk mengadili mereka yang melanggar ketentuan, namun tetap saja ada beberapa orang bisa lolos dari batasan tersebut. Mengandalkan harta, koneksi, atau bahkan mengancam sang korban untuk membungkam keadilan.
Saat orang-orang penting membuat kesalahan, mereka akan mengadakan konferensi pers. Menundukkan kepala ke arah kamera, lalu meminta maaf kepada orang yang bahkan tidak mereka lihat wajahnya. Berpikir bahwa itu sudah cukup untuk membuat kesalahan yang telah mereka perbuat hilang, layaknya kotoran yang disiram air.
Namun, pada kenyataannya tidak seperti itu. Meminta maaf seharusnya bukanlah hal yang ringan. Jika mereka benar-benar ingin mendapatkan maaf, apa yang seharusnya orang-orang tersebut lakukan adalah menanggung semua kerugian yang dialami korban dari kesalahan tersebut. Menanggung rasa sakit yang dirasakan orang-orang atas kesalahan yang ada, itulah arti dari meminta maaf.
Untuk mereka yang berbuat kejahatan, terkadang hal serupa pun sering terjadi. Para koruptor yang tertangkap, dipenjara sebagai bentuk hukuman untuk mereka. Namun, tidak ada satu pun hukum yang menuntut mereka untuk meminta maaf kepada masyarakat. Meski seharusnya paling tidak itu adalah langkah ringan untuk mengakui kesalahan.
Tidak ada hal yang bisa menghukum orang-orang semacam itu, bahkan kurungan yang diberikan terasa percuma untuk mereka. Sebab sesuatu yang bisa menghukum orang-orang seperti itu hanyalah diri mereka sendiri. Selama rasa menyesal tidak mereka rasakan, hukuman seberat apapun tidak akan menjadi sebuah hukuman.
Odo sangat membenci mereka, orang-orang berdosa yang tidak mengakui dosa sampai akhir. Berkata bahwa mereka tidak sengaja melakukan dosa tersebut, lalu menyalahkan orang lain dan terus mengelak sampai akhir.
Meski dirinya membenci orang tersebut, namun pemuda itu pernah melakukan hal serupa di Dunia Sebelumnya. Menelan ludah sendiri, lalu menghina cara pandangnya sendiri dengan tindakan tersebut. Melakukan sebuah dosa besar, lalu saat menyadarinya malah berkata kepada diri sendiri bahwa dirinya tidak sengaja.
Itu adalah salah satu ingatan yang sempat tertutup oleh titik hitam, dalam lembaran luas tunggal dari kenangan Dunia Sebelumnya. Pada sebuah kota yang dipenuhi kobaran api merah gelap yang membara, gedung-gedung ambruk, dan permukaan tanah menyala karena bekas ledakan.
Mayat-mayat bergelimpangan, mereka yang berhasil bertahan pun sekarat dan hanya bisa bertahan dalam penderitaan sebelum ajal menghampiri. Layaknya neraka dunia, warna merah gelap mendominasi. Debu-debu beterbangan bersama radiasi, membawa racun di udara dan mencemari semuanya.
Berdiri layaknya orang dungu, seorang pemuda rambut hitam hanya bisa menganga melihat semua itu. Tidak menyesali perbuatannya, hanya terdiam membisu dan dalam benak berusaha mengelak bahwa kondisi tersebut adalah hasil dari apa yang telah ia lakukan.
Uji Coba Reaktor Masif Fusi Nuklir ⸻ Sebuah penelitian untuk mendapatkan energi alternatif dalam jumlah banyak. Dilakukan umat manusia yang tersisa di bumi, eksperimen tersebut mereka lakukan di Benua Antartika. Untuk mengamankan sumber energi masif dalam rangka menyambung peradaban.
Fase Pertama dari ujian entitas yang menyebut diri mereka para Dewa, itulah masa tersebut. Sebuah zaman di mana bumi sudah tidak bisa lagi dihuni secara layak, sehingga mereka yang selamat hanya bisa hidup dalam frustrasi dan harus mencari cara untuk melanjutkan peradaban.
Dalam kesepakatan bersama untuk bisa mempertahankan kehidupan umat manusia, sebuah opsi penjelajahan luar angkasa ditetapkan dalam proyek jangka panjang. Menetapkan planet alternatif yang bisa dihuni di luar angkasa sana, lalu mempersiapkan sebuah kapal koloni untuk penerbangan dalam jangka waktu yang sangat panjang. Untuk itulah Uji Coba Reaktor Masif Fusi Nuklir dilakukan.
Namun, seakan-akan para entitas yang menyebut diri mereka sebagai dewa-dewi sedang mempermainkan, uji coba tersebut berakhir tragis. Sebelum bisa mendapatkan hasil yang diinginkan, eksperimen mengalami kecelakaan karena kesalahan kalkulasi A.I dan membuat ledakan besar.
Menghancurkan lebih dari dua belas distrik koloni di Antartika, lalu dampak dari radiasi yang ada menyebar sampai mencemari udara sepuluh distrik yang masih tersisa. Dipenuhi kekacauan, seakan-akan kecelakaan tersebut adalah sebuah pengingat untuk mereka. Pada bencana ledakan besar yang pernah terjadi di Asia Tenggara beberapa dekade lalu.
Pada salah satu distrik yang terkena dampak ledakan secara langsung, ia hanya berdiri. Pemuda yang mengenakan jubah laboratorium tersebut hanya bisa menganga melihat hasil dari kesalahannya. Tidak memedulikan telapak kaki yang melepuh di atas tanah yang terbakar, ia menatap ke arah sumber ledakan.
Layaknya bunga kematian raksasa, asap hitam pekat seakan mekar di langit dengan sambaran-sambaran petir di sekitarnya. Mewarnai semuanya dalam kelabu, tepat setelah hamparan api membakar permukaan dan melelehkan hampir semua es yang ada dalam jarak ratusan kilometer.
“Ke-Kenapa bisa seperti ini? Seharusnya A.I yang aku buat sudah sempurna …. Kalkulasi dan Simulasi Atom sudah tepat! Dari 89% tingkat kebersihan, bagaimana bisa hasil terburuk seperti ini bisa terjadi …? Aku … aku tidak bisa menerimanya! Mengapa?!”
Kemarahan hanya sebuah dalih untuk menutupi rasa bersalah. Di tengah hal tersebut, pintu sebuah Bungker Militer untuk para pengungsi terbuka. Beberapa orang yang mengira bahwa bencana telah berakhir segera keluar dari dalam tempat tersebut, lalu dengan cemas mencari keluarga mereka yang tidak sempat mengungsi selama peringatan ledakan.
Itu adalah sebuah kesalahan besar, sebab udara dengan tingkat radiasi tinggi dengan mudah bisa mengakhiri hidup mereka. Tepat beberapa menit setelah mereka keluar, satu persatu orang-orang tersebut berjatuhan dan muntah-muntah darah.
Dalam hitungan menit, daging membusuk, peta genetik dihancurkan radiasi, dan pada akhirnya mereka terkapar dengan permukaan kulit tampak seperti melepuh. Meski tidak terkena langsung paparan ledakan radiasi.
Berdiri baik-baik saja di antara mereka yang akan segera dijemput ajal, pemuda dengan toga putih tersebut pun menyadarinya. Hasil dari kesombongan dan kebodohannya. Hasil dari meremehkan potensi 11% kegagalan dalam eksperimen.
Dengan panik dan penuh rasa bersalah, ia segera berlari menghampiri mereka yang tampak masih bertahan dalam sekarat. Mengambil beberapa obat-obatan seadanya dari saku, pemuda itu dengan bodoh ingin menolong mereka dengan itu. Meski tahu seharusnya itu sangat percuma.
Saat semua orang yang berada di distrik tersebut telah menjadi mayat mengenaskan, ia pun pada akhirnya benar-benar tersadar. Hasil dari kesombongan yang ia miliki, sebuah kesalahan yang ingin dirinya anggap hanya sebatas tidak sengaja.
“Aku tidak bersalah! Ini pasti ulah mereka! Para bedebah itu pasti ikut campur?! Bagaimana mungkin potensi 11% bisa terjadi dan menghasilkan hal seperti ini! Tidak beruntung juga ada batasnya!!”
__ADS_1
Untuk melindungi dirinya sendiri dari rasa bersalah yang sangat besar, ia terus menyalahkan dan menyalahkan. Tanpa mau untuk menerima itu sebagai hasil dari kegagalannya.
Ia pun terduduk lemas di atas tanah membara, tanpa memedulikan tubuh yang terpapar radiasi dan kulit yang terbakar permukaan tanah menyala. Meski orang-orang lain tidak bisa bertahan di tempat tersebut, pemuda itu dengan jelas masih hidup dalam penderitaan. Tanpa memedulikan rasa sakit yang fisiknya alami.
Kulit yang terbakar dengan cepat pulih sendiri, peta genetik tidak bisa diubah oleh paparan radiasi, dan tubuh terus dipaksa kembali dalam kondisi prima secara terus menerus. Meski tubuh selalu pulih kembali dalam hitungan detik, hati pemuda itu seakan telah mati.
Tatapan kosong, melihat ke arah kepulan asap kematian dari sumber ledakan.
Di tengah keputusasaan yang menguasai, suara helikopter membuat pemuda itu menoleh. Meski melihat pesawat milik militer mendekat dan menurunkan tali untuk menolong, sang pemuda sama sekali tidak bergerak. Pasrah di tempat sampai akhirnya dibawa oleh mereka yang datang untuk menyelamatkannya.
Layaknya orang dungu, setelahnya diselamatkan pun pemuda itu hanya menyampaikan kebohongan. Mengelak bahwa ledakan tersebut adalah kecelakaan, kesalahan kalkulasi dan tidak mau mengakui bahwa itu adalah kesalahannya sendiri.
Seakan ingin menjadikan hal tersebut sebuah kebenaran, dalam satu tahun kemudian pemuda itu melakukan eksperimen ulang. Dengan dana sendiri, lingkup yang terbatas, tenaga kerja minim, dan pada akhirnya malah berhasil membuktikan alasan kegagalannya yang diberikan kepada pihak pemerintah. Bahwa memang kecelakaan tersebut adalah sebuah ketidaksengajaan.
Meski karena hal tersebut orang-orang pada masa itu benar-benar menganggap kecelakaan tersebut adalah ketidaksengajaan, namun tetap saja sang pemuda memendam rasa bersalah yang sangat amat besar. Paham bahwa nyawa-nyawa yang melayang saat itu adalah hasil dari pemikiran yang meremehkan potensi kecil kegagalan.
.
.
.
.
Odo Luke bangun di hari berikutnya. Setelah terbaring di kamar lebih dari delapan jam lamanya, pemuda rambut hitam itu membuka mata dengan rasa sesal memenuhi benak. Memang kematian orang dari kekaisaran yang terjadi kemarin tidak terlalu berkaitan dengan ingatan masa lalu. Namun, rasa bersalah yang sedikit muncul memancing ingatan seperti itu timbul ke permukaan.
Membuatnya seakan ditampar sebuah fakta bahwa sekarang ini juga Odo sempat meremehkan. Lalu, bisa saja hal buruk waktu itu bisa terjadi juga sekarang.
Membuatnya kembali mengingat kebodohan dari sifat sombong dan meremehkan, lalu pada akhirnya menghasilkan tragedi yang sangat mengerikan. Membuat nyawa-nyata tidak bersalah melayang dalam kecelakaan yang seharusnya tidak diperlukan.
“Kalau tidak salah, kapal-kapal laut milik Kerajaan Ungea menggunakan reaktor fusi nuklir yang sama dengan itu, ya? Lebih tepatnya, versi pengembangan ke ukuran yang lebih kecil lagi sehingga bisa diproduksi secara massal.”
Mengatakan hal tersebut untuk menghapus rasa bersalah dalam benak, pemuda rambut hitam itu bangun dari tempat tidur. Menarik napas dalam-dalam, lalu berusaha mengingat kembali kejadian semalam dan sedikit mengerutkan kening.
“Rasanya aku seperti bocah saja, memperlakukan orang lain dengan buruk hanya karena suasana hati sedang tidak baik. Aku harap Ri’aima tidak membahas itu lagi ….”
Tepat setelah kembali ke Kediaman Stein, Putra Tunggal Keluarga Luke segera meminta pelayan yang ditemuinya untuk menyiapkan air panas dan segera mandi. Menganggap Mansion milik Keluarga Stein adalah rumah sendiri, lalu memperlakukan para orang-orang yang ada layaknya pelayannya.
Bahkan setelah Ri’aima sampai dan ingin menemuinya di kamar, Odo tidak membuka pintu dan sempat membentak putri dari sang Tuan Rumah tersebut. Seakan-akan dirinya adalah orang paling berkuasa di Mansion.
Setelah berganti dan mengenakan pakaian yang mirip dengan kemarin, Odo mengambil sepatu kulit dan kaus kaki dari dimensi penyimpanan pada kedua sarung tangan. Mengenakan itu dengan segera, ia pun berjalan menuju pintu dan keluar. Meninggalkan piyama yang telah di lepas begitu saja di atas tempat tidur.
Di lorong utama menuju lobi, pemuda rambut hitam tersebut kembali merenung. Meski tidak ingin, ingatan dari Dunia Sebelumnya yang tiba-tiba timbul memang sangat mempengaruhi. Terutama dalam pola pikir dan suasana hati.
Sampai pada lobi, Odo baru sadar bahwa dirinya bangun lebih telat dari yang lain. Canna dan Opium duduk bersama beberapa anggota Keluarga Stein di ruang tamu depan, terlihat sedang membicarakan sesuatu yang cukup penting.
“Ah, ini gawat. Aku sama sekali tidak niat lagi dengan semua ini,” benak Odo saat menduga pembicaraan mereka.
Tanpa menggunakan Spekulasi Persepsi untuk mempersiapkan pembicaraan, Putra Tunggal Keluarga Luke berjalan menuju ke tempat mereka semua dan sejenak berdiri tanpa ikut duduk di sofa untuk ikut dalam pembicaraan.
Selain Kepala Keluarga Stein, Ri’aima, Baldwin, dan Xavier juga berada di tempat tersebut. Memasang wajah sedikit bingung karena Odo Luke tidak segera duduk.
“Sepertinya tidur Anda tidak nyenyak semalam,” ujar Ri’aima saat melihat kantung mata Odo yang sedikit menghitam. Melempar senyum ringan, perempuan rambut biru tersebut menawarkan, “Mau makan dulu? Atau mandi biar segar?”
“Tidak perlu, aku sudah cukup istirahat. Untuk semalam, saya minta maaf karena memperlakukan Nona dengan kasar.”
“Tidak apa-apa, itu salah saya juga karena ingin menggoda Tuan Odo saat lelah.” Ri’aima bangun dari tempat duduk. Sembari membuka tangan kanan dan mempersilahkan, Putri Sulung Keluarga Stein berkata, “Silahkan duduk, Tuan Odo. Kami juga ingin membicarakan sesuatu dengan Anda sebelum melakukan agenda hari ini.”
Menghela napas sekali, pemuda itu pada akhirnya duduk di sebelah Canna. Seakan tidak ingin membuang waktu, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung bertanya, “Bicara soal rencana Tuan Oma?”
Tebakan itu sangat tepat, meski Odo hanya membuka setengah mata dan tampak masih mengantuk. Untuk beberapa detik, semua anggota Keluarga Stein yang ada di tempat tersebut tertegun. Saling menatap, mereka merasa tidak baik untuk mengulur-ulur pembicaraan.
__ADS_1
“Itu benar, Tuan Odo.” Kepala Keluarga Stein ambil bicara. Tanpa menyisihkan waktu untuk membangun momentum pembicaraan, pria tua tersebut berkata, “Ini tentang rencana yang saya ambil selaku Kepala Keluarga Stein. Mempertimbangkan keputusan yang telah dibuat oleh Kepala Keluarga Irtaz, saya merasa akan lebih tepat jika pria tua ini juga masuk ke dalam rencana Anda.”
Odo merasa permintaan tersebut disampaikan dengan sedikit berkelit. Tidak mengubah ekspresi wajahnya yang tampak tidak niat, Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit menghela napas dan bertanya, “Bukankah Anda sudah punya rencana sendiri? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?”
“Sebenarnya rencana saya juga berkaitan dengan Tuan Irtaz. Saya tidak mengira Anda akan mengajak beliau juga. Hasilnya, saya tidak punya pilihan selain ikut dengan rencana Anda.”
“Hmm ….” Pemuda rambut hitam itu tidak mengubah ekspresi wajah, seakan-akan sudah tahu hal tersebut. Tidak mempermasalahkan permintaan Kepala Kelurga Stein, Odo tanpa pikir panjang berkata, “Saya tidak keberatan, namun saya harap Anda juga tidak melakukan hal yang melenceng dari rencana. Apa yang diperlukan sekarang hanya memperbanyak suara, sampai duel yang akan berlangsung besok ….”
“Terima kasih banyak, Tuan Odo. Namun ….” Oma yang duduk di sebelah Ri’aima memperlihatkan kegelisahan. Seakan telah tahu siapa yang akan melakukan duel tersebut, pria tua itu segera memastikan, “Apakah orang yang telah Tuan pilih sudah benar-benar tepat? Dia bisa mengalahkan Prajurit Elite itu dalam duel, bukan?”
Odo sekilas melirik ke arah Ri’aima saat mendengar pertanyaan tersebut, merasa bahwa perempuan rambut biru pudar itu telah mengatakan hal lain juga kepada Kepala Keluarga Stein. Menghela napas sejenak, Putra Tunggal Keluarga Luke merasa lega karena hanya menyampaikan keseluruhan rencana dan tujuan kepada Rosaria seorang.
“Tenang saja, saya sedang melatihnya. Paling tidak, dia seharusnya bisa mengalahkan Prajurit Elite itu atau seri saat melawannya.”
Apa yang Odo katakan tidak membuat Oma Stein yakin. Merasa harus mempertaruhkan hasil akhir kepada orang yang bahkan tak pernah dirinya temui, pria tua itu sedikit mengerutkan kening dalam kegelisahan.
“Baiklah, saya akan berusaha untuk percaya. Putri saya telah memilih untuk percaya kepada Tuan Odo, lalu Anda sendiri sudah memilih percaya kepada orang tersebut. Sebab itu, tidak ada salahnya untuk saya juga mempercayainya.”
“Bicara soal percaya ….” Odo sedikit memasang senyum kecut. Sekilas memejamkan kedua mata, pemuda rambut hitam itu dengan jelas bertanya, “Kalian sedang membicarakan apa dengan orang-orang ku?”
Menggantikan Kepala Keluarga Stein, Canna segera menjawab, “Kami diajak bicara soal permintaan Tuan Oma untuk masuk ke dalam rencana Anda. Lalu, soal ramuan yang saya berikan kepada Tuan Oma sebelumnya.”
“Memangnya ada apa dengan ramuan itu?” tanya Odo sekali lagi. Ia perlahan membuka kedua mata, lalu menatap penyihir di sebelahnya dengan sorot datar.
“Itu ….” Canna sekilas memalingkan pandangan. Dengan nada sedikit ragu, ia pun menjawab, “Beliau bertanya, apakah ada atau tidak ramuan untuk menyembuhkan penyakit mental. Saya … tadi juga bilang bahwa ramuan tersebut adalah buatan Anda.”
“Ah …” Odo mengangguk. Ingin melanjutkan kebohongan yang dibuat oleh sang Nyonya Rumah, pemuda itu hanya bertanya, “Untuk Nyonya Agathe?”
“Itu benar!” Oma Stein segera menegaskan.
Melihat ekspresi pria tua itu yang sangat semangat, Odo sesaat merasa kasihan karena rasa percaya tersebut telah dikhianati oleh istrinya sendiri. Ingin memendam rahasia sang Nyonya Rumah rapat-rapat, pemuda rambut hitam itu menggelengkan kepala.
“Sayang sekali saya tidak ahli dalam hal semacam itu. Meski bisa membuat ramuan antidote ataupun pemulihan, hal yang berkaitan mental adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan saya.”
“Begitu ya ….” Oma Stein seketika kecewa. Sembari menundukkan wajah lesu, pria tua itu kembali berkata, “Sayang sekali. Saya cukup berharap ia bisa sembuh dan satu keluarga ini kembali seperti semula. Sehingga saya kali ini bisa meminta maaf dengan benar dan memperbaiki semua kesalahan yang ada.”
Bagi orang lain, mungkin itu terdengar seperti seorang pria yang sedang menyesali perbuatannya dan ingin bertobat. Namun, di telinga Odo hal tersebut malah terdengar sangat menjengkelkan. Membuatnya kembali teringat dengan masa lalu, di mana dirinya masih berpikir semua hal bisa diperbaiki dengan penyesalan dan penebusan.
“Meski setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua, itu tidak akan sama dengan kesempatan pertama,” benak Odo dengan kedua alis turun.
Menarik napas dalam-dalam, Putra Tunggal Keluarga Luke berusaha untuk tidak terbawa suasana. Namun, tetap saja suasana yang hati sangat mempengaruhi tindakannya. Membuat ia membuka mulut, lalu dengan niat buruk berkata, “Saya rasa, Nyonya Agathe akan sembuh sebentar lagi. Jika beliau sering diajak bicara dan diingatkan kembali dengan semua anggota keluarga di sini, saya rasa beliau bisa pulih. Dalam penyakit seperti itu, dukungan keluarga sangatlah penting.”
“Be-Benarkah?!” tanya Oma dengan semangat.
“Sungguh? Ibunda … masih bisa sembuh,” ujar Ri’aima.
“Syukurlah, paling tidak ada harapan,” benak Baldwin.
“Ibunda …, saya harap beliau bisa segera pulih,” kata Xavier.
Melihat ekspresi anggota Keluarga Stein lain, Odo mulai merasa sedikit menyesal karena awalnya tidak mengira mereka juga akan berharap seperti itu. Namun, karena rasa kesal dalam benak, pemuda itu kembali bersikap kekanak-kanakan dan berkata, “Itu hanya sebatas kemungkinan, jadi tidak ada salahnya mencoba.”
Agathe memang akan senang diajak bicara oleh anak-anaknya. Namun, pada saat yang sama Putra Tunggal Kelurga Luke tahu, bahwa hal tersebut juga akan membuat sang Nyonya Rumah semakin benci kepada Oma. Sebab sang Nyonya Rumah akan semakin teringat dengan kekejaman yang dilakukan oleh sang Kepala Keluarga di masa lalu, lalu mengutuknya semakin dalam.
Tidak memedulikan kekacauan yang bisa saja muncul saat Agathe tidak bisa menahan diri lagi dan membongkar kebohongan, Odo hanya memasang senyum ringan. Seakan benar-benar ingin memberikan harapan kepada mereka.
Setelah itu, pembicaraan ringan pun berlangsung sebagai penutup. Membahas kembali agenda yang akan dilakukan pada hari tersebut, lalu memastikan pejabat siapa saja yang akan diajak bergabung dalam alur pemulihan pengaruh Keluarga Stein sebelum duel berlangsung.
ↈↈↈ
\===========
__ADS_1
Catatan Kecil :
Fakta 040: Konsep time travel di seri ini hampir tidak bisa terwujud, sebab faktor kemungkinan / potensi / sesuatu yang bisa menyebabkan hal tersebut mungkin terjadi telah hilang dari dunia selanjutnya. Berbeda dengan dunia sebelumnya yang bisa dikatakan sempurna.