Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[117] Flamboyan Akhir Zaman VI – Inkarnasi (Part 01)


__ADS_3

Tidak ada yang lebih memikat dari gadis kesepian.


Duduk murung di sudut ruangan, menyatukan kedua tangan sembari berdoa untuk dunia yang lebih baik.


Sangat murni, sungguh polos, dan begitu menggoda⸻


Sampai-sampai aku ingin menodainya!


Merusak kemurnian itu dengan tangan kotor ini!


Mewarnai tubuhnya dengan air jauhar milikku!


Menanamkan benih pada tubuh mungilnya!


Itulah dosa pertama yang diriku perbuat kepada dunia⸻


Menciptakan sebuah kutukan yang tak kunjung pupus. Saling menyerapah layaknya orang gila, dipenuhi murka membara. Bekas luka yang selalu mendatangkan rasa gatal, terbuka kembali saat digaruk dengan kasar.


Aku benci pada diriku sendiri, tidak ingin menjadi istimewa.


Diriku hanya ingin hidup dan mati layaknya orang normal.


Mendapatkan akhir layaknya makhluk hidup pada umumnya.


Namun, akar dunia takkan pernah mau memberikan hal tersebut. Ia terus mengikat jiwaku, mematenkan kepribadian, dan memisahkan konsep akhir dari eksistensi.


Inkarnasi dan Reinkarnasi. Terlahir menjadi seseorang atau memulai kehidupan dari awal. Menjalani kisah gemerlap layaknya sebuah pentas panggung. Menjadi pusat dari sebuah peristiwa, kemudian diakhiri dengan indah dengan pengorbanan.


Setelah dikhianati dan dibunuh, reinkarnasi.


Karena gagal mencapai sesuatu dan bunuh diri, kembali reinkarnasi.


Berusaha terlalu keras dan mati kelelahan, sekali lagi reinkarnasi.


Tidak ada panduan dalam menjalani takdir.


Tak ada satupun tutorial, kode rahasia, ataupun jalan pintas layaknya video game.


Meskipun ramalan dan pengalaman dapat menjadi petunjuk, kebanyakan dari itu tidak bisa diandalkan saat dihadapkan pada situasi yang sebenarnya.


Pencapaian akan lenyap saat semuanya diulang. Dimulai dari awal dalam lembaran kosong, namun tingkat kesulitan akan terus meningkat.


Beban bertambah berat, tujuan semakin banyak, dan arahan berubah menjadi abstrak hingga tidak bisa lagi dipahami.


Pada akhirnya, tidak ada lagi yang dapat diandalkan selain diriku sendiri. Menjadikan pikiran sebagai kompas tunggal, tersesat dalam kebimbangan dan ketakutan.


Setiap hari diriku serasa semakin jauh dari kedamaian.


Saat ingatan kembali, semuanya telah terlambat dan diriku berakhir menjadi tumbal untuk dunia selanjutnya. Tubuh dijadikan pilar penopang, sedangkan jiwa akan ditarik keluar dan seluruh pengalaman akan diambil untuk pembaharuan.


Panen Pengetahuan untuk Dunia Selanjutnya⸻


Ditanam untuk menjalani dunia, memerankan berbagai macam tokoh, kemudian dipanen untuk dikonsumsi oleh dunia. Mengubah akhir menjadi sebuah awal.


Permintaan maaf tidak lagi berarti.


Delusional. Sentimental. Skeptis. Kerumpangan. Murka.


Aku berharap dirinya berpindah hati. Merasa bosan, memilih yang lain dan meninggalkan diriku. Mengakhiri siklus yang tak kunjung berakhir ini.


Hari yang ideal, ambisi berkepanjangan. Sampai mata memerah pun itu takkan terwujud.


Lantunan melodi dari sepasang orang bodoh yang tak punya tempat untuk pulang. Terus mengulang dunia dan berharap menemukan sesuatu di ujung sana.


Mereproduksi.


Inkarnasi.


Reinkarnasi.


Penyempurnaan.


Diulangi lagi dan lagi.


Lagi dan lagi!


Dan lagi!


Lagi ….


Kisah asmara sepihak yang tak kunjung berakhir.


Terlalu murni untuk disebut cinta, terlalu lembut untuk disebut ketergantungan. Kasih sayang yang diberikan sang Perawan sangatlah tidak tergantikan.


Namun, itu takkan mengubah apapun. Diriku tidak akan berubah. Itu merupakan ketetapan yang ia buat sendiri, serta diriku yakini sampai detik ini.


Karena itulah, idealisme dan impian yang dirinya teriakan tidak bermakna lagi. Hanya sebuah ratapan tak jelas dari gadis kesepian di sudut dunia.


Aku bersumpah pada jiwaku sendiri untuk tidak meraih uluran tangannya. Hanya memandang, berbicara, dan menemani. Sebuah penebusan atas dosa yang telah diriku perbuat kepadanya. Menodai kemurnian nan suci dengan kutukan hitam.


Cinta kelak akan membawa kebencian, karena itulah kita tidak seharusnya saling mencintai sejak awal.


Pertemuan hanya akan mengantarkan kita pada perpisahan, sebab itulah lebih baik kita tidak bertemu saja dari awal.


Persatuan hanya akan membawa perpecahan, kita pada akhirnya memang tidak boleh bersama. Menjadi diri kita sendiri dan saling membenci.


Berkomitmen untuk bertanggung jawab, namun berakhir saling mengingkari karena perbedaan pendapat. Membenci sampai darah mendidih⸻


Ah, salah ….


Engkau selalu mencintai diriku, bukan? Diriku yang tidak bisa mencintaimu.


Karena itulah, membenci dan menyalahkan menjadi pilihan ku sebagai penghubung kita.


Mimpi yang engkau miliki sangat besar, mulia, dan patut untuk diperjuangkan.


Namun, bagiku itu sangat murahan.


Kognitif rendahan tanpa mampu memperkirakan masa depan. Mendefinisikan persepsi sebagai kejahatan karena menentukan sesuatu dari kalkulasi dan perkiraan semata.


Kecerdasan dan pengetahuan yang menggeneralisasi makhluk hidup. Menciptakan hierarki berdasarkan kemampuan dan kompetensi. Merendahkan derajat sesama dengan status pengetahuan yang dimiliki.


Menciptakan lingkungan kompetitif yang ketat, menghapus kemalasan dan inkompeten dari masyarakat. Efektivitas tatanan normal dan nilai.


Berujung menciptakan otoritas yang akan menelan kilatan perubahan. Padam dalam sekejap setelah bersinar terang. Layaknya bintang raksasa yang mencapai ajalnya.


Lalu, puncak dari semua itu adalah menciptakan Kecerdasan Buatan. Sebuah program yang berpura-pura menjadi Tuhan dengan mengingkari Ketuhanan itu sendiri. Berakhir menjadi orang bijak yang berubah bodoh saat duduk di atas tahta.


Menjijikkan⸻!

__ADS_1


Sungguh!


Rasanya seperti aku berkata, “Baik-baik saja, kok! Diriku sehat sentosa!” saat sedang dimutilasi. Penuh kemunafikan.


Namun, jika dipandang oleh orang lain itu tampak seperti pengorbanan nan suci.


Mungkin sebaiknya aku pergi sendiri saja ….


Diriku berharap pergi!


Sayangnya, kita berdua! Selalu berdua! Di akhir dunia kita selalu berdua!


Aku sakit, gila, dan lelah.


Luka ini sangat menyiksa.


Meski kau berkata membutuhkan diriku, itu tidak menyelesaikan apapun.


Meskipun kau berkata tidak bisa menjalani hidup tanpa diriku ….


Diriku tidak ingin hidup bersamamu.


Akhiri ini! Lepaskan tangan ini! Maafkan jiwa ini!


Biarkan diriku memejamkan mata dengan layak.


Aku tahu kau tak ingin yang baru. Namun, diriku sudah lelah.


Jika memang kau tidak ingin melepaskan diriku, maka akhiri perjalanan kita.


Antarkan dunia ini menuju Akhir nan Suci!


Namun, sayangnya dari awal dunia ini tercipta sebagai noda. Layaknya buih dalam laut kehampaan, semesta tiba-tiba muncul dan terus membesar. Berdenyut, hidup, dan perlahan menghilang dengan sendirinya.


Tidak ada yang namanya Siklus Suci ataupun Akhir Suci, itu hanya pengulangan untuk memperpanjang kontinuitas dunia. Diulur dengan mengonsumsi konsep Absolut Infinity. Memberikan sebuah Limitasi dan menggunakannya sebagai bahan bakar.


Layaknya kapal induk luar angkasa kelas penjelajah dengan reaktor matahari di dalamnya, konsep tersebut dikonsumsi sebagai bahan bakar.


Ditangkap dan dibelenggu menggunakan sebuah tatanan hierarki terpusat, kemudian disalurkan melalui cluster dalam konsep pengetahuan yang dibagi secara tidak merata. Menciptakan aturan Teologi di mana Dewi Sejati tercipta sebagai pasak utama.


Ialah yang aku nodai. Sosok yang seharusnya tetap suci itu aku rusak dengan keji.


Pakaiannya diriku robek, mulutnya aku sumbat, dan⸻


Sudahlah, itu terlalu menjijikkan untuk diungkapkan dengan kata-kata. Diriku menyesali hal tersebut. Tindakan itu murni sebuah dosa. Tidak ada pembelaan.


Jujur saja, mengapa bisa aku melakukan hal keji seperti itu?


Dia hanya seorang perempuan yang sedang merana dalam kesepian!


Mengapa bisa diriku berbuat seperti itu kepadanya?!


Jika disebut karena nafsu, aku rasa itu tidak sepenuhnya benar. Ada banyak wanita di luar sana yang menawan, berlomba untuk melayani diriku bahkan sampai menggunakan kekerasan untuk menjatuhkan para pesaing.


Namun⸻


Mengapa dirinya ada di sana pada malam itu? Saat diriku mulai meragukan kehendak dunia, ingin mengakhiri kejayaan dengan cara yang berbeda.


Apakah ini yang namanya takdir? Diriku rasa bukan ….


Takdir memang ada dua jenis, yang bisa diubah dan tidak bisa diubah. Bagi makhluk mortal, kematian dan beberapa hal mutlak lainnya merupakan sesuatu yang tidak bisa diubah.


Menerka kejadian masa lalu.


Menebak apa yang sedang terjadi.


Memprediksi apa yang akan terjadi.


Kapanpun.


Di manapun.


Jika dilihat sekilas, ini memang tampak seperti ramalan. Bahkan pada masa itu banyak yang menguasai kemampuan serupa. Namun, sebenarnya konsep Kemahatahuan lebih kompleks dari sekadar mengetahui.


Saat didalami dan diolah dengan baik, Kemahatahuan dapat menjadi konsep yang sanggup menandingi Kemahakuasaan milik Dewi Sejati. Bahkan mampu menandingi kehendak yang mengekang seluruh makhluk, menyaingi eksistensi dunia.


Ini terlalu konyol untuk menjadi kenyataan. Kemahatahuan awalnya diriku gunakan untuk merayu wanita dan hidup nyaman, diriku dapatkan dari hasil mengutak-atik struktur otak. Menanamkan beberapa program kalkulasi supaya menjadi lebih pintar.


Dari awal, ini memang sebuah kesalahan. Tren seperti melubangi tengkorak untuk menyembuhkan penyakit, menstimulasi otak untuk memaksimalkan kemampuan motorik, atau bahkan memperoleh kekuatan psikis dengan menyuntikkan zat-zat aneh ke dalam saraf.


Apa yang mereka lakukan pada saat itu hanya meniru para Pertapa, tanpa memahami prinsip ataupun prosedur yang ada di dalamnya. Mengakibatkan kecacatan masal, lalu kemunduran pesat karena anak-anak muda tidak bisa produktif.


Di sisi lain, kalangan Pertapa muncul sebagai kaum superior. Mereka yang mengetahui konsep perombakan ini menjadi lebih cerdas, unggul, dan kuat.


Namun, sayangnya mereka terlalu pintar untuk membawa perubahan.


Mereka tahu bahwa penemuan dan teknologi hanya akan mendatangkan kehancuran. Terlalu banyak orang biadab di daratan. Bodoh, berpikiran sempit, dan hanya mementingkan diri sendiri serta golongan.


Ironisnya, para Pertapa itu pun memiliki sikap serupa. Memprioritaskan kaum kami sendiri daripada kemajuan dunia.


Karena itulah, kaum Pertapa lebih memilih untuk berdiam diri di gunung dan melanjutkan penelitian.


Sebutan Pertapa sendiri diberikan oleh orang-orang di daratan. Mengira kaum kami adalah kelompok religius, bermeditasi di gunung untuk mendapat semacam kekuatan.


Kenyataannya, kami hanyalah sekumpulan orang kolot yang suka meneliti. Tanpa tahu hasil penelitian harus digunakan untuk apa.


Meski ada beberapa dari kami yang turun untuk membawa perubahan, orang-orang dungu hanya akan menyerapah dan meneriaki mereka penyihir. Tanpa mau tahu atau bahkan sekadar mengenal apa itu sains.


Pada akhirnya, kaum Pertapa memutuskan untuk mengisolasi diri mereka. Membuat pelindung tak kasat mata untuk menyembunyikan laboratorium, kemudian menciptakan monster-monster untuk mengusir orang-orang dungu.


Ketetapan itu berlangsung selama puluhan tahun, ratusan, ribuan, atau bahkan belasan ribu tahun. Tanpa ada kendala ataupun masalah, benar-benar terisolasi hingga persepsi mereka terhadap konsep waktu menjadi tumpul.


Banyak hal yang mereka temukan selama ketetapan isolasi berlangsung.


Menggunakan rekayasa genetik, kaum kami berhasil menghapus ketetapan jangka hidup.


Menanamkan struktur kehidupan lobster dan ubur-ubur turritopsis dohrnii ke dalam peta genetik, kemudian direproduksi untuk menciptakan obat keabadian.


Sempat ada beberapa orang dungu berhasil mencuri itu dari laboratorium. Menyebutnya ramuan keabadian, sedangkan versi pil dikenal sebagai batu bertuah.


Namun, mereka semua pada akhirnya dibunuh oleh beberapa utusan kaum kami.


Setelah melakukan pencarian selama ratusan tahun, keberadaan orang-orang dungu itu akhirnya ditemukan. Ada yang menjadi saudagar, bangsawan, dan bahkan penguasa.


Meski mereka bersikap baik, tidak ada celah ataupun ampunan dalam hukum kaum kami. Tepat setelah lokasi mereka diketahui, keputusan pun diambil pada hari itu juga.


Menggunakan kekuatan telekinesis, tubuh para pencuri itu dipelintir dari jarak belasan kilometer. Kaki dan tangan dipatahkan, otak dalam tengkorak diacak-acak, kemudian jantung diremas sampai pecah.


Setelah itu, rumor tentang kutukan ramuan keabadian atau batu bertuah mulai menyebar. Membuat para penduduk daratan tidak lagi mau berlomba untuk mendapatkannya.

__ADS_1


Beberapa ratus tahun kemudian, kami pun melanjutkan penelitian. Kali ini dilakukan dengan hati-hati supaya kejadian sebelumnya tidak terulang.


Meningkatkan keamanan, menanamkan kode-kode rumit, dan mengaplikasikan pola terstruktur supaya tidak bisa disalahgunakan oleh orang awam.


Kami menciptakan mesin elektronik untuk mempermudah arsip penelitian. Membuat sebuah jaringan komputer yang menggunakan sistem penyimpanan sentralisasi, memudahkan akses para peneliti dengan pengawasan menggunakan kode genetik.


Kurang dari satu dekade, kami memulai proyek astronomi dengan membangun sebuah teleskop raksasa.


Beberapa dekade kemudian, kaum kami berhasil menciptakan peta astronomi sempurna. Namun, selalu mengalami revisi karena setiap tahun ada bintang di langit yang padam.


Bosan melakukan tugas yang sama berulang kali, kaum kami memutuskan untuk membuat program kalkulasi otomatis. Memperhitungkan siklus waktu bintang, lalu mencetuskan sistem kalender baru dengan basis orbit matahari terhadap lubang hitam.


Lebih sistematis, teratur, dan kompleks. Namun, tidak terlalu rumit dan berlaku di semua tempat. Bahkan di luar angkasa sekalipun.


Mulai tertarik dengan antariksa, para Pertapa mulai menjalankan proyek roket pertama. Melakukan uji coba dengan mengirim komputer ke luar angkasa, kemudian dilanjutkan dengan hewan, lalu baru mereka sendiri.


Beberapa ratus tahun kemudian, kaum kami mulai mengirim belasan satelit yang telah dikembangkan. Ada yang berfungsi sebagai fasilitas observasi, penelitian, citra, navigasi, dan komunikasi.


Bahkan ada satu satelit yang memiliki fungsi militer, dilengkapi senjata pemusnah peradaban berupa meriam bertenaga nuklir. Dapat menembakkan sinar plasma beradiasi tinggi dengan daya rusak ratusan kilometer.


Namun, tentu saja kaum kami tidak tertarik dengan perang ataupun mendapatkan dominasi dunia. Seluruh satelit digunakan untuk penelitian, bahkan yang memiliki fungsi militer diarahkan ke luar angkasa. Digunakan sebagai booster pengiriman sinyal.


Sonar yang dilepaskan ke luar angkasa, observasi citra melalui beberapa lensa, dan pengiriman satelit-satelit penjelajah. Melalui ratusan sampai ribuan projek, kaum kami akhirnya dapat memprediksi luas semesta.


Lebih tepatnya, kami berhasil menemukan ujung dunia. Sebuah hamparan singularitas gravitasi di mana kemampuan observasi telah lenyap. Tidak ada visual, sinyal, atau bahkan cahaya. Kehampaan sejati di sudut dunia.


Pada saat itu, kaum kami untuk pertama kalinya menafsirkan konsep Ketakterbatasan. Memahami beberapa misteri dunia, lalu menyadari eksistensi Dewi Sejati di sudut semesta.


Pencapaian itu tidak mendatangkan perasaan bangga ataupun senang, melainkan ketakutan sejati. Saat kami melihat sosok tersebut, ia juga melihat ke arah kami. Melempar senyum dan mulai mendekat.


Setelah kejadian itu, kaum kami berhenti melakukan observasi ke luar angkasa. Kembali berfokus pada daratan dan lautan, mulai menghargai tempat itu sebagai kampung halaman.


Apapun yang telah kami lihat di ujung dunia, diriku sangat bangga karena lahir sebagai kaum mereka. Meski persepsi yang diriku miliki sedikit berbeda, penelitian dan diskusi untuk memecahkan suatu masalah sangatlah menyenangkan.


Karena itulah, aku bahkan sempat berpikir untuk turun ke daratan dan menyalurkan penemuan mereka. Keluar dari laboratorium tempat diriku dilahirkan.


Tentu saja banyak yang melarang hal tersebut. Kami memiliki aturan, hanya beberapa Pertapa saja yang boleh melakukan kontak dengan penduduk daratan. Itu pun dengan misi khusus dan protokol yang ketat.


Banyak yang telah mencoba dan gagal, bahkan ada yang sampai mendatangkan bencana karena penemuan mereka disalahgunakan.


Kegagalan dapat mendatangkan konsekuensi yang sangat besar. Karena itulah, para Pertapa lebih memilih progres lambat daripada revolusi penuh risiko.


Namun, aku tetap ingin mencobanya.


Menggunakan konsep Teologi yang diriku dapatkan melalui diskusi panjang, merombak tatanan dunia melalui sebuah ilusi terstruktur.


Bertingkah layaknya sosok Tuhan dengan mengingkari Ketuhanan.


Sungguh⸻


Diriku tidak punya niatan buruk. Ini bukan berarti aku ingin dipuja atau bahkan mendapatkan sesuatu dari mereka.


Sebagai seorang peneliti, diriku hanya ingin melihat hasilnya. Konsep indah untuk mengatur semua orang dalam kebaikan murni.


Dan⸻


Itu berhasil. Ini mengejutkan, bahkan seluruh Pertapa di kastel melayang tidak percaya dengan hal tersebut.


Hanya dengan sebuah buku yang dijatuhkan ke daratan, konsep kebaikan murni mulai menyebar dengan cepat layaknya pandemi.


Mereka tidak menjadi pintar atau semacamnya. Namun, pengetahuan untuk berbuat baik itu dengan jelas mengubah satu tatanan dalam nilai dan moral mereka.


Aku ingin berhenti saat melihat hasilnya.


Itu terlalu menakutkan, sungguh. Maksud ku⸻


Bagaimana bisa sebuah buku mampu mengubah tatanan sampai seluas itu?


Hanya dengan tulisan, mereka mulai belajar untuk memperbaiki diri. Menyebarkan hasilnya dan saling membantu. Menciptakan sebuah kepercayaan tunggal yang mengikat.


Meski prosesnya dipenuhi konflik dan pertumpahan darah, hasil akhir yang didapat benar-benar sesuai dengan apa yang diriku tulis.


Sebuah utopia di mana kepercayaan tunggal meracuni seluruh pengikutnya dengan kuat.


Berhenti adalah pilihan yang tepat! Jika diriku lanjut menulis kitab itu atau melakukan sesuatu, susunan yang rapi ini pasti akan runtuh!


Meskipun tidak runtuh, ini berpotensi mencapai langit dan mengusik entitas tingkat tinggi. Apalagi setelah eksistensi Dewi Sejati dikonfirmasi ….


Sayangnya, pemimpin para Pertapa memiliki persepsi yang berbeda.


Daripada melewatkan potensi tersebut, ia lebih memilih untuk mengambil risiko dengan mengutus diriku turun. Memberikan semua bekal untuk menjadi Khalifah Dunia.


Dia sudah tidak waras, itulah yang aku pikirkan saat mendengar keputusan tersebut.


Diriku tidak bisa menolaknya, ia sudah banyak membantuku dalam implementasi rancangan proyek Teologi tersebut. Karena itulah, dengan berat hati diriku mengangguk.


Awalnya aku kira ini hanya akan mendatangkan kekacauan. Bencana karena sosok Dewa turun menemui pengikut, menciptakan kesenjangan di antara pengikut lain.


Namun, ternyata ini lebih menyenangkan dari apa yang aku pikir.


Mereka tetap setara, taat mengikuti ajaran yang ada dalam buku tersebut. Berusaha untuk tetap suci, menjaga keharmonisan dengan patuh dan tulus.


Mereka memuja diriku layaknya Dewa, memberikan persembahan dan bahkan sampai mendirikan kuil megah.


Kenyamanan yang mereka berikan membuat diriku lengah, mendatangkan kenikmatan yang memabukkan.


Tanpa sadar, diriku mulai memanfaatkan mereka untuk mempermudah kehidupanku. Mengucapkan kebusukan, memikat para wanita, dan memperdaya mereka dengan kata-kata.


Anak kecil, istri orang, wanita muda, gadis, janda, tunasusila, atau bahkan Ratu dan Tuan Putri dari sebuah kerajaan. Aku pernah mencicipi semuanya.


Jujur saja, diriku berharap mereka memberikan teguran!


Bila perlu dihukum pun tidak apa-apa.


Namun, tidak ada satupun Pertapa yang mengingatkan. Layaknya kalangan peneliti pada umumnya, orang-orang itu hanya menonton dari atas dan mengamati. Menjadikan diriku sebagai subjek penelitian mereka.


Ah, biarlah. Lagi pula ini tidak terlalu buruk.


Nikmat apa yang harus diriku dustakan! Ini adalah surga dunia!


Setidaknya, itulah yang aku pikirkan sebelum membuat dosa besar itu. Menodai gadis kesepian di sudut ruangan, sosok yang disebut sebagai Magdala, Peak of Living Thing.


Padahal ia datang karena rindu, berkata ingin menemui diriku dan berbicara sebentar. Tidak sabar menunggu siklus terjadi ….


Tanpa memikirkan apa yang gadis itu ingin sampaikan, aku langsung menyerangnya layaknya binatang buas. Menodai dunia, mengaktifkan proses menuju akhir dunia, dan menarik pelatuk kiamat.


Pada akhirnya, diriku berakhir di penghujung itu lagi. Puncak Singularitas.


Duduk canggung tanpa percakapan. Hanya ada penyesalan, rasa malu, dan amarah pada diri kita sendiri. Bertanya-tanya mengapa kita bisa melakukan hal bodoh seperti itu.

__ADS_1


ↈↈↈ


__ADS_2