
Sejauh mata memandang Alam Jiwa tersebut dipenuhi rerumputan. Hijau gelap mendominasi, bercampur dengan gulma dan bunga-bunga liar yang tersebar di penjuru tempat. Alang-alang tumbuh lebih dari satu meter, beriringan dengan rumput Teki serta bunga Kenop.
Angin menerbangkan rerumputan dan kelopak bunga ke udara, menjadi sebuah taburan indah layaknya perayaan sunyi. Semerbak wangi semakin kuat ketika kelopak berhamburan, memberikan sentuhan kedamaian dalam tempat sepi itu.
Langkah kaki tanpa alas di atas permukaan rumput, diiring suara siulan yang keluar dari mulut mungil. Berirama mengikuti hembusan angin sepoi-sepoi, lalu membuat gaun putih dan rambut kebiruan berkibar layaknya sebuah tirai pentas.
Rambut panjangnya merefleksikan cahaya yang berasal dari langit, tampak mengkilap indah layaknya benang nilon. Kulit seputih salju, terlihat sangat mulus seakan tidak pernah terjamah oleh tangan-tangan nakal.
Gadis Naga tersebut memiliki sepasang tanduk di kepala dengan ujung kebiruan, terlihat seperti memancarkan cahaya neon redup di tempat terang. Ekor dengan ujung seperti trisula bergerak ke kanan dan kiri seakan-akan sedang menari, menikmati momen damai di depan pintu penentuan yang akan dilewati.
Putri Sulung sang Dewa Naga, Seliari ⸻ Hampir tidak ada lagi makhluk yang mengenalnya dengan nama tersebut. Kebanyakan dari mereka mengidentifikasinya sebagai Naga Hitam, Pembawa Malapetaka, atau bahkan simbol kehancuran yang disegani sekaligus ditakuti.
Namun, dalam Alam Jiwa tersebut semua status dan julukan itu tidaklah penting baginya. Sang Putri Naga melangkah dengan senyum lebar, mengikuti iringan irama yang hanya bisa didengar olehnya seorang.
Begitu tegas dan anggun, sekali-kali berputar pada poros dengan tumpuan kaki kanan, lalu merentangkan kedua tangan dan membungkuk seakan sedang berdansa dengan angin. Sesekali bersiul dan bersenandung, lalu meraih selembar daun yang gugur dari Pohon Besar yang tumbuh di tempat tersebut.
“Meski sebentar lagi kita akan bertarung habis-habisan melawan Leviathan, sepertinya kau sangat tenang …..”
Pemuda rambut hitam yang berdiri melihat sang Putri Naga menyipitkan tatapan. Menarik napas sejenak dan berjalan menghampiri, ia mengulurkan tangan kanannya seakan ingin mengajak Seliari berdansa bersama.
“Tenang?” Sang Putri Naga berhenti menari dengan angin, lalu menghadap ke arah pemuda bernama Odo Luke tersebut dan melempar senyum ringan. Sembari meraih uluran tangannya ia menyampaikan, “Ini benar-benar membuat diriku frustrasi, bisa saja pilihan ini menuntun kita ke akhir kehidupan.”
Perkataan Seliari sangat bertentangan dengan ekspresi ceria dan tingkah yang diperlihatkan, itulah yang Odo rasa saat mendengar hal tersebut. Tidak ingin mempermasalahkan hal semacam itu, sang pemuda membuat langkah untuk memimpin Putri Naga dalam irama.
Kemeja putih rangkap rompi merah, lalu celana panjang berwarna hitam serta sepatu kulit. Pakaian yang dikenakan sang pemuda mendukung suasana yang ada di antara mereka, membuat tempat terbuka itu seakan menjadi aula pesta dansa bagi kedua instan tersebut.
Odo menuntun sang Tuan Putri Naga menari bersama, lalu mengikuti irama tarian Waltz dengan ketukan sederhana dan langkah ringan. Berdiri dalam jarak selebar bahu, pemuda rambut hitam tersebut meletakkan tangan kanan ke tulang belikat pasangan, lalu mengambil langkah ke depan dengan kaki kiri untuk memulai.
Sebagai yang dituntun dalam dansa, Seliari meletakkan tangan kiri ke bahu kanan Odo. Saat pasangannya mengambil langkah ke depan, ia menarik kaki kanan ke belakang sembari mengikuti irama ketukan yang ada.
Saling bergantian dalam ritme ketukan kaki, sembari saling merangkul dan bergandengan dalam langkah yang selaras. Ditambah dengan langkah secara diagonal ke kiri dan kanan, Seliari juga melakukan gerakan berputar dalam poros dan Odo menangkapnya sebelum terjatuh ke belakang.
Momen tersebut seakan menjadi milik mereka seorang, tanpa ada pengganggu dan terasa sangat menenangkan hati. Sebuah kedamaian yang terasa seperti penyakit. Meski tahu hal tersebut terasa salah dan busuk, mereka berdua tetap menikmati momen tersebut dalam senyuman.
“Apa tidak masalah jika aku membunuhnya?”
Untuk sesaat Seliari kehilangan irama dan hampir terjatuh saat mendengar pertanyaan tersebut. Namun, Odo segera menurunkan tangannya ke pinggang Putri Naga itu dan menahannya. Menariknya kembali untuk berdiri tegak, mereka pun kembali berdansa dalam tempat sunyi tersebut.
“Bukankah dirimu ingin menyelamatkannya?” Seliari memperlihatkan ekspresi cemas. Irama kakinya menjadi lambat, lalu sorot mata pun sedikit turun dan tampak enggan untuk menatap pasangan dansa. Seraya melirik kecil sang Putri Naga kembali memastikan, “Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Bukankah sebelumnya engkau bilang ingin menyelamatkan Leviathan? Membebaskannya dari Kutukan Kegilaan …, lalu menjadikannya rekanmu.”
“Entah mengapa aku kehilangan rasa percaya diri. Ini mulai terasa hampa, rasanya sangat menyusahkan jika diteruskan.”
Odo sedikit menaikkan irama dansa seakan ingin menyembunyikan sesuatu. Ia memaksa Putri Naga untuk mengikuti tempo ritme yang dibuatnya, lalu sedikit menambah gerakan ekstrem seperti membuat dada bersentuhan dengan erat.
“Kehilangan rasa percaya diri? Makhluk serba tahu seperti dirimu?”
Seliari tidak membiarkan Odo memimpin lagi. Ia segera berputar dalam poros sebanyak 360 drajat, lalu mengambil langkah menjauh sembari melepaskan kedua tangannya dari pasangan dansa.
Seraya menggerakan pinggan ke kanan dan kiri, Putri Naga kembali bergerak cepat ke arah Odo. Ia langsung melingkarkan kedua lengan ke belakang pemuda rambut hitam tersebut, lalu merangkul dengan erat dan meniup telinganya.
__ADS_1
Pada saat itu, dasa mereka pun terhenti untuk sesaat. Odo tidak menjawab pertanyaan Seliari, hanya memperlihatkan wajah muram seakan tidak ingin menyampaikan isi hati dan hanya terdiam.
“Begitu, ya. Diriku paham ….”
Seliari berhenti merangkul, mengambil dua langkah ke belakang sembari mengangkat kedua tangan ke atas menggoyangkan pinggulnya. Berputar 180 drajat, ia pun berpaling dari Odo untuk menghentikan dansa beserta pembicaraan.
Namun, tentu Odo tidak ingin pembicaraan itu berhenti. Ia segera meraih tangan kanan Seliari, lalu memutar tubuh gadis naga tersebut supaya menghadapnya. Saling menatap dari dekat dalam senyap, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut.
Pemuda rambut hitam tersebut meletakkan tangan kanan ke tulang belikat Seliari. Segera menggenggam tangan kanan pasangan dengan tangan kiri, ia pun melanjutkan dansa dengan tempo yang tenang. Memimpin sang Putri Naga seperti di awal tarian mereka.
“Ini bukan berarti aku tidak ingin menolongnya, hanya saja situasi yang ada sepertinya tidak memungkinkan. Sangat tidak mendukung ….” Meski bisa mempertahankan tempo yang seirama, ekspresi Odo terlihat muram. Ia seakan menatap ke tempat yang jauh, lalu dengan nada penuh keresahan menyampaikan, “Leviathan sepertinya juga sangat janggal, aku punya firasat buruk tentang ini.”
“Janggal?” Seliari menatap heran.
“Kau dari tadi mengawasi dari Alam Jiwaku, bukan?”
“Hmm ….” Putri Naga mengangguk. Seraya menatap cemas ia juga menyampaikan, “Apa yang dirimu lihat juga bisa diriku lihat dari tempat ini.”
“Lalu, seharusnya saat ritual itu berlangsung ⸻” Perkataan Odo sejenak terhenti. Menarik napas dan tetap mempertahankan irama dansa, ia dengan nada serius memastikan, “Pilar cahaya yang muncul saat ritual, apa kamu melihatnya?”
Seliari seketika tersentak saat menyadari sesuatu. Tanpa mengganggu irama dansa, Putri Naga tersebut menatap pucat dengan mulut sedikit terbuka. Kedua mata terbuka lebar, lalu ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa menemukan kalimat yang sesuai.
Odo tidak mendesak. Tetap mempertahankan ritme, mereka meneruskan dansa dengan tempo santai sembari ditemani angin sepoi-sepoi. Sebelum mereka menyadarinya, langkah dalam irama tanpa suara menuntun mereka mendekat ke pohon besar yang tumbuh di Alam Jiwa tersebut.
Membuat ruang menjadi terbatas karena akar-akar yang tumbuh keluar dari tanah, lalu pada akhirnya dansa mereka pun berhenti dengan sendirinya. Sembari tetap saling meletakkan tangan ke tubuh masing-masing, Odo dan Seliari menatap satu sama lain dari dekat.
“Dirimu melakukan ritual itu untuk memancing Leviathan keluar?” Seliari memastikan.
Odo sedikit memalingkan pandangan. Sembari mengingat-ingat karakteristik dan sifat Naga Hitam saat masih dikuasai Kutukan Kegilaan, ia merasa hal seperti itu seharusnya sudah cukup untuk mengusik Leviathan yang merupakan makhluk teritori.
Namun, pada kenyataannya Leviathan sama sekali tidak terpancing. Jangankan menunjukkan bentuknya secara fisik ke permukaan, hawa keberadaan Sea Serpent tersebut pun tidak terasa sama sekali selama ritual berlangsung. Meski seharusnya itu sangatlah mencolok karena mengubah frekuensi Ether di Laut Utara secara luas.
“Bu-Bukankah itu sangat janggal?” Seliari tidak ingin menerima spekulasi yang ingin disampaikan Odo. Sembari memegang erat tubuh pemuda itu, ia dengan nada cemas menyampaikan, “Mungkin … Odo hanya tidak merasakannya saja! Tempat itu dipenuhi hawa keberadaan Leviathan, bukan? Karena kekuatannya mempengaruhi Ether, aliran di sana menjadi⸻!”
“Meski begitu, seharusnya paling tidak ada sedikit perubahan,” sela Odo dengan tegas. Ia menatap datar dan kembali menyampaikan, “Seperti saat melawan kau di Lembah Api, seharusnya ada sesuatu yang terjadi karena kalian para Naga adalah makhluk teritori. Tidak mungkin Leviathan tak terusik setelah merasakan perubahan Ether dalam lingkup luas seperti itu.”
“Maksud dirimu, adinda sudah tidak ada lagi di Laut Utara?” Seliari menatap cemas. Ia semakin mendekap erat, takut terjadi sesuatu pada Leviathan.
“Bukan itu yang ingin aku katakan.” Odo sejenak menarik napas dalam-dalam, lalu memberikan tatapan tajam sembari menyampaikan, “Mungkin saja Kutukan Kegilaan yang diberikan kepada kalian berbeda-beda. Jika memang Leviathan masih dipengaruhi kutukan sama seperti kau waktu itu, lantas mengapa dia tidak muncul saat diprovokasi? Terlebih lagi, legenda tentang Leviathan juga aneh ….”
“Aneh?” Untuk sesaat Putri Naga terdiam. Setelah memikirkannya baik-baik, ia mulai sependapat dengan perkataan Odo dan berkata, “Kalau dipikir lagi, ini memang sangat aneh ….”
Seliari sesaat tertegun, mimik wajahnya berubah tegang dan perlahan memahami perkataan Odo. Sang Putri Naga mendorong pemuda di hadapannya menjauh, lalu terdiam sejenak dan memalingkan pandangan sembari memikirkan kembali perkiraan lain yang telah dilewatkan.
Pucat, gemetar, lalu mulai membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi saat langkah baru diambil nanti. Tidak ingin membuat kesalahan, gadis naga rambut perak kebiruan tersebut hanya menatap Odo Luke seakan-akan ingin meminta pertolongan.
Namun, sang Pemuda hanya terdiam. Sesaat tenggelam dalam tatapan penuh rasa takut sang Putri Naga. Menarik napas dalam-dalam dan menjernihkan pikiran, ia paham harus segera memberikan penjelasan yang meyakinkan. Harus mendorong Seliari meski tahu itu bukanlah pilihan yang terbaik.
“Dia juga disebut sebagai Senjata para Dewa, bukan pembawa Malapetaka seperti dirimu.” Odo menunjukkan kedua telapak tangannya ke depan. Sembari melempar senyum tipis, ia sejenak kembali menghela napas dan menyampaikan, “Mungkin saja … dia sejak awal tidak terkena kutukan, karena itulah Leviathan melayani kayangan sebagai senjata mereka.”
“Tidak mungkin …, ini terlalu konyol!”
__ADS_1
Seliari tak ingin percaya. Jika spekulasi yang disampaikan Odo benar, itu juga berarti Leviathan adalah musuh yang harus dimusnahkan oleh pemuda rambut hitam tersebut. Fakta itu bisa membalikkan tragedi ribuan tahun yang lalu di mana Keluarga Naga Agung dibantai, lalu mengubahnya menjadi sebuah pengkhianatan. Sepenuhnya mengubah kisah tentang ketiga Putri Naga dikutuk oleh Raja Iblis Kuno.
“Kalau dia melayani Dewa-Dewi, berarti ada juga kemungkinan Leviathan berhubungan dengan Iblis yang membantai⸻”
“Memangnya tahu apa dirimu!!” Seliari membentak kencang. Aura permusuhan dan murka seketika memuncak, pada saat bersamaan sihir pun terpancar kuat darinya sampai membuat hembusan angin kencang di sekitar tubuh. Seraya menunjuk lurus, tanduknya mulai memancarkan cahaya biru yang kuat dan ia pun kembali membantah, “Dirimu lah yang berhubungan dengan Iblis keparat itu! Itu benar!! Pasti dirimu yang mengendalikan Iblis itu, bukan?! Buktinya dia dengan sukarela menyerahkan kekuatan mengerikan itu dan bahkan aura menjijikkan miliknya kepadamu!! Kenapa engkau malah ingin menuduh adikku?!”
“Bicara apa kau ini …?” Odo tidak bergeming di hadapan tekanan sihir kuat Putri Naga. Ia mulai mengambil langkah ke depan, lalu dengan tatapan tegas menjawab, “Jika dibandingkan dengan umur kalian, aku baru lahir ke dunia ini kemarin. Bagaimana mungkin diriku bisa melakukan hal seperti itu?!”
“Itu⸻!” Seliari tidak memiliki argumen kuat, ia mengambil langkah ke belakang sampai kakinya tersandung akar dan terjatuh ke tanah. Dengan tubuh gemetar Putri Naga segera menatap lawan bicara. Wajahnya memucat dan dengan gemetar berkata, “Bisa saja … dirimu adalah jiwa yang berasal dari masa lalu! Hanya berpura-pura menjadi jiwa yang berasal dari Dunia Sebelumnya, lalu membohongi diriku selama ini! Atau … dirimu sebenarnya adalah inkarnasi Raja Iblis keparat itu sendiri!”
Jawaban tersebut keluar dengan penuh keraguan, seakan-akan dirinya sendiri paham bahwa semua itu sangatlah tidak mungkin. Seliari tinggal di Alam Jiwa milik Odo, ia bisa mengintip hampir semua ingatan yang dimiliki pemuda itu. Bahkan tentang Dunia Sebelumnya dan berbagai macam kejadian yang ada sebelum Dunia Selanjutnya tercipta.
Karena itulah, Seliari tahu bahwa Odo tidak berada di pihak yang sama dengan bangsa Iblis. Tetapi, di sisi lain para Iblis seakan-akan telah menunggu kedatangan pemuda itu ke dunia sejak dahulu kala. Itu membuatnya bingung, semakin tidak paham hubungan seperti apa yang dimiliki Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut dengan bangsa Iblis.
“Mungkin saja perkataanmu ada benarnya ….” Odo tidak memerikan penjelasan, berkata seakan ingin menyiram api kecurigaan dengan minyak tanah. Menatap kosong dan sama sekali tidak bergerak dari tempat berdiri, pemuda itu menunjuk ke depan sembari berkata, “Jujur saja aku tidak peduli lagi dengan semua itu. Entah semua tragedi yang mereka lakukan demi mengumpulkan serpihan jiwaku, kekacauan untuk membawa unsur dari Dunia Sebelumnya, atau bahkan semua kebohongan yang dibuat Helena, aku sudah tidak peduli.”
“Tidak … peduli?” Seliari menggertakkan gigi, murka besar saat mendengar perkataan seperti itu karena merasa disepelekan. Ia segera bangun, lalu menarik kerah pemuda rambut hitam tersebut dan membentak lantang, “Bukannya dirimu ingin membebaskan Leviathan? Bukannya dirimu ingin memperbaiki dunia ini? Karena itulah diriku meminjamkan Hariq Iliah! Apa-apaan sikapmu itu, huh?!”
“Aku sudah lelah, Seliari ….” Odo menggenggam kedua tangan Putri Naga, lalu menundukkan kepala dan kembali berkata, “Semakin aku memahaminya, rasanya ini sangat menyusahkan sampai-sampai kepalaku mau pecah. Banyak sekali masalah yang harus diselesaikan, tapi di sisi lain kemampuan yang diriku miliki sangat terbatas. Ini … sama parahnya seperti saat itu.”
“Waktu itu ….?”
Merasakan ketakutan melalui tangan sang pemuda yang gemetar kencang, amarah Seliari seketika padam dan digantikan dengan ketakutan. Merasa telah melakukan kesalahan, lalu merusak hubungan yang baru saja dibentuknya dengan pemuda itu.
“Bahtera ⸻ Sebuah pesawat luar angkasa yang disebut juga sebagai planet pengembara.” Odo mengangkat wajah dan menatap kosong. Seakan-akan ingin melempar semua masalah dan menyerah, ia dengan erat menggenggam tangan Putri Naga dan menegaskan, “Saat itu memang sangat menyenangkan, namun pada saat yang sama serasa seperti neraka penuh kehampaan.”
“A-Apa yang dirimu bicarakan⸻?”
“Aku bicara soal tanggung jawab.” Odo berhenti menggenggam tangan Putri Naga. Sembari kembali menundukkan wajah, ia menarik napas dalam-dalam dan menjelaskan, “Waktu itu aku bisa bertahan karena tanggung jawab yang dibebankan rekanku. Namun, pada momen ini tidak ada alasan untukku terus berjuang sampai seperti ini. Tidak ada. Aku hanyalah sisa dari masa lalu, diriku tidak boleh menjadi fondasi untuk dunia ini.”
“Berhenti bicara omong kosong, Odo! Kepala dirimu malah jadi pengecut sekarang?! Padahal dirimu bilang ingin melawan Dewa-Dewi! Menghentikan perang! Mengalahkan Leviathan! Tapi! Kenapa malah berkata seperti pecundang yang menyerah sebelum mencoba!”
Seliari semakin kencang mencengkeram kerah Odo. Ia menatapnya dengan penuh rasa kesal dan merendahkan, namun pada saat yang sama mengasihani dan merasa sangat sedih. Emosi yang bercampur aduk membuat mata sampai berkaca-kaca, lalu air mata sedikit mengalir.
“Bagi dunia ini, Odo Luke seharusnya tidak ada …. Dunia ini tercipta tanpa adanya Odo Luke, itulah sesuatu yang sudah ditentukan sejak awal penciptaan. Itulah wujud dunia ini yang sesungguhnya.”
Sang pemuda menarik napas dalam-dalam, kembali menggenggam kedua tangan Putri Naga. Ia menatap dalam kesedihan, seakan-akan ingin menyerah sekarang juga. Namun, di dalam tatapan tersebut juga terpancar sedikit harapan yang semakin menyala kuat.
Untuk pertama kalinya, Odo Luke menunjukkan ekspresi seperti orang lemah dan tidak berdaya di hadapan Seliari. Benar-benar rapuh layaknya seorang anak manusia biasa.
“Ah, dia memahami sesuatu sendiri, putus asa sendiri, lalu bangkit dengan sendirinya. Sungguh orang yang sibuk, rasanya konyol sekali karena menganggap perkataan orang ini dengan sungguh-sungguh,” benak sang Putri Naga sembari tersenyum tipis.
Tanpa berusaha untuk mengetahui apa yang telah Odo Luke pahami, sang Putri Naga berhenti menarik kerah dan langsung memeluk pemuda rambut hitam tersebut. Meski tidak memahami pola pikirnya, Seliari tahu rasa sedih dan keputusasaan tersebut. Sebuah rasa sakit dari kehampaan dalam hati dan ketidakberdayaan.
“Meski ingatan itu merupakan hal yang menyedihkan, bukankah kita harus tetap membawanya dan terus maju? Kita berada di sini, masih ada, dan bisa membuat langkah. Meski telah mengetahui kenyataan dan jatuh dalam keputusasaan, dirimu tetap akan melangkah, ‘kan?”
Itu hanyalah sebuah kalimat untuk menghibur, tidak memiliki kekuatan ataupun maksud khusus. Namun, bagi Odo itu sedikit memberikan sebuah dorongan. Membuatnya sejenak menarik napas, lalu dalam benak mengambil keputusan untuk kembali melangkah.
“Sepertinya aku menunjukkan sesuatu yang memalukan, ya?” Odo melepaskan pelukan Seliari. Sembari mengambil satu langkah ke belakang dan berbalik, pemuda rambut hitam tersebut mengusap air mata yang sedikit keluar.
“Dirimu sudah menunjukkan banyak hal memalukan. Banyak hal memalukan dalam ingatanmu di sini.” Seliari tersenyum tipis, lalu melipat kedua tangan ke belakang dan berjalan ke sebelah Odo. Ekspresi tenang dengan cepat berubah cemas, lalu ia pun dengan nada serius memastikan, “Jadi apa yang telah dirimu sadari? Apa itu robekan ingatan dari masa lalu lagi?”
__ADS_1