
“Mari kita sedikit ubah agendanya ….”
Itulah yang Odo katakan setelah perbincangan di Galeri Daun Merah selesai. Meski telah mendapatkan persetujuan dari Mitranda tentang rencana pengembalian gelar Knight Keluarga Quidra, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut tidak meminta izin untuk mengajak Racine pergi bersamanya.
Dalam agenda yang sudah dibicarakan dengan Ri’aima dan Rosaria, seharusnya sesudah pembicaraan mereka akan mengajak Racine ke Kantor Pemerintahan untuk mengajukan banding. Menuntut atas hak Keluarga Quidra terhadap gelar Knight mereka yang sekarang ini ditangguhkan pewarisan nya.
Tetapi, pemuda rambut hitam tersebut tidak mengajak Putri dari Mitranda dan langsung keluar dari ruang diskusi. Hal itu tentu saja cukup untuk membuat bingung Ri’aima dan Rosaria. Meski mereka tidak protes dan keluar mengikutinya, namun tetap saja rasa penasaran lebih mendominasi.
Tepat setelah keluar dari bangunan dan menuruni anak tangga di depan Galeri Daun Merah, Ri’aima mempercepat langkah kaki dan menghadang Odo di bawah. Ia menatap lurus dengan mimik wajah gelisah, lalu dengan dipenuhi rasa bingung berkata, “Tunggu sebentar, Tuan Odo! Kenapa tadi Anda tidak mengajak Nona Racine? Kalau Anda bilang kepada wanita jalang itu, dia pasti akan memanggil putrinya! Hal itu seharusnya pantas, sebab ia akan mendapat banyak keuntungan jika rencana Tuan berhasil ….”
Langkah kaki Odo terhenti saat mendengar itu. Bukan disebabkan oleh perkataan kasar yang keluar dari mulut Ri’aima, melainkan karena rasa ingin tahu yang perempuan rambut biru pudar itu perlihatkan.
Sedikit melirik ke arah Rosaria yang juga ikut terhenti, Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit heran karena hal seperti itu tidak keluar dari Pendeta Wanita di sebelahnya.
“Bukannya aku sudah bilang tadi, ‘kan? Pembicaraan itu telah selesai, kita tidak perlu meminta apa-apa dari mereka.” Odo kembali menatap ke arah Ri’aima di ujung anak tangga, lalu sembari kembali melangkah menambahkan, “Agenda kita berubah. Karena mereka sudah tahu siapa aku, kemungkinan besar orang-orang di Kantor Pemerintahan juga akan segera tahu saat melihatku.”
Mendengar hal itu, mimik wajah Ri’aima dengan cepat berubah serius. “Pada akhirnya, apa Anda … bermaksud menggunakan nama Keluarga Luke?” tanyanya memastikan.
“Mau bagaimana lagi? Mereka sudah tahu. Lagi pula ….” Langkah kaki Odo kembali terhenti. Tepat berdiri pada dua anak tangga dari tempat Ri’aima, pemuda rambut hitam itu dengan tegas berkata, “Prajurit Elite yang sekarang berada di Rockfield akan langsung mengenali ku ….”
“Eh?” Ri’aima tertegun, benaknya langsung diisi rasa heran dan itu membuatnya melangkah mundur. Mengingat kembali peringatan yang diberikan Odo saat di depan Mansion Keluarga Stein, Putri Sulung Keluarga Stein benar-benar merasa tak ingin melihatkan Keluarga Luke secara langsung. Rasa cemas mengisi benak, lalu sembari menghadapkan wajah pucat ia pun bertanya, “Bukankah itu sangat gawat? Kalau dia tahu Anda adalah Odo Luke, berarti Penyihir Cahaya bisa terlibat dan Keluarga Luke akan ⸻?”
“Ternyata kau takut soal itu, ya?” Odo menuruni anak tangga terakhir. Menepuk bahu perempuan rambut biru pudar tersebut dari samping, Putra Tunggal Keluarga Luke segera mendekat ke telinga dan berbisik, “Tenang saja. Aku tidak akan melibatkan Penyihir Cahaya. Lagi pula, aku rasa hal seperti itu tidak akan ada artinya lagi nanti.”
Setelah mengucapkan kalimat penuh teka-teki, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali melangkahkan. Memasang mimik wajah yang tampak sedikit menikmati situasi yang ada.
Tidak memedulikan Ri’aima yang tertegun, Rosaria berjalan mengikuti pemuda rambut hitam tersebut. Meski sang Pendeta Wanita sama sekali tidak tahu rencana yang ada akan diubah menjadi seperti apa, ia sama sekali tidak memperlihatkan mimik wajah keberatan.
“Me-Memangnya apa yang ingin Anda lakukan?” Ri’aima dengan cepat berbalik, segera menghampiri pemuda rambut hitam itu dan meraih tangannya. Dengan penuh cemas perempuan itu pun kembali memastikan, “Tolong beritahu saya, Tuan Odo …. Dalam kerja sama, Anda tidak ingin merendahkan, bukan? Anda sebelumnya berkata seperti itu kepada Nyonya Mitranda! Kalau begitu, tolong jangan rendahkan saya! Tolong beritahu dan jangan bertindak seakan Anda hanya ingin memanfaatkan saya ….”
Odo tidak menjawab, ia hanya menghentikan langkah kaki dan perlahan menoleh ke arah perempuan rambut biru pudar tersebut. Menatap dengan senyum tipis pada wajah, Odo sedikit memperlihatkan mimik wajah kecewa seakan dirinya telah berhenti berharap sesuatu dari Ri’aima.
“Prajurit Elite, Jonatan Quilta ….” Nama tersebut keluar dari mulut Odo. Sembari melepaskan tangan dari Ri’aima, Putar Tunggal Keluarga Luke mengangkat dagu perempuan rambut biru pudar tersebut dengan ujung jari telunjuk. Sembari mendekatkan wajah ia pun memberitahu, “Untuk beberapa alasan, Aku pernah menghajar orang. Dia juga sudah melihat wajahku dan mungkin kenal jelas tentang ku dari Raja Gaiel.”
Penjelasan itu tidak bisa dipahami oleh Ri’aima. Gugup, tidak tenang, dan tubuhnya pun mulai gemetar karena wajah Odo yang terlalu dekat. Karena itulah, ia tidak bisa mencerna informasi yang masuk ke dalam kepalanya dengan baik.
“A-Apa yang Anda maksud?” tanya Ri’aima gemetar.
“Intinya, Prajurit Elite itu sudah kenal denganku. Karena itulah, aku bisa bicara baik-baik dengannya tanpa harus memakai nama Keluarga Luke sebagai senjata. Apa kau paham?”
“Ma-Maaf ….” Ri’aima menggelengkan kepala, tanda dirinya tidak bisa menangkap maksud tersebut dengan baik.
Menghela napas sekali, Odo mengangkat tangan dari perempuan itu. Mengambil satu langkah ke belakang, lalu berbalik dan lekas menggaruk bagian belakang kepala dengan resah.
Berbeda dengan Ri’aima yang tidak bisa memahami perkataan tersebut, Rosaria yang sudah mengambil kesimpulan berjalan mendekati perempuan rambut biru pudar itu. Sembari mengacungkan telunjuk ke depan Pendeta Wanita itu pun menjelaskan, “Intinya, Nona Ri’aima. Tuan Odo tidak perlu melibatkan Keluarga Luke, beliau bisa berbicara dengan Tuan Jonatan tanpa harus memakai nama Luke ataupun wewenang yang ada dalam nama tersebut. Karena itulah, Penyihir Cahaya tidak akan terlibat.”
“Kalau Tuan Odo tidak menggunakan nama itu, lalu nama siapa yang akan ia gunakan? Jika hanya memakai nama pedagang sebagai Tuan Nigrum, Prajurit Elite tidak akan mau meladeni dirinya ….”
Mendengar percakapan mereka, Odo segera menatap ke arah Ri’aima dengan sorot mata datar. “Tentu saja aku akan menggunakan nama Odo. Namun bukan sebagai Anak Tunggal Keluarga Luke, melainkan Odo seorang Viscount yang berwenang di bawah Keluarga Rein.”
Setelah dijelaskan untuk kesekian kalinya, kedua mata Ri’aima terbuka lebar dan pada detik itu juga langsung paham dengan maksud yang ada. Mulut perempuan rambut biru pudar itu sedikit menganga, mulai bisa memperkirakan alur yang akan dijalankan Putra Tunggal Keluarga Luke nantinya.
.
.
.
.
Senja perlahan-lahan datang dengan pasti, kabut yang menutupi perkotaan juga perlahan mulai menipis dan tidak setebal saat siang. Tetapi, keramaian di pusat kota sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda akan memudar.
Lalu-lalang masih cukup ramai terlihat, jalanan diisi oleh orang-orang yang baru akan pulang setelah bekerja seharian. Dari semua yang ada, keramaian diisi oleh mereka para pekerja yang baru selesai dari Distrik Perekonomian dan Pertambangan. Meski ada beberapa pejabat administrasi kota yang ikut berbaur, namun mereka hanyalah segelintir.
Datang dari arah yang sama dengan para pekerja tambang, Odo dan kedua perempuan yang mengikutinya segera berjalan menuju Kantor Pemerintahan di balai kota. Secara spesifik, kantor tersebut adalah Kantor Pusat Administrasi Kota Rockfield.
Layaknya tata letak umum yang digunakan pada setiap Kota di Wilayah Luke, Rockfield memiliki pusat pemerintahan di pusat kota. Itu terletak tidak berjauhan dari bangunan-bangunan lain milik pemerintah di sekitar balai kota, tertata rapi dalam sebuah kompleks perkantoran kecil.
Sedikit berbeda dengan Kota Pesisir yang memiliki kompleks perkantoran yang terpisah dengan Gereja Utama, Kota Pegunungan tampak menyatu dengan bangunan milik Pihak Religi. Hanya berjarak satu bangunan dengan Gereja Utama, itulah letak pusat administrasi kota dan merupakan tempat bekerja sang Walikota ketika ia masih sehat.
Saat mereka hampir sampai di Kantor Pusat Administrasi, Odo untuk sesaat mengajak Rosaria dan Ri’aima menepi ke bahu jalan dekat bangunan Gereja Utama. Di antara lalu-lalang yang masih ramai memenuhi, Putra Tunggal Keluarga Luke segera berbalik sembari menunjuk ke arah mereka dan berkata, “Kita berpisah di sini. Untuk sekarang, kembalilah ke tempat kalian masing-masing.”
__ADS_1
“Eh?”
“Eng?”
Mendengar itu, tentu saja kedua perempuan itu terlihat bingung. Setelah semua hal yang mereka lalui, tentu saja akan sangat aneh saat Odo menyuruh berhenti dan pulang tanpa mengikuti rencana sampai akhir. Terlebih setelah Putar Tunggal Keluarga Luke itu mengatakan perubahan agenda yang dibahas.
“Kenapa malah bengong?” Odo berhenti menunjuk. Sembari melipat tangan ke depan, ia memasang mimik wajah resah dan kembali berkata, “Agenda berubah, tentu saja hal ini juga harus diubah, ‘kan? Kalau kalian tetap ikut, nanti yang ada malah bikin tambah runyam.”
“Ke-Kenapa seperti itu?” Rosaria sedikit cemas karena merasa diusir dari rencana. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan dada, Pendeta Wanita itu meyakinkan, “Saya tidak akan mengganggu, Tuan! Saya akan diam! Karena itu, tolong biarkan saya menemani sampai akhir. Kalau di tengah-tengah saya dikeluarkan dari rencana, rasanya ….”
“Saya juga merasa demikian ….” Ri’aima menatap kecut, tampak tidak senang dan dengan nada sedikit kesal meminta, “Tolong jangan bicara seakan kami sudah tidak diperlukan. Memang ini kesalahan kami karena gagal memenuhi tugas yang Tuan berikan, namun tetap saja⸻!”
Perkataan Ri’aima terhenti. Awalnya ia ingin menyalahkan Odo karena datang ke pojok prostitusi, lalu membuat identitasnya sendiri terbongkar. Namun paham bahwa hal tersebut tidak bisa dimungkiri mengingat kondisi yang ada, Putri Sulung Keluarga Stein segera menundukkan kepala dengan muram.
“Siapa yang ingin mengeluarkan kalian? Memang benar kalian tidak becus, tapi itu kesalahanku karena tidak bisa memberikan arahan yang sesuai.” Odo menghela napas ringan. Berhenti melipat ke dua tangan ke depan, pemuda rambut hitam tersebut meletakkan tangan kanan ke dagu dan kembali berkata, “Aku ingin mengubah alurnya sedikit. Karena itu, pulanglah dulu.”
Mendengar hal tersebut, Rosaria bertambah gelisah. Bagi dirinya yang ikut rencana hanya karena ingin mendapatkan kepercayaan dari Putra sang Penyihir Cahaya, perintah pulang sama saja sebuah vonis bahwa dirinya tidak berguna. Dengan penuh rasa cemas Pendeta Wanita pun meminta, “Tetapi, Tuan …. Tolong biarkan saya untuk⸻”
“Pulanglah,” potong Odo dengan nada tegas. Sembari menatap datar ke arah Rosaria, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali menegaskan, “Pulanglah dan mandi sana …. Kau belum mandi atau bahkan makan dari kemarin, ‘kan?”
Mendengar pemuda tersebut menggunakan alasan seperti itu untuk menyuruh pulang, Rosaria merasa itu hanyalah omong kosong. “Kalau memang seperti itu, bukankah Tuan juga sama? Setelah sampai di Kediaman Stein, Anda langsung berbincang dengan Nona Ri’aima dan tidak sempat membersihkan tubuh serta istirahat, bukan?”
“Yah ….” Odo menurunkan tangan dari depan mulut, lalu sembari memalingkan wajah memberitahu, “Tidak seperti kalian, aku tidak mengeluarkan bau tak sedap. Terlebih lagi, stamina yang aku miliki juga sangat berbeda dengan kalian.”
Mendengar penjelasan seperti itu, Ri’aima dan Rosaria tentu saja menganggapnya sebagai omong kosong lain untuk membuat mereka pergi. Merasa kesal dengan alasan seperti itu, Putri Sulung Keluarga Stein membentak, “Kenapa Anda selalu merendahkan saya! Memangnya saya akan percaya dengan hal seperti i⸻?!”
“Mau coba?” potong Odo sembari mengangkat ketiak.
Melihat itu, Ri’aima seketika menatap jijik dan mengambil satu langkah ke belakang. “Apaan sih, Anda ini …,” ujarnya dengan nada sedikit merendahkan.
Berbeda dengan perempuan rambut biru pudar tersebut, Rosaria tanpa ragu mendekatkan wajah dan mencium ketiak Odo. Mengendus, mengecek sampai beberapa kali dan terkejut karena sama sekali tidak tercium aroma asam keringat. Bukan hanya itu saja, Pendeta Wanita itu bahkan tidak bisa mencium bau badan alami yang seharusnya ada pada tumbuh manusia.
“Nona Rosa, apa yang Anda lakukan⸻!?”
“Tidak ada ….” Rosaria menjauhkan wajah. Melangkah satu kali ke belakang, perempuan yang mengenakan pakaian biarawan tersebut menoleh ke arah Ri’aima dan berkata, “Beliau sama sekali tidak ada baunya.”
Melihat mimik wajah penuh rasa terkejut, Ri’aima perlahan sedikit percaya dengan perkataan yang sebelumnya ia anggap omong kosong. Mengerutkan kening dan berjalan mendekati Odo, perempuan rambut biru pudar itu menatap tajam.
“Ti-Tidak perlu diangkat tinggi-tinggi!” ujar Ri’aima. Putri Sulung Keluarga Stein memegang tangan kanan Odo yang terangkat, lalu memasak pemuda itu untuk sedikit menutup ketiak.
Sembari mendekatkan hidung ke tubuhnya, Ri’aima pun mulai mengendus-endus dan memastikan. Persis seperti yang dikatakan Rosaria, ia pun tidak mencium aroma kecut yang seharusnya ada pada orang yang belum mandi.
Ri’aim sangat paham itu bukanlah karena parfum atau semacamnya, sebab tubuh Odo memang benar-benar tidak memiliki aroma. Entah itu wangi, bau tak sedap, atau aroma-aroma yang wajar, semuanya tidak ada.
“Bagaimana? Aku tidak bau, ‘kan? Tidak seperti Nona Ri’aima yang keluar sebentar saja sudah bau kecut,” ledek Odo seraya memasang wajah sedikit sombong.
Mendengar hal tersebut, Ri’aima membuang harga diri dan langsung menaikkan tangan kanan Odo untuk membuka ketiak pemuda itu. Mengendus dari dekat layaknya anjing pelacak, lalu benar-benar lupa bahwa dirinya sekarang sedang berada di tempat umum.
Tetapi, pada akhirnya memang tidak ada aroma dari tubuh pemuda itu. Menyerah dan dengan berat hati menerima fakta tersebut, Ri’aima berhenti mengendus Odo. Ia melepaskan tangan pemuda itu, lalu sembari menjauh berkata, “Benar-benar tidak ada. Apa-apaan Anda ini? Saat di Mansion, Anda bahkan tidak mandi⸻?
“Apa yang kalian lakukan di tempat umum begini?” ujar seseorang dari arah balai kota.
Mendengar hal tersebut, tentu saja Ri’aima dan Rosaria dengan panik menoleh ke arah sumber suara. Meski mereka memiliki sifat tak acuh dengan orang asing, namun tindakan seperti mencium ketiak seorang pemuda memang bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan di tempat umum. Apalagi untuk mereka seorang perempuan bermartabat.
“A-Anda … sekalian?” Ri’aima benar-benar terbelalak setelah tahu siapa yang memergoki.
Opium Matha ⸻ Salah satu tamu di Kediaman Stein, seorang Penyihir Miquator yang datang bersama Odo Luke. Bukan hanya penyihir rambut kemerahan tersebut saja, di sebelahnya juga berdiri dua orang yang merupakan pedagang dari Kekaisaran, Huang Xian dan Qibo An Lian.
Mereka bertiga menatap dengan wajah terkejut, sedikit memberikan tatapan jijik sama seperti halnya saat Ri’aima melihat ke arah Odo sebelumnya. Mengesampingkan Opium yang hanya menatap ke arah Odo Luke, Huang dan An Lina benar-benar memandang Putri Sulung Keluarga Stein dengan tatapan merendahkan.
“Kenapa kalian memainkan permainan mesum di tempat umum begini?” Melewati keramian yang ada, penyihir tersebut berjalan ke arah Odo. Sembari memasang wajah kecut, ia dengan nada tegas berkata, “Anda suka sekali bermain dengan para gadis ya, wahai Tuan Muda!”
“Permainan mesum?” Odo menghadap ke arah perempuan bermata biru cerah tersebut. Sekilas mengangkat kedua sisi pundak dan berlagak tidak tahu, Putra Tunggal Keluarga Luke mengelak, “Apa yang Nona kecil ini katakan? Memangnya apa yang mesum dari mencium aroma badanku? Mereka hanya memastikan apakah aku bau atau tidak, soalnya setelah ini aku akan melakukan pertemuan penting.”
“Hmm ….” Bagi Opium yang tidak tahu apa yang terjadi dari awal, penjelasan itu terdengar meyakinkan. Sembari berdiri di hadapan Odo dan menatap tajam ke arahnya, sang penyihir pun dengan nada menggurui menegur, “Dengarkan ini, oh wahai Tuan Muda. Anda tidak boleh membuat perempuan mencium bau Anda di tempat umum seperti ini, itu tidak bermoral.”
Mendengar cara bicaranya, Odo hanya memberikan tatapan. Mengamati, memahami, dan berusaha mencoba mencari tahu alasan mengapa Opium beserta dua orang lainnya bisa berada di balai kota dan tidak di Kediaman Stein.
Melihat pakaian yang dikenakan oleh penyihir tersebut, Odo seketika paham dan mengangguk. Tunik berbahan kain linen merah maroon, memiliki kesan sederhana dan topi kerucut di kepala sebagai ciri khas seorang penyihir, itulah pakaian yang dikenakan Opium.
Pada tangan kanan, perempuan rambut cokelat kemerahan itu pun mencangking tas rotan berisi kemeja dan celana hitam yang sebelumnya dipinjamkan Odo saat pertama datang ke Kota. Melihat ke arah Huang dan An Lina yang juga mengenakan tunik linen sederhana, Putra Tunggal Keluarga Luke segera memastikan, “Kalian habis belanja? Cari pakaian?”
__ADS_1
“Hmm!” Opium mengangguk, lalu sembari memasang senyum penuh rasa percaya diri menyodorkan tas rotan berisi pakaian. “Ini saya kembalikan,” ujarnya dengan tanpa tahu diri.
Odo menurunkan kedua alisnya. Ia langsung menyentil ringan kening Opium, lalu dengan nada jengkel berkata, “Cuci dulu sana, bau tahu ….”
“Ach! Apaan sih, Anda ini ….” Setelah melangkah mundur, Opium segera berbalik dan dengan nada ketus berkata, “Iya, iya! Saya cuci dulu, deh! Ya, yang mencuci bukan saya, sih. Tapi pelayan di Kediaman Stein, hi hi hi.” Sembari berjalan menuju Huang dan An Lina, penyihir itu kembali menoleh dan memasang wajah meledek.
Melihat tingkah menjengkelkan Opium, Odo hanya bisa memasang mimik wajah datar dengan dalam hati berkata, “Nih bocah kerasukan apa, sih? Padahal waktu di Mylta sikapnya gak seperti itu.”
Setelah menghela napas ringan, Putra Tunggal Keluarga Luke segera menepuk bahu Ri’aima dari samping. “Selagi ada mereka, kenapa tidak sekalian saja pulang?” ujarnya dengan nada sedikit menggoda.
Menoleh dan menatap resah, Ri’aima segera menjawab, “Anda sebenarnya peka atau memang sengaja? Lihat kedua orang dari Kekaisaran itu, mereka menatap jijik gara-gara Tuan!”
“Eng, kenapa memangnya?”
“Mungkin …, karena tadi Tuan meminta saya melakukan hal aneh.”
“Tak masalah, pulang saja bareng mereka.
“Bagaimana saya pulang dengan mereka!”
Seakan tidak memedulikan rasa malu yang dikandung Putri Sulung Keluarga Stein tersebut, Odo dengan suara lantang memanggil, “Opium! Ke sini sebentar! Bawa juga Nona Ri’aima ini, katanya ia mau pulang dengan kalian!”
“Eh?!” Seketika Ri’aima terkejut.
Langkah Opium terhenti sebelum sampai ke tempat Huang dan An Lian. Segera menoleh dan tampak sangat bersemangat, sang penyihir rambut cokelat kemerahan tersebut memperlihatkan mimik wajah sangat antusias. Seakan-akan dirinya tidak sabar untuk mengajukan beberapa pertanyaan terkiat apa yang telah dilihat sebelumnya.
“Tentu! Boleh, kok! Kebetulan kami mau kembali ke Kediaman Stein!” ujar Opium seraya kembali berbalik dan berjalan ke arah Ri’aima. Berdiri di hadapan Putri Sulung Keluarga Stein tersebut, ia segera meraih tangannya dan dengan antusias berkata, “Ayo, Nona Ri’aima!”
Tatapan yang diberikan Opium sangat berkilau-kilau, layaknya anak kecil yang sedang dalam suasana hati sangat baik. Tidak bisa menolak dan hanya memasang wajah keberatan, Putri Sulung Keluarga Stein perlahan menoleh ke arah Odo dengan jengkel.
“Awas kau,” itulah yang dikatakan Ri’aima dalam mimik wajahnya.
Setelah itu, pada akhirnya Putri Sulung Keluarga Stein ikut bersama Opium dan yang lain kembali ke Kediaman Stein. Meninggalkan Odo dan Rosaria di bahu jalan dekat Gereja Utama.
Tetapi sebelum keempat orang tersebut benar-benar pergi dan menghilang dalam keramaian, Odo sekilas melihat sebuah perkamen di keranjang milik An Lian. Meski hanya sekilas dan tidak secara melihat isinya, namun dari kalimat awal yang tertara ia tahu kalau selembar kertas tersebut adalah sebuah surat perjanjian atas sesuatu.
“Perkamen itu, untuk apa dia membawanya? Apa dia habis pergi ke tempat para pedagang lain yang menjadi korban monster selama perjalanan? Kalau dipikir-pikir, mereka memang perlu mencari orang yang mau menampung supaya bisa pergi melewati perbatasan …. Apa itu kertas penjanjian untuk hal tersebut?”
Di saat Odo bergumam sendiri, Rosaria yang berdiri di dekatnya hanya menatap heran dan mendengarkan. Tidak berpendapat atau bahkan mengeluarkan suara, hanya diam dengan sunyi dalam keramaian yang ada.
Merasakan tatapan yang sedikit mengusiknya, Odo perlahan menoleh ke arah Rosaria. Sembari memasang wajah kecut ia pun bertanya, “Kenapa Anda tetap berada di sini, Nona Rosaria? Gereja dekat loh, kenapa tidak pulang dulu? Mungkin orang-orang Nona ada yang mencari, loh ….”
“Saya sudah pamit kepada mereka sebelum pergi,” ujar Rosaria tanpa memalingkan pandangan sedikitpun. Menatap dan menatap dengan begitu dalam, tidak berkedip sampai-sampai matanya sedikit memerah.
“Ugh ….” Merasa tidak bisa melakukan apa-apa kepada orang beriman kuat itu, Odo memalingkan pandangan dan menghela napas dengan pasrah. Kembali menatap ke arah perempuan itu, ia perlahan mengangkat telunjuknya dan berkata, “Jangan bergerak dulu ….”
Hanya satu sentuhan. Tepat setelah ujung telunjuk Odo menempel ke kening Rosaria, beberapa kepingan informasi seketika mengalir ke dalam kepala Pendeta Wanita tersebut. Perubahan rencana, alur baru dan topik pembicaraan yang akan Odo lakukan nanti, semua itu masuk ke dalam kepala Rosaria layaknya lebaran-lembaran perkamen yang dibacakan dengan cepat.
Tidak terbiasa menerima informasi dalam jumlah banyak sekaligus, Rosaria seketika berubah pucat. Ia tampak pusing, pandangan mulai buyar, dan pada akhirnya melangkah ke belakang dengan sempoyongan.
“Nona, kalau kau tetap ingin mengikutiku, tolong jangan keluar dari skenario tersebut.” Odo menurunkan tangannya, memasang senyum ramah dan menambahkan, “Asal Nona tahu, aku di sini bukan karena benar-benar ingin memperbaiki kondisi Rockfield, tapi hanya karena ingin mengisi waktu. Karena itu, jangan terlalu berharap banyak. Dengan kepribadian dan cara pandang yang Nona miliki, soalnya saat kecewa pasti Nona akan hancur.”
Apa yang Odo lakukan memang membuat Rosaria terkejut. Tetapi, perkataan tersebut lebih membuatnya terkejut. Tidak percaya, bingung dan dipenuhi rasa heran. Dalam benak, Pendeta Wanita bertanya-tanya mengapa pemuda di hadapannya mengatakan hal yang sangat bertentangan dengan apa yang dirinya lakukan.
Penuh kontradiksi, tidak bisa dipahami dalam segi baik dan buruk. Meski seharusnya apa yang seharusnya dilakukan oleh Odo adalah demi Rockfield yang lebih baik, namun sejak awal niat baik sama sekali tidak terasa darinya.
Hal tersebut juga berlaku untuk kalimat yang telah keluar dari mulutnya. Meski Odo berkata tidak peduli dan bersikap layaknya orang egois yang hanya mementingkan diri sendiri, namun niat tersebut sama sekali tidak terasa darinya.
Dari semua informasi yang dirinya tangkap oleh semua indra, Rosaria yang tidak bisa memahami Odo pada akhirnya secara satu pihak menyimpulkan. “Keilahian,” itulah yang keluar dari mulut Pendeta Wanita tersebut. Sembari menatap terkesima, ia menyatukan kedua tangan dan mulai memanjatkan doa kepada Putra sang Penyihir Cahaya. Layaknya menyembah kepada Dewa Kota yang dirinya percayai.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan :
Next masih bahas Dekadensi!
See You Next Time!
Catatan Kecil :
Fakta 017: Di Dunia Sebelumnya, terbagi tiga fase sebelum kiamat. Belum bisa disebutkan fakta-fakta di balik ketiga fese tersebut, namun secara garis besar dibagi menjadi Fase Pertama (Richard), Fase Kedua (Korwa), Fase Ketiga (Bay Fir).
__ADS_1