
Distrik Perekonomian dan Pertambangan ⸻ Itulah nama resmi dari tempat tersebut, sebuah ruang untuk orang-orang di Kota Rockfield melakukan kegiatan perekonomian mereka. Dari balai kota sebagai tempat operasional pemerintahan, bergerak ke arah timur dan sedikit menanjak adalah letak distrik yang digunakan penduduk lokal untuk berbaur dengan para pendatang.
Kegiatan jual beli, penawaran jasa, dan pemesanan hasil tambang hingga pengolahannya dilakukan di distrik tersebut. Tidak memiliki pengawasan yang ketat dan menjadi pasar bebas kecil di dalam Kota, tempat tersebut menjadi ruang bagi mereka yang mempertaruhkan peruntungan di Kota Pegunungan.
Selain memiliki pengaruh tipis dari pihak pemerintah karena kebijakan yang telah diterapkan sejak lama, tempat tersebut juga menjadi pusat dari pengawasan hasil pertambangan dari beberapa tambang yang berada di dekat pusat Teritorial Rockfield.
Berbeda dengan pasar umum yang dibebaskan untuk orang luar, bijih besi khusus yang beredar di tempat tersebut mendapat pengawasan ketat. Sebab itulah, meski menjadi pusat perekonomian di tempat tersebut tidak banyak yang menjual bijih besi sebagai ikonis Kota Pegunungan.
Hanya mereka pedagang yang memiliki lisensi dari pemerintah saja yang mendapatkan hak untuk mengolah, menjual, dan mendistribusikan bijih besi khusus yang didapat dari pertambangan.
Selain kegiatan transaksi yang berkaitan dengan produk fisik, Distrik Perekonomian dan Pertambangan tersebut juga memiliki sisi gelap layaknya kota-kota pada umumnya. Sudut prostitusi, tempat hiburan malam tempat rumah bordil berdiri dan para wanita malam menyambung nyawa.
Dalam sejarah Kota Rockfield, sudut prostitusi tersebut sebelumnya adalah tempat-tempat teater ternama pada masanya. Namun setelah tragedi yang terjadi setelah transisi kepemimpinan yang terjadi beberapa dekade lalu, bangunan-bangunan megah tempat untuk menampilkan pertunjukkan perlahan berubah menjadi tempat hiburan malam.
Menurunnya pelancong dari luar, kesan buruk pada Kota, dan merosotnya moral penduduk sipil untuk beberapa waktu setelah tragedi melanda. Memang tidak ada yang berani membicarakan hal tersebut secara langsung di depan umum, namun dengan jelas tragedi yang telah terjadi pada beberapa dekade lalu telah mengubah bentuk Kota Rockfield. Bahkan perubahan tersebut melebihi ketika para penyihir dari Miquator masih menduduki Kota tersebut.
Para perempuan yang dulu dikagumi dengan keindahan rupa dan suara mereka kini kehilangan martabat. Para wanita Rockfield yang terkenal cantik tidak lagi memiliki kekuatan untuk memperjuangkan hak mereka, menjadi tidak berdaya dan hanya bisa memohon kepada para pria untuk perlindungan.
Menikah dengan konglomerat dan terkurung dalam rumah, dahulu hal seperti itu adalah hal yang dihindari oleh para wanita Rockfield. Namun setelah merosotnya moral masyarakat secara umum, hal tersebut dicari-cari oleh para wanita muda. Daripada berakhir menjadi pelacur dan hidup seperti gelandangan, mereka lebih memilih mengorbankan kebebasan.
Itulah fakta gelap yang ada di Kota yang dulu menjadi salah satu pusat kesenian Kerajaan Felixia. Dekadensi masyarakat yang tersembunyi di dalam kabut, tidak dibahas oleh orang-orang di luar Kota dan terus menjamur di tempat lembap.
Semakin cantik wanita bukanlah sebuah berkah lagi bagi mereka yang tinggal di Kota Rockfield. Suara merdu mereka sembunyikan, lalu anak-anak perempuan diajari untuk menghormati pria dan bukan mengasah martabat mereka dengan kesenian seperti dulu.
Memang ada beberapa keluarga yang tidak menyukai cara pandang dan tradisi yang ditanamkan oleh Walikota sekarang. Namun, mereka yang tidak setuju hanyalah orang-orang dari pejabat baru. Dengan kata lain, mereka para pendatang yang memegang erat budaya tempat asal mereka sajalah yang tidak menjalankan cara pandang tersebut.
Menginjakkan kaki di tempat bercampurnya antara keteraturan pemerintahan dan kebebasan para pedagang, tentu saja Ri’aima yang merupakan Putri Sulung Keluarga Stein menjadi perhatian beberapa orang. Perempuan rambut biru pudar itu bukanlah orang yang sering datang ke tempat tersebut, apalagi berjalan bersama salah satu Pendeta dari Pihak Religi.
Sangat janggal, lalu menjadi topik pembicaraan orang-orang pemerintahan yang sempat melihat Ri’aima dan Rosaria berjalan bersama. Namun seakan tidak memedulikan suara-suara yang berbicara tentang mereka, sang Pendeta Wanita hanya melangkahkan kaki tanpa ada keraguan dan tetap memancarkan keanggunan dalam gestur tubuhnya.
Berbeda dengan perempuan berbalut pakaian biarawati tersebut, Ri’aima cukup terusik dengan suara-suara yang didengar sepanjang langkah kaki. Meski paham memikirkan semua itu tidak ada artinya, Putri Sulung Keluarga Stein tersebut tetap saja terganggu dan muak dengan mereka.
“Kenapa mereka berjalan bersama? Kalau Nona Ri’aima bersama Pendeta dari Pihak Religi itu, apa kita bisa menyimpulkan kalau mereka menolak tawaran Tuan Jonatan?”
“Saya rasa itu belum tentu. Lagi pula, untuk apa mereka ke sini? Kalau mereka memutuskan untuk berkoalisi, seharusnya mereka pergi ke kantor pusat, ‘kan?”
“Benar juga, sangat janggal. Apa mereka sedang merencanakan sesuatu?”
“Mana saya tahu! Untuk sekarang, kita sebaiknya laporkan saja kepada Tuan Jonatan dan Nona Ruina.”
“Kalau Tuan Jonatan masuk akal, tapi kenapa harus Nona Ruina juga? Bukannya dia tidak ada kaitannya dengan ini?”
“Bicara apa kamu ini! Bukannya kamu sudah tahu! Beliau berasal dari Keluarga Trytalin, salah satu Keluarga Knight yang dikirim dari Ibukota! Tentu saja kita harus melaporkan ini kepadanya!”
“Kau terlalu mendukung gadis itu. Terserah kau saja, aku hanya memihak kepada Tuan Jonatan. Bukan gadis yang bahkan tidak memiliki gelar bangsawan.”
Pembicaraan yang terdengar oleh telinga Ri’aima hanyalah soal mencari keuntungan, memilih dan memihak kepada siapa yang lebih menguntungkan. Memahami pola pikir orang-orang seperti itu, Putri Sulung Keluarga Stein merasa kembali diperkenalkan diri kepada busuknya dunia politik di Kota.
Tidak ada loyalitas, tidak ada tanda jasa atau bahkan kebaikan. Apa yang mengisi hanyalah mencari keuntungan, lalu menyingkirkan dan disingkirkan.
Melihat perempuan di sebelahnya tampak murung, Rosaria mendekat dan menepuk punggung Ri’aima. Sembari mendekatkan wajah, Pendeta Wanita pun berbisik, “Jangan pikirkan ocehan orang-orang bodoh itu. Di dunia seperti ini, ada banyak orang seperti mereka ….”
Ri’aima mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Rosaria. Dengan nada sedikit penasaran dengan perkataan tersebut, perempuan rambut biru pudar itu sekilas memiringkan kepala dan bertanya, “Apa Nona Rosa sudah sering menemui orang-orang seperti itu.”
“Sangat sering, bahkan di Ibukota lebih banyak ….” Rosaria memegang pundak perempuan di sebelahnya, lalu sembari tetap berjalan bersama dan menatap ke depan ia pun berkata, “Mereka hanyalah orang tidak tahu diri, menganggap diri mereka paling penting dan dibutuhkan. Karena itulah, kita tidak perlu mendengar ocehan orang-orang itu.”
“Ocehan, ya ….” Ri’aima kembali menundukkan kepala, lalu dengan nada sedikit murung berkata, “Ayahanda juga pernah bilang kalau di dunia politik banyak orang seperti itu, bodoh dan hanya bisa mengikuti alur. Tanpa bisa membuat ombak sendiri ….”
__ADS_1
“Tuan Oma berkata seperti itu kepada Anda?” tanya Rosa memastikan.
“Bukan ….” Ri’aima mengangkat wajahnya, lalu dengan sorot mata yang tampak sedih kembali berkata, “Beliau menyampaikan itu kepada adik saya, Baldwin.”
Rosaria tersentak karena merasa telah menyinggung hal sensitif. Mengingat kembali kepribadian Oma Stein yang masih berpikir tradisional, sudah sewajarnya Ri’aima merasa tersingkirkan di dalam keluarganya sendiri.
Fakta bahwa Ri’aima berdiri sebagai perwakilan Keluarga Stein adalah karena Baldwin tumbuh mejadi anak dengan reputasi buruk, lalu si bungsu masih terlalu kecil untuk terjun ke dunia pemerintahan. Tidak menyinggung jauh tentang kehidupan pribadi Keluarga Stein, Rosaria menghentikan pembicaraan dengan hela napas ringan.
Ri’aima berhenti menoleh, melihat ke depan dengan wajah murung. Membiasakan telinga dengan suara-suara gunjingan dan tidak menyenangkan. Beradaptasi dengan bualan, udara dan suasana yang membuat dadanya sakit, lalu mendengarkan kebohongan dari ucapan orang lain. Mengingat satu perkataan ayahnya yang dilontarkan bukan kepada dirinya, perempuan rambut biru pudar tersebut berusaha untuk mengukuhkan hati.
“Tidak ada salahnya meniru yang kuat, namun tidak selamanya yang kuat akan bertahan. Mereka yang bisa beradaptasi lah yang akan bertahan,” gumam Ri’aima dengan tatapan muram. Perkataan tersebut pun bukan miliknya, melainkan milik Oma Stein yang diberikan kepada Baldwin.
Dari awal, Ri’aima memang sama seperti tidak diharapkan berdiri di tempat tersebut. Ia berada di sana hanya karena keharusan, dorongan, dan rasa tanggung jawab atas Keluarga Stein. Karena itulah, perempuan rambut biru tersebut sama sekali tidak mengharapkan semua itu.
.
.
.
.
Setelah menaiki anak tangga, menyusuri jalan, dan melewati beberapa kompleks di Distrik Perekonomian dan Pertambangan, kedua orang tersebut akhirnya sampai di tempat tujuan. Itu bukanlah Kantor Pemerintahan ataupun sebuah kediaman milik seorang bangsawan, melainkan sebuah tempat dengan barisan gedung kesenian yang dulunya digunakan sebagai teater ataupun galeri.
Menjadi rahasia umum orang-orang di Kota Pegunungan, mereka yang melihat kompleks gedung kesenian tersebut akan segera paham bahwa itu merupakan ruang berkumpulnya kemaksiatan. Prostitusi ⸻ Hiburan semu yang layu dengan cepat, sebuah tempat pemuasan nafsu berahi dan kepuasan duniawi.
Itu bukanlah tempat yang murah, setiap orang yang datang pasti memahaminya setelah melihat kompleks yang dipenuhi bangunan kesenian tersebut. Berkualitas, memiliki nilai pelayanan yang tinggi, dan diprioritaskan untuk kalangan menengah sampai atas. Sebab itulah, para konsumen yang datang ke tempat tersebut hampir tidak ada satu pun yang berasal dari kalangan bawah.
Orang-orang kaya ⸻ Entah itu konglomerat, pedagang besar, ataupun para pejabat pemerintahan, mereka yang datang ke tempat tersebut hanya akan melemparkan uang mereka untuk kesenangan semata. Mereka paham bahwa hal tersebut hanyalah bersifat semu, bukan kebahagiaan yang bisa mereka pertahankan. Namun, orang-orang seperti itu tetap datang dengan berbagai alasan mereka masing-masing.
Berbeda dengan kegiatan prostitusi di Kota Mylta yang bisa dikatakan berkualitas rendah dan bisa diakses bahkan oleh kalangan bawah, sudut prostitusi yang ada Rockfield sangat jelas memiliki kelas yang lebih tinggi.
Tempat yang digunakan untuk rumah bordil adalah gedung-gedung megah bekas teater, orkes, atau bahkan galeri seni. Jalan dan anak tangga di tempat tersebut pun kebanyakan terbuat dari marmer, batu alam berwarna-warni, dan keramik.
Kualitas yang ada tentu saja tidak hanya ditunjukkan oleh tempat, namun juga para wanita malam berkelas yang bekerja di tempat tersebut. Riasan menawan, gaun megah, dan gestur teratur untuk memikat lawan jenis. Setiap harinya itu semua mereka asah, bersaing satu sama lain dalam menggoda para pria.
Menggunakan kecantikan sebagai senjata, kecakapan sebagai kemampuan, dan gentur tubuh untuk perisai. Layaknya medan perang, para wanita di tempat tersebut paham bisa gugur dan tersingkirkan kapan saja.
Sebab itulah, para bunga malam di tempat tersebut paham bahwa mereka tidak boleh hanya sekadar menjual kehormatan dan melayani dengan tubuh semata. Mereka memasukan etika ke dalam pelayanan, lalu menjadikan kepuasan secara mental para pelanggan sebagai tujuan utama yang harus dicapai.
Unsur pemuasan secara seksual dalam pelayanan mereka memang tidaklah hilang. Namun, hal tersebut hanya terbatas dalam kasta rendah dari pala bunga malam. Layaknya para bangsawan yang memiliki kedudukan masing-masing, para wanita di sudut prostitusi tersebut juga memilikinya.
Berdasarkan kepandaian, kecantikan, kesenian, kecakapan, dan juga karisma. Layaknya sebuah objek hiburan yang dipajang, para pelanggan yang datang akan menilai dan memberikan popularitas kepada mereka. Meningkatkan pamor, lalu membuat beberapa wanita yang ada memiliki tingkat bereda dengan wanita lain di tempat tersebut.
Berdiri di depan salah satu bangunan prostitusi, untuk sesaat Rosaria dan Ri’aima tidak berani melangkah masuk ke dalam. Selain karena lalu-lalang pria hidung belang yang memberikan tatapan mesum kepada mereka, kedua perempuan tersebut merasa tidak nyaman dengan aroma wewangian yang semerbak kuat di penjuru susut prostitusi.
Galeri Daun Merah ⸻ Itulah yang tertera pada papan utama sebagai tanda gedung yang mereka ingin masuki. Seakan menggunakan masa lalu tempat tersebut sebagai media promosi, kata galeri tidak dibuang meski apa yang dipajang di dalam sudah bukan lagi lukisan-lukisan indah.
Bangunan megah berkubah dengan dominasi warna krem dan putih, anak tangga keramik di pintu masuk dan pilar-pilar marmer yang mengah di bagian depan. Meski digunakan untuk sebuah prostitusi, bangunan tersebut jelas-jelas masih memancarkan aura kesenian bergaya barok yang begitu kental.
Menarik perhatian seseorang yang berjaga di depan pintu utama Galeri Daun Merah, pria dengan perawakan besar menghampiri Rosaria dan Ri’aima. Kepalanya botak, tubuhnya kekar, dan mengenakan pakaian formal berupa kemeja dan celana panjang cokelat.
“Permisi Nona-Nona, ada yang bisa saya tolong?” Setelah menuruni anak tangga dan berdiri di hadapan mereka, pria tersebut sesaat membungkuk untuk memberi hormat. Setelah ia kembali berdiri tagak, pria tersebut pun berkata, “Tanpa mengurangi rasa hormat, tempat ini bukanlah tempat yang boleh didatangi wanita muda seperti Anda sekalian. Apakah Nona-Nona memiliki keperluan khusus?”
Rosaria dan Ri’aima sedikit terkejut dengan sikap ramah tersebut. Mengingat bahwa tempat yang mereka datangi adalah ruang untuk pelacuran, mereka berpikir kalau orang-orang di dalamnya pun tidak berpendidikan dan kasar.
Bagi kedua perempuan yang tidak pernah datang ke sudut pelacuran, rasa cemas tentu saja ada di benak mereka saat datang. Namun setelah disapa dengan standar tata krama seperti itu, stigma tersebut dengan cepat hilang dari mereka.
“Itu benar, Tuan. Terlebih dulu saya akan memperkenalkan diri.” Rosaria membalas salam tersebut, sedikit mengangkat gaun dan membungkuk untuk memberikan hormat. Setelah berdiri tegak dan memasang senyuman ramah, perempuan dengan balut pakaian biarawati tersebut berkata, “Saya adalah Pendeta dari Pihak Religi, Rosaria Aria. Lalu di samping saya adalah Putri Sulung Keluarga Stein, Nona Ri’aima ….”
Perkenalan tersebut membuat pria botak itu sedikit terkejut, lalu memasang mimik wajah bingung dan sesekali melihat ke arah gedung galeri. Reaksi tersebut ia tunjukkan bukan karena tidak terbiasa menerima tamu dari kalangan atas, namun karena yang datang adalah perempuan.
“Tolong tunggu sebentar Nona Rosaria, saya akan menyampaikan kedatangan Anda dan memeriksa daftarnya dulu. Sangat jarang ada wanita datang berkunjung, mungkin akan cukup sulit mencari pasangan untuk Anda di tempat kami ….”
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, Rosaria seketika tersentak dan segera meraih tangan pria tersebut sebelum pergi. Merasa ada sebuah kesalahpahaman, Pendeta Wanita tersebut memasang mimik wajah kecut dan menjelaskan, “Kami … datang bukan untuk hal seperti itu. Tolong jangan mengambil kesimpulan dengan cepat.”
“Bukan?” Pria botak tersebut kembali berbalik, seketika mimik wajah ramah berubah menjadi serius dan dengan nada kasar berkata, “Lantas untuk apa kalian datang ke sini? Kamu tahu kalau ini tempat prostitusi, ‘kan? Entah Anda seorang pendeta atau perempuan di sebelah Anda adalah anak dari Walikota, jika tidak ada keperluan lebih baik kalian pergi.”
“Hmm?” Rosaria terkejut dengan perubahan perlakuan tersebut. Segera mengerti bahwa sikap ramah sebelumnya hanyalah sebuah standar pelayanan, Pendeta Wanita tersebut segera mengambil inisiatif dan berkata, “Meski kami datang bukan untuk hal seperti itu, namun kami ingin menyewa salah satu perempuan yang bekerja di tempat Anda.”
“Oh, hiburan tentang itu ya!” Pria tersebut kembali memasang wajah ramah, lalu sembari menundukkan kepala berkata, “Maafkan perkataan tidak sopan saya. Kalau begitu, mari kita masuk ke dalam dulu ….”
“Baiklah, terima kasih …..”
Setelah itu, mereka berdua pun diantar masuk ke bangunan galeri. Selama langkah kaki mereka, Ri’aima mendekati sang Pendeta Wanita dan berbisik, “Memangnya Anda membawa berapa? Sepertinya harga di sini tidak murah, loh.”
Rosaria sedikit mengerutkan kening, lalu sembari melirik kecil balik bertanya, “Saya hanya punya beberapa koin perak. Kalau Nona Ri’aima?”
“Ha-Hanya satu koin emas kecil dan beberapa koin perunggu,” ujar Ri’aima sembari memalingkan pandangan.
Setelah pembicaraan kecil tersebut, mereka akhirnya masuk ke dalam galeri dan menuju meja resepsionis untuk memesan wanita penghibur di tempat tersebut. Namun setelah masuk ke dalam, apa yang menarik perhatian mereka adalah ruangan yang ada di tempat tersebut.
Sebuah galeri, kesan itu tidak hilang meski tempat tersebut berubah menjadi ladang prostitusi. Lobi dipenuhi dengan lukisan-lukisan indah di dinding-dindingnya, lantar marmer pun memiliki nilai estetika tinggi, dan bahkan sampai langit-langit pun dihiasi dengan lampu gantung yang megah.
“Nona Rosaria, silahkan pilih bunga yang ingin Anda petik.”
Mendengar panggilan pria botak tersebut, Rosaria dan Ri’aima segera menoleh. Mereka berjalan ke meja resepsionis, lalu mengambil buku berisi daftar profil dari para bunga malam yang bekerja di galeri tersebut.
Dari daftar yang ada, jumlahnya sendiri secara keseluruhan mencapai dua puluh wanita lebih yang dibagi menjadi beberapa kasta berdasarkan pamor. Di saat Rosaria mencari nama orang yang ingin ditemui, Ri’aima sendiri hanya terdiam dengan wajah canggung karena ditatap curiga oleh kedua pekerja di tempat tersebut.
“Permisi, saya tidak bisa menemukan nama Racine Quidra,” ujar Rosaria setelah selesai mencari di daftar. Meletakkan kembali daftar berbentuk buku besar tersebut ke atas meja resepsionis, Pendeta Wanita itu bertanya, “Setelah Kediaman Quidra disita, saya dengar kalau perempuan itu datang kemari! Bukannya dia ada di sini bersama Ibunya?
Mendengar perkataan tersebut, seketika mimik wajah Resepsionis dan pria botak berubah serius. Seakan memang tidak mengharapkan pertanyaan tersebut keluar dari mulut salah satu calon konsumennya, pria botak dengan tegas berkata, “Memangnya Nona ada perlu apa dengannya? Jika memang ingin bersenang-senang, mengapa kalian punya informasi seperti itu?”
“Ka-Kami tidak bermaksud apa-apa ….” Rosaria merasa telah mengambil langkah yang salah dalam pembicaraan. Mulai panik, memalingkan pandangan dan memikirkan kalimat yang sesuai untuk meluruskan pembicaraan. Namun sebagai seorang puritan, ia tidak bisa memilih kalimat untuk berbohong. Sembari menatap lawan bicara, pada akhirnya perempuan itu pun berkata, “Kami ingin berdiskusi dengan Nona Racine. Tolong biarkan saya bertemu dengannya sebentar saja ….”
“Untuk masalah politik?” ujar pria botak tersebut. Sembari menajamkan tatapan dan mulai kehilangan kesabaran, ia dengan suara lantang berkata, “Jika itu alasan kalian datang ke tempatku, cepat pergi sekarang juga!”
Suara menggema di dalam ruang tertutup, membuat para pelanggan dan wanita malam di tempat tersebut menoleh ke arahnya. Menatap tidak nyaman, merasa terganggu dan memberikan kesan buruk dengan ekspresi yang tampak pada wajah mereka.
“Owner, tolong tenanglah sedikit. Para tamu menoleh ke arah kita,” ujar sang Resepsionis.
Sadar telah berlebihan, pria botak tersebut menarik napas dalam-dalam. Sembari menatap kedua perempuan di hadapannya, ia dengan nada ramah yang dibuat-buat berkata, “Jika kalian berkenan, bisakah Nona-Nona pergi? Ini bukan tempat untuk perempuan baik-baik seperti kalian datang.”
“Ta-Tapi, saya harus bertemu dengan Nona Raci⸻!”
“Nyonya Quidra tidak ada di sini!” bentak pria botak sekali lagi.
“Permisi, Tuan Badir. Apakah ada yang mencari saya?” Di tengah-tengah percakapan tersebut, Nyonya Rumah dari keluarga yang mereka bicarakan datang. Ia melangkah dengan anggun menggunakan sepatu hak tinggi, menatap dengan sorot mata sayu dan penampilan yang ada padanya tampak begitu menawan. Sembari mengangkat tangannya ke depan, wanita rambut pirang tersebut berkata, “Jika memang ada tamu yang ingin bertemu, saya sekarang sedang kosong⸻”
Perkataan wanita tersebut terhenti setelah melihat ke arah Ri’aima, mimik wajah seketika memucat dan dengan cepat segera berbalik tanpa melanjutkan perkataan. Keinginan melayani tamu dalam sekejap sirna, diganti dengan rasa cemas karena kedatangan Putri Sulung Keluarga Stein.
“Tunggu sebentar, Nyonya Mitranda! Saya ingin berbicara sebentar!”
Rosaria dengan segera menghampiri wanita yang merupakan istri dari Kepala Prajurit sebelumnya itu. Namun sebelum bisa meraih tangannya, pria botak yang merupakan Owner dari galeri tersebut menghadang.
“Seperti yang Nona lihat, beliau tidak ingin berbicara dengan kalian. Terlebih lagi, bukannya Anda ingin menemui Nona Racine? Bukan Nyonya Mitranda ….”
Rosaria tidak bisa membalas perkataan tersebut, ia hanya bisa memasang wajah gelisah dan bingung harus melakukan apa untuk bisa berbicara dengan Racine. Dirinya sempat membuka mulut untuk menggunakan wewenang sebagai seorang Pendeta. Namun, satu detik kemudian dirinya segera mengurungkan niat tersebut karena tidak ingin menodai nama gereja di tempat prostitusi.
Berbeda dengan Pendeta Wanita tersebut yang masih berpikiran jernih, Ri’aima dengan cepat kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Bagi orang yang mewarisi darah Stein, sifat berambisi memang ada pada diri perempuan rambut biru pudar tersebut.
\=========
Catatan Kecil:
Fakta 012: Nama Asli milik Odo sebenanrnya tidak memiliki arti khusus atau kekuatan. Namun, itu bisa memanggil sesuatu dan membawanya menuju singgasana tertinggi yang ditakuti Helena.
__ADS_1