Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[118] Flamboyan Akhir Zaman VII – Altair (Part 04)


__ADS_3

ↈↈↈ


Rockfield. Mentari sepenuhnya telah terbenam, sore berganti dengan petang. Tiang lampu kristal yang rusak membuat malam terasa lebih gelap dari biasanya, memberikan kesan mencekam dengan aroma gosong dan amis darah pada beberapa sudut kota.


Pascaperang adalah salah satu momen paling sulit dalam sebuah konflik. Dimulai dari memulihkan kondisi mental masyarakat, memperbaiki infrastruktur, serta mengurus berbagai macam perkara yang timbul setelah pertempuran berakhir.


Akhir konflik merupakan sesuatu yang patut dirayakan. Namun, kenyataannya hal tersebut sama sekali tidak membahagiakan.


Banyak anak-anak yang menjadi yatim piatu, para wanita pun mengalami trauma yang luar biasa. Pria dan pemuda memendam dendam kesumat, lalu mengutuk orang-orang yang telah menghabisi keluarga mereka dengan kejam.


Kebencian takkan hilang hanya dengan berakhirnya konflik. Layaknya rumput liar dalam kebun terlantar, dendam akan tumbuh subur dengan memangsa seluruh kebaikan yang ada di sekitarnya. Menyebar layaknya sebuah gulma.


Sebelum hari berakhir, penduduk dan prajurit yang selamat mulai mengumpulkan mayat dari setiap sudut kota. Dibawa menuju bangunan gereja, diletakkan pada halaman depan untuk didata dan dimakamkan dengan layak.


Ratusan mayat tersebut dipisah berdasarkan status sosial, asal kompleks, dan keluarga. Berjajar dengan rapi sampai balai kota, memenuhi lapangan lantai marmer yang telah dibersihkan dari bekas-bekas pertempuran.


Suara tangis memenuhi tempat tersebut, bercampur dengan serapah dan teriakan murka. Menjerit kencang sampai napas terputus, otot menegang, dan tenggorokan mengering. Sebuah kesia-siaan yang tak bisa dihindari, luapan emosi yang bercampur aduk.


Dalam suasana berkabung, orang-orang puritan merapalkan doa mereka kepada setiap jiwa yang telah berpulang. Dengan tulus dan tanpa pamrih. Dilakukan satu persatu, tanpa ada yang terlewat untuk menghormati kepergian mereka.


Namun, ada beberapa kerabat yang tidak dapat menemukan mayat keluarga mereka. Meski sudah dicari sampai sudut kompleks pemukiman, penduduk yang tinggal di sepanjang jalan menuju Gerbang Utama tidak bisa ditemukan.


Hanya ada pakaian mereka yang tergeletak di dalam rumah, jalan, dan sudut gang. Bekas seperti mayat, daging, atau bahkan tulang sama sekali tidak dapat ditemukan.


Selain itu, ada juga hal aneh yang didapati para prajurit selama pencarian. Jamur putih beraroma harum memenuhi sepanjang jalan menuju Gerbang Utama, mengeluarkan spora keemasan yang tampak seperti serbuk sari.


Meski Canna dan Opium tahu itu ulah siapa, mereka memilih untuk tidak menjelaskan hal tersebut. Membiarkan para penduduk dan prajurit penasaran, kemudian membersihkan jamur-jamur itu setelah semua orang pergi untuk mempersiapkan acara pemakaman.


Dalam kegelapan, tampak ada beberapa tukang dan penyihir yang sudah mulai memperbaiki infrastruktur kota. Mereka mengatur ulang sirkuit sihir pada lampu kristal di pinggir jalan, kemudian mengganti yang rusak untuk memulihkan penerangan.


Ada juga beberapa prajurit yang membopong kayu besar untuk memperbaiki Gerbang Utama. Mereka bergotong-royong mengubur parit yang sebelumnya digali untuk pertahanan kota, merapikan perkakas perang untuk didata dan dimasukkan ke dalam gudang barak.


Daripada berkabung, mereka lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Memperbaiki kota yang mereka cintai, supaya tidak terlihat mengenaskan dan menyedihkan. Berusaha mengelabui kesedihan dan kebencian dalam hati dengan hal lain.


Banyak prajurit yang kehilangan keluarga mereka, bahkan beberapa masih ada yang belum ditemukan dan tidak jelas nasibnya. Namun, orang-orang itu tetap memilih untuk bertindak daripada hanya menangis ataupun mengutuk situasi.


Menggunakan lentera minyak sebagai penerangan seadanya, memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh pihak musuh. Mereka berusaha untuk tidak menyalahkan, hanya ingin melihat Rockfield kembali seperti semula.


Di tengah proses pemulihan kota yang baru saja dimulai, tiba-tiba seekor kuda perang melintas melewati Gerbang Utama. Beberapa prajurit yang sedang menutup lubang parit langsung terkejut, mereka segera lari untuk mengambil senjata dan membentuk formasi.


“Tak perlu cemas! Ini diriku!” ujar seorang pria yang menunggangi kuda tersebut. Ia segera turun, lalu berjalan menghampiri mereka sembari bertanya, “Apakah pertempuran kalian telah usai? Di mana orang-orang Kekaisaran itu?”


“Lord?” Salah satu prajurit mengarahkan lentera ke depan, lalu menyinari wajah pria tersebut. “Tu-Tuan Dart?! Tolong maafkan kelancangan kami!” ujarnya seraya berlutut.


“Marquess?” Mendengar itu, rekannya yang lain pun segera ikut berlutut. Menundukkan wajah tanpa memastikan terlebih dahulu. “Me-Mengapa Tuan Dart di sini? Bukankah bala bantuan yang dibicarakan baru akan datang dua hari lagi?” gumamnya cemas.


“Mereka takkan datang!” Dart mengulurkan tangan kanannya ke depan. Menggunakan teknik pemadatan Mana, ia menciptakan bola cahaya pada telapak tangan sebagai penerangan seadanya. “Mereka sudah mundur! Hanya ada diriku seorang!” tegas pria itu seraya mendekat.


“Saya juga ada di sini, loh ….” Mili Eywa turun dari kuda. Sembari merapikan jubah dan pakaiannya yang kusut, penyihir tingkat Meister tersebut dengan kesal berkata, “Tolong jangan perlakukan saya seperti udara, dong! Menyebalkan!”


“Oh, kau masih ada di situ?” Dart menoleh, sekilas memperlihatkan ekspresi resah sembari berkata, “Aku kira sudah jatuh.”


“Kejam!” Mili tidak menunjukkan sikap sopan ataupun menghormati, benar-benar bertingkah santai layaknya derajatnya setara. Sembari bertolak pinggang dan membusungkan dada, perempuan rambut pirang tersebut dengan angkuh berkata, “Tanpa diriku, Tuan Dart takkan bisa sampai secepat ini, loh! Merapalkan sihir pemulihan pada kuda secara terus menerus itu melelahkan, tahu!”

__ADS_1


Dart mengernyit, hampir melemparkan bola cahaya ke wajah perempuan itu karena kesal.  Sejenak menghela napas panjang, ia lekas memalingkan pandangan dan berlagak tidak peduli.


“Pertempuran kalian sudah selesai, ‘kan?” Dart menatap tajam para prajurit. Ia sekilas memperlihatkan ekspresi murka, lalu melempar senyum kecut sembari bertanya, “Pasukan Kekaisaran yang menyerang kalian, mereka kabur ke mana?”


“Ka-Kami tidak tahu, Tuanku!” Salah satu prajurit menjawab dengan cemas. Ia perlahan mengangkat wajahnya, lalu dengan suara gemetar berkata “Ka-Kami juga tidak paham dengan apa yang terjadi waktu itu!”


“Kenapa tidak tahu?!” Dart sempat mengentakkan kaki, ia tanpa sengaja memancarkan tekanan sihir dan membentak, “Kalian tidak kabur, ‘kan?!”


“Tentu saja tidak!” Prajurit lain angkat bicara. Ia segera berdiri, memperlihatkan ekspresi marah dan merasa tidak terima. “Kami berjuang sampai akhir!! Jangan asal bicara kau! Kami sudah mempertaruhkan nyawa untuk kota ini! Tidak seperti dirimu yang baru saja sampai⸻!!”


“Hey!” Rekannya segera membungkam mulut prajurit itu, menariknya mundur sembari berkata, “To-Tolong maafkan rekan saya, Tuan Dart! Dia tidak bermaksud menyinggung Anda!


Dart tertegun, tidak bisa membalas dan hanya menatap. Ia tidak murka, malah tampak merasa bersalah dan menurunkan alis.  Menggertakkan gigi karena kesal tidak bisa datang tepat waktu.


“Lantas mengapa mereka mundur?” Dart menggelengkan kepala, berusaha mempertahankan sikap tegas dan lanjut berkata, “Pasti ada alasannya! Tidak mungkin mereka pergi begitu saja! Mereka⸻!”


“Jenderal musuh tiba-tiba membantai rekan mereka sendiri!!” Prajurit lainnya ikut angkat bicara. Ia segera bangun dan berdiri tegak, lalu menunjuk Dart dengan tidak sopan sembari membentak, “Setelah dia bicara dengan Tuan Odo, mereka mulai bertingkah aneh! Membantai rekan sendiri dan pergi begitu saja! Kami tidak tahu mengapa bisa begitu! Tanya saja Tuan Argo atau Putrinya!!”


“Tuan Argo ada di sini?” Dart terkejut, sekilas mengerutkan kening dan kembali bertanya, “Mau apa mereka di sini? Bukankah dia⸻?”


“Beliau ingin menjalin kerja sama dengan Keluarga Stain!” Seorang penyihir datang dari arah jalan utama, memiliki paras menawan dengan rambut putih uban. Ia melewati para prajurit yang berlutut, menghadap sang Marquess sembari berkata, “Izinkan saya memperkenalkan diri, Tuan Dart. Saya Canna Miteres, penyihir Expert Tingkat Dua dari Miquator ….”


“Kerjasama?” Dart Luke sekilas menyipitkan mata, memalingkan pandangan dan bergumam, “Untuk apa?”


“Mungkin urusan dagang! Bukankah itu wajar, Tuan Dart?” Dengan santai Mili melangkah maju, menghampiri Canna dan menatapnya dari dekat. “Iya, ‘kan?”


“Be-Benar! Mereka datang karena urusan bisnis!” Canna tersentak, segera melangkah mundur untuk menjaga jarak. “Tunggu sebentar, Opium. Dia agak aneh,” bisik perempuan rambut uban tersebut kepada rekannya di belakang.


“Ah, ini semakin menyusahkan! Buang-buang waktu ….” Kesabaran Dart mulai habis. Ia langsung menarik Mili mundur, lalu menatap Canna dari dekat sembari bertanya, “Kau tahu apa yang terjadi di sini, ‘kan!? Cepat jelaskan!! Dan juga …, di mana Putraku?”


“Kasar banget, sih!” Mili hampir jatuh, sedikit mengerutkan kening dan menghela napas. Tidak marah, ia segera berjalan ke arah kuda dan mengambil tongkat sihir. “Tapi, saya setuju kalau ini memang semakin menyusahkan …. Odo Luke, pemuda itu ada di sini, ‘kan?” tanyanya seraya melirik tajam, memperlihatkan aura permusuhan yang jelas.


“Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, maukah kalian mampir ke Kediaman Stain terlebih dahulu?” Canna tidak gentar. Ia memperlihatkan ekspresi datar, lalu mengulurkan tangan kanan ke depan sembari berkata, “Jawabannya ada di sana ….”


.


.


.


.


Senyap mencekam. Atmosfer berat menyelimuti mereka layaknya sebuah persidangan. Dalam benak saling menyalahkan, menuduh, dan memendam kecurigaan yang tak berdasar.


Duduk bersama pada ruang tamu Kediaman Stein, tampak rusak dan dipenuhi bekas pertarungan yang masih tampak jelas pada setiap sudut.


Lampu kristal pada langit-langit ruangan masih bisa diaktifkan, bersinar sebagai pencahayaan utama. Memberikan kesan kebiru-biruan dan tampak sedikit redup.


Argo dan Lisiathus Mylta duduk pada kursi yang sama, sengaja memilih sofa yang rusak seakan ingin menyudutkan Tuan Rumah. Mereka sempat ditawari untuk pindah ke ruangan yang lebih layak, namun menolaknya dengan alasan tidak ada waktu.


Di sisi lain, Oma Stein duduk sembari menundukkan wajahnya. Memperlihatkan ekspresi menyesal, tidak bisa mengelak dan hanya pasrah. Membisu saat dimaki, lalu mengangguk dan meminta maaf saat disalahkan.


Karena kondisi Agathe belum membaik, pria tua itu hanya ditemani Putra Tertua dan Putrinya. Namun, mereka sama sekali tidak mampu membela sang Ayah.

__ADS_1


Apa yang disampaikan Argo dan Lisiathus sangat tepat, tragedi yang menimpa Rockfield merupakan tanggung jawab Walikota dan Keluarga Stein.


“Bagaimana caranya Anda mengurus ini, Tuan Oma? Jika kabar ini sampai ke telinga Lord, beliau pasti akan sangat marah ….” Argo kembali menekan. Sembari memainkan jenggot dan mengerutkan kening, pria rambut merah gelap tersebut sekilas melirik ke arah Ri’aima seakan ingin memastikan sesuatu. “Lagi pula, mengapa Tuan Odo memilih untuk ikut mereka?” tanyanya dengan bingung.


“Maafkan saya, Tuan Argo.” Oma Stein semakin menundukkan wajah. Sebagai seorang Walikota, ia tidak benar-benar paham apa yang telah terjadi pada Rockfield. Pria tua itu hanya mendapat penjelasan dari kedua anaknya, Ri’aima dan Baldwin. “Saya sangat menghargai perhatian Anda, namun⸻!”


“Dia memilih itu untuk kepentingan kalian!” Vil memasuki ruang tamu. Setelah memulihkan kondisi Agathe yang sempat memburuk, sosok Roh Agung tersebut kembali untuk melanjutkan pembicaraan. Ia tidak mau duduk bersama mereka, memilih berdiri di depan meja sembari menyindir, “Lanjutkan saja ajang saling menyalahkan kalian! Dasar tidak kompeten!”


Perempuan rambut biru laut tersebut mengernyit, mulai menyesal karena menolak tawaran Odo untuk pergi bersamanya. Ia melangkah mundur untuk bersandar pada dinding yang gosong, lalu terduduk muram dan meringkuk dalam kesedihan.


Melihat itu, semua orang di ruangan hanya terdiam. Mengurungkan niat mereka untuk bertanya, lalu menatap Roh Agung tersebut dalam senyap. Berharap kesedihan itu cepat hilang supaya mereka bisa mendapatkan kejelasan.


“Ngomong-omong, Tuan Quilta dan Tuan Soream pergi ke mana?” Argo mengalihkan topik pembicaraan, berniat mencairkan suasana yang mulai canggung. “Bukankah tadi mereka masih ada di sini?” tanyanya dengan nada ringan, tanpa tekanan seperti tadi.


“Tuan Quilta tadi izin pergi ke balai kota,” jawab Ri’aima. Sembari melempar senyum palsu, perempuan rambut biru pudar tersebut lanjut menyampaikan, “Beliau katanya ingin membantu yang lain dulu, seperti mempersiapkan upacara pemakaman dan memimpin doa.”


“Ah, pemakaman ….” Argo mengangguk, lalu pindah menatap Baldwin sembari bertanya, “Berarti Tuan Soream pergi mengurus persiapan upacaranya, ya?”


“Hmm, iya. Beliau bertugas memimpin upacara,” sambung Baldwin dengan ragu. Ia sekilas memalingkan pandangan, enggan menatap mata Argo karena tampak sangat mengancam. “Ko-Korban serangan ini sangat banyak, sebaiknya saya membantu mereka!”


Pria rambut cokelat tersebut segera bangun, menggunakan alasan tersebut untuk meninggalkan ruangan. Ia tidak tahan dengan atmosfer mencekam, sesak napas sampai wajahnya memucat dan keringat dingin bercucuran.


“Eh⸻?” Ri’aima terkejut, sempat panik saat melihat Adiknya memilih untuk kabur.


“Ka-Kalau begitu, saya pamit dulu ….” Baldwin beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan keluar ruang tamu sembari membungkuk sopan. “Pe-Permisi, permisi ….”


“Uwah, dia kabur,” gumam Ri’aima. Ia sekilas memperlihatkan ekspresi kesal, merasa dikhianati dan kecewa. “Padahal cowok, tapi malah kabur begitu! Awas saja, setelah ini selesai pasti akan saya jotos wajahnya!”


“Kamu baik-baik saja, Putriku?” Oma melirik. Ia tidak bisa berkomentar ataupun memaksa, hanya memperlihatkan ekspresi lelah sembari berkata, “Jika engkau ingin pergi bersama Baldwin, tidak apa-apa. Ayah takkan melarang. Kalian tidak perlu memaksakan diri.”


“Hah!? Bukan begitu, sih!” Ri’aima mulai muak, segera bangun dan mengernyit. Ia lekas menggebrak meja, lalu memalingkan pandangan sembari berkata, “Siapa juga yang memaksakan diri untuk Ayah! Jangan besar kepala, deh!”


“Tenangkan dirimu, Putriku.” Oma sempat panik, segera meraih tangan Ri’aima sembari mengingatkan, “Di sini juga ada Tuan Argo, sopan sedikit ….”


“Akh! Sudahlah!” Ri’aima menyingkirkan tangan Ayahnya dengan kasar. Lekas menunjuk, perempuan rambut biru pudar tersebut dengan kasar membentak, “Ini menyebalkan! Kenapa kalangan tua selalu begini?! Lembek! Cari muka! Kalau ada yang ingin Ayah sampaikan, katakan saja sekarang! Jangan diam saja!”


“Benar sekali, Nona Ri’aima!” Lisia ambil bicara, ia segera bangun sembari bersedekap dan mengangguk. Sembari menunjuk Ayahnya sendiri, perempuan rambut merah terang tersebut berkata, “Mengapa kalian selalu ingin menyalahkan rekan saat situasinya tidak menguntungkan, ya? Padahal musuh kita jelas-jelas ada di luar sana!”


“Apa yang kamu maksud, Putriku?” Argo menurunkan alis, sempat memperlihatkan ekspresi heran dan melirik ke arah Ri’aima. “Kalian sudah merencanakan pembicaraan ini⸻?”


“A-Ah, benar!” Ri’aima kembali menggebrak meja. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan, memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun alur pembicaraan. “Saya senang Nona Lisiathus sependapat dengan saya!” ujarnya dengan niat menegaskan.


“Putriku, dirimu ingin ….” Argo Mylta semakin bingung, kembali menatap Lisia dan memastikan, “Kamu paham seberapa penting pembicaraan ini, ‘kan? Mereka sudah gagal⸻!”


“Tentu saja, Ayahanda!” Lisia berhenti bersedekap, lalu meletakkan tangan kanan ke depan dada sembari menegaskan, “Seorang bangsawan memiliki tanggung jawab! Tragedi ini bukan salah Keluarga Stein! Namun! Sebagai bangsawan mereka harus bertanggung jawab!”


“Lantas mengapa kamu berkata seperti itu?” Argo menajamkan tatapan.


“Dimintai tanggung jawab dan menyalahkan itu berbeda, Ayahanda!” Lisia tidak gentar. Setelah menurunkan tangannya, ia segera menghadap lurus lawan bicara sembari meluruskan, “Tolong jangan sampai salah! Dari tadi Ayahanda hanya menyalahkan Tuan Oma! Padahal selama serangan berlangsung beliau pingsan di sini!”


“Karena itulah dia bersalah!” Argo mulai terpancing. Meski berhadapan dengan Putrinya sendiri, pria berpostur tinggi itu tidak mengalah. Ia menunjuk dari dekat, lalu dengan suara lantang berkata, “Oma adalah seorang Walikota! Dia punya kewajiban untuk melindungi rakyat dan⸻!!”


“Itu masalahnya!” Lisia menyela. Ia tidak mundur, lekas melotot kesal sembari balas membentak, “Bukannya saya ingin membela Keluarga Stein! Namun, apa yang perlu kita lakukan sekarang bukanlah mencari kambing hitam! Melainkan memulihkan kota! Memperbaiki infrastruktur, lalu mengembalikan kepercayaan rakyat!”

__ADS_1


__ADS_2