
Melepaskan Lisia, Odo menghela napas panjang dan dengan tegas berkata, “Aku punya rencana untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi …, sebelum itu kalian harus setuju dulu untuk menyelesaikan apa yang ada di lapangan.”
“Tentu saja setuju, sebelumnya saya sudah bilang⸻”
“Dengarkan dulu perkataanku!” tegur Odo dengan kasar. Sembari mengerutkan kening ia memperingatkan, “Kau tak pernah belajar, ya? Jangan pernah asal setuju sebelum mendengarkan dan mempertimbangkan usulan orang lain baik-baik! Paham?!”
Lisia seketika bungkam dengan wajah tertunduk seperti seorang anak yang baru saja dimarahi oleh orang tuannya, merasa tidak berguna karena perkataan-perkataan pemuda itu terasa begitu tegas baginya. Seakan tidak memedulikan ekspresi yang tampak pada wajah perempuan rambut merah tersebut, Odo lekas menatap ke arah Wiskel.
“Ini tentang pemakaman. Tadi aku sempat bicara dengan orang-orang puritan soal penguburan. Mempertimbangkan luas kuburan kota di dekat kanal, sepertinya jumlahnya terlalu banyak …. Karena itu, mereka katanya ingin mengubur mayat-mayat yang tidak bisa diidentifikasi di dalam satu liang lahat.”
Wiskel untuk sesaat terdiam dan mempertimbangkan apa yang disampaikan oleh Odo. Merasa tidak memiliki saran yang lebih baik, ia lekas menoleh ke arah Iitla dan bertanya, “Menurut Anda bagaimana, Pak Iitla? Apa sebaiknya seperti itu …? Kalau mempertimbangkan luas makam di dalam dan luar kota, menaruh semuanya dalam satu liang lahat adalah pilihan terbaik.”
“Pihak Religi tidak mempermasalahkan hal tersebut, bukan? Kalau begitu, seharusnya tidak masalah untuk kita melakukannya. Menguburkan mayat-mayat dalam satu liang lahat bukanlah hal aneh saat masih masa peperangan dulu, saya rasa masyarakat juga bisa memakluminya.”
Mendengar jawaban dari Iitla Lots, Wiskel kembali menatap ke arah Odo sembari menganggukkan kepala satu kali. Ingin menyampaikan bahwa seperti itulah keputusan Pihak Pemerintahan. Namun ketika dirinya paham harus ada izin dari Walikota Pengganti, pria tua tersebut menoleh ke arah Lisia.
“Bagaimana dengan Anda, Nona Lisiathus?” tanya Wiskel.
Lisia sejenak menarik napas dalam-dalam, memberanikan diri untuk menatap lurus ke arah Odo dan berkata, “Saya akan membuat surat persetujuannya segera. Untuk itu, Tuan Odo tolong lanjutkan pengarahan di lapangan bersama yang lain.”
Odo Luke hanya memberikan tatapan datar, merasa perempuan rambut merah di hadapannya hanya memaksakan diri dan pura-pura tegas di hadapannya. Tubuh gemetar, keringat dingin dan wajah pucat, semua itu memberitahu Odo tentang hal itu.
“Aku serahkan itu kepadamu.” Pindah menatap ke arah Wiskel dan Iitla, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut mengacungkan telunjuknya setinggi dada dan berkata, “Mari kita lanjutkan pembicaraan ke topik selanjutnya. Ini hanya saran dariku, kalian bebas untuk mengambilnya atau tidak.”
“Tak masalah, mari kita dengarkan dulu,” ujar Wiskel.
“Sebelum itu, aku ingin memastikan masalah pokok yang ada.” Odo menurunkan jari telunjuk, memasang mimik wajah serius dan menyampaikan, “Sekarang situasi yang sedang dihadapi kota adalah kemungkinan besar regresif terus menerus seperti dulu. Hal ini terjadi karena dampak dari hilangnya kepercayaan atas keamanan rute dari luar kota, menyebabkan pendatang akan terus berkurang secara berkala. Untuk mencegah itu kita perlu memperbaikinya, benar begitu?”
Iitla dan Wiskel mengangguk secara serempak. Mereka berdua tampak sangat memahami masalah utama tersebut, merasa kalau itu tidak segera ditangani maka juga bisa berarti akhir dari pemerintahan kota yang ada sekarang.
Dengan kata lain, Keluarga Mylta dan semua yang ada di bawahnya akan digeser oleh Pemerintah Pusat dan diganti dengan orang yang lebih mampu dalam mengolah kota.
Sebagai Wakil Walikota, Wiskel Porka mengangkat telunjuknya ke depan dan sedikit menambahkan, “Selain hal itu, Pemerintah Mylta juga kemungkinan besar akan kehilangan kepercayaan dari Ibukota karena dianggap tidak becus.”
Pria tua tersebut tidak lagi mempertahankan harga dirinya dan berbicara lepas tentang fakta. Sembari mengerutkan kening keriputnya, ia kembali menyampaikan, “Pada titik ini, pihak kami sudah cukup besar kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Jadi meski prajurit kota membersihkan para monster, kebanyakan orang akan menganggap itu hanyalah sebuah cara kami untuk memperbaiki nama baik dan tidak benar-benar percaya bahwa rute perdagangan telah aman kembali. Sebab itu ….”
“Sebab itu kalian ingin menggunakan pamor milikku di masyarakat untuk meningkatkan efek pengembalian nama baik kalian?” tanya Odo seakan memahami pola pikir Wakil Walikota tersebut.
Meski tidak dijelaskan, pemuda rambut hitam itu dengan jelas tahu maksud Wiskel dari awal. Tidak melakukan tindakan kontra terhadap ucapan Odo kepada Lisia sebelumnya adalah sebuah bukti kuat. Karena pada titik masalah yang ada sekarang, Pihak Pemerintah akan memiliki banyak risiko jika berusaha menyelesaikan masalah yang ada sendirian.
Sembari tersenyum kecil Wiskel bertanya, “Anda sudah paham hal tersebut, bukan?”
Odo hanya menghela napas, sekilas memalingkan pandangan dan memasang mimik wajah seakan menunggu Wakil Walikota tersebut memberikan tawaran yang pantas.
Menyadari gelagatnya, Wiskel sedikit tersentak dan merasa pemuda rambut hitam di hadapannya pintar memanfaatkan situasi yang ada. Namun, pada saat yang sama Wiskel paham berada dalam posisi yang tidak bisa menawarkan sesuatu dengan sembarang.
“Berarti intinya seperti ini, ‘kan? Kalian ingin menggunakan namaku sebagai Pembunuh Naga, Tunangan Tuan Putri, dan seorang yang mendapat gelar Viscount di usia yang sangat muda untuk memperbaiki masalah kali ini? Kalau aku yang bergerak, masyarakat mungkin benar-benar akan percaya bahwa rute perdagangan kembali aman dan mengurangi dampak berkurangnya kepercayaan dari orang-orang luar kota. Namun …, bukannya itu sama saja menodai reputasi kalian Pihak Pemerintahan?”
Baik Iitla Lots ataupun Wiskel Porka, keduanya memahami hal tersebut dengan sangat baik. Jika orang dari luar bergerak untuk membersihkan masalah yang ada, kemungkinan besar nama pemerintahan akan ternoda dan menyebabkan kepercayaan masyarakat kepada mereka semakin menurun. Namun di sisi lain, itu juga bisa mengurangi dampak hilangnya kepercayaan orang-orang dari luar Mylta terkait keamanan rute perdagangan.
“Ti-Tidak masalah! Asalkan perekonomian kota ini tidak lagi ambruk!” ujar Wiskel dengan sedikit ragu.
__ADS_1
“Hmm, baiklah. Akan berusaha mengurus masalah ini ….” Odo meletakkan tangan ke dagu dan sekilas memalingkan pandangan. Sembari kembali melirik ke arah Wakil Walikota tersebut Odo memastikan, “Namun, apa yang akan kalian berikan setelah selesai nanti? Langsung ke intinya saja, jujur aku tak suka dengan cara kerja kalian yang suka menyingkirkan pihak lain setelah tak diperlukan …. Sebab itu, aku meminta kalian memberikan jaminan.”
“Jaminan?” Kata yang dipilih oleh Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sedikit membuat Wiskel heran, merasa ada maksud tersembunyi di dalamnya. Sembari menurunkan alis pria tua tersebut pun bertanya, “Memangnya apa yang Tuan Odo minta?”
Odo mengangkat telunjuk ke depan, lalu dengan jelas menuntut, “Sebagai ganti membantu kalian menyelesaikan masalah kali ini, aku ingin perjanjian resmi terkait pembebasan visa masuk kota untuk orang-orang yang bekerja dengan Ordoxi Nigrum.”
Iitla dan Wiskel sesaat terdiam bingung dengan tujuan dari jaminan yang Odo minta. Mereka berpikir dan mengingat-ingat masalah pajak yang baru dibahas beberapa hari lalu, merasa perusahaan Ordoxi Nigrum terlalu banyak memiliki keringatan dari Pihak Pemerintahan.
Pengurangan pajak tanah dan bangunan yang diberikan Lisia, pembiaran bentuk perusahaan yang kurang sesuai dengan pencatatan kota serta pelepasan gudang pelabuhan oleh pemerintah dalam harga rendah. Semua itu jelas-jelas seperti perusahaan swasta milik Odo telah melucuti satu persatu peraturan pemerintah yang telah ada, dalam bentuk sebuah pengecualian khusus yang diberikan kepada Odo, pemilik perusahaan.
Setelah mereka memikirkan baik-baik jaminan yang diminta Odo, kedua pria dari pemerintahan tersebut semakin menyadari arti besar di baliknya.
“A-Anda⸻!” Wiskel yang pertama kali terkejut saat menyadarinya. Pria tua tersebut segera menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tenang, lalu dengan sedikit tertekan ia berkata, “Kalau seperti itu, bukannya itu sama saja kami memberikan semua keuntungan pajak izin masuk kota kepada perusahaan swasta Anda? Dari fase progresif ini …, biaya visa kota menjadi salah satu pendapatan terbesar kami!”
“Ini bukan berarti aku akan mengambil semuanya, hanya untuk yang bekerja sama dengan kami saja.” Pemuda rambut itu mengamati mimik wajah Wiskel yang masih tampak tertekan. Berusaha untuk meyakinkannya, Odo menurunkan jari telunjuk dan kembali berkata, “Seperti yang kalian telah ketahui, Arca pernah bilang ingin menjadikan Ordoxi Nigrum sebagai Serikat Dagang, ‘kan? Untuk itu kami perlu perusahaan lain sebagai anggota. Jaminan yang aku ajukan hanyalah untuk menarik mereka bergabung, dengan iming-iming pembebasan biaya masuk kota.”
Perkataan itu cukup meyakinkan, sedikit mengurangi tekanan yang didapat Wiskel dari jaminan yang diminta. Ingin memastikannya dengan detail dan jelas, pria tua itu menatap datar sembari kembali bertanya, “Bagaimana dengan batasannya? Berapa perusahaan yang ingin Anda ajak bergabung?”
“Aku belum menghitungnya dengan pasti.” Odo sesaat mengangkat kedua sisi pundaknya. Sembari memalingkan pandangan dan kembali meletakkan tangan kanan ke dagu, ia dengan nada tidak meyakinkan menjawab, “Namun …, mungkin sekitar 11 sampai 15 nama perusahaan yang akan berkoalisi dengan kami.”
“Sampai belasan?! Bu-Bukannya itu ….” Wiskel benar-benar dibuat cemas dengan jaminan yang diminta Odo. Satu perusahaan yang keluar masuk kota saja sudah memberikan keuntungan yang cukup besar. Jika itu sampai belasan, cukup tinggi kemungkinan orang-orang dari kalangan konglomerat yang berinvestasi ke kota memberikan tekanan dalam perjanjian tersebut. Tetapi mempertimbangkan situasi genting yang ada, Wiskel memang tidak bisa memilih lagi. “Kalau untuk batasan waktu?” tanya pria tua tersebut untuk mencari celah.
“Sekitar 5 tahun saja.” Odo lekas memasang ekspresi datar dan menurunkan tangan dari dagu. Ia erasa pria tua di hadapannya masih ingin bernegosiasi terkait permintaan jaminan. “Setelan batas waktu, kalian bisa memberlakukan tarif normal,” tambah Odo.
“Maaf ….” Wiskel menggelengkan kepala dengan mimik wajah seakan batas waktu yang diajukan Odo terlalu berat. Sembari memasang senyum ringan ia menawar, “Hanya 2 tahun yang bisa kami penuhi. Ini terlalu memiliki banyak risiko, tak ada jaminan rute selalu aman dalam waktu selama itu.”
“Hmm, benar juga.” Odo sekilas memalingkan pandangan ke sudut ruangan dan mempertimbangkan beberapa hal lain di dalam kepala. Kembali menatap lawan bicaranya, ia juga ikut menawar, “Kalau 3 tahun bagaimana?”
“Baiklah, dua setengah tahun.” Odo menghela napas resah dan benar-benar merasa tak ingin berdebat lebih lama lagi. Menatap dengan sorot mata datar, ia pun memastikan, “Berarti, perjanjian ini berlaku selama 30 bulan.”
“Hmm, itu benar. Apa kita sepakat?” ucap Wiskel sembari mengajak Odo berjabat tangan.
“Sepakat!” jawab Odo sembari menjabat tangannya. Segera melepaskan tangan pria tua tersebut dan menatap serius, Putra Tunggal Keluarga Luke segera berkata, “Kalau memang inti pembicaraan pertama sudah diputuskan, aku akan segera bergerak setelah surat perjanjiannya dibuat dan ditandatangani kedua pihak.”
“Segera? Maksud Anda ….”
Baik Wiskel ataupun Iitla yang berdiri di sebelahnya, mereka berdua sedikit merasa ada yang janggal dari apa yang disampaikan Odo. Kedua pria itu saling menatap satu sama lain dengan heran, lalu kembali melihat ke arah pemuda rambut hitam di hadapan mereka.
“Besok atau lusa aku ingin mulai membantai para monster. Meski mungkin ekosistem akan sedikit berubah di sekitar Mylta, kurasa itu tidak terlalu masalah karena yang berkurang hanyalah para monster,” jawab Odo tanpa ragu. Ia berkata seperti itu seakan membasmi para monster di Teritorial Kota Mylta adalah hal mudah.
“Tu-Tunggu sebenar?” Wiskel dibuat tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar. Paham Odo bukanlah orang bodoh yang mengatakan itu dengan enteng, pria tua tersebut memastikan, “Anda berniat pergi sendirian? Anda tidak perlu menyiapkan pasukan? Teritorial Mylta itu tidak kecil, loh ….”
“Tak masalah.” Odo menyeringai kecil. Sembari menaikkan telapak tangan setinggi dada dan meregangkan jemari, ia dengan percaya diri berkata, “Kalian hanya tinggal sebarkan saja rumornya, nanti akan aku bawa beberapa lusin mayat monster sebagai bukti penguat. Setelah itu, kalian hanya perlu membunuh para monster secara rutin untuk mencegah kejadian seperti ini terjadi lagi.”
Wiskel dengan cemas segera menoleh ke arah Iitla. Meski dirinya sering mendengar kabar tentang kekuatan Odo Luke, secara pribadi dirinya hanya pernah satu kali melihat secara langsung kekuatan asli Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut, yaitu saat pemuda itu berduel dengan Arca Rein di Barak.
Menggantikan Wakil Walikota yang masih tampak ragu untuk menjawab, Iitla Lots ambil bicara, “Kalau Anda berbicara seperti itu, kami tidak akan mengusik lagi ….” Sebagai salah satu orang yang pernah melihat cara bertarung Odo saat melawan para bandit, Kepala Prajurit tersebut tidak ingin meragukannya. “Omong-omong, bicara soal perkembangan jumlah tak wajar para monster, apa Anda juga tahu penyebabnya?” tanya Iitla untuk membuat pembicaraan terus bergerak.
“Huh? Kalian tidak sadar?” Odo sedikit mengerutkan kening mendengar pertanyaan tersebut. Sembari memalingkan pandangan ke sudut ruang, pemuda rambut hitam itu dengan nada sedikit kesal menjelaskan, “Tentu saja itu karena orang-orang yang biasa memburu mereka pergi. Kalian tahu, kebanyakan pemburu dari Guild memilih berhenti memburu monster dan lebih suka bekerja menjadi pengawal para pedagang besar yang keluar masuk kota. Karena itu, jumlah monster di lingkup sarang bertambah tidak terkendali.”
Baik Iitla yang berpengalaman terkait masalah keamanan kota selama beberapa tahun ataupun Wiskel yang telah veteran mengatur politik kota, mereka berdua merasa telah melewatkan hal sepenting itu. Dalam satu dekade terakhir mereka merasa terlalu fokus dengan masalah yang dibuat para bandit, lalu menyerahkan persoalan monster kepada pemburu dari Guild dan cenderung pasif dalam ikut serta menekan populasi monster.
__ADS_1
Kedua pria dari Pihak Pemerintahan tersebut benar-benar dibuat sadar atas kesalahan fatal tersebut, terlalu meremehkan monster tidak berakal yang hanya dianggap sebagai sumber daya untuk kristal sihir setelah tambang.
Tak ingin mengakui secara langsung kesalahan dalam manajemen Teritorial Kota Mylta, Wiskel yang wajahnya mulai sedikit memucat kembali bertanya, “Apa Anda pergi ke sarang mereka karena menyadari itu?”
“Tidak ….” Odo menggelengkan kepala. Sembari menatap datar ia menjawab, “Aku pergi karena beberapa hari lalu Nona Lisia membicarakan laporan tentang beberapa orang yang hilang dalam kurun waktu satu minggu terakhir. Sebab itu, aku coba mengecek zona para monster di dalam hutan. Lalu, seperti apa yang aku laporkan kepada kalian waktu sore.”
“Anda mengeceknya hanya karena pembicaraan waktu itu, ya?”
Lisia terperangah, perempuan rambut merah yang sedari tadi diam dan tidak punya kesempatan masuk ke dalam pembicaraan itu benar-benar memasang mimik wajah kagum. Bukan karena perkataan atau kelihaian Odo dalam bernegosiasi, namun karena tindakan cepat Putra Tunggal Kelurga Luke tersebut dalam mengatasi masalah yang sebenarnya Lisia bicarakan waktu itu hanya untuk selingan semata.
“Tentu saja. Berbeda dengan bandit yang masih memiliki sedikit rasa manusiawi, para monster sepenuhnya rusak⸻!”
Sebelum Odo menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba pintu di belakangnya terbuka dan membuat pemuda itu terdorong ke depan. Secara refleks ia menggunakan kaki kanan sebagai tumpuan dan segera berbalik. Namun sebelum bisa menyeimbangkan tubuh, tanpa sengaja sikunya menyenggol dada Lisia.
“Eh~?!” Perempuan rambut merah itu segera melangkah mundur, menutup dadanya dengan kedua tangan dan wajahnya mulai merona.
Berusaha tidak mengusik kejadian tersebut, Odo segera menatap ke arah orang yang tiba-tiba membuka pintu tanpa mengetuk. Di sana berdiri Arca Rein, pemuda rambut pirang kecokelatan yang napasnya sedikit terengah-engah karena baru saja berlari.
“Odo! Soal masalah ini⸻!”
Sebelum dirinya menanyakan sesuatu, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut seketika terdiam setelah melihat kombinasi orang-orang yang ada di dalam ruang. Memang dirinya tahu tempat Odo dari Siska di lapangan. Namun, dirinya tidak mengira di ruangan Iitla Lots akan dipenuhi banyak orang dari kalangan pemerintahan.
“Kalau kau datang untuk berbicara denganku, aku sudah menghandel masalah kali ini.” Odo menoleh ke arah kedua pria dari pemerintahan, lalu sembari tersenyum ringan berkata, “Benar begitu, Pak Iitla dan Pak Wiskel?”
“I-Itu benar, kami sudah menyelesaikannya.”
“Hmm, sudah kami diskusikan dengan Tuan Odo.”
Baik Wiskal ataupun Iitla, kedua orang tersebut cenderung menghindari pembicaraan dan diskusi dengan Arca. Mereka sangat paham bahwa melakukan pembicaraan dengan Putra Sulung Keluarga Rein itu hanyalah seperti melempar diri ke dalam bara api kekalahan.
“Baiklah, aku paham dengan apa yang kamu ingin sampaikan, Odo ….” Arca memilih untuk percaya perkataan mereka. Tetapi, dirinya datang bukan hanya untuk membicarakan dampak persoalan kali ini. Sembari menatap tajam Arca menyampaikan, “Aku langsung ke inti tujuanku datang, ya! Ibu kamu, Lady Mavis sudah berada di lapangan Barak! Dia mencari kamu dan terlihat sangat cemas!”
“A⸻!” Odo langsung tepuk jidat, merasa tindakan Mavis untuk mencarinya adalah wajar karena pada pembicaraan sebelumnya dirinya langsung pergi tanpa pamit. Menatap Arca dengan resah, Putra Tunggal Keluarga Luke itu bertanya, “Dengan siapa saja dia datang? Apa … hanya Fiola?”
“Hmm, beliau hanya bersama Nona Fiola.” Arca menatap sedikit heran. Setelah menghela napas ringan ia bertanya, “Kenapa juga kamu langsung pergi waktu itu? Setelah mengatakan hal yang membuat Lady cemas …. Odo, itu sama kamu sengaja membuat Ibumu cemas.”
“Yah, aku bukan makhluk super sempurna yang bisa merencanakan segala hal dengan baik.” Sembari memasang mimik wajah resah, Odo kembali menatap lurus ke Arca dan meminta, “Bisa kau lanjutkan negosiasi ini dengan mereka. Keputusan sudah dibuat, jangan tambah yang tidak-tidak dan pantau saja sampai pembuatan surat perjanjiannya. Kalau sudah selesai, aku akan ke sini lagi dan menandatangani itu.”
Setelah mengucapkan hal tersebut, Odo berjalan melewati Arca dan pergi keluar dari ruangan. Ditinggalkan bersama pemuda yang terkenal dengan sikap tegas dan kejamnya kepada kalangan atas, Wiskel dan Iitla merasa tak ingin melanjutkan pembicaraan dan lebih berharap menunggu Odo kembali.
Namun, tentu saja Arca tidak mengharapkan hal tersebut karena pembicaraan yang ada telah dipercayakan kepadanya. Sembari menoleh ke arah mereka, Arca Rein memasang mimik wajah tenang dan bertanya, “Bisa kalian memberitahu saya sampai mana pembicaraannya?”
\============================
Catatan:
Yup, tambah terus masalahnya.
Padahal jujur aku juga ingin segera bahas masalahnya si Zialina Seliari, si Putri Naga.
Fakta 004: Tokoh paling egois dan serakah di seri ini adalah Mahia.
__ADS_1