
Ferytan tidak memasang kuda-kuda. Meski pria paruh baya itu sudah masuk dalam posisi siap tempur, ia sama sekali tidak melebarkan kaki ataupun menurunkan posisi tubuh. Hanya berdiri tegak dengan pedang terarah ke depan, lalu memusatkan Mana pada bilah dan membuat pertahanannya terbuka.
“Sikap pedang macam apa itu? Rasanya ada yang aneh,” benak Jenderal Fai sembari memberikan sinyal tangan kepada salah satu komandan Peleton. Memerintahkan mereka untuk maju dan mengepung, berniat menyerang pria paruh baya itu dari tiga arah. “Pasukan penyihir bersiap membantu,” benaknya sembari kembali memberikan sinyal tangan kepada regu penyihir di belakang.
“Pendekar Hitam dari Utara!! Hah! Yang Benar saja!” Ferytan langsung mengintimidasi dengan memancarkan nafsu membunuh yang kuat. Ia lekas memasang kuda-kuda dengan melebarkan kaki kanan ke belakang, sedikit memiringkan posisi tubuh, lalu memegang pedang dengan satu tangan dan menariknya sampai bahu. Dengan ujung bilah terarah lurus, pria paruh baya itu perlahan melebarkan senyum merendahkan sembari memprovokasi, “Aku rasa julukan itu hanya abal-abal!”
“Sudah saya katakan, ini adalah perang! Taktik merupakan salah satu bentuk kekuatan yang harus dimiliki seorang pemimpin. Sebaliknya …!” Jenderal Fai meremehkan, tertawa kecil dan lanjut menghina, “Engkau seorang pemimpin, bukan? Kenapa malah maju seperti orang bodoh? Kenapa kau tidak menggunakan catapult? Kalian bisa saja menggempur kami dengan itu! Mengulur waktu selama mungkin sampai bantuan datang! Bukan malah membuka gerbang dan berlagak heroik⸻!”
“Teknik Pedang ….” Ferytan segera mendekat menggunakan teknik langkah kaki. Jarak belasan meter seketika diatasi, dalam hitungan detik ia langsung berada di hadapan lawannya dan siap menyerang. Tidak membiarkan lawannya bersiap, pria paruh baya itu segera menusuk tajam sembari berteriak, “Tunduk Tunggal!”
“Apa⸻!”
Meski gerakan itu sangat cepat, Jenderal Fai masih bisa melihatnya dan memberikan respons. Ia segera mengangkat pedang secara diagonal, lalu menahan serangan tersebut dengan tepat. Namun, pedangnya langsung patah saat terkena tusukan.
Serangan itu tidak terhenti, lalu menghunjam zirah dan dada Jenderal Fai sampai tembus ke belakang. Hanya dengan satu gerakan frontal, Ferytan berhasil mendaratkan serangan pertama yang sangat fatal.
“Kau sangat kuat ….” Ferytan segera memegang gagang pedang dengan kedua tangan. Memusatkan tenaga, pria paruh baya itu berniat memutar senjatanya untuk mengoyak organ dalam lawan. “Meski lengah, kau bisa bereaksi dan mengambil keputusan secepat itu. Membelokkan serangan supaya tidak mengenai jantung,” tambahnya seraya mendekatkan wajah. Menatap dari dekat, lalu melebarkan senyum tipis dengan wajah pucat.
“Sadis sekali!” Jenderal Fai segera menjatuhkan senjata yang telah rusak, lalu menggenggam pedang yang menusuk tubuhnya dengan kedua tangan. Ditahan supaya tidak diputar dan mengoyak organ dalam, menjauhkan bilah tajam dari paru-paru dan jantung. Sembari tersenyum kaku, ia dengan suara gemetar berkata, “Baru mulai langsung mengincar⸻! Akh!!”
“Diamlah!” Ferytan tidak membuang kesempatan itu, ia segera meningkatkan kekuatan fisik dengan sirkulasi Mana dan perlahan memutar pedangnya. “Mati! Akhiri kekacauan ini dengan kematianmu!” ujarnya dengan lantang.
Sebelum bisa mengoyak jantung Jenderal Fai, salah satu pemimpin kompi berlari mendekat dari arah belakang. Ia segera meloncat ke arah Ferytan, lalu mengangkat tombaknya dan langsung mengincar kepala pria paruh baya tersebut.
Ferytan menyadari serangan itu dari nafsu membunuh yang terpancar. Paham telah kehabisan waktu, ia segera menarik padang dari tubuh Jenderal Fai dan berbalik dengan cepat.
“Kenapa bisa⸻?!” Prajurit itu berusaha membelokkan arah tusukan supaya tidak mengenai Jenderal Fai. Namun, karena itu dirinya langsung kehilangan keseimbangan saat mendarat. Sembari memantapkan kuda-kuda, ia segera berbalik sembari berteriak, “Bedebah! Memangnya kau punya mata di belakang kepala⸻!?”
“Teknik Pedang ….” Ferytan dengan lembut dan tajam mengayunkan pedangnya secara horizontal. Menghabisi lawan dengan sekali penggal. Dalam detik selanjutnya, kepala prajurit itu lepas dan jatuh menggelinding ke lantai. Darah berceceran, sedikit menciprat ke tubuh dan wajah. “Cakar Tunggal,” lanjut pria paruh baya itu dengan suara lirih. Ia tampak gentar dan memucat, meskipun baru saja menghabisi lawannya dengan sangat mudah.
“Akh! Sudahlah! Ini mulai menyusahkan! Pakai saja rencana awal!” Jenderal Fai segera mundur ke dalam barisan pasukan. Daripada menghadapi lawannya, ia lebih memilih untuk kabur untuk menggunakan taktik. Memerintahkan seluruh pasukan maju, berniat langsung menyerang kota saat gerbang masih terbuka. “Serang! Jangan sampai gerbang itu tertutup lagi! Ini kesempatan kita!” ujar pria rambut hitam itu sembari berlari. Ia meletakkan tangan ke depan dada, lalu berusaha menutup pendarahan dengan teknik manipulasi Mana.
“Tu-Tunggu!” Ferytan sedikit tersentak, kembali sadar setelah hampir jatuh dalam ketakutan dan rasa bersalah. Meskipun tidak separah sebelumnya, pria itu masih memiliki trauma dengan darah dan mayat. “Jangan kabur pengecut!” ujarnya seraya melangkah maju.
Namun, serbuan pasukan yang datang dari depan membuat pria paruh baya tersebut terhenti. Ia dipaksa mengangkat pedang, lalu menebas prajurit yang hendak menyerangnya secara frontal.
Pada detik itu juga, trauma sepenuhnya bangkit dan menguasai pikiran Ferytan. Membuat tubuhnya gemetaran, terdiam membisu di tengah medan perang.
Tentu saja Pasukan Kekaisaran tidak membuang kesempatan itu. Tanpa ragu, dua dari mereka langsung menusuk bahu dan perut Ferytan. Tombak tembus dari perut sampai ke belakang, sedangkan pedang tertahan tulang bahu dan tertancap. Tubuhnya pun ikut terdorong serbuan pasukan dan terangkat dari tanah.
Rasa sakit segera menyadarkan Ferytan. Ia membuka matanya lebar-lebar, lalu mengayunkan pedangnya dan memotong tombak yang menusuk perut. Menggunakan kepala salah satu Prajurit Kekaisaran sebagai pijakan, pria paruh baya itu segera salto ke belakang dan berlari menuju gerbang.
“Tutup!! Siapkan formasi!!” teriak Ferytan sembari mencabut potongan tombak dan pedang dari tubuhnya. Meluncur melewati gerbang dan masuk ke dalam kota, pria paruh baya itu segera berbaik untuk menahan gempuran pasukan musuh. “Jangan biarkan mereka masuk! Penduduk sipil masih belum selesai dievakuasi!” tambahnya dengan lantang.
Pria paruh baya itu segera memasang kudu-kuda, menurunkan posisi tubuh dengan melebarkan kaki kanan ke belakang. Mengarahkan ujung bilah pedang lurus ke depan, lalu memusatkan Mana pada satu titik untuk meningkatkan ketajaman.
Saat salah satu Prajurit Kekaisaran berlari melewati gerbang, Ferytan langsung melancarkan Teknik Tanduk Tunggal. Menusuk jantung lawan, lalu langsung dikoyak sampai membuat lubang selebar kepala tangan orang dewasa.
Merapatkan kedua kaki dan berdiri tegak, pria paruh baya itu segera mengubah sikap tubuh. Mengangkat pedang setinggi dada secara horizontal, lalu langsung menebas prajurit lain yang hendak menerobos.
Setiap teknik yang dilancarkan Ferytan selalu mematikan, menghabisi lawannya dalam sekali serang. Meski tangan gemetar dan wajah memucat, pria paruh baya itu tidak kabur dari garis depan. Ia berulang kali melancarkan teknik pedang secara terarah, lalu menciptakan tumpukan mayat di depan gerbang utama.
Darah membuat gagang pedangnya licin, bilah menjadi sedikit tumpul, dan pandangan Ferytan pun mulai buram karena luka pada perut serta bahu. Meski begitu, tatapan tajam pria paruh baya itu sama sekali tidak luntur.
Salah satu Prajurit Kekaisaran melemparkan tombak, mengenai roda gerigi yang menggulung rantai besi. Mekanisme gerbang seketika macet, lalu membuat pintu raksasa itu terhenti dengan posisi setengah terbuka.
“Lily ….” Sembari menahan ratusan prajurit yang berusaha menerobos masuk melalui celah gerbang, pria paruh baya itu kembali teringat dengan alasannya untuk berjuang. Senyuman dan wajah lugu Lily’ami terlintas dalam benaknya. “Aku mohon kau baik-baik saja!” gumamnya sembari meningkatkan kecepatan rentetan teknik pedang.
__ADS_1
Kesedihan mulai mengisi dada Ferytan, menimbulkan penyesalan karena tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk Lily’ami. Dengan mimik wajah tak kenal takut, pria paruh baya itu perlahan meneteskan air mata.
Ayunan pedang mulai melambat, stamina menipis, dan tatapannya pun semakin buyar karena pendarahan. Ferytan pada akhirnya terdorong mundur, lalu membiarkan beberapa prajurit musuh lolos dan masuk ke dalam kota.
Pasukan Rockfield yang tersisa berhasil mencegah mereka. Namun, gerakan Ferytan terus melambat dan membiarkan lebih banyak prajurit musuh masuk.
“Sialan! Mati! Mati! Mati!” Adrenaline pria paruh baya itu mendadak melonjak. Seakan tidak lagi memedulikan rasa sakit pada sekujur tubuh, ia kembali meningkatkan kecepatan ayunan dan tusukan pedang. Mengejar prajurit yang berhasil melewatinya, lalu dihabisi dari belakang sembari berteriak, “Padahal aku baru saja membuka lembar baru kehidupan!! Kenapa malah berakhir seperti ini?! Sialan!!”
Di tengah lonjakan semangat, tiba-tiba sebuah tombak berselimut aura hijau giok melintas. Melewati bagian atas Gerbang Utama, lalu mengarah langsung ke pusat pemukiman. Tombak itu mendarat pada atap salah satu bangunan dan meledak.
Asap hitam langsung menyebar, lalu meracuni semua orang yang ada di sekitarnya. Serangan itu tidak pandang bulu. Asap racun tidak hanya menghabisi Pasukan Rockfield yang tersisa, namun juga Prajurit Kekaisaran yang berhasil menerobos masuk.
Racun menyebar dengan cepat karena arah hembusan angin, lalu menciptakan kepanikan di antara para prajurit. Tidak ingin mati, Pasukan Rockfield yang tersisa tanpa pikir panjang lari dari medan perang. Menghindari tempat ledakan tombak beracun, lalu kabur ke arah barak. Menelantarkan rute menuju pemukiman yang seharusnya mereka jaga.
“A-Apa yang kalian lakukan?!” Melihat hal tersebut, Ferytan langsung murka dan membentak, “Berhenti! Jangan kabur, pengecut! Lawan mereka! Angin akan menghapus asap beracun itu⸻!” Tiba-tiba perkataan pria itu terhenti, ia sedikit tersentak dan segera menoleh ke atas tembok gerbang.
“Hmm, insting yang luar biasa ….” Jenderal Fai berdiri di atas tembok gerbang. Layaknya pemimpin sejati, ia melipat kedua tangan ke depan dada dan menatap rendah medan pertempuran. Perlahan pria rambut hitam itu tersenyum tipis sembari berkata, “Inilah yang disebut taktik.”
Karena jarak yang terlalu jauh dan keramaian, Ferytan tidak bisa mendengar ucapan sang Jenderal. Namun, ia benar-benar terkejut saat melihat pria itu sudah pulih sepenuhnya.
Bukan hanya tusukan pada dada Jenderal Fai, namun juga zirah dan senjata yang rusak pun sudah diganti. Seolah-olah serangan fatal yang dilancarkan Ferytan sebelumnya tidak berarti apa-apa.
“Apa mereka punya penyihir tingkat Meister? Tidak mungkin ….” Sembari menganalisis situasi, Ferytan terus melancarkan teknik pedang dan menghabisi setiap Pasukan Kekaisaran yang menerobos. Ia mengalihkan pikiran dengan hal lain, lalu sepenuhnya melupakan trauma dan lanjut membantai mereka layaknya mesin pembunuh. Bergerak cepat dan lincah mengikuti refleks alami, benar-benar masuk ke dalam kondisi rileks ekstrem. “Mengapa dia tidak menggunakan sihir untuk membakar gerbang? Bukankah dia suka sekali menggunakan taktik licik? gumamnya seraya meningkatkan tempo gerakan, lalu menghabisi tiga prajurit dalam sekali tebas.
“Sebentar!!” Mengamati gerakan pria paruh baya tersebut dari atas gerbang, Jenderal Fai sedikit menyipitkan mata sembari bergumam, “Bukankah itu Teknik Pedang Keluarga Luke? Berarti Odo Luke memang ada di kota ini! Kalau iya, mengapa dia tidak muncul juga? Padahal kota sudah diserang dan pasukan ku sudah menerobos masuk ….”
“Tolong!! Siapa saja, tolong saya! Akh⸻!!”
Di tengah pertarungan yang semakin kacau, suara jeritan penduduk sipil tiba-tiba pecah. Ferytan tersentak dan segera menoleh, wajahnya seketika memucat karena mengkhawatirkan kondisi Lily’ami.
“Sialan …!” Tidak ingin membuang waktu, pria paruh baya itu kembali meningkatkan sirkulasi Mana. Memperkuat kemampuan fisik dan memacu jantung, lalu langsung menerjang pasukan musuh dan berlari menuju gerbang. “Turun kau, pengecut!!” teriaknya seraya meloncat tinggi, menggunakan kepala beberapa Prajurit Kekaisaran sebagai pijakan.
Melihat hal tersebut, Jenderal Fai langsung terkejut sampai tubuhnya tersentak dan melangkah mundur. Namun, ia tidak takut ataupun panik. Sekilas ia tersenyum tipis seakan telah memprediksi hal itu, lalu mengangkat telunjuk sembari merapalkan mantra.
“Permukaan adalah bidang milikku. Tidak ada yang boleh lebih tinggi, hanya ada yang lebih rendah. Kabut hitam meniadakan segalanya, bentuk kemarahan ilahi. Maka jatuhkan dirinya yang ingin menggapai surga. Teknik Susunan Batasan Surgawi.”
Tombak besi yang telah tertancap pada sisi lain tembok kembali aktif. Mengobarkan api kehijauan, lalu mengeluarkan asap hijau dan mulai merembes masuk ke dalam sela-sela susunan batu bata. Bergerak cepat mengikuti kehendak Jenderal Fai, lalu langsung menyembur keluar ke sisi lain tembok.
Meski menyadari getaran aneh pada pijakan, Ferytan tidak bisa menghindari serangan tersebut. Semburan asap hitam mengenai tubuhnya, lalu mendorong pria paruh baya itu sampai kakinya terangkat dari tembok.
Asap beracun memasuki tubuhnya melalui hidung dan mulut. Namun, ia segera mengubah sirkulasi Mana untuk menekan dampaknya. Mencegah peredaran dengan menurunkan sistem pernapasan, lalu segera melakukan detoksifikasi ringan dengan meningkatkan suhu tubuh.
Sebelum jatuh ke atas kerumunan prajurit, Ferytan segera berputar di udara dan menancapkan pedangnya ke tembok gerbang. Menggunakannya sebagai pijakan, lalu berjongkok dan melanjutkan proses detoksifikasi ringan.
Metode itu merupakan bagian dari kondisi rileks ekstrem, sesuatu yang pernah dirinya pelajari dari Odo Luke. Memperlambat sirkulasi darah dan pernapasan, lalu menggunakan Mana untuk meningkatkan suhu internal tubuh dan memurnikan racun.
Tentu saja metode kasar itu memiliki efek samping yang tidak ringan. Karena temperatur tubuh naik, gejala demam langsung menyerang Ferytan dan membuatnya pusing. Pandangan semakin pudar, lalu hampir membuat pria paruh baya itu jatuh pingsan.
“Akh, sialan!”
Ferytan membenturkan kepalanya sendiri ke tembok gerbang. Kesadaran yang sempat memudar perlahan langsung kembali, lalu darah mengalir keluar dari pelipis.
Sekilas mendongak untuk memastikan lokasi lawan, pria paruh baya itu lekas mencengkeram sela-sela tembok dengan tangan kiri. Ia segera mencabut pedang dan bergelantungan, lalu sekuat tenaga langsung melemparkannya ke arah Jenderal Fai.
“Tch!” Pria berjuluk Pendekar Hitam dari Utara itu terkejut, ia tidak bisa memprediksi serangan balik tersebut. Menghunuskan pedang dengan tangan kanan, Jenderal Fai lekas melancarkan tebasan vertikal. “Keras kepala!” teriaknya dengan murka. Serangan itu berhasil ditahan, pedang yang dilemparkan pun terpental ke udara setelah suara benturan terdengar.
Sebelum pedang tersebut jatuh melewatinya, Ferytan segera berlari vertikal melalui tembok gerbang dan meloncat. Menangkap senjata itu saat masih melayang, lalu langsung memadatkan Mana dan menggunakannya sebagai pijakan di udara.
__ADS_1
“A⸻! Teknik Pemadatan Mana?!” teriak Jenderal Fai dengan wajah memucat. Ia segera mengangkat pedangnya ke depan dengan kedua tangan, lalu mulai memusatkan Mana hijau giok pada bilah. “Sialan! Beraninya dia mengajarkan itu kepada orang luar seperti dirimu?!” lanjutnya dengan murka.
“Kau terlalu banyak bicara ….”
Tidak membuang kesempatan, Ferytan segera memusatkan konsentrasi dan menonaktifkan beberapa kemampuan indra. Pendengaran sepenuhnya terputus, begitu pula perasa dan penciuman. Memusatkan penglihatan dan kemampuan otot, pria paruh baya itu langsung melesat ke arah lawannya.
Gerakan itu cepat. Selain karena peningkatan kemampuan fisik, kombinasi teknik langkah kaki yang Ferytan gunakan juga sangat harmonis.
Pria paruh baya itu tiba-tiba menghilang dari penglihatan Jenderal Fai, lalu kembali muncul di belakang lawannya setelah melancarkan serangan yang sangat cepat. Sama sekali tidak mengeluarkan suara, sekilas hanya terlihat kilatan putih layaknya pantulan cahaya pada bilah pedang.
Saat Ferytan mendarat di bagian atas tembok gerbang, kedua tangan Jenderal Fai telah terpotong dan jatuh ke lantai. Meski darah muncrat keluar dari bekas potongan dan berceceran, pria rambut hitam itu sama sekali tidak menjerit.
“Orang luar sepertimu tidaklah pantas ….” Tidak memperlihatkan ekspresi kesakitan ataupun takut, Jenderal Fai malah menunjukkan ekspresi murka dan tidak terima. Sembari melotot tajam dan mendekat, pria rambut hitam itu dengan suara lantang menegaskan, “Teknik itu adalah panutan! Baik itu pendekar ataupun ahli bela diri, semuanya berakar dari satu metode! Itu bukan sesuatu yang pantas digunakan oleh orang rendahan seperti dirimu!”
“Kau tidak perlu menjelaskannya ….” Ferytan berbalik, sedikit menurunkan bilah pedang dan bersiap menebas secara diagonal. Sembari menatap tajam, ia dengan tatapan sinis lanjut berkata, “Tuan Odo sudah menceritakan sejarah teknik ini. Alasan mengapa Keluarga Luke dikenal sebagai Pedang Kerajaan, lalu awal teror yang lahir dari metode Manipulasi Mana tersebut.”
“Lantas mengapa engkau menyanggupi?” Jenderal Fai menegakkan tubuhnya. Ia semakin murka, lalu menggertakkan gigi dan kembali membentak, “Teknik itu adalah milik mereka! Panutan kami para pendekar! Bukan sesuatu yang⸻!”
“Aku hanya perlu menjadi layak ….” Ferytan tersenyum bangga. Sedikit menurunkan posisi tubuh, pria paruh baya itu dengan suara lantang menegaskan, “Pantas atau tidak, yang menentukan adalah diriku sendiri! Bukan orang lain! Itulah yang beliau katakan saat mengajarkan teknik pedangnya!”
“Jangan sombong! Rendahan!” Kemarahan mulai mengambil alih, membuat Jenderal Fai tidak bisa berpikir jernih dan mengambil tindakan gegabah. Tidak memedulikan pendarahan pada kedua tangan yang terpotong, pria rambut hitam itu lekas mendekat sembari lanjut menghardik, “Engkau takkan pantas! Teknik itu hanya akan membawa kesengsaraan! Engkau akan menderita seumur hidup!”
“Kehidupan ku sudah penuh dengan penderitaan ….”
Tanpa ragu, Ferytan mengayunkan tebasan diagonal ke tubuh Jenderal Fai. Darah langsung berceceran, lalu tubuh pria rambut hitam itu pun terdorong sampai punggungnya menyentuh pembatas.
“Sialan …!” Jenderal Fai masih mempertahankan kesadarannya, lalu lekas menegakkan postur tubuh dan berusaha bangkit kembali. Tidak menunjukkan gelagat menyerah, ia mulai memusatkan aliran Mana pada kaki kanan dan bersiap menyerang balik. “Jangan berlagak! Dasar rendahan!” teriaknya sembari mengentakkan kaki dengan kencang.
Sekilas aura hijau giok tersebar pada permukaan lantai susunan batu bata, menciptakan gelombang kejut seperti getaran gempa ringan. Namun, itu tidak berarti apa-apa bagi Ferytan. Pria paruh baya itu tetap berdiri tegak, lalu kembali mengangkat pedangnya dan berniat melancarkan tebasan kedua.
“Itu percuma! Namun …!” Ferytan mengambil satu langkah tegas, lalu langsung mengayunkan pedangnya secara vertikal. Berniat menghabisi lawannya dengan serangan itu. “Tekad Anda layak dihormati!” teriaknya lantang.
“Diamlah, dasar bedebah!”
Sebelum bilah pedang memotong kepala Jenderal Fai, tiba-tiba tombak besi yang tertancap pada tembok gerbang aktif kembali. Senjata itu dengan cepat menyerap aura hijau giok yang sebelumnya tersebar pada permukaan lantai, lalu menciptakan lingkaran sihir dan membentuk struktur mantra destruktif.
“Huh? Ini⸻!?”
Merasakan tekanan sihir aneh dari arah belakang, ayunan pedang Ferytan langsung terhenti tepat saat menyentuh kening lawannya. Ia segera meloncat ke samping, seakan-akan refleks dan insting menarik tubuhnya untuk menjauh.
Namun, itu sedikit terlambat. Tombak yang tertancap pada sisi luar tembok gerbang meledak, kemudian menyebarkan kobaran api hijau yang menjalar layaknya ular berbisa. Merambat dengan sangat cepat, lalu langsung menyambar tubuh Ferytan dari belakang.
Zirah ringan yang dikenakan pria paruh baya itu seketika meleleh, lalu membakar kulitnya layaknya sebuah pemanggang. Tidak sempat memasang kuda-kuda, gelombang ledakan menghempaskan tubuhnya dengan kencang. Terpental dan jatuh ke dalam tembok gerbang.
Pada saat bersamaan, Jenderal Fai pun ikut terdorong dan terjatuh dari atas tembok gerbang. Ia telah memperhitungkan kekuatan dan arah ledakan. Karena itulah, tubuhnya dengan akurat terhempas ke arah barisan Prajurit Kekaisaran. Berniat mundur sementara untuk menyusun ulang pasukan.
Saat tubuhnya masih melayang di udara, Ferytan sekilas melihat arah jatuh lawannya tersebut. Sedikit terkejut karena paham ledakan itu sudah diperkirakan, bukan serangan bunuh diri ataupun nekad.
“Apa-apaan orang itu?” benaknya seraya memejamkan mata, lalu jatuh membentur permukaan jalan susunan batu dengan keras. Meski posisi tubuh sudah diatur supaya tidak menderita cedera parah, namun tetap saja jatuh dari atas gerbang setinggi belasan meter sangat menyakitkan. Beberapa tulang rusuk patah, kaki tulang betis retak, dan tangan kiri pun belok ke arah yang salah. “Sialan! Aku sudah terlalu tua untuk hal semacam ini,” gumamnya seraya meringkuk.
Ferytan tidak bisa lekas bangun. Saat membentur permukaan jalan susunan batu, kondisi rileks ekstrem juga ikut terlepas dan membuat seluruh indranya kembali. Rasa sakit yang sebelumnya diredam langsung menyerang sekaligus. Kesadaran pria paruh baya itu perlahan memudar, kemudian bola mata pun berputar ke dalam dan mulutnya mulai mengeluarkan busa.
Di tengah kesadarannya yang hampir hilang, Ferytan sekilas melihat Baldwin berlari mendekat. Pemuda rambut cokelat cepak itu tampak sangat cemas, wajahnya memucat saat berlari dengan napas terengah-engah.
“Pak! Bertahanlah⸻!!”
Ferytan tidak bisa lagi mendengar perkataan pemuda itu. Kesadarannya benar-benar hilang, penglihatan berubah menjadi gelap gulita tanpa ada satupun suara. Senyap menyeramkan menghampiri layaknya persimpangan kematian.
__ADS_1
ↈↈↈ