
.
.
.
.
Kedua mata terbuka dalam keheningan, dengan pandangan pudar yang perlahan-lahan membaik. Ketika penglihatannya kembali secara penuh, Odo menemukan dirinya terbaring sembari menatap langit-langit kubah yang terbuat dari kayu.
Beberapa lampu kristal digantung di atas, sebagai penerang dan tampak indah bersama beberapa ornamen plafon. Disusun dengan rapi membentuk pola tertentu, memancarkan sinar layaknya gugusan bintang.
Tetapi, dari seluruh hiasan tersebut ada sesuatu yang tak wajar. Di antara ornamen dan gugusan lampu kristal, tulang belulang menyatu dengan langit-langit ruangan. Akar-akarnya menjalar seakan memenjarakan mereka saat masih hidup.
Berada di dalam Pohon Suci, itulah kesimpulan yang Odo dapat setelah melihat pemandangan semacam itu. Memastikan bahwa Reyah selamat, sebab tempat tersebut masih utuh tanpa ada perubahan seperti layu atau semacamnya.
“Syukurlah dia baik-baik saja ….” Odo hendak bangun. Tetapi saat merasakan ada sesuatu yang menindih tubuhnya, pemuda rambut hitam itu terhenti kaku.
Sang pemuda segera membuka selimut serat yang menutupi dan memeriksa. Menemukan seorang gadis tidur di atas tubuhnya, untuk sesaat sang pemuda terkejut dan ingin langsung melemparnya ke lantai.
Namun saat tahu gadis tersebut adalah Alyssum Iarna, rasa bingung langsung mengisi benaknya. Menggantikan panik dan kesal yang sempat menguasai. Membuat Odo tidak tahu harus bereaksi seperti apa, lalu pada akhirnya tetap berbaring dalam mimik wajah pasrah.
“Aya … handa?”
Alyssum terbangun karena ritme napas dan detak jantung Odo. Sembari mengusap mata dan tidak turun, Roh berbentuk gadis kecil tersebut malah duduk di atas tubuh sang pemuda.
Gadis itu memiliki kulit putih dan lembut, rambut hijau cerah yang sangat panjang, lalu mata biru langit layaknya batu kuarsa. Tubuhnya dibalut pakaian serat hijau layaknya Dryad, serta pada kepala pun terdapat ornamen mahkota bunga.
Meski komposisi ras Alyssum didominasi Dryad, namun secara fisik Roh Kecil tersebut lebih cenderung seperti manusia. Sebab dirinya tidak memiliki bagian tanaman yang tumbuh keluar dari tubuh, lalu dari luar pun tampak seperti gadis manusia.
“Aku sering sekali dipanggil begitu,” ujar Odo dengan tatapan heran.
“Jadi ….” Alyssum sedikit memiringkan kepala. Sembari melempar senyuman lesu, gadis Roh tersebut bertanya, “Seperti apa seharusnya saya memanggil? Papah? Romo? Atau Baginda Raja Roh?”
Meski tampang dan suara Alyssum sangat mirip dengan anak-anak, intonasi bicara Roh Kecil tersebut sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut. Sangat menekan dengan mimik wajah yang tampak datar, lalu tatapannya pun terasa kering layaknya ranting musim gugur.
Meski masih sangat muda, Alyssum tetaplah sosok Roh Agung yang telah menerima wewenang Pohon Suci. Mewarisi ingatan para pendahulunya saat pertama kali terbangun, lalu memiliki kepribadian kuat dan kuat yang didasari dari hal tersebut.
Alyssum memperlihatkan mimik wajah kosong bukan karena tidak bisa berekspresi dengan baik. Namun, itu terbentuk secara alami karena warisan ingatan. Pengetahuan memaksanya tubuh dewasa dengan cepat, lalu memikul beban penguasa layaknya para pendahulunya.
“Terserah kamu saja ….” Odo segera menyipitkan mata saat menyadari ketidakwajaran tersebut. Tidak bisa lagi memperlakukan Alyssum sebagai anak-anak, sang pemuda menarik napas dalam-dalam dan segera meminta, “Bisakah kamu turun dariku dulu sebelum lanjut bicara?”
“Kenapa?” Alyssum memiringkan kepala ke sisi lain. Dengan tatapan kosong, gadis Roh tersebut dengan nada dingin kembali bertanya, “Saya tidak berat, ‘kan? Atau … Papah masih sakit?”
Saat Alyssum memilih panggilan tersebut, kedua alis Odo sedikit berkedut dan tatapannya berubah datar. Sejenak menghela napas dan memejamkan kedua mata, pemuda rambut hitam tersebut dengan kesal membentak, “Turun! Sebelum aku melempar kau ke lantai!”
Alyssum terdiam membisu, hanya menatap dingin dan memperlihatkan mimik wajah hampa. Tanpa berkata-apa lagi, gadis Roh tersebut pun mulai turun dari tubuh Odo. Berdiri di dekat ranjang, lalu mengulurkan tangan kanannya seakan ingin mengajak sang pemuda.
Odo Luke tidak meraih tangan tersebut. Duduk dan menutup tubuh telanjang dengan selimut serat, pemuda rambut hitam tersebut mulai melihat sekeliling. Paham bahwa tidak ada orang lain di tempat tersebut, sedikit mencurigakan dan membuatnya bingung.
“Kalau Papah mencari Reyah, dia sudah tidak punya lagi wewenang untuk masuk ke tempat ini ….” Alyssum menggenggam erat tangan kanan sang pemuda. Sembari memberikan tatapan sendu, Roh Kecil tersebut kembali menyampaikan, “Dia telah mewariskan seluruh akses tersebut, begitu pula lebih dari setengah wewenang Pohon Suci yang ada.”
Odo tidak terkejut, hanya memberikan tatapan kosong dan menghela napas ringan. Ia segera menarik tangannya dari Alyssum, lalu memastikan bahwa kedua sarung tangan dimensi penyimpanan tidak ada di tempat.
Saat melihat telapak tangan kanannya sendiri, Odo lekas paham bahwa Rajah Angka memang telah berubah bentuk. Tidak ada huruf ‘C’ pada tempat tersebut, namun sebagai gantinya muncul sebuah simbol Infinity berwarna hitam pekat.
Tanda tersebut didasari dari ‘Omega’ yang berarti akhir. Dalam sudut pandang lain, itu juga dapat menggambarkan sebuah paradoks dan ketidakjelasan karena luapan potensi.
Layaknya sebuah Fraktal, tanda tersebut merepresentasikan sebuah pengulangan berpola dengan hasil berbeda. Sebuah siklus tanpa batas.
Dengan kata lain, Infinity tersebut merupakan manifestasi dari kontradiksi itu sendiri. Meski disebut tidak terbatas, hal itu justru merupakan batasan tersendiri karena memiliki pola tertentu.
“Apa dia sudah lelah menghitungnya? Jadi ditulis begini biar praktis …?”
Odo sedikit menyipitkan tatapan, sejenak mengamati Rajah tersebut dan merasa ada yang janggal. Mulai merasa tidak nyaman karena beberapa alasan, ia segera menutup telapak tangan dan kembali menatap ke arah Alyssum.
“Papah punya banyak tanda aneh, ya? Salah satunya tanda di telapak tangan itu ….”
Tidak terlalu memedulikan ucapan Roh Kecil tersebut, sang pemuda hanya menghela napas ringan dan memalingkan pandangan. Ia lanjut memeriksa Rajah Khanda pada pangkah lengan kanan, lalu sedikit tersenyum seakan-akan telah memastikan sesuatu.
“Bisakah kamu keluarkan aku dari sini?” Odo turun melalui sisi lain ranjang kayu. Sembari menutupi tubuhnya dengan selimut serat dan menggunakannya sebagai pakaian, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas menyampaikan, “Aku ingin bicara dengan Vil dan Reyah. Ada banyak hal yang perlu aku pastikan dulu.”
“Hmm ….” Alyssum Iarna terdiam sesaat, merasa tidak dianggap penting dan menatap semakin datar. Sembari memalingkan pandangan Roh Kecil itu pun berkata, “Tidak mau! Entah mengapa Papah sangat menyebalkan!”
“Huh?” Odo terkejut dan segera menoleh, untuk beberapa alasan merasa sedikit jijik saat melihat Alyssum merajuk. “Kamu seorang Roh Agung, ‘kan? Apa-apaan reaksi itu? Mirip orang tua yang berlagak seperti remaja,” ujarnya seraya menjauh.
“Papah masih baru bangun! Sebaiknya di sini saja dan istirahat!” Alyssum menatap lurus lawan bicara, memperlihatkan sorot mata tajam dan mimik wajah sedikit cemberut karena merasa terhina. “Serahkan saja hal-hal seperti itu kepada kami!!” tambahnya dengan tegas.
Saat mendengar itu Odo segera menghela napas dan memastikan sesuatu. Paham bahwa kondisi pasca-penaklukan Leviathan cukup bermasalah, sampai-sampai Reyah harus menyerahkan hampir seluruh wewenang Pohon Suci kepada Alyssum. Roh Kecil yang baru saja mendapatkan kepribadian dan identitas.
“Separah itu kondisinya?” Odo mengerutkan kening. Sembari memalingkan pandangan dan melihat sekeliling, pemuda rambut hitam tersebut kembali memastikan, “Kalau bagian dalam Pohon Suci tidak mengalami perubahan, seharusnya ekosistemnya juga baik-baik saja, ‘kan?”
Tempat tersebut memang tampak seperti biasanya. Tidak ada barang yang bertambah atau berkurang, tak ada perubahan sama sekali. Jika disebut ada sesuatu yang berbeda, hal tersebut hanyalah soal kepemilikan.
“Masalah ini bukan hanya tentang ekosistem Pohon Suci ….” Alyssum menundukkan wajah dengan kesal, lalu meremas erat gaun seratnya dan menyampaikan, “Itu sudah mencangkup seluruh Dunia Astral! Seharusnya Papah tidak melakukan penaklukan Leviathan⸻!”
“Apa konstruksi Realm ini berubah?” sela Odo dengan nada dingin. Seakan tidak peduli dengan hal tersebut, pemuda rambut hitam itu kembali memastikan, “Distorsi Spasial lenyap? Seluruh iklim berubah? Atau … struktur Roh Agung tidak lagi berfungsi?”
Meski reaksinya tampak datar, Alyssum samar-samar memperlihatkan mimik wajah takut saat mendengar pertanyaan itu. Paham bahwa pemuda rambut hitam tersebut sangat jauh dari kata normal, terasa seperti singularitas yang hidup dalam bentuk manusia.
“Kenapa … Papah tahu semua itu?” ujar Alyssum sembari melangkah mundur.
Tubuh Roh Kecil itu mulai gemetar ketakutan. Layaknya sebuah sensor, warisan kebijakan para pendahulu langsung memberinya peringatan. Untuk menunduk hormat dan mengakui pemuda itu sebagai penguasa bangsa Roh.
Mengikuti insting Alyssum lekas berlutut di lantai, menunduk hormat layaknya seorang pengikut yang patuh. Benar-benar tunduk hanya karena beberapa pertanyaan singkat.
“Pilihanmu adalah berlutut, ya? Sangat sederhana.” Odo menyipitkan tatapan. Setelah menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut kembali bertanya, “Apa ada sesuatu yang jatuh, Alyssum?”
Putra Tunggal Keluarga Luke melempar senyum tipis. Pemuda itu tahu bahwa sikap hormat tersebut sangatlah wajar untuk reaksi insting, terkait tentang kasta kepemilikan wewenang Pohon Suci.
Pada kontrak yang Odo buat dengan Reyah, secara teknis wewenang dibagi dengan seimbang dengan beberapa hak yang terpisah. Layaknya perjanjian setara antara dua individu untuk menjalin hubungan.
__ADS_1
Tetapi, sekarang ini Reyah telah mewariskan lebih dari setengah wewenang miliknya kepada Alyssum. Sebab itulah, secara otomatis pemegang kekuasaan tertinggi Pohon Suci jatuh kepada Odo.
Hal tersebut mirip dengan cara kerja saham, di mana pemilik terbanyak bisa lebih berpengaruh dari pemilik perusahaan. Bahkan ikut serta dalam mengambil keputusan penting untuk perusahaan tersebut.
“Apa ini tujuan Papah dari awal?!” Alyssum perlahan mengangkat kepalanya dan menatap tajam. Di bawah paparan lampu-lampu kristal, wajah kesalnya tampak dengan sangat jelas. “Karena alasan seperti ini, Papah membuat kontrak dengan Mama dan melakukan Penaklukan Leviathan?! Untuk alasan seperti ini, Papah menghancurkan tatanan Dunia Astral?!” tanyanya dengan lantang.
“Tentu saja bukan, bicara apa sih kau ini?” Odo menjawab tanpa ragu.
Melihat perilaku labil dan temperamental tersebut, ia sedikit cemas karena sifat Keluarga Luke dengan jelas mengalir dalam diri Alyssum. Ceroboh, cepat hilang kendali, lalu cenderung pemarah layaknya Dart Luke.
“Lalu! Demi apa Papah melakukan semua itu?!” Alyssum kembali bertanya dengan tegas. Berusaha untuk bangun, memaksa tubuhnya sendiri untuk melawan insting. Namun, tetap saja tidak bisa dan ia kembali berlutut di hadapan Odo Luke. “Tch! Kalau memang menginginkan kekuatan, seharusnya ada jalan lain! Kenapa harus mengacaukan Dunia Astral?!” tambahnya dengan lantang.
“Ah ….”
Kesan tenang dan dingin gadis tersebut benar-benar runtuh di mata Odo. Memalingkan pandangan dan menghela napas, ia merasa bersalah karena telah mencemari siklus kelahiran Roh Agung dalam ekosistem Pohon Suci.
Di tengah pembicaraan yang belum selesai, tiba-tiba bulu kuduk Odo berdiri. Merasakan hawa keberadaan yang sangat kuat, langsung mengingatkannya dengan makhluk primal yang pernah dirinya lawan beberapa waktu lalu.
“Itu benar, diriku juga tertarik untuk mendengar alasannya.”
Pada salah satu sudut dinding ruangan, perlahan lingkaran sihir tercipta layaknya akses yang biasa digunakan oleh Reyah. Tetapi yang keluar dari dalam susunan sihir itu bukanlah sang Dryad, melainkan seorang wanita muda dengan mimik wajah yang tidak asing bagi Odo.
Kulitnya seputih salju, tampak sangat halus dan lembut layaknya seorang anak keci. Tubuh dibalut gaun Camisole berbahan tipis dan pendek, berwarna putih polos dengan tali singlet berwarna perak keemasan.
Lekuk tubuhnya tampak jelas di balik lekatan kain, terlihat sangat anggun meski terkesan seperti anak remaja dalam masa pertumbuhan. Layaknya bunga yang baru saja mekar pada musim semi, semerbak aroma harum pun tercium saat dirinya memasuki ruangan.
Rambut peraknya terurai lembut sampai pinggang, berkilau indah saat terkena paparan sinar lampu kristal. Sebagian diikat kepang tunggal ke depan dada, lalu pada sisi kanan kepalanya terdapat bunga Amarilis sebagai aksesoris tambahan.
Pada tangan kanannya yang kurus, wanita itu mengenakan sebuah gelang logam berwarna perak keemasan. Permukaannya memiliki pola struktur mistis dan huruf kuno, lalu berfungsi sebagai katalis untuk menyalurkan Mana dalam aktivasi sihir.
Mengayunkan telunjuk sekali, wanita muda tersebut menutup lingkaran sihir transmisi yang baru saja digunakan. Tanpa membuang waktu dirinya mengambil langkah dengan kaki tanpa alas, lalu lekas berjalan menghampiri Alyssum dan menghadap sang pemuda.
“Kau … siapa?” Odo samar-samar tahu siapa wanita itu. Namun, insting dan pikiran yang tidak selaras membuatnya tidak bisa memastikan hal tersebut. Sembari mengingat kembali perkataan Seliari saat berada di Alam Jiwa, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Kau wujud asli Leviathan?”
“Tepat sekali ….”
Jelmaan Pemusnah Peradaban itu melempar senyum tipis. Melangkah semakin ke depan dan berdiri di hadapan Odo Luke, wanita muda tersebut mendekatkan wajahnya dan menatap dari dekat.
Odo tampak bingung. Jika memang wanita muda tersebut adalah Leviathan, itu terlalu janggal karena dia tidak memiliki tanda-tanda seekor Naga pada tubuhnya.
Tanduk, sisik, ekor, ataupun sayap tidak ada pada wanita itu. Benar-benar mirip seperti manusia, namun memiliki aura sihir dan hawa kehadiran makhluk primal yang kuat.
“Kau benar-benar Leviathan⸻?”
Putri Naga mengangkat telunjuk, lalu meletakkannya ke mulut Odo dengan lembut. Sembari melempar senyum tipis, wanita muda itu pun menyampaikan, “Diriku tidak suka berbohong, begitu pula pria yang suka meragukan perempuan. Itu adalah kebenaran.”
Pikiran Odo langsung memproses dengan cepat, menyusun semua informasi yang ada dan mengambil berbagai macam spekulasi. Tetapi, dari semua kemungkinan yang ada hanya satu kesimpulan pasti.
Ingin memastikan hal tersebut, Odo melangkah mundur untuk menjaga jarak. “Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanyanya dengan ragu.
“Tolong jangan bermain denganku, ini penting.”
Odo semakin cemas. Karena keterbatasan akses informasi, ia tidak bisa melakukan kalkulasi lebih jauh dan tersendat. Merasa seperti diisolasi dari dunia luar karena berada di dalam Pohon Suci.
“Kenapa tidak coba keluar dan lihat sendiri?” Leviathan sedikit memalingkan pandangan. Sembari menunjuk lawan bicara, ia dengan nada menggoda kembali bertanya, “Engkau punya wewenang Pohon Suci, bukan?”
“Jangan bercanda denganku ….” Kesabaran Odo mulai habis, kening mengerut kencang dan tatapannya pun berubah tajam. Sembari menunjuk Alyssum yang masih berlutut, pemuda itu dengan suara tegas langsung memerintahkan, “Buka sihir transmisi sekarang juga! Keluarkan aku!”
Alyssum lantas tersentak, dalam hitungan detik kesadarannya ditekan oleh wewenang Pohon Suci milik Odo. Roh Kecil itu segera berdiri, lalu tubuhnya pun bergerak mengikuti perintah tersebut. Tanpa memedulikan kehendak untuk menolak ataupun membantah.
“Kejam sekali. Meski bukan anak kandung, Alyssum lahir darimu ….”
Leviathan mengayunkan tangan kanannya ke bawah. Layaknya memotong sebuah tali boneka yang tidak terlihat, jalur perintah yang Odo berikan seketika terputus. Membebaskan Alyssum dari pengaruh wewenang.
Rasa takut langsung menguasai Alyssum setelah terbebas. Tanpa pikir panjang dirinya langsung bersembunyi di balik Leviathan, seakan Roh Kecil itu memang sudah dekat dengan makhluk primal tersebut. Benar-benar memegang pakaiannya dengan erat, lalu mengintip pucat dari balik tubuhnya.
Melihat reaksi seperti itu, untuk sesaat Odo tertegun. Rasa bersalah memang muncul dalam benaknya. Namun, pikiran yang keruh membuatnya hanya menatap dingin tanpa rasa peduli. Layaknya penguasa kejam, orang jahat, lalu cerminan dari orang tua yang buruk.
“Begitu rupanya. Selama aku tertidur, sepertinya ada banyak hal yang telah terjadi ….” Odo berhenti menggunakan langkah paksa. Menghela napas ringan dan berjalan menuju meja tamu dalam ruangan tersebut, ia segera duduk di atas kursi rotan sembari kembali berkata, “Sepertinya kau memang berbeda dengan Seliari. Meski saudari, sifat kalian sama sekali tidak mirip.”
“Justru karena kembar, sifat kami harus saling mengisi satu sama lain.” Leviathan melempar senyum tipis, tampak sangat palsu dan hanya berupa topeng untuk memulai pembicaraan. Sembari menggandeng Alyssum dan berjalan mendekat, makhluk primal tersebut kembali berkata, “Kami berdua bagaikan langit dan laut. Meski bisa saling merefleksikan, secara mendasarkan kepribadian kami sangatlah berbeda.”
Odo tidak mengubah mimik wajah, tetap tenang seakan-akan telah memahami semuanya. Ia sepenuhnya berhenti bertanya, menekan, ataupun mendesak untuk keluar dari Pohon Suci. Benar-benar mau untuk diajak berbincang panjang lebar dengan makhluk primal tersebut.
Perubahan sikap yang sangat ekstrem itu membuat Leviathan berkeringat dingin. Merasakan hal tidak menyenangkan dari pemuda itu, lalu segara paham bahwa dia memang merupakan sosok singularitas hidup.
Merasakan hal yang hampir serupa, Alyssum semakin gemetar ketakutan. Ia segera menyembunyikan wajahnya di belakang Leviathan, sama sekali tidak mau menatap pemuda bernama Odo Luke tersebut.
“Jangan cemas ….” Sosok wanita muda itu mengelus kepala Alyssum, berusaha menenangkan layaknya seorang kakak perempuan. “Akan diriku usahakan pembicaraan ini berjalan lancar,” ujarnya seraya kembali menatap Odo Luke.
Tanpa berbicara lagi, Leviathan berjalan ke sisi lain meja kayu dan duduk berhadapan dengan sang pemuda. Sembari memangku Alyssum yang berbadan kecil, makhluk primal tersebut menatap tajam dan memancarkan aura permusuhan.
“Sebaiknya kita mulai dari mana? Bukankah ada sesuatu yang ingin engkau ketahui?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut Leviathan sebagai pembuka. Ingin mencari tahu pola pikir pemuda rambut hitam tersebut, lalu menguak rahasia yang sedang disembunyikannya.
Tetapi, Odo sama sekali tidak terpancing. Seakan telah membaca seluruh kondisi mental Leviathan, ia malah membalas dengan senyum ringan dan sedikit menertawakan.
“Konyol sekali ….” Pemuda itu mengangkat kaki kanan ke atas meja. Bertingkah layaknya orang tidak bermoral, lalu dengan suara tegas ia pun balik bertanya, “Yang ingin bertanya adalah kau, bukan? Karena itulah kau ingin bicara denganku!!”
“Diriku ingin bicara dengan engkau?” Leviathan mengelak. Tidak mengubak mimik wajah tenangnya, Putri Naga tersebut hanya melebarkan senyum palsu sembari berkata, “Tak perlu berkelit, bertanya bukanlah hal yang memalukan.”
“Itu tidak memalukan, namun ….” Odo bersandar pada tempat duduk. Sembari menyangga kepala dengan punggung tangan kanan, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas menyampaikan, “Hal tersebut bisa memperjelas posisi kita.”
“Posisi?” Leviathan sedikit menurunkan alisnya. Merasakan sindiran tersebut dengan sangat jelas, ia pun dengan mudah terpancing dan membalas, “Maksud engkau siapa yang sebenarnya dungu dalam pembicaraan ini? Atau siapa yang sebenarnya mendominasi?”
“Bukan ….” Odo langsung memasang wajah serius. Berhenti bersandar dan menurunkan kaki dari meja, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas berkata, “Memperjelas posisi kau itu musuhku atau bukan.”
__ADS_1
“Huh?” Leviathan sedikit tersentak.
“Apa kau lupa?” Odo mengangkat tangan kanannya, menunjuk lawan bicara dan sekali lagi menegaskan, “Beberapa waktu lalu aku bertarung matian-matian untuk mengalahkan kau! Meski sekarang kita melakukan pembicaraan seperti ini, fakta itu tidak berubah!”
Leviathan sedikit tersentak, lekas memalingkan pandangan dan tahu telah melewatkan hal penting sebelum memulai pembicaraan. Segera paham bahwa persepsi waktu Odo sedikit melenceng, Putri Naga tersebut kembali menatap lawan bicara untuk menyampaikan hal tersebut.
“Sepertinya ada kesalahpahaman. Diriku bukan musuh⸻”
“Sejak aku tidak sadarkan diri, sudah hampir satu minggu berlalu di Dunia Astral. Banyak hal yang telah terjadi, lalu salah satunya adalah kau dan Alyssum!” Odo menatap tegas. Memperlihatkan mimik wajah tergesa-gesa, pemuda itu lekas berdiri dan menunjuk murka lawan bicaranya sembari berkata, “Jangan buang waktuku lagi!!”
“Apa … itu ada kaitannya dengan alasan engkau ingin menaklukan diriku?” Leviathan ikut cemas mendengar perkataan tersebut, samar-samar paham bahwa waktu yang ada memang sangat terbatas. “Jika memang benar, mari kita bicarakan ini baik-baik supaya diriku yakin. Apakah memang engkau pantas dipercaya atau tidak,” ujarnya dengan nada sedikit gemetar.
“Sudah aku bilang, yang ingin bertanya itu kau, bukan?!” Odo menggebrak meja dengan keras, membuat Leviathan tersentak dan Alyssum pun berkaca-kaca seperti ingin menangis kencang. Tanpa memedulikan mereka, pemuda itu dengan lantang menyampaikan, “Aku tidak butuh kau, Leviathan! Yang diriku butuhkan hanya Sihir Khusus milikmu, Azure El Mar!”
Alyssum langsung memeluk Leviathan saat melihat mimik murka Odo Luke. Benar-benar ketakutan dan mulai menangis tersedu, tampak seperti anak kecil yang manja.
“Oh ….” Tatapan sang Putri Naga lekas berubah datar saat melihat sifat asli Odo. Sekilas memalingkan pandangan, ia dengan suara lirih berkata, “Persis seperti yang Ayunda sampaikan, kepribadiannya sangat buruk. Namun, paling setidaknya dia berkata jujur ….”
Mendengar perkataan itu dengan sangat jelas, kening Odo berkedut dan benar-benar merasa diremehkan. Menarik napas dalam-dalam dan kembali duduk, ia sejenak menenangkan diri dan berusaha ikut dalam pembicaraan yang ada.
“Baiklah, mari kita bicara. Jangan buang waktuku lagi.”
Mimik wajah Odo berubah dengan cepat, tampak tenang dan benar-benar menghapus jejak amarah yang sebelumnya terlihat jelas. Bahkan itu membuat bentakan lantang sebelumnya terlihat seperti hanya pura-pura belaka.
“Hmm?”
Leviathan kembali dibuat bingung karena perubahan emosi yang ekstrem tersebut. Ia semakin tidak mengerti pola pikir pemuda itu, lalu sepenuhnya dibuat tersesat dalam alur pembicaraan yang bahkan belum dimulai.
Layaknya seekor ikan yang terjerat perangkap nelayan, Leviathan sama sekali tidak menyadari niat asli pemuda itu. Ia tak lagi memedulikan rasa janggal yang ada dalam benak, lalu memutuskan untuk segera memulai pembicaraan.
“Kalau begitu, tolong jawab pertanyaan ini dulu.” Leviathan memeluk Alyssum dengan tangan kiri. Sembari menunjuk lawan bicara dengan tangan kanan, wanita muda tersebut lekas bertanya, “Sebenarnya apa yang ingin engkau lakukan? Untuk apa engkau membutuhkan kekuatan sebesar itu?”
“Membunuh sang Dewi,” jawab Odo ringkas. Ia tidak menjelaskan lebih dari itu, hanya memberikan tatapan serius seakan hal tersebut sudah mewakili seluruh niatnya.
“Dewi Penata Ulang?”
Leviathan tampak cemas, menangkap maksud Odo namun masih tidak bisa mempercayainya secara penuh. Segera menurunkan tangan, mimik wajahnya berubah sedikit pucat.
“Tentu saja.” Odo sejenak memejamkan mata. Menyatukan kedua telapak tangan ke atas pangkuan, sembari menunduk pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Meski dunia ini memiliki banyak Dewa, hanya dia yang ingin aku bunuh. Hanya dia ….”
“Untuk apa?” Leviathan kembali bertanya.
“Memperbaiki dunia ….” Odo kembali menatap lurus lawan bicara. Layaknya hal tersebut adalah tujuan yang wajar dan masuk akal, ia lanjut menyampaikan, “Segala sesuatu yang ada di bawah kekuasaan Helena adalah kesalahan, entah itu baik ataupun buruk. Seluruh semesta tidak boleh dikendalikan oleh entitas mana pun.”
“Semesta? Sebenarnya engkau siapa⸻?”
Sebelum Leviathan menyelesaikan perkataan, Odo Luke dengan tegas menyela, “Kau sudah bicara dengan Leviathan dengan mengakses Alam Jiwaku, bukan?”
Itu membuat Putri Naga mengeluarkan keringat dingin, paham bahwa rahasia akan berakhir percuma di hadapan pemuda itu. Sedikit menundukkan wajah dan berpikir sejenak, ia lekas mengambil keputusan.
“Boleh diriku ambil itu sebagai kesimpulan? Engkau ingin membunuh Dewi Penata Ulang dan memperbaiki dunia, karena itulah kekuatanku dibutuhkan.”
Meski Leviathan berkata seperti itu, Odo dengan jelas masih melihat keraguan dalam raut wajah sang Putri Naga. Paham tidak bisa sepenuhnya meyakinkan wanita itu, ia sejenak mendongak dan melihat langit-langit ruangan.
Memikirkan rencana lain untuk meyakinkannya secara penuh, lalu Odo pun kembali mempertimbangkan banyak hal tentang kondisi yang belum dirinya ketahui.
“Itu benar ….” Odo kembali menatap lawan bicara. Meski benaknya masih dipenuhi rasa cemas dan tergesa-gesa, mimik wajah pemuda rambut hitam tersebut tampak sangat tenang. “Itu memang tujuanku,” tambahnya seraya menyandarkan tubuh ke tempat duduk.
“Baiklah, ini pertanyaan selanjutnya ….” Leviathan perlahan memperlihatkan mimik wajah benci. Tidak ingin melewatkan pokok permasalahan utama, dengan nada menekan wanita muda tersebut bertanya, “Mengapa engkau punya hubungan dengan Raja Iblis Kuno? Terlebih lagi, mengapa aura menjijikkan itu samar-samar keluar dari tubuh engkau?”
“Ah ….” Odo paham bahwa pertanyaan itu pasti dilontarkan Leviathan. Tidak terlalu ingin membahasnya, dengan nada setengah hati ia pun menjawab, “Kau sudah membicarakan itu dengan Seliari, bukan? Seharusnya dia juga memberitahu kau jawabannya.”
“Engkau berasal dari Dunia Sebelumnya, jiwa yang disebut-sebut sebagai Ayahanda oleh bangsa Ibis. Sosok yang didambakan Dewi Penata Ulang, lalu entitas kunci untuk mengakses Awal Mula. Sosok penting bagi semesta ini.
“Itu terlalu berlebihan, tapi kurang lebih benar ….” Odo memalingkan pandangan, merasa diingatkan kembali dengan semua beban hidup yang sedang dipikul.
“Huh!” Leviathan mengendus kasar. Seakan tidak suka dengan hal-hal seperti itu, ia dengan nada kasar berkata, “Itu terdengar seperti engkau menjadikan semua persoalan itu sebagai tempat sembunyi!”
“Tempat sembunyi?” Odo melirik tajam, benar-benar tersinggung dan memancarkan rasa kesal dalam tatapannya.
“Itu benar!” Meski gemetar dan memeluk Alyssum semakin kencang, Leviathan tetap memperlihatkan mimik wajah meremehkan dan kembali berkata, “Itu terdengar seperti engkau seperti sedang lari! Menganggap diri sendiri sangat penting, lalu menyalahkan situasi yang ada karena kewajiban yang terasa bagaikan beban!”
“Memangnya kau tahu apa ….” Odo menundukkan wajah dan merenung. Tidak bisa sepenuhnya membantah perkataaan tersebut, ia sejenak kembali memejamkan mata dan membalas, “Meski aku tidak melakukan apa-apa, Dewi itu pasti akan melakukan sesuatu untuk menggerakan semua bonekanya. Ia ingin diorama yang telah ada tetap bergerak.”
“Diorama ….?”
Leviathan sedikit terkejut mendengar pemilihan kata tersebut. Meletakan tangan kanan ke depan mulut dan memikirkannya dalam-dalam, ia perlahan memahami kebenaran yang ada di balik tragedi Keluarga Naga Agung.
“Keluarga Naga Agung ⸻ Tepatnya, para makhluk primal seharusnya pernah merasakan kegilaan Dewi Penata Ulang itu ….” Odo menatap tajam lawan bicara. Memancarkan kebencian terhadap sosok yang sedang mereka bicarakan, pemuda rambu hitam tersebut dengan tegas menyampaikan, “Saat memilih boneka untuk dimainkan, ****** itu pasti akan melakukan apapun untuk menggerakkannya. Meskipun itu akan berakhir menjadi tragedi.”
“Engkau … tahu tentang pembantaian itu?”
Kedua mata Leviathan terbuka lebar. Meski telah berbicara panjang lebar dengan Seliari di Alam Jiwa milik Odo, hal seperti itu sama sekali tidak pernah disinggung. Karena itulah, raut wajahnya benar-benar terkejut saat pemuda itu memulai topik tersebut.
“Tragedi itu bukanlah salah bangsa Iblis ataupun Raja Iblis Kuno.”
Odo kembali mendongak, melihat langit-langit seakan sedang menatap ke arah kayangan. Rasa benci membakar benaknya dari dalam, layaknya api yang berkobar dengan tenang namun membakar seluruh jiwanya.
Sembari kembali menatap lawan bicara, pemuda rambut hitam tersebut dengan nada tegas menyampaikan, “Pelaku sesungguhnya adalah Helena, sosok yang disebut kalian sebagai Dewi Penata Ulang. Para pengikut Iblis, Raja Iblis Kuno, atau bahkan Dewa Iblis, mereka semua hanyalah boneka yang bermain dalam diorama sang Dewi.”
“Bisakah engkau ceritakan itu kepadaku?” tanya Leviathan penasaran.
“Tentu ….” Odo tersenyum ringan. Sembari memalingkan pandangan dan melirik, ia menambahkan, “Namun, bisakah aku pakai baju yang pantas dulu?”
“Ah ….”Leviathan baru sadar pemuda itu hanya mengenakan selembar kain serat untuk menutupi tubuhnya. Sembari ikut memalingkan pandangan, Putri Naga menawarkan, Mau diriku buatkan?”
“Tidak perlu,” tolak Odo. Setelah menghela napas, ia dengan ringan meminta, “Cukup pinjam kain atau papan untuk membuat akses dimensi penyimpanan. Di sana aku punya pakaian sendiri.”
__ADS_1