Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[98] Angelus III – Grey Duty (Part 05)


__ADS_3

 


 


 


Seorang bangsawan dengan gelar Knight, lahir sebagai anak sulung dari Tuan Tanah Wilayah Rein ⸻ Itulah diriku.


 


 


Thomas Rein dan Calista Rein, merekalah kedua orang tuaku yang tercinta.


 


 


Memberikan nama Arca kepada diriku, seakan ingin menanamkan sifat tegas sebagai pewaris Keluarga Bangsawan dengan gelar Count ini.


 


 


Sebuah doa sekaligus pegangan, terutama untuk diriku yang lahir di keluarga yang juga dikenal sebagai Timbangan Kerajaan Felixia.


 


 


Sejak masih kecil dan pertama kali bisa mengingat dengan jelas, sesuatu yang diberikan kepadaku adalah sebuah buku tentang pemerintahan.


 


 


Seorang guru yang tak dikenal duduk di hadapan, lalu membacakan materi tentang ilmu politik kepada diriku, anak yang pada saat itu masih berusia tiga tahun.


 


 


Tidak hanya satu atau dua kali, momen tersebut terus berulang sampai-sampai tertanam dalam kepala.


 


 


Materi yang dibaca berulang-ulang, menemani masa kecil dan membangun kepribadian anak bernama Arca Rein ini.


 


 


Awalnya itu memang menyenangkan. Mendengar hal-hal baru dan dibacakan sesuatu yang menarik, momen belajar tersebut bagiku terasa seperti sedang mendengarkan sebuah dongeng.


 


 


Memahami bahasa, dunia, dan mengenal berbagai macam hal baru. Layaknya anak kecil penuh rasa penasaran, diriku sangat menikmatinya.


 


 


Memang hal tersebut sangatlah tidak normal untuk mengajarkan anak kecil ilmu pemerintahan. Namun, bagiku semuanya tampak biasa layaknya sebuah sarapan yang telah tersaji di atas meja.


 


 


Namun, dongeng hanya menarik bagi bayi saja.


 


 


Ketika menginjak usia lima tahun, diriku perlahan merasakan bosan. Jenuh dengan semua materi yang disampaikan, lalu sepenuhnya menjadi apatis pada hal tersebut.


 


 


Saat semua rasa tersebut memuncak, untuk pertama kalinya diriku memutuskan untuk bolos dari kelas privat menyebalkan.


 


 


Ingin bertemu dengan Ayahanda dan Ibunda, lalu bermain bersama mereka. Sebuah perasaan yang dimiliki oleh seorang anak kecil pada umumnya.


 


 


Namun, apa yang diriku lihat saat itu membuat dada ini terasa sakit.


 


 


Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan, duduk pada meja masing-masing di ruang kerja. Mengurus tumpukan berkas, tampak lelah sampai-sampai kantung mata menghitam dengan jelas.


 


 


Sebagai seorang anak, tentu saja diriku tak ingin mereka terlihat seperti itu. Ingin meraih tangan Ayahanda dan Ibunda, lalu mengajak mereka jalan-jalan ke luar.


 


 


Bermain bersama layaknya sebuah novel yang pernah aku baca sebagai selingan belajar.


 


 


Tetapi⸻


 


 


Sebelum kaki ini melangkah masuk ke dalam ruangan, Ibunda memberikan tatapan hangat dengan senyum tipis. Tampak lelah dan tidak menyampaikan apa-apa dalam wajah pucat.


 


 


Pada saat itu, diriku tidak tahu memahami alasan yang membuatnya tetap bekerja meski sangat kelelahan. Rasa kesal muncul dalam benak, lalu membuatku memberanikan diri untuk masuk ke dalam.


 


 


“Kenapa Ayahanda dan Ibunda selalu bekerja?! Kalau lelah, istirahat saja! Hidup kalian bukan pekerjaan!”


 


 


Perkataan anak yang belum genap lima tahun tersebut membuat mereka terhenti. Ayahanda memberikan tatapan heran, sedangkan Ibunda hanya tertawa ringan.


 


 


Namun, mereka tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas. Hanya mengelak dan menyuruh diriku kembali ke kelas, belajar supaya bisa menjadi pewaris Keluarga Rein yang baik.


 


 


Dalam senyuman hangat mereka, diriku menyadari sesuatu yang aneh. Mereka terasa sangat senang melakukan pekerjaan melelahkan tersebut, meski harus bergadang dan menghabiskan waktu bersama tumpukan dokumen.


 


 


Entah apa yang merasuki diriku waktu itu. Tetapi, berkat momen tersebut diri ini tidak lagi merasakan jenuh selama belajar.


 


 


Membaca buku menjadi hal menyenangkan, sebab pengetahuan bukan hanya sekadar masuk ke dalam kepala.


 


 


“Ada yang harus aku capai! Aku belajar untuk itu!!”


 


 


Seakan meyakinkan diri sendiri, hal tersebut selalu mengisi benak. Meski waktu itu diriku tidak tahu dengan jelas tentang sesuatu yang ingin dicapai.


 


 


Ketika berusia tujuh tahun, diriku baru tahu punya tiga Ibu lain. Lebih tepatnya, Ayahanda ternyata punya istri-istri lain yang terikat dalam pernikahan politik.


 


 


Awalnya mereka tinggal pada Mansion yang terpisah dengan Kediaman Utama Keluarga Rein. Memiliki kediaman masing-masing yang dibangun oleh Kepala Keluarga, lalu diberikan kehidupan selayaknya wanita bangsawan.


 


 


Namun, entah mengapa mereka dipanggil ke Kediaman Utama setelah diriku beranjak dewasa. Untuk tinggal bersama sebagai satu keluarga.


 


 


Elisa, itulah nama istri kedua Kepala Keluarga Rein. Memiliki darah murni orang Kerajaan Felixia, namun berasal dari Wilayah Garados.


 


 


Wanita tersebut menikah dengan Ayahanda dalam perjanjian politik, untuk membuat relasi dengan Keluarga Adipati Agung. Menjadi sebuah jaminan untuk kedua kubu supaya tidak saling berkhianat.


 


 


Untuk istri ketiga Ayahanda, ia berasal dari Kerajaan Ungea. Memiliki nama khas Negeri Padang Pasir, Irwati.


 


 


Sejauh yang diriku ketahui, wanita tersebut adalah anak dari seorang selir dan Maharaja di negerinya. Melakukan pernikahan politik karena tradisi, untuk menjalin relasi dengan keluarga besar di luar Kerajaan asalnya.


 


 


Untuk istri yang terakhir, ia bernama Nedeshiko. Seorang wanita lemah dari seorang konglomerat Kekaisaran. Memiliki warna rambut hitam yang khas, lalu cenderung pendiam jika dibandingkan istri Ayahanda yang lain.


 


 


Mungkin ini terdengar seperti diriku besar kepala. Namun, wanita dari Kekaisaran tersebutlah yang memiliki pengaruh paling lemah di antara semua istri Kepala Keluarga Rein.


 

__ADS_1


 


Bahkan, diriku pernah mendengar rumor bahwa Ayahanda menikahinya karena rasa kasihan. Meski memiliki perjanjian di atas kertas dan dalam bentuk pernikahan politik.


 


 


Dari ketiga istri Ayahanda yang lain, hanya dua di antara mereka yang memiliki anak darinya. Jujur saja, hal tersebut cukup mengejutkan saat diriku tahu punya saudara juga.


 


 


Luther Rein, adik laki-laki yang lebih muda satu tahun dariku. Lahir dari rahim Istri Kedua Kepala Keluarga, Elisa.


 


 


Sedangkan untuk sang Bungsu, ia adalah anak perempuan bernama Yarma. Lahir dari Istri Ketiga Kepala Keluarga, lalu merupakan satu-satunya anak perempuan di Keluarga Rein ini.


 


 


Saat kedatangan mereka semua, jujur diriku sangat senang sampai tidak bisa berhenti tersenyum. Menatap penuh rasa bahagia, tidak sabar untuk bisa saling mengenal satu sama lain.


 


 


Namun, dalam satu hari rasa senang itu seketika hancur.


 


 


Mereka tinggal pada Mansion yang berbeda-beda bukan tanpa alasan.


 


 


Dalam sebuah novel yang pernah diriku baca, dikatakan bahwa tidak ada wanita yang senang saat membagi cinta dan kasih suami.


 


 


Bodohnya, diriku baru menyadari hal tersebut saat melihatnya secara langsung.


 


 


Ekspresi muram Ibunda, rasa tidak suka yang ditunjukkan oleh mereka, lalu tatapan canggung anak-anak yang harus aku panggil saudara.


 


 


Dipertemukan dalam satu ruangan, hal tersebut seketika memperjelas hubungan yang ada di antara istri-istri Kepala Keluarga Rein.


 


 


Busuk, menjijikkan, dan benar-benar membuatku muak. Hal yang memperkenalkan diriku dengan buruknya dunia politik bukanlah para bangsawan atau pedagang serakah, melainkan Keluarga Rein sendiri.


 


 


“Mereka adalah keluarga, pasti menyenangkan saat mereka datang! Tempat ini pasti ramai! Aku tak sabar melihat mereka!”


 


 


Mengingat diriku mengatakan itu kepada Ibunda sebelum mereka datang, rasanya sangat menjijikkan sampai-sampai aku ingin mencuci mulut dengan air selokan.


 


 


Jangankan kekeluargaan, sikap ramah untuk bisa saling mengenal saja tidak terpancar.


 


 


Hanya dipenuhi rasa dengki, memancarkan aura ingin saling menjatuhkan dan menunjukkan siapa yang lebih unggul.


 


 


Lalu, apa yang terjadi setelahnya tepat seperti dugaanku.


 


 


Mereka ⸻ Lebih tepatnya Elisa dan Irwati benar-benar berniat menjatuhkan Ibunda dari status istri kesayangan Kepala Keluarga Rein.


 


 


Menggunjing di belakang, merebut waktu Ayahanda, lalu melakukan hal-hal buruk untuk mengambil alih Mansion.


 


 


Awalnya diriku tidak peduli. Tindakan mereka sangat tidak penting di mataku. Tetapi saat melihat Ibunda lambat-laun memperlihatkan ekspresi sedih, kesabaranku pun habis.


 


 


 


 


Saat pion telah berada di posisi masing-masing, sebuah intimidasi dilancarkan untuk mempertegas siapa yang lebih unggul. Itulah gaya yang diriku pakai saat menghadapi orang-orang seperti mereka.


 


 


Dalam sebuah perang, mengincar pasukan yang paling lemah adalah strategi dasar. Sebab itulah yang pertama kali menjadi sasaran adalah Irwati, Istri Ketiga Kepala Keluarga Rein.


 


 


Memanfaatkan posisi sebagai seorang anak kecil, aku berusaha mendekatinya.


 


 


Namun, tentu saja wanita itu tidak memperlihatkan celah dengan mudah. Mengambil rute yang berbeda, aku beralih mengincar anaknya.


 


 


Yarma Rein, anak perempuan yang lebih muda dua tahun dariku.


 


 


Layaknya seorang kakak yang baik, aku mendekatinya. Untuk mendapatkan kepercayaan dan mulai memanipulasinya untuk mencari informasi dari Irwati.


 


 


Hal tersebut tidak butuh waktu lama. Bagi anak perempuan yang tidak diperhatikan oleh kedua orang tua, mendapatkan kepercayaan sangatlah mudah.


 


 


Hanya dengan bermain bersama, mengobrol, lalu bercanda layaknya kakak-adik, aku bisa dengan mudah masuk ke dalam hari Yarma. Meletakkan anak perempuan itu ke dalam genggaman tanganku.


 


 


Memanfaatkan kepercayaan yang telah didapat, aku menggunakan anak perempuan itu untuk menguak kelemahan Irwati. Mencari tahu tujuan sebenarnya wanita itu, lalu alasan di balik tindakannya ingin menjatuhkan Ibunda.


 


 


Meski cukup lama, namun setelah waktu tiga bulan aku berhasil mendapatkan kelemahannya.


 


 


Aku tanpa sengaja mendapat surat tersebut dari Yarma. Sebuah surat rahasia dari Kerajaan Ungea, berasal dari pemerintah pusat Negeri Padang Pasir.


 


 


Menjadi mata-mata dan membocorkan semua informasi Keluarga Rein, itulah salah satu alasan wanita itu rela melakukan pernikahan politik.


 


 


Namun, tentu saja informasi tersebut tidak cukup untuk menyudutkan Irwati.


 


 


Memiliki gambaran jelas tentang kelemahan lawan, diriku mulai mencari tahu seluruh rahasia yang disembunyikan olehnya.


 


 


Dalam waktu dua bulan selanjutnya, fakta mengejutkan didapat.


 


 


Awalnya aku mengira Irwati adalah mata-mata dengan loyalitas kuat. Namun, ternyata ia benar-benar seorang anak selir yang tidak dipandang oleh Maharaja Kerajaan Ungea.


 


 


Wanita itu hanyalah anak kacung yang dipaksa menikah untuk dijadikan mata-mata. Tak lebih dari itu dan sama sekali tidak ada loyalitas di dalamnya.


 


 


Pada sebuah petang setelah makan malam, aku mendatangi kamar wanita itu. Untuk melakukan penyerangan sekaligus sekakmat.


 


 


Mengancam, mengintimidasi, dan mengumbar semua rahasia lawan tanpa ragu. Ketika rahasia seseorang dibongkar dengan cepat, ia tidak akan sempat menyembunyikan ekspresi atau menyusun kebohongan.


 

__ADS_1


 


Itu pertama kalinya aku membentak seseorang, memaki, dan tertawa terbahak-bahak layaknya orang gila.


 


 


Sebuah kebebasan benar-benar yang terasa memuaskan saat menyudutkan Irwati.


 


 


Ketika melihatnya gagal mengelak dan jatuh ke dalam situasi yang lebih buruk, itu benar-benar menyenangkan. Sampai-sampai perutku terasa lemas dan sekujur tubuh gemetar kegirangan.


 


 


“Dasar buangan! Kau tidak ada bedanya dengan pelacur! Menjual tubuh untuk bisa bertahan hidup, bukan untuk mendapatkan sesuatu!!”


 


 


Aku sendiri tidak mengira akan bisa mengatakan hal kasar seperti itu. Namun, entah mengapa hal tersebut benar-benar menyenangkan.


 


 


Usahaku selama berbulan-bulan terasa terbalas, dalam bentuk kemenangan mutlak di mana Irwati tidak bisa berkutik. Hanya bisa pasrah dengan nasibnya setelah ketahuan.


 


 


Namun, tentu saja aku tidak akan menyingkirkannya begitu saja. Dalam politik, jumlah memberikan keuntungan. Meski itu hanya sebatas rekan yang didapat dari tekanan.


 


 


Memegang rahasia wanita itu, aku mengancamnya. Membuatnya tunduk, lalu memberikannya tawaran untuk tetap mempertahankan statusnya. Tentu saja hanya sebatas Istri Kepala Keluarga Rein.


 


 


Dengan kata lain, Irwati harus memutus hubungan dengan pemerintah Kerajaan Ungea yang secara rutin meminta laporan.


 


 


Jika diputus secara tiba-tiba tentu saja itu akan memunculkan kecurigaan, memberikan tampak besar bagi Keluarga Irwati di negeri alasannya.


 


 


Sebab itulah aku memerintahkan wanita itu untuk memberikan laporan palsu, dicampur dengan sedikit kebenaran untuk membuatnya terlihat nyata.


 


 


Jika ketahuan laporan memiliki kesalahan, Irwati bisa mengelak bahwa ia hanya mengetahui hal tersebut.


 


 


Berkata kepada pemerintah Kerajaan Ungea bahwa dirinya hanya tahu informasi palsu tersebut, sehingga tidak dicap sebagai pengkhianat.


 


 


Setelah menundukkan Istri Kedua Ayahanda, aku lanjut menyerang Elisa. Dengan metode yang sama, namun dalam proses yang berbeda.


 


 


Mengumpulkan informasi, menyusun pion-pion, lalu setelah mendapatkan keunggulan aku berniat langsung menyerangnya secara habis-habisan.


 


 


Jujur, itu cukup mengejutkan karena ternyata Elisa lebih lengah dari yang diriku duga. Hanya dalam waktu satu bulan, aku mengetahui beberapa rahasia vital wanita itu.


 


 


Sebagai pasak, itulah tugas Elisa menikah dengan Kelapa Keluarga Rein. Mengikat Ayahanda supaya tidak melakukan pergerakan berlebihan untuk mengekang Wilayah Garados.


 


 


Namun, justru karena itulah aku bingung harus melakukan apa untuk mengekang wanita sialan itu.


 


 


Berbeda dengan Irwati yang selalu mencari informasi penting Wilayah Rein, Elisa setiap hari hanya menggoda Kepala Keluarga dan membuat Ibunda geram.


 


 


Selama satu tahun penuh, apa yang bisa diriku lakukan hanya mengganggu Elisa. Menghalangi jalang itu supaya tidak dekat dengan Ayahanda, lalu sesekali membuatnya kesusahan untuk membuat kesabarannya habis dan membuat kesalahan.


 


 


Sekali lagi aku salah paham dengan wanita tersebut. Awalnya aku kira adalah orang yang tenang, berpikiran dingin, dan pandai mengatur emosi.


 


 


Tetapi, hal tersebut sangatlah berlawanan.


 


 


Dalam kurung waktu kurang dari satu tahun, Elisa kehilangan kesabaran. Dengan jelas dan sangat pasti, perhatiannya beralih kepadaku dan bersungguh-sungguh memperlihatkan gelagat ingin menyingkirkan.


 


 


Menyadari hal tersebut, diriku pun sengaja terus membuka ruang untuk diserang. Bersabar wanita itu membuat kesalahan, menunggu momen untuk menyerang balik.


 


 


Namun, sayangnya Elisa adalah wanita pengecut. Ia sama sekali tidak melakukan pergerakan meski diriku sering memancingnya.


 


 


Setelah berusia sembilan tahun, untuk pertama kalinya aku diperbolehkan pergi ke luar Kediaman untuk mengenal negeri tempatku tinggal.


 


 


Membawa uang sendiri, lalu mengolahnya untuk berkenalan dengan sesuatu yang namanya perekonomian.


 


 


Aku diberikan beberapa orang sebagai bawahan, lalu juga dipercayakan modal dalam jumlah yang tidak sedikit.


 


 


Pada waktu itu, aku untuk pertama kalinya mendapatkan tugas penting dari Ayahanda. Untuk mengetes kelayakan dan kemampuan sebagai pewaris Keluarga Rein.


 


 


Secara garis besar tugas tersebut sederhana, yaitu menjual barang dagangan dan harus mendapatkan keuntungan dua kali lipat dari modal yang diberikan di awal.


 


 


Selama pergi dari kediaman dan melaksanakan tugas tersebut, diriku mengenal berbagai macam hal baru, memahami masyarakat, dan melihat cara kerja pemerintahan secara langsung.


 


 


Jujur aku sangat bersyukur saat melihat dunia luar tampak lebih busuk, merasa lega setelah tahu Keluarga Rein tidaklah seburuk yang aku pikiran.


 


 


Menjadi pedagang, berkeliling menjual barang, lalu membangun relasi dan pada akhirnya bisa membeli sebuah tempat usaha.


 


 


Entah itu menggunakan nama sendiri ataupun pengaruh Keluarga Rein, melakukan semua itu cukup menyenangkan. Jujur saja aku menikmatinya.


 


 


Namun, tentu saja masalah selalu menghampiri ketika aku baru saja bisa menikmati sesuatu. Pedagang yang iri, lalu membuat gerakan dan mengirimkan pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawaku.


 


 


Sungguh, waktu itu aku benar-benar meremehkan para pedagang. Mengira mereka tidak akan berani melakukan tindakan frontal itu, lalu berpikiran naif dan pura-pura tidak tahu.


 


 


Pada sebuah malam, tiba-tiba toko milikku di serang oleh sekelompok pembunuh bayaran.


 


 


Orang-orang ku dibunuh, bahkan prajurit yang menemani diriku sejak awal membuka usaha pun dihabisi.


 


 


Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar takut mati. Menyesal karena lemah, muak karena tidak bisa apa-apa. Meringkuk di kamar saat suara jeritan orang-orang menggema di antara malam, tanpa tahu apa yang harus dilakukan.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2