Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[95] Dekadensi Kota Rockfield XII – Hal yang tidak diketahui (Part 04)


__ADS_3

[Peringatan : Konten Implisit]


 


 


 


 


 


 


Angin berhembus bersama kabut di pagi hari yang baru. Membawakan udara dingin dan lembap, menghiasi lumut dan permukaan jalan dengan embun. Awan mendung menjadi yang pertama kali menyapa sang matahari, menghalangi sinarnya dan menutupi kota dengan warna kelabu.


 


 


Memiliki suasana yang sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya, Teritorial Rockfield diisi kesibukan sejak kemarin sore tepat setelah duel penentuan berakhir. Perubahan struktur, persiapan pemberian gelar Knight yang sempat ditangguhkan, dan perombakan hal-hal lain dalam aspek pemerintahan. Semua pejabat sibuk mengurus hal-hal tersebut, sampai-sampai ada beberapa yang kerja lembur dari kemarin.


 


 


Meski duel hanya memberikan satu hasil pasti berupa pengembalian gelar Knight kepada Keluarga Quidra, namun dampak yang muncul setelahnya sangatlah besar. Pengaruh orang-orang di kota seketika berbalik, berpindah dari kubu Pejabat Baru ke Pejabat Lama.


 


 


Saat hari semakin siang, pelaksanaan upacara pemberian gelar Knight dilaksanakan pada waktu yang sama seperti duel kemarin. Tepat di lapangan barak. Individu yang mewarisi gelar dari mendiang Kepala Prajurit terdahulu adalah Racine, anak kedua dari Keluarga Quidra.


 


 


Dalam upacara tersebut, beberapa pejabat penting dan juga Imam Kota menghadiri sebagai saksi pelantikan secara resmi dalam prosedur Kerajaan Felixia. Digelar dengan cara yang terbilang sederhana, lalu perkamen untuk bukti pengesahan ditandatangani oleh orang-orang terkait.


 


 


Walikota Rockfield, Oma Stein.


 


 


Anak Kedua Keluarga Quidra, Racine.


 


 


Imam Kota, Magdala Soream.


 


 


Disaksikan oleh beberapa pejabat dari kedua kubu, pengesahan berlangsung dan secara resmi Keluarga Quidra kembali menjadi Bangsawan dengan gelar Knight. Diberikan wewenang dalam ranah administrasi militer, menggantikan Runia yang sebelumnya sempat mengurus hal tersebut.


 


 


Setelah pelantikan jabatan selesai pada siang hari, hal tersebut dilanjutkan dengan sebuah pesta kecil yang diadakan pada aula barak. Mengundang beberapa orang dari pihak militer dan pejabat administrasi, bertujuan untuk mempererat relasi Keluarga Quidra dengan orang-orang yang akan bekerja dengan mereka.


 


 


Ferytan Loi dan Lily’ami juga menghadiri pesta tersebut. Ditemani oleh Rosaria sebagai pendamping mereka, untuk pertama kalinya pria yang telah memenangkan duel itu bertemu dengan Keluarga Quidra. Memberikan salam kepada Mitranda, lalu membungkuk hormat kepada Racine yang sekarang ini akan menjadi Tuannya.


 


 


Di antara mereka yang mengenakan pakaian pesta, memang dengan jelas ada beberapa yang memperlihatkan mimik wajah tidak suka. Rasa tidak terima atas kekalahan kubu Pejabat Baru, iri, dengki, bahkan muak saat melihat orang dari pojok pelacuran berada di ruangan yang sama dengan mereka.


 


 


Itu memang cukup berat, terutama untuk Racine saat mendengar ujaran kebencian mereka secara langsung. Namun untuk Mitranda, hal seperti itu layaknya sebuah sarapan. Selama dirinya membantu mendiang suami dulu, mendengarkan ucapan seperti itu dari para pejabat adalah hal biasa. Karena itulah, sang Ibu hanya bisa berkata kepada Putrinya tersebut untuk tegar menghadapi ucapan orang-orang seperti itu.


 


 


Di sisi lain, Ferytan Loi malah mendapatkan kesan yang sangat berbeda dengan Tuan yang dirinya layani. Menakutkan, tidak boleh diganggu, dan harus dihormati. Layaknya orang-orang lemah dan pengecut, para pejabat yang tidak suka dengan Keluarga Quidra paham bahwa pria tua tersebut adalah individu yang tak boleh diganggu.


 


 


Keganasan pria tersebut selama duel membekas di mata penonton. Bagi mereka yang tidak pernah melihat pertarungan mematikan seperti itu, selain rasa kagum tentu ketakutan pun menjadi hal yang tertanam dalam diri orang-orang seperti mereka.


 


 


Ketika hari semakin sore, pesta yang diadakan untuk orang-orang penting di Kota Rockfield menuju penghujung. Pidato dari sang Walikota digunakan sebagai penutup acara tersebut, menyampaikan bahwa dirinya berjanji tidak akan melakukan penekanan terhadap kubu Pejabat Baru dan meminta semua orang untuk bekerja sama demi Rockfield.


 


 


Pada penutupan tersebut, Oma Stein juga menyampaikan potensi perang yang semakin dekat. Memberitahukan informasi yang dirinya dapat dari Jonatan Quilta, tentang rencana Raja Gaiel untuk menjadikan Rockfield sebagai tembok pertahanan pertama dalam menahan serangan Kekaisaran.


 


 


Meski Oma sendiri paham bahwa ada potensi informasi tersebut bisa saja bocor ke kubu musuh, pria tua itu tetap menyampaikannya. Menilai bahwa dalam mempersiapkan kekuatan militer, hal terbuka seperti itu diperlukan untuk mendapatkan kepercayaan dari banyak orang.


 


 


Dalam penutupan tersebut, sang Walikota juga menyampaikan beberapa rencana kerja sama perdagangan untuk mengatasi masalah perekonomian kota dan suplai peperangan. Pada rencana-rencana kerja sama perdagangan yang akan dibentuk, ia juga menyebutkan tuntutan Odo Luke terkait tawaran yang akan datang dari orang-orang Mylta.


 


 


Berkat momentum pidato yang telah dibuat terlebih dahulu, sebagai besar pejabat memperlihatkan reaksi setuju terkait kerja sama dalam bidang perekonomian itu. Mereka berharap Rockfield kembali ke masa kejayaan, lalu bersinar lagi sebagai kota tambang dan tempat berbudaya.


 


 


Selama pesta tersebut berlangsung, Jonatan Quilta hanya menghadiri sampai pertengahan karena belum pulih sepenuhnya. Bersama dengan Ruina Trytalin, sang Prajurit Elite meninggalkan aula untuk pergi ke ruang perawatan.


 


 


Meski begitu, hal tersebut bukan berarti membuat sang Jonatan tidak mengetahui apa saja yang disampaikan oleh Oma selama pidato. Kemarin saat masih di ruang perawatan, setelah pembicaraan dengan Odo Luke selesai, mereka juga melakukan pembicaraan. Membahas rencana untuk menyatukan kedua kubu dalam tujuan yang selaras, lalu membuat momentum untuk meningkatkan kualitas militer dan moral yang ada di antara pejabat serta prajurit.


 


 


Pesta penutupan sendiri adalah saran dari Jonatan. Berpikir bahwa nama baik perlu diangkat kembali oleh Keluarga Quidra, ia menyarankan untuk membuat sang penerima gelar Knight bersosialisasi dengan para pejabat yang ada.


 


 


Dalam rencana tersebut, hampir semuanya berjalan lancar sesuai skenario yang dibuat oleh Oma dan Jonatan. Kecuali satu hal terkait Odo Luke.


 


 


Awalnya kedua pria tersebut ingin menggunakan nama Putra Tunggal Keluarga Luke untuk benar-benar menyatukan kedua kubu. Menjadikannya sebagai pasak tunggal bagi Rockfield sampai selesai mempersiapkan kekuatan militer.


 


 


Namun seakan telah mengetahui rencana tersebut dan tidak ingin terlibat dalam konspirasi mereka, Odo Luke menolak untuk menghadiri acara pelantikan dan pesta tersebut. Memilih untuk berdiam diri di Mansion Keluarga Stein, dengan alasan ada sesuatu yang ingin dibahas dengan orang-orangnya sendiri.


 


 


Karena hal tersebut, secara otomatis kedua kubu tidak bisa diselaraskan secara menyeluruh. Masih timbul perbedaan pendapat, lalu membuat perencanaan sedikit terhambat. Memikirkan antisipasi untuk hal itu, Oma Stein menggunakan Ferytan sebagai pengganti.


 


 


Mengajak pria yang telah memenangkan duel tersebut ke depan semua orang, Oma memperkenalkannya dan berkata bahwa Ferytan telah menjadi kekuatan militer kota Rockfield. Untuk meyakinkan seluruh pejabat kota secara kesatuan, memberitahu bahwa diri mereka kuat dan pasti bisa memenangkan peperangan yang akan segera datang.


 


 


Hasilnya, perlahan para pejabat tersebut mulai setuju dengan visi Oma Stein untuk Rockfield.


 

__ADS_1


 


Saat hari semakin sore, pesta ditutup dan setiap orang kembali ke tempat mereka masing-masing. Ada yang pulang ke rumah, pergi ke kantor, atau bahkan memilih untuk mampir sejenak ke tempat rekan kerja untuk membahas kembali topik selama acara.


 


 


Apapun hal yang terjadi pada pesta tersebut, dengan jelas sebuah perubahan mulai bergerak dan keputusan telah dibuat untuk menuju arah yang lebih baik.


 


 


Visi yang dibawakan oleh Oma Stein menjadi pemenang dalam konflik yang telah berlalu. Secara tidak langsung, hal tersebut menjadikan pria tua itu sebagai orang paling penting di Rockfield.


 


 


Namun, pada saat yang sama ia bukanlah orang paling berkuasa di tempat tersebut. Sebab Oma sendiri bertekad ingin menggunakan cara memimpin yang berbeda dari sebelumnya, demi menebus kesalahan yang pernah dirinya lakukan di masa lalu.


.


.


.


.


Pada tempat lain, jauh dari urusan politik para pria yang mementingkan golongan dan kepentingan mereka masing-masing.


 


 


Kediaman Keluarga Stein. Di dalam kamar sang Nyonya Rumah, Odo Luke duduk di pinggiran tempat tidur sembari menatap ke arah Agathe. Wanita rambut biru pudar yang duduk pada meja hias, menghadap ke cermin yang memantulkan wajah sedih.


 


 


Seharusnya hari ini adalah momen yang menggembirakan bagi Keluarga Stein. Namun seakan tidak ingin menikmati kebahagiaan itu, wanita tersebut malah mengenakan gaun berwarna hitam pekat. Seakan-akan dirinya sedang berkabung, mengekspresikan isi hati dengan pakaian yang dikenakan.


 


 


Gaun tanpa bahu dengan lipatan-lipatan pada bagian atas, tampak longgar dan hanya dikencangkan menggunakan pita ungu pada bagian di sekitar dada. Bibir wanita tersebut dipoles lipstik ungu gelap dari ekstrak bunga lonceng, lalu kulit berlapis bedak yang terbuat dari zat kapur dan bubuk almond.


 


 


Ia mengenakan sarung tangan berenda hitam, panjang sampai melebihi siku dan tampak serasi dengan gaun yang dikenakan. Pada kepalanya, wanita rambu biru pudar tersebut memakai tudung layaknya seorang pengantin. Bertitah hiasan bunga raya warna putih, tampak sudah sedikit layu dan berubah kecokelatan.


 


 


Meski memperlihatkan rupa yang cantik dan begitu menawan, riasan tersebut benar-benar menunjukkan kesedihan. Mata hijau zamrud wanita tersebut tampak sayu, dengan wajah muram hanya menatap refleksi dirinya sendiri pada cermin.


 


 


Ruangan dengan arsitektur dan dekorasi barok tidak membuat suasana menjadi lebih baik. Gorden tertutup rapat bersama pintu, lampu-lampu kristal hanya dinyalakan sebagian dan membuat suasana remang-remang terasa sedikit kuat.


 


 


Layaknya dekorasi yang ada di berbagai sudut Mansion, kamar tersebut juga memiliki hiasan beberapa batu kuarsa di dinding. Dipajang bersama lukisan pemandangan, namun tidak ada satu pun lukisan keluarga yang dipasang.


 


 


“Anda pembohong ….”


 


 


Hal tersebut terucap pelan dari mulut Agathe. Tanpa menatap sang pemuda yang hanya duduk di pinggiran tempat tidur, wanita rambut biru pudar tersebut mengutarakan isi hatinya. Sebuah perasaan kesal yang membuat dirinya tidak keluar dari kamar selama beberapa hari terakhir.


 


 


“Meskipun Oma Stein sudah berubah, Nyonya tetap ingin dia mati?”


 


 


 


 


Namun, tetap saja hal tersebut terasa tidak menyenangkan baginya. Putra Tunggal Keluarga Luke paham bahwa itu sangat bertentangan. Karena itulah, ia memilih untuk melakukan pembicaraan dan ingin mendapatkan jawaban. Supaya bisa mengambil pilihan yang tepat.


 


 


“Bukankah saya saat itu telah menyampaikan hal tersebut? Saya berharap Oma Stein mati. Kehancuran keluarga ini adalah sesuatu yang saya dambakan ….” Agathe bangun dari depan meja rias. Berjalan anggun menuju Odo dan berdiri di hadapannya, wanita rambut biru pudar tersebut menatap sedih dan berkata, “Lalu …, kenapa Tuan Odo melakukan hal seperti ini? Kenapa Anda malah memperbaiki Keluarga Stein dan menyembuhkan Oma? Kenapa …?”


 


 


Suara tersebut penuh dengan penderitaan, Odo sangat memahaminya dengan baik. Tidak segera menjawab dan hanya balik menatap, Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan melebarkan senyum hampa. Begitu kosong dengan tatapan mata yang seakan tidak memberikan rasa hangat sama sekali.


 


 


“Mungkin ini terdengar seperti aku sok tahu dengan masalah Anda. Namun, saat seseorang jatuh cinta, ia akan mulai merusak diri sendiri.”


 


 


Itu sontak membuat Agathe tertegun. Berubah menjadi kesal dalam dirinya, hal tersebut mulai tampak pada wajah dan dengan ketus berkata, “Maksud Anda …, saya mengharapkan hal seperti itu karena cinta dengan Oma? Pria menjijikkan sepertinya?! Yang benar saja!!”


 


 


“Bukan ....” Odo sejenak memejamkan mata. Memasang mimik wajah sedikit muram, ia dengan jelas menyampaikan, “Anda sangat benci dengan Tuan Oma, saya memahami hal tersebut. Cinta yang saya maksud adalah kepada anak-anak Nyonya. Anda hanya tidak tahu cara mengekspresikan hal tersebut. Karena itulah …, Nyonya menganggap apa yang membuat diri sendiri senang, itu juga akan membahagiakan anak-anak.”


 


 


“Bicarakan seolah-olah tahu segalanya lagi.” Agathe menggertakkan gigi, semakin kesal dan muak mendengar semua perkataan Odo. Membuat kening mengerut jelas, dengan niat menghina wanita rambut biru pudar tersebut berkata, “Tuan Odo bahkan belum pernah punya anak! Bagaimana biasa Anda memahaminya?! Anda hanya bocah yang tak tahu perasaan seperti ini!”


 


 


Odo perlahan membuka kedua kelopak mata, menatap lurus lawan bicara dengan mata biru yang seakan menyala di dalam ruang remang. Perlahan melebarkan senyum hampa, ia dalam suara jelas memastikan, “Anda yakin ingin menghancurkan semuanya?”


 


 


“Memangnya Anda bisa apa kali ini?! Setelah Oma sembuh dan Keluarga Stein mendapatkan kembali pengaruhnya di Rockfield, memangnya Anda bisa melakukan apa? Atau Anda ingin memanfaatkan saya lagi?!”


 


 


Keraguan dan kecurigaan tersebut adalah reaksi yang wajar, terutama atas semua hal yang telah terjadi. Apa pun itu, hasil yang keluar memang seakan membuat Odo mengkhianati kepercayaan Agathe. Meski pemuda rambut hitam tersebut pernah berjanji akan menghancurkan Keluarga Stein.


 


 


“Saya bisa melakukan ini ….”


 


 


Odo mengulurkan tangan ke arah wanita rambut biru pudar tersebut, lalu menarik tangan dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur. Tidak membiarkan sang Nyonya Rumah bangun atau melawan, pemuda itu langsung menindih dan menahan kedua tangannya.


 


 


Meski diperlakukan seperti itu, Agathe sama sekali tidak bergeming. Tidak takut diperkosa atau dilecehkan, hanya memperlihatkan tatapan dingin tanpa gemetar sedikitpun.


 


 


“Apa yang Tuan Odo lakukan? Apa sekarang Anda ingin mengancam saya dengan hal seperti ini?


 


 


Odo menggelengkan kepala. Tanpa menjelaskan apa-apa, pemuda rambut hitam tersebut perlahan menurunkan gaun yang dikenakan Agathe. Membuat dada yang sudah sedikit kendur terekspos, lalu kulit mulus dengan jelas terasa oleh tangan. Meski usianya sudah hampir menginjak kepala lima, wanita rambut biru pudar tersebut masih sangat memancarkan aura muda layaknya perawan.

__ADS_1


 


 


Tanpa satu pun kalimat keluar dari mulut, Putra Tunggal Keluarga Luke mulai menjamah tubuh wanita yang telah bersuami tersebut. Tanpa ragu, enggan, ataupun rasa bersalah. Layaknya binatang kelaparan yang disodorkan daging segar, ia perahan menyantap sang wanita.


 


 


Pembuka adalah sebuah ciuman panas di leher, lalu tangan perlahan merambat ke bawah gaun dan mulai menyentuh tempat kehormatan sang wanita. Pada saat itulah, Agathe mulai gemetar dan merasakan takut saat tubuhnya disentuh oleh seorang lelaki. Meski seharusnya ia telah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh pria yang tidak dirinya cintai.


 


 


Mendekatkan mulut ke telinga sang wanita, Odo dengan suara lembut berbisik, “Rileks saja, tak perlu tegang. Nyonya belum pernah merasakan kenikmatan yang sesungguhnya, bukan? Saat berhubungan badan denganku, Anda pasti akan ketagihan ….”


 


 


“He-Hentikan ….”


 


 


Agathe mulai meronta, berusaha menyingkirkan Odo dari atas tubuhnya dengan mendorong. Namun, tentu saja perbedaan fisik membuat hal tersebut percuma.


 


 


Seakan tidak memedulikan perlawanan sang Nyonya Rumah, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung mencium bibirnya. Membungkam Agathe sebelum bisa berteriak, lalu perlahan memasukan lidah dan membuat air liur mengalir ke dalam mulut wanita tersebut.


 


 


Lidah bergerak di dalam, saling melilit dan membuat air liur yang bercampur sedikit tumpah keluar. Membasahi gaun sang wanita dan membuat sebuah benang tipis saat menetes.


 


 


Saat berhenti berciuman, air liur membentuk benang tipis yang saling menghubungkan mulut. Membuat wajah Agathe merona saat menatap langsung mata Odo. Layaknya sedang didesak oleh hasrat yang tidak dirinya ketahui, rasa sesak muncul dalam dada.


 


 


Afrodisiak ⸻ Itulah zat yang tercampur bersama air liur Putra Tunggal Keluarga Luke. Masuk ke dalam mulut Agathe selama berciuman, lalu membuat hasrat sang wanita bangkit dan membuat napasnya terengah-engah. Berusaha menahan berahi yang mulai bangkit, namun tak bisa dan akhirnya tenggelam dalam hasrat tersebut.


 


 


Tanpa dirinya sadari, seakan sedang dikendalikan Agathe mulai menginginkan sang pemuda. Tidak memedulikan harga diri ataupun semua rasa kesal yang sebelumnya terasa, ia melingkarkan kedua lengan ke belakang leher Odo dan mulai memeluknya.


 


 


Kembali mencium atas kehendaknya sendiri, memasukan lidah dan menjatuhkan harga diri ke dalam hasrat. Menghancurkan diri sendiri dengan nafsu yang sepenuhnya menguasai. Tanpa bisa berpikir dengan jernih.


 


 


Saat ciuman kedua berakhir, bekas lipstik ungu membekas di bibir Odo. Pemuda rambut hitam tersebut menatap sayu, perlahan melebarkan senyum dan berkata, “Sepertinya Nyonya sudah tidak keberatan. Agathe …, apa ini pertama kalinya kau merasakan hal seperti ini dengan layak? Sebuah kenikmatan saat berhubungan dengan pria.”


 


 


Perkataan tersebut membuat Agathe tersentak. Ingin membantah dan tetap kukuh, namun hasrat lebih dominan dan membuatnya hanya memalingkan wajah dalam diam. Pasrah dengan keadaan, tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Wanita rambut biru pudar tersebut mulai merentangkan kedua tangan ke samping seakan-akan ingin mengajak.


 


 


Namun sebelum momen tersebut bergerak ke tahap yang lebih dalam, tiba-tiba suara engsel terdengar. Pintu terbuka tanpa diketuk terlebih dulu, lalu dari sana Ri’aima menatap ke dalam kamar dengan wajah terperangah.


 


 


Kedua mata terbuka lebar, suara tidak bisa keluar, dan kaki pun tidak bisa bergerak. Hanya membantu di tempat, dalam perasaan yang bercampur aduk dan pada akhirnya air mata sedikit mengalir membasahi pipi.


 


 


“Ah, ternyata yang datang Ri’aima. Berarti suamimu itu benar-benar sangat mementingkan pekerjaan. Sayang sekali Tuan Oma malah mampir ke kantornya sebelum pulang.” Odo menghela napas ringan. Segera turun dari atas tempar tidur dan melepaskan Agathe, Putra Tunggal Kelurga Luke menatap ke arah Ri’aima dan segera berkata, “Selamat datang kembali, Nona ....”


 


 


Saat mendengar perkataan tersebut, baik Ri’aima ataupun Agathe, keduanya terkejut dalam bingung. Tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, lalu mulut hanya menganga tanpa bisa mengatakan sesuatu.


 


 


Ri’aima terkejut karena melihat sang Ibu sudah tampak sudah sembuh dari penyakit mental. Namun, apa yang membuatnya lebih terkejut adalah sesuatu yang dilakukan oleh Odo Luke dengan Ibunya tersebut.


 


 


Di sisi lain, Agathe tidak menyangka bahwa Ri’aima akan memergoki dirinya. Ditambah perkataan Odo sebelumnya, ia sempat mengira bahwa Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sengaja memancingnya melakukan tindakan tercela tadi.


 


 


Sang Nyonya Rumah segera duduk, menaikkan gaun miliknya dan segera mengusap air liur yang masih sedikit mengalir dari mulut. Tanpa berani menatap Putrinya sendiri, wanita rambut biru pudar tersebut diisi rasa bersalah yang amat besar dan memalingkan wajah pucat.


 


 


Suasana menjadi senyap di antara ketiga orang tersebut. Dalam rasa sesak yang ada di antara Ibu dan Anak itu, Putra Tunggal Keluarga Luke segera mengusap bibir yang terdapat bekas lipstik. Tanpa mengatakan sesuatu untuk menjelaskan, ia mulai melangkah ke arah Ri’aima yang tidak berani masuk ke dalam ruangan.


 


 


“Kalau Nona pulang lebih dulu, berarti Tuan Oma mampir ke kantor?” tanya pemuda itu seakan ingin membuat kejadian sebelumnya tidak pernah ada.


 


 


Dalam suasana hati masih bercampur aduk, Ri’aima hanya mengangguk satu kali. Enggan menatap mata Odo, lalu mulai gemetar kacau dalam perasaan hancur. Benar-benar merasa rusak dengan semua hal yang telah dirinya lihat.


 


 


Ri’aima benar-benar dikhianati oleh harapan yang dirinya percaya, seakan telah diangkat tinggi-tinggi dan dihempaskan ke tanah begitu saja. Tubuh sedikit sempoyongan, dada diisi oleh rasa sakit, dan air mata mengalir dengan deras tanpa satu kata pun keluar dari mulut.


 


 


“Aku ingin keluar sebenar untuk makan malam, tolong temani aku sebentar.”


 


 


Seakan tidak memedulikan perasaan yang mengisi benak Ri’aima, Odo langsung menggandeng tangan perempuan rambut biru tersebut. Ia sekilas melihat ke dalam kamar, menatap ke arah Agathe lalu melempar senyum tipis. Layaknya pemuda itu ingin berkata bahwa dirinya serius ingin merusak Keluarga Stein, tentu dengan caranya sendiri. Seperti halnya permintaan sang Nyonya Rumah.


 


 


Tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda rambut hitam tersebut menutup pintu dan pergi. Sembari menggandeng Ri’aima, Odo sama sekali tidak menjelaskan apa-apa dan hanya diam. Melangkah dengan tegas, tanpa menoleh sedikitpun ke arah perempuan yang dirinya gandeng.


 


 


Merasakan keteguhan yang terasa dari genggaman tangan sang pemuda, Ri’aima perlahan berhenti gemetar. Berusaha untuk percaya, lalu meyakinkan diri sendiri bahwa pasti ada sebuah alasan di balik tindakan Odo Luke sebelumnya. Dirinya juga berharap mendapatkan sebuah penjelasan, baik tentang hal sebelumnya ataupun kondisi Agathe sekarang.


 


 


Ri’aima memilih diam, hanya mengikuti dan dalam hati benar-benar berharap apa yang dipikirkannya tersebut adalah benar. Berusaha melindungi hatinya sendiri, yang sekarang ini serasa dibanting ke lantai sampai pecah.


 


 


ↈↈↈ


\=============


Catatan :


Fakta 050: Fakta pada 049 adalah hukum untuk dimensi keempat, karena itu belum tentu berlaku secara penuh untuk dimensi di atasnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2