Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[104] Serpent IV – Warisan Kebohongan (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


Pada titik awal kebohongan yang diwariskan, hal tersebut adalah tentang terciptanya para Naga yang mengisi daratan Michigan. Bangsa Naga memang berasal dari samudera, tetapi mereka tidak datang bersama para monster.


 


 


Samudera tempat mereka berasal merupakan sup purbakala, lumpur primal yang membentuk kehidupan di awal terciptanya Dunia Selanjutnya. Merupakan mahluk luhur yang lahir dari pusat dunia itu sendiri.


 


 


Sebelum disebut sebagai Naga atau Naga Agung, penduduk langit mengenal mereka sebagai primal paling kuno yang menghuni daratan. Telah hidup jauh sebelum manusia kuno tercipta di dunia, lalu memiliki peradaban yang sangat maju dan kemampuan manipulasi Mana luar biasa.


 


 


Kebohongan lain yang disampaikan oleh penduduk kayangan adalah tentang wujud dan sifat para makhluk primal tersebut. Tidak seperti dalam dongeng yang diwariskan kepada para makhluk mortal, sejak awal mereka adalah makhluk berakal dan memiliki bentuk seperti manusia.


 


 


Berasal dari sup purba yang merupakan awal kehidupan. Sebagai salah satu makhluk yang tercipta langsung dari Awal Mula, mereka memiliki sifat dan wujud yang paling diterima di Dunia Selanjutnya. Memiliki kekuatan untuk mempengaruhi alam, lalu mengendalikan hukum dunia dengan kehendak mereka.


 


 


Jika seluruh penduduk langit diciptakan oleh Dewi Penata Ulang menggunakan kekuatan dari Awal Mula, para makhluk primal tersebut tercipta langsung dari kehendak Awal Mula.


 


 


Secara mendasar, kondisi kedua makhluk ciptaan tersebut benar-benar mencerminkan perbedaan antara kualitas dan kuantitas. Penduduk langit adalah cerminan kuantitas dengan jumlah mereka yang banyak, lalu makhluk primal adalah inkarnasi dari kualitas Aeons dan sangat terbatas.


 


 


Saat awal penciptaan dunia berlangsung, sang Dewi Penata Ulang sama sekali tidak memperkirakan kemunculan para makhluk primal tersebut. Ketika dirinya sedang sibuk menata takdir, membuat hukum alam, menciptakan kehidupan, dan menyesuaikan berbagai macam konsep untuk menciptakan dunia baru, dari lumpur primal tiba-tiba para makhluk yang kelak disebut sebagai Naga Agung tersebut keluar dengan sendirinya.


 


 


Sebelum sang Dewi Penata Ulang menyadari kehadiran mereka, makhluk-makhluk primal tersebut telah berevolusi dan mengambil bentuk humanoid. Berdiri dengan dua kaki, memiliki dua tangan dan membangun peradaban bermoral layaknya bangsa manusia di Dunia Sebelumnya.


 


 


Sesuatu yang membedakan makhluk primal dengan manusia pada umumnya adalah tanduk dan ekor, jangak hidup yang sangat panjang, kecerdasan tingkat tinggi, lalu kemampuan manipulasi Mana yang sangat luar biasa.


 


 


Saat melihat mereka, sang Dewi langsung tahu bahwa para hewan primal itulah yang dipilih oleh Awal Mula sebagai penduduk asli Dunia Selanjutnya. Layaknya umat manusia sebagai khalifah di Dunia Sebelumnya, para primal mendapatkan dukungan penuh dari dunia untuk terus berkembang dan mencapai tingkat peradaban tertentu.


 


 


Awalnya Dewi Penata Ulang, Helena, memilih untuk membiarkan mereka. Ia tetap melanjutkan proses Rekontruksi Dunia dengan menyalin berbagai informasi dari Dunia Sebelumnya, lalu membuat singgasana kayangan dan duduk sebagai penguasa ilahi tertinggi.


 


 


Ia membuat batasan-batasan pada tiap dimensi, lalu menerapkan pembagian hierarki tingkat informasi di dalamnya. Namun dari semua dunia yang dirinya ciptakan, hanya Dunia Nyata yang tidak bisa dirombak secara langsung dan terus berkembang secara alami.


 


 


Penyebab pertama dari hal tersebut adalah karena Dunia Nyata tercipta langsung oleh Awal Mula. Meski ditata ulang oleh Helena, Realm para primal tersebut akan langsung kembali ke bentuk awal dan hanya bisa berkembang secara alami.


 


 


Untuk alasan kedua, itu merupakan keselarasan titik dari Awal Mula dan Dunia Nyata. Meski letaknya berjarak beberapa tingkat dimensi dari jantung dunia, namun koneksi yang ada di Dunia Nyata hampir setara dengan Arsh sebagai puncak singgasana.


 


 


Meski telah memahami ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Awal Mula, sang Dewi Penata Ulang tetap berusaha mengubah Realm yang dihuni para makhluk primal tersebut. Untuk melakukan perubahan secara tidak langsung, ia menciptakan makhluk-makhluk mortal sebagai pendatang.


 


 


Sebagai besar makhluk mortal yang diciptakan adalah salinan manusia dari Dunia Sebelumnya, lalu selebihnya adalah ras yang pernah diciptakan sang Pemuda di dalam bahtera. Sosok-sosok yang sangat rapuh jika dibandingkan dengan para primal yang telah menghuni alam tersebut.


 


 


Meski mereka adalah salinan dari makhluk dunia sebelumnya, namun setiap mortal tersebut memiliki kemampuan manipulasi Mana yang merupakan tiruan dari hewan primal. Menyerap Ether secara alami, lalu menjadikannya sebuah energi kehidupan untuk mempengaruhi alam dan pada akhirnya disebut sebagai sihir.


 


 


Ketika sang Dewi berpikir bisa mengubah Dunia Nyata sesuai dengan kehendaknya sendiri, sebuah penyimpangan terjadi. Meski dirinya adalah inkarnasi Kemahakuasaan dan bisa sesuka hati menciptakan segala sesuatu, Helena tidaklah Maha Tahu seperti sang Pemuda.


 


 

__ADS_1


Karena itulah, Helena tidak bisa memperkirakan perkembangan yang dibuat oleh ciptaannya sendiri. Saat sang Dewi beristirahat setelah menata dunia dan tertidur di dekat Awal Mula untuk beberapa ribu tahun lamanya, Dunia Nyata berkembang dengan kecepatan luar biasa.


 


 


Kecepatan perkembangan itu membuat ciptaannya lepas dari takdir yang telah ditulis. Menjadikan mereka sebagai makhluk bebas, tanpa ada kekangan dan benar-benar memiliki kehendak individu.


 


 


Saat Dewi Helena terbangun dari tidur panjang, ia langsung murka karena semua kerja keras berakhir sia-sia. Meski Surga, Kayangan, Dunia Astral, dan Alam Kematian berjalan sesuai dengan kehendaknya, tempat para makhluk primal tersebut menjadi satu-satunya dunia yang merdeka dan tidak terikat takdir ilahi.


 


 


Namun, pada saat yang sama sang Dewi juga menyadari sesuatu yang sangat penting tentang kejadian tersebut. Pada dasarnya dunia tidak akan berubah dengan sendirinya, itu sudah menjadi kodrat sebuah alam untuk mengikuti kehendak kuat suatu entitas.


 


 


Saat melihat Dunia Nyata menunjukkan sikap tidak mau diatur, sang Dewi paham bawah itu adalah kehendak sang Pemuda yang menjelma sebagai satu dunia. Ketika menyadari hal tersebut, tujuannya berubah dari Rekonstruksi Dunia menjadi pembangkitan.


 


 


Daripada mengatur dunia dan mengikuti tugas yang dilimpahkan rekan-rekannya, rasa rindu dan ingin bertemu kembali dengan sang Pemuda tumbuh lebih kuat. Perasaan pribadi menjadi dominan pada diri sang Dewi, lalu membangkitkan ingatan yang tersimpan di pojok hati.


 


 


Pada saat itulah, Dewi Penata Ulang mengganti seluruh keputusan yang telah dibuat. Mengesampingkan tujuan untuk membuat dunia menjadi lebih baik, lalu sepenuhnya fokus mencari cara untuk membangkitkan sang Pemuda.


 


 


Ia paham bahwa napas yang tersisa sangatlah terbatas. Dalam dunia yang masih prematur dan rapuh, sangat berbahaya untuk melakukan perombakan secara terus menerus. Itu bisa mengacaukan keseimbangan, lalu memicu dunia kembali musnah dan masuk ke dalam siklus reinkarnasi lain.


 


 


Meski telah memahami risiko yang ada, Dewi Helena tetap tidak bisa berhenti ataupun menyerah. Ia tetap mengambil langkah dalam kesendirian, menjalani hidup panjang dan tidak ingin membuat akhir yang telah dilalui menjadi sebuah tragedi yang dilupakan.


 


 


Menutup telinga, mata, dan hati untuk semua kehancuran yang akan dirinya lihat. Membuang jauh-jauh rasa peduli terhadap semua makhluk, lalu hanya menatap sang Pemuda yang akan dirinya temui di ujung perjalanan panjang.


 


 


Tetapi sebelum memulai perjalanan panjangnya, Dewi Helena menyadari beberapa hal penting seperti kehadiran makhluk primal dan kurang siapnya singgasana yang dibuat. Sebab itulah, ia memilih untuk terlebih dahulu menyelesaikan Rekontruksi Dunia dan mengacaukan konsep waktu antar dimensi.


 


 


 


 


Pada salah satu proses rekonstruksi dunia yang dilakukan sang Dewi, seakan ingin melaksanakan tugas mereka sebagai Khalifah para makhluk primal memberikan respons. Dua jenis entitas yang dari dulu hanya saling menatap satu sama lain akhirnya membuat kontak, untuk berbicara secara setara terkait kondisi yang sedang terjadi saat itu.


 


 


Namun, tentu saja sang Dewi tidak melihat mereka secara setara. Meski para makhluk primal mengenakan gaun dan pakaian indah, bermoral, berbicara sopan, dan sangat cerdas, Dewi Helena tetap menyebut mereka sebagai hewan primal. Dengan kata lain, dipandang lebih rendah dari ras manusia.


 


 


Tanpa diundang oleh langit, beberapa makhluk primal menginjakkan kaki mereka di kayangan. Meminta untuk bertemu dengan sang Dewi, lalu mengajukan permohonan untuk tidak lagi mengutak-atik keseimbangan dunia yang bisa mengacaukan Awal Mula.


 


 


Sampai akhir sang Dewi tidak menemui mereka. Tetapi, ia memenuhi permohonan makhluk primal dan tidak lagi melakukan uji coba terhadap kehendak Awal Mula.


 


 


Pada momen tersebut, Helena juga paham bahwa jika dilanjutkan Awal Mula dengan sendirinya akan melakukan reset terhadap dunia. Menghapus segalanya termasuk dirinya juga.


 


 


Dari kontak pertama tersebut, Helena memutuskan untuk mengubah haluan rencananya. Dengan memanfaatkan konsep reset yang dimiliki Awal Mula terhadap penyimpangan dunia, ia berencana untuk menghapus makhluk primal dari Dunia Nyata.


 


 


Itulah momen yang mendorong sang Dewi berpikir untuk menciptakan bangsa Iblis. Entitas yang awalnya tidak memiliki bentuk fisik, namun memendam ambisi dan hasrat yang sangat kuat untuk mengubah dunia.


 


 


Menggunakan sisa-sisa informasi dari Dunia Sebelumnya, ia menyalin ratusan kesadaran yang dimiliki oleh sang Pemuda untuk menciptakan bangsa Iblis. Memberikan mereka sebuah kehidupan, lalu dikirim ke Alam Kematian di mana Bentuk Kehidupan (Aeons) masih sebatas Hod.


 


 


Dengan kata lain, Realm itu hanya bisa menampung kehidupan astral tanpa bisa memiliki Bentuk Fisik ataupun Tubuh Inti. Hanya kesadaran saja yang ada, tanpa memiliki kekuatan untuk mewujudkan kehendak mereka yang sangat kuat.

__ADS_1


 


 


Karena uji coba yang pernah dilakukan sang Dewi terhadap Dunia Astral, konsep waktu di Alam Kematian juga terpengaruh dan menjadi tidak seimbang. Hal tersebut mengakibatkan kluster dimensi yang tercipta paling akhir tersebut menyimpang, memiliki lajur waktu yang lebih cepat jika dibandingkan kluster lain.


 


 


Keuntungan waktu yang dimiliki para Iblis benar-benar dimanfaatkan oleh mereka untuk berkembang. Meski tidak bisa mempercepat perkembangan dunia, kesadaran-kesadaran tersebut terus berevolusi dan bersatu menjadi kehendak tunggal.


 


 


Pada saat itulah, sekali lagi peristiwa yang tidak diperkirakan sang Dewi kembali terjadi. Makhluk dari salinan-salinan individu masa lalu mendapatkan kehendak mereka. Sepenuhnya berhenti menjadi makhluk, lalu berkembang sebagai entitas mandiri yang memiliki kehendak bebas.


 


 


Berbeda dengan para mortal yang belajar kebebasan dari makhluk primal, para Iblis menyembunyikan fakta kemerdekaan tersebut. Sembari mengintip dari celah dimensi yang ada di Alam Kematian, mereka mempelajari sejarah mortal dan makhluk primal.


 


 


Sejarah, bahasa, budaya, moral, adab, teknologi, dan bahkan tekad untuk berdiri sebagai pelindung kehendak Awal Mula. Saat mempelajari konsep-konsep duniawi, mereka mengidentifikasikan sang Dewi sebagai Ibunda dan Awal Mula sebagai Ayahanda.


 


 


Layaknya anak ayam yang baru lahir, bangsa Iblis pun cenderung memiliki sifat patuh kepada Helena dan tetap berdiam diri sampai mereka dibutuhkan. Benar-benar menggunakan kemerdekaan untuk melayani entitas lain, mengambil bentuk kebebasan yang berbeda dari para mortal.


 


 


Saat persiapan telah selesai dan waktu yang ditentukan sang Dewi tiba, salah satu Iblis ditarik dari Neraka terdalam. Ialah sosok yang kelak disebut sebagai Raja Iblis Kuno, entitas yang dijadikan kambing hitam atas kebohongan dan dusta langit.


 


 


Penarikan satu iblis itu menjadi hal yang membahagiakan, sebab pada momen tersebut akhirnya bangsa Iblis bisa mendapatkan arti dari kehidupan panjang mereka. Berbakti kepada entitas yang dianggap mereka sebagai orang tua, lalu mencurahkan hidup untuknya.


 


 


Namun, sayangnya para Iblis hanya dianggap sebagai alat oleh Helena. Di mata Dewi Penata Ulang tersebut, mereka semua tidak lebih dari susunan data yang akan digunakan untuk rencananya.


 


 


Tepat setelah satu entitas dari Alam Kematian tersebut ditarik ke kayangan, ia langsung diberikan susunan Aeons yang sempurna layaknya para Dewa. Berkah ⸻ Seperti itulah penduduk kayangan menyebut ‘Binah’ tersebut, sebuah Bentuk Kehidupan yang lebih tinggi satu tingkat dari Kesadaran Atom.


 


 


Sang Iblis mendapatkan Tubuh Vital, Tubuh Astral, dan Kesadaran Atom sebagai makhluk ilahi pada momen pengangkatan tersebut. Sejak saat itulah, Iblis tersebut dikenal sebagai Iblis Primal karena susunan kesadarannya tercipta dari Dewi Helena dan kehendak Awal Mula.


 


 


Secara fisik Iblis Primal itu memiliki wujud mirip seperti salah satu inkarnasi sang Pemuda di Dunia Sebelumnya. Memiliki rambut ikal berwarna merah gelap, mata hitam pekat, dan perawakan yang tampak sedikit kurus namun berotot.


 


 


Daripada disebut sebagai Iblis, kisah pembentukannya mirip seperti kelahiran sang Adam. Ia sama sekali tidak tampak seperti makhluk dari Alam Kematian. Baik rupa yang diberikan ataupun sifat ramahnya, sang Iblis Primal tersebut memilihi hati yang lembut dan baik kepada semua penduduk kayangan.


 


 


Layaknya seorang Ibu, sang Dewi Penata Ulang pun memperlakukan Iblis tersebut dengan pantas. Mengajarinya tentang semesta dan hukum-hukum yang ada, pengetahuan Dunia Sebelumnya, lalu moral dan memberitahu dalih di balik semua tindakan sang Dewi.


 


 


Saat itulah Iblis Primal memahami tujuan Dewi Helena untuk memanggil kembali sang Pemuda, sosok yang dianggap bangsa Iblis sebagai Ayahanda. Layaknya anak kecil yang baru mempelajari sesuatu, ia dengan polosnya mengambil sebuah nama dari masa lalu.


 


 


Odrania Dies Orion ⸻ Nama dengan makna yang campur aduk dan memiliki arti sangat abstrak. Jika diterjemahkan secara paksa, maka nama tersebut memiliki makna Resep Hujan Kematian dari Rasi Bintang Orion.


 


 


Meski sang Iblis Primal telah memilih nama tersebut dan menyampaikannya, sang Dewi tidak pernah sekalipun menyebutnya. Helena hanya memanggil Iblis tersebut sebagai Iblis Primal layaknya makhluk ilahi lain, menganggapnya tidak lebih dari itu.


 


 


Waktu pun berlalu dalam kebersamaan yang terasa singkat itu, lalu pada akhirnya takdir yang ditulis untuk sang Iblis Primal tiba. Sang Dewi memberikan titah kepadanya untuk turun ke Dunia Nyata, memberinya peran sebagai Dewa Iblis untuk membuat batas keburukan yang jelas di antara para mortal.


 


 


Tepat setelah sang Dewi masuk ke dalam hibernasi dan tidur di dekat Awal Mula, Iblis Primal turun ke Dunia Nyata untuk melaksanakan titah tersebut. Sebagai utusan kayangan ia membimbing para penjahat, lalu mengajarkan mereka batas-batas seorang penjahat dan menjadikan para mortal sebagai pengikutnya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2