Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[116] Flamboyan Akhir Zaman V – Komitmen dan Loyalitas (Part 04)


__ADS_3

Tenda kulit terbakar dalam kesenyapan berkabut, pagar kayu yang memblokir jalan pun diratakan dengan tanah. Mayat bergelimpangan di atas permukaan lembap, darah mereka mengalir dan mulai menggenang. Bercampur dengan abu dan arang yang beterbangan.


Puluhan prajurit, belasan petugas administrasi, dan beberapa perwira⸻


Tidak butuh waktu sampai setengah jam, mereka semua dibantai hanya dalam sekali serbu. Diserang dari tiga sudut, disergap oleh Pasukan Felixia saat mereka lengah. Ayunan pedang tidak memberikan kompromi, tidak memandang status ataupun jenis kelamin.


Markas lini belakang Kekaisaran Urzia sepenuhnya telah dimusnahkan. Tidak ada yang selamat, hanya tersisa puing-puing, arang, debu, dan kobaran api yang perlahan padam. Bahkan mayat-mayat yang tergeletak pun mulai diseret ke satu titik, kemudian dibakar supaya tidak menyebarkan wabah.


Nyala api melahap tumpukan mayat dalam lubang besar, menjadi tontonan Pasukan Felixia. Layaknya hamba yang taat, para prajurit itu memberikan rasa hormat kepada musuh. Tidak mengutuk ataupun menghina kematian mereka.


Hampir seluruh Pasukan Felixia di tempat tersebut mengenakan zirah berat berwarna biru indigo. Tampak gelap dan cenderung mendekati ungu, ditambah dengan jubah hitam ebony serta hiasan bulu di atas helm.


Kebanyakan dari mereka mengenakan pedang satu tangan dan perisai senjata utama. Namun, ada juga yang membawa tombak halberd, busur, flail, gada besi, palu perang, dan tongkat sihir. Sangat bervariasi untuk disebut sebagai peleton militer, tampak seperti kelompok tentara bayaran ataupun party pemburu.


Mereka adalah Prajurit Elit Kerajaan Felixia⸻ Santo dari Kolam Suci, peleton khusus berjuluk Ksatria Ordo Biru. Anggota pasukan mereka dipilih langsung oleh Raja Gaiel, dipimpin oleh Dart Luke sebagai komandan barisan depan.


Prajurit Elite sendiri dapat disetarakan dengan Knight, tercatat sebagai perwira dan memiliki beberapa wewenang khusus. Namun, mereka tidak mempunyai hak untuk memegang wilayah administrasi.


Karena itulah, diberlakukan standar minimum berupa gelar Knight untuk dapat bergabung dalam peleton tersebut. Meski tidak resmi, konvensi itu menjadi spesifikasi dasar dalam perekrutan Prajurit Elite.


“Apakah sudah selesai?” tanya seorang pria sembari menghampiri rekan-rekannya. Ia adalah Wakil Komandan Peleton, Luca Sadden. “Laporan itu asli, sepertinya tempat ini memang markas lini belakang mereka,” tambahnya sembari mengendus ringan.


Tidak seperti prajurit pada umumnya, Luca memiliki perawakan kurus. Zirah yang dikenakan pria paruh baya itu tampak kecil dan lebih ringan, hanya membawa pedang satu tangan sebagai senjata utama.


Namun, aura tempur yang terpancar dari veteran perang tersebut sangatlah kuat. Gestur tubuhnya selalu dipenuhi kewaspadaan, meletakkan tangan pada gagang dan siap menghunuskan pedang kapan saja.


“Sumber informasi itu kurang autentik, ‘kan?” Seorang prajurit membalas dengan nada meragukan. Ia merupakan Bendahara Peleton, Noxy Marta. Pria itu memiliki perawakan besar dan gendut, veteran perang dengan senjata utama gada besi berduri. “Dia orang Kekaisaran! Kita tidak boleh percaya begitu saja!” ujarnya dengan kesal.


“Diriku rasa tidak masalah …!” Salah satu Prajurit Elit tiba-tiba melepaskan helmnya. Perlahan ia berjongkok menghadap lubang api, kemudian menyipitkan mata sembari memandangi mayat-mayat yang terbakar. “Ini terlalu mudah,” gumamnya bosan.


Sedikit berbeda dengan kedua rekannya, pria bernama Roland Jakal tersebut merupakan veteran perang paling tua di peleton. Pernah berpartisipasi dalam ******* Perang Besar di Lembah Gersang, bahkan sempat ditugaskan pada beberapa misi pembersihan Aliran Sesat bersama Dart Luke.


“Saya setuju!” ujar Luca Sadden seraya mengangguk. Sekilas ia melirik ke arah Komandan Peleton yang sedang mengkoordinir pasukan, lalu dengan nada gelisah menambahkan, “Rasanya terlalu mulus ….”


“Untuk titik vital ini terlalu rapuh,” sambung Noxy Marta.


Pria paruh baya itu ikut melepaskan helm, kemudian merapikan rambutnya yang menjuntai sampai bahu. Berwarna merah gelap, tampak sedikit mengkilap karena keringat, dan mengeluarkan aroma harum saat tertiup angin.


Ia memiliki iris mata keemasan, bulu mata panjang, dan kulit putih pucat. Meskipun tubuhnya besar dan sedikit gendut, Noxy Marta memiliki wajah feminin yang khas. Tampak kental dengan kesan pria androgini.


“Kamu belum memotongnya?” Luca lekas menyipitkan mata dengan heran. Sejenak menghela napas, Wakil Komandan Peleton itu dengan nada resah mengingatkan, “Bukankah dulu kamu hampir mati karena rambutmu tersangkut kereta kuda?”


“Itu sudah empat tahun yang lalu!” Noxy mengernyit. Sejenak menghela napas, pria bertubuh besar itu lanjut membentak, “Jangan diungkit terus, lah! Dasar enggak sopan!”


“Seperti biasa kalian akrab sekali, ya!” Roland lekas berdiri, kembali mengenakan helm dan lanjut berkata, “Punya rekan satu angkatan memang menyenangkan. Namun, jangan sampai lengah! Pastikan kalian saling melindungi dan pulang dengan selamat ….”


“Hmm?” Luca perlahan memperlihatkan ekspresi heran, kemudian berbalik menghadap pria paruh baya itu sembari bertanya, “Bukankah Tuan Jakal satu angkatan dengan Jenderal? Kenapa Anda bicara seperti itu?”

__ADS_1


“Lord berbeda dengan kita,” ujar Roland Jakal sembari merapikan peralatan. Ia meletakkan pedang rapier ke pinggang, lalu menata beberapa belati, kristal sihir, dan ramuan sebagai perlengkapan tambahan. Sembari menatap rekannya, pria dengan kesan misterius itu menegaskan, “Beliau bukan orang yang bisa diajak bercanda ….”


“Mari bersiap, senior! Kita akan segera melanjutkan pengintaian!”


Seorang prajurit menghampiri mereka bertiga dengan penuh semangat. Tidak seperti yang lain, pemuda itu merupakan anggota baru dalam peleton dan terbilang cukup muda. Ia memiliki perawakan sedang, rambut cepak berwarna putih terang, kulit sedikit gelap, dan mata hijau zamrud.


Prajurit muda tersebut bernama Chastel, Putra Bungsu Keluarga Fiber. Keturunan seorang bangsawan bergelar Baron, tidak memiliki hak waris dan merupakan Anak Gundik.


Karena permasalahan ahli waris, sejak kecil Chastel Fiber dikirim ke barak oleh keluarganya sendiri. Mengikuti wajib militer layaknya anak buangan, dibesarkan pada sebuah asrama gereja di Ibukota.


Di sisi lain, Ibunya pun diusir dari kediaman utama setelah Kepala Keluarga meninggal. Ia bahkan sempat tinggal di sudut kota sebagai seorang tunasusila.


Namun, kemampuan Chastel malah diakui oleh Raja dan diangkat menjadi Prajurit Elit. Mendapatkan posisi yang hampir setara dengan Baron, lalu berhasil diakui kembali sebagai anggota Keluarga Fiber. Mempermalukan orang-orang yang telah membuang dia dan Ibunya.


“Apakah Tuan Dart sudah mengambil keputusan?” Luca segera menghadap prajurit muda itu, lalu menunjuknya sembari lanjut bertanya, “Kita akan maju sampai mana?”


“Titik persimpangan keempat, Pak!” Chastel segera menjawab atasannya. Ia memberi hormat dengan mengangkat pedang yang tersarung sampai setinggi dada, kemudian sedikit membungkuk sembari lanjut menyampaikan, “Dengan kuda perang, estimasi kita sampai adalah sore ini atau besok! Melihat pasukan kita tidak membutuhkan adaptasi ketinggian, saya pikir itu akan lebih cepat!”


“Bukankah itu sangat dekat?” Roland Jakal sedikit cemas. Mempertimbangkan beberapa kemungkinan yang ada, veteran perang itu dengan nada ragu memastikan, “Ini sangat berisiko, ‘kan? Jika informasi itu hanya jebakan, pasukan utama di Ibukota dalam bahaya! Kita tidak bisa mempertaruhkan nyawa Raja Gaiel hanya untuk sebuah kota pinggiran⸻!”


“Ini keputusan Raja! Kita hanya perlu mengikuti perintah!” Luca langsung menyela. Ia hampir menghunuskan pedangnya untuk membungkam Roland, sempat menggenggam gagang dan meningkatkan tekanan sihir. “Tolong jangan bahas itu lagi,” ujarnya seraya menahan napas sejenak, berusaha menyingkirkan amarah yang sempat menguasai.


“Tenanglah! Bukannya diriku meragukan perintah Raja Gaiel, hanya saja ….” Roland memperlihatkan ekspresi santai. Tidak menurunkan kewaspadaan, veteran perang itu juga sempat menggenggam gagang pedang dan bersiap menariknya. “Diriku hanya ingin memastikan. Tidak semua informasi yang kita dapat dari atasan bisa diandalkan,” tambahnya seraya berbalik menghadap lubang api, memandang mayat-mayat yang terbakar.


“Itu benar! Kali ini kita tidak dapat mengandalkan informasi dari Raja Gaiel!” Dart menghampiri mereka. Sebagai pemimpin, ia memperlihatkan gestur tubuh yang mendominasi. Menunjukkan kesan kuat dan berwibawa layaknya seorang bangsawan. “Apalagi informasi ini dirinya dapat dari orang Kekaisaran! Jelas ada maksud lain!” tambahnya seraya menatap Luca.


Meski sedang dalam misi pengintaian, Dart Luke tidak mengenakan zirah berat seperti yang lainnya. Ia hanya memakai seragam perwira berwarna hitam keabu-abuan, memiliki jubah biru tua dengan struktur sihir pemulihan stamina, dan pedang satu tangan di pinggang sebagai senjata cadangan.


“Apakah ini memang jebakan, Lord?” Roland segera menghadap tuanya, kemudian berlutut dengan penuh hormat sembari menambahkan, “Dilihat dari kondisi lini belakang musuh yang sangat rapuh seperti ini, diriku ragu mereka serius ingin menaklukkan Rockfield.”


Mengikuti veteran perang tersebut, ketiga Prajurit Elit lainnya pun ikut berlutut. Menundukkan kepala dengan hormat, meletakkan senjata mereka di atas tanah sebagai tanda berserah diri kepada pemimpi.


“Dari awal mereka tidak berniat menaklukkan kota! Nenek⸻!” Dart menghela napas sejenak. Sembari menggaruk bagian belakang kepala dan memalingkan pandangan, pria berparas tua itu dengan resah lanjut menyampaikan, “Penyihir Agung pernah membicarakan penyerangan ini sebelumnya, mungkin Raja Gaiel ingin mencegah ramalan itu. Orakel di Ibukota juga menyampaikan hal serupa ….”


“Ramalan dari Orakel?” Luca segera mengangkat wajahnya, memperlihatkan ekspresi penasaran karena pernah mendengar rumor tersebut. “Tuanku, apakah itu ada kaitannya dengan ambisi Kaisar Abadi?” tanyanya untuk memastikan.


“Tuanku, Dart Luke …. Tolong izinkan kami untuk mengetahui hal tersebut!” Noxy Marta angkat bicara. Sembari tetap menundukkan wajah, pria dengan tubuh gempal tersebut dengan lantang lekas meminta, “Tanpa mengurangi rasa hormat! Sebagai bawahan Anda, kami memiliki hak untuk mengetahui tujuan utama misi ini!”


“Kalian sudah curiga, ya?” Dart menurunkan tangannya. Kembali menatap mereka, ia sejenak menghela napa dan lanjut bergumam, “Kalau tidak salah, kaum puritan di Ibukota juga sudah membicarakan hal itu? Entah tentang Gadis Abadi, Ambisi Ilahi, atau semacamnya ….”


“Eh? Ini tentang ramalan, ya?” gumam Chastel Fiber. Ia baru bisa mencerna pembicaraan mereka setelah menyimak dengan seksama. Sedikit merasa diasingkan karena tidak tahu mengapa topik pembicaraan itu tiba-tiba diangkat. “Kenapa hanya saya yang tidak tahu?” lanjut pemuda itu seraya melirik rekan-rekannya.


“Itu benar, Tuanku. Sebelum berangkat, Archbishop juga sempat memperingatkan kami untuk hati-hati saat mengambil keputusan….” Luca sekilas memperlihatkan tatapan tajam. Merasa janggal dengan reaksi Dart, ia dengan ekspresi cemas lanjut menyampaikan, “Beliau juga sempat menyinggung putra Anda, berkata bahwa dirinya merupakan pusat gejolak dari perubahan kali ini!”


“Odo?” Dart sedikit terkejut, sekilas mengerutkan kening dan menatap heran. Sembari meletakkan tangan kanan ke dagu dan memalingkan wajah, pria berparas tua itu dengan nada cemas bergumam, “Kalau tidak salah putraku sekarang berada di Mylta, mana mungkin dia⸻!”


Perkataannya tiba-tiba terhenti. Teringat dengan peristiwa Raja Iblis Kuno yang terjadi akhir tahun lalu, wajah Dart seketika memucat dan keringat dingin pun bercucuran.

__ADS_1


“Anda baik-baik saja, Tuanku?” Luca sedikit khawatir, ini pertama kalinya dia melihat ekspresi Dart yang seperti itu. “Sa-Saya sungguh minta maaf, Tuaku! Saya tidak bermaksud menyinggung Anda!” lanjutnya seraya menundukkan kepala. Ia mulai gemetar saat mengingat sifat Dart Luke yang cenderung temperamental, terutama jika keluarganya disindir.


“Diriku tidak marah, hanya saja ….” Dart menepuk jidat, dilanjutkan dengan berdecak kesal dan bergumam, “Inikah yang dibicarakan nenek tua itu?! Akh! Gawat! Sangat gawat! Kalau masalah ini sampai ke telinga Mavis, bisa-bisa dia⸻!”


“Tuanku?” Luca mencemaskan.


“Diamlah!” bentak Dart dengan kasar. Tekanan sihir meluap bersama emosinya yang labil, bercampur dengan niat membunuh yang secara tidak sengaja ikut terpancar. Sembari menunjuk mereka, pria dengan tampang tua itu lanjut berteriak, “Diriku sedang berpikir!”


“To-Tolong maafkan saya, Tuanku!” Luca kembali menundukkan wajah. Ia langsung gemetar ketakutan, keringat bercucuran di dalam zirah, dan napasnya pun perlahan mulai terengah-engah. “Saya tidak bermaksud menyinggung Anda ….”


Pada saat bersamaan, tiga Prajurit Elit lainnya yang juga berlutut menghadap Dart langsung mematung. Sensasi kesemutan seketika menjalar ke sekujur tubuh mereka, dalam sekejap memudarkan pikiran dan penglihatan.


Chastel Fiber tiba-tiba ambruk, ia tidak kuat menahan intimidasi tersebut. Mulutnya mulai mengeluarkan busa, kemudian disusul dengan sesak napas parah. Mirip seperti gejala orang keracunan gas karbon monoksida.


Luca Sadden, Roland Jakal, dan Noxy Marta langsung terkejut. Mereka ingin menolong pemuda itu, namun terlalu takut dengan Dart dan pada akhirnya terdiam.


Merasakan tekanan sihir yang sangat mematikan itu, beberapa Prajurit Elit yang sedang menyiapkan keberangkatan langsung panik. Mereka serempak menoleh ke arah Dart, mulai gelisah karena tidak tahu harus melakukan apa.


Kuda-kuda mulai meringkik keras, berusaha kabur, dan bahkan ada yang menendang pemiliknya. Mereka tiba-tiba berubah beringas, membuat kekacauan, menginjak-injak kotak perbekalan, merusak gerobak, dan kabur ke hutan.


Pada akhirnya, empat ekor kuda terpaksa langsung dipenggal di tempat sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Sisanya dilumpuhkan dengan sihir penjinak, lalu ditidurkan supaya mereka tidak kabur.


“A⸻!” Dart terkejut, murka seketika berubah menjadi rasa bersalah. Tekanan sihir yang mengintimidasi perlahan memudar. “Maaf, diriku sungguh tidak bermaksud melakukan itu,” ujarnya dengan nada resah. Ia menutup wajah dengan tangan kiri, kemudian sedikit mengangkat kepalanya sembari menghela napas.


“Saya yang seharusnya minta maaf, Tuanku ….” Luca memberanikan diri untuk kembali mengangkat wajah, lalu menatap sosok yang menjadi puncak ilmu pedang tersebut sembari lanjut menyampaikan, “Saya seharusnya lebih bijak dalam memilih kata.”


“Bisakah engkau berhenti melakukan itu, Luca?” Dart melirik tajam. Sembari berusaha menahan tekanan sihir yang hampir meluap bersama emosi, pria rambut hitam keabu-abuan tersebut langsung mengingatkan, “Diriku bukan Raja Gaiel ….”


“Ba-Baik, Tuanku!”


Luca segera menundukkan kepala, ia tidak berani bangun dan kembali gemetar ketakutan. Meski veteran perang tersebut tidak lemah dan memiliki banyak pengalaman, ia tetap merasa tidak berdaya saat berhadapan dengan Dart Luke.


“Tuan Dart, apa yang terjadi?”


Seorang penyihir menghampiri mereka dengan cemas. Ia memiliki penampilan khas diakones, memancarkan kesan orang puritan meski tubuhnya dibalut zirah ringan, jubah, dan perlengkapan perang.


Layaknya seorang penyihir, perempuan rambut pirang tersebut membawa tongkat sihir sebagai senjata utama. Itu yang terbuat dari logam campuran berwarna perak, memiliki ujung berbentuk setengah lingkaran dengan kristal sihir merah di tengahnya.


Perempuan itu bernama Mili. Anak Sulung Keluarga Eywa, Putri dari seorang Viscount yang berada dalam naungan Kekuasaan Luke.


Berbeda dari anak bangsawan pada umumnya, ia tidak terlalu memedulikan warisan keluarga dan kehormatan leluhur.


Daripada mempelajari ilmu pedang maupun pemerintahan, sejak kecil Mili lebih memilih pergi ke Miquator untuk mendalami sihir. Menempuh pendidikan selama belasan tahun sampai berhasil mendapatkan gelar Meister Tingkat Satu.


Sebagai bukti dan tanda pencapaian tersebut, ia memiliki bros berbentuk The Rod of Asclepius. Dikenakan bersama tudung hitam pekat yang menutupi kepala.


Meski sudah berusia lebih dari dua puluh tahun, perempuan itu tampak seperti remaja karena postur tubuhnya yang pendek. Mewarisi warna mata Ibunya yang tampak indah seperti batu safir, memiliki kulit putih pucat, dan rambut pirang panjang sepunggung.

__ADS_1


Dilihat dari penampilannya, Mili memang sangat tidak cocok dengan militer. Tampak rapuh dan sangat lemah. Ia menjadi Prajurit Elit bukan karena koneksi keluarga, namun kemampuannya secara langsung telah diakui oleh Raja Gaiel.


Nilai yang dimiliki Mili dalam peleton bukanlah kemampuan fisik, melainkan sihir pemulihan skala area yang dirinya kuasai. Selain itu, penyihir rambut pirang tersebut juga mampu menggunakan beberapa sihir suci. Cukup langka karena sihir jenis itu biasanya hanya dikuasai oleh orang puritan.


__ADS_2