
Ketika dua pemahaman bertemu, sebuah konflik pasti akan lahir sebelum keduanya bisa saling memahami. Mengacungkan senjata untuk mempertahankan identitas, lalu berusaha menundukkan kubu lawan demi membuktikan kebenaran mereka.
Namun, pada akhirnya semua itu hanyalah sebuah proses sebelum asimilasi terjadi. Perbedaan pada dasarnya ada untuk bisa saling mengisi, hanya saja cara yang digunakan selalu berbeda-beda dalam setiap kasus.
Seperti halnya penaklukan, penjajahan, atau bahkan penindasan atas sebuah bangsa, kelak waktu akan membuat perbedaan yang ada lebur menjadi satu. Saling mengisi satu sama lain dalam masyarakat, lalu seiring berjalannya waktu akan tercipta sebuah tatanan sosial yang baru.
Proses tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di lingkungan Pohon Suci sekarang, sebuah pertemuan dari dua hal berbeda. Antara pelanggar nilai dan makhluk-makhluk yang menganggap perbuatan itu tercela.
Pelanggar tatanan, itulah bagaimana Vil Qordelia dipandang oleh bangsa Roh. Menampakkan kejelasan antara minoritas dan mayoritas dalam aspek sudut pandang, meski sebenarnya Roh Agung tersebut hanya bertindak jujur pada dirinya sendiri.
Angin dari arah Laut Utara bertiup dingin, menerpa lembut mereka yang berada di dekat Pohon Suci. Dalam sebuah sunyi menunggu pembicaraan sang Dryad selesai.
Meski dua jam sudah berlalu sejak Odo dan Reyah masuk ke dalam Pohon Suci, mereka berdua tidak kunjung keluar juga. Itu membuat Vil dan dua Elf yang datang bersamanya mulai memperlihatkan mimik wajah cemas, begitu pula para Roh yang tinggal di lingkungan Pohon Suci.
Saat udara dingin bertiup dan menyusuri tubuhnya, Vil gemetar kencang untuk sesaat. Bukan kedinginan. Namun karena kembali teringat masa lalu, ketika dirinya masih menjadi Penguasa Laut Utara.
Hal tersebut membuat hatinya perlahan diisi oleh rasa bersalah, lalu semakin termenung dalam kesunyian yang memenuhi tempat tersebut. Serasa tenggelam dalam udara dingin yang terus menyusuri kulitnya.
Di tengah gundah yang menerpa Vil, tiba-tiba Pohon Suci bergemuruh kencang dan daratan pun berguncang. Seakan-akan tidak ingin memberikan waktu merenung untuk Roh Agung tersebut.
Dedaunan pohon sakral mulai berjatuhan dengan cepat, layaknya musim gugur yang datang tanpa peringatan. Kurang dari satu menit, hampir semua dedaunan rontok. Hancur menjadi abu yang melayang-layang di udara, lalu memenuhi tempat tersebut dengan warna kelabu yang gelap.
Batang mengering, kulit kayu mulai terkelupas, dan ranting-ranting kecil pun patah. Pada saat bersamaan, semua rumput di sekitar Pohon Suci seketika mengering. Layaknya telah melalui kemarau panjang. Tampak kecokelatan, lalu perlahan menghitam dan hancur menjadi abu.
Semua itu terjadi begitu cepat, sampai-sampai Vil dan semua makhluk di tempat itu tidak tahu harus melakukan apa. Pancaran kekuatan Pohon Suci semakin melemah, membuat aliran Ether di udara sepenuhnya berubah menjadi gelap layaknya limbah. Tercemar dalam kelabu hitam.
Dalam hitungan detik, frekuensi Ether yang terpancar dari Pohon Suci berubah secara berkala. Dari sesuatu yang memiliki kesan natural dan suci, berubah menjadi unsur gelap seperti racun dan menyebar dari pohon sakral.
Beberapa Roh Tingkat Menengah berjatuhan saat menghirup Ether seperti kabut gelap tersebut, Roh Tingkat Atas pun tidak bisa beradaptasi dengan perubahan yang sangat tiba-tiba itu. Mereka semua ambruk satu persatu, bahkan Roh Tingkat Rendah seketika lenyap saat menyerap Ether dengan esensi gelap tersebut.
“A-Apa yang terjadi? Kenapa aura seperti iblis ini terpancar dari Pohon Suci …?”
Vil melihat para Roh di sekitarnya dengan cemas, ingin menolong dan berpikir untuk membersihkan Ether gelap yang terhisap mereka. Dengan tergesa-gesa, ia pun menghampiri salah satu Roh Tingkat Atas yang sekarat.
Namun saat Roh Agung tersebut hendak menggunakan sihir penyucian, beberapa Roh Tingkat Atas lain langsung menyerangnya. Memancarkan gelombang energi, lalu membuat tubuh perempuan rambut biru tersebut terpental beberapa meter.
Vil segera bangun, wajahnya seketika dipenuhi rasa bingung dan cemas. Sampai-sampai tidak bisa berpikir jernih dan gemetar ketakutan.
“Ke-Kenapa?! Diriku hanya⸻!”
“Ini adalah kehendak Pohon Suci,” ujar salah satu Roh Tingkat Atas berbentuk seperti manusia. Ia memiliki rambut pirang, mata biru dan mengenakan gaun dari serat daun yang telah berubah kecokelatan. “Makhluk menyimpang sepertimu tak perlu ikut campur!” tambahnya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Seperti halnya Roh tersebut, yang lain pun memperlihatkan ekspresi yang sama. Meski paham bisa binasa karena kekuatan Pohon Suci yang tercemar, mereka tetap mempertahankan ikatan dengan pohon sakral. Sama sekali tidak berniat untuk melepaskannya.
Itu membuat Vil teringat kembali dengan teman-temannya di Laut Utara, mengerti bahwa hal tersebut adalah insting para Roh untuk mengikuti kehendak pemimpin mereka. Rasa sakit dalam benak membuat sang Siren berkaca-kaca, lalu perlahan terduduk lemas di atas tanah tandus yang sebelumnya diisi rerumputan hijau.
Air mata mengalir dalam tangis yang tersedu-sedu, mengingat kembali ketidakberdayaan yang pernah menerpa dirinya di masa lalu. Vil mendongak ke atas, lalu membuka mulut tanpa bisa mengeluarkan suara tangis.
Melihat hal tersebut, Laura dan Magda hanya bisa tertegun. Bagi mereka yang mengenal bangsa Roh hanya sebatas dari buku, itu sangat mengejutkan saat melihat Roh Agung tersebut menangis dalam kesedihan.
“Perempuan itu seorang Roh, bukan? Dia hanya Roh, ‘kan?” Magda sempat dibuat takut saat melihat itu, melayang ke belakang dengan gemetar.
Merasakan hal yang sama, Laura pun menjauh dari mereka dan berpikir untuk kabur. Meninggalkan tempat tersebut dan menunggu suasana mencekam sedikit reda. “Apa kita sebaiknya pergi dulu?” tanya Elf tersebut kepada rekannya.
“Itu benar⸻”
“Eh⸻?”
Sebelum bisa melesat pergi, kedua sayap hasil Manifestasi Peri tiba-tiba lenyap dan membuat mereka terjatuh ke atas tanah. Mereka hanya bisa saling menatap, tidak mengeti kenapa tiba-tiba kontrol atas manifestasi lenyap begitu saja.
Sebelum mereka bangun atau semua Roh di lingkungan Pohon Suci lenyap, frekuensi kekuatan dari pohon sakral itu kembali berubah. Dari unsur yang memiliki esensi gelap, semua Ether seketika berubah menjadi hal yang sangat berlawan dengan sebelumnya.
Daripada natural layaknya unsur alami Pohon Suci, Ether berubah menjadi sesuatu seperti kekuatan suci yang bahkan menyamai Roh Kudus. Batang pohon sakral tersebut seketika memancarkan cahaya terang, lalu kulit kayu yang sebelumnya mengering kembali segar seakan waktu berputar mundur.
Dari tempatnya duduk, dengan jelas Vil merasakan kehidupan yang mulai tumbuh dengan sangat cepat. Ia pun terpana, tidak percaya dengan semua keindahan yang datang setelah hal mengerikan berlalu.
“Sebenarnya apa yang terjadi …?”
Roh Agung rambut biru tersebut mengulurkan tangan ke depan, lalu memetik bunga Nemophila yang mekar ada di dekatnya. Memiliki kelopak biru pudar keunguan, memutih pada bagian di sekitar putik bunga.
Layaknya sebuah taman gaib, tunas-tunas bunga tumbuh dengan sangat cepat di sekitar Pohon Suci. Mencapai masa emas kehidupan, lalu mekar dan memenuhi tempat tersebut dengan warna mereka yang sedikit pudar.
Aroma harum seakan menghapus Ether gelap, sepenuhnya mengubah tempat tersebut menjadi layaknya taman nirwana. Begitu indah dan sangat tenang, diisi oleh ketentraman yang sempurna untuk semua makhluk yang berada di dalamnya.
Sukses di mana-mana, itulah makna yang terkandung dalam bunga tersebut. Seseorang dari masa lalu pernah menyampaikan, ketika bunga Nemophila mekar dan tertiup angin, keberhasilan akan menghampiri tempat bunga tersebut tumbuh.
Saat Vil, Laura, dan Magda masih terduduk di antara bunga, para Roh yang berada di sekitar Pohon Suci segera membungkuk. Mereka semua menghadap ke arah salah satu sisi pohon sakral tersebut, lalu menundukkan kepala layaknya akan menghadap sang penguasa.
Di antara akar-akar pohon yang telah pulih sepenuhnya, lingkaran sihir mulai terbentuk dengan cepat. Berlapis-lapis, lalu dilingkari susunan Rune yang melayang-layang di udara.
Saat perhatian semua makhluk tertuju pada satu tempat, dua individu yang mereka tunggu pun muncul dari dalam lingkaran sihir tersebut. Disusun kembali dari kaki sampai ujung rambut, lalu sepenuhnya keluar dari Pohon Suci secara utuh tanpa ada kekurangan.
Para Roh hanya terdiam, layaknya pengikut taat mereka tidak berbicara sebelum diperbolehkan. Namun, saat melihat hal tersebut Vil langsung berdiri tegak. Terperangah dengan mulut menganga dan sedikit melangkah mendekat.
__ADS_1
Hanya dalam sekali lihat, Roh Agung tersebut segera tahu bahwa kontrak telah terjalin antara Odo dan Reyah. Begitu jelas dan erat, sangat berbeda dengan kontrak yang dirinya miliki dengan pemuda itu.
Namun, bukan hanya itu yang membuat Vil terkejut. Daripada mengkhawatirkan kontrak atau iri dengan hal seperti itu, ia lebih penasaran dengan penampilan sang Dryad.
Berdiri di sebelah Odo dan menggandengnya, Reyah tampak mengenakan gaun pengantin layaknya akan naik ke pelaminan. Meski gaun terbuat dari serat dan sangat transparan, sang Dryad benar-benar tampak seperti seorang pengantin baru.
Suasana yang mengisi tempat tersebut sangat mendukung, menyelimuti mereka dengan kehangatan dan kemegahan sebuah pesta. Bunga-bunga mekar sebagai dekorasi, dedaunan yang berjatuhan pelan sebagai taburan, dan para Roh adalah tamu undangan.
Di tengah suasana yang sangat mendukung itu, Odo seketika mengerutkan kening dan bergumam, “Rasanya ini ada yang salah, deh ….”
Pemuda rambut hitam tersebut segera melepaskan tangan Reyah, lalu melangkah menjauh dan menatap heran. Mengingat-ingat kembali isi kontrak yang telah terjalin, ia tidak bisa menolak suasana pernikahan dengan kasar. Hanya bisa menatap dalam bingung, lalu firasat tidak menyenangkan mulai menyelimuti benaknya.
“Kenapa engkau menatap seperti itu, Odo?” Reyah mengulurkan tangan. Angin berhembus pelan dan menerpa, membuat kerudung pengantin dan rambutnya berkibar dengan indah. “Ini adalah kontrak yang kita buat, engkau tak perlu enggan,” ujarnya seraya tersenyum lepas.
“Itu⸻!” Rasa hangat seakan mendekap Odo dari depan, membuatnya sesaat menahan napas dan memalingkan pandangan. Tidak ingin terlena dengan hal seperti itu, ia dengan nada sedikit resah bertanya, “Apa … kau perlu sampai seperti ini?”
“Hubungan layaknya pasangan suami-istri, itulah kontrak yang kita jalin.” Reyah meletakkan kedua tangan ke depan dada. Sejenak memejamkan kedua mata dengan lembut, ia kembali tersenyum lebar dan meminta, “Tolong jalan enggan atau malu, bukankah kita sudah berkomitmen dengan kontrak ini?”
Putra Tunggal Keluarga Luke termenung, tidak bisa membantah perkataannya dan terdiam. Ia menatap lurus lawan bicara, lalu sedikit menurunkan kedua alis dengan rasa cemas menguasai.
Saat Reyah kembali membuka kedua mata dan melempar senyum, untuk beberapa saat Odo kembali teringat dengan masa lalu. Terutama dengan momen-momen ketika dirinya masih hidup berdampingan dengan Korwa, istrinya dari Fase Kedua Dunia Sebelumnya.
“Meski ini bukan pertama kali, tetap saja berhubungan dengan wanita agresif rasanya aneh. Aku tetap tidak bisa terbiasa,” benak Odo seraya meletakkan tangan kanan ke depan dada.
Menarik napas dalam-dalam, pemuda rambut hitam tersebut meraih uluran tangan Reyah. Menggandengnya dengan erat, lalu segera menghadap ke arah semua Roh yang mulai berkumpul di tempat tersebut.
Tidak hanya beberapa Roh yang dari awal sudah berjaga di sekitar, namun ada juga mereka yang baru saja datang setelah merasakan perubahan pada Pohon Suci. Berkumpul layaknya sedang menyambut pemimpin baru mereka.
Sang Roh Agung Lembah Api, Iragain Ifrit, bahkan ikut hadir setelah merasakan perubahan Pohon Suci. Melayang tinggi di udara, berusaha untuk tidak membakar hutan dengan wujudnya yang berselimut kobaran api putih terang.
Odo mengulurkan tangan kiri ke depan, mengendalikan akar Pohon Suci dan menumbuhkan tongkat kayu hitam dari tanah. Pada bagian kepala tongkat terdapat sebuah kristal berwarna hijau tua, diselimuti pancaran kekuatan Pohon Suci.
Memegang tongkat dengan erat dan mengayunkannya ke depan, pemuda rambut hitam tersebut menyalurkan Mana miliknya. Membuat lingkaran sihir di atas kepala, lalu sejenak memejamkan mata dan berkata, “Link!”
Satu kata tersebut mengaktifkan sihirnya, menyelesaikan perubahan hierarki dalam proses pengangkatan pemimpin baru. Layaknya listrik yang menjalar melalui kabel tembaga, satu informasi mutlak ditanamkan kepada semua Roh yang hidup dalam lingkungan Pohon Suci.
Odo membuka mata, lalu memperlihatkan ekspresi tegas layaknya seorang pemimpin. Menghentakkan tongkat ke tanah, ia dengan lantang menyampaikan, “Kontrak telah terjalin! Dibuat tanpa paksaan, ancaman, atau bahkan tekanan! Atas keinginan kedua belah pihak dan disepakati bersama!!”
Menghentakkan tongkat ke tanah untuk kedua kali, pemuda rambut hitam tersebut menghancurkan susunan sihir yang sudah selesai digunakan. Pecah menjadi kepingan-kepingan cahaya, lalu sekilas berubah bentuk menjadi seperti mahkota dan lenyap sepenuhnya.
Pada saat bersamaan, partikel cahaya yang dikeluarkan Pohon Suci mulai berkumpul di sekitar tubuhnya. Menciptakan sebuah jubah berwarna biru laut, dengan simbol Kerajaan Felixia di atasnya.
__ADS_1