
Suasana tegang menyelimuti ruangan. Tanpa ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara, kedua orang tersebut sesekali saling melirik satu sama lain dan membuat suasana terasa berat. Di mata mereka, bahkan dekorasi ruang bergaya barok di tempat itu pun seakan tidak berarti sama sekali.
Layaknya udara dingin yang masuk ke ruangan memalui celah-celah yang ada, mereka saling memberikan tatapan dingin. Tanpa melempar perkataan dusta, pujian kosong, atau bahkan menggunakan taktik dalam pembicaraan.
Pada kamar pribadi Kepala Keluarga Stein tersebut, Odo yang berdiri di dekat tempat tidur memberikan lirikan tajam ke arah wanita di belakangnya. Angin bertiup melalui ventilasi, lalu membuat gorden yang menutupi jendela sedikit bergelombang dan sekilas memperlihatkan halaman dari tempat yang berada di lantai dua Kediaman Stein tersebut.
Putra Tunggal Keluarga Luke itu perlahan berbalik dan memasang mimik wajah datar. Sembari menatap wanita yang berdiri pada ruangan yang sama, ia dengan nada sedikit heran memastikan, “Sebenarnya apa tujuanmu, Nyonya Agathe? Dunia ini …, Kerajaan ini tidak punya waktu untuk meladeni keegoisan orang sepertimu.”
Perkataan yang dilontarkan pemuda itu membuat Agathe sedikit gentar dan bingung. Berbeda saat pemuda itu meminta untuk datang ke kamar Kepala Keluarga, emosi yang ada di dalam tatapan Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sekarang dipenuhi oleh amarah murni. Tidak ada ketenangan ataupun manipulasi, hanya diisi oleh amarah yang terarah lurus.
“Apa yang Tuan Odo maksud?” Agathe melangkah ke belakang sampai punggung menyentuh pintu yang tertutup. Mengetuk pintu dan memberikan tanda kepada para pelayannya yang berada di luar, wanita rambut biru pudar tersebut kembali menatap lawan bicara dan mengelak, “Bukannya Anda hanya ingin memastikan? Kenapa … tiba-tiba Anda terlihat marah seperti itu?”
“Aku marah setelah memastikannya ….” Odo kembali berbalik ke arah Oma Stein yang terbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidur. Dengan suara dipenuhi rasa kesal, Putra Tunggal Keluarga Luke berkata, “Kau benar-benar meracuni suamimu sendiri. Awalnya aku pikir kau meracuninya hanya untuk melihat pergerakan orang-orang di Kota dan melakukan sesuatu yang lebih berarti, namun racun yang kau gunakan itu ….”
“Meracuni?” Agathe memasang wajah pura-pura tidak tahu, lalu sembari memalingkan pandangan ia pun sekilas mengangkat kedua sisi pundak. Meski Agathe sudah menduga Odo bisa menebak hal tersebut, namun ia tidak mengira pemuda itu akan marah. Tidak ingin membuat kerusuhan dengan pemuda yang dijuluki Pembunuh Naga tersebut, sang Nyonya Rumah membujuk, “Tolong tenanglah, kekerasan tidak menyelesaikan apa-apa.”
“Ya, memang tidak akan menyelesaikan apa-apa.”
Pemuda rambut hitam itu pun menatap datar ke arah Oma Stein yang terbaring di atas ranjang. Berjalan mendekat dan membuka selimut yang menutupi tubuh pria tua dengan kulit pucat tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke seketika menghela napas setelah melihat tanda-tanda racun di tubuhnya.
Odo memang tidak terlalu mendalami pengetahuan tentang racun. Namun saat melihat beberapa benjolan pada bagian sendi seperti terkena asam urat, ia langsung memastikan bahwa itu bukanlah wabah ataupun penyakit yang disebabkan oleh sisa-sisa kekuatan Raja Iblis Kuno.
Pembengkakan pada sendi seperti di sekitar jari tangan dan kaki, lalu siku serta lutut. Itu memang tampak seperti gejala penyakit kelebihan Purina secara umum. Tetapi, pembengkakan tidak hanya terjadi pada bagian sendi saja dan menjalar pada jaringan pembuluh darah. Itu membuat wajah Oma Stein tampak bengkak, begitu pula kedua kaki dan tangan pria tua pun membesar.
Bukan hanya itu saja, pada beberapa bagian tubuh Oma bahkan sudah ada yang membusuk karena pembengkakan tersebut. Mengeluarkan nanah dan aroma tidak sedap, bahkan di siku kanan pria tua tersebut beberapa daging sudah hilang sampai tulangnya terlihat.
Odo sendiri memang tidak tahu racun seperti apa yang digunakan. Namun setelah mengamati tanda-tanda yang ada dengan saksama, ia merasa gejala tersebut mirip seperti terkena gigitan ular berbisa yang bisa membuat daging membusuk.
Tentu jika itu memang disebabkan oleh ular, pembusukan hanya akan menyebar di sekitar daerah gigitan dan paling parah akan memberikan kematian langsung setelah racun mencapai organ penting. Tetapi pada kenyataannya, Oma Stein dengan jelas sekarang masih hidup dengan kondisi tubuh bengkak pada beberapa bagian dan keadaannya terus memburuk.
“Kalau begitu ….” Agathe berjalan mendekat, lalu menyelimuti kembali suaminya dan berkata, “Bisakah Tuan Odo keluar? Saya tidak ingin membuat kondisi suami saya memburuk.”
Mendengar itu, Putra Tunggal Keluarga Luke seketika memberikan tatapan tajam ke arahnya. Sebelum Agathe selesai merapikan kembali selimut, Odo dengan cepat menepuk pundak wanita itu dari belakang dan berbisik, “Aku ingin bicara berdua, singkirkan semua pelayanmu yang ada di balik pintu.”
Agathe untuk sesaat terhenti, wajah pura-pura cemas miliknya seketika berganti dengan mimik serius. “Tak ada jaminan Anda tidak melakukan hal nekad,” ujar wanita rambut biru pudar tersebut sembari kembali merapikan selimut.
Odo hanya bisa menghela napas mendengar jawaban tersebut. Tanpa menunggu persetujuan Agathe, Putra Tunggal Keluarga Luke mengangkat salah satu tangan Oma dan langsung menggunakan Aitisal Almaelumat untuk meningkatkan antibodi pria tua itu terhadap racun.
Dalam hitungan detik, bengkak pada jemari Oma perlahan mengempis. Melihat bengkak pada tangan suaminya perlahan sembuh, seketika panik mengisi benak Agathe. Ia segera mendorong Odo dan membuatnya melepaskan tangan Oma, lalu dengan wajah pucat menatap takut pemuda rambut hitam tersebut.
“Kenapa Anda mendorong?”
Sembari memasang senyum dingin, pemuda rambut hitam itu kembali berjalan mendekat dan ingin meraih tangan Oma lagi. Tetapi, sebelum bisa melakukan itu Agathe segera mencengkeram erat pergelangan Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut dan menghentikannya.
“A-Apa yang Anda lakukan?”
“Tentu saja menyembuhkannya. Saya memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut.” Odo memegang pundak kiri Agathe, lalu memaksa wanita rambut biru pudar tersebut berhadapan dengan dekat dan sekali lagi berbisik, “Perintahkan para pelayan di luar pergi, aku ingin membicarakan hal penting.”
Untuk kedua kalinya, Agathe merasa benar-benar didominasi oleh pemuda rambut hitam tersebut. Berbeda dengan yang pertama saat Odo masih menahan diri, kali ini Putra Tunggal Keluarga Luke itu tidak bermain-main dan langsung memberikan serangan yang membuat Agathe tidak bisa menolak permintaannya.
Dengan berat hari, pada akhirnya Agathe menganggukkan kepala dan berkata, “Ba-Baiklah….”
.
.
.
.
Setelah Agathe keluar dari kamar sebentar dan memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk berhenti siaga di luar, Nyonya Rumah tersebut pun kembali masuk. Dengan mimik wajah pucat dan aura mendominasi benar-benar hilang darinya, wanita rambut biru pudar itu menundukkan kepala dan tidak berani mendekati Odo.
Melihat gelagat penuh ketakutan dan rasa cemas tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke menghampiri dan segera meraih tangan wanita itu. Mengajaknya dengan kasar mendekat ke dekat ranjang, Odo segera melepaskan tangan Agathe dan menunjuk ke arah Oma Stein yang terbaring tidak sadarkan diri.
“Aku tidak akan melaporkan ini kepada siapa-siapa, jadi jawab aku dengan jujur ….” Odo memberikan tatapan tajam, lalu sembari menyipitkan mata memastikan, “Anda ingin membunuh Oma, bukan?”
“Ba-Bagaimana mungkin saya ingin membunuh suami saya sen⸻?”
__ADS_1
“Tak perlu berlaga bodoh,” potong Odo dengan cepat. Pemuda itu berhenti menunjuk, lalu sembari mendekatkan mulut ke telinga Agathe ia pun berbisik, “Jika kau terus seperti ini, aku benar-benar akan menghancurkan keluarga ini. Kau tahu, Nyonya. Kalau aku mau, aku bisa dengan mudah melakukan hal tersebut …. Karena itu, jawab dengan jujur pertanyaanku ini.”
Agathe mengambil satu langkah menjauh, lalu menutup telinga tempat Odo berbisik sebelumnya dengan tangan kanan. Sembari memasang mimik wajah tidak suka dan keriput wajahnya menjadi tampak jelas, wanita rambut biru pudar tersebut bertanya, “Memangnya apa keuntungan Anda setelah mengetahui itu? Apa yang ingin Anda lakukan setelah mengetahuinya?!”
“Aku akan membunuh Oma.”
“A⸻?!”
Jawaban tersebut membuat mulut Agathe menganga, tidak percaya bahwa pemuda di hadapannya mengatakan hal tersebut dengan enteng. Berusaha untuk tenang dan menutup mulut rapat-rapat dengan kedua tangan, wanita rambut biru pudar tersebut gemetar dalam kebingungan.
Dalam benak ia merasa sangat senang bisa menyingkirkan Oma Stein tanpa harus mengotori tangannya sendiri atau membuat muslihat supaya anak-anaknya tidak curiga. Namun, pada saat yang sama ia pun sedikit bingung tentang bagaimana pemuda rambut hitam itu menyingkirkan Oma.
“Daripada terkejut atau marah, Anda malah terlihat senang, ya?”
Odo memberikan tatapan dingin. Dalam benak, ia kembali merasa kalau Agathe memang benar-benar membenci suaminya sendiri. Sejenak memejamkan mata, pemuda rambut hitam itu tidak mengerti mengapa sebuah keluarga bisa terbentuk dan masih bertahan di antara kedua orang yang tidak saling mencintai.
“Kalau boleh tahu, mengapa Anda ingin melakukan hal tersebut?” tanya Agathe sembari menurunkan tangan dari depan mulut.
Mendengar wanita itu tidak membantah rasa senang yang ada, Odo kembali membuka kedua mata. Ia memasang senyum kecil, lalu menatap Oma Stein dengan penuh rasa kasihan. “Tidak ada alasan khusus, saya hanya tidak suka dengan orang ini. Terutama dengan apa yang dia lakukan saat masih muda,” ujar Odo seraya kembali menatap lawan bicara.
Agathe sedikit terkejut karena rasa benci Putra Tunggal Keluarga Luke itu berasal dari hal lain, bukan dari kejadian di Pesta Pertunangan. Sembari memasang ekspresi bingung ia pun memastikan, “Apa … Anda mendengarnya dari seseorang di kota? Itu …, tentang masa muda Oma.”
“Rosaria menceritakannya padaku,” jawab Odo dengan ringan.
“Rosa?” Agathe memperlihatkan ekspresi seakan ia mengenal Pendeta Wanita yang disebut Odo. Sembari memasang mimik wajah menyesal, Nyonya Rumah memalingkan pandangan ke arah jendela yang tertutup gorden dan kembali berkata, “Anak itu juga menjadi korban tragedi tersebut waktu kecil. Alasannya tumbuh di panti asuhan pun karena hal tersebut, kedua orang tuannya ….”
“Begitu, ya ….” Odo tidak peduli dengan kisah masa lalu. Kembali menatap ke arah Oma yang terbaring, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Kita lanjutkan pembicaraan. Kalau Nyonya tidak mengelak lagi, berarti itu benar Anda ingin membunuh Oma, ‘kan?”
“Iya, itu benar ….” Agathe ikut menatap ke arah Kepala Keluarga Stein. Tidak seperti Odo yang hanya memberikan tatapan tak acuh, wanita rambut biru pudar tersebut sepenuhnya memancarkan kebencian. Dengan nada penuh amarah Nyonya Rumah pun berkata, “Bagaimana saya tidak membencinya setelah orang ini membunuh keluarga saya?!”
“Bukannya Oma juga keluargamu⸻?”
“Siapa yang menganggap tua bangka ini keluarga!!” bentak Agathe dengan lantang. Sembari menatap tajam ke arah Odo, emosinya meluap-luap dan dengan lantang berkata, “Dia lebih baik mati saja! Dari dulu, saya berharap bedebah ini mati dengan cara terburuk dan lenyap dari dunia ini!”
Memikirkan cara, mencari jalan keluar yang sesuai untuk permasalahan yang ada, lalu membuat kesimpulan dalam benak. Kembali membuka mata, pemuda rambut hitam itu melirik ke arah Agathe dan berkata, “Tolong tenang dulu dan dengarkan saranku. Mungkin … ini lebih mudah daripada membiarkan Oma terus-terusan seperti ini di saat Kota Rockfield dilanda masalah.”
Mendengar perkataan tersebut, Agathe menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tenang. “Apa … yang Anda maksud?” tanyanya heran.
“Jika Keluarga Stein diturunkan dari status Pemimpin Kota dan orang lain akan naik ke posisi itu, kebohongan soal wabah yang Anda buat akan segera terbongkar. Begitu pula kebohongan yang Anda buat soal penyakit Oma ….” Setelah lempar senyum ke arah lawan bicaranya, Odo berjalan mendekat dan meraih tangan wanita itu. “Aku tidak menginginkan hal tersebut, itu bisa merusak kepentinganku,” tambahnya dengan suara lembut.
“Memang benar kebohongan saya pasti akan segera terungkap saat itu tiba ….” Agathe menundukkan kepala, lalu dengan wajah sedikit murung menyampaikan, “Jika situasi saat ini berlanjut, Keluarga Stein akan kehilangan pengaruh dan kebohongan terbongkar. Namun, saya … tidak keberatan dengan itu. Akhir dari keluarga ini juga merupakan harapan saya. Keluarga yang merebut semua orang yang saya cintai ... sebaiknya lenyap saja.”
“Begitu, ya ….” Odo melepaskan tangan Agathe, lalu sembari mengambil satu langkah ke belakang berkata, “Jadi ini yang Nyonya Agathe maksud rela mengorbankan anak-anak Anda sendiri. Jika itu demi mengakhiri Keluarga Stein, Anda rela melakukan apa saja.”
“Itu benar, saya rela melakukan apa saja.”
Jawaban tegas tersebut membuat Odo tertegun. Meski semua tindakan Agathe disadari oleh kebencian dan dendam, tidak ada satu pun dari semua itu yang membuatnya menyesal. Keraguan memang ada dalam dirinya, namun itu bukan pada tujuan yang ia genggam. Melainkan anak-anaknyalah yang menyebabkan rasa ragu tersebut.
Memahami bahwa wanita berlumur kebohongan dan dendam di hadapannya juga seorang Ibu, Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit menghela napas dan berkata, “Meski tidak terlalu dekat dengannya, aku cukup suka dengan Putrimu. Membiarkannya bernasib naas hanya akan membuatku tidak bisa tidur nyenyak.”
Agathe memasang senyum kecut dan merasa tidak suka dikasihani. Sembari menajamkan sorot mata, wanita rambut biru pudar tersebut bertanya, “Lantas Anda mau menolong kami?”
“Ya ….” Odo mengacungkan telunjuk ke depan, lalu sembari melebarkan senyuman berkata, “Aku sudah memulainya. Karena itu, maukah Anda masuk ke dalam skenario ku? Anda pemeran yang andal, bukan? Berperan dalam pentas kecil ini seharusnya mudah bagi Nyonya.”
Agathe melipat kedua tangan ke depan, lalu sembari memasang wajah meragukan bertanya, “Memangnya Tuan Odo ingin melakukan apa? Asal Anda tahu, saya sangat benci Keluarga Stein. Meski harus memberikan nyawa ini, saya rela asalkan Keluarga ini lenyap. Karena itulah, saya mempersiapkan semua ini jauh sebelum kekacauan yang dibawa Iblis sialan itu.”
“Iblis, ya ….” Odo sedikit merasa tidak suka ketika lawan bicaranya membawa-bawa iblis dalam pembicaraan, seakan ingin menyalahkan Ras dari dimensi lain tersebut. Menghela napas dan berusaha untuk melanjutkan pembicaraan dengan mulus, Odo bertepuk dangan satu kali dan bertanya, “Yang Anda benci hanya Keluarga Stein, ‘kan? Bukan anak-anak Anda?”
Mendengar perkataan tersebut, untuk sesaat Agathe merasa bingung dan merasakan hal sangat janggal. Setelah mempertimbangkan kepribadian Odo dan kemampuannya, Nyonya Rumah tetap tidak bisa menebak rencana yang ingin dijalankannya.
“Saya tanya sekali lagi, apa yang ingin Anda lakukan?”
“Sederhana ….” Odo mengarahkan jari telunjuk ke Oma, lalu sembari memasang senyum lebar menjelaskan, “Pertama, saya akan menyembuhkan suami Anda.”
__ADS_1
“Hah! Bukannya itu⸻!”
“Lalu, aku akan membuatnya mati.”
Perkataan Odo membuat Agathe terkejut dalam bingung. Ia tidak mengerti alur rencana tersebut, merasa itu hanyalah sebuah ungkapan konyol seakan-akan menyembuhkan dan membunuh adalah yang sangat mudah di tangan pemuda itu.
“Anda sedang mempermainkan saya?” tanya Agathe dengan kesal.
“Nyonya mau mencobanya?” Odo berhenti menunjuk, lalu mulai membuka telapak tangan ke arah Agathe dan dengan nada datar berkata, “Kematian instan dan dihidupkan kembali. Mungkin tidak terlalu sakit, namun ketakutan dalam kematian bisa membekas selamanya.”
Perkataan tersebut konyol, tidak masuk akal, dan hanya mengada-ada. Meski kepala Agathe dipenuhi pemikiran tersebut, namun tubuhnya dengan jelas paham bahwa Odo sama sekali tidak bergurau. Mengingat pemuda rambut hitam itu menyembuhkan sedikit bengkak Oma hanya dengan sentuhan, sang Nyonya Rumah tidak bisa dengan yakin membantah perkataannya.
Sembari melangkah mundur dan menatap takut pemuda itu, Agathe dengan penuh rasa cemas bertanya, “Secara rinci, memangnya rencana Anda seperti apa?”
“Sederhana ….” Odo berhenti mengulurkan tangan, lalu seraya memasang wajah ramah menjelaskan, “Setelah menyembuhkan Tuan Oma, saya akan menanamkan sihir dengan aktivasi berjangka waktu untuk membunuhnya. Selama jangka waktu yang ada, kita akan membiarkan Tuan Oma bekerja seperti biasa sebagai Walikota. Mengingat kepribadian Tuan Oma yang saya dengar dari Rosaria, beliau pasti setelah sembuh akan langsung bekerja mati-matian untuk mengembalikan stabilitas Rockfield. Saat itulah, sihir aktivasi berjangka waktu akan aktif dan membunuhnya. Dengan begitu, kematian Tuan Oma akan terlihat seperti dia kelelahan karena bekerja terlau keras setelah baru sembuh.”
Agathe tertegun mendengar penjelasan garis besar rencana tersebut. Dengan mimik wajah takut dan cemas, wanita rambut biru pudar itu memastikan, “Anda … bisa melakukan hal tersebut? Kalau benar, bukankah itu terlihat seperti ….”
“Kutukan.”
Satu kata itu seketika membuat bulu kuduk Agathe berdiri. Jika memang Odo bisa melakukan hal tersebut, bisa saja sekarang pemuda itu telah menanamkan kutukan ke kepadanya. Membayangkan kemungkinan tersebut, Agathe tidak bisa berhenti berprasangka buruk.
Menggelengkan kepala dan berusaha untuk tidak gentar, Agathe menganalisa rencana itu dengan cermat. Membandingkan tujuan miliknya dengan tujuan Putra Tunggal Keluarga Luke, lalu menarik garis tengah dimana itu bisa diterima oleh kedua belah pihak.
Setelah mempertimbangkan banyak hal dengan singkat, Agathe langsung menemukan hal yang bertentangan dalam rencana yang diajukan oleh Putra Tunggal keluarga Luke itu. Meski pun rencana yang Odo sampaikan berhasil, ada beberapa hal yang tidak bisa Nyonya Rumah toleransi.
“Meskipun rencana Anda berhasil dan Oma mati tanpa membuat pihak lain curiga, lantas bagaimana nasib Keluarga Stein?” Agathe berjalan mendekati Odo, lalu sembari menatap dari dekat kembali memastikan, “Apa Keluarga ini juga akan hancur? Di dalam rencana Anda keluarga ini akan hancur, bukan?”
“Ya, keluarga ini akan hancur. Namun ….” Odo mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya ke kening Agathe. Sembari tersenyum pemuda itu menambahkan, “Kau dan anak-anak kau akan tetap hidup.”
“Huh?” Agathe memegang dengan erat telunjuk Odo yang menempel di kening, lalu segera menurunkannya dan menatap datar. Sembari mengerutkan kening, wanita rambut biru pudar tersebut berkata, “Bicara apa Anda? Jika saya dan anak-anak saya masih hidup, bagaimana bisa itu dinyatakan sebagai hancurnya Keluarga Stein?”
“Sederhana ….” Odo menarik jarinya dari Agathe, lalu langsung bertepuk tangan satu kali dan kembali menjelaskan, “Anda tinggal kembali menjadi Keluarga Swirea! Keluarga Nyonya dulu sebelum menjadi bagian dari Keluarga Stein!”
“Bukannya itu⸻!”
“Saya berjanji akan membuat Keluarga Stein hancur, lalu memberikan Anda hak untuk menggunakan Nama Keluarga Swirea lagi.” Odo membuka kedua telapak tangan kepada wanita di hadapan, lalu sembari menatap datar memberi pilihan, “Setelah itu, Anda bisa memilihnya. Ingin pergi dari Kota dan hidup dalam pengasingan, atau malah melanjutkan kepemimpinan di Kota ini.”
“Melanjutkan kepemimpinan?” Agathe mengerutkan kening, lalu dengan sedikit kesal meragukan, “Memangnya rakyat di sini bodoh?! Meski nama keluarga berganti, mereka sudah kenal dengan saya! Mana mungkin mereka mau dipimpin oleh saya?!”
“Aku tidak sekalipun ingin menjadikan Nyonya sebagai Walikota.”
“Huh?” Perkataan tersebut dengan cepat membuat kedua mata Agathe terbuka lebar. Tanpa dijelaskan lebih jauh, pikirannya membuat kesimpulan dengan cepat dan memastikan, “Anda bermaksud menjadikan Ri’aima sebagai Walikota?”
“Tepat sekali!” Odo bertepuk tangan satu kali, lalu sembari mengacungkan jari telunjuk ke depan berkata, “Namun itu terserah di tangan Nyonya. Jika Anda tidak ingin, saya akan mengasingkan kalian dan membiarkan Kepala Prajurit sekarang memimpin Kota ini. Namun ….”
“Namun apa lagi?”
“Saya ragu anak-anak Anda akan menyukai pilihan tersebut.” Odo perlahan memasang wajah berempati. Seakan dirinya peduli, pemuda rambut hitam itu menurunkan telunjuk dan berkata, “Aku harap mereka tidak menjadi Oma selanjutnya. Memendam dendam, tidak terima karena keluarga mereka disingkirkan dari Kota, lalu menuntut pembalasan dan jatuh dalam kebencian.”
Ucapan tersebut membuat Agathe membisu dan mengingat masa lalu. Pada detik itu juga ia memahaminya kembali, sebuah alasan mengapa Oma Stein menyulut pembantaian yang menjadi tragedi kelam di Rockfield. Menatap lawan bicaranya dengan kesal, ia merasa kalau pemuda di hadapannya memang sangat pandai mempengaruhi mental seseorang.
“Apa Anda ini benar-benar berasal dari Keluarga Luke?”
“Tentu saja ….” Odo memasang senyum ringan sembari memegang rambut poni. Seraya sekilas memiringkan kepala dan tertawa kecil, pemuda itu pun kembali berkata, “Anda lihat mata biru dan rambut ini, bukan? Ini adalah salah satu ciri fisik Keluarga Luke. Apa perlu saya menunjukkan kemampuan pedang di hadapan Nyonya?”
“Tidak perlu! Saya percaya ….” Agathe menghela napas resah, merasa benar-benar telah dipermainkan selama pembicaraan berlangsung. Menatap ringan lawan bicaranya, wanita rambut biru pudar tersebut memastikan, “Anda ingin menjalankan rencana tersebut kapan?”
“Saya sudah menjalankannya.”
“Eh?”
Pada saat itu, Agathe benar-benar tidak menyadarinya. Entah dirinya memilih setuju atau tidak dengan rencana Odo Luke, roda gerigi di Kota Rockfield sudah digerakkan oleh pemuda itu. Berjalan menuju arah yang dikehendakinya, layaknya sebuah susunan domino yang saling bertabrakan setelah sentuhan kecil.
ↈↈↈ
__ADS_1
Catatan Kecil:
Fakta 011: Saat ini, di Benua Michigan, Negara yang paling ringkih adalah Kekaisaran.