
Kausalitas ⸻ Sebab selalu ada lebih dulu sebelum akibat.
Layaknya setiap makhluk yang ada di dunia, mereka hidup terlebih dulu sebelum pada akhirnya kelak akan mati. Pagi akan kembali lagi setelah malam berakhir, lalu musim semi pun akan datang setelah musim dingin terlewat.
Siklus sederhana tersebut juga berlaku untuk segalanya, serta setiap ketentuan yang ada di dalamnya. Ketika alam semesta berhenti berkembang dan kehilangan kekuatan, setiap bintang akan tertarik ke dalam satu titik dan pada akhirnya melebur menjadi satu.
Dalam kekosongan mutlak setelah kehancuran, sebuah permulaan baru pun terlahir kembali. Reinkarnasi dunia, siklus yang terbentang antara penciptaan dan kehancuran.
Titik tunggal yang menelan segalanya akan menciptakan awal baru untuk semesta selanjutnya. Layaknya memejamkan mata, siklus tersebut terjadi dalam sekejap.
Pada teori relativitas, waktu akan semakin lambat jika dekat dengan objek yang memiliki massa besar. Di sisi lain, teori tersebut juga menyatakan bahwa gravitasi bisa membuat ruang dan membuat waktu melengkung sehingga mengubah ketentuan yang sudah tetap.
Dalam pernyataan yang ada pada teori tersebut, dinyatakan juga bahwa gravitasi bergerak dalam bentuk gelombang.
Karena itulah, saat segalanya menjadi unsur tunggal dan memiliki massa yang sangat amat besar, waktu hampir tidak ada. Bergerak sangat lambat, tanpa perubahan sampai semua unsur yang menyatu menjadi tunggal siap untuk memulai awal baru.
Ketika segalanya siap, semesta akan tercipta kembali dalam dentuman besar. Menyebarkan segala energi, partikel, hukum, dan ketentuan ke penjuru kehampaan.
Lalu, pada akhirnya kehidupan baru akan tercipta.
Namun pada perkembangan yang terjadi dalam proses tersebut, waktu yang diperlukan sangat panjang.
Ribuan, jutaan, sampai miliaran tahun diperlukan untuk membuat sebuah kehidupan kecil di antara lautan energi yang terpencar dalam dentuman besar.
Waktu yang begitu panjang tersebut diperlukan bukan tanpa alasan.
Menunggu unsur-unsur stabil, jalur takdir tercipta, serta susunan hukum semesta dapat diterapkan dengan sesuai. Dari semua hal tersebut, apa yang sangat penting dari waktu yang amat panjang adalah untuk menyiapkan para makhluk penghuninya.
Memberikan mereka waktu untuk memahami bahwa dunia tidaklah ramah. Belajar tentang keterbatasan dalam ketidakterbatasan, kemampuan dalam ketidakmampuan, lalu membiarkan mereka mencapai berbagai macam potensi.
Untuk bisa menyeberang ke tingkat dimensi yang lebih tinggi sebagai makhluk hidup.
Oleh karena itulah, penciptaan Dunia Selanjutnya adalah hal yang sangat menyimpang dari siklus yang seharusnya terjadi.
Dalam kedaan prematur, segala yang ada di dunia ditata ulang di antara lautan energi. Menimpa bentuk yang seharusnya tercipta secara alami dengan informasi Dunia Sebelumnya, lalu membentuk hal tersebut dengan sesuka hati.
Sebuah kerusakan besar karena keegoisan dari satu individu dari Dunia Sebelumnya.
Jika dilihat dari sudut pandang mereka yang ada di Dunia Selanjutnya, apa yang dilakukan oleh sang Dewi Penata ulang adalah bentuk penjajahan.
Memang ia memberikan pengetahuan, hak, kemampuan untuk tumbuh dan berkembang biak, serta bahkan kekuasaan atas makhluk lainnya.
Namun, itu hanyalah sebuah skema kekuasaan untuk mempertahankan kendali sang Dewi Penata Ulang atas dunia.
Menyusun bidak dan anak tangga, lalu memerintah dari atas untuk mewujudkan kepentingannya sendiri. Layaknya penguasa tirani yang tidak pernah sedikitpun memperhatikan rakyat, ia selalu berpikir bagaimana untuk mempertahankan negeri yang didudukinya.
.
.
.
.
“Jika memang seperti itu, sebaiknya semua yang ada di dunia ini tercipta kembali dari awal. Sesuai dengan bentuk yang semestinya. Meski itu lebih berisi penderitaan, paling tidak hal tersebut adalah hasil dari pilihan mereka sendiri. Bukan sesuatu yang ditentukan oleh sosok asing.”
Mengakhiri segala yang ada, lalu dalam satu titik memulai segalanya dari awal. Paling tidak, itulah yang Kaisar Kedua pahami tentang alur dari siklus dunia.
Dalam hidup yang seakan tanpa akhir, gadis dengan kehidupan abadi tersebut mewarisi berbagai macam pengetahuan dari dunia sebelumnya.
Meski tidak lengkap, ia tahu bahwa bentuk dunia yang ada sekarang sangatlah tidak tepat. Sebab kasta dari tiap makhluk hidup dibagi secara mutlak, tanpa ada hak untuk menilai mereka secara individu dan memberikan kesempatan yang setara.
Monster lebih rendah dari mortal dan makhluk berakal lainnya.
__ADS_1
Entitas ilahi adalah sosok agung dan patut untuk disembah.
Roh adalah sosok mulia.
Iblis mewakili kejahatan, sedangkan dewa-dewi adalah kebaikan.
Seakan tidak bisa diubah, ketentuan tersebut telah digariskan sejak awal. Tanpa bisa menilai secara individu, hanya melihat siapa mereka dan dari mana berasal.
Meski menjadi salah satu makhluk terkuat di Dunia Nyata, Kaisar Abadi telah memahami keputusasaan dan ketidakberdayaan yang sesungguhnya.
Merenung dan terus merenung, tetap berusaha untuk meraih satu harapan yang tersisa di dunia.
Ibukota Kekaisaran, Magetsu. Pada kota yang menjadi jantung Kekaisaran Urzia, sebuah kuil besar berdiri di tengah-tengah kota. Menjadi simbol kekuasaan, kemegahan, dan kekayaan dari salah satu negeri paling tua di Daratan Michigan.
Bangunan tersebut terbuat dari susunan kayu kukuh yang dicat merah kirmizi, disangga oleh pilar-pilar raksasa, dan berdiri tegak setinggi belasan lantai di antara semua bangunan yang ada di Magetsu.
Nyala lentera mewarnai saat hari sampai di depan pintu malam, mendominasi kota dengan gemerlap kemerahan. Seakan-akan itu dibuat untuk menyaingi gugusan bintang yang mulai bermunculan di langit gelap
Lalu-lalang penduduk yang padat, terdiri dari pelancong, pedagang, penduduk lokal, dan para prajurit. Seakan tanpa mengenal arti dari sebuah malam untuk beristirahat, mereka tampak ramai di jalan-jalan utama kota yang tidak pernah tidur tersebut.
Secara geografis, Magetsu terletak Provinsi Leilei. Namun dalam hal administrasi, itu diatur secara terpisah dalam susunan pemerintahan Kekaisaran. Menjadi daerah istimewa dengan kebijakan yang independen, sekaligus menjadi tempat tinggal dari Kaisar Kedua yang dikenal sebagai pemimpin abadi.
Kota Suci, Kota Purnama, Kota Kaisar, Kota Abadi ⸻ Dalam sejarah, setiap generasi memanggil tempat tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Mengekspresikan apa yang mereka lihat di masa itu, lalu melambangkan bentuk kebijakan yang diterapkan kepada mereka.
Dari semua nama yang pernah digunakan untuk menyebut Ibukota Kekaisaran, hanya Magetsu yang selalu dipakai secara menyeluruh pada setiap generasi. Magetsu sendiri berasal dari dua kata, yaitu “Ma” dan “Getsu”.
“Ma” diambil dari kata “Akuma” yang bisa berarti Iblis. Lalu, “Getsu” sendiri berarti Bulan dan bisa juga dibaca “Tsuki”. Dalam pemahaman masyarakat Kekaisaran, penamaan tempat tersebut diartikan sebagai Kota Bulan yang Mengusir Iblis.
Namun pada kenyataan, sang Kaisar Kedua memberikan nama itu dan membangun tempat tersebut bukanlah untuk hal seperti itu.
“Getsu” dalam nama “Magetsu” memang berarti Bulan. Namun, itu lebih merujuk untuk menyampaikan waktu. Dengan kata lain, nama “Magetsu” sendiri dapat diartikan sebagai Bulan Iblis. Sebuah bulan (untuk) para iblis. Tentu saja tidak ada yang tahu makna lain dari nama tersebut, kecuali Kaisar Kedua sendiri.
Meski tempat tersebut berada pada lantai tertinggi dari kuil yang berdiri di pusat Kota Magets, dinding ataupun jendela tidak terdapat di sana. Hanya ada pilar-pilar yang menyangga di pinggiran, lalu gorden transparan yang menjadi pembatas di setiap sudut ruangan.
Lantai terbuat dari kayu mengkilap, tampak kukuh meski telah berumur tua. Pencahayaan hanya bersumber dari lilin minyak pada cawan kecil yang diletakkan di setiap pilar, memberikan kesan remang-remang yang kuat pada tempat sunyi tersebut.
Merah seakan menjadi warna utama, dekorasi tidak sampai ke kesan mewah untuk sebuah tempat tinggal dari pemimpin negeri. Namun, beberapa ornamen seperti lonceng dan kain merah yang digantung bergelombang seakan membawakan kesan mistis.
Duduk bersimpuh di atas bantal tipis, perempuan rambut hitam tersebut memejamkan mata. Tanpa bisa menikmati ketenangan yang ada.
Rupa yang tampak pada dirinya seakan mengkhianati sang waktu, aura yang terpancar melambangkan kematian, dan hitam rambutnya yang terurai sangat panjang menjadi sebuah kegelapan itu sendiri.
Ialah Kaisar Kedua, Cai Zi Shou Mao Naraka. Sosok Gadis Abadi sekaligus pemimpin tertinggi dari Kekaisaran.
Paras yang terjebak dalam tubuh gadis yang tampak berusia belasan tahun, berbalut Kimono berwarna hitam dengan aksen bunga sepatu. Wujud tersebut begitu menyimpang, terutama dari usia aslinya yang telah mencapai dua ribu tahun lebih.
Perlahan membuka mata merah darah, sorot yang diperlihatkan seakan menyampaikan kesedihan yang dalam. Namun, mimik wajah sama sekali tidak berubah dan hanya menampakkan kekosongan.
Angin malam bertiup masuk, membuat gorden dan kain-kain yang digantung bergelombang. Namun tanpa bisa menyentuh tubuh sang Kaisar, hembusan dingin lenyap seketika seakan dihalau oleh sesuatu.
“Malam ini sangat berangin …. Apakah di selatan sedang badai? Semoga mereka bisa menjalankan tugas tersebut dan membawa Unsur Hitam tanpa ada masalah ….”
Mao Naraka perlahan bangun, menatap lurus dengan mata setengah terbuka dan mulai melangkah ke depan. Rambut hitam panjang terseret di lantai, bersama kain pakaian yang dikenakan. Langkah kaki tanpa alas, begitu anggun dan pelan di atas permukaan kayu.
Melewati gorden transparan dan berdiri di teras, ia pun berdiri di dekat panggar pembatas. Melihat ke arah kota yang gemerlap, lalu sekilas memejamkan mata dan menghembuskan napas dengan pelan.
Asap putih terang keluar dari mulut, bergerak dalam sebuah irama dan membentuk sebuah tulisan singkat di udara. Menyentuh itu dengan ujung telunjuk, asap dengan cepat memusat menjadi gumpalan dan melayang ke langit. Menghilang ditelan gemerlap bintang.
“Andai saja waktu itu diriku ini berhasil membawanya, mungkin peperangan ini tidak perlu terjadi …. Kenapa selalu saja seperti itu? Di saat penting, diriku tak bisa mengambil keputusan yang tepat dan selalu melalui jalan memutar yang terjal.”
__ADS_1
Sang Kaisar mengulurkan kedua tangan ke depan, membiarkan angin malam menerpa tubuhnya dan rambut pun bergelombang layaknya laut malam. Wajah pucat perempuan itu perlahan berubah sangat sedih, seakan-akan memendam sesuatu yang tidak dirinya inginkan.
“Sosok tak bernama ⸻ Oh, Wahai Kekasih Tak Bernama. Apakah hal ini sudah benar? Apakah tindakan yang diriku ini ambil sudah tepat untuk engkau?”
Mata berkaca-kaca, memperlihatkan wajah lelah dari merindukan seseorang.
Lalu, air mata pun mengalir perlahan membasahi pipi pucat. Ia sejak awal memang sudah bertekad dan telah melakukannya selama lebih dari seribu tahun. Namun, waktu yang sangat panjang tersebut bukanlah sesuatu yang bisa membuatnya tegar.
Kaki seketika lemas saat kegelisahan menguasai benak. Rasa ragu seakan bayang-bayang kegelapan, merebut semua keberanian dan tekad yang ada dalam benak perempuan bertubuh kecil tersebut.
Terduduk lemas di lantai dengan kedua kaki terlipat ke belakang, perempuan itu hanya bisa memperlihatkan wajah pasrah. Meski seharusnya ia memiliki kekuatan yang luar bisa dan bisa mempermainkan kehidupan semua mortal.
Meneteskan air mata dalam keraguan, tersedu dalam kegelisahan. Dengan pasti tekad yang dipertahankan sealam ribuan tahun seakan runtuh, mulai tidak mempercayai kebenaran dari apa yang telah dirinya lakukan selama ini.
Meski seharusnya rasa seperti itu telah dirinya lupakan sejak lama, malam seakan menjadi pemanggil yang menarik semua itu keluar dari benak. Bintang-bintang menjadi penonton, seakan-akan sedang menertawakan dalam gemerlap mereka di hamparan podium hitam.
“Waktu melimpah memang pernah diriku miliki. Namun ketika momen seperti ini menghampiri, mengambil keputusan selalu menjadi hal yang berat dan menyesakkan. Persiapan telah matang, tetapi semua yang ada hanyalah kepastian dari langit. Sebuah harmoni layaknya alat musik yang dimainkan dalam pentas. Itu tidak bisa menandingi ketidakpastian, sesuatu yang penuh dengan kemungkinan tak terbatas ....”
Air mata berhenti mengalir. Kembali mendongak dan melihat langit penuh gugusan bintang, ia mengulurkan kedua tangan ke atas dan berkata, “Wahai gugusan bintang yang saling berbisik, mencuri rahasia para dewa dan membagikannya kepada makhluk. Ungkapkan lah semuanya, sampaikan dan perlihatkan! Semua rahasia yang disembunyikan mereka yang ada di langit!”
Waktu untuk sesaat seakan berhenti untuk sang Kaisar. Secara penuh, bola mata perempuan tersebut merefleksikan gugusan bintang. Membaca pergerakan mereka di langit gelap, lalu dalam hitungan detik menyampaikan sebuah pesan kepadanya. Sebuah kepingan dari masa depan yang telah ditentukan dari masa lalu.
Gambaran yang akan terjadi dalam waktu dekat, beberapa takdir yang akan dilalui, serta sebuah ungkapan yang akan didengar. Itu semua adalah erangan lautan kehidupan yang akan terlahir dan akan berakhir, sebuah kekacauan yang lahir dari perang yang akan segera datang.
Nujum, itulah bagaimana orang-orang di masa lalu menyebutnya. Ramalan bintang di mana para malaikat pembawa kabar dihentikan oleh iblis-iblis, lalu mencuri berita dari para makhluk kayangan tersebut untuk mereka tafsirkan sendiri dan dibagikan kepada para makhluk.
Sang Kaisar memang berhasil mendapatkan ramalan lain dalam malam berbintang. Namun, itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Karena di antara para mortal ada juga yang memiliki kemampuan meramal dengan berbagai macam cara.
Hal tersebut bisa dengan mudah memengaruhi hasil penerawangan, lalu berubah-ubah layaknya hamparan lumut pada permukaan danau.
Jika hari ini berhasil meramalkan besok lusa akan menjadi cerah, belum tentu saat besok meramal hasil yang sama akan keluar. Karena itulah, hasil dari ramalan haruslah bisa ditafsirkan sendiri oleh penerima. Untuk bisa menentukan hasil yang sesungguhnya.
Meskipun hasil utama dari sebuah ramalan tidak akan berubah karena ketentuan yang telah digariskan oleh sang Penata Ulang, namun proses untuk mencapainya selalu berubah-ubah. Layaknya sebuah sungai yang bisa bercabang-cabang, semua aliran mengarah ke tempat yang lebih rendah.
Namun, ada kalangan aliran-aliran tersebut bisa saja terhenti tanpa bisa mencapai tujuan akhir. Dengan kata lain, orang yang telah ditakdirkan pun memiliki kemungkinan tidak bisa mencapai takdirnya. Hanya takdir-takdir besar sajalah yang menjadi suatu kepastian.
“Aliran sungai selalu bercabang dan berliku, menuju sumber semua kehidupan di laut lepas. Memberikan kehidupan, berkah, dan bahkan musibah selama perjalanan. Namun, ada juga mereka kalangan yang serakah membuat bedungan dan menghentikan aliran. Membuat kekeringan, kelaparan, dan kerusakan di tempat lain. Meski memahaminya, mereka tidak akan belajar atas kesalahan dan berkata itu demi kebaikan lebih banyak orang ….”
Berhenti mengulurkan kedua tangan, Kaisar Kedua mendekap dirinya sendiri dan termenung dalam malam sunyi. Hembusan angin menerpa, tanpa membawakan satu pun suara dari kota yang ramai. Seakan-akan tempat tersebut mengisolasi sosok sang Deity.
“Apakah ini sudah tepat? Apakah pengorbanan ini masih diperlukan meski sosok yang engkau harapan telah datang, wahai kekasih tuaku?”
Seakan ingin menjawab rasa bingung dan kegelisahan sang Kaisar, tiba-tiba satu bintang di langit jatuh dari gugusan. Itu sentak membuat Kaisar mengangkat wajah dan terkejut, sebab ramalan yang baru saja dirinya dapatkan tentu akan berubah karena itu.
Tepat beberapa detik setelah satu bintang pergi dari tempat, puluhan sampai ratusan lain mengikuti dan mulai keluar dari gugusan mereka. Bergerak dengan kacau, seakan-akan ingin menghindari sesuatu yang menakuti mereka. Namun, itu hanya berlangsung sesaat saja.
Layaknya ingin menyampaikan pesan, gugusan bintang tersebut mulai membuat gerakan secara teratur. Berjajar dengan rapi dan membuat sebuah simbol Khanda di langit dalam beberapa detik. Setelahnya, itu semua berubah lagi menjadi susunan bintang seperti di awal. Tentu saja dengan satu yang telah pergi dari tempat.
Tidak bisa dibaca ⸻ Itulah yang Kaisar rasakan saat melihat perubahan tersebut. Meski hanya satu yang lepas dari tempat, namun susunan bintang di langit seakan tidak mau menjawab rasa penasaran Kaisar.
Sebuah bilangan tak terhingga muncul dari hasil perhitungan Nujum. Membuat sang Kaisar teringat dengan salah satu pesan yang ditinggalkan sosok tak bernama di masa lalu.
“Jika dunia diumpamakan sebagai satu, maka Unsur Hitam yang akan membaginya dengan nol. Menghasilkan sesuatu yang tak bisa didefinisikan, keluar dari kaidah dunia yang telah ditentukan oleh langit. Selain menghasilkan sesuatu yang tidak terhingga. Nol akan memberikan batas antara baik dan buruk, ia akan memberikan kejelasan dalam ketidakpastian. Nol akan membuat segalanya menjadi sederhana, membuat kecil menjadi besar dan besar menjadi kecil ….”
Perkataan panjang tersebut dengan sendirinya keluar dari mulut sang Kaisar. Ia dengan segera kembali bangun, berdiri sampai memegang pagar pembatas dengan tangan kiri dan merentangkan tangan kanan ke langit. Memperlihatkan ekspresi dipenuhi kebahagiaan, melepas kerinduan yang ia pendam dalam waktu lama.
“Oh …. Oh …! Oh! Apakah ini jawaban yang engkau berikan? Apakah langit juga telah menyadarinya, ketidakmungkinan untuk menahan faktor kemungkinan Unsur Hitam? Inikah yang engkau harapan, wahai sosok tak bernama?!”
ↈↈↈ
\============
Catatana Kecil :
Fakta 038: Sejauh ini, sesutu yang bisa menembus berbagai macam tingkat dimensi adalah gravitasi. Karena itulah, waktu juga terpengaruh.
__ADS_1