Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[99] Angelus IV – Magenta Warmth (Part 02)


__ADS_3

 


 


Melihat tingkah mereka berdua, Arca yang duduk pada satu meja hanya bisa menatap bingung. Putra Sulung Keluarga Rein tersebut tahu bahwa perempuan rambut biru yang datang bersama Odo adalah Roh Agung. Ia sudah beberapa kali melihatnya, terutama saat Pesta Pertunangan.


 


 


Tetapi, tetap saja Arca merasa janggal dengan apa yang dirinya lihat sekarang. Roh Agung pada dasarnya tidak bisa berkeliaran dengan bebas tanpa struktur khusus untuk mempertahankan keberadaannya di Dunia Nyata. Karena itulah, situasi sekarang sangatlah janggal di mata siapa pun yang pernah mempelajari Sihir Roh.


 


 


Sembari memikirkan hal tersebut dan mencari tahu rahasianya, Arca dengan sendirinya berkata, “Berapa kali melihatnya, hal itu memang mengagumkan.”


 


 


“Eng? Mengagumkan?” Odo menoleh layaknya ikan yang terpancing. Sedikit memasang senyum mesum, pemuda rambut hitam tersebut memastikan, “Maksudmu tentang Vil?”


 


 


“Ya, memangnya siapa lagi?!” ketus Arca.


 


 


“Yah, dia memang luar biasa.” Odo meletakkan tangan kanan ke dagu. Semakin melebarkan senyum mesum, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Dari semua perempuan yang pernah aku temui, dia pemilik kaki yang paling indah.”


 


 


“Eh?” Arca seketika terkejut.


 


 


“Ah⸻!” Odo ikut terkejut, tak sengaja mengungkapkan fetis di hadapan semua orang di tempat tersebut. Seakan ingin membuat pembicaraan mengalir, Putra Tunggal Keluarga Luke menyangga kepala dan mengelak, “Itu benar, mempertahankan Roh Agung memang sulit jika tanpa struktur khusus. Aku hanya sedikit mengubah komposisi keberadaan Vil supaya bisa menjalin kontrak dengannya.”


 


 


Meski memberikan penjelasan, itu bukan berarti perkataan aneh sebelumnya lenyap begitu saja. Baik itu Arca, Elulu, Nanra, atau para pegawai lain di tempat tersebut, mereka memberikan tatapan datar setelah tahu selera aneh Putra Tunggal Keluarga Luke.


 


 


“Ternyata Odo mesum juga,” ujar Vil seraya kembali menggunakan sihir melayang.


 


 


Duduk di atas meja seakan dirinya tidak kapok, Roh Agung tersebut melempar senyum tipis layaknya seorang ratu. Merasa telah memegang salah satu kelemahan Odo Luke.


 


 


Meski Vil mengenakan cadar, Odo dengan jelas melihat senyuman tersebut. Memperlihatkan kebahagiaan dengan begitu jelas, sampai-sampai tampak pada wajah yang tertutup kain.


 


 


“Gawat nih Roh Agung, sepertinya sudah enggak tertolong,” benak Odo seraya menatap datar.


 


 


Untuk beberapa saat, Putra Tunggal Keluarga Luke mengira perubahan sifat tersebut terjadi karena isi tingkat kontrak yang diganti secara sepihak. Namun setelah kembali mengamati ekspresi senang sang Roh Agung, ia segera menghapus kemungkinan tersebut. Paham bahwa itu disebabkan oleh hal lain.


 


 


Berusaha untuk tidak meladeni Vil dan fokus ke tujuan awal pembicaraan, Odo Luke segera menatap ke arah Arca yang duduk di seberang meja. Berhenti menyangga kepala dan duduk dengan tegak, Putra Tunggal Keluarga Luke menggunakan Spekulasi Persepsi secara luas untuk mengambil beberapa kesimpulan.


 


 


Iris mata Odo sekilas berubah hijau, tanda bahwa sebuah kesimpulan didapatkan. Setelah menarik napas ringan, ia menunjuk Arca sembari bertanya, “Kau sudah menjalankan semua agenda yang aku berikan? Atau … malah sengaja melewatkan beberapa agenda?”


 


 


Pertanyaan tersebut merupakan jembatan untuk masuk ke topik utama, dan Arca menangkapnya dengan sangat baik. Sejenak menyingkirkan rasa kesal, bingung, dan selusin pertanyaan yang ingin dirinya ajukan, Putra Sulung Keluarga Rein balik menatap tajam.


 


 


“Ada beberapa agenda yang sengaja diriku lewati,” jawab Arca jelas. Meletakan kedua tangan ke atas meja, pemuda rambut pirang kecokelatan tersebut balik bertanya, “Lagi pula, kamu sengaja membuat jadwal tidak manusiawi itu supaya aku bisa memilih, bukan?”


 


 


“Tepat, aku sengaja membuat agenda sebanyak itu supaya kau bisa memilih.” Odo berhenti menunjuk. Meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan, Putra Tunggal Keluarga Luke menjelaskan, “Itu salah satu ujian untukmu. Memilih dari daftar agenda mana yang lebih menjadi prioritas, memilah mana yang mungkin dicapai dan tidak, lalu menetapkan semua pilihan yang ada untuk dipertimbangkan dalam waktu yang terbatas. Semua itu adalah cara untuk menilai manajemen milikmu.”


 


 


Meski bisa menebak bahwa Odo sengaja membuatnya memilih dari agenda yang ada, Arca tidak berpikir sampai sejauh itu. Ia memalingkan pandangan, lalu perlahan memperlihatkan wajah cemas. Arca benar-benar bingung karena Putra Tunggal Keluarga Luke bicara seakan tak masalah jika banyak hal dari agenda tidak tercapai.


 


 


“Berarti … kamu tidak masalah jika diriku gagal?” tanya Arca memastikan.


 


 


Odo tersenyum tipis saat mendengar hal tersebut. Menatap ke arah Elulu yang berbaris dengan pegawai lain di sudut ruang, Putra Tunggal Keluarga Luke menyambungkan telepati secara satu arah menggunakan Radd Sendangi.


 


 


“Tolong tutup pintunya dulu, lalu beritahu para pelanggan kalau toko buka lebih siang dari biasanya,” suara Odo menggema di dalam kepala Elulu.


 


 


Perempuan rambut pirang kecokelatan tersebut sedikit tersentak, memperlihatkan ekspresi bingung karena telepati tiba-tiba bisa terhubung kembali dengan Odo.


 


 


Sembari berjalan ke arah pintu untuk melaksanakan perintah itu, perempuan rambut kepang tunggal tersebut bergumam, “Gelombang otaknya berubah. Kalau diamati lagi, hawa keberadaan Tuan Odo juga sangat berbeda dari sebelumnya ….”


 


 


Meski memiliki keraguan dan kecurigaan dalam benak, Elulu memilih untuk tidak bertanya. Memegang gagang pintu dan hendak keluar, ia sejenak terdiam dan malah kembali menoleh ke dalam dengan rasa penasaran yang kuat.


 


 


Perubahan gelombang otak, itulah yang membuat kemampuan Radd Sendangi milik Elulu tidak bisa melacak Odo selama ini. Memahami hal itu dengan sangat baik, perempuan rambut kepang tunggal tersebut semakin heran. Bertanya-tanya bagaimana Putra Tunggal Kelurga Luke bisa mengubah gelombang otaknya sendiri.


 


 


“Sudahlah, lagi pula itu bukan sesuatu yang bisa diriku pahami.”


 


 


Elulu menyerah untuk mencari tahu. Pada dasarnya, pemahaman seorang Native tentang hal rumit seperti itu hanya dalam ranah kemampuannya sendiri. Meski perempuan rambut kepang tunggal tersebut sangat tahu konsep telepati Radd Sendangi, namun itu bukan berarti dirinya memahami seluk-beluk gelombang otak makhluk hidup.


 


 


Elulu melangkah keluar, lalu menutup pintu toko rapat-rapat dari luar. “Kami mohon maaf sebesar-besarnya, para pelanggan sekalian. Hari ini toko akan buka lebih siang dari biasanya, tolong tunggu sebentar lagi,” ujarnya kepada pelanggan yang mengantre.


 


 


Setelah memperpanjang batasan waktu pembicaraan, Odo segera menatap tajam Arca dan sekali lagi bertanya, “Kau sudah paham ini ujian dariku, bukan? Kalau begitu, boleh aku memberikan penilaian dengan beberapa pertanyaan? Supaya diriku bisa memastikan kualitas manajemen milikmu?”


 


 


Arca langsung memasang ekspresi sombong, tidak sadar bahwa persepsinya sedang dikendalikan Odo untuk melupakan semua pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya. Ia benar-benar dipenuhi rasa percaya diri, sampai senyum lebar tidak bisa lepas dari wajahnya.


 


 


Menggebrak meja satu kali, Putra Tunggal Keluarga Luke menjawab, “Tentu saja! Seumur hidup, ini kedua kalinya diriku bekerja sekeras ini!”


 


 


Odo tidak bertanya lebih dalam tentang hal yang dibanggakan Arca. Seakan telah mengetahui hal tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke memastikan, “Jika dibandingkan dengan yang pertama, sekarang ini kau harus mempertimbangkan akibat dari tindakan dan cara pandang orang lain. Ini tentu lebih sulit dan membuat stress, bukan?”


 


 


Arca seketika tersentak, ekspresi percaya diri luntur dalam hitungan detik dan digantikan cemas. Bersama keringat dingin yang mulai keluar, wajahnya pun sedikit memucat.

__ADS_1


 


 


Itu tepat seperti yang dikatakan Odo. Waktu Arca mengacau di Wilayah Rein dengan membersihkan para koruptor, ia sama sekali tidak memedulikan persepsi bangsawan lain atau akibat yang ada setelahnya. Hanya melakukan semua hal tersebut dengan sesuka hati, untuk mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan dalam benak.


 


 


Merasakan ada yang berbeda dari ujian yang telah diberikan oleh Odo, Putra Sulung Keluarga Rein semakin cemas. Merasa takut jika menginjak sesuatu yang menjadi ranjau dalam ujian yang telah dilalui.


 


 


“Memangnya … standar apa yang kamu gunakan?” tanya Arca memastikan.


 


 


“Entahlah, kita sekarang akan membahasnya.” Odo tidak menjawab hal tersebut. Menarik napas dalam-dalam, ia malah mulai mengajukan pertanyaan, “Salah satu agenda yang aku berikan adalah pembangunan rumah susun untuk imigran gelap, lalu memanfaatkan mereka untuk sumber daya manusia. Dalam agenda tersebut, apa kau melakukannya sesuai dengan alur yang aku buat?”


 


 


“Secara pribadi, diriku juga menganggap agenda tersebut sangat penting.” Arca menarik napas dalam-dalam, menyusun inti kalimat di dalam kepala dan menyampaikan, “Memang mereka hanya bisa menjadi tenaga kasar. Namun, bagi perusahaan yang beru berdiri seperti Ordoxi Nigrum, hal tersebut sangatlah diperlukan. Sebab itulah, agenda tersebut menjadi salah satu prioritas di mataku.”


 


 


“Jadi ….” Odo merasa itu tidak menjawab pokok pertanyaan. Meletakan tangan ke atas meja dan menyangga kepala, Putra Tunggal Keluarga Luke sekali lagi memastikan, “Apa kau melakukannya sesuai alur yang aku buat?”


 


 


“Diriku sudah membeli bahan bangunan, menyewa tukang, dan memulai pembangunan di tanah yang sudah kamu tetapkan. Hanya saja ….” Arca sedikit memalingkan pandangan. Dengan rasa sedikit ragu, Putra Sulung Keluarga Rein kembali berkata, “Untuk imigran gelap dan tanda kependudukan, jujur itu bukanlah hal yang mudah ditangani. Selain butuh waktu untuk membujuk mereka bekerja untuk perusahaan ini, membuat tanda kependudukan untuk mereka bukanlah hal yang mudah diproses. Meski menggunakan pengaruh sebagai Knight sekalipun, diriku sulit untuk menembus peraturan pemerintah yang ada.”


 


 


“Untuk tanda kependudukan tidak masalah, aku sendiri memang berniat mengurus itu nanti jika kau tidak berhasil.” Odo berhenti menyangga kepala. Sedikit memalingkan wajah ke sudut ruang, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berkata, “Namun, tidak aku menyangka kau kesulitan para imigran. Meski telah dibantu Totto dan yang lain, tetap sulit ya membujuk mereka? Paling tidak satu atau dua orang saja dulu.”


 


 


“Sebagian dari mereka memang mau bekerja untuk perusahaan ini, namun ….” Arca sejenak menghela napas panjang. Dengan penuh rasa resah, pemuda rambut pirang kecokelatan tersebut menambahkan, “Sayangnya orang-orang buangan itu takut dijebak oleh kalangan atas lagi. Katanya sih dulu ada beberapa orang pemerintah yang menawarkan rumah kepada mereka dalam biaya tertentu, namun pada akhirnya tidak jadi dibangun sampai sekarang.”


 


 


“Kau tahu siapa orangnya?” tanya Odo memastikan.


 


 


“Sayang sekali tidak. Kalau dicari lebih lanjut, aku bisa saja tahu siapa orangnya. Hanya saja ….” Arca menggelengkan kepala. Sesaat mengangkat kedua sisi pundak, ia dengan kesal kembali menyampaikan, “Kamu sendiri tahu waktunya terbatas, ‘kan? Karena itu diriku mengesampingkan masalah tersebut terlebih dulu.”


 


 


“Itu benar, memang buang-buang waktu jika diurus sampai akhir.”


 


 


Odo mengangguk, merasa keputusan tersebut sudah tepat. Sejenak terdiam dan mengolah beberapa informasi yang telah ada, ia teringat dengan salah satu arsip pemerintahan Kota Mylta yang pernah dibacanya.


 


 


Meski itu bukan dokumen penting dan hanya tersimpan di perpustakaan kota, namun tetap saja hal tersebut menyatakan tentang sebuah pembangunan infrastruktur. Memiliki anggaran tertentu untuk penanganan imigran gelap.


 


 


“Kalau penawaran yang gagal itu berasal dari pemerintah, apa berarti dia yang mengurusnya? Kalaupun benar, paling tidak seharusnya orang tua itu mengembalikan uang para imigran gelap, ‘kan? Kenapa malah disimpan sendiri?” gumam Odo.


 


 


Arca samar-samar mendengar perkataan Odo. Menatap datar dan meletakkan kedua tangan ke atas meja, Putra Sulung Keluarga Rein memastikan, “Apa kamu tahu siapa yang menipu mereka? Kalau pejabat, berarti yang mengajukan hal seperti itu pemerintah Mylta sendiri, bukan?”


 


 


“Kemungkinan besar ..., iya.”


 


 


Odo menghela napas ringan. Merasa tidak penting untuk mencari pelakunya sekarang, ia lebih memilih untuk menyisihkan masalah tersebut. Sebab masih banyak hal yang perlu dibahas sekarang.


 


 


 


 


“Manfaatkan?” Arca seketika menyeringai tipis, merasa sangat cocok dengan bidang seperti itu.


 


 


“Iya.” Odo mengangguk sekali. Mengacungkan telunjuk ke depan, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali menyampaikan, “Kau bebas menekan, mengancam, mengintimidasi, atau bahkan memerasnya. Namun, tolong jangan sampai kau merusaknya. Soalnya mungkin dia adalah orang yang cukup penting di Mylta. Dilihat dari rencana pembangunan yang gagal, kemungkinan besar orang itu juga memiliki wewenang yang cukup tinggi.”


 


 


“Siap! Intinya! Kalau sudah tertangkap, aku bebas memanfaatkannya, bukan?!”


 


 


Arca sama sekali tidak berniat menahan diri, dari wajahnya Odo langsung mengetahui hal tersebut. Menghela napas sejenak dan berhenti mengacungkan telunjuk, Putra Tunggal Keluarga Luke memikirkan agenda lain yang akan dibahas.


 


 


Sadar belum memastikan agenda apa saja yang telah dikerjakan, Odo menajamkan tatapan dan langsung bertanya, “Ngomong-omong, apa saja yang telah kau kerjakan selama seminggu ini?”


 


 


“Apa saja? Tentu saja banyak sekali!” jawab Arca singkat. Ia melipat kedua tangan ke depan, lalu memasang mimik wajah kesal seakan enggan menjelaskannya secara rinci.


 


 


“Ya, aku tahu itu.” Odo menarik napas ringan dan berusaha memahami rasa kesal Arca. Berusaha memilih kalimat dengan baik, ia sekali lagi bertanya, “Dari semua agenda yang aku berikan, apa saja yang telah kau kerjakan? Lalu, apa saja yang sengaja kau lewatkan?”


 


 


“Eng ….” Arca memalingkan pandangan dengan bingung, sebab terlalu banyak hal yang telah dikerjakan selama lebih dari satu minggu terakhir. Menyusun semua hal tersebut di dalam kepala, ia kembali menatap lawan bicara dan menjawab, “Pertama agenda tentang pembangunan rumah susun dan imigran gelap itu ….”


 


 


“Hmm, kau menanganinya dengan baik.”


 


 


“Selanjutnya, tentang kerja sama dengan Aliansi Samudera Majal,” ujar Arca seraya mengangkat telunjuk tangan kanan ke depan.


 


 


Mendengar agenda tersebut, Odo Luke tidak mengubah ekspresi wajahnya. Duduk dengan posisi tegap, lalu hanya menatap lurus menunggu penjelasan yang akan diberikan oleh lawan bicara.


 


 


Ditunggu seperti itu, Arca sejenak merasakan firasat tidak menyenangkan. Menarik napas dalam-dalam dan berhenti mengangkat telunjuk, ia memilah kalimat dengan penuh hati-hati untuk melaporkan hasil kegiatan.


 


 


“Dalam agenda tersebut, diriku sudah menjalin kerja sama dagang dengan mereka.” Arca meletakkan kedua tangan ke atas meja. Menatap serius lawan bicara, Putra Sulung Keluarga Rein memastikan, “Kerja sama yang kamu sarankan itu …, tujuannya untuk membangun jalur perdagangan dengan Kerajaan Ungea, bukan? Dengan menggunakan Aliansi Samudera Majal sebagai perantara. Lalu, membuka kegiatan impor dan ekspor barang yang hanya bisa didapat dari Negeri Padang Pasir tersebut?”


 


 


“Tepat!” Odo mengangguk sekali sebagai tanda puas, merasa bahwa agenda yang diprioritaskan Arca sudah tepat.


 


 


“Kalau tidak salah, hal tersebut juga ada kaitannya dengan ekspedisi yang sedang dilakukan pemerintah Mylta, bukan?” Arca merasa ada yang janggal dengan reaksi Odo yang terkesan datar. Ingin sedikit menguak rahasia yang disembunyikan olehnya, Putra Sulung Keluarga Rein kembali menyampaikan, “Sejauh yang diriku tahu, hal tersebut ada kaitannya dengan hasil tambang dari Rockfield. Banyak pedagang dari Aliansi Samudera Majal yang membicarakan hal tersebut, kata mereka itu akan menjadi peluang bisnis yang besar.”


 


 


“Hmm ….” Odo memasang senyum tipis. Sembari meletakkan tangan kanan ke dagu, ia mempertimbangkan beberapa hal terlebih dahulu. Ingin tetap berpura-pura baru mengetahui hal tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke hanya berkata, “Sepertinya memang saling berkaitan.”


 

__ADS_1


 


“Membuka ekspor Biji Besi Khusus dari Kota Pegunungan,” ujar Arca menekan. Menatap tajam dan merasa persoalan tersebut cukup vital bagi perekonomian Wilayah Luke, Putra Sulung Keluarga Rein dengan tegas memastikan, “Apa benar itu yang ingin mereka lakukan?”


 


 


“Jika dipikir kembali, sepertinya itu yang ingin mereka lakukan.” Odo sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi cemas ataupun terkejut, seakan-akan dengan dibukanya kegiatan ekspor Biji Besi Khusus dipastikan akan membawa keuntungan. Tidak ingin membahas hal tersebut secara mendalam, Putra Tunggal Keluarga Luke lanjut bertanya, “Terus, selain itu apa lagi?”


 


 


Arca sejenak terdiam, merasa Odo terlalu terburu-buru dan kurang menjelaskan tujuan sebenarnya dari agenda-agenda yang telah dilakukan. Sejenak menarik napas dan berusaha menahan rasa penasaran, Putra Sulung Kelurga Rein hanya membunyikan lidah sebagai tanda kesal.


 


 


“Selanjutnya tentang kerja sama dagang lagi, kali ini dengan Sekte Dagang Teratai Danau dari Kekaisaran,” ujar Arca dalam ekspresi tidak nyaman. Meletakkan siku kiri ke atas meja dan menyangga kepala dengan punggung tangan, Putra Sulung Keluarga Rein menjelaskan, “Berbeda dari orang-orang Kerajaan Ungea, jujur saja mereka cenderung lebih pasif dalam hal membuat kerja sama dagang. Kesannya seperti cari aman setelah kejadian penyerangan monster sebelumnya.”


 


 


“Pasif dan lebih cari aman, ya?” Odo memalingkan pandangan ke sudut ruangan, seakan-akan dirinya benar-benar tidak tahu akan hal tersebut. Menurunkan kedua tangan ke atas pangkuan dan kembali menatap lawan bicara, pemuda rambut hitam tersebut menyampikan, “Mereka pasif karena sedang menunggu jalur dagang darat terbuka lagi. Setelah rombongan ekspedisi kembali ke Mylta, mungkin kelompok pedagang dari kekaisaran itu akan aktif melakukan pergerakan.”


 


 


“Begitu, ya. Mereka benar-benar ingin bermain aman. Jelas saja ….” Arca mengangguk. Setelah menghela napas ringan dan sejenak memejamkan mata, ia dengan nada kurang bersemangat menyampaikan, “Aku hanya bisa membuat beberapa kerja sama kecil dengan mereka, terutama tentang hak bebas visa yang kita dapatkan dari rapat besar sebelumnya.”


 


 


“Bagi mereka yang menggunakan rute datar, hal tersebut tentu saja sangat penting. Sebab bisa menghemat biaya perjalanan barang.” Odo mengangguk. Sekali lagi tidak ingin membahas hal tersebut lebih dalam, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali bertanya, “Terus?”


 


 


Untuk kedua kalinya mendengar hal seperti itu, kening Arca seketika mengerut kencang. Berhenti menyangga kepala dan duduk tegak, ia memberikan tatapan datar seakan-akan sedang menahan amarah yang bisa saja meledak kapan saja.


 


 


“Selanjutnya …, ini tentang Serikat Pedagang Lorian.” ujar Putra Sulung Keluarga Rein dengan ragu-ragu. Merasa tidak terlalu mengurus agenda tersebut karena keterbatasan waktu yang ada, ia dengan nada sedikit bingung menyampaikan, “Itu …, Pak Aprilo yang katanya ingin melepaskan cabang Kota Mylta ini, lalu membuat kelompok dagang independen sendiri.”


 


 


“Ah, sebelumnya aku pernah dengar hal semacam itu.” Odo mengangguk. Sejenak memalingkan pandangan ke sudut ruang, ia mempertimbangkan beberapa hal matang-matang. Kembali menatap lawan bicara, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung bertanya, “Jadi, apa yang kau lakukan untuk menyelesaikannya?”


 


 


“Kontrak dengan jelas menyebutkan Serikat Pedagang Lorian. Kerja sama yang terjalin tentu masih berlaku, karena itu mungkin hak akan diserahkan kepada orang yang akan menggantikan Pak Aprilo,” jelas Arca.


 


 


Putra Sulung Keluarga Rein menghela napas. Menundukkan wajah dan meletakan tangan ke kening, dengan penuh rasa resah ia lanjut menyampaikan, “Dengan kata lain, kemungkinan besar hubungan kita dengan Pak Aprilo serta rekan-rekannya akan terputus. Lalu, orang yang dikirim oleh pusat Serikat Pedagang Lorian akan menggantikan posisi dalam kerja sama yang ada.”


 


 


“Pada dasarnya Serikat Pedagang Lorian bukan milik Pak Aprilo, sih ….” Odo sedikit cemas dengan masalah tersebut.


 


 


Jika belum bertemu dengan individu yang ingin dimasukkan dalam kalkulasi, Spekulasi Persepsi tidak bisa aktif secara maksimal. Karena itulah, Odo Luke tidak bisa mengambil kesimpulan dengan jelas sebelum perwakilan yang dikirim pusat Serikat Pedagang Lorian datang.


 


 


Sekali lagi menyisihkan permasalahan tersebut, Odo menatap lawan bicara dan lekas bertanya, “Selain agenda-agenda penting itu, agenda apa lagi yang kau lakukan selama aku pergi?”


 


 


“Eng ….” Arca sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan terbuka seperti itu. Sejenak menarik napas dalam-dalam dan duduk dengan tegak, ia satu persatu menyebutkan, “Mengurus gudang di pelabuhan, menyelesaikan pelimpahan sebagian monopoli hasil luat kepada kedua kubu lain, mengurus beberapa hal dengan pemerintah Mylta, memasukan mantan bunga malam yang direkomendasikan kamu dan Nona Luna sebagai pekerja tambahan, lalu …”


 


 


Putra Sulung Keluarga Rein sejenak terhenti, lalu berusaha mengingat-ingat hal penting yang terlewat.


 


 


“Ah! Benar juga!” Mengingat sesuatu yang penting, Arca Rein mengangkat telunjuk ke depan dan segera menyampaikan, “Tentang salah satu Elf itu. Mempertimbangkan situasi dan keperluan yang ada, aku membebaskannya lebih awal untuk pekerja tambahan.”


 


 


“Ah, jelas saja di lantai dua aku sudah melihat mereka ….” Odo memasang mimik wajah risau. Menghela napas ringan, dengan wajah gusar ia berkata, “Asal kau tahu, Arca. Tidak ada jaminan lebih cepat itu lebih baik.”


 


 


“Apa itu masalah?” tanya Arca memastikan.


 


 


“Hmm, jujur saja ini benar-benar bermasalah.”


 


 


Meski berkata seperti itu, Odo sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi cemas. Seakan-akan masalah tersebut sudah masuk dalam lingkup rencananya.


 


 


“Tapi, biarlah .... Biarkan saja dulu dan kita lihat respons pemerintah Mylta setelah rombongan ekspedisi kembali.” Odo menatap lawan bicara. Seakan ingin menyanjung Arca dan membuat atmosfer pembicaraan menjadi lebih baik, Putra Tunggal Keluarga Luke berkata, “Kau pasti punya alasan untuk itu. Aku akan percaya dengan keputusanmu.”


 


 


Arca sama sekali tidak tersanjung. Pada kenyataannya, ia membebaskan Elf yang dijadikan kambing hitam karena memang butuh tenaga kerja tambahan. “Terima kasih,” ujarnya sedikit cemas, sebab belum memikirkan langkah selanjutnya untuk mengakali pemerintah.


 


 


“Mari kita tinjau semuanya agenda tersebut dari awal.” Meletakan kedua tangan ke atas meja dan menatap serius, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan tegas menyampaikan, “Kita lakukan ini dengan cepat, kasihan para pelanggan di luar sudah menunggu lama. Dan juga, hari ini kau punya agenda lain yang harus diselesaikan, bukan?”


 


 


“Ya, masih banyak masalah yang harus diurus.” Arca sedikit memiringkan bibir dengan kesal. Memperlihatkan wajah seakan tidak menikmati pekerjaan yang ada, pemuda rambut pirang kecokelatan tersebut dengan ketus mengeluh, “Rasanya masih mending budak, mereka hanya diperas tenaganya. Aku malah diperas dua-duanya. Duh, semua masalah ini benar-benar menyusahkan.”


 


 


“Kalau bisa ….” Odo sedikit menyipitkan mata. Menatap datar dan merasa sedikit tersinggung, ia dengan mimik wajah getir berkata, “Tolong jangan sebut itu masalah.”


 


 


“Beban?” tanya Arca meledek.


 


 


“Tugas!” bentak Odo.


 


 


“Terserahlah!” Arca menggebrak meja dengan tangan kanan. Setelah menghela napas panjang, ia menatap dengan mata setengah terbuka dan menekankan, “Intinya semua ini menyusahkan!”


 


 


Setelah mengatakan hal tersebut, senyum tampak pada Putra Sulung Keluarga Rein. Seakan dirinya sedang menikmati semua masalah yang ada, ia pun tetap melanjutkan pembicaraan. Mengikuti keinginan Odo Luke, Arca menyampaikan agenda-agenda yang telah disebut untuk ditinjau ulang bersama.


 


 


Dengan teliti, tanpa ditambah atau dikurangi. Meski sesekali memperlihatkan ekspresi kesal selama meninjau ulang, Arca sama sekali tidak berhenti di tengah pembicaraan. Tetap menyampaikan laporan sampai selesai, meski itu memakan waktu lebih lama dari perkiraannya.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2