Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[112] Flamboyan Akhir Zaman I - Solemnly Swear (Part 03)


__ADS_3

Berdiri di atas menara altar, Odo Luke melebarkan kedua tangannya dan tersenyum. Mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai Raja Tanpa Mahkota, lalu menganggap seluruh makhluk astral sebagai rakyat yang dicintainya.


“Pada momen ini, diriku, Odo Luke bersumpah dengan sungguh-sungguh!”


Berhenti merentangkan kedua tangan, pemuda rambut hitam itu lekas berlutut dan menundukkan wajahnya. Layaknya seorang kesatria dalam upacara penobatan, ia membuka kedua tangannya ke atas. Menunggu pedang dikembalikan, sebagai bukti kesetiaan mutlak.


Namun, Odo Luke tidak menunggu pedang dari sang Penguasa setelah selama upacara sumpah berlangsung. Ia menciptakan senjatanya sendiri, sebuah simbol Kerajaan untuk menyatukan rakyat layaknya seorang Penakluk.


Sun Astral⸻ Sebuah simbol berbentuk vektor matahari. Terdiri dari lingkaran sempurna berwarna keemasan yang dikelilingi oleh cincin kobaran api, lalu dihiasi empat titik bintang di sekitarnya. Lambang astral (bintang) jamak, sumber cahaya kehidupan sekaligus pengetahuan astronomi.


Ketika simbol tersebut bersinar, sang pemuda mengangkatnya tinggi-tinggi. Melayang beberapa meter dari tangannya, lalu memancarkan cahaya terang sampai langit merah pun berubah menjadi keemasan.


“Diriku berdiri di tempat ini untuk memenuhi takdir! Sebagai penguasa tanah perbatasan, penakluk era, dan pelindung kalian!”


Odo lekas bangun dan berdiri tegak, lalu perlahan menutup kedua telapak tangan dan menyatukannya. Pada saat bersamaan, simbol cahaya di langit pun berubah menjadi partikel keemasan. Bergerak menuju sang pemuda, meresap ke dalam tubuh dan jiwanya layaknya sebuah stigmata.


“Sebagai Raja bangsa kalian, diriku menyatakan ….” Pemuda itu berhenti menyatukan tangan. Menatap lurus dengan wajah sangar, ia segera menunjuk ke arah cakrawala sembari berkata, “Takluklah! Patuhlah! Dan berbahagia! Raja kalian telah hadir ke hadapan kalian!”


Pesan itu tersampaikan kepada seluruh makhluk astral, menggerakkan tubuh mereka untuk berkumpul dan melihat sang Raja.


Berbondong-bondong⸻


Dari ujung dunia sampai yang terdekat, mereka semua bergerak menuju pusat kewenangan, tempat di mana pemuda itu berdiri. Menaiki anak tangga yang tercipta di sekitar dinding raksasa, lalu masuk ke dalam kota telantar di atas Core Realm.


Bahkan, di antara mereka Ifrit pun ikut serta. Burung Vermilion yang sebelumnya menolak tawaran Odo itu mendarat di antara Roh Agung lain, lalu menghadap sosok pemuda di puncak menara dan berlutut patuh.


Meniru tindakan tersebut, seluruh Roh Agung mulai berlutut secara berurutan. Dimulai dari Reyah, lalu diikuti oleh Alyssum, Vil, dan Diana. Dengan penuh rasa hormat, tanpa meragukan kekuasaan yang telah berdiri di hadapan mereka.


Mengikuti mereka, seluruh Roh yang datang pun berlutut dengan patuh. Menundukkan kepala, lalu dalam benak bersumpah setia kepada sosok yang ditakdirkan.


Melihat semua kerumunan makhluk astral di bawah, Leviathan tercengang sampai tubuhnya gemetar. Tampak kagum, namun juga takut karena Odo bisa melakukan hal semacam itu. Diakui oleh mereka dengan mudah dan menjadi Penguasa.


“Odo …! Lihatlah! Kamu berhasil melakukan perombakan⸻!”


Putri Naga terhenti. Saat melihat wajah pucat sang pemuda, ia tahu bahwa hasil yang didapat pasti harus dibayar dengan harga yang sesuai.


Meski jiwa miliknya sangat berbeda dan kuat, tubuh fisik pemuda itu masih lah seorang manusia. Rapuh, lemah, dan terikat oleh hukum kefanaan.


“Jadi, sekarang kita akan melakukan apa?” Odo membuka kedua telapak tangan kanan. Saat proses penyerapan simbol Sun Astral selesai, sekilas tubuhnya bercahaya dan garis-garis stigmata pun tampak pada kulit. Padam dengan cepat, lalu meninggalkan bekas seperti luka bakar pada di sekujur tubuh. “Apakah kita harus mengurus yang di bawah dulu? Atau langsung membangkitkan Lir?” lanjut sang pemuda.


“Sebelum itu, apa kamu baik-baik saja?” Leviathan berjalan mendekat, memasuki lingkaran altar dan berdiri di depan sang pemuda. Sembari menyentuh lembut wajahnya, Putri Naga dengan cemas berkata, “Kamu kelihatan pucat, Odo ….”


“Aku baik-baik saja, tak perlu risau ….” Odo menggenggam tangan Leviathan dengan lembut, menyingkirkannya dari wajah dan bertanya, “Bukankah ini yang kau harapkan? Mari jalani ini sampai akhir. Biarkan aku mengakhirinya.”


“Baiklah ….” Leviathan mengangguk. Melangkah mundur dan berbalik, Putri Naga berusaha melebarkan senyum di tengah kecemasannya. Terlihat kaku, diisi oleh kesedihan dan rasa bersalah. “Jadi, bukankah itu berarti kamu percaya pada takdir?” tanya perempuan itu sembari menoleh, mengangkat kedua alis dan berhenti tersenyum.


“Takdir hanya untuk pecundang …! Untuk orang-orang yang menyerah dan menerima keadaan, pasah!” Odo menjentikkan jari, tersenyum sombong dan mulai melangkah keluar dari altar. Sembari berjalan lemas melewati Leviathan, pemuda itu dengan penuh rasa percaya diri berbisik, “Aku menyebut ini keputusan, tekad untuk mengambil langkah melawan takdir.


“Apa bedanya?” tanya Leviathan.


“Aku memilih jalanku sendiri, tidak ditentukan oleh orang lain,” jawab pemuda itu tanpa menoleh, terus melangkah meski pelan dan sempoyongan.


.


.


.


.


Era lama telah berakhir, digantikan oleh tatanan dan penguasa baru. Susunan hierarki pun dirombak, ditulis ulang oleh Raja Tanpa Mahkota yang telah menduduki singgasana.


Namun, itu tidak sepenuhnya diubah menjadi sesuatu yang benar-benar baru. Banyak ketentuan lama yang masih tersisa, hanya disesuaikan untuk mengikuti perkembangan zaman. Sebuah era baru di mana semua entitas dipilih berdasarkan kemampuan, bukan garis keturunan ataupun takdir.


Sayangnya, hasil pembaharuan itu tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Berdasarkan hierarki kapabilitas, para Roh Agung tetap menduduki posisi pemimpin wilayah. Diikuti oleh Roh Tingkat Atas dari berbagai jenis, lalu Roh Tingkat Menengah sebagai bawahan.

__ADS_1


Sedangkan pada posisi terakhir, itu nantinya akan nanti diisi oleh Roh Tingkat Rendah saat mereka lahir. Ditetapkan sebagai kelas pekerja, dapat naik ke tingkat yang lebih tinggi tergantung kemampuan dan kontribusi.


Dalam pembagian wilayah dan kekuasaan, konsep territorial ekosistem diubah menjadi parlementer dan monarki konstitusional. Sedangkan bentuk Kerajaan ditetapkan sebagai Negara Kesatuan.


Mengikuti ketentuan tersebut, Odo Luke ditetapkan sebagai Kepala Negara dengan gelar Raja Tanpa Mahkota. Sedangkan untuk Kepala Pemerintahan, posisi tersebut akan ditempati oleh Reiye Reyah sebagai Perdana Menteri. Murni dipilih berdasarkan kapabilitas dan kontribusi, bukan karena garis keturunan ataupun faktor lain.


Sedikit berbeda dengan monarki konstitusional pada umumnya, posisi Kepala Negara akan diduduki oleh dua individu sebagai pemegang kekuasaan. Selain Putra Tunggal Keluarga Luke sebagai Raja Pertama, Leviathan juga diangkat menjadi Rani Pertama.


Bukan Ratu ataupun Permaisuri, melainkan seorang Rani Tunggal. Memiliki hak dan wewenang untuk ikut serta dalam urusan politik, berperan sebagai perantara Raja pada aspek pemerintahan.


Selain ketentuan-ketentuan tersebut, susunan pemerintahan akan ditentukan dan diatur oleh Reyah sebagai Perdana Menteri. Entah itu pembagian wilayah kekuasaan, jabatan, hukum dan kebijakan, atau bahkan rencana pembangunan berkelanjutan, semuanya akan diatur olehnya secara bertahap.


Tentu saja Reyah tidak mengerjakan semua tugas itu sendirian. Hal pertama yang dirinya lakukan sebagai Perdana Menteri adalah menyusun kabinet menteri bersama Kepala Negara dan wakil rakyat, lalu menentukan nama, visi, dan misi Kerajaan. Merangkum semuanya dalam sebuah musyawarah di alun-alun kota terlantar.


Kerajaan Sun Astral⸻ Nama itu ditetapkan langsung oleh sang Raja Luke. Berkaitan dengan ilmu perbintangan, diambil dari simbol yang sempat dirinya buat selama proses perombakan Dunia Astral.


Tidak ada yang protes dengan nama tersebut. Selain tidak membuang identitas makhluk astral, simbol dan nama itu juga dapat dijadikan sebagai matahari kedua dalam hati mereka. Teladan dan sumber kemakmuran, sebuah ideologi untuk mempersatukan bangsa.


Selain itu, susunan kabinet menteri berjumlah 12 individu pun dipilih berdasarkan kemampuan masing-masing. Tidak memandang ras ataupun asal, sepenuhnya ditetapkan berdasarkan kapabilitas. Dipilah melalui gagasan-gagasan yang diberikan mereka untuk negeri.


Anggota kabinet menteri yang terpilih kebanyakan berasal dari kalangan Roh Tingkat Atas, terutama mereka yang sering dipanggil ke Dunia Nyata dan telah menjalin kontrak dengan penyihir. Dinilai memiliki lebih banyak pengalaman, serta persepsi berbeda terkait masa depan Kerajaan.


Mengikuti catatan dan rancangan struktur yang telah Odo buat menggunakan kalkulasi Core Realm, seluruh anggota kabinet diberikan kebebasan untuk mengusulkan kebijakan dan peraturan. Hal itu akan dibahas dalam musyawarah, lalu diputuskan oleh Perdana Menteri.


Dari seluruh proses perombakan Dunia Astral, tahap tersebut menjadi yang paling menguras waktu dan pikiran. Setiap perwakilan menyampaikan pendapat mereka, berdiskusi mencari pilihan yang terbaik untuk masa depan kerajaan.


Untuk sekelompok individu yang baru saja mengenal musyawarah dan sistem demokrasi representatif, mereka tampak sangat bersemangat dan menjiwai. Mencurahkan isi pikiran, bebas berpendapat dengan tetap mempertimbangkan kepentingan bersama.


“Sepertinya kalian sudah paham. Kalau begitu, saya izin pamit duluan. Tolong urus sisanya sebelum saya kembali, semua saran dan pendapat saya ada di dalam menara.”


Sebelum musyawarah selesai, Raja Luke meminta izin kepada Perdana Menteri dan seluruh Kabinet untuk undur diri lebih awal. Sembari mengajak Leviathan, Vil, Laura, dan Magda, pemuda rambut hitam itu segera mengaktifkan menara altar dari kejauhan. Menggunakannya sebagai pengganti gerbang dunia astral.


Permintaan itu membuat musyawarah terhenti. Mereka semua menatap ke arah sang Raja dengan heran, memperlihatkan raut wajah kesal dan juga bingung.


Di tengah suasana canggung, tidak ada satupun makhluk astral yang berani menghentikan langkah sang Raja. Meskipun terlihat kesal sampai alis mata turun, Reyah dan seluruh anggota Kabinet hanya bisa mengangguk patuh. Memberikan izin meski sebenarnya tidak mau.


Sebelum Odo kembali ke Dunia Nyata bersama Leviathan dan yang lain, ia tiba-tiba merentangkan kedua tangan sembari berkata, “Ini baru yang namanya menjadi bos! Satu masalah akhirnya selesai juga!” Wajahnya terlihat berseri, penuh rasa lega seperti baru buang hajat setelah ditahan berhari-hari.


“Sebelum kalian pergi, boleh diriku memastikan sesuatu?” tanya Reyah sembari menghampiri Raja Luke. Ia menatap cemas, lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan dan bertanya, “Selama proses perombakan berlangsung, apakah engkau memulangkan mereka?”


“Mereka?” Sebelum membuka gerbang menuju Dunia Nyata, Raja Luke terhenti dan berbaik menghadap perempuan rambut hijau cerah tersebut. “Maksudmu seluruh Roh yang dikontrak oleh penyihir?” tanyanya untuk memastikan.


“Iya, benar. Mereka ….” Reyah menangguk pelan, terlihat cemas dan gelisah. Sembari menundukkan wajah, sang Dryad kembali bertanya, “Mereka semua tetap mengalami proses perombakan bentuk kehidupan, bukan? Mendapatkan sesuatu yang engkau sebut bekal untuk bisa bertahan di dunia baru ini ….”


“Tentu saja! Aku pulangkan mereka secara paksa! Namun ….” Odo menahan napas sejenak. Tersenyum kecut, pemuda rambut hitam itu mengacungkan telunjuk ke depan sembari menyampaikan, “Untuk Roh Agung yang sedang menetap di Millia, mereka tidak bisa aku pulangkan. Baik itu struktur Aeons maupun Daath, mereka tidak berubah. Perombakan tidak bisa menjamah mereka.”


“Millia? Maksud engkau, Danau Suci di Ibukota Felixia?” Reyah sedikit terkejut. Memalingkan wajah, ia memikirkan beberapa kemungkinan dan langsung memastikan, “Roh Kudus Oddya’ia? Apakah itu beliau?”


“Tepat sekali!” Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundak. Menghela napas, pemuda rambut hitam tersebut menurunkan tangannya dan berkata, “Selain dia, ada juga Roh Pedang Baja, Roh Angin, dan lain sebagainya. Jujur saja, awalnya aku kira mereka itu Roh Tingkat Atas! Setelah mengecek riwayat Realm ini, aku baru tahu kalau mereka semua ternyata Roh Agung! Sungguh mengejutkan ….”


“Itu tidak aneh. Pada awal penciptaan dunia ini, dikatakan Roh Kudus membagi kekuatannya kepada dua belas makhluk astral.” Reyah meniru tingkah pemuda itu, sekilas mengangkat kedua sisi pundak dan kembali menambahkan, “Mereka adalah 12 Roh Agung yang dikenal masyarakat Felixia. Kekuatan dan unsur tersebut telah diwariskan dengan berbagi macam cara selama ribuan tahun.”


“Jadi ….” Odo memiringkan kepala, menatap datar sembari memastikan, “Kamu tidak heran kalau ada delapan Roh Agung lagi di luar sana? Belum lagi kalau ada Roh Agung baru seperti Alyssum.”


“Tepat sekali, ada juga kemungkinan seperti itu.” Reyah tersenyum kaku, sedikit memalingkan wajah dan lanjut berkata, “Meski berasal dari satu sumber, kamu tidak pernah benar-benar bersatu. Karena itulah, diriku berharap engkau mau memulangkan mereka untuk diajak bicara.”


“Akan aku usahakan ….” Odo menghela napas panjang. Sejenak memejamkan mata, ia lekas mengangguk dan menyampaikan, “Kalau begitu, aku harus pergi dulu bersama yang lain. Setelah urusan di Rockfield selesai, aku akan kembali segera kembali. Aku serahkan sisanya kepada kalian. Terutama kau Reyah, aku percayakan tempat ini kepadamu.”


Odo langsung bertepuk tangan sekali, mengaktifkan menara altar dan membuka gerbang menuju Dunia Nyata. Lingkaran sihir muncul, lalu langsung memindahkan pemuda itu menuju Dunia Nyata.


Dalam hitungan kurang dari dua detik, lingkaran sihir serupa juga muncul di bawah kaki Vil, Laura, Magda, dan Leviathan. Diselimuti oleh cahaya biru langit, lalu mereka menelan mereka dan langsung dipindahkan menuju Dunia Nyata.


Setelah mereka semua pergi, Reyah mulai menurunkan alis dan mengerutkan kening. Tanpa alasan yang jelas, ia mulai mengentakkan-hentakan kaki.


“Hah! Apanya yang serahkan kepada kalian?! Yang menginginkan Kerajaan ini berdiri adalah kalian berdua! Kenapa malah pergi?! Urus dulu kewajiban kalian! Cepat kembali sekarang juga! Paling tidak bantu diriku sampai selesai menyusun kebijakan!” ujarnya dengan murka, mengeluh tidak jelas karena beban pikiran.

__ADS_1


Mendengar itu, seluruh anggota Kabinet langsung mengangguk setuju. Tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa bersimpati atas musibah yang menimpa Perdana Menteri mereka setelah baru menjabat.


“Tenang saja, kami semua akan membantu!” Alyssum mendekat, meraih tangan Reyah dari samping dan berkata, “Lagi pula, Papah pergi karena ada keperluan penting. Beliau meninggalkan kita bukan karena⸻!”


“Lepaskan!!” ujar Reyah sembari menyingkirkan tangannya.


“Eh?” Alyssum tercengang, terdiam dengan mata terbuka lebar.


“Tidak perlu sok imut!” ujar Reyah sembari melirik tajam. Melangkah mundur dan menjauh, perempuan rambut hijau cerah itu lekas menunjuk sembari menambahkan, “Meski hanya setengah, engkau tetaplah seorang Dryad. Sifat polos itu malah membuat dirimu terlihat menakutkan.”


“E-Eh? Kenapa tiba-tiba Ibunda⸻?”


“Jangan panggil diriku seperti itu!” sela Reyah. Ia berhenti menunjuk, melipat tangan ke depan dan memalingkan wajah layaknya wanita angkuh.


“Ta-Tapi ….” Alyssum semakin tidak paham dengannya.


“Hemp! Diamlah, diriku benci kamu!” ujar Reyah dengan nada kesal. Namun, entah mengapa itu membuatnya terlihat menyebalkan.


Alyssum semakin cemas, melirik ke arah Diana seakan meminta bantuan. Namun, sang Empusa malah pura-pura tidak tahu. Memalingkan pandangan dan mulai bersiul pelan.


Kembali menatap Reyah dan memberanikan diri, Roh Kecil itu lekas bertanya, “Ibunda baik-baik saja, ‘kan?”


“Enggak! Diriku sedang ngambek! Lagi pula, kenapa Odo memilih dia untuk menjadi Rani?! Kenapa bukan diriku?!”


“Ya, Nona Leviathan adalah Putri Naga. Saya rasa itu cukup wajar.” Alyssum tersenyum kecut, menghela napas panjang dan lekas bertanya, “Memangnya itu aneh⸻?”


“Jangan bicara lagi! Perdana Menteri ini tidak mengizinkan engkau bicara!”


Mendengar itu, tatapan Alyssum seketika berubah datar.  “Sungguh, apa kepala Ibunda terbentur sesuatu? Atau Ibunda terlalu stres karena dibebani jabatan itu?” ujarnya dengan nada kesal.


“Apa kamu bilang?” Reyah langsung menatap tajam.


“Kalau iya, kenapa tidak mengundurkan diri saja dan serahkan⸻!”


“Anak nakal harus dihukum!” ujar Reyah sembari menjewer putrinya.


“Sa-Sakit! Sakit! Sakit! Ja-Jangan tarik telinga saya! Lepaskan! Cepat lepaskan, dasar nenek kempot!!”


“Engkau bicara apa tadi, wahai Putriku yang manis?” Reyah mendekatkan wajahnya.


“Ti-Tidak! Maaf, tolong lepaskan telinga saya! Nanti putus! Nanti putus!”


“Hemp!” Reyah melepaskannya, kembali menyilangkan lengan dan langsung memalingkan wajah. “Dasar anak durhaka,” ujarnya dengan nada ketus.


“Huh …! Huh …!” Alyssum sedikit membungkuk, menggunakan sihir pemulihan untuk meredakan rasa sakit. Sembari melirik tajam, dengan suara lirik gadis kecil itu lanjut mencibir, “Dasar aneh …! Ibunda kesurupan apa, sih?”


“Hmm?” Reyah mendengar itu, segera menoleh dan melempar senyum tipis.


“Be-Bercanda! Tolong jangan jewer saya lagi …!”


ↈↈↈ


\================================================


Open Commission :


Terima kasih atas seluruh dukungan nya, para Penikmat.


Terima kasih juga atas komentar, vote, dan share kalian.


Berhubung sudah masuk bulan Ramadhan, Author membuka Commission “Ilustrasi”.



Untuk sample bisa dilihat pada link di bawah ;

__ADS_1


Pembayaran bisa lewat OVO dan Gopay.


Terima kasih.


__ADS_2