
Kehidupan berasal dari laut, begitu pula penghakiman yang merangkak ke daratan dengan lembut dan tegas. Datang untuk membuat mereka mengakui kesalahan, dalam bentuk musibah yang membuat istana serta harta yang mereka kumpulkan menjadi tidak berarti.
Bahtera yang mereka tertawakan, hina, dan maki menjadi satu-satunya jembatan untuk menuju pengampunan.
Namun, sampai akhir mereka tidak bisa mempercayai. Seakan-akan seonggok batu yang ada di sungai, mereka kelak hanya bisa hancur menjadi pasir dan terbawa ke laut.
Tak ada yang bisa kabur dari penghakiman tersebut. Selama mereka hidup, hukum kausalitas akan berlaku dan tobat harus dibayar dengan penebusan.
Suara gemuruh kejam dari luat, itu hanya akan sampai ke pegunungan melalui awan gelap yang terbawa angin. Sebuah badai yang datang dengan peringatan.
Sebuah perkataan penuh misteri, bermakna ganda, dan menyesatkan. Membuat orang-orang tertawa, menyimpulkan sepihak tanpa paham arti sesungguhnya dari kalimat tersebut. Sebuah perjamuan kejam pun sudah terbuka untuk orang-orang bebal.
Sebuah harapan atau hanya dosa ⸻ Hanya pemuda itu yang tahu. Hanya ialah yang akan menentukan. Layaknya penghakim yang datang dari dasar lautan dalam, ia menentukan dan memutuskan.
Menghitung helai bulu dari dosa penguasa yang mengepakkan sayap dengan tinggi, lalu menunjuk dan menegaskan. Tindakannya seakan-akan ingin berkata, “Kau bersalah! Kau berdosa! Tebus lah itu dengan tindakanmu!”
Namun, untuk mereka yang menerima, penghakim memeluk dengan lembut. Dengan kebaikan yang diberikan, sang pemuda seakan ingin menyampaikan, “Tolong jangan menangis. Hancurkan belenggu, pilih jalan kalian sendiri dan maju! Sekali saja cobalah bangkitkan langkah dinamis kalian!”
Demi janji dan ucapan yang keluar dengan setengah hati, itu sudah cukup untuk menjadi alasan baginya. Membakar jiwa, menggerakan tubuh yang tak pernah lelah, dan memeras setiap tetes pikiran untuk mereka.
Memoles semuanya dengan hitam pekat, luntur menjadi berbagai warna mereka masing-masing dalam sebuah harmoni. Oleh kabut lembap yang mengembun saat fajar.
Tidak akan ada orang yang menyadari ucapan tanpa suara, karena itulah melihat langsung menjadi satu-satunya cara untuk mengetahuinya. Seberapa besar dosa yang ada, seberapa keras hukuman yang akan diberikan.
Di dunia tidak ada orang yang bisa benar-benar bisa menghukum orang lain. Hanya orang tersebutlah yang bisa menghukum dirinya sendiri.
Luka pada korban yang menjadi masa lalu tidak akan pernah hilang, layaknya goresan duri mawar saat perawan melewati taman bunga. Membekas di tubuh, terus teringat ketika kembali melihat belas luka tersebut. Karena itulah kebencian selalu mekar.
Sang wanita tetap menutup mulut, menyembunyikan dosa dan berdoa mengutuk sang Pria. Layaknya burung gagak biru yang pernah disakiti, ia menatap pemburu yang membuatnya menderita. Entah siapa yang akan dipanggil di akhir, gagak hanya akan menunggu dan menunggu sampai waktunya tiba.
Sebab itulah, apa yang pemuda lakukan untuknya hanyalah sebuah pengingat. Tindakan, tatapan, dan perkataan, semua itu seakan-akan ingin memberitahu sang gagak.
“Jangan melarikan diri! Hadapi masa lalu! Kesalahan di masa lalu, kebohongan yang dibuat sekarang, dan kebenaran yang ada pada masa depan, semuanya adalah dirimu sendiri!”
Tidak ada keajaiban yang bisa mengubah itu, hanya dirinya sendirilah yang bisa mengubah. Meski jawaban yang keluar sudah terlalu lama, sangat amat lama sejak pertama kali kebencian mekar, namun itu akan menjadi dirinya sendiri untuk sebuah pijakan menuju lembar baru di masa depan.
Apa yang keluar dari hati adalah untuk yang tercinta, gagak-gagak biru kecil yang belum bisa mengepakkan sayap mereka sendiri. Terlalu menyedihkan untuk menjadi kenyataan, bahwa mereka semua tumbuh berkat pemburu yang membuat sang induk gagak menderita.
Sebuah mantra kekal yang takkan pernah hilang sampai terwujud, sebuah harapan yang tidak bisa tersampaikan langsung oleh mulut. Itulah kebencian dan cinta. Lyaknya dua sisi dari koin yang sama, saling berdekatan dan berbeda.
Anak-anak gagak akan mengenal cinta, sesuatu yang induk lupakan dalam penderitaan dan penghinaan. Meski itu mungkin hanya sebuah ilusi, anak gagak akan mencoba percaya dan mengepakkan sayapnya. Keluar dari sangkar, meninggalkan sang mereka dan pergi ke dunia luar yang tidak pasti.
Mengejar sesuatu yang tidak mungkin dirinya dapatkan. Terus bermimpi dan terluka.
.
.
.
.
Meski mentari telah lama melewati puncak tertinggi, kabut masih mendominasi Kota Pegunungan. Seakan-akan memiliki rahasia yang tidak ingin diketahui oleh dunia luar, mendekap erat dalam warna putih abu-abu yang pekat.
Lebih dingin dari biasanya, lembap dan sampai-sampai beberapa lampu kristal dan lentera dinyalakan untuk pencahayaan. Awal gelap mengiringi kabut, berkumpul di langit dan membuat sore seakan telah senja.
Melangkah bersama di antara keramaian, mereka berjalan menuju balai kota setelah belanja pada salah satu toko pakaian di Distrik Perekonomian dan Pertambangan. Ketiga perempuan itu memasang ekspresi mereka masing-masing, tampak tidak selaras atas apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Ri’aima sedikit muram, memegang kantung dompet yang telah kempis karena isinya terkuras dan hanya menyisakan beberapa koin perunggu saja. Kening mengerut bersama hela napas yang mengikuti, lalu dalam benak perempuan rambut biru tersebut rasa kesal kembali melonjak.
Setelah memasukkan dompet ke saku, Putri Sulung Keluarga Stein melihat ke arah Pendeta Wanita dan anak kecil yang berjalan di depan. Sedikit mempercepat langkah kaki, lalu berjalan tepat di belakang kedua orang tersebut.
Tidak seperti Putri Sulung Keluarga Stein, Lily’ami tampak begitu senang. Berjalan di sebelah Pendeta Wanita, memasang senyum lebar dan berjalan meloncat-loncat kecil untuk menyesuaikan kecepatan langkah kaki.
Sembari mengenakan pakaian yang baru dibelikan, anak perempuan tersebut berjalan riang dengan sepatu mary jane di kaki kecilnya. Membuat suara saat melangkah di permukaan jalan susunan batu, seakan-akan memainkan alat musik dengan irama tertentu.
Gaun tunik dengan kesan abad pertengahan, itulah pakaian yang dikenakan Lily’ami. Terdiri dari atasan berwarna putih dengan lengan mengembang, lalu bawahan merah delima yang tampak seperti warna rambut anak perempuan tersebut. Pada bagian pinggang melingkar sabuk kulit berwarna hitam, lalu pada kepala terdapat bando dengan hiasan kerajinan kain berbentuk bunga kamelia.
Rambut yang sebelumnya urakan telah tertara rapi, terurai ikal ke depan pundak sampai dada. Wajah seakan memancarkan aura murni yang kuat, bersih dan tampak cantik meski tanpa riasan bedak.
Itu memang terlihat sederhana dan biasa untuk para gadis kalangan menengah di kota. Namun, untuk dikenakan oleh seorang anak perempuan hal tersebut terlalu mencolok. Seakan-akan Lily’ami akan mendatangi undangan pesta dansa dari bangsawan.
Berjalan di sebelah anak kecil tersebut, untuk beberapa alasan Rosaria sesekali memasang senyum lebar dan memperlihatkan mimik wajah puas. Begitu senang layaknya seorang ibu yang sedang bangga setelah mendandani putrinya dengan cantik.
Melihat mereka berdua begitu menikmati suasana yang ada, Ri’aima hanya bisa menatap sinis dari belakang. Merasa sedikit kesal karena harus mengeluarkan uang pribadi untuk rakyat jelata yang baru dirinya temui.
Menepuk pundak Rosaria dari belakang, Putri Sulung Keluarga Stein dengan nada ketus bertanya, “Setelah ini kita akan harus pergi ke Kediaman Tuan Fritz Irtaz, bukan? Kenapa bisa sih Nona Rosa sangat santai? Apa akan baik-baik saja nanti kalau kita tidak bisa meyakinkan pria tua itu?”
“Soal itu ....” Perlahan sedikit menoleh ke belakang dan tetap berjalan, Pendeta Wanita memasang senyum yang mencerminkan perasaan hatinya sekarang. Ia mengangkat telunjuk, lalu dengan nada santai menjawab, “Tenang saja, saya sudah menyiapkan topik dan memikirkan alur pembicaraan. Selama tidak ada faktor pengganggu yang masuk, saya rasa pembicaraan akan berjalan lancar.” Kembali menghadap ke depan, perempuan dengan pakaian biarawati tersebut menambahkan, “Lagi pula, kita juga punya senjata andalan dalam lobi nanti.”
“Senjata andalan?”
Ri’aima mengerutkan kening, merasa tidak pernah mendengar hal semacam itu. Selama menemani mereka belanja, Putri Sulung Keluarga Stein hanya mendengar beberapa penjelasan terkait tujuan melobi. Mendapatkan dukungan, memperbaiki hubungan, dan memberitahukan rencana, hanya itulah yang dirinya ketahui dari tujuan pembicaraan yang akan dilakukan.
“Tuan Odo memperbolehkan kita membocorkan identitasnya, lalu menyampaikan tentang duel juga. Kita seharusnya tidak masalah dengan kartu-kartu tersebut,” ujar Pendeta Wanita dengan santai.
Menyambungkan situasi dan infomasi yang ada, Ri’aima seakan dituntun pada satu kesimpulan. Menelan ludah dengan berat dan masih ragu, ia dengan gemetar bergumam, “Jangan bilang … orang yang akan melakukan duel tersebut adalah pria yang Tuan bawa sebelumnya?”
“Ah, Nona Ri’aima juga menyadarinya?” Rosaria menggandeng tangan anak kecil yang berjalan di sebelahnya. Ikut berhenti berjalan dan menoleh ke arah perempuan rambut biru pudar tersebut, Pendeta Wanita sedikit memasang senyum tipis dan kembali berkata, “Tuan berbohong. Identitas yang beliau sampaikan tentang Lily’ami ataupun pria tua sebelumnya, itu hanya bualan semata.”
“Eh?” Ri’aima menatap lurus ke depan, tampak benar-benar bingung dan dengan penuh rasa cemas memastikan, “Bohong? Maksudnya …?”
“Tuan Od⸻ Maksud saya, Tuan Nigrum berkata seperti itu hanya untuk membuat Nona Ri’aima tenang. Beliau tidak serius saat menjelaskan identitas mereka. Anda … sangat tidak suka dengan rakyat jelata, bukan? Mungkin karena itulah beliau menyampaikan kebohongan seperti itu.”
“Jadi ….” Tatapan Ri’aima seketika berubah tajam dan dipenuhi amarah. Tanpa memedulikan orang yang juga lalu-lalang di sekitar, perempuan rambut biru pudar tersebut menunjuk kesal Lily’ami dan dengan nada tegas berkata, “Anak it! Ya! Anak itu hanyalah gelandangan yang dipungut Tuan Odo?!”
Ri’aima kehilangan kendali, melupakan rahasia yang harus dijaga dan tidak memilih perkataan dengan baik. Ia melangkah mendekati Lily’ami dengan mimik penuh amarah. Seakan-akan Putri Sulung Keluarga Stein tersebut ingin mengambil kembali pakaian yang sudah dirinya belikan untuk anak perempuan itu.
“Tolong tenanglah sedikit ….” Rosaria segera mencengkeram pergelangan tangan Ri’aima, tepat sebelum perempuan itu bisa menyentuh Lily’ami. Memasang mimik wajah mengasihani, Pendeta Wanita kembali mengingatkan, “Apa Nona benar-benar berpikir bahwa beliau mengajak mereka dengan tanpa alasan? Meski gelandangan, saya rasa mereka memiliki latar belakang khusus.”
“Memangnya latar belakang apa yang mereka miliki?!” Ri’aima menarik tangan dari Pendeta Wanita, lalu setelah menggertakkan gigi berkata, “Kalaupun benar seperti itu, tetap saja itu tidak memberi alasan yang cukup untuk Tuan Odo berbohong kepada saya! Lagipula, kenapa dari tadi Nona Rosa tidak memberitahu saya soal itu?!”
“Saya hanya mempertimbangkan emosi dan kepribadian Nona Ri’aima.”
Perkataan tersebut membuat Putri Sulung Keluarga Stein tersentak, merasa dianggap remeh oleh Pendeta Wanita itu. Menunjuk lurus ke depan, ia membuka mulut dan ingin memaki lepas. Namun, perempuan rambut biru pudar tersebut langsung berhenti sebelum bisa mengatakan satu kata pun.
Ri’aima dengan cepat merenung dan sadar, mengingat kembali perkataan sang ayah sebelum berangkat tadi pagi. Menundukkan kepala dan berusaha untuk lebih dewasa, ia menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk menahan emosi.
“Benar juga …. Diriku tidak boleh seperti Baldwin,” benak perempun rambut biru pudar tersebut.
__ADS_1
Menatap dingin ke arah Lily’ami yang ketakutan dan menggenggam tangan Rosaria dengan erat, Putri Sulung Keluarga Stein bertanya, “Bocah, kamu sebenarnya siapa? Kenapa kamu dan pria tua yang datang bersamamu bisa bertemu dengan Tuan Odo?”
Lily’ami malah bersembunyi di balik Rosaria saat ditatap tajam. Sembari melongok kecil dan gemetar, anak perempuan rambut merah ikal tersebut menjawab, “Sa-Saya hanya anak pedagang.”
Ri’aima mengerutkan kening, menatap tajam dan dengan nada menekan bertanya, “Meski sudah seperti ini, kamu masih tetap ingin berbohong?”
“I-Itu benar!” ujar Lily’ami. Sembari menaikkan volume suara, anak perempuan itu dalam ketakutan menjelaskan, “Sa-Saya hanya anak pedagang. Ayah dan Ibu saya meninggalkan saya di hutan, lalu saya dipungut oleh Paman Ferytan dan dibawa kembali ke kota ini …. Sa-Saya tidak tahu apa yang kakak bicarakan.”
“Kembali? Berarti kamu dari awal berasal dari sini, ya? Nama Ayah dan Ibu kamu siapa?”
Pertanyaan beruntun tersebut membuat Lily’ami kembali menyembunyikan wajahnya ke belakang Rosaria. Dengan gemetar ketakutan, anak perempuan itu menjawab, “Sa-Saya memang berasal dari kota ini. Na-Namun, saya tidak tahu nama ayah dan ibu. Sejak kecil, saya hanya memanggil mereka seperti itu.”
Anak yang ditelantarkan ⸻ Tanpa mendapat penjelasan lebih lanjut, Rosaria dan Ri’aima yang mendengar hal tersebut membuat kesimpulan. Mereka paham bahwa memang ada beberapa kasus seperti itu di kalangan menengah sampai atas.
Menitipkan anak ke pedagang, gereja, atau bahkan menjual mereka sebagai budak. Dalam kasus dititipkan ke pedagang, jika orang tua kandung sudah tidak memberikan dana untuk biaya hidup, maka apa yang menunggu sang anak dalam waktu dekat bukanlah sesuatu yang baik. Dibuang ke hutan supaya mati, atau paling parah bisa saja dijual secara ilegal ke negeri tetangga sebagai budak.
Anak yang bernasib seperti itu biasanya adalah hasil dari hubungan gelap keluarga bangsawan, tidak diinginkan keluarga karena lahir cacat, atau bahkan dibuang hanya karena alasan untuk menghindari perselisihan dalam pewarisan.
Sebab itulah, anak-anak seperti itu kebanyakan tidak tahu orang tua kandung mereka. Berada dalam posisi lebih buruk daripada anak yatim piatu yang dibuang ke gereja, sebab merasa tidak diharapkan oleh siapa pun.
Memahami hal tersebut dan merasa Lily’ami tidak berbohong dari ekspresi yang diperlihatkan anak itu, Putri Sulung Keluarga Stein hanya memasang ekspresi dingin. Tidak merasakan sedikitpun empati, hanya memahami dan memberikan sedikit toleransi saja.
Berbeda dengan Ri’aima Stein, Rosaria benar-benar tersentuh saat mengetahui latar belakang Lily’ami. Segera berbalik dan berlutut di hadapan anak perempuan itu, sang Pendeta Wanita langsung memeluknya dengan hangat.
“Tenang saja, Lily’ami. Mulai sekarang kamu akan baik-baik saja. Kakak akan melindungi kamu.”
Ucapan dan rasa cemas tersebut tidak sampai ke hati anak perempuan itu. Ia hanya memperlihatkan ekspresi bingung, tidak balik memeluk dan terdiam. Hati sudah tidak bisa memahami kehangatan, hanya kepatuhan mutlak yang tertanam pada diri anak perempuan tersebut.
Harus patuh, penurut, dan mengikuti perkataan orang-orang yang merawatnya, itulah cara Lily’ami bertahan hidup selama ini. Karena itulah, meski ia dulu ditinggalkan oleh kedua orang tua asuh di tengah hutan, anak perempuan itu hanya diam dan mematuhi tanpa merengek sedikitpun. Sampai pada akhirnya ia dipungut oleh Ferytan Loi.
“Kenapa kakak biarawati memeluk saya? Apa kakak kedinginan?” tanya anak perempuan itu dengan polos.
Berhenti memeluk dan menatap sedih, Rosaria seakan melihat cerminan dirinya sendiri di masa lalu. Ditelantarkan oleh orang tua yang bahkan tidak dirinya ketahui, lalu harus menutup hati sejak kecil untuk bisa bertahan hidup di dunia yang kejam.
Merasakan kesendirian yang membuatnya terisolasi, tidak bisa memahami arti keluarga yang sebenarnya. Sampai ia pada akhirnya bergabung dengan Adherents dan mengenal kehangatan dunia untuk pertama kali.
“Hmm, Kakak kedinginan …. Ini sangat dingin. Kakak harap kamu juga tidak kedinginan.”
Mendengar ucapan gemetar itu, anak perempuan dengan pola pikir polis tersebut segera memeluk sang Pendeta Wanita. Memasang senyum lebar, lalu dalam nada ceria berkata, “Kalau begini, apa kakak biarawati sudah tidak kedinginan?”
“Terima kasih ….”
Saat melihat mereka berdua, Ri’aima hanya bisa memberikan sorot mata dingin. Menganggap mereka seperti orang tidak waras kalau melakukan hal seperti itu di tempat umum dan menarik perhatian beberapa orang yang lewat.
Namun pada kenyataannya, jauh di lubuk hati perempuan rambut biru pudar tersebut juga merasakan hal itu. Sebuah perih dan iba saat mengetahui latar belakang Lily’ami. Karena harga diri dan pola pikir yang dipegang teguh sejak lama, Putri Sulung Keluarga Stein hanya bisa menganggap mereka berdua lebih rendah darinya.
Perlahan raut wajah Ri’aima terlihat mengerut, seakan tersiksa dengan prinsipnya sendiri yang telah tertanam dalam dirinya. Merasa tidak berdaya, mempertanyakan kembali prinsip dan cara hidupnya.
ↈↈↈ
Catatan Kecil :
Fakta 034 : Setelah melawan Raja Iblis Kuno dan bertemu salinan Bay Fir (Seseorang dari Fase dunia sebelumnya) pada saat musim dingin lalu, Odo sadar bahwa dirinya sendiri makhluk dimensi tingkat tinggi. Namun, penegtahuan soal cara kembali ke tingkat dimensinya masih belum bisa diingat. Karena ia belum bangkit sepenuhnya.
__ADS_1