Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[85] Dekadensi Kota Rockfield II – Arti bangsawan (Part 05)


__ADS_3

Di dalam Gereja Utama Kota Rockfield, bagian Panti Umat. Ruangan tersebut berada pada poros utama bangunan gereja, membujur dari pintu masuk utama sampai bagian transept. Di dalam ruangan yang biasa digunakan untuk para jamaah berdoa itu, kesan arsitektur yang ada sangat berbeda dari semua tempat di Kota Pegunungan.


Arsitektur gotik yang kental, unsur abu-abu dan warna gelap yang pekat dan kesan mistis terasa jelas di dalam ruangan tersebut. Pada beberapa sudut, lilin menyala terang di atas tongkat-tongkat perak dengan rapi. Terletak melingkari pilar-pilar yang menyangga bangunan.


Di antara semua nyala tongkat lilin di tempat tersebut, terdapat satu Menorah yang terbuat dari tembaga di bagian Panti Imam. Terletak pada meja altar, alat penting untuk liturgi itu terlihat paling berharga dari semua barang yang ada di ruangan.


Kaca patri pada gereja dipasang cukup tinggi, berwarna-warni gelap dengan gambar di dalamnya seakan mengisahkan sebuah perjuangan dari para prajurit di masa lalu. Tampak begitu indah di antara warna berkesan monokrom, membawa kesan bersejarah di ruangan. Meski pencahayaan di tempat tersebut tampak minim, itu tampak seperti bersinar terpapar sinar dari lilin.


Berjalan di antara barisan bangku di bagian panti umat, Odo dan Rosaria sama sekali tidak bertukar kata sejak pertama kali mereka masuk. Canggung menguasai dan menjadi suasana yang menyelimuti, membuat sang Pendeta Wanita perlahan-lahan melihat pemuda yang mengikutinya di belakang sebagai seorang pria secara utuh.


Saat hampir sampai di bagian panti umat, sang Pendeta Wanita menghentikan langkah kaki dan segera berbalik menghadap Odo. Pemuda rambut hitam itu pun ikut berhenti, menatap sedikit heran perempuan di hadapannya.


“Tolong tunggu di sini sebentar, saya akan mengambil Air Suci dan Aspergilum dulu,” ujar perempuan bermata biru tersebut dengan nada malu-malu.


Melihat hal tersebut, Odo merasa sedikit aneh. Kesan yang tampak pada Rosaria tidak seperti perempuan itu terpengaruh oleh pheromone atau semacamnya, lebih cenderung terlihat layaknya anak kecil yang berhadapan dengan sang Ayah saat ingin meminta sesuatu. Hal tersebut sedikit membuat Odo teringat dengan gelagat yang sering ditunjukkan Canna.


“Tidak masalah, saya akan duduk di sini dan menunggu.” Odo berjalan ke arah salah satu bangku yang ada.


Sembari duduk, ia mengangkat kaki kanan ke atas kaki kiri. Lalu sembari memasang mimik wajah angkuh, ia menghela napas panjang untuk menurunkan kesan positif di mata Rosaria. Namun, itu sama sekali tidak efektif dan perempuan itu tetap memperlihatkan ekspresi yang sama.


Tidak berkata apa-apa lagi, Rosaria berbalik dan segera berjalan menuju Tabernakel di sudut ruangan. Membuka lemari penyimpanan khusus Sakramen yang telah disucikan itu, ia mengambil Aspergilum dan sebuah baskom perak berisi air suci. Ia membawa semua itu menggunakan papan kayu yang terbuat dari mahoni, lalu segera kembali ke tempat Odo berada.


“Mari kita ke altar, Tuan Nigrum.”


Mendengar ajakan perempuan itu, Odo sedikit mengerutkan kening dan menurunkan kaki kanan ke lantai. “Saya ke sini bukan untuk dibaptis loh,” ujarnya dengan nada datar.


Mendengar hal tersebut, Rosaria seketika tersentak dan bertingkah gugup. Sembari melihat ke kanan dan kiri tanpa bisa menatap langsung lawan bicaranya, perempuan itu beralasan, “Maaf! Sa-Saya rasa lebih baik Anda juga masuk ke kepercayaan kami! Ah! Ti-Tidak baik berkata seperti itu, ya …. Anda sudah punya kepercayaan sendiri ….”


Odo sejenak menghela napas, mereka kalau perempuan itu bereaksi berlebihan hanya karena satu pertanyaan. Sembari bangun dari tempat pemuda itu pun kembali bertanya, “Memangnya ada tradisi khusus saat mencipratkan Air Suci, ya? Waktu siang aku lihat tidak perlu ke altar dan hanya di luar juga bisa.”


Rosaria tersentak, terdiam membisu dan tidak bisa langsung memberikan alasan yang tepat. Sembari memalingkan pandangan dan menundukkan wajah, ia dengan pelan bertaka, “Maaf, untuk sesaat saya tadi sempat berpikir ingin sekalian membaptis Anda …. Tanpa bilang terlebih dulu kepada Anda.”


“Ingin mencobanya?” Odo menatap datar seakan menantang perempuan itu. Sembari memasang senyum tipis, dengan nada sedikit angkuh dirinya kembali berkata, “Meski kau melakukan hal tersebut, aku rasa itu percuma. Diriku tak akan mengikuti kepercayaan kalian ….”


Pendeta Wanita itu tentu merasa heran, dalam benak bertanya-tanya mengapa perkataan seperti itu keluar dari mulutnya. Memang Rosaria sadar pemuda tersebut pantas marah. Namun, apa yang terucap dari sang Pemuda bukanlah sesuatu yang didasari oleh amarah. Itu terdengar murni seperti sebuah tantangan yang diajukan kepada orang puritan.


“Baiklah, kalau memang itu yang Anda inginkan ….”


Rosaria meletakkan papan berisi Air Suci dan Aspergilum ke atas bangku yang tidak jauh dari Odo duduk. Ia berlutut di depan alat liturgi yang juga biasa digunakan dalam alat pembaptisan tersebut, lalu sembari menyatukan kedua tangan ke depan mulai memanjatkan doa dengan khusyuk.


Begitu tenang, tulus dan benar-benar memanjatkan perasaan sampai berkah benar-benar turun. Partikel cahaya keemasan mulai menyelimuti tubuh Pendeta Wanita itu, lalu perlahan berkumpul pada baskom perak berisi Air Suci dan menyatu ke dalam. Membuat Air Suci tersebut tampak gemerlap layaknya memang memiliki sumber cahaya sendiri.


Jika orang yang memiliki kepercayaan terhadap Dewa-Dewi melihat hal tersebut, mungkin mereka akan menganggapnya sebagai berkah murni. Namun, di mata Odo itu hanyalah Mana unik tanpa atribut yang berkumpul pada satu titik. Sebuah Unfar dengan tingkat dimensi sedikit lebih tinggi daripada yang dimiliki makhluk mortal pada umumnya.


“Hmm ….” Odo menatap sedikit kagum dengan hal tersebut, lalu sembari memasang senyum ringan bertanya, “Berarti Nona Rosaria sudah mendapatkan pencerahan, ya?”


“Setiap makhluk memiliki pendekatan mereka masing-masing terhadap Kebenaran Dunia. Sebab itulah, saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda dengan tepat.” Mengangkat baskom berisi Air Suci dan Aspergilum, perempuan bermata biru tersebut bangun. Sembari menatap lawan bicaranya dirinya pun kembali berkata, “Apakah Anda siap, Tuan Nigrum? Saya berharap Anda bisa merasakan berkah ini dan mulai memiliki kepercayaan yang sama dengan kami ….”

__ADS_1


“Hmm, silakan.” Odo berdiri menghadap lurus ke Rosaria, lalu seraya merentangkan kedua tangan ke samping berkata, “Aku datang hanya untuk mengikuti peraturan kota, supaya nantinya tidak ada orang yang menuntut hal yang tidak-tidak. Bukan untuk hal lain ….”


Rosaria terdiam, merasa janggal dengan perkataan tersebut dan untuk sesaat membuatnya merasa ragu untuk melakukan pembaptisan. Mengerti bahwa dirinya harus mencipratkan Air Suci kepada pemuda itu, sang Pendeta Wanita pada akhirnya memasukkan Aspergilum ke dalam baskom dan bersiap.


Dalam sekali cipratan dan air mengenai wajah serta tubuh Odo. Namun, hal seperti berkah yang seharusnya terjadi tidak muncul.


Dalam kondisi normal, seharusnya cahaya akan menyelimuti tubuh sang Pemuda sebagai tanda bahwa berkah sedang bekerja. Jika memang ada sesuatu yang buruk dalam tubuhnya, itu pun seharusnya memberikan reaksi seperti keluar aura hitam sebagai tanda bahwa penyucian sedang bekerja.


Tetapi, itu memang benar-benar tidak menunjukkan reaksi seakan berkah yang diberikan Rosaria hanyalah air biasa.


“Eh?” Rosaria benar-benar kebingungan, lalu sembari menurunkan kedua alis ia pun berkata, “Kenapa tidak ada reaksi? Seharusnya ….”


Ia kembali memasukkan Aspergilum ke dalam baskom, lalu bersiap untuk mencipratkan Air Suci lagi. Tetapi sebelum melakukan hal tersebut, tiba-tiba partikel cahaya muncul di sekitar tubuh Odo. Itu jauh lebih terang dan pekat daripada miliki Rosaria sebelumnya, sampai-sampai sinarnya mengisi seluruh ruangan tersebut.


Partikel cahaya perlahan berkumpul di atas kepala Odo, lalu secara konstan membentuk sebuah halo layaknya milik para malaikat dalam kisah yang sering ditemui dalam dongeng. Lingkaran dengan beberapa runcing layaknya mahkota, melayang beberapa sentimeter dari kepala dan memancarkan sinar yang begitu terang namun tidak merusak mata yang melihatnya.


“Manifestasi … malaikat?”


Satu pertanyaan itu terucap dari mulut Rosaria, tanpa pikir panjang ia langsung paham bentuk tersebut ketika pertama kali melihatnya. Bagi mereka yang berasal dari Pihak Religi Kerajaan Felixia dan mendalami kehidupan puritan untuk mendapat ketenangan hidup, wujud tersebut tentu Rosaria kenali.


Sepanjang sejarah Daratan Michigan, hanya mereka orang-orang terpilih saja yang bisa mendapatkan kekudusan. Bahkan untuk mereka yang berhasil mewujudkan bentuk makhluk ilahi, jumlahnya tidak lebih dari hitungan jari tangan. Itu pun kebanyakan dari mereka bukan berasal dari manusia murni, contohnya seperti para Homunculus ciptaan Penyihir Agung dari Miquator.


“Yah, semacam itulah ….” Odo langsung memegang halo di atas kepala, lalu dengan segera mematahkannya sebelum ada orang lain yang melihat. Itu menjadi partikel cahaya, lalu menghilang ke udara seperti sebuah kristal yang menyublim menjadi gas. Sembari menatap perempuan di hadapannya, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berkata, “Nona lihat, ini alasan ku tidak bisa mengikuti kepercayaan kalian. Kau tahu kalau tadi itu asli, bukan?”


“Anda … sebenarnya siapa?”


Rosaria dengan jelas tahu apa yang sebelumnya pemuda itu lakukan adalah murni sebuah Manifestasi Malaikat. Bagi seorang Pendeta, ia pernah bertemu langsung dengan Archbishop dan sangat memahami pancaran suci yang ada. Karena itulah, ia tahu mana yang asli dan palsu.


“Aldrich?” Rosaria terperangah mendengar itu. Ia menjatuhkan baskom dan Aspergilum di kedua tangannya, membuat Air Suci tumpah ke atas lantai marmer. Kedua mata perempuan tersebut terbuka lebar, tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya dan dengan gemetar memastikan, “Maksud Anda …, Aldrich sang Pontiff? Sosok mulia yang telah mendapat keilahian?”


“Hmm, memangnya siapa lagi? Memangnya ada orang lain yang mau memakai nama sok suci seperti itu?”


Ejekan itu tidak Rosaria pedulikan, ia terlalu bingung untuk memahami situasi yang ada. Sembari melangkah mendekat dan meraih kedua tangan Odo, perempuan taat tersebut kembali bertanya, “Engkau sebenarnya siapa? Apakah engkau adalah … utusan ilahi yang turun untuk menyelamatkan kami semua?”


“Menyelamatkan dari apa memangnya?” Odo menarik tangannya dari Rosaria, lalu sembari melangkah mundur kembali berkata, “Aku hanyalah seorang manusia, bukan malaikat atau bahkan utusan ilahi.”


“Tidak mungkin ada manusia yang memiliki kekuatan suci seperti itu!”


“Benar juga …” Odo tersentak mendengar itu, merasa kalau hal tersebut ada benarnya. Sembari berdiri tegak dan menatap lurus lawan bicaranya, Putra Tunggal Keluarga Luke itu pun memperkenalkan diri sekali lagi, “Aku adalah Putra Tunggal Keluarga Luke, Odo Luke. Untuk sekarang mendapatkan status Viscount yang berwenang di bawah kekuasaan Keluarga Rein.”


“Odo Luke ….”


Tubuh Rosaria seketika gemetar. Sebagai Pendeta yang bisa dikatakan berada di hierarki menengah atas dalam Pihak Religi, tentu nama tersebut sangatlah kental di telinganya. Tentu juga tentang rumor yang ada pada nama tersebut dan tersebar setelah Pesta Pertunangan selesai.


Seorang sosok utusan ilahi sama seperti sang Penyihir Cahaya, Mavis Luke. Mewujudkan manifestasi dengan mudah saat akan disucikan pada Pesta Pertunangan, lalu pada akhirnya sang Pontiff sendiri tidak menyelesaikan ritual secara lengkap karena beberapa alasan khusus.


Ada beberapa versi dalam kabar burung itu di kalangan Pihak Religi. Memang sebagian besar terdengar abstrak dan dilebih-lebihkan. Tetapi dari semua versi memiliki satu kesamaan pasti, yaitu Odo Luke dengan jelas memunculkan halo saat tubuhnya terciprat air suci.

__ADS_1


“Nona tak perlu menatap ku sampai seperti itu. Lama-lama aku jadi takut⸻”


Tidak mendengarkan perkataan Odo sampai selesai, Rosaria langsung berlutut di hadapannya dengan penuh rasa hormat. Perempuan itu seketika paham alasan mengapa perasaannya tidak tenang ketika pertama kali bertemu dengan pemuda itu.


Perbedaan pengetahuan, karisma, dan drajat kesucian. Untuk Rosaria yang pernah beberapa kali bertemu dengan orang-orang penting dalam Pihak Religi, ia juga sering merasakan hal tersebut. Sebuah kegelisahan yang menganggap dirinya sendiri tidak pantas untuk berbicara setara dengan orang-orang tersebut.


“Tolong maafkan saya karena berbicara tidak sopan kepada Anda, Tuanku. Saya tidak menyadari bahwa Tuan adalah Putra Tunggal Keluarga Luke ….”


Melihat reaksi perempuan itu, perlahan mimik wajah Odo berubah datar dan dalam benak samar-samar merasa kalau reaksi seperti itu akan muncul. Bagi orang dari Pihak Religi, keilahian merupakan hal yang sangat diagungkan dan tidak boleh dipertanyakan.


Entah itu dalam perkataan, tindakan, atau bahkan pikiran, semuanya adalah mutlak kebaikan. Ketika seseorang yang menjalani jalan puritan menyadari bahwa sosok di hadapannya adalah individu yang lebih suci, maka sudah seharusnya ia memberikan penghormatan mutlak melebihi kepada para bangsawan atau bahkan Raja mereka sendiri.


“Angkat kepalamu, Rosaria.” Odo membungkuk dan memegang pundak kanan perempuan itu. Dengan nada suara tenang dan berbeda dari sebelumnya, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berkata, “Aku datang ke sini bukan untuk disembah atau dihormati secara berlebihan, aku ke sini hanya sebagai Nigrum ….”


“Nigrum …?” Rosaria mengangkat wajahnya, tampak bingung mendengar seorang Bangsawan hanya ingin diperlakukan sebagai pedagang.


“Ya, aku di sini adalah Nigrum. Tidak lebih dari itu.” Odo berhenti memegang pundak perempuan itu, lalu sembari memasang senyum ringan meminta, “Jadi, tolong berdirilah ….”


Rosaria pun berdiri, dengan tubuh sedikit gemetar dan tatapan terkesima. Untuk beberapa alasan, ia memandang drajat Odo semakin tinggi. “Apakah ada alasan khusus di balik hal tersebut, wahai Tuanku?” tanyanya sembari meletakkan tangan kanan ke dada.


Odo memasang senyum tipis, dalam hati merasa sangat puas karena berhasil mendapatkan orang kunci dalam rencananya untuk menyelesaikan masalah di Rockfield. Sembari mengulurkan tangan ke depan, pemuda rambut hitam itu pun berkata, “Jawaban itu juga ada kaitannya dengan alasan ku datang ke kota ini. Maukah engkau mendengar cerita ku terlebih dahulu?”


“Tentu saja, dengan senang hati ….”


Perempuan itu menarik kaki kanan ke belakang. Lalu sembari mengangkat pendek gaunnya dengan kedua tangan, ia pun membungkukkan ringan sebagai tanda penghormatan.


Dalam paparan sinar dari lilin-lilin yang bercahaya redup di ruangan, malam menjadi panjang bagi mereka berdua. Setelah Rosaria merapikan alat liturgi yang sebelumnya dijatuhkan ke lantai, mereka berdua berbicara panjang lebar sampai tengah malam.


Odo memberitahu alasannya datang ke Rockfield, tentu saja dengan beberapa fakta yang disembunyikan dari perempuan itu. Putra Tunggal Keluarga Luke itu menyampaikan bahkan dirinya ingin menyelesaikan gejolak politik di Kota Pegunungan, lalu mengembalikan koneksi dengan Kota Mylta di pesisir. Untuk menjalankan hal tersebut, ia pun meminta beberapa bantuan kepada Rosaria dan mengajukan banyak pertanyaan.


Salah satu pertanyaan penting yang diajukan adalah mencangkup Walikota Rockfield, Oma Stein. Tentang kepribadian, cara memimpin, kebijakan yang diterapkan dan perilakunya selama masih sehat.


Selain itu, Odo juga sempat menanyakan tentang sang Istri Walikota, Agathe. Dari masa lalu dan latar belakang, Odo dengan saksama mendengarkan cerita Rosaria tentang wanita yang dikenal suka dengan perhiasan tersebut.


Pada kisah panjang yang diceritakan sang Pendeta Wanita, ada beberapa hal menarik yang Odo dengar di dalamnya.


Hal tersebut adalah tentang Keluarga Bangsawan Baron Swirea dan eksekusi penanggung jawaban atas kekalahan Kota Rockfield. Hal tersebut terjadi pada penghujung masa Perang Besar, ketika Kota Pegunungan kalah untuk yang kedua kali dan kekuasaan berpindah ke Miquator sampai akhir masa peperangan.


Sebuah keluarga bangsawan yang gagal menjalankan tugas, kemudian pada akhirnya disalahkan oleh rakyatnya sendiri karena provokasi beberapa orang. Lalu, hal tersebut berujung dengan eksekusi hampir seluruh anggotanya. Bukan di bawah perintah dari Miquator yang telah menduduki kota, namun dilakukan oleh penduduk Kota Rockfield sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan :


Yo, mungkin ada yang bingung dengan item-item di gereja dalam di CH ini. Untuk memudahkan, aku sarankan untuk cari di Internet atau buku pendidikan.


Bingung mau bilang apa lagi, jadi aku katakan saja!

__ADS_1


See You Next Time!


Btw, komen dong! Biar aku tahu yang baca bukan Bot!


__ADS_2