Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 100 Hukuman dari Bos


__ADS_3

Dave segera menghubungi Andrea dan memberitahukan semuanya. Sementara Adam dan Reina di tahan di sebuah ruangan kosong yang sengaja Andrea persiapkan untuk orang-orang yang mencari masalah dalam perusahaannya. Sambil menunggu kedatangan bos besarnya, Dave pun segera mengecek komputer yang ada di ruangan Adam. Lagi-lagi dia menemukan laporan yang bermasalah. Pantas saja terjadi kecelakaan kerja ternyata Adam sudah menurunkan standar safety pekerja. Sangat berbeda dengan yang dia laporkan ke pusat.


"Apa gara-gara ini dia keluar dari Putra Group? Kenapa dulu aku tidak bertanya pada Om Al tentang kinerja kutu kupret itu," gumam Dave.


Setelah mendapatkan beberapa bukti, dia pun segera menuju ke ruangannya. Nampak di sana, Sevia yang masih menunggunya sampai ketiduran. Dave pun segera menghampiri istrinya dan berjongkok di depan Sevia. Perlahan, dia mengecup bibir tipis itu yang sedang mengatup. Lalu Dave mengelus lembut bekas kecupannya tadi membuat Sevia terbangun dari tidurnya.


"Dave, sudah selesai?" tanya Sevia lalu bangun dari tidurnya.


"Sudah, sahabat kamu itu ternyata tikus kecil yang suka menggerogoti sesuatu yang bukan miliknya. Beruntung kamu tidak menerima cintanya. Kalau iya, siap-siap saja akan jadi istri napi," jawab Dave dengan mendudukkan bokongnya di samping Sevia.


"Aku gak nyangka, Dave. Padahal mereka begitu baik padaku. Saat aku terpuruk, dia selalu ada untukku memberikan dukungan dan semangat agar aku bisa bangkit." Sevia pun menundukkan kepalanya sedih. Dia merasa heran, kenapa orang-orang yang terlihat baik di matanya justru hanya ingin mengambil manfaat darinya.


"Sudah jangan bersedih! Anggap saja mereka bagian dari masa lalu kamu yang harus kmu lupakan. Ingat sayang, saat ada orang yang menyakitimu, pasti ada orang yang dengan tulus menyayangimu. Jangan pernah terpaku pada orang-orang yang hanya bisa melukai perasaan kamu. Karena sebenarnya masih banyak orang yang dengan sukarela memberikan kasih sayangnya buat kamu." Dave terus mengelus rambut sebahu istrinya dengan kepala Sevia yang menyender di bahunya.


"Iya Dave." Sevia memeluk suaminya erat.


Dia tidak menyangka, meskipun Dave usianya lebih muda darinya tetapi pemikiran dia terkadang lebih dewasa dari usianya. Memang benar kata orang, kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari usianya tapi dari cara berpikirnya.


"Makasih Dave untuk semuanya, boleh aku bIlang satu hal?" tanya Sevia dengan dengan mendongakkan kepala melihat wajah suaminya.


"Bilang apa? Tentu saja boleh," sahut Dave.


"Abdi bogoh ka anjeun." Sevia tersenyum manis pada Dave membuat suaminya itu mencubit gemas hidung minimalis miliknya.


"Aku memang bodoh karena kamu yang sudah membuat aku jadi orang bodoh dengan mencintai kamu tanpa syarat," ucap Dave.

__ADS_1


Kapan aku bilang dia bodoh? Aku kan bilang bogoh yang berarti cinta sama dia. Astaga! Mana mungkin dia mengerti, batin Sevia.


Saat keduanya sedang larut dalam pikirannya masing-masing, terdengar suara helikopter di atas atap gedung. Dave yang menyadari kedatangan bosnya langsung menyuruh Sevia untuk pulang terlebih dahulu. Dia tidak ingin istrinya melihat langsung apa yang dilakukan bos besarnya pada orang yang sudah bermain-main dengannya.


"Sayang, cepat pulang! Om Andrea sudah datang. Aku harus menemuinya," ucap Dave.


"Aku pulang ya! Jaga dirimu baik-baik, aku menunggumu di rumah!" Sevia langsung mengecup punggung tangan Dave sebelum dia keluar dari ruangan suaminya.


Setelah kepergian Sevia, Dave langsung bergegas ke ruangan tempat di mana Adam dan Reina di tahan. Sudah menjadi kebiasaan bosnya, dia akan memberikan pelajaran terlebih dahulu sebelum menyerahkannya pada yang berwajib. Dave yang sudah tahu banyak mengenai sepak terjang bosnya, selalu bersikap hati-hati dan patuh jika tidak ingin dalam masalah.


"Om, maaf aku lama menemukan tikus kecil ini," ucap Dave saat bertemu dengan Andrea.


"Tidak apa! Sepintar apa mereka sampai bisa mengelabui kamu?" tanya Andrea.


Andrea hanya tersenyum remeh mendengarkan apa yang dikatakan oleh anak buahnya. Dia sedang menyusun rencana pembalasan yang setimpal untuk orang yang sudah bermain-main dengannya. Sambil menelisik penampilan kedua kakak beradik itu, Andrea pun sudah menyiapkan hukuman darinya.


"Setrum dia, tapi jangan sampai mati. Cukup sampai kulitnya melepuh, lalu serahkan pada polisi." Andrea langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh pengawalnya.


Pengawal yang dibawa oleh dia dari mansion langsung menuruti apa yang dikatakan oleh bosnya. Dave hanya memejamkan matanya sekilas. Merasa tidak tega pada mereka berdua.


"Hatimu jangan lemah menghadapi orang yang berani berbuat kurang ajar padamu, Dave. Saat kamu membiarkan mereka, maka mereka akan semakin berani sama kamu." Seperti paranormal, Andrea bisa menebak isi hati anak buah kesayangannya.


"Iya, Om!"


Setelah merasa puas mendengar jeritan kesakitan dari kakak beradik itu, Andrea pun mengajak Dave dan Harry untuk ke ruangannya. Dia ingin membicarakan sesuatu pada bawahannya itu.

__ADS_1


"Dave, mungkin sebaiknya kamu memegang kembali pabrik Cikarang. Om akan menyerahkan sepenuhnya pengoperasiannya pada kamu. Biar Elvano sendiri yang meng-handle di pusat. Dia harus bisa seperti kamu yang bisa mengorganisir semuanya. Karena dia yang nantinya akan meneruskan usaha Om, ucap Andrea.


"Baik, Om! Apapun uang Om minta, aku akan berusaha untuk memenuhinya," ucap Dave.


"Bagus, kamu memang selalu bisa Om andalkan. Sepuluh menit lagi, Om harus kembali ke mansion. Ada urusan yang belum selesai di sana," ucap Andrea.


"Urusan apa, Om?" celetuk Harry yang sedari tadi diam hanya jadi pendengar setia.


"Kamu seorang duda, tidak akan mengerti dengan yang terjadi pada para suami. Sebaiknya kamu secepatnya mencari pengganti artis abal-abal itu. Perempuan seperti itu tidak pantas berada dalam lingkungan kita," suruh Andrea.


"Iya, Om! Kalau aku sudah mendapatkan penggantinya, bolehkah aku meminta bonus pernikahan ditambah cuti untuk bulan madu?" tanya Harry yang menjadi ikutan tidak tahu malu seperti bosnya.


"Baiklah, Aku akan memberikan hadiah untuk kalian berdua. Tapi harus janji, tidak akan ada yang berani mengkhianati aku," Andrea menatap tajam kedua anak buahnya yang sudah dia anggap sebagai anak angkatnya itu.


"Siap Om!" Keduanya langsung mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengah membuat Andrea terkekeh melihat mereka.


"Om senang punya orang yang bisa Om andalkan seperti kalian. Pertahankan! Om, pergi dulu," Andrea pun langsung kembali ke atas gedung dengan diantar oleh Dave dan Harry.


Dia langsung naik helikopter yang sudah menunggunya. Dave dan Harry langsung kembali ke ruangannya setelah Andrea mengudara. Rasa campur aduk kini menghinggapi perasaan mereka berdua.


"Kita tiba boleh main-main dengan orang seperti Om Andrea, karena tidak segan untuk memberikan hukuman." ucap Dave.


"Kamu benar Dave. Kita harus berhati-hati!"


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2