Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 39 Ingin Selalu Bersamamu


__ADS_3

Semakin Sevia meresapi isi lagu yang dibawakan oleh Dave, semakin dia tidak bisa menahan untuk mengeluarkan air mata. Perlahan dia melangkah mundur. Meninggalkan keramaian karyawan yang sedang memuja Dave. Dia terus berjalan ke arah luar restoran, melihat kendaraan yang hilir mudik dengan tatapan kosong. Entah kenapa hatinya sangat sakit mendengar lirik lagu itu. Padahal sedari awal dia tahu, untuk tidak berharap banyak pada suaminya. Sampai akhirnya dia tiba di sebuah halte, Sevia pun mendudukan bokongnya di kursi besi yang tersedia.


Lama dia termenung, sampai terdengar suara dering ponsel membuyarkan lamunannya. Terlihat di layar ponsel sebuah nama yang selalu mengusik hari-harinya. Namun, Sevia tidak berniat untuk mengangkat panggilan telepon dari suaminya karena dia merasa enggan bertemu dengan Dave sebelum bisa menetralkan perasaannya.


Tak berapa lama kemudian, ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Namun, Sevia yang sedari tadi menunduk tidak menyadari kalau di depannya sudah berdiri pria tampan dengan iris mata biru.


"Via, kamu kenapa? Apa kamu tidak suka melihatku tadi menyanyi?" tanya Dave.


"Aku suka! Tadi nenek menelpon dan aku tidak sengaja sampai ke halte." Bohong Sevia.


"Kamu yakin bukan karena lagu yang aku bawakan?" tanya Dave dengan memegang bahu Sevia dan menatap lekat matanya.


"Iya, Dave! Bolehkah aku pulang kampung? Aku sangat merindukan kampung halamanku." Sevia berusaha meminta ijin pada Dave.


"Kapan mau pulang? Boleh aku ikut?" tanya Dave yang kemudian mendudukan bokongnya di samping Sevia.


"Kamu yakin ingin ikut pulang bersamaku?" tanya Sevia.


"Aku yakin, Via! Aku ingin mengenal keluargamu. Apa tidak boleh?" tanya Dave.


"Boleh, tapi rumah nenek aku kecil apalagi kamar tidurnya sangat berbeda dengan apartemen kamu," ucap Sevia.


"Tidak masalah, asal aku selalu bersamamu. Justru kalau tempat tidurnya kecil, kita bisa terus peluk-pelukan." Dave mengerlingkan matanya nakal.


"Kamu yakin ingin selalu bersama aku?" lirih Sevia.


"Tentu saja! Kalau tidak bersamamu, pedang naga apus aku, bagaimana bisa menyemburkan lahar putihnya?" Lagi-lagi Dave menggoda Sevia dengan menaik turunkan alis lebatnya.


"Kamu tuh mesum banget, Dave!" Sevia langsung mencubit perut brondong mesum yang ada di depannya.


"Via, kamu menggodaku! Ayo kita jalan-jalan keliling kota gudeg!" ajak Dave kemudian yang langsung disetujui oleh istrinya.

__ADS_1


Entahlah Dave! Aku tidak bisa mengartikan perasaan kamu. Terkadang kamu seperti menyuruhku untuk menyerah, tapi kemudian kamu seperti memberikan harapan. Sebenarnya, seperti apa perasaan kamu kepadaku?


Sevia terus bergelut dengan pikirannya, sampai tak terasa mobil sudah berada di sebuah bukit dengan pemandangan kota Jogja. Dave tahu kalau Sevia sedang menyembunyikan sesuatu sehingga dia ingin menghibur istrinya dengan membawa dia ke bukit bintang. Melihat Sevia yang masih asyik dengan lamunannya, Dave pun segera mencondongkan badannya dan mencium pipi Sevia.


"Dave," lirih Sevia yang kaget karena ada benda kenyal yang terasa dingin menyentuh pipinya.


"Melamun terus, apa sudah tidak sabar ingin pulang kampung atau tidak sabar ingin bikin dede gemes?" goda Dave.


"Apaan sih, Dave?" Terlihat rona merah di kedua pipi Sevia, " ini di mana?" lanjutnya.


"Ini di bukit bintang, kamu pasti suka melihat pemandangannya." Dave langsung membuka sabuk pengamannya kemudian turun dari mobil. Sevia langsung mengikuti suaminya turun dari mobil.


Dave terus menggenggam tangan Sevia seraya berkeliling melihat-lihat apa yang ada di sana. Sampai di beberapa titik yang menurut Sevia bagus, mereka pun berfoto bersama. Terlihat wajah Sevia yang tadinya murung kini kembali ceria.


"Dave, kamu tahu dari mana tempat indah seperti ini?" tanya Sevia.


"Dari Mbah Google," Dave tersenyum manis membuat seorang gadis yang tidak sengaja berpapasan menjadi salah tingkah.


"Kemana aja kamu, Via. Suamimu ini memang hebat. Apalagi membuat kamu pipis enak berkali-kali, hahaha ...." Dave tertawa senang lagi-lagi berhasil menggoda istrinya.


"Dave, ikh ngomongnya asal banget." Sevia pun kembali mencubit perut suaminya.


"Ayok, kita lihat pemandangan kota dari sini!" Dave langsung menarik tangan Sevia menuju ke tepi bukit.


Sevia begitu terpesona melihat pemandangan yang ada. Dave berdiri tepat di belakang Sevia. Sampai saat Dave memasangkan kalung berlian yang simpel dan elegan bermata biru laut, barulah Sevia sadar dari rasa takjubnya.


"Dave," lirih Sevia dengan meraba kalung sudah terpasang di lehernya.


"Kamu jaga ya, Via! Anggap saja ini sebagai pengganti aku saat kita berjauhan," ucap Dave dengan mengecup pundak belakang Sevia yang sukses membuat bulu kuduk istrinya berdiri.


"Memang kamu mau pergi ke mana?" tanya Sevia.

__ADS_1


"Gak ke mana-mana. Mungkin awal bulan depan, aku ditarik ke kantor pusat. Kita tidak bisa setiap hari bertemu, tapi aku janji setiap akhir pekan pasti mengunjungimu." Dave menerawang jauh ke depan.


"Apa Harry juga ikut?" tanya Sevia.


"Tentu saja! Ke manapun aku pergi, dia pasti akan ikut bersamaku. Aku ingin mengajakmu tapi kuliah kamu baru mulai. Sampai selesai semester satu, nanti kuliahnya pindah saja," saran Dave


Sevia terdiam tidak menjawab. Dia ingin menikmati kebersamaannya dengan Dave sebelum apa yang dikatakan suaminya itu menjadi kenyataan. Keduanya hening, hanya hati dan pikiran mereka yang terus bicara. Udara malam yang semakin menusuk kulit, membuat Dave semakin mengeratkan pelukannya.


Pria bermata biru itu sebenarnya merasa berat jika harus meninggalkan Sevia. Dia sudah merasa sangat nyaman hidup bersama dengan istrinya. Namun, keputusan Andrea tidak bisa dibantahnya. Karena memang perusahaan pusat sedang membutuhkan tenaganya. Apalagi gaji yang ditawarkan juga sangat menggiurkan untuk menambah pundi-pundi kekayaannya.


Setelah merasa cukup lama berada di bukit Bintang. Apalagi malam semakin larut, Dave pun mengajak Sevia untuk kembali hotel. Dia terus saja mengikuti ke mana pun Sevia pergi seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.


"Dave, aku mau pipis dulu! Kamu mau ikut juga?" tanya Sevia.


"Via, jangan lama-lama! Aku menunggumu di tempat tidur," ucap Dave.


Sevia hanya menggelengkan kepalanya seraya beranjak ke kamar mandi. Setelah menyelesaikan ritualnya, dia pun segera menghampiri Dave yang sudah membuka bajunya. Keningnya mengernyit melihat apa yang dilakukan suaminya. Bisa-bisanya Dave sudah siap sedia untuk tempur bersamanya.


"Sini Via, malah bengong! Kita hanya semalam di sini karena besok sore harus sudah kembali. Ayo kita buat Dave junior yang lucu-lucu," ajak Dave.


"Kamu benar-benar gak mau rugi ya, Dave! Selalu memaksimalkan waktu yang ada," ucap Sevia ikut berbaring di samping suaminya.


Dave langsung menarik Sevia agar lebih mendekat padanya. Sampai tidak ada jarak lagi di antara mereka. Namun, terasa ada yang ganjal saat Sevia merasa sesuatu yang di bawah sana seperti sudah mengeras dan siap tempur.


"Dave, kamu gak pakai baju apapun?"


"Biar cepat, Sayang."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa sawerannya ya kakak! Biar othor tambah semangat up-nya....

__ADS_1


__ADS_2