
Kini Sevia sudah dipindah ke ruang perawatan. Dave yang merasa lelah setelah aktivitasnya tadi siang yang lumayan menguras tenaga, ditambah lagi dia lelah memompa istrinya, membuat pria bermata bule itu ikut terlelap di samping istrinya.
Bed rumah sakit yang seharusnya untuk tidur satu orang, ternyata dipakai untuk menampung sepasang suami-istri. Sampai dokter jaga yang ingin mengecek kondisi Sevia di pagi hari, hanya bisa menggelengkan kepala melihat sepasang suami-istri yang saling berpelukan seperti sedang berada di rumah.
"Permisi Tuan, Nyonya!"
Mendengar ada suara yang menyapanya, perlahan Sevia membuka mata. Dia pun langsung melihat ke arah suara yang tadi didengarnya. Ibu hamil itu hanya tersenyum kikuk saat menyadari sudah ada dokter dan perawat di ruangannya.
"Pagi Dok, Sus!" sapa Sevia seraya menggoyang-goyangkan badan Dave agar segera bangun.
Namun, bukannya bangun, Dave malah menarik Sevia agar kembali tidur. Dia langsung memeluk Sevia dengan erat, "Via tidurlah! Aku masih ngantuk." ucap Dave dengan suara seraknya.
"Permisi, Mister! Kami datang untuk memeriksa Nyonya Sevia," ucap dokter.
Dave langsung membuka matanya saat mendengar ada suara pria lain di ruangannya. Dia langsung menoleh ke belakang melihat siapa yang bicara.
"Kenapa kamu masuk ke kamar aku?" tanya Dave bingung.
"Dave kita lagi di rumah sakit," bisik Sevia yang bersamaan dengan dokter itu bicara.
"Saya dokter jaga yang akan memeriksa keadaan istri Anda," ucap dokter itu.
"Oh, begitu ya!" Dave pun langsung bangun dan berpindah duduk di kursi yang ada di samping bed.
Dia ingin ke kamar mandi tapi dia tidak mau membiarkan istrinya diperiksa oleh dokter laki-laki tanpa sepengetahuannya. Makanya Dave terus memperhatikan apa yang dokter itu lakukan.
"Apa masih terasa sakit perut bawahnya?" tanya dokter.
"Sudah mendingan, Dok!"
"Syukurlah, tapi masih belum boleh banyak bergerak ya. Harus istirahat total untuk memulihkan kondisi ibu dan janinnya," ucap dokter itu setelah dia selesai memeriksa Sevia.
"Baik, Dokter terima kasih!" ucap Sevia.
Setelah dokter memastikan kondisi Sevia, dia pun undur diri meninggalkan Dave yang masih diam membeku di kursinya. Dia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada istrinya. Seandainya dia lebih bisa mengontrol diri, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Dave, aku ingin ke toilet." Sevia memegang tangan membuat pria bermata biru itu tersadar dari lamunannya.
"Iya, Via sekali lagi aku minta maaf," lirih Dave seraya menggendong Sevia menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, jangan terus-terusan merasa bersalah seperti itu. Ini ujian untuk kita berdua. Yang terpenting, kita tidak melakukan lagi kesalahan yang sama di kemudian hari," Sevia mengelus rahang Dave pelan.
"Aku semakin mencintai kamu, Via. Kamu masih bisa berpikir bijak dengan kesalahanku." Dave langsung mendudukkan Sevia di closet duduk.
Sevia hanya tersenyum mendengar apa yang suaminya katakan. Dia tidak tega melihat Dave yang terus-menerus merasa bersalah dengan apa yang terjadi sekarang. Meskipun benar Dave yang terus menginginkan percintaan mereka berulang-ulang tetapi dia juga ikut menikmatinya.
Dave di dengan telaten memandikan istrinya, setelah merasa sudah bersih, dia pun menggendong kembali Sevia ke tempat tidur. Untung saja semalam Harry pulang dulu ke rumah dan mengambil baju ganti mereka, sehingga keduanya tinggal berganti baju yang bersih karena sudah tersedia.
Saat baru saja selesai Sevia berpakaian, terdengar suara pintu ada yang membukanya dari luar. Rani dan Harry yang baru datang dengan membawa sarapan, langsung saja masuk ke dalam ruang inap Sevia.
"Harry, semalam kamu pulang lagi ke rumah?" tanya Dave.
"Iya, mana mungkin aku mau melihat kalian berpelukan. Lebih baik aku pulang meskipun sudah tengah malam. Kalau di rumah ada seseorang yang bisa aku peluk. Benar kan sayang," goda Harry pada istrinya.
"Apaan, ikh ...." Pipi Rani langsung bersemu merah dengan apa yang Harry katakan. Dia masih suka malu-malu jika terlihat bermesraan di depan orang lain.
"Harry istri kamu malu, jangan menggodanya terus. Padahal kita gak masalah ya sayang kalau mereka ingin bermesraan di depan kita." Dave mencium pipi Sevia. Dia sengaja ingin memprovokasi Harry agar mengikuti apa yang dilakukannya pada Sevia.
Harry yang mengerti dengan maksud Dave, dia langsung menyambar bibir Rani dan menyesapnya sesaat membuat Dave dan Sevia bengong di tempatnya. Jangan tanyakan Rani, pipinya sudah seperti kepiting rebus karena malu dengan apa yang Harry lakukan.
"Aku juga bisa, Dave." Senyum Harry mengembang merasa puas karena bisa membalas sahabatnya.
"Kalian tuh suka ngadi-ngadi. Memangnya aku dan Rani jadi bahan pamer kalian? Sudah Rani, jangan kasih Harry jatah nanti malam. Biar dia tidak punya bahan untuk dipamerkan." Entah kenapa Sevia merasa kesal dengan kelakuan suami dan sahabatnya itu.
"Jangan dong, Rani! Kamu jangan dengarkan apa yang Sevia katakan!" Harry langsung panik dengan apa yang istri sahabatnya itu katakan.
"Tapi Sevia sahabat aku dan apa yang dia katakan ada benarnya juga. Jadi buat nanti malam, kamu puasa dulu ya," ucap Rani dengan menahan senyumnya.
Harry langsung menatap horor pada Sevia. Dia kesal karena Sevia berhasil mempengaruhi istrinya. Harry pun jadi diam tak bersuara lagi.
"Rani, bagaimana keadaan anak-anak? Devanya gak rewel kan?" tanya Sevia.
"Nggak kho, dia anteng sama Bi Lina. Ayo makan dulu, aku sudah membelikan kamu bubur ayam." Rani menyimpan paper bag yang dibawanya dan menyiapkan sarapan untuk Sevia.
"Rani, aku ingin soto Betawi yang ada di samping wisma itu," ucap Sevia saat melihat bubur ayam yang sudah Rani siapkan.
"Nanti sore, kalau jam segini belum ada. Kamu makan bubur aja dulu," ucap Rani.
"Aku gak berselera melihatnya. Dave, aku ingin bubur ayam Cirebon yang ada di pertigaan itu. Yang depan minimarket," pinta Sevia.
__ADS_1
"Ya sudah, aku beli dulu." Dave pun akan beranjak untuk membeli apa yang diinginkan istrinya. Namun, saat baru saja sampai depan pintu, Sevia sudah memanggilnya kembali.
"Dave, sama tempe mendoan ya," pinta Sevia dengan mata penuh pengharapan.
"Via, jam segini belum ada yang jualan mendoan. Nanti sore saja sekalian dengan soto Betawi," timpal Rani yang tidak tega jika Dave harus berkeliling mencari tempe mendoan.
"Tidak apa Rani, aku pasti akan mendapatkannya. Ayo Harry, temani aku!" Dave langsung menarik tangan Harry yang sedang kesal.
Udah nanti malam gak dapat jatah, sekarang harus nyari makanan yang susah dicari penjualnya. Sevia kenapa kamu jadi menyebalkan," ratap Harry dalam hati.
Setelah keluar dari ruang inap istrinya, Dave pun bicara pada Harry. "Jangan lemes gitu karena gak dapat jatah! Kamu harus bisa membuat Rani seolah-olah dia yang menginginkan olahraga malam. Kita sebagai lelaki harus bisa bersikap mengalah untuk menang karena para perempuan itu selalu ingin dimengerti, dituruti keinginannya. Kalau keinginan mereka dituruti, maka akan mudah untuk membuat mereka menuruti keinginan kita."
"Kamu benar, Dave. Aku gak nyangka kamu banyak mengerti soal perempuan," puji Harry yang kembali berseri.
"Tentu saja, sekarang kamu ke pasar beli tempe untuk bahan mendoan, lalu pulang ke rumah dan suruh Bi Lina membuatnya. Aku mau ke pertigaan dulu. Nanti aku jemput kamu ke rumah." Dave membagi tugas untuk mendapatkan apa yang Sevia inginkan.
"Apa? Aku ke pasar? Yang benar saja, Dave." Harry langsung melepaskan rangkulan sahabatnya.
"Tentu saja kamu, masa aku? Lagipula, pasar tidak jauh dari sini. Kamu tinggal jalan kaki saja, hitung-hitung olah raga. Nanti pulang ke rumah naik ojek saja," ucap Dave. "Sini kunci mobil dan uang untuk beli bubur ayam."
Dave langsung menengadahkan tangannya menunggu Harry memberikan kunci mobil dan uang kepadanya.
"Dave memang kamu gak punya uang sampai minta sama aku?" tanya Harry heran.
"Aku lupa bawa dompet, cepat berikan uangnya untuk beli bubur ayam!"
"Ya ampun! Punya bos kho kere banget, nyuruh beli tempe tapi gak mau kasih uang malah minta lagi buat beli bubur," keluh Harry melas.
"Jangan banyak ngeluh! Nanti aku ganti dengan naikin bonus kamu sepuluh persen," ucap Dave.
"Serius?"
"Iya, kapan aku bohong sama kamu. Tapi nanti kalau tender kita gol."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Biar othor tambah semangat update....
Sambil nunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin karya teman Author yang keren ini
__ADS_1