Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 78 Melihat Rumah Baru


__ADS_3

Dave melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melihat ke arah Sevia yang sedang memangku putri kecilnya. Seulas senyum menghiasi bibirnya yang sensual. Hatinya menghangat saat membayangkan mereka bertiga hidup bahagia di rumah barunya. Tanpa gangguan dari siapa pun.


"Sayang, ayo turun!" ajak Dave saat sudah menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah bergaya minimalis.


Mata Sevia tidak berkedip melihat rumah yang akan dia ditempati bersama dengan keluarga kecilnya. Dia tidak menyangka hidupnya akan benar-benar berubah menjadi 180 derajat dari kehidupan dia sebelumnya.


"Dave, kamu gak salah beli rumah sebagus ini?" tanya Sevia.


"Nggak, Ini murah Via, hanya 16M. Aku sengaja membeli yang tidak terlalu besar tapi fasilitasnya lengkap. Ada kolam renangnya di dalam, nanti kita bisa bermain di sana berdua saat Devanya tidur. Pasti mengasikkan sekali." Dave mengerlingkan matanya nakal dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Tapi, nanti aku bisa kelelahan membersihkan rumah sebesar ini," keluh Sevia.


"Ya ampun, Via. Suami kamu ini banyak uangnya. Kalau cuma buat gaji dua orang pembantu sama satpam sih masih sanggup," ucap Dave.


"Ah iya aku lupa kalau aku menikah dengan brondong tajir." Sevia cengengesan dengan pemikirannya.


"Ayo turun! Pasti Harry sudah menunggu. Dia mau pindahan hari ini ke rumah barunya," ajak Dave.


"Harry juga beli rumah di daerah sini?" tanya Sevia


"Iya, cuma dia beda blok karena harganya lebih murah dari ini." Dave langsung turun dari mobilnya yang langsung diikuti oleh Sevia.


Benar saja, terlihat Harry keluar dari dalam rumah Dave bersama dengan Nadine. Terlihat jelas kalau Nadine begitu menyukai rumah yang akan Sevia dan Dave tempati.


"Wah, Nyonya Dave baru sampai," sapa Nadine.


"Mbak Nadine apa kabar?" tanya Sevia.


"Alhamdulillah baik," jawab Nadine. "Sevia beruntung sekali menikah dengan Dave. Lihat rumahnya bagus sekali! Bahkan lebih bagus dari rumah yang Harry beli," lanjutnya.


"Mungkin karena sudah jodohnya, Mbak. Mbak Nadine juga beruntung menikah dengan Pak Harry yang baik dan pengertian," ucap Sevia.


"Sayang, aku tidak mengijinkan kamu memuji cowok lain ya. Apalagi di depanku," serobot Dave yang baru datang setelah tadi langsung mengajak Harry ke dalam karena ada yang mau dia bicarakan.


"Nggak kho. Papanya Devanya tentu saja yang ter-the best," elak Sevia.

__ADS_1


"Tentu saja! Siapa dulu istrinya." Tanpa sungkan Dave langsung mencium pipi Sevia di depan Nadine. Membuat wanita hamil itu menelan air liurnya sendiri.


"Dave, kapan rencana kalian akan pindah ke sini?" timpal Harry yang baru datang dari dalam.


"Mungkin setelah akad nikah kita. iya gak, Yang?" Dave kembali bertanya pada Sevia.


"Iya, kata Tante Icha sih gitu," jawab Sevia.


"Kenapa tidak secepatnya saja?" tanya Nadine.


"Kita hanya mengikuti rencana orang tua, Mbak." Sevia langsung menjawab pertanyaan Nadine.


"Kenapa harus nanti sih. Padahal aku sudah senang bisa berdekatan dengan Dave," Ceplos Nadine.


"Maksud Mbak Nadine?" tanya Sevia kaget.


"Ma-maksud aku apa?" tanya Nadine gugup.


"Maksud Mbak Nadine senang bisa berdekatan dengan Dave itu maksudnya apa?" tanya Sevia.


Pake keceplosan lagi nih mulut. Duh jangan sampai mereka semua curiga, batin Nadine.


"Sudah Sayang, ayo kita lihat kamar kita dia atas. Sini biar Deva aku yang aku gendong," ucap Dave langsung mengajak pergi dengan menggendong putrinya dan merangkul pinggang Sevia mesra.


Harry yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara setelah Dave dan Sevia tak terlihat lagi. "Nadine, apa kamu menyukai, Dave?"


"Mana mungkin, aku kan sudah menikah. Lagipula mana boleh aku menyukai suami orang," elak Nadine.


"Aku ingin kamu jujur dengan perasaan kamu. Apa setelah kita menikah satu tahun lebih, kamu masih belum bisa menerima aku sebagai suami kamu yang sesungguhnya?" tanya Harry dengan menatap lekat Nadine.


"Harry, apa perlu kata-kata cinta? Sebentar lagi aku juga punya anak dari kamu. Sudahlah jangan diperpanjang! Tadi aku hanya salah ucap," sanggah Nadine.


"Baiklah, ayo kita pulang!" ajak Harry.


"Loh, kenapa harus pulang? Enakan juga di sini," tolak Nadine.

__ADS_1


"Nadine, untuk saat ini, aku belum memiliki uang sebanyak yang Dave miliki. Tapi nanti pasti aku akan memilikinya," ucap Harry.


Sebanyak apapun uang yang kamu miliki, tidak akan bisa mengalahkan pesona Dave. Maaf Harry, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, batin Nadine.


Sementara di lantai atas, di sebuah kamar yang luas dengan ranjang king size di tengahnya. Televisi 42 inci yang menempel di dinding dengan sofa bed di depannya. Nampak sepasang suami istri yang sedang menikmati kebersamaan mereka bersama bayi kecilnya.


"Sayang, apa perlu kita memakai jasa baby sitter agar kamu tidak terlalu lelah mengurus baby D?" tanya Dave dengan memainkan rambut istrinya.


"Aku masih sanggup merawatnya sendiri," jawab Sevia.


"Kalau ada baby sitter, kita bisa leluasa bermain." Dave sesekali mengendus rambut Sevia dan mencium pipinya.


"Aku takut nanti mereka menggoda suami aku," lirih Sevia.


"Tidak akan. Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta," elak Dave.


"Dave, apa kamu tidak merasa kalau apa yang tadi Nadine ucapkan itu benar?" tanya Sevia.


"Sudahlah! Dia memang seperti itu. Sedari dulu aku masih sekolah, dia suka diam-diam melihatku. Tapi aku gak pernah peduli. Harry yang begitu tergila-gila padanya. Sampai ditolak berkali-kali tidak menyerah juga," beber Dave.


Semoga ini hanya perasaanku saja, kalau sebenarnya Nadine menyukai Dave. Hanya saja dia tidak berani mengatakannya. Tapi kenapa dia harus menerima Harry? Kalau sebenarnya dia tidak mencintainya, batin Sevia.


"Malah melamun! Lihat, Devanya sudah tertidur. Sekarang saatnya kamu menidurkan phyton aku yang selalu bereaksi kalau dekat sama kamu," tegur Dave.


"Dave kamu tuh kalau ngomong suka asal. Aku tidurkan dulu di stroller," ucap Sevia.


Sevia pun langsung beranjak menuju stroller yang memang sengaja dia bawa. Setelah menidurkan Devanya, Sevia dikagetkan oleh Dave yang langsung menggendongnya dan membawa Sevia ke atas sofa bed. Dave langsung meraup candunya. Setiap kali berdekatan dengan Sevia hanya satu hal yang selalu menganggu pikirannya. Rasanya dia ingin secepatnya menuntaskan hasrat yang membuncah di dada.


Namun, siang yang terik merasa tidak terima dengan apa yang dua anak cucu Adam itu lakukan, sehingga rumah yang tadinya sunyi kini berubah menjadi gaduh karena pertengkaran sepasang suami istri di lantai bawah. Membuat Devanya yang baru tertidur menjadi terbangun dan menangis kencang.


Sevia langsung membereskan bajunya yang beberapa kancingnya sudah terlepas. Dave pun tak jauh beda yang langsung menaikkan resletingnya yang sudah melorot ke bawah. Kini mereka berpencar, Sevia segera menenangkan Devanya sedangkan Dave melihat ke bawah.


"Apa yang kalian ributkan? Kenapa suaranya sampai ke atas?"


...~Bersambung~...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya kak, biar othor lebih semangat up-nya.


__ADS_2