
Dua hari setelah Dave berbicara dengan Keano di rumah sakit, Dave datang ke perusahaan JS Group sendiri untuk melihat hasil laboratorium obat yang biasa Rani pakai untuk memijat kakinya. Dia sengaja tidak memberitahu Harry dengan apa yang dia curigai. Entah kenapa dia merasa ada yang janggal dengan keluarga sahabatnya itu.
Sesampainya di perusahaan Keano, Dave di sambut baik oleh cucu orang tua angkatnya itu. Dave hanya tersenyum saat mendapati Orion bekerja di ruangan Keano. Dia pun langsung menyapa Orion yang sedang fokus dengan pekerjaannya.
"Bekerja yang rajin anak muda, agar bisa menjamin masa depan anak dan istrimu," kelakar Dave.
"Eh Om Dave, kapan datang?" tanya Orion.
"Barusan, gimana rasanya kerja di sini?" tanya Dave balik.
"Enakkan kerja di perusahaan sendiri tentunya Om. Nggak ada yang berani nyuruh-nyuruh atau cari masalah denganku."
"Kadang kita juga harus merasakan bagaimana jadi orang bawah agar tidak semena-mena terhadap bawahan," ucap Dave.
"Iya, Om. Mau ketemu Bang Ano ya?"
"Iya. Om ada perlu dengannnya. Om ke sana dulu ya!" tunjuk Dave pada meja Keano yang berjarak sekitar lima meter dari meja Orion yang berada di dekat pintu.
"Iya, Om silakan!"
Dave pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke meja Keano. Nampak pemuda tampan itu sedang serius mempelajari berkas yang ada di tangannya. Membuat tersenyum bangga pada keponakan angkatnya.
"Boleh Om duduk?" tanya Dave.
"Iya, silakan Om!" suruh Keano.
"Om gak mau basa-basi lagi. Bagaimana, hasilnya sudah keluar?" tanya Dave.
"Sudah, kemarin sepulang dari rumah sakit, aku langsung ke laboratorium pribadi opa. Setelah aku cek ternyata bahan yang dipakai sama seperti dengan bahan dasar Novichok hanya dengan dosis rendah dan tambahan formula lainnya." Keano menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Formula ini mengganggu sistem saraf. Membuat bagian-bagian tubuh yang terkena racun tersebut tidak dapat beroperasi dengan baik. Racun ini menyerang sistem saraf pusat dengan mengganggu komunikasi antara otak, organ utama dan otot-otot tubuh. Bisa dikatakan, formula yang terkandung di dalamnya menyebabkan kelumpuhan bahkan bisa mengakibatkan kelumpuhan total dan kematian."
"Ano, apa ada obat penawar yang bisa menandingi racun ini. Kamu tahu Tante Rani kan, sepertinya ada orang yang sudah menambahkan obat ini dalam minumannya, entah pada obat gosoknya. Hanya saja, Dian menemukan botol ini di tempat sampah kamar Rani. Dia merasa curiga sehingga mengambilnya dan meminta tolong pada Om," jelas Dave.
"Ano usahakan. Kemarin Ano sudah minta pada Professor Dickinson untuk meneliti lebih lanjut dan membuat penawarnya."
"Terima kasih, Ano. Om merasa ada yang tidak beres dengan sakitnya Rani, tapi Om tidak bisa ikut campur terlalu jauh dalam keluarga mereka. Tolong rahasiakan pada siapa pun!" pinta Dave.
__ADS_1
"Baik, Om!"
"Kalau begitu, Om permisi dulu. Sekali lagi terima kasih," pamit Dave.
"Sama-sama, Om. Om tidak perlu sungkan begitu," ucap Keano.
Setelah kepergian Dave, Keano pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Berbeda dengan Orion yang merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Abang sepupunya dan papanya Devanya. Dia pun segera menghampiri Keano.
"Bang, ada apa Om Dave ke mari?" tanya Orion.
"Kenapa kamu kepo?" tanya Keano balik.
"Sepertinya kalian sedang merencanakan sesuatu," tebak Orion.
"Kamu benar dan itu rahasia. Jadi, sebaik-baiknya kamu kembali kerja," suruh Keano.
Rahasia apa ya? Jangan bilang Bang Ano mau menikung aku dari belakang dan merebut Devanya. Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, batin Orion.
...***...
"Ya ampun jelek! Kenapa belum beres-beres? Ini udah waktunya pulang," tanya Orion.
"Lihat Ion? Masih setumpuk lagi laporan yang belum aku rangkap," keluh Devanya.
"Udah tinggalin aja! Ayo kita pulang!" ajak Orion.
"Mana bisa begitu, nanti aku kena marah karena gak kelarin pekerjaan aku. Mending kamu bantuin aku aja."
"Minggir! Biar aku yang ngetik, kamu yang bacakan." Orion pun langsung duduk di kursi Devanya, sedangkan gadis itu mengambil kursi yang lain dan mulai mendikte sedangkan Orion yang mengetik di komputer.
Keduanya nampak serius mengerjakan pekerjaan yang seharusnya Diandra kerjakan bersama-sama. Kecepatan tangan Orion mengetik di keyboard memang tidak bisa diragukan lagi. Sehingga tiga tumpuk ordner yang berisi laporan penjualan dapat mereka selesaikan dalam waktu satu jam.
"Akhirnya selesai juga," ucap Orion dengan melakukan perenggangan pada tangannya.
"Makasih ya, Ion!" ucap Devanya dengan membereskan tumpukan berkas di mejanya.
"Aku tidak menerima ucapan terima kasih kamu, tapi kamu harus membayarnya."
__ADS_1
"Nanti aku traktir makan malam," ucap Devanya.
"Boleh juga, tapi aku maunya sekarang." Orion langsung memutar kursinya sehingga membelakangi meja kerja Devanya. Dengan satu tarikan, kini Devanya sudah berada di pangkuannya.
"Ion, ini di kantor."
"Sstt ... Jangan berisik! Kita makan malam dulu di sini." Tanpa menunggu persetujuan dari Devanya, Orion pun langsung meraup bibir tipis yang yang berwarna peach blossom.
Awalnya Devanya hanya diam saat benda kenyal itu menempel di bibirnya. Namun, saat Orion mulai menyesapnya, entah kenapa dia pun mengikuti permainan laki-laki yang menyebalkan itu. Dia membuka sedikit mulutnya, membiarkan Indra pengecap Orion menerobos masuk ke dalam mulutnya dan mengabsen seisi rongga mulut Devanya.
Kini keduanya sudah terbakar oleh gelora asmara yang mereka ciptakan. Dengan suara decapann yang memecah keheningan ruangan yang lumayan luas. Sampai saat terdengar suara pintu yang dibuka dari luar, Orion langsung melepaskan pagutannya dan mengajak Devanya untuk sembunyi di bawah meja.
"Kenapa aku merasa merinding ya, tadi terdengar seperti ada orang di dalam. Tapi kenapa tidak ada seorang pun? Ini juga, kenapa lampunya belum dimatikan?" gumam satpam yang berkeliling memeriksa tiap ruangan dalam gedung.
Merasa takut satpam itu akan mengunci ruangan yang mereka tempati, Devanya pun langsung berdiri setelah dia merapikan dulu pakaian dan mengelap bibirnya yang basah karena saliva.
"Pak, tunggu! Jangan dikunci dulu! Aku belum selesai merapikan pekerjaanku," teriak Devanya saat satpam itu mau menutup pintu.
"Eh, masih ada Neng Barbie. Masih lama gak Neng? Biar Bapak tungguin," tanya satpam.
"Masih, Pak. Nanti kalau sudah selesai, aku hubungi Bapak."
Orion yang masih sembunyi di bawah meja, dengan iseng mengelus lembut kaki Devanya. Membuat gadis itu menjadi salah tingkah. Satpam yang melihat Devanya terus menggerak-gerakkan kakinya, akhirnya dia bertanya.
"Neng Barbie kenapa?"
"Di sini banyak nyamuk, Pak. Aku beres-beres dulu biar cepat pulang," elak Devanya.
"Ya sudah, Bapak tinggal dulu mau periksa ruangan lain," pamit satpam
Bisa-bisanya aku hampir kepergok sama satpam. Tapi ciuman Orion tadi ... Membuat aku melayang," batin Devanya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1