Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 84 Dua Pengganggu


__ADS_3

Seminggu sudah Devanya dan Keano berada di pulau kecil itu. Mereka sangat menikmati acara bulan madu yang syahdu. Meskipun tidak pergi ke luar negeri. Tetapi Devanya dan Keano sangat menyukai tiap inci pulau pribadi miliknya.


Seperti siang ini, mereka sedang bersantai di kursi malas. Setelah tadi snorkeling melihat biota laut di kedalaman tiga meter dari permukaan laut. Devanya yang begitu menyukai pemandangan bawah laut. Dia terus saja tersenyum. Apalagi saat mengingat kegiatan snorkeling tadi yang bukan snorkeling biasa.


Bagaimana tidak, saat mereka akan naik ke permukaan, suaminya itu merengkuh pinggangnya dan melepaskan snorkeling valve. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan bibir Devanya. Hingga mereka terus berpagutan sampai akhirnya keluar ke permukaan, barulah pagutannya itu terlepas.


"Ay kenapa senyum terus?"


"Abang, kenapa semakin hari jadi semakin nakal?" tanya Devanya dengan memanyunkan bibirnya.


"Abang gak ngerasa. Abang hanya ingin selalu bisa bersama kamu. Membuat kenangan indah bersama," jawab Keano.


"Apa Abang bahagia menikah denganku?" tanya Devanya dengan menatap lekat suaminya.


"Lebih dari yang kamu tahu. Sampai Abang tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata seberapa besarnya Abang bahagia," ucap Keano.


Pemuda itu mencium pipi Devanya dari belakang. Dia menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam. Sungguh, semakin lama berada di dekat gadis bermata biru itu, semakin besar rasa cintanya.


"Abang, malu ikh!"


"Tidak akan ada yang berani naik ke sini. Di dek ini, hanya ada kita berdua." Keano membalikkan tubuh Devanya agar menghadap ke arahnya.


"Bang ...," lirih Devanya.


Tanpa bicara lagi Keano langsung meraup bibir yang selalu membuatnya tergoda untuk menyesapnya. Bibir yang selalu terdengar manja di telinganya. Tapi apapun yang ada pada gadis itu, dia sangat menyukainya.


Lagi dan lagi keduanya terbakar gairah asmara yang membuncah di dada. Devanya benar-benar terhanyut dalam permainan lidah suaminya. Apalagi tangan Keano yang sudah lihai menyentuh titik sensitif istrinya. Sehingga mampu membakar gairah Devanya.


"Ay, kita lanjut di kamar!" ajak Keano dengan napas yang memburu.


Pria yang memiliki sorot mata teduh dan dalam itu, langsung membopong istrinya untuk masuk ke dalam kamar yang ada kapal yacht miliknya. Tanpa mereka sadari, ada seorang pemuda yang berdiri di tangga dek untuk menemuinya.


Orion diam mematung melihat gadis yang dicintainya sedang tersenyum bahagia di dalam gendongan sepupunya. Hatinya terasa perih saat harus menerima kenyataan, kalau Devanya sudah benar-benar melupakannya.


"Ngapain sih ngalangin jalan? Cepetan naik! Aku harus secepatnya menemui Kak Vanya." Devan mendorong tubuh sahabatnya agar tidak menghalangi jalan.

__ADS_1


"Sorry ...," lirih Orion pelan. Dia langsung menyingkir dari hadapan Devan dan membiarkan pemuda itu berjalan terlebih dulu.


Devan hanya menatap sahabatnya heran. Sudah tahu mereka akan mengganggu acara bulan madu kakaknya tapi Orion tetap memaksa untuk ikut. Salah sendiri kalau akhirnya dia terluka melihat kemesraan pengantin baru.


"Jangan sedih! Calon istrimu juga gak kalah cantik dari Kak Vanya. Ikhlaskan saja kalau Kak Vanya bukan jodoh kamu," ucap Devan dengan menepuk pundak Orion.


Devan langsung pergi menuju ke kamar Keano dan Devanya berada. Dia tidak langsung mengetuk pintu kamar. Tetapi berteriak dengan kencang di depan pintu.


"KEBOCORAN ... KEBOCORAN ... CEPAT SELAMATKAN DIRI."


Keano yang sudah bersiap untuk masuk ke rumah keramat Devanya yang rimbun, langsung mengurungkan niatnya. Kedua pengantin baru itu bergegas berpakaian lengkap dan langsung memburu pintu kamar. Namun, saat mereka baru saja membuka pintu, terlihat Devan sedang cengengesan di sana.


"Devan, kamu ngerjain Kakak?" sewot Devanya dengan berkacak pinggang.


Sementara Keano mengurut keningnya. Dia menahan pening karena hasratnya yang menggebu menjadi ambyar akibat teriakan Devan. Keano pun hanya menatap Devan dan meminta penjelasan dengan sorot matanya.


"Aku ke sini sengaja menyusul Kakak. Mama menyuruh kita pulang ke kampung. Katanya mau nyekar ke eyang tapi kayaknya ada hal yang lain. Semua anaknya disuruh pulang kampung," jelas Devan.


"Apa mama dan papa sudah berangkat?" tanya Keano.


"Sudah. Mama terus menghubungi nomor Kakak tapi gak diangkat, makanya aku disuruh buat nyusul Kak Vanya ke sini. Ternyata, kalian begitu sibuk membuat keponakan untuk aku."


Dia pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Begitupun dengan Devanya yang akan menyiapkan baju mereka. Tetapi Devan dengan tidak tahu malunya ikut masuk ke dalam kamar pengantin baru. Tentu saja Devanya langsung menghadang adiknya yang super nyebelin itu.


"Kamu mau ke mana?" semprot Devanya.


"Mau ikut Kakak masuk ke kamar. Masa ada adiknya dibiarkan di luar seperti gelandang." Devan memasang tampang melas di depan Devanya.


"Gak bisa! Kamu gak boleh masuk," ketus Devanya.


"Kakak kamu tega sekali."


"Sudah ah! Ayo kita masuk aja," ajak Orion dengan merangkul leher Devan dan menariknya untuk masuk. Dia tidak peduli dengan Devanya yang membulatkan matanya sehingga hampir copot keluar.


"Apa-apaan sih kalian? BANG ANO! DEVAN SAMA ION ISENG," teriak Devanya.

__ADS_1


"Ck! Gitu aja ngadu," cibir Orion.


"Iya nih Kak Vanya, mentang-mentang sudah jadi istrinya Bang Ano. Dulu aja ragu karena masih suka sama kamu, Ion."


"Kamu benar, Van. Dia sudah melukai hatiku. Sekarang saja dia tidak menyapa sama aku. Padahal aku tidak pernah melupakan dia." Orion berakting seperti orang yang tersakiti.


"Kalian tuh, laki-laki penuh drama," tunjuk Devanya.


Keano yang sedang menelpon Hayden langsung menghampiri istrinya. "Jangan marah, Ay! Ion, Devan, Abang mau bersiap dulu. Kalian tunggu saja di dek. Sebentar lagi Hayden menjemput kita."


"Aku tuh kesal sama Abang! Selalu saja Abang bisa mengambil hati Vanya. Padahal aku lebih tampan dan lebih muda dari Abang," sungut Orion.


"Berarti Abang lebih beruntung dari kamu. Sudah, sekarang kalian keluar!"


Mau tidak mau kedua pemuda itu mengikuti apa yang Keano katakan. Meskipun mereka masih penasaran dengan apa yang pengantin baru itu lakukan. Tetapi keduanya merasa segan untuk menentang perintah Keano.


"Kamu kalah telak, Ion. Sepertinya Kak Vanya sudah diambil sari patinya oleh Bang Ano," ucap Devan saat keduanya sudah berada di dek.


"Sudah pasti. Laki-laki mana yang tidak akan goyah melihat Vanya. Apalagi, body kakak kamu itu mampu membuat urat syaraf setiap lelaki menegang."


"Aku gak merasa menegang meskipun melihat Kak Vanya hanya memakai hotpants," kilah Devan.


Pletak


Orion dengan santainya mengeplak kepala Devan. Membuat Devan sedikit meringis. "Yang benar saja, Ion. Aku adukan ke mama loh!"


"Gak adik, gak kakak, bisanya ngadu terus. Lagian kamu, masa kakak sendiri bikin menegang."


"Apaan yang menegang?" tanya Devanya yang tiba-tiba ada di belakang kedua pemuda tampan itu.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


Sambil nunggu Brondong Tajir update. Yuk kepoin karya Author keren yang satu ini!



__ADS_2