
"Zee, jangan membawa urusan tempat tidur ke meja makan!" Al langsung menegur putrinya yang terkadang ceplas ceplos seperti istrinya.
"Iya, Pah!" Zee langsung melanjutkan makannya begitupun dengan yang lainnya. Sampai semuanya sudah selesai makan, barulah Malvin berbicara.
"Mah, Pah, mungkin besok aku mau pergi ke Shanghai. Om Andrea menawari aku untuk memegang rumah sakit yang ada di sana," ucap Malvin membuka pembicaraan.
"Kenapa terburu-buru sekali? Apa kandungan Zee aman dibawa bepergian jauh?" tanya Icha yang merasa khawatir.
"Insya Allah aman, Mah! Zee kan tidak memiliki kondisi kehamilan yang beresiko tinggi," jawab Malvin.
"Sebenarnya Papa kurang setuju jika harus berpisah jauh dengan Zee, tapi Papa yakin kalau semuanya sudah kamu pikirkan dengan matang. Kita naik jet pribadi saja biar nanti sekalian berlibur ke sana. Papa akan kosongkan jadwal selama tiga hari. Dave, apa kamu akan ikut mengantar Zee?"
"Ikut, Om! Sekalian mengajak Sevia jalan-jalan ke luar negeri," jawab Dave.
"Zio juga ikut, Pah!" timpal Elzio
"Iya, sekarang kalian persiapan saja barang apa yang akan dibawa, Papa mau ke kantor dulu." Al langsung bangkit dari duduknya dan langsung berpamitan pada anak dan istrinya untuk berangkat ke kantor. Langsung diikuti oleh Zio karena dia selalu diantar oleh Al ke sekolah.
Tak jauh berbeda dengan Al, Dave pun langsung berpamitan untuk pergi ke kantor. Namun, sepertinya drama rumah tangga pasangan muda itu membuat orang yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dave, nanti aku mau ke rumah yang dulu ya! Banyak pesanan yang masuk, biar nanti Rani yang handle," ucap Sevia meminta ijin pada Dave saat suaminya akan berangkat kerja.
"Ya sudah! Mau sampai jam berapa di sananya? Kalau sampai sore, biar nanti aku jemput," Dave mencium pipi putrinya bergantian.
"Aku sampai sore saja ya, sekalian mau beresin barang juga." Sevia tersenyum manis pada Dave.
Cup
Dave langsung mencium Sevia sekilas lalu berbisik, "Jangan tersenyum seperti itu di depan lelaki lain!Kamu tahu, senyuman kamu itu meruntuhkan imanku."
"Dave malu, lihat banyak orang yang melihat!" Sevia langsung menundukkan kepalanya karena semua yang dilakukannya tidak lepas dari penadangan Icha dan juga Zee.
"Biar saja, biar semua orang tahu, karena kamu aku jadi mesuum." Dave bicara dengan tidak tahu malunya.
__ADS_1
"Sudah cepetan berangkat!" Sevia mengusir Dave seraya mencium punggung tangan suaminya.
Icha hanya tersenyum melihat kelakuan putra angkatnya yang terlihat manja pada istrinya. "Zee, coba lihat Dave! Dia sangat berbeda dengan saat-saat sebelum ada gadis itu. Tapi Mama senang, akhirnya Dave bisa menemukan kebahagiaannya."
"Iya, Mama benar! Zee juga senang akhirnya Dave bisa bersama dengan orang yang dicintainya." Zee memeluk tubuh mamanya. Dia sebenarnya merasa berat harus berpisah dengan mamanya, tapi Zee juga tidak ingin jika harus berpisah dengan laki-laki yang dicintainya.
"Semoga kebahagian selalu menyertai anak-anak Mama." Icha pun langsung memeluk tubuh putri kesayangannya.
"Permisi, Tan!" Sevia yang sudah mengantar kepergian Dave ke kantor langsung menghampiri Icha yang sedang berpelukan dengan Zee.
"Iya, Via kenapa?" tanya Icha seraya mengurai pelukannya pada Zee.
"Aku mau minta ijin, mau ke rumah lama. Banyak pesanan yang harus disiapkan agar tidak mengecewakan pelanggan," ucap Sevia.
"Kamu jualan online, Via?" tanya Icha begitu antusias saat mendengarnya.
"Iya, Tan! Lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," ucap Sevia.
"Alhamdulillah, Tan! Kalau begitu permisi mau bersiap dulu," pamit Sevia.
"Iya, hati-hati ya, Via!" pesan Icha.
Setelah berpamitan dengan Icha dan Zee, Sevia pun langsung berangkat ke rumah kontrakannya. Dia sengaja naik taksi karena pulangnya akan dijemput oleh Dave. Devanya yang diajak ikut terlihat begitu senang karena akan dibawa bepergian,
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhrnya Sevia sudah sampai di rumah Rani. Dia sengaja langsung ke rumah Rani agar langsung mengurus pesanan pelanggan.
"Assalamu'alaikum," ucap Seviaaa.
"Wa'alaikumsalam," jawab Rani dari dalam. "Aduh cantiknya Tante kemana saja, baru ingat pulang."
"Maaf, Ran! Aku baru dapat ijin pulang sekarang karena banyak urusan di sana," sahut Sevia.
"Aku pikir kamu lupa sama aku, Via." Cebik Rani. Dia merasa kesepian beberapa hari ini karena Sevia tiba-tiba menghilang dan hanya memberi kabar kalau sedang bersama Dave.
__ADS_1
"Jangan marah dong! Aku bawa pesanan yang banyak nih. Untung stok kita lumayan banyak," Sevia langsung mendudukkan bokongnya di sofa.
"Wah, bagus tuh! Kemarin juga lumayan yang pesan banyak, Via." Rani langsung mengambil Devanya dari pangkuan Sevia.
"Tante kangen sekali sama bayi cantik ini. Via, aku punya kabar gembira loh!" Rani langsung terlihat sumringah dengan kabar yang akan dia sampaikan.
"Kabar gembira apa? Bagi-bagi dong sama aku!" Sevia menjadi penasaran dengan apa yang akan Rani katakan.
"Aku hamil lima minggu!" Rani langsung tersenyum lebar setelah memberitahukan tentang kehamilannya.
"Alhamdulillah, selamat ya Ran!" Sevia pun langsung memeluk tubuh sahabatnya.
Saat keduanya sedang dalam uforia kebahagiaan, terdengar suara orang yang memberi salam di depan rumah Sevia. Rani langsung melihat ke luar siapa yang akan bertamu ke rumah sahabatnya. Namun, setelah dia mengetahuinya, Rani pun kembali masuk ke rumahnya.
"Via, ada Adam di depan rumahmu. Kamu mau menemuinya apa tidak?" tanya Rani.
"Aku bingung hadapi Adam. Sudah berkali-kali ditolak tapi tidak menyerah juga. Aku sembunyi saja ke dapur kamu ya! Kamu bilang sama dia kalau aku sudah pindah ke rumah suamiku." Sevia langsung menggendong Devanya menuju ke dapur Rani, sedangkan Rani segera ke luar untuk menemui Adam yang sedari tadi mengetuk pintu dan mengucapkan salam di depan rumah Sevia.
"Mas, Sevia sudah pindah ke rumah suaminya. Dia jarang pulang ke sini," teriak Rani di halaman rumahnya.
"Beneran, Mbak! Tapi kho barang-barangnya masih ada," sanggah Adam yang merasa tidak percaya.
"Sevia tidak membawa barang-barang dari sini, karena suaminya orang kaya." Lagi-lagi Rani berteriak. Dia juga malas menghadapi Adam karena susah dikasih tahu kalau Sevia tidak ada di rumah.
"Begitu ya, Mbak! Saya, permisi dulu!" Adam langsung berpamitan pulang saat tidak bisa menemui Sevia. Hatinya merasa lemas karena harapannya harus kandas di tengah jalan.
Setelah kepergian Adam, Sevia pun langsung kembali ke ruang tamu rumah Rani. Dia merasa lega bisa terbebas dari Adam. Bukannya dia mau menjadi orang yang tidak tahu balas budi atas pertolongaaan Adam dan Reina waktu itu. Akan tetapi, Sevia tidak mungkin memenuhi harapan Adam yang ingin memperistri dirinya sedangkan dia sudah bersuami.
"Kasian juga melihat Adam, beberapa hari yang lalu juga dia ke sini cariin kamu." Rani kembali mengambil Devanya agar berada dalam pangkuanya.
"Ya mau gimana lagi, kalau aku tetap baik sama dia, nanti dia malah salah paham dan menganggap aku memberinya harapan. Sementara aku tidak mungkin bersama dengan dia karena aku sudah jadi istri orang. Aku juga tidak kepikiran untuk poliandri. Hadapi satu suami saja aku kerepotan, apalagi kalau dua. Bisa-bisa aku di kamar terus sampai gak bisa jalan." Sevia bergidik ngeri membayangkan jika harus punya suami dua.
"Gempor dong!"
__ADS_1