Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 98 Perjanjian dan Hukuman


__ADS_3

Wajah tampan pemuda keturunan itu nampak kusut. Pasalnya, ada masalah di pabrik Cikarang yang harus mereka tinjau langsung. Andrea mempercayakan penuh pada Dave untuk mengatasi masalah yang terjadi di sana. Sehingga mau tidak mau, mereka harus pergi dan menetap sementara di Cikarang.


"Kurang ajar banget tuh orang! Berani sekali dia menjual rancangan game virtual punyaku," sungut Dave seraya memasukkan bakso ke mulutnya.


"Pasti ada yang masuk ke dalam ruangan itu Dave. Tapi siapa ya yang harus kita curigai? Semenjak Bram kembali ke negara A bersama Kattie, pabrik Cikarang memang gak ada yang pegang. Terlalu banyak perusahaan yang Om Andrea miliki, sampai dia tidak bisa meng-handle-nya sendiri." ucap Harry.


"Kamu benar, Harry! Ayo kita ungkap semuanya, siapa yang sudah bermain-main denganku?"


Dave dan Harry pun segera menghabiskan makanannya. Mereka ingin tahu keadaan sebenarnya di sana setelah tadi mereka mendapatkan laporan kalau ada perusahaan lain yang meluncurkan game virtual yang sama persis dengan yang Dave rancang. Hanya saja milik Dave masih dalam tahap perbaikan karena ada bagian-bagian yang akan dia ubah.


"Harry, aku akan membawa Sevia ke sana. Apa kamu juga mau membawa istrimu?" tanya Dave saat mereka dalam perjalanan pulang dari kantor.


"Istriku di kampung, Dave. Mana bisa aku ajak," sanggah Harry.


"Di kampung? Maksud kamu?" Memangnya Nadine kembali pulang kampung?" tanya Dave.


"Ngapain masih bahas Nadine? Udah lewat, Dave." Harry senyum-senyum sendiri membuat Dave semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Udahlah, jangan main tebak-tebakan! Bilang padaku siapa istri yang kamu maksud!" suruh Dave.


"Rani," jawab Harry datar.


"Maksud kamu? Kalian menikah di kampung kemarin?" tanya Dave


"Ya begitulah! Aku ditodong nikah oleh bapaknya," jawab Harry.


"Apa? Jangan gila bro kalau ngarang cerita!" Dave tidak percaya dengan apa yang Harry katakan.


"Terserah kamu kalau tidak percaya." Harry hanya cuek tidak peduli dengan tanggapan sahabatnya itu.

__ADS_1


Berarti beneran Harry sudah menikah dengan Rani, tapi kenapa Sevia tidak diberitahu? Bukankah mereka sahabat dekat seperti aku dan Harry?


Dave terus melihat ke arah Harry yang sedang menyetir dengan tatapan tidak percaya. Membuat Harry merasa risih sehingga dia pun menatap balik sahabatnya sekilas.


"Dave, jangan melihatku seperti itu! Aku tidak ingin kamu jatuh cinta padaku, ucap Harry dengan melihat lurus ke depan.


"Aku masih tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Kalau kamu poligami bukannya harus ada persetujuan dari Nadine? Apa karena itu, beberapa hari ini Nadine terus mencari kamu?" tanya Dave.


"Aku rasa bukan itu. Nadine paling minta uang kompensasi karena aku akan menceraikannya. Kamu tahu Dave, Pak Bisma meminta pembagian harta padaku. Bukankah semua yang aku miliki hasil kerja kerasku bukan pemberian dari dia?"


Baru saja Harry selesai bicara saat sudah sampai du rumah Dave, terlihat Nadine sedang beradu mulut dengan Sevia. Dave pun langsung bergegas turun untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Ada apa ini? Kenapa terjadi keributan di rumahku?" tanya Dave.


"Dave, dia ingin menggeledah rumah. Memangnya dia siapa, datang-datang seperti nyonya besar?" Sevia langsung mengadu pada Dave karena memang benar Nadine datang-datang ingin mengambil putranya.


"Kemana saja kamu, Harry? Aku mencari kamu dari kemarin. Mana uang kompensasi yang kamu janjikan? Atau kamu ingin, aku yang merawat putramu itu?" tanya Nadine.


"Ayo kita bicara di rumah!" Harry menarik tangan Nadine agar mengikutinya masuk ke dalam mobil. Dia tidak mungkin menjadikan masalah rumah tangganya sebagai bahan gosip untuk semua pekerja di rumah Dave.


Saat sampai di rumahnya, Harry pun langsung membawa Nadine menuju ke kamar mereka. Tak lupa dia pun mengunci pintunya agar tidak seorang pun menguping pembicaraan dia dengan istrinya. Nadine yang tadi garang seperti banteng ngamuk, menjadi ketar ketir saat Harry menatapnya dengan tatapan yang dingin langsung menembus ke hatinya.


"Harry jangan mendekat!" Nadine berjalan mundur saat melihat Harry berjalan ke arahnya.


"Kenapa kamu takut melihat aku? Bukankah selama ini kamu belum pernah melihat kemarahan aku? Aku hanya diam saat tahu kalau kamu mengkhianati aku bahkan di saat kamu sedang mengandung anakku. Karena apa? Karena cintaku masih besar untukmu. Aku tidak bisa menyakiti orang yang aku cintai. Tapi itu kemarin saat aku belum bisa memutuskan untuk melepaskan kamu. Sekarang, perasaan aku untuk kamu sudah habis tak bersisa setelah aku putuskan untuk mengembalikan kamu pada orang tuamu."


"Harry, bukankah kamu tahu kalau dari awal aku tidak mencintaimu. Kamu sendiri yang bersedia menjadi pengantin pengganti untuk Aryo. Apa aku pernah janji akan mencintai kamu setelah kita menikah? Tidak Harry, dari awal aku sudah mencintai lelaki lain dan itu bukan kamu. Harry, Aku akan membiarkan putraku bersama kamu asalkan kamu memberikan kompensasi yang besar untukku."


"Berapa yang kamu inginkan?" tanya Harry datar. Hatinya merasa teriris mendengar pengakuan dari Nadine.

__ADS_1


"Aku ingin seharga rumah Dave. Tadi aku sudah bertanya pada bagian pemasaran, katanya 10M."


Bodoh sekali kamu Nadine! Mau saja dibodohi oleh mereka yang sudah aku suruh untuk berbohong. Tapi bagus juga, aku tidak usah memberikan uang yang banyak untuk dia, batin Harry.


"Ok, aku akan memberikannya padamu tapi kamu harus menandatangani persyaratan yang aku ajukan. Kalau kamu tidak bisa memenuhinya, maka aku tidak akan memberikan uang sepeser pun padamu. Kita akan beradu di pengadilan." Harry tersenyum penuh arti pada Nadine membuat mantan istrinya itu ketakutan.


"Baiklah, aku akan menyetujui apapun syaratnya," ucap Nadine.


Harry langsung beranjak pergi ke ruang kerjanya. Dia mengambil dokumen yang sudah dia siapkan sebelumnya. Harry pun mengambil sebutir kapsul yang akan dia berikan pada Nadine.


"Kamu tanda tangani di sini," suruh Harry.


Nadine pun segera menandatanganinya lalu berkata, "Aku sudah tanda tangan, sekarang cepat berikan uangnya!"


"Tidak secepat itu, Nadine. Dalam perjanjian itu tertulis kalau kamu harus meminum vitamin yang aku berikan. Sekarang minumlah!" Harry pun memberikan kapsul itu dan segelas air putih pada Nadine.


"Obat apa ini? Apa kamu akan membunuhku?" tanya Nadine ketakutan.


"Tidak, cepat minumlah! Aku akan menulis cek ini dulu," suruh Harry.


Melihat cek dengan nominal yang besar, membuat Nadine tidak bisa berpikir panjang lagi. Dia pun langsung menelan kapsul itu dan merebut cek yang sudah Harry tanda tangani. Harry hanya tersenyum remeh melihat apa yang Nadine lakukan.


Cih! Cewek matre, dia tidak tahu kalau kapsul itu akan membuat dia tidak bisa punya anak lagi. Itu hukuman wanita seperti kamu karena lebih memilih harta dibanding anak dan suami kamu. Selamat bersenang-senang Nadine dengan uang yang tidak seberapa itu.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2