Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 115 Keadilan untuk Papa


__ADS_3

"Mr. Aldrich ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan pada Anda. Apa Anda mengenal Nyonya Elisa Pradipta?" tanya David.


"Kenapa dengan nenek?" tanya Dave dengan menautkan kedua alisnya.


"Kamu mengenalnya, Dave?" tanya Kylie.


Apa yang harus aku katakan? Sebenarnya ada apa dengan Tante Elisa? tanya Al dalam hati.


"Dia-dia ibunya mamaku," jawab Dave dengan menundukkan kepalanya.


"Jadi hubungan orang tuamu tidak direstui oleh Nyonya Elisa?" tanya Kylie.


"Maksud Grandma?" tanya Dave.


"Dia yang telah membuat papamu kecelakaan, Dave. Awalnya kami percaya kalau Dave kecelakaan tunggal, tetapi setahun kemarin, Dave sering datang ke dalam mimpiku agar kami datang ke sini. Aku pun akhirnya menyewa detektif untuk menyelidiki kematiannya dan menemukan kalau dalang dari kecelakaan itu Elisa Pradipta," tutur Kylie.


"Nenek, kenapa dia tega sekali?" gumam Dave.


"Jadi benar dia nenekmu? Kenapa dia tidak merestui hubungan putrinya dengan putraku?" Kylie nampak begitu terluka saat mengetahui orang yang telah mencelakai putranya itu ibu dari wanita yang dicintai Dave.


"Apa Anda akan melaporkan ke kantor polisi dan membuka kembali kasus kecelakaan putra Anda?" tanya Al.


"Tentu saja, kami sudah menyerahkan berkasnya tinggal menunggu sidangnya. Mungkin polisi sudah menangkapnya," jawab David.


"Aku menyerahkan semuanya pada Anda Mr. David." Al merasa antara senang dan kasihan saat tahu Elisa harus berurusan dengan polisi. Dia tidak menyangka, karena obsesinya untuk menjodohkan Kalisa dengannya, Elisa sampai tega menyingkirkan Dave.


Aku begitu malu memiliki darah Pradipta di tubuhku. Kakek nenekku orang jahat semua, dan mama, dia juga pernah ingin merebut Om Al dari Tante Icha. Hanya Eyang yang membuat aku tetap memakai nama Pradipta di belakangku. Namun, aku tidak akan menggunakan nama itu lagi untuk anak-anak aku. Cukup nama Sky yang akan melekat pada mereka, jerit hati Dave.


"Maafkan Grandpa, Dave! Grandpa hanya ingin memberi keadilan untuk papamu," ucap David dengan menepuk pundak cucunya.


"Iya tidak apa, nenek memang bersalah. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua," lirih Dave.


...***...


Setelah semua urusannya selesai dan Elisa harus menginap di hotel Rodeo dalam jangka waktu yang lama, David dan Kylie pun kembali ke tanah airnya. Sevia yang sudah akrab dengan nenek kandung suaminya itu, dia pun merasa kehilangan saat Kylie harus pergi ke tanah airnya.


"Dave, kapan-kapan ajaklah anak dan istrimu untuk berkunjung ke tanah kelahiran papamu. Kami akan menantikan kedatangan kalian," ucap David saat di bandara.


"Iya, Grandpa! Kalau aku mendapat libur dari Pak Bos." Dave tersenyum penuh arti pada Andrea yang ikut mengantar kepergian David dan istrinya.

__ADS_1


"Tenang, Dave! Kalau semua proyek sudah selesai kita garap, Om pasti memberimu libur!" seru Andrea yang mengerti dengan kode yang diberikan oleh anak buahnya.


"Sevia, jaga cicit Grandma ya!" pesan Kylie dengan tersenyum ke arah Devanya.


Dia sebenarnya berat saat harus berpisah dengan cucu dan cicit yang baru saja ditemukannya. Namun, dia juga tidak bisa tinggal lebih lama lagi di negeri ini. Tak lama kemudian terdengar pengumuman keberangkatan yang menyuruh para penumpang untuk segera naik ke pesawat karena secepatnya akan lepas landas.


Setelah keberangkatan kakek neneknya, Dave pun segera mengajak Sevia untuk pulang. Karena rencananya hari ini mereka akan kembali ke kota industri karena urusannya di ibu kota sudah selesai.


"Om, apa boleh aku mengambil cuti. Rasanya aku ingin berlibur," ucap Dave saat mereka akan pulang ke rumah.


"Baiklah, Om kasih kamu cuti dua hari. Hari Senin harus sudah masuk kerja lagi," jawab Andrea.


"Makasih, Om!" Mata Dave langsung berbinar saat Andrea menyetujui permohonannya. "Via, ayo kita menginap di villa!"


"Boleh, kita ajak sekalian Rani dan Harry biar rame."


"Via, bisakah kalau kita hanya berdua? Lagipula, Harry harus menghandle pekerjaan di pabrik Cikarang."


"Hanya kita berdua? Lalu Deva ditinggal di rumah Tante Icha?" tanya Sevia.


Pletak


"Hey, bukan begitu maksudku! Aku kan hanya bertanya. Kamu juga KDRT sama istri, aku laporkan pada ...."


"Kak Seto? Sana cepat laporkan!" potong Dave.


"Bukan, aku akan laporkan pada Tante Icha. Biar kamu diomelin seperti Zio kemarin," ucap Sevia dengan tersenyum penuh arti.


Mendengar nama Icha disebut, Dave langsung merangkul istrinya. Entahlah, meskipun Icha bukan ibu kandungnya tetapi Dave selalu ingin terlihat baik di mata wanita yang sudah merawatnya dengan baik. Dia sudah bertekad pada hatinya untuk membuat Icha selalu bangga padanya.


"Sayang, jangan seperti itu! Masalah rumah tangga itu jangan diumbar pada orang lain, itu tidak baik. Lebih baik kita beli es krim, mau kan sayangnya papa?" tanya Dave seraya mengelus Devanya yang ada dalam gendongannya.


"Kalian itu, di sini masih ada Om. Sudahlah Om pulang duluan," ucap Andrea saat mereka sudah tiba di parkiran.


"Hati-hati, Om!"


Dave langsung melambaikan tangannya saat mobil yang Andrea tumpangi mulai berjalan meninggalkan parkiran. Begitupun dengan Sevia yang ikut melambaikan tangannya. "Sekarang ayo kita beli es krim!"


"Dave yang benar saja, masa hanya dengan es krim kamu menyogok aku?" Sevia berpura-pura merengut tidak suka.

__ADS_1


"Sayang, kalau mau disogok sama python nanti malam saja. Anggap saja es krim sebagai uang mukanya," bisik Dave.


Plak


Sevia memukul tangan kekar itu dengan spontan. Dia berusaha menutupi rasa malunya karena dikira ingin bermain kuda lumping oleh Dave.


"Aku tidak mau es krim. Kamu pikir aku anak kecil yang bisa disogok oleh es krim?"


"Lalu mau apa? Mau beli kalung, cincin, gelang, baju, tas, sepatu, sendal branded atau mau mobil baru?" tanya Dave mengabsen satu persatu barang-barang yang biasanya sangat digilai para kaum hawa.


"Aku gak mau, semua itu tida membuat aku merasa puas," tolak Sevia dengan memanyunkan bibirnya.


Apa katanya tidak membuat dia puas? Apa hanya python aku saja yang mampu membuatnya puas? Atau dia ingin jet pribadi, tanya Dave dalam hati.


"Apa kamu ingin jet seperti punya Om Andrea yang waktu itu kita naiki ke Shanghai?


"Tidak, buat apa beli barang yang mahal itu. Mending beli sawah dan kebun di kampung biar jadi tuan tanah."


Jadi Sevia ingin punya banyak sawah dan kebun di kampungnya. Nanti aku suruh mertua Harry untuk mencarikan sawah dan kebun yang ingin di jual.


"Iya nanti aku akan belikan sawah dan kebun buat kamu," ucap Dave.


"Bukan itu yang aku inginkan, Dave."


"Lalu kamu ingin apa?" Dave semakin merengut heran pada istrinya.


"Aku hanya ingin makan baso boom." Sevia langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan Dave yang melongo tidak percaya dengan keinginan istrinya.


Wanita aneh, aku tawarkan barang-barang yang bernilai fantastis. Dia malah ingin semangkuk baso yang harganya tidak akan menghabiskan seratus ribu karena sudah pasti dia akan memilih warung baso yang ada di pinggir jalan itu bukan di restoran mewah.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


Rekomendasi nih, kepoin yuk karya keren yang satu ini!


__ADS_1


__ADS_2