
"Dian, tolong jaga mama dulu. Daddy mau ke luar sebentar."
"Iya, Dad!" sahut Diandra.
Harry pun langsung pergi dari rumah Dave. Dia tidak pulang ke rumahnya melainkan pergi ke sasana dan berniat akan menginap di sana. Hatinya sakit, pikirannya sangat kacau. Dia terus terngiang-ngiang ucapan Rani yang pasrah akan pernikahan mereka.
"Rani, aku tahu aku salah. Tapi aku gak pernah berniat untuk mengkhianati kamu. Entah kenapa semua itu? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Harry
"Aku pernah memeriksa kopi yang dibawa oleh Anne, tapi tidak mengandung zat yang membuatku menjadi bergairah saat berdekatan dengannya. Aku pernah akan memecatnya, tapi dia mengancam aku akan mencelakai kamu dan menyebarkan foto-foto percintaan aku dengannya." Harry mengusap kasar wajahnya lalu meneguk minuman yang ada di hadapannya.
"Aku khawatir, saat aku tidak ada, dia nekat mencelakai kamu. Sementara kamu tidak bisa melawan. Entah kenapa, aku merasa dia tidak sendiri tapi ada orang di belakanganya yang dia sembunyikan." Lagi-lagi Harry meminum minuman beralkohol itu hingga tandas, lalu menuang kembali hingga gelas penuh.
Harry terus berbicara sendiri seraya melihat foto keluarganya yang dia simpan di dompet. Dia merasa seperti memakan buah simalakama. Sampai akhirnya, Dave datang dan langsung ikut duduk di mini bar yang ada di sasana.
"Harry, kalau kamu punya masalah, kenapa tidak cerita dari awal? Mungkin kalau kamu mau bercerita, masalahnya tidak akan sebesar ini." Tanpa permisi, Dave langsung bicara pada Harry.
Harry hanya melihat sekilas pada Dave yang baru datang, dia pun kembali fokus pada foto yang ada di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memainkan gelas yang berisi vodka.
"Aku pikir, akau akan bisa mengatasinya sendiri, tapi ternyata malah semakin runyam." Harry pun meneguk habis minuman yang ada di gelasnya kemudian mengisinya kembali.
Melihat sahabatnya yang terlihat stres, Dave hanya bisa menghela napas dalam. Dia memang merasa ada yang beda dengan sahabatnya itu, tapi setiap kali dia bertanya pada Harry, pasti jawabannya tidak apa-apa.
"Kalau kamu bisa berbagi denganku, mungkin aku bisa memberikan solusi sama kamu. Tapi Kenapa kamu bisa terjerat dengan perempuan itu?" tanya Dave dengan menatap lekat sahabatnya.
"Kamu tahu, beberapa bulan terakhir kondisi Rani semakin memburuk. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan tangannya. Ditambah lagi kita sedang ada proyek besar sehingga setiap malam, aku lembur di rumah menyelesaikan sisa pekerjaan aku." Harry berhenti sejenak lalu meminum kembali minuman yang ada di depannya.
Flashback on
__ADS_1
Malam itu, saat Harry memastikan Rani sudah tertidur pulas, dia pun segera menuju ke ruang kerjanya. Karena memang sudah menjadi kebiasaannya menemani Rani sepulang dia kerja, sampai istrinya tertidur pulas.
Namun, saat dia sedang fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya. Harry pun menyuruhnya masuk. Nampak Anne dengan dengan baju tidur selutut yang berwarna merah menyala, datang dengan membawa nampan di tangannya.
"Ini kopinya, Tuan. Biar Anda bisa fokus bekerjanya," ucap Anne seraya menyimpan secangkir kopi di meja kerja Harry.
"Aku tidak meminta kopi, bawa saja kembali kopinya," suruh Harry dengan mata yang fokus pada layar monitor dan tangan yang terus menari di atas keyboard.
Anne tidak memperdulikan omongan Harry. Dia justru langsung mendekati Harry dan menarik kursi kerja Harry hingga pria itu menghadap ke arahnya. Tanpa permisi Anne langsung duduk di pangkuan Harry.
"Apa-apaan kamu? Cepat turun!" sentak Harry yang kaget dengan apa yang Anne lakukan.
"Jangan begitu Tuan! Tuan pasti akan suka mencium aroma parfum yang aku pakai," ucap Anne dengan tersenyum manis pada Harry.
Harry akan mendorong Anne dari pangkuannya, Namun gadis itu dengan sigap menyemprotkan parfum ke muka Harry. Membuat pria dewasa itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sampai akhirnya, dia merasakan pusing dan badannya terasa memanas.
Beruntung sekali aku menerima tawaran itu, selain mendapatkan uang karena membuat wanita itu lumpuh. Aku juga akan mendapatkan suaminya yang terlihat masih hot. Tidak sia-sia aku memiliki keahlian meracik obat sehingga bisa aku pakai untuk menjerat pria yang aku inginkan, batin Anne.
Melihat parfum yang dia semprotkan sudah mulai bereaksi, Anne langsung membenamkan bibirnya ke bibir Harry. Harry yang mulai terbakar gairah akhirnya hanya mengikuti permainan Anne. Namun, lama-kelamaan Harry yang mendominasi dan sesuatu yang tidak boleh dilakukan akhirnya terjadi.
Flashback off
"Lalu, kamu tidak melakukan apapun padanya?" tanya Dave.
"Aku pernah akan memecatnya tapi dia memperlihatkan foto-foto yang terjadi malam itu, aku hanya sedang mengulurnya sampai tahu siapa yang sudah sekongkol dengan dia."
"Berapa kali kamu melakukannya dengan perempuan itu," tanya Dave.
__ADS_1
"Seingat aku tiga kali, yang pertama malam itu. Lalu saat aku pulang malam dan Anne datang menghampiri aku waktu aku mengambil minum di dapur. Terakhir sebelum Rani jatuh. Dia selalu mencari kesempatan saat aku sedang sendiri," tutur Harry. Dia langsung menenggak minuman langsung dari botolnya.
"Sudah, cukup! Aku minta nomor ponsel dia. Biar aku periksa dengan siapa saja dia berbicara. Kamu tuh bodoh Harry, kenapa tidak berpikir untuk membobol ponsel dia."
"Bukan nomor yang dia kasih yang dipakai untuk komunikasi dengan orang itu. Tapi nomor lain," ucap Harry.
"Besok kamu ajak dia keluar, aku akan geledah kamarnya. Kamu tahu, kenapa kondisi Rani semakin memburuk?"
"Kenapa? Dokter bahkan bingung karena terapi dan obat yang diberikan sesuai dengan ilmu kedokteran tapi saat orang lain membaik, Rani malah memburuk."
"Karena ada orang yang sengaja ingin membuat Rani seperti itu, tapi aku belum tahu pasti siapa orangnya."
"Jangan bilang, semua itu ulah Anne! Sial, kenapa aku tidak curiga sama dia."
"Kamu benar-benar bodoh. Saat menyadari kondisi Rani tidak kunjung membaik, kenapa tidak berpikir untuk mengganti perawat atau pindah ke dokter yang lain?"
"Itu dokter rekomendasi dari mama karena saat papa stroke, beliau berobat ke sana juga. Meskipun setelah membaik, papa malah dipanggil sama Yang Maha Kuasa," ucap Harry sendu.
Hatinya selalu sakit saat mengingat papanya. Saat papanya baru saja sembuh dari stroke, beliau terjatuh di kamar mandi dan akhirnya meninggal karena pembuluh darahnya pecah.
"Harry, aku sarankan, kamu jangan terlalu menuruti apa yang mama kamu katakan. Aku merasa, dia tidak seperti dulu saat kita masih sekolah. Entahlah, aku tidak ingin berpikiran buruk pada mama kamu. Tapi aku tidak suka melihat sikap dia pada Sevia dan Rani."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1