
"Oh, jadi seperti itu kejadiannya? Bagus sekali kelakuan kalian. Apa hal itu yang Papa ajarkan selama ini? Demi mewujudkan keinginan kalian maka menghalalkan segala cara. Bahkan menipu gadis yang polos. Apa kamu ingin, cintamu berlandaskan kebohongan?" Dave bicara panjang lebar seperti ibu-ibu.
Ketiga anaknya hanya diam. Mereka sibuk memikirkan cara agar bisa meredam kemarahan papanya. Sampai akhirnya Dave berbicara lagi dengan nada yang sedikit tinggi.
"JAWAB DAVIN!!!"
"Nggak, Pah. Davin memang salah tapi Dian juga sudah setuju untuk nikah dengan Davin," jawab Davin dengan menunduk tidak berani melihat sorot mata Dave.
"Apa kamu yakin?" tanya Dave.
"I-i-iya Pah. Dian mau menikah denganku asalkan aku bawa dia dan mamanya sejauh mungkin dari Om Harry." Davin memejamkan matanya, merasa bersalah pada Diandra karena sudah menceritakan kesepakatan mereka pada papanya.
"Kamu, serius?"
"Iya, Pah."
"Kalian tunggu di sini! Tidak ada yang boleh keluar dari ruang kerja papa ataupun mengacak-acak barang yang ada di sini. Kalian paham?"
"Paham, Pah!" Kompak ketiga kakak beradik itu.
Dave langsung pergi mencari istrinya Sevia yang sedang beristirahat di kamar. Ratu di rumahnya itu kelelahan setelah dia gempur berhari-hari selama mereka liburan di Maldives. Dave langsung duduk di tepi tempat tidur dan mengecup bibir istrinya sekilas sehingga Sevia terbangun karena merasa terganggu.
"Dave, aku ngantuk," keluh Sevia.
"Sayang, ada hal penting. Rani berencana pergi jauh bersama dengan Diandra. Sepertinya Rani tidak bisa memaafkan Harry," ucap Dave.
"Apa? Pergi ke mana?" tanya Sevia seperti orang linglung.
"Aku tidak tahu. Apa dia pernah mengeluh soal Harry padamu?" tanya Dave.
"Gak mengeluh, tapi Rani pasrah dengan keadaannya. Dia tidak berharap untuk kembali bersama dengan Harry lagi," jelas Sevia.
"Baiklah, aku mengerti keadaannya. Kamu lanjutkan saja tidurnya, nice dream honey." Dave mencium kening Sevia sebelum dia kembali untuk menemui anak-anaknya, sedangkan wanita itu kembali tertidur karena matanya terasa sangat lengket seperti memakai getah nangka.
Sementara di dalam ruang kerja Dave, nampak Devan sedang memarahi kembarannya. Dia merasa geram karena Davin menceritakan tentang Diandra yang ingin menjauh dari Harry.
__ADS_1
"Davin, kenapa kamu ogeb banget? Sia-sia dong Dian nikah sama kamu kalau kamu sendiri tidak bisa memenuhi janji sama dia. Bagaimana kalau Papa mengatakan pada Om Harry tentang keinginan Diandra. Sudah pasti dia akan menghalanginya," semprot Devan.
"Aku merasa tidak ada gunanya kita membela diri atau berbohong pada papa. Pasti papa sudah mencari tahu kebenarannya," bela Davin.
"Bener kata Davin. Kalian jangan lupakan kalau papa kalian seorang ahli IT. Sudah pasti papa bisa melacaknya. Tapi ngomong-ngomong Bang Ano masih ada di depan atau sudah pulang?" Devanya yang baru teringat kalau lelaki tampan itu pasti masih menunggunya di ruang tamu.
"Mana tahu, telpon saja Kak. Pasti papa masih lama ceramahnya. Apalagi, mama belum menyumbangkan suaranya," suruh Devan.
"Iya, deh."
Tapi bisa jadi alasan buat aku ke luar dari ruangan ini. Biarkan saja mereka berdua yang papa marahi. Aku gak mau lihat papa nampar atau mukul lagi, ringis Devanya dalam hati
Saat ketiga terus saja beradu argument, Dave kembali datang ke ruangannya. Kali ini, mukanya lebih bersahabat dari tadi. Dave bahkan berjalan dengan tersenyum tipis karena mengingat kegiatan panas dia dengan istrinya selama liburan.
Melihat raut wajah papanya sudah tidak segarang tadi, ketiga anaknya menghela napas lega. Mereka berharap tidak ada hukuman untuk mereka bertiga.
"Papa udah tanya sama mama kalian. Kata mama kesalahan kalian fatal makanya harus ada hukuman yang setimpal," ucap Dave saat dia sudah berada di depan ketiga anaknya.
"Pah, anu. Bang Ano menunggu di depan," sela Devanya. Dia berharap akan terbebas dari hukuman jika melibatkan Keano.
Glek!
Devanya langsung menelan ludahnya kasar, dia bisa menangkap hawa-hawa yang sepertinya tidak akan menguntungkan untuknya. Meskipun begitu, dia mengikuti apa yang papanya katakan untuk memanggil Keano.
Setibanya di ruang tamu, nampak Keano yang masih setia menunggu dengan memainkan ponselnya. Rupanya dia sedang membalas e-mail yang masuk untuk mengisi waktunya selama menunggu gadis yang dicintainya. Devanya langsung mendudukkan bokongnya di samping Keano dengan wajah yang ditekuk.
Keano yang menyadari kedatangan Devanya, dia pun langsung menengok ke arah Devanya dengan wajah herannya. "Kenapa cemberut?"
"Aku mau dihukum sama papa. Dia menjadi galak sama aku dan si kembar," keluh Devanya.
Keano langsung mengacak rambut tunangannya pelan. "Wajar saja, apa yang kalian lakukan itu sudah di luar batas. Mungkin Abang juga akan melakukan hal yang sama dengan papa kamu."
"Awas aja kalau Abang berani nampar anak aku! Gak akan aku kasih ...."
"Jatah?" potong Keano dengan tersenyum. Dia senang karena tanpa sadar Devanya sudah menerima perjodohan mereka dan melupakan Ion.
__ADS_1
"Abang ikh ... Udah yuk, ditunggu papa!" ajak Devanya dengan wajah yang merona.
Devanya langsung menarik tangan Keano agar mengikutinya ke ruang kerja papanya. Saat tiba di sana, terlihat papa dan adiknya seperti sedang berbicara dengan serius. Keano pun langsung menyapa calon ayah mertuanya.
"Maaf Om, apa mencariku?" tanya Keano.
"Duduklah Ano! Ada hal penting yang harus Om bicarakan dengan kamu," suruh Dave.
Keano pun langsung duduk di sofa bersama dengan Devanya. Membuat Dave dan kedua putranya tersenyum tipis melihat kekompakan calon pengantin itu. Mereka menjadi yakin kalau keputusan untuk menjodohkan Devanya dengan Keano adalah hal yang benar.
"Ano, kamu pasti tau kan, apa yang dilakukan oleh ketiga anak Om?"
"Tahu, Om."
"Karena mereka sudah melakukan hal di luar batas, Om memutuskan untuk memberikan hukuman untuk ketiganya. Davin dan Devan sudah Om kasih. Sementara untuk Devanya, hukumannya melibatkan kamu sebagai tunangannya." Dave menatap Keano dan Devanya secara bergantian.
"Maksud Om, hukuman seperti apa?" tanya Keano dengan mengerutkan keningnya.
"Deva, kamu siap menjalani hukuman yang papa berikan?" tanya Dave dengan menatap tajam pada putrinya yang memajukan bibirnya lima senti.
"Deva siap kalau memang itu benar kesalahan Deva, tapi kan Deva gak tahu kalau Davin dan Devan merekayasa semua kejadiannya," protes Devanya.
"Kamu belum sadar dengan kesalahan kamu? kesalahan terbesar kamu karena berusaha menutupi kesalahan adikmu dan mencoba membohongi papa," Dave menghentikan sejenak ucapannya.
"Untuk itu papa memutuskan untuk mempercepat pernikahan kalian menjadi bulan depan. Biar nanti Ano yang mengajari kamu dalam bersikap dan menghukum kamu jika melakukan kesalahan."
"Papa, bagaimana bisa begitu, aku kan belum wisuda." Devanya langsung menolak keputusan papanya.
"Kamu tinggal pilih, menikah bulan depan atau papa kirim ke pesantren selama menunggu hari pernikahan kamu," ucap Dave.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1