
Entah kenapa Sevia merasa begitu bersemangat, saat diajak pergi ke rumah sakit untuk menjenguk istri atasan suami Rani yang baru melahirkan. Seperti ada magnet yang menariknya, menyuruh dia untuk berangkat ke sana. Rani sangat senang melihat wajah Sevia yang berseri-seri. Dia berpikir mungkin Sevia sudah tidak sabar untuk segera melihat anaknya yang masih ada dalam kandungan.
"Via, kenapa kamu bawa tas untuk persiapan lahiran kamu?" tanya Rani heran saat melihat Sevia membawa tas besar masuk ke dalam mobil.
"Kandunganku sudah sembilan bulan, Ran. Aku takut seperti berita di televisi ada yang melahirkan di dalam pesawat, kereta api, bahkan di jalan tol. Bagaimana nanti kalau anakku malah ingin lahir di rumah sakit yang mahal itu," seloroh Sevia.
"Dasar kamu! Tapi gak apa-apa sih, Via. Biar tetangga pada kaget kalau kamu mampu membayar biaya rumah sakit yang semalamnya saja bisa sampai puluhan juta." Rani malah terkekeh sendiri.
Saat kedua sahabat itu sedang bersenda gurau, Diwan yang baru mengunci pintu rumahnya langsung menginterupsi. "Sudah siap, belum?" tanya Diwan.
"Siap, Pak Bos!" kompak Rani dan Sevia.
"Kalian tuh, dari jaman masih ngontrak bareng sampai sekarang tetap saja kalau bersama pasti keluar konyolnya," ucap Diwan.
"Kita 'kan bestie dari jaman bau kencur. Wajarlah kalau selalu kompak," bela Rani.
"Bahkan dijemur sambil hormat bendera pun kita bareng ya, Ran." Sevia langsung masuk dan duduk di belakang.
"Iya, gara-gara malamnya kita nonton Aa Gu Jun Pyo," timpal Rani.
"Sudah-sudah, ayo basmallah dulu sebelum berangkat." Diwan langsung menyudahi obrolan istrinya yang kadang tidak berfaedah bersama sahabatnya.
Sevia dan Rani langsung menurut apa yang Diwan katakan tanpa berniat untuk menyanggahnya. Setelah ketiganya sama-sama berdo'a meminta keselamatan dalam perjalanan, mobil pun menyusuri jalanan dengan kecepatan sedang. Sevia yang merasa ngantuk karena bangunya terlalu pagi setelah menyiapkan pesanan pelanggannya, akhirnya dia tertidur di dalam mobil. Melihat Sevia yang sudah tertidur, Diwan pun mulai mengajaaak bicara pada pada istrinya.
"Ran, kamu sudah ada kabar tentang suaminya Sevia? Bukankah suaminya yang dulu pernah bertemu di kontrakan Om Joni?" tanya Diwan dengan memandang lurus ke depan.
"Iya dia, Via juga tidak tahu di mana suaminya sekarang. Bukankah kalau belum keluar kata talak dari suami, berarti mereka sebenarnya masih suami istri?" tanya Rani.
"Iya, makanya aku selalu khawatir saat temannya yang bernama Adam itu sering berkunjung. Untungnya sahabat kamu itu bukan wanita yang mudah tergoda dengan rayuan laki-laki," ucap Diwan.
"Adam memang ganteng tapi suaminya lebih ganteng dari Adam!" sahut Rani.
"Kamu suka sama suaminya Sevia?" tuduh Diwan.
"Tuhkan ujungnya begitu, sudahlah jangan ngomongin orang lain kalau ujungnya cemburu gak beralasan," sungut Rani.
__ADS_1
Iya juga ya, aku yang nanya duluan tapi aku gak terima kalau istriku memuji lelaki lain. Meskipun aku tahu kalau lelaki itu memang lebih segalanya dari aku, batin Diwan.
Akhirnya pasangan suami istri sama-sama terdiam sampai mobil memasuki parkiran rumah sakit. Rani yang melihat sahabatnya masih tertidur, langsung membangunkan Sevia. Namun, sepertinya Sevia masih anteng dengan mimpinya.
"Via, Via bangun! Sudah sampai," Rani membangunkan Sevia untuk yang ketiga kalinya.
"Sudah sampai, Ran?" tanya Sevia seraya mengucek matanya.
"Iya, sudah sampai dari tadi," jawab Rani.
"Maaf, tadi aku bermimpi ketemu Dave," jawab Sevia. "Ran, nanti aku ke toilet dulu ya! Kamu duluan saja, nanti aku menyusul," lanjutnya.
"Ya sudah, nanti telpon aku saja kalau sudah selesai." Rani membenarkan tas selempangnya sebelum dia berpisah dengan Sevia di lobby rumah sakit.
Tidak ingin membuang waktu, Sevia pun berjalan dengan tergesa menuju ke toilet sampai tidak sengaja menabrak seoang pemuda yang sedang menunggu seseorang di depan toilet.
"Hai, hati-hati kalau berjalan!"
"Maaf! Aku sudah tidak tahan ingin ke toilet," ucap Sevia langsung melanjutkan jalannya.
"Nyonya, tolong saya! Sepertinya air ketubanku sudah pecah," mohon Sevia
"Astagfirullah, ayo aku tuntun!" sahut Icha yang kebetulan ingin buang air kecil saat akan menjenguk putra angkatnya. Icha pun segera memapah Sevia untuk keluar dari toilet
"Zio, cepat minta petugas rumah sakit untuk membawa brangkar, sepertinya dia mau melahirkan," suruh Icha pada pemuda yang tadi Sevia tabrak.
Itu kan cewek yang tadi. Sudah tahu sedang hamil besar, kenapa kemana-mana harus sendiri? Memangnya suami dia di mana? Gak perhatian banget sama istrinya, batin Elzio.
Elzio pun langsung berlari meminta pertolongan pada perawat yang dia temui. Secepatnya perawat memberikan pertolongan pada Sevia dan langsung membawanya ke ruang bersalin. Icha yang merasa khawatir pada keadaan Sevia akhirnya ikut ke ruang bersalin untuk menemani gadis yang tidak dia ketahui namanya.
"Zio, cepat kamu urus administrasinya!" suruh Icha. "Nak, boleh minta KTP kamu?"
"Tolong ambil di tas, Nyonya! Perutku sakit sekali," keluh Sevia.
"Sabar ya! Nanti juga akan hilang rasa sakitnya saat kita melihat anak yang telah kita lahirkan dengan selamat," ucap Icha seraya mencari KTP milik Sevia di tas selempang gadis itu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan KTP Sevia, Icha langsung menyuruh putranya untuk mengurus adminisrasi gadis yang ditolongnya. Tak tanggung-tanggung, Icha pun yang menjamin biaya perawatan rumah sakit Sevia. Tak butuh waktu lama, kini Sevia sudah pembukaan sepuluh sehingga dokter sudah bersiap membantu persalinannya.
Icha terus berada di sisi Sevia. Dia merasa tidak tega meninggalkan Sevia berjuang seorang diri saat melahirkan. Dia jadi teringat saat dulu melahirkan anak pertamanya yang jauh dari keluarga.
"Ayo berjuanglah, Via! Kamu pasti bisa." Icha terus memberi semangat pada Sevia yang sedang berusaha untuk melahirkan anaknya.
"Dave, tolong aku! Beri aku kekuatan!" lirih Sevia dengan buliran air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
Icha sempat tertegun saat mendengar nama putranya angkatnya disebut. Akan tetapi, dia segera menepis kecurigaannya. 'Nama Dave pasti banyak yang memakai, bukan hanya putra angkatnya,' pikir Icha.
"Ayo Nona, tarik napas dalam-dalam lalu dorong sekuatnya," suruh dokter yang membantu persalinan Sevia.
Dorongan yang pertama, baru kepala bayinya yang keluar sedikit. Setelah dorongan yang kedua, barulah bayi mungil yang cantik lahir dengan selamat. Sevia dan Icha bersama-sama mengucapkan hamdalah saat mendengar suara tangisan bayi.
"Lihat Nona, bayi Anda cantik sekali!" puji Dokter lalu menyimpan bayi mungil itu di dada Sevia sebelum dibersihkan.
"Alhamdulillah, terima kasih Dok! Terima kasih Nyonya!" lirih Sevia yang terlihat lemas.
"Alhamdulillah, Tante ikut senang dengan kelahiran putrimu. Selamat ya Sevia! Semoga putrimu menjadi anak yang sholehah. Tapi sepertinya, Tante tidak bisa lama di sini. Dari tadi ponsel terus berbunyi, Tante tinggal dulu ya!" pamit Icha.
"Iya tidak apa-apa, Nyonya! Sekali lagi terima kasih," ucap Sevia.
"Jangan panggil Nyonya! Cukup panggil Tante Icha saja," Icha pun tersenyum sebelum pergi meninggalkan Sevia.
Saat sampai di luar ruangan bersalin, Icha langsung memeriksa ponselnya yang sedari tadi terus berbunyi. Ada banyak panggilan dari Elzio dan terakhir putranya itu meninggalkan sebuah pesan karena panggilan teleponnya tidak diangkat juga oleh mamanya.
Elzio: [Mama, cepat ke ruang Bang Dave. Dia sudah sadar]
"Apa??? Dave sadar? Alhamdulillah."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1